Selasa, 16 Maret 2021

ENGKAU TELAH SEMBUH JANGAN BERBUAT DOSA LAGI

 

Yoh. 5:1-16

Betapa bahagia dan gembiranya hati seseorang bila tiba-tiba mendapatkan berkat atau hadiah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, apalagi berkat ini sungguh berkaitan dengan kondisi nyata kehidupan pribadi manusia. Inilah yang bisa kita namakan “mujizat”, dimana anugerah yang diberikan oleh Tuhan bukan karena jasa seseorang tetapi melulu karena belas kasih Tuhan kepada manusia. Untuk mendapatkan rahmat dan belas kasih dari-Nya, Allah tidak pernah menunggu praktek kebajikan dan kesetiaan dari manusia kepada-Nya namun, Allah selalu mengambil inisiatif pertama untuk membuka dialog dan komunikasi dengan manusia sambil memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan pertobatan dan kembali kepada jalan kebenaran-Nya. Kisah aliran sungai yang memberi kehidupan dan kesuburan dalam Kitab Yehezkiel merupakan gambaran kasih Allah yang tidak pernah putus untuk manusia. Ketika air menerjang bebatuan atau benda-benda lain yang mau menghambatnya, air memanfaatkan celah-celah yang ada untuk tetap mengalir. Demikian pula kasih dan berkat Allah, walaupun dihadang dosa manusia, Ia selalu memanfaatkan celah-celah agar mengalir memberikan kesembuhan baik sakit jasmaniah maupun sakit rohaniah dan keselamatan bagi manusia.

Injil hari ini menggambarkan kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus kepada seorang lumpuh yang terbaring di tepi kolam Betesda adalah satu mujizat. Tergeraklah hati Yesus oleh belaskasihan melihat orang lumpuh, Yesus mengambil inisiatif pertama untuk membuka dialog dengannya: “Maukah engkau sembuh?” Sebuah tawaran yang sangat bernilai  dari Allah dan orang lumpuh tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu, meskipun ia tidak menjawab tawaran Yesus secara to the point melainkan ia berjuang menguraikan tantangan-tantangan yang dihadapinya. Inilah gambaran karakter manusia yang penjelasannya selalu berputar-putar, mencari-cari alasan dan mengkambinghitamkan sesamanya. Orang lumpuh ini tidak harus melewati proses panjang untuk mendapatkan kesembuhan yang paling dinanti-nantikan. Dia tidak perlu berbuat seperti banyak orang sakit lainnya, yang mesti turun ke dalam kolam supaya bisa mengalami goncangan air untuk mendapatkan kesembuhan. Dihadapannya berdiri sosok yang berhati mulia yang menawarkan kesembuhan tanpa banyak persyaratan rumit, meskipun Ia tahu bahwa orang-orang Farisi sedang mengamati-Nya kalau-kalau Ia melakukan mukjizat pada hari Sabat. Si lumpuh tidak membuang-buang waktu mendengar tawaran Yesus. Baginya, iman kepada Tuhan adalah satu-satunya senjata yang ia miliki, ia percaya bahwa hanya kuasa Sabda-Nya yang mampu membebaskan dia. Kata Yesus kepadanya: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Sabda Yesus sungguh-sungguh dahsyat dan ajaib, sebuah mujizat nyata telah terjadi dalam dirinya. Si lumpuh, yang sudah tiga pulu delapan tahun tidak bisa berjalan, kini bisa mengalami kuasa pembebasan Tuhan dalam sukacita yang berkobar-kobar, sekalipun tindakan penyembuhan ini justru melanggar aturan hari Sabat, yang sangat ketat dijaga oleh pemimpin-pemimpin Yahudi. Yesus berani bertindak demikian karena Dia adalah Allah yang berkuasa atas hari Sabat. Yesus mengusung misi utama untuk melayani dengan hati penuh belaskasih, tidak seperti para pemimpin Yahudi yang berani mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan demi memelihara aturan hari Sabat. Allah selalu berinisiatif untuk memberikan kesembuhan kepada mereka yang sakit dan pengampunan kepada mereka yang berdosa. Di sini Allah ingin memperlihatkan kuasa-Nya yang melampaui kuasa manusia, Allah ingin menunjukkan kasih seorang Bapa yang Maha Pengampun, meskipun manusia mengabaikan peran-Nya dan lebih suka jatuh dalam dosa yang sama.

Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan dari kisah Injil hari ini adalah pesan Yesus kepada orang lumpuh yang disembuhkan-Nya: “engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk. Pesan Yesus ini mengingatkan kita bahwa sebagai murid-murid Kristus kita harus selalu mengandalkan kekuatan dari Allah dan hidup dalam naungan kasih-Nya. Allah selalu menunjukkan jalan kekudusan yaitu jalan keselamatan bagi kita asalkan kita beriman kepada-Nya. Allah juga akan melakukan mujizat-mijizat besar bagi kita untuk membebaskan kita dari ikatan dosa asalkan  kita setia padaNya. Orang lumpuh yang tidak pernah mengalami kesembuhan selama 38 tahun, adalah contoh orang yang selalu menghabiskan waktunya untuk menggerutu/mengeluh karena tidak dibantu, diperhatikan dan didahulukan masuk ke dalam kolam untuk mengalami kesembuhan lewat goncangan air. Ia terus mengandalakan kekuatan dirinya untuk mengatasi situasi sulit yang menimpahnya, lalu mengabaikan peran Allah. Kelumpuhan selama 38 tahun tidak membuatnya sadar tentang pentingnya keterlibatan Allah, ia bahkan menyepelekan peran dan rahmat kasih dari Allah. Allah memberikan waktu yang panjang bagi dia untuk bertobat dan kembali mengandalkan Allah. Oleh belas kasih dan kemurahan hati-Nya, Allah berinisiatif menawarkan keselamatan paripurna baginya. Karena itu, kita pun perlu menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh dan terbatas, kita harus mengandalkan kekuatan dan campur tangan Allah untuk menyucikan diri kita agar layak menerima berkat kesembuhan dan keselamatan dari-Nya. Ketika kita diterima kembali sebagai anak-anak-Nya, ingatlah pesan Yesus kepada orang lumpuh yang disembuhkan-Nya:  “engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk. Pesan Yesus ini mesti menjiwai pikiran dan hati kita agar kita selalu waspada jangan sampai kita jatuh dalam dosa yang sama dan walaupun kita jatuh, kita harus memiliki komitmen kuat untuk bangkit, bertobat dan membangun relasi yang baik kembali dengan Allah.

Tuhan senantiasa menawarkan rahmat kesembuhan kepada kita setiap hari. Rahmat-Nya tidak hanya terjadi dalam bentuk peristiwa yang luar biasa, tetapi juga lewat hal-hal sederhana yang selalu kita jumpai dan alami setiap saat dalam perjalanan hidup ini. Namun, terkadang kita lupa mengucapkan syukur atas semua anugerah Tuhan yang kita terima. Kita masih mengandalkan kekuatan, kepintaran dan kemampuan kita sendiri. Kita sering kali mencari-cari alasan untuk menunda-nunda pertobatan, tetapi Tuhan tidak pernah lelah/bosan memberi kesempatan kepada kita untuk sembuh dari dosa. Di masa Prapaskah ini, kita mesti menyadari pentingnya membangun hubungan yang harmonis kembali dengan Tuhan dan sesama lewat sarana keselamatan yang disediakan oleh Gereja yakni Sakramen Pertobatan. Untuk mewujudkan pertobatan, dibutuhkan suatu perjuangan keras, baik lewat pantang, puasa dan bersedekah untuk membantu orang lain dalam kesulitan hidup. Yesus sendiri telah menunjukkan belas kasih dan solidaritas-Nya yang nyata kepada semua orang sakit dan yang lumpuh. Teladan Yesus ini membantu kita untuk hidup solider dengan sesama kita teristimewa mereka yang sakit dan membutuhkan pelayanan dan perhatian kita. Kiranya, setelah kita menerima rahmat  Sakramen Tobat dan disembuhkan Tuhan: baik sakit fisik, mental dan spiritual, kita harus selalu ingat pesan Yesus hari ini, “engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk”. Semoga berkat dan rahmat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin  ***Bernard Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar