(Yohanes
13:21-33,36-38)
Sebagai
manusia yang hidup dalam komunitas sosial, sering kali kita menjumpai pribadi
tertentu yang hidupnya suka menjual orang lain bahkan terhadap sahabat dekatnya
pun mereka rela berkhianat demi tujuan pribadinya yang terselubung. Mereka
seperti orang yang lupa ingatan meskipun orang yang dijual adalah orang baik
yang selalu menolongnya. Lebih lagi, kita suka memberi janji palsu, suka
berbohong seolah kita punya komitmen moral yang teruji dan terukur. Semua agama
mengajarkan kasih kepada Tuhan dan sesama, meskipun ada kelompok radikal dan
fundamentalis tertentu yang melakukan aksi teror bom bunuh diri seperti minggu
kemarin yang terjadi di depan Gereja katedral Makassar-Sulawesi Selatan. Semua
agama dan lapisan masyarakat mengutuk keras aksi jahanam yang menebarkan teror
tak berperikemanusiaan itu. Kelompok teroris ini telah diindoktrinasi dengan
ajaran sesat bahwa untuk masuk surga orang harus mampu membunuh sesamanya,
seolah surga adalah istana nenek moyang mereka sendiri. Kelompok ini telah
dirasuki iblis dan hidup mereka jauh dari terang keselamatan Allah. Mereka
hidup dalam kegelapan dosa yang memaksa mereka: membenci sesamanya, anti
terhadap kedamaian dan kasih. Injil hari ini
memperlihatkan kepada kita semua drama yang dilakonkan oleh dua murid
Yesus yang telah lama tinggal bersama Yesus, namun tega mengkhianati Sang Guru.
Keduanya bukan orang luar di luar komunitas persekutuan dengan Yesus tetapi
mereka adalah orang kepercayaan Yesus sendiri. Keduanya adalah Yudas dan
Petrus. Yudas bersekongkol dan menyerahkan Yesus untuk dibunuh, hatinya telah
dirasuki setan sehingga bertindak kesurupan demi mendapatkan 30 keping perak.
Sedangkan, Petrus dengan penuh percaya diri berjanji dihadapan Yesus untuk
mengikuti-Nya kemana pun Ia pergi. Komitmennya ini pupus ketika ia menyangkal
Yesus tiga kali setelah ayam berkokok pada moment penghakiman kepada Yesus. Pertanyaan
reflektif bagi kita semua: apakah masih relevan kita yang hidup di zaman modern
ini menghidupi perangai Yudas dan Petrus di jamannya dengan cara yang lebih
kejih dan kejam lewat drama teror bom untuk menebar ketakutan demi
menghilangkan ajaran KASIH kepada sesama?
Pada hari Selasa Pekan Suci ini
bacaan-bacaan liturgi memfokuskan perhatian kita pada drama yang akan mencapai
puncaknya pada peristiwa penyaliban Yesus Kristus di hari Jumat Agung nanti.
Penginjil Yohanes melukiskan saat-saat mengharukan pada malam perjamuan
terakhir. Yesus mengatakan dengan terus terang bahwa salah seorang di antara
keduabelas rasul-Nya akan menyerahkan diri-Nya kepada para imam kepala dan
tua-tua bangsa Yahudi. Sebelumnya Yesus sudah mengatakan bahwa Anak
Manusia harus menanggung banyak penderitaan, dan ditolak oleh tua-tua,
imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari
yang ketiga. Kini Ia lebih memberi perhatian khusus pada salah seorang di
antara keduabelas rasul-Nya yang akan menyerahkan Dia. Para rasul-Nya kaget dan
bereaksi, sesuatu yang lumrah terjadi pada setiap orang yang mendengar
penuturan Yesus. Mereka saling bertanya satu sama lain, siapakah yang akan
menyerahkan sang Guru. Simon Petrus meminta Yohanes yang duduk dekat dengan
Yesus untuk bertanya kepada-Nya perihal siapa yang dimaksudkan Yesus.
Pertanyaannya: “Tuhan siapakah itu?” (Yoh 13:25) dan para murid lain juga
bertanya: “Bukan aku, ya Tuhan?”. Pertanyaan para murid pada umumnya ini
berbeda dengan pertanyaan Yudas Iskariot. Ia malah bertanya: “Bukan aku, ya
Rabbi?”. Lihatlah bahwa para murid lain bertanya kepada Yesus sebagai Tuhan
dalam konteks post-paskah, sedangkan Yudas Iskariot tetap memandang Yesus
sebagai Guru yang bisa dijualnya dengan harga 30 keping perak.
Reaksi Yesus
lahir dalam perkataan-Nya ini: “Dialah itu, yang kepadanya Aku
akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah
berkata demikian, Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada
Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan
Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: “Apa yang
hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” (Yoh
13:26-27). Yesus sungguh luar biasa, Ia sudah mengenal Yudas sebagai
pengkhianat tetapi oleh kasih-Nya yang tak mengenal batas, Ia masih melayani
Yudas dengan kasih, menyuapnya dengan roti dari tanganNya sendiri. Yesus sedang
mengajarkan satu kebajikan utama yakni kasih yang sempurna untuk terus
mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Inilah teladan
hidup sejati yang diajarkan Yesus kepada kita murid-murid-Nya.
Setelah Yudas
menerima roti itu maka ia meninggalkan komunitasnya di mana ia dibentuk oleh
Yesus selama tiga tahun. Teman-temannya berpikir positif tentang dia bahwa
sebagai bendahara mungkin ia pergi membeli sesuatu atau memberi sedekah kepada
kaum miskin. Ternyata ia pergi untuk menjual Rabbi-nya yaitu Tuhan Yesus, yang
baginya adalah Guru yang hidup bersamanya selama tiga tahun. Yohanes
menambahkan bahwa pada saat itu hari sudah malam, Yudas meninggalkan Yesus sang
Terang dunia dan memasuki dunia baru yang gelap penuh kejahatan dan kebencian.
Malam menandakan kesenangan manusia pada dosa dan tawaran duniawi yang
menjerumuskan manusia pada hal-hal hedonistis semata tanpa memiliki kemauan
kuat untuk bertobat dan mencari keselamatan dari Tuhan.
Petrus juga
ditampilkan untuk menunjukkan sosok manusia yang rapuh di hadapan Tuhan tetapi
sepenuhnya akan dikuatkan oleh Tuhan Yesus sendiri (Roh Kudus). Ia bertanya
kepada Yesus tentang tempat kepergian-Nya dan ia bersedia mengikuti bahkan
menyerahkan nyawanya bagi Yesus. Tuhan Yesus memadang Petrus dengan penuh kasih
dan berkata kepadanya bahwa sebelum ayam berkokok, ia sudah menyangkal
Yesus tiga kali. Banyak kali kita juga seperti Petrus, mudah berjanji
kepada Tuhan dan sesama, tetapi ketika ada penderitaan datang mudah sekali kita
meninggalkan Tuhan dan sesama untuk mencari rasa nyaman sendiri. Kita mungkin
lebih sadis dari Petrus bahkan bisa jadi menyangkal Yesus tak
terhitung jumlahnya.
Dalam Kitab nabi
Yesaya hari ini, kita juga mendengar kisah Hamba Tuhan sebagai terang di
tengah-tengah segala bangsa. Hamba Tuhan memperkenalkan dirinya sebagai pribadi
yang sudah dikenal Tuhan sejak masih berada di dalam kandungan ibunya. Tuhan
membuka mulut hamba-Nya ini di mana mulutnya laksana pedang yang
tajam. Dari mulut hamba inilah Sabda Tuhan yang tajam bagai pedang bisa
mengubah hidup manusia. Tangan Tuhan juga perkasa sehingga bisa melindungi
hamba-Nya. Kepadanya Tuhan berfirman: “Engkau
adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” (Yes
49:3). Hamba Tuhan juga merasa bahwa segala pekerjaan yang dilakukannya sia-sia
saja. Namun, ia tetap percaya bahwa haknya terjamin pada Tuhan dan upahnya ada
pada Tuhan Allah. Pada akhirnya Tuhan berkata: “Terlalu
sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub
dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku
akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang
dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” ( Yes 49:6).
Hamba Tuhan disini adalah terang yang menerangi hidup manusia, Dialah
Yesus Tuhan kita, Dialah terang dari segala terang yang mampu menerobos dan
mengalahklan kegelapan dunia.
Dalam kacamata
iman Kristiani, Hamba Tuhan adalah Yesus sendiri. Ia adalah terang yang sedang
datang ke dunia tetapi manusia tidak mengenalNya karena iblis telah merasuki
hati kita hingga selalu bertindak membabi buta. Padahal terangNya itu melampaui
segala-galanya. Kegelapan tidak mampu menguasai terang. Yesus berkata: “Terang telah
datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada
terang, sebab perbuatan mereka jahat.” (Yoh
3:19). Yudas Iskariot memiliki pilihan bebas untuk meninggalkan Terang dan masuk
ke dalam kegelapan kekal, namun dipenghujung drama pengkhianatan yang
dilakoninya, ia menyesal dan akhirnya gantung diri. Penyesalan selalu datang
terlambat bagaikan nasi sudah menjadi bubur.
Harus kita akui
bahwa banyak kali kita menjadi Yudas Iskariot modern yang suka hidup dalam
suasana malam penuh kegelapan. Sikap hidup kita tidak Kristiani karena suka
mengadili sesama, membicarakan sesama dan lebih doyan memfitnah, membenci dan
sulit untuk mengampuni sesama kita. Kita juga banyak kali berlaku seperti
Petrus suka bersumpah sambil meyakinkan orang dengan menyebut nama “Allah”,
suka berbicara manis tapi kelakuan dan komitmen kita berbanding terbalik tak
sejalan dengan janji dan ucapan kita. Kita juga sering berlaku seperti para
teroris yang anti terhadap praktek KASIH dan suka menjauh dari terang. Kita
suka menebar kebencian terhadap sesama kita bahkan kepada orang baik sekali
pun. Di penghujung masa Prapaskah dan pekan suci ini, kita masih memiliki
kesempatan untuk membaharui hidup kita lewat langkah pertobatan, menyadari
kedosaan kita dan membiarkan diri kita dibimbing oleh Terang Keselamatan. Yesus
adalah Hamba yang membawa terang bagi dunia. Mari kita keluar dari kegelapan
hidup dan masuk ke dalam terang sejati yang menyadarkan kita tentang pentingnya
pertobatan untuk mencapai keselamatan paripurna dari Allah. Sebagai manusia
lemah dan rapuh, kita bisa diselamatkan oleh Yesus kalau kita tekun dalam doa.
Doa Daud dalam Mazmur hari ini layak kita ulangi dalam hati kita masing-masing
(Mzm 71: 1-2): “Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, janganlah
sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena
keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!” .
Semoga kita selalu mengambil hikma dari drama pengkhianatan Yudas dan komitmen
palsu dari Petrus serta peristiwa aksi teror bom bunuh diri kelompok radikal di
Makassar-Sulawesi Selatan baru-baru ini untuk senantiasa berjalan dalam terang
Kasih Tuhan yang membawa kita pada keselamatan sejati dan paripurna. Amin.
***Bernard Wadan***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar