Selasa, 13 April 2021

MENEMUKAN JALAN TERANG ALLAH

Yoh 3: 16-21

Eforia kedatangan Jokowi di dua Kabupaten yakni Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata masih terasa aromanya hingga saat ini. Begitu banyak orang dan dari berbagai kalangan terus mempercakapkan sosok kharismatik orang nomor satu di Negara Kesatuan Republik Indonesia tersebut. Tidak hanya dalam percakapan langsung tetapi melalui platform media sosial (FB, twitter, dan lainnya) kita menyaksikan secara terang benderang kesaksian yang baik dari banyak pihak tentang presiden Jokowi yang membawa banyak kebaikan untuk semua orang, terkhusus dua wilayah yang terdampak bencana paling parah; Adonara dan Lembata.

 

Jokowi sudah terlanjur menjadi simbol kebaikan bagi masyarakat di provinsi Nusa Tenggara Timur. Bahkan menjadi simbol terang. Tidak berlebihan saya mengatakan demikian. Sudah kesekian kalinya Presiden Jokowi mengunjungi masyarakat NTT. Tentu tidak sekedar kunjungan biasa. Karena cintanya yang besar untuk masyarakat NTT, Jokowi memberikan porsi kue pembangunan yang besar. Misalnya dengan membangun infrastruktur dan sarana prasarana lainnya di berbagai bidang kehidupan. Teranyar, Jokowi memberi cinta dan perhatian dengan berkunjung ke daerah yang terkena dampak bencana banjir bandang dan longsor. Kedatangan Presiden Jokowi memberi angin segar bagi percepatan penanganan wilayah pasca bencana dari sisi pangan, sandang, dan perumahan. Lebih dari itu, kehadirannya menyembuhkan luka batin bagi masyarakat yang kehilangan anggota keluarga dan sanak saudaranya. Oleh karena itu, tidak salah kalau kita mengatakan bahwa Jokowi adalah bapak penuh kasih dan pembawa terang untuk masyarakat NTT.

 

Percakapan antara Yesus dan Nikodemus dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-21), mengusung tiga point utama tentang hakikat Allah. Pertama, Allah adalah kasih. Spirit kasih itu asalnya dari Allah sendiri. Allah bagi manusia adalah Allah yang agung dan absolut. Allah yang tidak bisa dilihat, tidak bisa diganggugugat dan tidak bisa diintervensi. Namun hal demikian tidak membatasi Allah untuk menyatakan keprihatinan dan perhatian-Nya bagi manusia. Bukti konkrit yang paling agung dari kasih Allah adalah Ia mengutus Putera-Nya yang Tunggal untuk turun ke bumi membawa misi penyelamatan bagi umat manusia. Karena semangat kasih Allah itu pula, Putera Allah rela menderita dan wafat di kayu salib demi memulihkan kembali hubungan luhur antara Allah dan umat manusia.

 

Kedua, Allah membawa penghakiman. Sekilas kata penghakiman bertentangan dengan wajah kasih Allah. Tetapi paradoks Allah maha kasih yang membawa penghakiman tidak serta merta menggambarkan wajah sangar dan beringas Allah terhadap umat manusia. Justru sebaliknya kehadiran Allah membawa keselamatan bagi umat manusia yang percaya. Yang belum / tidak percaya akan mendapat penghakiman oleh karena kekerasan pikiran dan hati mereka. Allah dalam diri Yesus tidak memainkan peran sebagai hakim yang mengadili umat manusia yang bersalah. Proses penghakiman itu justru terjadi dalam diri manusia oleh karena ulah atau perbuatan manusia yang tidak mau mendengarkan dan percaya kepada Allah.

 

Ketiga, Allah membawa terang. Terang adalah perwujudan dari kasih Allah terhadap umat manusia. Karena kasih Allah yang dasyat telah melahirkan terang bagi seluruh umat manusia. Terang itu menuntun manusia supaya berjalan dalam kebaikan dan menghindarkan dirinya untuk menyimpang ke jalan kegelapan yang tidak ada cahaya terangnya. Terang itu sebagai pemandu supaya manusia tetap memancarkan wajah kasih Allah. Terang itu membawa manusia kepada keselamatan. Dan tidak menjerumuskan manusia ke dalam penghakiman yang tidak menyelamatkan. Karena Allah adalah terang maka sudah menjadi pilihan bebas bagi kita untuk berjalan dalam terang Allah itu.

 

Nikodemus seorang pemimpin agama Yahudi sekaligus seorang guru besar yang sangat dihormati telah menemukan tanda yang mempresentasikan spirit kasih dan terang dalam diri Yesus. Melalui percakapan di malam hari yang begitu alot dan intensif, secara perlahan namun pasti, Nikodemus semakin paham dan yakin bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Putera Allah yang hidup. Yesus adalah Allah yang membawa kebaikan, penghakiman, dan terang yang nyata bagi umat manusia. Tidak ada harapan yang menjadi harapan kosong di mata Allah. Semuanya terlaksana dengan baik dan sempurna, walaupun manusia belum sempurna memahami dan mau mengikutinya. Nikodemus menjadi cerminan bagi orang-orang yang sebelumnya berjalan dalam kegelapan, telah menemukan sumber terang yang luar biasa dalam diri Yesus. Terang itu yang kemudian membawa Nikodemus menjadi pewarta Injil di tengah-tengah komunitas umat Israel.

 

Pengalaman Nikodemus sesungguhnya menjadi pengalaman kita sebagai orang Kristen. Acapkali kita memperlihatkan jati diri yang masih berjalan dalam kegelapan duniawi. Kita belum secara total dan tulus membawa spirit kasih dalam kehidupan sehari-hari. Kita masih sibuk mementingkan ego, status, wibawa, dan pamor pribadi. Banyak orang Kristen yang suka membully, menghina, merendahkan dan bahkan membunuh sesamanya. Coba perhatikan jagat media sosial seperti FB (Face Book). Banyak sekalih sajian atau konten dimana orang saling mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, kata-kata hinaan dan cemoohan. Secara fisik orang yang menjadi korban masih hidup, tetapi secara psikis atau mental, ia telah dibunuh berulang kali. Ini hanya segelintir contoh yang mendemonstrasikan perendahan nilai-nilai kasih yang justru dilakukan oleh orang Kristen sendiri.

 

Seperti Nikodemus yang menemukan terang Allah dalam diri Yesus, hendaknya kita juga mulai meniti jalan untuk menemukan jalan terang yang telah ditunjukkan oleh sang juru terang Yesus Kristus. Sesungguhnya melalui terang itu ada nilai kasih yang semestinya kita perjuangkan dan kobarkan dalam pengalaman hidup sehari-hari. Semangat terang dalam paskah Tuhan tentu tetap bernyala dalam diri, walaupun dalam situasi pandemi covid-19 yang belum berakhir dan suasana duka yang menyelimuti saudara/i kita yang terkena dampak bencana banjir dan longsor.

 

Inilah moment yang tepat bagi kita untuk memancarkan wajah Allah yang penuh kasih kepada siapa saja yang membutuhkan uluran tangan kita. Terutama bagi saudara/i kita yang terkena dampak bencana. Bantuan sekecil apa pun tentu sangat berarti bagi mereka. Lewat media sosial pun, bantuan itu bisa diberikan dengan cara menulis kata-kata motivasi, hiburan dan dukungan yang baik. Pada pokoknya, nilai kasih dan terang itu bisa terlaksana dalam berbagai wujud; mulai dari yang paling sederhana sampai ke wujud yang paling besar. Semoga kita mampu berdialog secara lebih intim lagi dengan Tuhan, agar kita bisa menemukan terang-Nya yang membawa spirit kasih bagi semua orang. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar