Selasa, 30 Maret 2021

TIDAK MELAKUKAN KHIANAT

Mat 26: 14-25

Ada pepatah bahasa Latin yang mengatakan, “Amicitia vitae vinum est”. Persahabatan adalah anggur kehidupan. Karena begitu berharga dan bernilainya arti sebuah persahabatan, sehingga orang Latin sampai menganalogikannya dengan minuman favorit mereka yakni anggur. Tetapi apa jadinya jika seorang sahabat melakukan pengkhianatan terhadap diri kita? Apalagi kita sudah menaruh rasa kasih dan kepercayaan yang tinggi kepadanya. Saya yakin kita pasti tidak akan menerimanya. Tidak hanya merasa kecewa, sakit hati, dan sedih yang mendalam, namun bisa juga kita menuntut balas atas perbuatan jahatnya.

 

Tindakan pengkhianatan seorang sahabat ternyata terjadi juga dalam sejarah hidup Yesus. Yudas Iskariot, seorang murid Yesus dari kelompok dua belas rasul tega melakukan pengkhianatan terhadap Yesus, Sang Guru sekaligus sahabatnya. Hanya demi memuaskan dahaga materialistisnya, Yudas menghancurkan fondasi persahabatan yang telah ia bangun bersama-sama dengan kawan-kawannya terhadap Yesus.

 

Sama seperti para murid yang lain, sebenarnya Yudas Iskariot memiliki sedikitnya tiga berkat dari Yesus. Pertama, dia telah mendapat anugerah Tuhan untuk menjadi murid Yesus. Arti murid merujuk pada istilah pengikut. Pengikut berarti orang yang harus tunduk, taat, patuh pada orang yang diikuti demi memperoleh ilmu atau kebijaksanaan tertentu. Kedua, Yudas mendapat kesempatan untuk belajar secara langsung selama tiga tahun bersama Yesus. Ini adalah pengalaman luar biasa yang tidak semua orang miliki. Yudas tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan secara intensif dari setiap kata yang keluar dari mulut Yesus, tetapi secara aktif mengambil bagian dalam praktek kerja nyata di lapangan.

 

Ketiga, Yudas juga disebut sebagai Rasul. Sebuah gelar atau jabatan kehormatan untuk orang yang diutus Yesus secara langsung. Istilah rasul melekat erat dalam dua belas orang murid Yesus. Mereka adalah saksi hidup yang akan melanjutkan karya penyelamatan sepeninggalan Yesus di atas muka bumi. Tidak saja masuk dalam kelompok dua belas rasul, Yudas juga dipercayakan tugas pelayanan yang sangat strategis dengan menjadi bendahara. Ia yang mengatur arus masuk dan keluar dari uang kelompok. Dan tentu saja mengurus menu makanan dan menyiapkannya untuk Yesus dan murid-murid yang lain.

 

Namun sangat disayangkan bahwa Yudas tidak mampu mengucap syukur atas segala berkat yang telah diterimanya dari Yesus. Ia malah menyia-nyiakan berkat itu hanya karena dibutakan oleh harta atau materi. Beberapa kali Yesus bahkan telah mengingatkan Yudas akan rencana jahatnya. Ini membuktikan bahwa Yesus sangat mengasihi sahabatnya itu. Dan Yesus tidak mau Yudas terjebak oleh nafsu iblisnya. Kalau kita perhatikan dalam teks Injil hari ini, secara eksplisit Yesus telah membuat warning atau peringatan kepada Yudas. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku” (Yoh 26:21). Atau teks lain yang berbunyi: “Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.” (Yoh 26:23. Dengan bahasa sarkasme, Yesus mengutuk Yudas dan mengatakan bahwa ia tidak pantas dilahirkan.

 

Walaupun tidak menyebut nama, namun sudah dengan terang benderang Yesus memberi kesadaran kepada Yudas akan rencana jahatnya. Tetapi semua hal yang dikatakan Yesus tidak mempan. Nafsu akan uang telah menutup rasa kemanusiaannya. Yudas telah dikuasai oleh iblis untuk lebih memilih harta dari pada guru dan sahabatnya, Yesus Kristus.

 

Kita juga seringkali memainkan peran sebagai yudas-yudas baru di masa kini. Sebagai seorang pengikut Yesus, tidak jarang kita melakukan pengkhiatan dari level yang paling kecil sampai paling besar besar terhadap guru dan sahabat agung kita, Yesus Kristus. Kita lebih memilih untuk memihak tindakan atau aksi yang membawa keuntungan atau kenikmatan entah secara pribadi atau kelompok sembari mengorbankan nilai atau aspek yang lebih tinggi. Kita lebih mencintai harta manakala diberi pilihan untuk harus menipu atau berbohong. Kita lebih mencintai jabatan manakala diberi pilihan untuk menjegal kawan atau sahabat sendiri. Kita lebih mencintai kehormatan pribadi manakala diberi pilihan untuk merendahkan pribadi orang lain. Kita lebih mencintai keluarga sendiri manakala diberi pilihan untuk tidak menganggap orang lain, dan sebagainya.

 

Sebagaimana Yesus memperingatkan Yudas, kita juga diberi peringatan oleh Yesus agar segera menyadari kesalahan dan dosa. Kita harus segera berbenah diri dari segala tindakan pengkhianatan yang kita lakukan terhadap Yesus. Mata batin kita harus segera terbuka agar kita mampu melihat berbagai berkat yang Tuhan anugerahkan dalam hidup. Hanya orang sesat yang tidak mau dan tidak mampu menyadari segala berkat Tuhan dalam hidupnya. Dengan menyadari segala berkat Tuhan dalam hidup, kita akan dimampukan untuk lebih mencintai Tuhan dan mengarahkan kiblat hidup pada kebenaran-Nya. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar