Minggu, 21 Februari 2021

YESUS PEGANGAN HIDUP KITA

Mat 16:13-19

Setiap tahun pada tanggal 22 Februari, kita merayakan pesta Tahkta St. Petrus. Perayaan ini mengingatkan kita akan kepemimpinan Petrus sebagai paus pertama dalam sejarah gereja Katolik. Sebagai seorang paus, Petrus adalah seorang gembala bagi umat Katolik sejagat. Ia meletakkan dasar bagi gereja dengan pengakuannya imannya akan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Tentu Petrus tidak bertindak sendirian. Dalam kesatuan iman bersama para murid yang pertama, Petrus melanjutkan misi keselamatan bagi umat manusia yang ditinggalkan oleh Yesus.

 

Melalui gerejalah, Yesus menyerahkan tugas penuh kepada Petrus untuk mewujudkan Kerajaan Allah di muka dunia. “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga” (Mat 16:18-19). Kepemimpinan Petrus sebagai seorang gembala mengandung tiga prinsip utama. Prinsip bekerja dengan sukarela atau tanpa paksaan. Prinsip penuh pengabdian dan tidak mencari keuntungan di dalamnya. Dan prinsip keteladanan. Seorang gembala harus menunjukkan keteladanan dalam pelbagai aspek kepada kawanan domba yang dipimpinnya.

 

Tidak berlebihan Yesus memilih Petrus sebagai seorang pemimpin yang akan menggantikan-Nya. Dalam suatu kesempatan, Yesus meminta para murid-Nya untuk menggali informasi dari orang-orang tentang sosok Anak Manusia. Para murid rupanya belum mengetahui bahwa sosok Anak Manusia ini mengarah pada Diri Yesus sendiri. Jawaban para murid beragam. Ada yang mengatakan bahwa Anak Manusia itu Yohanes Pembaptis. Ada yang mengatakan Anak Manusia itu merupakan nabi Elia. Dan ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah nabi Yeremia atau salah seorang nabi lain yang telah bangkit. Ketika Yesus meminta jawaban dari para murid-Nya sendiri mengenai sosok Diri-Nya, tanpa ragu-ragu dan penuh keyakinan, Petrus berkata: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 13:16). Ungkapan Anak Allah yang hidup membenarkan dan mengatasi semua implikasi yang ada dalam sebutan “Mesias” (Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, hal 58). Yesus pun mengapresiasi jawaban Petrus dengan mengatakan: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 13:17).

 

Pengenalan Petrus akan Diri Yesus tidak seujung kuku. Petrus sungguh mengenal pribadi Yesus, figur yang menjadi Guru ilahinya. Mengenal Yesus lewat kata-kata dan perbuatan-Nya, meyakinkan Petrus bahwa Yesus adalah sungguh Mesias, Anak Allah yang hidup. Walaupun demikian, Petrus masih memahami makna Mesias sebagai seorang raja duniawi yang akan membawa pembebasan bagi bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa asing. Konsep Mesias bagi Petrus dan murid-murid yang lain adalah seorang raja politis yang akan membangun sebuah kerajaan duniawi yang hebat dan megah.

 

Terlepas dari konsep lama tentang Mesias yang masih dipegang Petrus, kita tidak menyepelekan begitu saja pengakuan Petrus tentang siapa Yesus sebenarnya. Petrus menyadari bahwa Yesus ini bukan orang sembarangan. Kalau Yesus bukan sosok spesial, tidak mungkin ia bersama kawan-kawannya mengikuti Yesus sampai sekian lama. Yesus adalah sungguh Mesias memberi pesan bahwa Ia datang dari suatu ‘dunia lain’ dengan misi khusus. Dan karena Ia adalah Anak Allah yang hidup berarti Ia datang dari sorga dengan tujuan mulia untuk membebaskan dan menyelamatkan umat manusia. Sampai di sini, menjadi masuk akal bahwa Petrus menaru harapan yang besar kepada Yesus untuk membangkitkan kembali kejayaan raja Daud di masa lalu.

 

Melalui prosesi kisah sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, Petrus dan para murid yang lain akhirnya menyadari makna yang sebenarnya dari Mesias, Anak Allah yang hidup. Yesus bukan raja duniawi melainkan raja ilahi yang akan menegakkan Kerajaan Allah di muka bumi. Yesus datang untuk membebaskan umat manusia dari belenggu dosa dan menghantar kawanan-Nya menuju kepada keselamatan sorgawi. Yesus datang membawa sebuah kebenaran ilahi. Kebenaran yang menghapus kuasa duniawi yang tidak adil dan sesat. Semua umat manusia harus segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Karena warta kebenaran itu akan segera menyata melalui kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya yang mengalahkan kuasa dosa dan maut.

Dalam permenungan masa prapaskah ini, kita sungguh-sungguh dihantar untuk mengenal lebih dalam siapa Yesus melalui bacaan rohani pada hari ini. Saya percaya, kita secara pribadi sudah mengenal siapa Yesus itu sebenarnya. Bahwa Ia adalah Mesias, Putera Allah yang hidup, tentu kita sepakat dengan itu. Tetapi pengenalan kita akan Yesus tidak hanya sampai pada level pengetahuan semata. Ia harus merasuki seluruh raga dan jiwa kita. Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup harus betul-betul menjadi andalan dan pegangan hidup kita. Kalau kita belum meresapi dan menghayati Dia sebagai andalan dan pegangan hidup, dapat dipastikan bahwa kita belum sungguh-sungguh mengenal-Nya secara lebih mendalam.

 

Dalam masa ret-ret agung ini, saya mengajak kita semua untuk lebih menukik jauh di kedalaman hati, merefleksikan peran Yesus dalam hidup dan karya kita. Apakah kita sudah menjadikan Diri-Nya sebagai andalan dan pegangan hidup kita. Ataukah kita hanya menjadikan Diri-Nya hanya sebatas simbol, pajangan, dan hiasan belaka? Mari kita menyadari diri dalam refleksi sederhana ini agar kita sungguh dimampukan untuk mengenal Diri-Nya secara lebih tajam dalam setiap peristiwa hidup yang kita alami. Karena dengan mengenal-Nya lebih dalam, kita akan menjadikan Dia sebagai andalan hidup kita setiap saat. Seperti Petrus yang mewarisi Pribadi Yesus sebagai Sang Gembala Agung, kita pun demikian. Hanya dalam Dia, Yesus, Sang Mesias, Anak Allah yang hidup, kita bisa memperbaiki diri untuk berkarya dengan penuh kesadaran, tanpa paksaan, penuh pengabdian, dan dengan semangat keteladanan. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar