Yoh 8: 31-42
Menurut Kamus Besar Bahas Indonesia, kata merdeka berarti bebas (dari
perhambaan, penjajahan), tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak
tergantung atau terikat kepada orang atau pihak tertentu. Saya sering mendengar
secara langsung kesaksian dari orang-orang yang berada di kampung bahwa mereka
belum merasakan arti merdeka yang sesungguhnya. Memang ironis, walau negara
Indonesia sudah merdeka dari bangsa penjajah 70-an tahun yang lalu, namun
orang-orang di republik ini belum merasakan hakikat sejati dari kata merdeka.
Bila ditelisik lebih dalam, ternyata dasar pemikiran orang-orang sederhana ini
ada benarnya juga. Kehidupan ekonomi yang sulit, kemiskinan yang mendera, akses
informasi dan teknologi yang terbatas, infrastruktur jalan yang rusak berat,
adalah sederet fakta dan data yang memperkuat alibi bahwa sebenarnya mereka
belum merdeka. Kehidupan mereka masih jauh dari kata layak karena masih terikat
dengan berbagai fakta dan data yang memprihatinkan.
Hari ini Yesus memberi warning
kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya. “Jikalau kamu tetap dalam
firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui
kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:31). Ada hal
membanggakan bahwa ada kelompok orang Yahudi yang mulai menaruh rasa percaya
kepada Yesus. Lewat kata-kata dan tindakan mukjizat-Nya, mereka percaya akan
kompetensi dan kemampuan ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Peringatan Yesus
tersebut mau menegaskan bahwa kehadiran Yesus akan membebaskan mereka dari segala
dosa yang telah diperbuat. Jadi mereka tidak sekedar menjadi pengikut-Nya. Di
atas semua itu, mereka akan diperbarui menjadi pribadi merdeka atau bebas dari
salah dan dosa.
Kata merdeka yang dikeluarkan oleh Yesus, menimbulkan salah tafsir di
antara kalangan Yahudi yang telah percaya. Dengan segera mereka mengklaim bahwa
mereka adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bisa
dipahami pikiran mereka bahwa keturunan Abraham yang dimaksud di sini lahir
dari istri pertama yang bernama Sara. Dan bukan berasal dari Hagar, seorang
hamba atau budak yang memiliki status sosial yang rendah. Karena kebanggaan
status ini, mereka tidak menerima kalau dikatakan belum merdeka. Padahal, kata
merdeka yang dimaksudkan oleh Yesus bukan seperti itu. Kata merdeka memiliki
relevansi makna bebas dari salah dan dosa.
Di luar kelompok kecil Yahudi yang telah percaya kepada Yesus, masih banyak
lagi orang Yahudi yang tidak menunjukkan sikap percaya kepada Yesus.
Orang-orang inilah yang oleh Yesus dikatakan belum merdeka. Mereka belum bebas
dari keterikatan kepada dosa. Sifat dan perilaku mereka masih jauh dari
kebenaran dan kehendak Allah. Walaupun mereka mengklaim diri sebagai keturunan
Abraham, namun sikap hidup mereka tidak seperti yang telah ditunjukkan oleh
Abraham, bapa bangsa umat Israel. Seharusnya sebagai seorang keturunan Abraham,
mereka melakukan seturut apa yang sudah diwariskan oleh Abraham. “Jikalau
sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang
dikerjakan oleh Abraham” (Yoh 8:39).
Abraham adalah seorang abdi Allah yang setia. Ia memiliki dedikasi dan
semangat pelayanan yang tinggi untuk melayani Allah. Namun, sungguh terbalik
apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang mengaku keturunan Abraham di era
Yesus. Puncak perbuatan tercelah mereka adalah tidak mengakui Yesus sebagai
Anak Allah. Bahkan mereka berusaha membunuh-Nya. Yesus dan Allah itu tidak
memiliki perbedaan. Kedua-Nya adalah satu. Jadi, kalau orang-orang Yahudi
percaya kepada Allah, seharusnya mereka juga percaya kepada Yesus. Percaya akan
segala kata-kata dan perbuatan-Nya. Karena semua itu tentu saja datang dari
kehendak Allah sendiri. Kebenaran Yesus sebagai Anak Allah merupakan fakta yang
tidak terbantahkan. Namun, kebanyakan orang Yahudi zaman Yesus, memilih untuk
tidak mengakui kebenaran itu. Sebuah sikap yang bertolak belakang dengan
eksistensi diri mereka sebagai anak-anak Abraham.
Sebagai seorang pengikuti Yesus di zaman ini, kita acapkali memperlihatkan
sikap kontradiksi. Di satu sisi, kita seringkali bangga dengan status kita
sebagai orang Katolik. Tidak jarang kita merasa diri paling benar dengan dalil
ajaran iman. Kita juga bangga dengan berbagai bangunan gereja yang megah dan
indah. Namun di sisi lain, kita tidak memperlihatkan sikap yang berpihak kepada
kebenaran Allah. Realitas membuktikan bahwa semakin banyak orang Katolik yang
tidak tertarik lagi untuk berdoa baik secara pribadi maupun secara berjemaah.
Hal ini diperparah lagi dengan sikap hidup yang jauh dari kehendak Allah.
Banyak pelaku kejahatan seperti koruptor, pencuri, penipu, penjudi, pezinah dan
pembunuh adalah orang-orang beriman yang mengaku sebagai pengikut Kristus.
Kenyataan-kenyataan negatif di atas membuktikan bahwa kita belum
sungguh-sungguh merdeka. Kita masih hidup dalam kungkungan kuasa dosa.
Keterikatan kita kepada kuasa duniawi ternyata telah meninabobokan dan
menjauhkan hidup kita dari kuasa ilahi yang memancarkan cahaya kebenaran.
Sebenarnya cahaya kebenaran itu senantiasa menawarkan terang-Nya yang
menyelamatkan. Tetapi hati kita telah membatu untuk tidak mengindahkan dan
terus menolak-Nya.
Moment prapaskah adalah saat untuk kembali kepada akar kehidupan kita yang
sesungguhnya. Akar kehidupan yang menumbuhkan kebenaran dan keselamatan hidup.
Akar kehidupan itu adalah Yesus dan Allah Bapa. Dua entitas ilahi yang menjadi
wujud iman kita yang sejati. Mari kita semakin mendekatkan diri kepada akar
kehidupan iman kristiani dengan membaca, mendengarkan, meresapi dan
melaksanakan segala firman Tuhan dalam realitas kehidupan. Dengan demikian,
kita boleh dibebaskan dari kuasa dosa yang membelenggu. Dan tentu saja, kita
menjadi orang-orang Katolik yang merdeka. Merdeka dalam nama Tuhan dan dari
kuasa dosa yang menyesatkan. Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar