Mrk 6: 1-6
Beberapa rekan dan kenalan mencurahkan isi hatinya kepada saya bahwa mereka
lebih suka tinggal dan mengabdi di tempat atau tanah orang lain daripada harus
tinggal di kampung sendiri. Alasannya sederhana. Mereka kurang atau tidak
mendapat respek dari orang-orang sekampung dimana mereka berasal. Sebaik apa
pun hal yang mereka perbuat tetap mendapat nilai minus. Mereka merasa bahwa
nilai perjuangan, pengorbanan, dan berbagai nilai positif lainnya, yang mereka
lakukan di kampung halamannya, seakan sia-sia saja. Tetap tidak mendapat tempat
yang baik di hati orang-orang sekampung mereka. Mirisnya, yang memberikan
respon negatif justru datang dari keluarga sendiri. Baik keluarga dari rumpun
terdekat maupun rumpun paling jauh.
Hari ini, Yesus mengalami pengalaman penolakan yang dialami di kampung
halamannya sendiri (Mrk 6:1-6). Banyak orang yang memang takjub dengan aksi
pengajaran-Nya. Mereka mengagumi kecerdasan dan wawasan keagamaan yang dimiliki
oleh Yesus. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Karena segera berganti dengan
rentetan pertanyaan yang menggugat dan meragukan kuasa ilahi yang dimiliki-Nya.
Ada dua hal yang melatari sikap ketidakpercayaan dari orang-orang Nazaret.
Pertama, orang-orang sekampung Yesus mengetahui latar kehidupan-Nya. Yesus itu
lahir dari keluarga tukang kayu yang sangat sederhana. Bahkan boleh dikatakan
salah satu keluarga miskin. Dengan penghasilan sebagai tukang kayu, tentu
sangat sulit bagi Yosef, sang kepala keluarga, mendongkrak penghidupan yang
lebih layak dalam keluarganya. Mereka juga mengetahui semua saudara dan
keseharian Yesus. Apa saja yang dilakukan Yesus mulai dari masa kecil hingga
beranjak dewasa. Dengan demikian, menjadi hal yang tidak masuk akal apabila
Yesus memiliki hikmat yang demikian besar. Sebagai orang yang datang dari
keluarga miskin, Yesus tidak memiliki akses atau kemudahan untuk mendapatkan
pendidikan yang layak pada masa itu.
Kedua, sikap iri hati. Walaupun orang-orang Nazaret mengakui hikmat atau
karunia ajaib yang dimiliki Yesus, tetapi dalam hati muncul rasa iri hati.
Mereka merasa Yesus tidak pantas mendapatkan karunia tersebut. Mereka yang
memiliki latar kehidupan sosial ekonomi yang lebih mapan di kampung itu saja
tidak memiliki hikmat yang demikian besar. Apalagi sosok Yesus yang bukan
siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya. Sikap iri hati ini yang menutup pikiran
dan hati mereka untuk melihat lebih dalam siapa Yesus sebenarnya. Pikiran dan
hati mereka telah dibutakan oleh rasa iri dan dengki. Sehingga yang muncul dari
hati dan pikiran mereka adalah persepsi-persepsi miring yang meragukan
ke-Ilahi-an Yesus.
Dalam kehidupan sebagai makhluk sosial di tengah-tengah masyarakat, kita
pasti pernah mengalami aneka pengalaman yang tidak mengenakan. Mungkin saja
kita pernah dicela, dihina, dianggap tidak pantas/layak oleh karena suatu
tanggung jawab atau tugas yang kita emban. Kita merasa bahwa apa yang kita
lakukan sudah baik, sudah benar dan maksimal. Tetapi ada saja orang yang
melihatnya tidak memberikan nilai yang positif. Kita sudah berupaya sekuat
tenaga untuk memperbaiki celah sekecil apa pun. Namun tidak ada apresiasi.
Bahkan lagi-lagi orang terus mencari-cari kesalahan dan menganggap remeh apa
yang telah kita lakukan. Pengalaman menyakitkan ini membawa kita kepada suatu
kesimpulan bahwa sikap iri hati itu selalu menyata dalam hidup manusia. Sikap
ini bisa menjadi bagian integral dari seorang pribadi yang arogan (sombong).
Seorang pribadi yang merasa diri lebih hebat dan pintar. Sebaliknya, dia selalu
melihat hal yang kurang atau buruk dari orang lain. Walaupun orang sudah
sungguh-sungguh memperlihatkan hal-hal yang baik, tetap saja tidak dianggap. Ia
tetap dipersalahkan dan dianggap tidak layak atau pantas mengemban sebuah
tanggung jawab atau tugas.
Sikap iri hati dalam ajaran iman kristiani merupakan salah satu dari tujuh
dosa pokok. Dikatakan sebagai dosa pokok karena dosa ini menjadi dasar
timbulnya dosa-dosa yang lain. Sikap iri hati menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia merupakan sebuah sikap tidak senang akan kelebihan dan kemampuan yang
dimiliki oleh orang lain. Orang merasa tidak nyaman apabila melihat ada orang
lain memiliki sesuatu. Tidak hanya soal kepemilikan materi, tetapi soal
kemampuan atau kapabilitas dalam bidang tertentu. Dari sikap iri hati bisa
berkembang menjadi sikap amarah, dendam, dan bisa berujung pada tindakan yang
melecehkan martabat pribadi sebagai seorang manusia.
Sebagai orang beriman, kita tidak bisa mengelak dan menghindar dari
kenyataan tentang adanya sikap iri hati yang membaur dalam kehidupan. Dengan
sikap sebagai orang beriman, kita juga harus menghadapi kenyataan-kenyataan
yang tidak membawa nilai kebenaran atau tidak sesuai dengan kehendak Allah
sendiri. Yesus telah memberi inspirasi yang baik agar tidak perlu takut dalam
menyampaikan atau melaksanakan nilai-nilai tertentu yang membawa kebaikan dan
kebenaran dalam hidup. Justru kita semakin berani ketika dianggap “kecil” dan
tidak layak. Semangat kita semakin bernyala-nyala untuk tidak kendor membawa
kebaikan dan kebenaran bagi orang lain.
Dalam memberikan pelayanan kasih kepada siapa saja, kita adalah
representasi dari Diri Tuhan sendiri yang datang untuk membawa kabar gembira
dan misi keselamatan orang lain. Dengan kemampuan dan integritas diri yang kita
miliki, tentu ada orang yang entah secara kelihatan atau tidak, memperlihatkan
sikap iri hati dan antipati kepada kita. Hendaknya kita tetap sabar dan percaya
bahwa Tuhan akan selalu menyertai dan membimbing jalan yang terbaik untuk kita.
Hendaknya kita juga dihindarkan oleh Tuhan agar tidak jatuh juga ke dalam dosa
iri hati. Sebuah dosa yang akan menyeret kita ke dalam cabang dosa-dosa
lainnya.
Hari ini Tuhan memberi inspirasi agar kita mau datang kepada-Nya dengan
sikap rendah hati. Kita mau membuka hati dan pikiran agar lebih mampu menangkap
hikmat dan kemuliaan-Nya dalam menjalani hidup kita sebagai orang beriman.
Terutama kita tetap kuat dalam menghadapi tantangan dari dosa iri hati. Dalam
hikmat dan kemuliaan Tuhan, kita percaya bahwa kita semakin dikuatkan dan
diteguhkan dalam menjalani panggilan dan tugas kita yang berbeda-beda di tengah
dunia. Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar