Selasa, 23 Maret 2021

MERDEKA DARI DOSA

Yoh 8: 31-42

Menurut Kamus Besar Bahas Indonesia, kata merdeka berarti bebas (dari perhambaan, penjajahan), tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak tergantung atau terikat kepada orang atau pihak tertentu. Saya sering mendengar secara langsung kesaksian dari orang-orang yang berada di kampung bahwa mereka belum merasakan arti merdeka yang sesungguhnya. Memang ironis, walau negara Indonesia sudah merdeka dari bangsa penjajah 70-an tahun yang lalu, namun orang-orang di republik ini belum merasakan hakikat sejati dari kata merdeka. Bila ditelisik lebih dalam, ternyata dasar pemikiran orang-orang sederhana ini ada benarnya juga. Kehidupan ekonomi yang sulit, kemiskinan yang mendera, akses informasi dan teknologi yang terbatas, infrastruktur jalan yang rusak berat, adalah sederet fakta dan data yang memperkuat alibi bahwa sebenarnya mereka belum merdeka. Kehidupan mereka masih jauh dari kata layak karena masih terikat dengan berbagai fakta dan data yang memprihatinkan.

 

Hari ini Yesus memberi warning kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya. “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:31). Ada hal membanggakan bahwa ada kelompok orang Yahudi yang mulai menaruh rasa percaya kepada Yesus. Lewat kata-kata dan tindakan mukjizat-Nya, mereka percaya akan kompetensi dan kemampuan ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Peringatan Yesus tersebut mau menegaskan bahwa kehadiran Yesus akan membebaskan mereka dari segala dosa yang telah diperbuat. Jadi mereka tidak sekedar menjadi pengikut-Nya. Di atas semua itu, mereka akan diperbarui menjadi pribadi merdeka atau bebas dari salah dan dosa.

 

Kata merdeka yang dikeluarkan oleh Yesus, menimbulkan salah tafsir di antara kalangan Yahudi yang telah percaya. Dengan segera mereka mengklaim bahwa mereka adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bisa dipahami pikiran mereka bahwa keturunan Abraham yang dimaksud di sini lahir dari istri pertama yang bernama Sara. Dan bukan berasal dari Hagar, seorang hamba atau budak yang memiliki status sosial yang rendah. Karena kebanggaan status ini, mereka tidak menerima kalau dikatakan belum merdeka. Padahal, kata merdeka yang dimaksudkan oleh Yesus bukan seperti itu. Kata merdeka memiliki relevansi makna bebas dari salah dan dosa.

 

Di luar kelompok kecil Yahudi yang telah percaya kepada Yesus, masih banyak lagi orang Yahudi yang tidak menunjukkan sikap percaya kepada Yesus. Orang-orang inilah yang oleh Yesus dikatakan belum merdeka. Mereka belum bebas dari keterikatan kepada dosa. Sifat dan perilaku mereka masih jauh dari kebenaran dan kehendak Allah. Walaupun mereka mengklaim diri sebagai keturunan Abraham, namun sikap hidup mereka tidak seperti yang telah ditunjukkan oleh Abraham, bapa bangsa umat Israel. Seharusnya sebagai seorang keturunan Abraham, mereka melakukan seturut apa yang sudah diwariskan oleh Abraham. “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham” (Yoh 8:39).

 

Abraham adalah seorang abdi Allah yang setia. Ia memiliki dedikasi dan semangat pelayanan yang tinggi untuk melayani Allah. Namun, sungguh terbalik apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang mengaku keturunan Abraham di era Yesus. Puncak perbuatan tercelah mereka adalah tidak mengakui Yesus sebagai Anak Allah. Bahkan mereka berusaha membunuh-Nya. Yesus dan Allah itu tidak memiliki perbedaan. Kedua-Nya adalah satu. Jadi, kalau orang-orang Yahudi percaya kepada Allah, seharusnya mereka juga percaya kepada Yesus. Percaya akan segala kata-kata dan perbuatan-Nya. Karena semua itu tentu saja datang dari kehendak Allah sendiri. Kebenaran Yesus sebagai Anak Allah merupakan fakta yang tidak terbantahkan. Namun, kebanyakan orang Yahudi zaman Yesus, memilih untuk tidak mengakui kebenaran itu. Sebuah sikap yang bertolak belakang dengan eksistensi diri mereka sebagai anak-anak Abraham.

 

Sebagai seorang pengikuti Yesus di zaman ini, kita acapkali memperlihatkan sikap kontradiksi. Di satu sisi, kita seringkali bangga dengan status kita sebagai orang Katolik. Tidak jarang kita merasa diri paling benar dengan dalil ajaran iman. Kita juga bangga dengan berbagai bangunan gereja yang megah dan indah. Namun di sisi lain, kita tidak memperlihatkan sikap yang berpihak kepada kebenaran Allah. Realitas membuktikan bahwa semakin banyak orang Katolik yang tidak tertarik lagi untuk berdoa baik secara pribadi maupun secara berjemaah. Hal ini diperparah lagi dengan sikap hidup yang jauh dari kehendak Allah. Banyak pelaku kejahatan seperti koruptor, pencuri, penipu, penjudi, pezinah dan pembunuh adalah orang-orang beriman yang mengaku sebagai pengikut Kristus.

 

Kenyataan-kenyataan negatif di atas membuktikan bahwa kita belum sungguh-sungguh merdeka. Kita masih hidup dalam kungkungan kuasa dosa. Keterikatan kita kepada kuasa duniawi ternyata telah meninabobokan dan menjauhkan hidup kita dari kuasa ilahi yang memancarkan cahaya kebenaran. Sebenarnya cahaya kebenaran itu senantiasa menawarkan terang-Nya yang menyelamatkan. Tetapi hati kita telah membatu untuk tidak mengindahkan dan terus menolak-Nya.

 

Moment prapaskah adalah saat untuk kembali kepada akar kehidupan kita yang sesungguhnya. Akar kehidupan yang menumbuhkan kebenaran dan keselamatan hidup. Akar kehidupan itu adalah Yesus dan Allah Bapa. Dua entitas ilahi yang menjadi wujud iman kita yang sejati. Mari kita semakin mendekatkan diri kepada akar kehidupan iman kristiani dengan membaca, mendengarkan, meresapi dan melaksanakan segala firman Tuhan dalam realitas kehidupan. Dengan demikian, kita boleh dibebaskan dari kuasa dosa yang membelenggu. Dan tentu saja, kita menjadi orang-orang Katolik yang merdeka. Merdeka dalam nama Tuhan dan dari kuasa dosa yang menyesatkan. Amin. ***Atanasius KD Labaona***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar