Selasa, 02 Maret 2021

REVOLUSI MENTAL ALA YESUS

Mat 20: 17-28

Kita semua pasti pernah mendengar istilah revolusi mental. Kata revolusi berarti perubahan dalam waktu singkat. Sedangkan kata mental atau mentalitas merujuk kepada sebuah cara berpikir atau konsep pemikiran manusia untuk dapat belajar dan merespon suatu hal. Jadi revolusi mental dapat dimaknai sebagai perubahan cara berpikir dalam waktu singkat untuk merespon, bertindak, dan bekerja. Istilah revolusi mental dicetuskan pertama kali oleh Presiden Soekarno pada saat pidato kenegaraan mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kemudian istilah ini dipopulerkan kembali oleh Presiden Jokowi pada masa sekarang ini. Presiden Jokowi menyerukan adanya sebuah gerakan nasional revolusi mental untuk mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru untuk mewujudkan negara Indonesia yang berdaulat dan berkarakter.

 

Jauh sebelum era Soekarno, sekitar 2000-an tahun yang lalu, istilah revolusi mental sebenarnya telah didengungkan oleh seorang tokoh besar yang sangat dipuja dan disembah oleh umat Kristen sejagat. Tokoh yang sangat fenomenal itu adalah Yesus yang telah menyejarah dalam sejarah hidup umat manusia. Menilik sosok pribadi, kisah hidup dan sepak terjang-Nya di kala itu, kita dapat memastikan bahwa istilah revolusi mental sudah diperkenalkan, dijiwai, dan dihidupi oleh Yesus Kristus sendiri. Walaupun memang, Yesus tidak menyebut secara eksplisit tentang istilah ini. Namun, setiap sabda dan perbuatan-Nya merupakan pancaran nyata yang menegaskan istilah revolusi mental dalam hidup manusia. Yesus datang membawa perubahan radikal yang menuntut manusia untuk segera keluar dari zona nyaman. Perubahan radikal yang yang membebaskan manusia dari keterikatan duniawi dan menghantar manusia kepada kelekatan dengan Allah Bapa di sorga.

 

Salah satu revolusi mental yang diusung oleh Yesus tampak dalam kata-kata-Nya: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat 20:26-27). Yesus menyatakan bahwa apa yang disampaikan-Nya tidak sekedar pepesan kosong. Ia sendirilah yang datang membuat gebrakan dan terobosan dalam aksi-aksi konkrit agar revolusi mental itu dapat terlaksana dalam hidup manusia. “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Konsekuensi dari gerakan revolusi mental itu harus dibayar dengan mahal. Yesus harus menghadapi halangan dan tantangan dari para penguasa dan pemimpin agama Yahudi yang merasa terganggu dan terancam. Buntutnya, Ia harus “diserahkan kepada imam-imam kepada dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi hukuman mati” (Mat 20:18).

 

Tagline menjadi pelayan, menjadi hamba, dan memberikan nyawa bagi banyak orang menjadi kata-kata magis dan sakral yang disampaikan oleh Yesus agar orang bisa menjadi “besar”, terkemuka dan mendapat keselamatan. Cita-cita atau harapan menjadi orang yang disegani dan terkemuka dapat tercapai apabila orang mau merubah dirinya menjadi seorang hamba dan pelayan. Tidak hanya mendapat pengakuan ilahi, tetapi menyata dalam praksis hidup manusia. Inilah revolusi mental yang dicanangkan oleh Yesus. Sangat berlawanan dengan situasi dunia yang mengagungkan kuasa, status, dan jabatan mentereng. Bahkan keinginan akan jabatan, status, dan prestise mulia mulai merasuki kelompok dua belas murid. Hal ini tampak oleh keinginan ibu anak-anak                                                                                                                                                                                                                                                                                                               Zebedeus yang meminta Yesus supaya memberi tempat istimewa kepada dua anaknya; Yohanes dan Yakobus (Mat 20:21).

 

Nasihat Yesus kepada para murid-Nya dalam bacaan Injil pada hari ini (Mat 20:17-28) secara tidak langsung mengecam sikap hidup orang-orang Israel terutama para pemimpin agama Yahudi yang sangat mementingkan jabatan, kuasa, dan status sosial. Sangat disayangkan karena mereka tidak menggunakan berbagai jabatan dan status sosial untuk melayani kepentingan banyak orang. Justru mereka memanfaatkannya untuk bertindak tidak adil dan benar. Di satu sisi rakyat kecil semakin menjadi miskin dan tertindas. Di lain sisi, para pemimpinnya semakin merasa diri besar, gila hormat dan mabuk akan harta. Mereka merasa paling benar dan suci tetapi perilaku hidup sungguh bertentangan dengan nilai-nilai moral dan kehendak Allah sendiri.

Revolusi mental Yesus untuk menjadi pelayan, hamba dan memberikan nyawa bagi orang lain ternyata tetap aktual dan kontekstual dalam segala zaman. Situasi kekinian yang kita alami memperlihatkan bahwa jabatan, kuasa, dan status sosial mentereng tetap menjadi dambaan, angan-angan, dan ambisi setiap orang. Banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan dan masuk dalam pusaran kenikmatan yang ditawarkan. Segala cara ditempuh, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Fakta juga membuktikan bahwa sangat jarang ditemukan orang-orang yang memiliki jabatan, kuasa dan status sosial yang tinggi mampu menunjukkan semangat hidup yang baik. Bahkan sebagian dari mereka adalah umat Kristen atau Katolik. Gurihnya jabatan, kuasa, dan status sosial yang tinggi membuat orang lupa diri. Malahan bertindak tidak sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.

 

Hari ini Yesus membawa revolusi mental dalam hidup kita sebagai orang Kristen. Dalam panggilan hidup kita sebagai murid Kristus, sikap hidup sebagai seorang pelayan dan hamba harus tetap menjadi prioritas dalam hidup. Semangat seorang hamba dan pelayan tidak akan menurunkan derajat atau martabat kita sebagai seorang manusia. Namun semakin mengangkat kita menjadi pribadi yang besar dan mulia di mata Tuhan. Tuhan tidak pernah melarang orang untuk memiliki jabatan, kuasa dan status sosial yang tinggi di tengah duniawi. Tuhan justru mengarahkan agar kita mampu mendayagunakan segala potensi yang dimiliki demi kebaikan dan kemaslahatan semua makhluk hidup.

 

Semoga di masa prapaskah ini, kita semakin memperbaiki kualitas hidup dengan mau menjadi seorang pelayan dan hamba. Kita mau berjuang, berbagi, dan berkorban tidak hanya demi diri sendiri tetapi bagi semua orang yang ada di sekitar kita. Dengan demikian, semangat revolusi mental ala Yesus  mulai bertumbuh dan berkembang dalam diri kita. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar