Mrk 6: 53-56
Selebritas adalah orang terkenal lantaran selalu dekat atau sering disorot
dalam dunia pemberitaan (pers). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, selebritas
diartikan sebagai orang terkenal atau masyhur. Kata selebritas dalam bahasa
Indonesia merupakan kata serapan dari celebrity
dalam bahasa Inggris. celebrity
berakar dari kata celebrate yang
artinya merayakan. Setiap gerak langkahnya, selebritas tak pernah luput dari
sorotan media massa. Ada sebagian selebritas menjada populer karena prestasi
dan kiprahnya di bidang tertentu. Ada pula selebritas yang populer karena
kehidupannya yang kontroversial.
Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:53-56) menampilkan sosok Yesus sebagai seorang
selebritas yang sudah sangat terkenal di mata publik umat Israel. Yesus menjadi
tenar berkat karya pengajaran dan aksi mukjizat-Nya. Karya pengajaran dan aksi
fenomenal yang dibuat Yesus di satu sisi begitu menyentuh dan menyelamatkan
situasi umat kala itu. Sementara di lain sisi, hal tersebut justru menimbulkan
kontroversi, terutama di kalangan elit umat Yahudi. Banyak pemuka agama Yahudi
yang mempertanyakan dan meragukan kapasitas serta kemampuan ilahi yang dimiliki
Yesus. Kehadiran Yesus dianggap sebagai sebuah ancaman karena mengganggu
situasi mapan yang telah tercipta. Namun di kalangan bawah yang didominasi oleh
rakyat sederhana dan miskin, figur Yesus telah menjadi seorang selebritas yang
tidak hanya terkenal. Tetapi sungguh membawa angin segar atau secercah harapan
untuk menyelamatkan hidup mereka dari berbagai kondisi yang tidak adil dan
menguntungkan.
Rupanya setiap pergerakan Yesus yang berhubungan dengan karya pengajaran
dan aksi mukjizat-Nya sudah tersiar sampai ke berbagai daerah dan
pelosok-pelosok. Tidak heran, ketika Yesus sampai di Genesaret (Mrk 6:53) ada
begitu banyak orang yang langsung menyambut-Nya dengan penuh harapan dan
sukacita. Mereka membawa kaum kerabat, sahabat dan kenalan untuk disembuhkan
oleh Yesus. Kalau kita memperhatikan secara cermat apa yang diuraikan dalam
teks Kitab Suci, kelihatan bahwa Yesus justru bersikap lebih pasif. Orang-orang
yang datang lebih proaktif mendekati dan menyentuh jumbai jubah-Nya untuk
mendapat berkat kesembuhan.
Banyak orang dari daerah-daerah yang berbeda diselamatkan oleh aksi Yesus
secara tidak langsung. Yesus membiarkan Diri-Nya disentuh agar mereka yang
sakit memperoleh kesembuhan dari penyakitnya.Walaupun kelihatan Yesus semacam
cuek dengan kumpulan massa yang mengikuti sambil menyerukan pertolongan
dari-Nya, sangat jelas dipastikan bahwa Yesus sungguh menaru sikap belaskasihan
kepada mereka. Hal ini dibuktikan dengan kesediaan Diri-Nya untuk dijamah oleh
mereka. Seandainya Yesus bersikap arogan, tentu Ia akan menolak atau menyuruh
para murid-Nya menghalau massa yang datang menghampiri-Nya. Kita patut memberi
apresiasi kepada orang-orang yang datang dan mengikuti Yesus. Mereka memiliki
kepercayaan yang sangat kuat bahwa dengan hanya menyentuh Diri atau jumbai
juba-Nya, mereka akan mendapat keselamatan.
Dari uraian teks Kitab Suci yang singkat ini (4 ayat), ada dua hal yang
bisa kita pelajari. Pertama, sikap belaskasihan Yesus terhadap orang-orang
kecil yang mengikuti-Nya. Ia membiarkan aliran keselamatan itu keluar dari
Diri-Nya untuk menyelamatkan sekian banyak orang yang sementara menderita
sakit. Kedua, sikap percaya yang kokoh dari orang-orang. Karena iman yang
sederhana, mereka memperoleh berkat yang luar biasa dalam hidup. Berkat itu
adalah kesembuhan dan keselamatan.
Sebagai orang beriman, kita pasti pernah mengalami rasa sakit. Entah itu
sakit fisik, atau pun juga sakit secara psikis. Dalam situasi demikian,
acapkali kita berjalan tidak sesuai dengan kodrat kita sebagai makhluk ciptaan
Tuhan. Sejatinya kita tetap mengarahkan hidup dan meminta bantuan kepada Tuhan
sebagai sumber kekuatan dan napas kehidupan. Namun yang terjadi adalah kita
melakukan banyak kompromi dan kalkulasi yang menyelepelekan kuasa ilahi Tuhan
sendiri. Kita gampang bermain dengan logika untuk tidak percaya dengan kekuatan
Tuhan. Kita lebih sibuk mengandalkan kekuatan manusiawi yang dalam banyak hal
justru menyeret kita kepada situasi yang lebih runyam. Kita semakin mengalami
kekecewaan, stress, depresi berat, putus asa dan kehilangan harapan untuk
hidup.
Naifnya, ketika kekuatan logika dan manusiawi tidak menemukan jawaban yang
pasti, kita mulai lari kepada kekuatan supranatural yang dikendalikan oleh para
paranormal atau dukun. Kita mulai hidup dibawah bayang-bayang paranormal
(dukun) yang menyebabkan kita kehilangan harta benda, akal sehat, dan
kehormatan sebagai pribadi yang bermartabat. Sungguh kita mempresentasikan aksi
hidup yang rumit dan semakin menyulitkan hidup kita selanjutnya. Kita gampang
kehilangan segalanya dalam hidup tetapi tidak mendapatkan apa-apa juga dari
segala hal yang telah kita pertaruhkan. Semua itu terjadi karena kita bergerak
di luar dari jalur iman kita yang sebenarnya.
Hari ini penginjil Markus mengajak kita untuk memiliki iman yang sederhana.
Iman yang tidak rumit. Iman yang sederhana adalah sebuah sikap iman yang kokoh
kepada Tuhan. Sebuah sikap penyerahan diri yang total dan tanpa kompromi.
Seperti orang-orang yang proaktif dan berani mendekati Yesus, demikian juga
kita yang mengaku sebagai pengikut setia-Nya. Iman yang sederhana itu
membutuhkan sikap proaktif dan tanpa kenal lelah. Dalam setiap rasa sakit,
entah apa pun itu jenisnya, mari kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.
Karena Dia yang mendengar dan melihat pasti tidak akan menolak. Dia pasti akan
memberikan kesembuhan dan keselamatan dalam hidup kita.
Menurut Kitab Suci alam ciptaan itu adalah ciptaan yang baik. Sedangkan
manusia mendapat tempat lebih istimewa karena menduduki status sebagai ciptaan
yang maha baik. Tidak sekedar baik saja. Menyadari status khusus tersebut
hendaknya lebih memotivasi kita untuk lebih membangun relasi yang lebih intim
dengan menunjukkan karakteristik iman yang sederhana kepada Tuhan. Pada
akhirnya, sikap iman yang sederhana mendorong kita untuk selalu menunjukkan rasa
belaskasihan dan tindakan kasih kepada setiap orang yang lagi membutuhkan
bantuan dan perhatian kita. Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar