Senin, 29 Maret 2021

PENGKHIANATAN SELALU BERAKHIR DENGAN PENYESALAN

(Yohanes 13:21-33,36-38)

            Sebagai manusia yang hidup dalam komunitas sosial, sering kali kita menjumpai pribadi tertentu yang hidupnya suka menjual orang lain bahkan terhadap sahabat dekatnya pun mereka rela berkhianat demi tujuan pribadinya yang terselubung. Mereka seperti orang yang lupa ingatan meskipun orang yang dijual adalah orang baik yang selalu menolongnya. Lebih lagi, kita suka memberi janji palsu, suka berbohong seolah kita punya komitmen moral yang teruji dan terukur. Semua agama mengajarkan kasih kepada Tuhan dan sesama, meskipun ada kelompok radikal dan fundamentalis tertentu yang melakukan aksi teror bom bunuh diri seperti minggu kemarin yang terjadi di depan Gereja katedral Makassar-Sulawesi Selatan. Semua agama dan lapisan masyarakat mengutuk keras aksi jahanam yang menebarkan teror tak berperikemanusiaan itu. Kelompok teroris ini telah diindoktrinasi dengan ajaran sesat bahwa untuk masuk surga orang harus mampu membunuh sesamanya, seolah surga adalah istana nenek moyang mereka sendiri. Kelompok ini telah dirasuki iblis dan hidup mereka jauh dari terang keselamatan Allah. Mereka hidup dalam kegelapan dosa yang memaksa mereka: membenci sesamanya, anti terhadap kedamaian dan kasih. Injil hari ini  memperlihatkan kepada kita semua drama yang dilakonkan oleh dua murid Yesus yang telah lama tinggal bersama Yesus, namun tega mengkhianati Sang Guru. Keduanya bukan orang luar di luar komunitas persekutuan dengan Yesus tetapi mereka adalah orang kepercayaan Yesus sendiri. Keduanya adalah Yudas dan Petrus. Yudas bersekongkol dan menyerahkan Yesus untuk dibunuh, hatinya telah dirasuki setan sehingga bertindak kesurupan demi mendapatkan 30 keping perak. Sedangkan, Petrus dengan penuh percaya diri berjanji dihadapan Yesus untuk mengikuti-Nya kemana pun Ia pergi. Komitmennya ini pupus ketika ia menyangkal Yesus tiga kali setelah ayam berkokok pada moment penghakiman kepada Yesus. Pertanyaan reflektif bagi kita semua: apakah masih relevan kita yang hidup di zaman modern ini menghidupi perangai Yudas dan Petrus di jamannya dengan cara yang lebih kejih dan kejam lewat drama teror bom untuk menebar ketakutan demi menghilangkan ajaran KASIH kepada sesama?

            Pada hari Selasa Pekan Suci ini bacaan-bacaan liturgi memfokuskan perhatian kita pada drama yang akan mencapai puncaknya pada peristiwa penyaliban Yesus Kristus di hari Jumat Agung nanti. Penginjil Yohanes melukiskan saat-saat mengharukan pada malam perjamuan terakhir. Yesus mengatakan dengan terus terang bahwa salah seorang di antara keduabelas rasul-Nya akan menyerahkan diri-Nya kepada para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Sebelumnya Yesus sudah mengatakan bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Kini Ia lebih memberi perhatian khusus pada salah seorang di antara keduabelas rasul-Nya yang akan menyerahkan Dia. Para rasul-Nya kaget dan bereaksi, sesuatu yang lumrah terjadi pada setiap orang yang mendengar penuturan Yesus. Mereka saling bertanya satu sama lain, siapakah yang akan menyerahkan sang Guru. Simon Petrus meminta Yohanes yang duduk dekat dengan Yesus untuk bertanya kepada-Nya perihal siapa yang dimaksudkan Yesus. Pertanyaannya: “Tuhan siapakah itu?” (Yoh 13:25) dan para murid lain juga bertanya: “Bukan aku, ya Tuhan?”. Pertanyaan para murid pada umumnya ini berbeda dengan pertanyaan Yudas Iskariot. Ia malah bertanya: “Bukan aku, ya Rabbi?”. Lihatlah bahwa para murid lain bertanya kepada Yesus sebagai Tuhan dalam konteks post-paskah, sedangkan Yudas Iskariot tetap memandang Yesus sebagai Guru yang bisa dijualnya dengan harga 30 keping perak.

            Reaksi Yesus lahir dalam perkataan-Nya ini: “Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian, Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” (Yoh 13:26-27). Yesus sungguh luar biasa, Ia sudah mengenal Yudas sebagai pengkhianat tetapi oleh kasih-Nya yang tak mengenal batas, Ia masih melayani Yudas dengan kasih, menyuapnya dengan roti dari tanganNya sendiri. Yesus sedang mengajarkan satu kebajikan utama yakni kasih yang sempurna untuk terus mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Inilah teladan hidup sejati yang diajarkan Yesus kepada kita murid-murid-Nya.

            Setelah Yudas menerima roti itu maka ia meninggalkan komunitasnya di mana ia dibentuk oleh Yesus selama tiga tahun. Teman-temannya berpikir positif tentang dia bahwa sebagai bendahara mungkin ia pergi membeli sesuatu atau memberi sedekah kepada kaum miskin. Ternyata ia pergi untuk menjual Rabbi-nya yaitu Tuhan Yesus, yang baginya adalah Guru yang hidup bersamanya selama tiga tahun. Yohanes menambahkan bahwa pada saat itu hari sudah malam, Yudas meninggalkan Yesus sang Terang dunia dan memasuki dunia baru yang gelap penuh kejahatan dan kebencian. Malam menandakan kesenangan manusia pada dosa dan tawaran duniawi yang menjerumuskan manusia pada hal-hal hedonistis semata tanpa memiliki kemauan kuat untuk bertobat dan mencari keselamatan dari Tuhan.

            Petrus juga ditampilkan untuk menunjukkan sosok manusia yang rapuh di hadapan Tuhan tetapi sepenuhnya akan dikuatkan oleh Tuhan Yesus sendiri (Roh Kudus). Ia bertanya kepada Yesus tentang tempat kepergian-Nya dan ia bersedia mengikuti bahkan menyerahkan nyawanya bagi Yesus. Tuhan Yesus memadang Petrus dengan penuh kasih dan berkata kepadanya bahwa sebelum ayam berkokok, ia sudah menyangkal Yesus tiga kali. Banyak kali kita juga seperti Petrus, mudah berjanji kepada Tuhan dan sesama, tetapi ketika ada penderitaan datang mudah sekali kita meninggalkan Tuhan dan sesama untuk mencari rasa nyaman sendiri. Kita mungkin lebih sadis dari Petrus bahkan bisa jadi menyangkal Yesus tak terhitung jumlahnya.

            Dalam Kitab nabi Yesaya hari ini, kita juga mendengar kisah Hamba Tuhan sebagai terang di tengah-tengah segala bangsa. Hamba Tuhan memperkenalkan dirinya sebagai pribadi yang sudah dikenal Tuhan sejak masih berada di dalam kandungan ibunya. Tuhan membuka mulut hamba-Nya ini di mana mulutnya laksana pedang yang tajam. Dari mulut hamba inilah Sabda Tuhan yang tajam bagai pedang bisa mengubah hidup manusia. Tangan Tuhan juga perkasa sehingga bisa melindungi hamba-Nya. Kepadanya Tuhan berfirman: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” (Yes 49:3). Hamba Tuhan juga merasa bahwa segala pekerjaan yang dilakukannya sia-sia saja. Namun, ia tetap percaya bahwa haknya terjamin pada Tuhan dan upahnya ada pada Tuhan Allah. Pada akhirnya Tuhan berkata: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” ( Yes 49:6). Hamba Tuhan disini adalah terang yang menerangi hidup manusia, Dialah Yesus Tuhan kita, Dialah terang dari segala terang yang mampu menerobos dan mengalahklan kegelapan dunia.

            Dalam kacamata iman Kristiani, Hamba Tuhan adalah Yesus sendiri. Ia adalah terang yang sedang datang ke dunia tetapi manusia tidak mengenalNya karena iblis telah merasuki hati kita hingga selalu bertindak membabi buta. Padahal terangNya itu melampaui segala-galanya. Kegelapan tidak mampu menguasai terang. Yesus berkata: “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan mereka jahat.” (Yoh 3:19). Yudas Iskariot memiliki pilihan bebas untuk meninggalkan Terang dan masuk ke dalam kegelapan kekal, namun dipenghujung drama pengkhianatan yang dilakoninya, ia menyesal dan akhirnya gantung diri. Penyesalan selalu datang terlambat bagaikan nasi sudah menjadi bubur.

            Harus kita akui bahwa banyak kali kita menjadi Yudas Iskariot modern yang suka hidup dalam suasana malam penuh kegelapan. Sikap hidup kita tidak Kristiani karena suka mengadili sesama, membicarakan sesama dan lebih doyan memfitnah, membenci dan sulit untuk mengampuni sesama kita. Kita juga banyak kali berlaku seperti Petrus suka bersumpah sambil meyakinkan orang dengan menyebut nama “Allah”, suka berbicara manis tapi kelakuan dan komitmen kita berbanding terbalik tak sejalan dengan janji dan ucapan kita. Kita juga sering berlaku seperti para teroris yang anti terhadap praktek KASIH dan suka menjauh dari terang. Kita suka menebar kebencian terhadap sesama kita bahkan kepada orang baik sekali pun. Di penghujung masa Prapaskah dan pekan suci ini, kita masih memiliki kesempatan untuk membaharui hidup kita lewat langkah pertobatan, menyadari kedosaan kita dan membiarkan diri kita dibimbing oleh Terang Keselamatan. Yesus adalah Hamba yang membawa terang bagi dunia. Mari kita keluar dari kegelapan hidup dan masuk ke dalam terang sejati yang menyadarkan kita tentang pentingnya pertobatan untuk mencapai keselamatan paripurna dari Allah. Sebagai manusia lemah dan rapuh, kita bisa diselamatkan oleh Yesus kalau kita tekun dalam doa. Doa Daud dalam Mazmur hari ini layak kita ulangi dalam hati kita masing-masing (Mzm 71: 1-2): “Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!” . Semoga kita selalu mengambil hikma dari drama pengkhianatan Yudas dan komitmen palsu dari Petrus serta peristiwa aksi teror bom bunuh diri kelompok radikal di Makassar-Sulawesi Selatan baru-baru ini untuk senantiasa berjalan dalam terang Kasih Tuhan yang membawa kita pada keselamatan sejati dan paripurna. Amin. ***Bernard Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar