Minggu, 07 Februari 2021

IMAN YANG SEDERHANA KEPADA YESUS, SANG SELEBRITAS

Mrk 6: 53-56

Selebritas adalah orang terkenal lantaran selalu dekat atau sering disorot dalam dunia pemberitaan (pers). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, selebritas diartikan sebagai orang terkenal atau masyhur. Kata selebritas dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari celebrity dalam bahasa Inggris. celebrity berakar dari kata celebrate yang artinya merayakan. Setiap gerak langkahnya, selebritas tak pernah luput dari sorotan media massa. Ada sebagian selebritas menjada populer karena prestasi dan kiprahnya di bidang tertentu. Ada pula selebritas yang populer karena kehidupannya yang kontroversial.

 

Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:53-56) menampilkan sosok Yesus sebagai seorang selebritas yang sudah sangat terkenal di mata publik umat Israel. Yesus menjadi tenar berkat karya pengajaran dan aksi mukjizat-Nya. Karya pengajaran dan aksi fenomenal yang dibuat Yesus di satu sisi begitu menyentuh dan menyelamatkan situasi umat kala itu. Sementara di lain sisi, hal tersebut justru menimbulkan kontroversi, terutama di kalangan elit umat Yahudi. Banyak pemuka agama Yahudi yang mempertanyakan dan meragukan kapasitas serta kemampuan ilahi yang dimiliki Yesus. Kehadiran Yesus dianggap sebagai sebuah ancaman karena mengganggu situasi mapan yang telah tercipta. Namun di kalangan bawah yang didominasi oleh rakyat sederhana dan miskin, figur Yesus telah menjadi seorang selebritas yang tidak hanya terkenal. Tetapi sungguh membawa angin segar atau secercah harapan untuk menyelamatkan hidup mereka dari berbagai kondisi yang tidak adil dan menguntungkan.

 

Rupanya setiap pergerakan Yesus yang berhubungan dengan karya pengajaran dan aksi mukjizat-Nya sudah tersiar sampai ke berbagai daerah dan pelosok-pelosok. Tidak heran, ketika Yesus sampai di Genesaret (Mrk 6:53) ada begitu banyak orang yang langsung menyambut-Nya dengan penuh harapan dan sukacita. Mereka membawa kaum kerabat, sahabat dan kenalan untuk disembuhkan oleh Yesus. Kalau kita memperhatikan secara cermat apa yang diuraikan dalam teks Kitab Suci, kelihatan bahwa Yesus justru bersikap lebih pasif. Orang-orang yang datang lebih proaktif mendekati dan menyentuh jumbai jubah-Nya untuk mendapat berkat kesembuhan.

 

Banyak orang dari daerah-daerah yang berbeda diselamatkan oleh aksi Yesus secara tidak langsung. Yesus membiarkan Diri-Nya disentuh agar mereka yang sakit memperoleh kesembuhan dari penyakitnya.Walaupun kelihatan Yesus semacam cuek dengan kumpulan massa yang mengikuti sambil menyerukan pertolongan dari-Nya, sangat jelas dipastikan bahwa Yesus sungguh menaru sikap belaskasihan kepada mereka. Hal ini dibuktikan dengan kesediaan Diri-Nya untuk dijamah oleh mereka. Seandainya Yesus bersikap arogan, tentu Ia akan menolak atau menyuruh para murid-Nya menghalau massa yang datang menghampiri-Nya. Kita patut memberi apresiasi kepada orang-orang yang datang dan mengikuti Yesus. Mereka memiliki kepercayaan yang sangat kuat bahwa dengan hanya menyentuh Diri atau jumbai juba-Nya, mereka akan mendapat keselamatan.

 

Dari uraian teks Kitab Suci yang singkat ini (4 ayat), ada dua hal yang bisa kita pelajari. Pertama, sikap belaskasihan Yesus terhadap orang-orang kecil yang mengikuti-Nya. Ia membiarkan aliran keselamatan itu keluar dari Diri-Nya untuk menyelamatkan sekian banyak orang yang sementara menderita sakit. Kedua, sikap percaya yang kokoh dari orang-orang. Karena iman yang sederhana, mereka memperoleh berkat yang luar biasa dalam hidup. Berkat itu adalah kesembuhan dan keselamatan.

 

Sebagai orang beriman, kita pasti pernah mengalami rasa sakit. Entah itu sakit fisik, atau pun juga sakit secara psikis. Dalam situasi demikian, acapkali kita berjalan tidak sesuai dengan kodrat kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sejatinya kita tetap mengarahkan hidup dan meminta bantuan kepada Tuhan sebagai sumber kekuatan dan napas kehidupan. Namun yang terjadi adalah kita melakukan banyak kompromi dan kalkulasi yang menyelepelekan kuasa ilahi Tuhan sendiri. Kita gampang bermain dengan logika untuk tidak percaya dengan kekuatan Tuhan. Kita lebih sibuk mengandalkan kekuatan manusiawi yang dalam banyak hal justru menyeret kita kepada situasi yang lebih runyam. Kita semakin mengalami kekecewaan, stress, depresi berat, putus asa dan kehilangan harapan untuk hidup.

 

Naifnya, ketika kekuatan logika dan manusiawi tidak menemukan jawaban yang pasti, kita mulai lari kepada kekuatan supranatural yang dikendalikan oleh para paranormal atau dukun. Kita mulai hidup dibawah bayang-bayang paranormal (dukun) yang menyebabkan kita kehilangan harta benda, akal sehat, dan kehormatan sebagai pribadi yang bermartabat. Sungguh kita mempresentasikan aksi hidup yang rumit dan semakin menyulitkan hidup kita selanjutnya. Kita gampang kehilangan segalanya dalam hidup tetapi tidak mendapatkan apa-apa juga dari segala hal yang telah kita pertaruhkan. Semua itu terjadi karena kita bergerak di luar dari jalur iman kita yang sebenarnya.

 

Hari ini penginjil Markus mengajak kita untuk memiliki iman yang sederhana. Iman yang tidak rumit. Iman yang sederhana adalah sebuah sikap iman yang kokoh kepada Tuhan. Sebuah sikap penyerahan diri yang total dan tanpa kompromi. Seperti orang-orang yang proaktif dan berani mendekati Yesus, demikian juga kita yang mengaku sebagai pengikut setia-Nya. Iman yang sederhana itu membutuhkan sikap proaktif dan tanpa kenal lelah. Dalam setiap rasa sakit, entah apa pun itu jenisnya, mari kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena Dia yang mendengar dan melihat pasti tidak akan menolak. Dia pasti akan memberikan kesembuhan dan keselamatan dalam hidup kita.

 

Menurut Kitab Suci alam ciptaan itu adalah ciptaan yang baik. Sedangkan manusia mendapat tempat lebih istimewa karena menduduki status sebagai ciptaan yang maha baik. Tidak sekedar baik saja. Menyadari status khusus tersebut hendaknya lebih memotivasi kita untuk lebih membangun relasi yang lebih intim dengan menunjukkan karakteristik iman yang sederhana kepada Tuhan. Pada akhirnya, sikap iman yang sederhana mendorong kita untuk selalu menunjukkan rasa belaskasihan dan tindakan kasih kepada setiap orang yang lagi membutuhkan bantuan dan perhatian kita. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar