Selasa, 02 Februari 2021

HIKMAT TUHAN YANG MENGUATKAN

Mrk 6: 1-6

Beberapa rekan dan kenalan mencurahkan isi hatinya kepada saya bahwa mereka lebih suka tinggal dan mengabdi di tempat atau tanah orang lain daripada harus tinggal di kampung sendiri. Alasannya sederhana. Mereka kurang atau tidak mendapat respek dari orang-orang sekampung dimana mereka berasal. Sebaik apa pun hal yang mereka perbuat tetap mendapat nilai minus. Mereka merasa bahwa nilai perjuangan, pengorbanan, dan berbagai nilai positif lainnya, yang mereka lakukan di kampung halamannya, seakan sia-sia saja. Tetap tidak mendapat tempat yang baik di hati orang-orang sekampung mereka. Mirisnya, yang memberikan respon negatif justru datang dari keluarga sendiri. Baik keluarga dari rumpun terdekat maupun rumpun paling jauh.

 

Hari ini, Yesus mengalami pengalaman penolakan yang dialami di kampung halamannya sendiri (Mrk 6:1-6). Banyak orang yang memang takjub dengan aksi pengajaran-Nya. Mereka mengagumi kecerdasan dan wawasan keagamaan yang dimiliki oleh Yesus. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Karena segera berganti dengan rentetan pertanyaan yang menggugat dan meragukan kuasa ilahi yang dimiliki-Nya. Ada dua hal yang melatari sikap ketidakpercayaan dari orang-orang Nazaret. Pertama, orang-orang sekampung Yesus mengetahui latar kehidupan-Nya. Yesus itu lahir dari keluarga tukang kayu yang sangat sederhana. Bahkan boleh dikatakan salah satu keluarga miskin. Dengan penghasilan sebagai tukang kayu, tentu sangat sulit bagi Yosef, sang kepala keluarga, mendongkrak penghidupan yang lebih layak dalam keluarganya. Mereka juga mengetahui semua saudara dan keseharian Yesus. Apa saja yang dilakukan Yesus mulai dari masa kecil hingga beranjak dewasa. Dengan demikian, menjadi hal yang tidak masuk akal apabila Yesus memiliki hikmat yang demikian besar. Sebagai orang yang datang dari keluarga miskin, Yesus tidak memiliki akses atau kemudahan untuk mendapatkan pendidikan yang layak pada masa itu.

 

Kedua, sikap iri hati. Walaupun orang-orang Nazaret mengakui hikmat atau karunia ajaib yang dimiliki Yesus, tetapi dalam hati muncul rasa iri hati. Mereka merasa Yesus tidak pantas mendapatkan karunia tersebut. Mereka yang memiliki latar kehidupan sosial ekonomi yang lebih mapan di kampung itu saja tidak memiliki hikmat yang demikian besar. Apalagi sosok Yesus yang bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya. Sikap iri hati ini yang menutup pikiran dan hati mereka untuk melihat lebih dalam siapa Yesus sebenarnya. Pikiran dan hati mereka telah dibutakan oleh rasa iri dan dengki. Sehingga yang muncul dari hati dan pikiran mereka adalah persepsi-persepsi miring yang meragukan ke-Ilahi-an Yesus.

 

Dalam kehidupan sebagai makhluk sosial di tengah-tengah masyarakat, kita pasti pernah mengalami aneka pengalaman yang tidak mengenakan. Mungkin saja kita pernah dicela, dihina, dianggap tidak pantas/layak oleh karena suatu tanggung jawab atau tugas yang kita emban. Kita merasa bahwa apa yang kita lakukan sudah baik, sudah benar dan maksimal. Tetapi ada saja orang yang melihatnya tidak memberikan nilai yang positif. Kita sudah berupaya sekuat tenaga untuk memperbaiki celah sekecil apa pun. Namun tidak ada apresiasi. Bahkan lagi-lagi orang terus mencari-cari kesalahan dan menganggap remeh apa yang telah kita lakukan. Pengalaman menyakitkan ini membawa kita kepada suatu kesimpulan bahwa sikap iri hati itu selalu menyata dalam hidup manusia. Sikap ini bisa menjadi bagian integral dari seorang pribadi yang arogan (sombong). Seorang pribadi yang merasa diri lebih hebat dan pintar. Sebaliknya, dia selalu melihat hal yang kurang atau buruk dari orang lain. Walaupun orang sudah sungguh-sungguh memperlihatkan hal-hal yang baik, tetap saja tidak dianggap. Ia tetap dipersalahkan dan dianggap tidak layak atau pantas mengemban sebuah tanggung jawab atau tugas.

 

Sikap iri hati dalam ajaran iman kristiani merupakan salah satu dari tujuh dosa pokok. Dikatakan sebagai dosa pokok karena dosa ini menjadi dasar timbulnya dosa-dosa yang lain. Sikap iri hati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan sebuah sikap tidak senang akan kelebihan dan kemampuan yang dimiliki oleh orang lain. Orang merasa tidak nyaman apabila melihat ada orang lain memiliki sesuatu. Tidak hanya soal kepemilikan materi, tetapi soal kemampuan atau kapabilitas dalam bidang tertentu. Dari sikap iri hati bisa berkembang menjadi sikap amarah, dendam, dan bisa berujung pada tindakan yang melecehkan martabat pribadi sebagai seorang manusia.

Sebagai orang beriman, kita tidak bisa mengelak dan menghindar dari kenyataan tentang adanya sikap iri hati yang membaur dalam kehidupan. Dengan sikap sebagai orang beriman, kita juga harus menghadapi kenyataan-kenyataan yang tidak membawa nilai kebenaran atau tidak sesuai dengan kehendak Allah sendiri. Yesus telah memberi inspirasi yang baik agar tidak perlu takut dalam menyampaikan atau melaksanakan nilai-nilai tertentu yang membawa kebaikan dan kebenaran dalam hidup. Justru kita semakin berani ketika dianggap “kecil” dan tidak layak. Semangat kita semakin bernyala-nyala untuk tidak kendor membawa kebaikan dan kebenaran bagi orang lain.

 

Dalam memberikan pelayanan kasih kepada siapa saja, kita adalah representasi dari Diri Tuhan sendiri yang datang untuk membawa kabar gembira dan misi keselamatan orang lain. Dengan kemampuan dan integritas diri yang kita miliki, tentu ada orang yang entah secara kelihatan atau tidak, memperlihatkan sikap iri hati dan antipati kepada kita. Hendaknya kita tetap sabar dan percaya bahwa Tuhan akan selalu menyertai dan membimbing jalan yang terbaik untuk kita. Hendaknya kita juga dihindarkan oleh Tuhan agar tidak jatuh juga ke dalam dosa iri hati. Sebuah dosa yang akan menyeret kita ke dalam cabang dosa-dosa lainnya.

 

Hari ini Tuhan memberi inspirasi agar kita mau datang kepada-Nya dengan sikap rendah hati. Kita mau membuka hati dan pikiran agar lebih mampu menangkap hikmat dan kemuliaan-Nya dalam menjalani hidup kita sebagai orang beriman. Terutama kita tetap kuat dalam menghadapi tantangan dari dosa iri hati. Dalam hikmat dan kemuliaan Tuhan, kita percaya bahwa kita semakin dikuatkan dan diteguhkan dalam menjalani panggilan dan tugas kita yang berbeda-beda di tengah dunia. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar