Mat 20: 17-28
Kita semua pasti pernah mendengar istilah revolusi mental. Kata revolusi
berarti perubahan dalam waktu singkat. Sedangkan kata mental atau mentalitas
merujuk kepada sebuah cara berpikir atau konsep pemikiran manusia untuk dapat
belajar dan merespon suatu hal. Jadi revolusi mental dapat dimaknai sebagai
perubahan cara berpikir dalam waktu singkat untuk merespon, bertindak, dan
bekerja. Istilah revolusi mental dicetuskan pertama kali oleh Presiden Soekarno
pada saat pidato kenegaraan mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Kemudian istilah ini dipopulerkan kembali oleh Presiden Jokowi pada masa
sekarang ini. Presiden Jokowi menyerukan adanya sebuah gerakan nasional
revolusi mental untuk mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru untuk
mewujudkan negara Indonesia yang berdaulat dan berkarakter.
Jauh sebelum era Soekarno, sekitar 2000-an tahun yang lalu, istilah
revolusi mental sebenarnya telah didengungkan oleh seorang tokoh besar yang
sangat dipuja dan disembah oleh umat Kristen sejagat. Tokoh yang sangat
fenomenal itu adalah Yesus yang telah menyejarah dalam sejarah hidup umat
manusia. Menilik sosok pribadi, kisah hidup dan sepak terjang-Nya di kala itu,
kita dapat memastikan bahwa istilah revolusi mental sudah diperkenalkan,
dijiwai, dan dihidupi oleh Yesus Kristus sendiri. Walaupun memang, Yesus tidak
menyebut secara eksplisit tentang istilah ini. Namun, setiap sabda dan
perbuatan-Nya merupakan pancaran nyata yang menegaskan istilah revolusi mental
dalam hidup manusia. Yesus datang membawa perubahan radikal yang menuntut
manusia untuk segera keluar dari zona nyaman. Perubahan radikal yang yang
membebaskan manusia dari keterikatan duniawi dan menghantar manusia kepada
kelekatan dengan Allah Bapa di sorga.
Salah satu revolusi mental yang diusung oleh Yesus tampak dalam
kata-kata-Nya: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia
menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu,
hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat 20:26-27). Yesus menyatakan bahwa apa yang
disampaikan-Nya tidak sekedar pepesan kosong. Ia sendirilah yang datang membuat
gebrakan dan terobosan dalam aksi-aksi konkrit agar revolusi mental itu dapat
terlaksana dalam hidup manusia. “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk
dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi
tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Konsekuensi dari gerakan revolusi
mental itu harus dibayar dengan mahal. Yesus harus menghadapi halangan dan tantangan
dari para penguasa dan pemimpin agama Yahudi yang merasa terganggu dan
terancam. Buntutnya, Ia harus “diserahkan kepada imam-imam kepada dan ahli-ahli
Taurat, dan mereka akan menjatuhi hukuman mati” (Mat 20:18).
Tagline menjadi pelayan, menjadi
hamba, dan memberikan nyawa bagi banyak orang menjadi kata-kata magis dan
sakral yang disampaikan oleh Yesus agar orang bisa menjadi “besar”, terkemuka
dan mendapat keselamatan. Cita-cita atau harapan menjadi orang yang disegani
dan terkemuka dapat tercapai apabila orang mau merubah dirinya menjadi seorang
hamba dan pelayan. Tidak hanya mendapat pengakuan ilahi, tetapi menyata dalam
praksis hidup manusia. Inilah revolusi mental yang dicanangkan oleh Yesus.
Sangat berlawanan dengan situasi dunia yang mengagungkan kuasa, status, dan
jabatan mentereng. Bahkan keinginan akan jabatan, status, dan prestise mulia
mulai merasuki kelompok dua belas murid. Hal ini tampak oleh keinginan ibu
anak-anak
Zebedeus
yang meminta Yesus supaya memberi tempat istimewa kepada dua anaknya; Yohanes
dan Yakobus (Mat 20:21).
Nasihat Yesus kepada para murid-Nya dalam bacaan Injil pada hari ini (Mat
20:17-28) secara tidak langsung mengecam sikap hidup orang-orang Israel
terutama para pemimpin agama Yahudi yang sangat mementingkan jabatan, kuasa,
dan status sosial. Sangat disayangkan karena mereka tidak menggunakan berbagai
jabatan dan status sosial untuk melayani kepentingan banyak orang. Justru
mereka memanfaatkannya untuk bertindak tidak adil dan benar. Di satu sisi
rakyat kecil semakin menjadi miskin dan tertindas. Di lain sisi, para
pemimpinnya semakin merasa diri besar, gila hormat dan mabuk akan harta. Mereka
merasa paling benar dan suci tetapi perilaku hidup sungguh bertentangan dengan nilai-nilai
moral dan kehendak Allah sendiri.
Revolusi mental Yesus untuk menjadi pelayan, hamba dan memberikan nyawa
bagi orang lain ternyata tetap aktual dan kontekstual dalam segala zaman.
Situasi kekinian yang kita alami memperlihatkan bahwa jabatan, kuasa, dan
status sosial mentereng tetap menjadi dambaan, angan-angan, dan ambisi setiap
orang. Banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan dan masuk dalam pusaran
kenikmatan yang ditawarkan. Segala cara ditempuh, bahkan dengan menghalalkan
segala cara. Fakta juga membuktikan bahwa sangat jarang ditemukan orang-orang
yang memiliki jabatan, kuasa dan status sosial yang tinggi mampu menunjukkan
semangat hidup yang baik. Bahkan sebagian dari mereka adalah umat Kristen atau
Katolik. Gurihnya jabatan, kuasa, dan status sosial yang tinggi membuat orang
lupa diri. Malahan bertindak tidak sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.
Hari ini Yesus membawa revolusi mental dalam hidup kita sebagai orang
Kristen. Dalam panggilan hidup kita sebagai murid Kristus, sikap hidup sebagai
seorang pelayan dan hamba harus tetap menjadi prioritas dalam hidup. Semangat
seorang hamba dan pelayan tidak akan menurunkan derajat atau martabat kita
sebagai seorang manusia. Namun semakin mengangkat kita menjadi pribadi yang
besar dan mulia di mata Tuhan. Tuhan tidak pernah melarang orang untuk memiliki
jabatan, kuasa dan status sosial yang tinggi di tengah duniawi. Tuhan justru
mengarahkan agar kita mampu mendayagunakan segala potensi yang dimiliki demi
kebaikan dan kemaslahatan semua makhluk hidup.
Semoga di masa prapaskah ini, kita semakin memperbaiki kualitas hidup
dengan mau menjadi seorang pelayan dan hamba. Kita mau berjuang, berbagi, dan
berkorban tidak hanya demi diri sendiri tetapi bagi semua orang yang ada di
sekitar kita. Dengan demikian, semangat revolusi mental ala Yesus mulai bertumbuh dan berkembang dalam diri
kita. Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar