Yoh.
5:1-16
Betapa bahagia dan gembiranya hati
seseorang bila tiba-tiba mendapatkan berkat atau hadiah yang tak pernah
terbayangkan sebelumnya, apalagi berkat ini sungguh berkaitan dengan kondisi
nyata kehidupan pribadi manusia. Inilah yang bisa kita namakan “mujizat”,
dimana anugerah yang diberikan oleh Tuhan bukan karena jasa seseorang tetapi
melulu karena belas kasih Tuhan kepada manusia. Untuk mendapatkan rahmat dan
belas kasih dari-Nya, Allah tidak pernah menunggu praktek kebajikan dan
kesetiaan dari manusia kepada-Nya namun, Allah selalu mengambil inisiatif
pertama untuk membuka dialog dan komunikasi dengan manusia sambil memberikan
kesempatan kepada manusia untuk melakukan pertobatan dan kembali kepada jalan
kebenaran-Nya. Kisah aliran sungai yang memberi kehidupan dan
kesuburan dalam Kitab Yehezkiel merupakan gambaran kasih Allah yang tidak
pernah putus untuk manusia. Ketika air menerjang bebatuan atau benda-benda lain
yang mau menghambatnya, air memanfaatkan celah-celah yang ada untuk tetap
mengalir. Demikian pula kasih dan berkat Allah, walaupun dihadang dosa manusia,
Ia selalu memanfaatkan celah-celah agar mengalir memberikan kesembuhan baik
sakit jasmaniah maupun sakit rohaniah dan keselamatan bagi manusia.
Injil
hari ini menggambarkan kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus kepada
seorang lumpuh yang terbaring di tepi kolam Betesda adalah satu mujizat.
Tergeraklah hati Yesus oleh belaskasihan melihat orang lumpuh, Yesus mengambil
inisiatif pertama untuk membuka dialog dengannya: “Maukah engkau sembuh?” Sebuah
tawaran yang sangat bernilai dari Allah
dan orang lumpuh tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu, meskipun ia
tidak menjawab tawaran Yesus secara to
the point melainkan ia berjuang menguraikan tantangan-tantangan yang
dihadapinya. Inilah gambaran karakter manusia yang penjelasannya selalu
berputar-putar, mencari-cari alasan dan mengkambinghitamkan sesamanya. Orang
lumpuh ini tidak harus melewati proses panjang untuk mendapatkan kesembuhan
yang paling dinanti-nantikan. Dia tidak perlu berbuat seperti banyak orang
sakit lainnya, yang mesti turun ke dalam kolam supaya bisa mengalami goncangan
air untuk mendapatkan kesembuhan. Dihadapannya berdiri sosok yang berhati mulia
yang menawarkan kesembuhan tanpa banyak persyaratan rumit, meskipun Ia tahu bahwa
orang-orang Farisi sedang mengamati-Nya kalau-kalau Ia melakukan mukjizat pada
hari Sabat. Si lumpuh tidak membuang-buang waktu mendengar tawaran Yesus.
Baginya, iman kepada Tuhan adalah satu-satunya senjata yang ia miliki, ia
percaya bahwa hanya kuasa Sabda-Nya yang mampu membebaskan dia. Kata Yesus
kepadanya: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Sabda Yesus
sungguh-sungguh dahsyat dan ajaib, sebuah mujizat nyata telah terjadi dalam
dirinya. Si lumpuh, yang sudah tiga pulu delapan tahun tidak bisa berjalan,
kini bisa mengalami kuasa pembebasan Tuhan dalam sukacita yang berkobar-kobar,
sekalipun tindakan penyembuhan ini justru melanggar aturan hari Sabat, yang
sangat ketat dijaga oleh pemimpin-pemimpin Yahudi. Yesus berani bertindak
demikian karena Dia adalah Allah yang berkuasa atas hari Sabat. Yesus mengusung
misi utama untuk melayani dengan hati penuh belaskasih, tidak seperti para
pemimpin Yahudi yang berani mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan demi
memelihara aturan hari Sabat. Allah selalu berinisiatif untuk memberikan
kesembuhan kepada mereka yang sakit dan pengampunan kepada mereka yang berdosa.
Di sini Allah ingin memperlihatkan kuasa-Nya yang melampaui kuasa manusia,
Allah ingin menunjukkan kasih seorang Bapa yang Maha Pengampun, meskipun manusia
mengabaikan peran-Nya dan lebih suka jatuh dalam dosa yang sama.
Satu
hal penting yang tidak boleh dilupakan dari kisah Injil hari ini adalah pesan
Yesus kepada orang lumpuh yang disembuhkan-Nya: “engkau telah sembuh, jangan
berbuat dosa lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk. Pesan Yesus
ini mengingatkan kita bahwa sebagai murid-murid Kristus kita harus selalu
mengandalkan kekuatan dari Allah dan hidup dalam naungan kasih-Nya. Allah
selalu menunjukkan jalan kekudusan yaitu jalan keselamatan bagi kita asalkan
kita beriman kepada-Nya. Allah juga akan melakukan mujizat-mijizat besar bagi
kita untuk membebaskan kita dari ikatan dosa asalkan kita setia padaNya. Orang lumpuh yang tidak
pernah mengalami kesembuhan selama 38 tahun, adalah contoh orang yang selalu
menghabiskan waktunya untuk menggerutu/mengeluh karena tidak dibantu,
diperhatikan dan didahulukan masuk ke dalam kolam untuk mengalami kesembuhan
lewat goncangan air. Ia terus mengandalakan kekuatan dirinya untuk mengatasi
situasi sulit yang menimpahnya, lalu mengabaikan peran Allah. Kelumpuhan selama
38 tahun tidak membuatnya sadar tentang pentingnya keterlibatan Allah, ia
bahkan menyepelekan peran dan rahmat kasih dari Allah. Allah memberikan waktu
yang panjang bagi dia untuk bertobat dan kembali mengandalkan Allah. Oleh belas
kasih dan kemurahan hati-Nya, Allah berinisiatif menawarkan keselamatan
paripurna baginya. Karena itu, kita pun perlu menyadari bahwa manusia adalah
makhluk yang rapuh dan terbatas, kita harus mengandalkan kekuatan dan campur
tangan Allah untuk menyucikan diri kita agar layak menerima berkat kesembuhan
dan keselamatan dari-Nya. Ketika kita diterima kembali sebagai anak-anak-Nya,
ingatlah pesan Yesus kepada orang lumpuh yang disembuhkan-Nya: “engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa
lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk. Pesan Yesus ini mesti
menjiwai pikiran dan hati kita agar kita selalu waspada jangan sampai kita
jatuh dalam dosa yang sama dan walaupun kita jatuh, kita harus memiliki
komitmen kuat untuk bangkit, bertobat dan membangun relasi yang baik kembali
dengan Allah.
Tuhan
senantiasa menawarkan rahmat kesembuhan kepada kita setiap hari. Rahmat-Nya
tidak hanya terjadi dalam bentuk peristiwa yang luar biasa, tetapi juga lewat
hal-hal sederhana yang selalu kita jumpai dan alami setiap saat dalam
perjalanan hidup ini. Namun, terkadang kita lupa mengucapkan syukur atas semua
anugerah Tuhan yang kita terima. Kita masih mengandalkan kekuatan, kepintaran
dan kemampuan kita sendiri. Kita sering kali mencari-cari alasan untuk
menunda-nunda pertobatan, tetapi Tuhan tidak pernah lelah/bosan memberi
kesempatan kepada kita untuk sembuh dari dosa. Di masa Prapaskah ini, kita
mesti menyadari pentingnya membangun hubungan yang harmonis kembali dengan
Tuhan dan sesama lewat sarana keselamatan yang disediakan oleh Gereja yakni
Sakramen Pertobatan. Untuk mewujudkan pertobatan, dibutuhkan suatu perjuangan
keras, baik lewat pantang, puasa dan bersedekah untuk membantu orang lain dalam
kesulitan hidup. Yesus sendiri telah menunjukkan belas kasih dan
solidaritas-Nya yang nyata kepada semua orang sakit dan yang lumpuh. Teladan
Yesus ini membantu kita untuk hidup solider dengan sesama kita teristimewa
mereka yang sakit dan membutuhkan pelayanan dan perhatian kita. Kiranya,
setelah kita menerima rahmat Sakramen
Tobat dan disembuhkan Tuhan: baik sakit fisik, mental dan spiritual, kita harus
selalu ingat pesan Yesus hari ini, “engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa
lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk”. Semoga berkat dan rahmat
Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin ***Bernard Wadan***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar