Yoh 3: 16-21
Eforia kedatangan Jokowi di dua Kabupaten yakni Kabupaten Flores Timur dan
Kabupaten Lembata masih terasa aromanya hingga saat ini. Begitu banyak orang
dan dari berbagai kalangan terus mempercakapkan sosok kharismatik orang nomor
satu di Negara Kesatuan Republik Indonesia tersebut. Tidak hanya dalam
percakapan langsung tetapi melalui platform media sosial (FB, twitter, dan
lainnya) kita menyaksikan secara terang benderang kesaksian yang baik dari
banyak pihak tentang presiden Jokowi yang membawa banyak kebaikan untuk semua
orang, terkhusus dua wilayah yang terdampak bencana paling parah; Adonara dan
Lembata.
Jokowi sudah terlanjur menjadi simbol kebaikan bagi masyarakat di provinsi
Nusa Tenggara Timur. Bahkan menjadi simbol terang. Tidak berlebihan saya
mengatakan demikian. Sudah kesekian kalinya Presiden Jokowi mengunjungi
masyarakat NTT. Tentu tidak sekedar kunjungan biasa. Karena cintanya yang besar
untuk masyarakat NTT, Jokowi memberikan porsi kue pembangunan yang besar.
Misalnya dengan membangun infrastruktur dan sarana prasarana lainnya di
berbagai bidang kehidupan. Teranyar, Jokowi memberi cinta dan perhatian dengan
berkunjung ke daerah yang terkena dampak bencana banjir bandang dan longsor.
Kedatangan Presiden Jokowi memberi angin segar bagi percepatan penanganan
wilayah pasca bencana dari sisi pangan, sandang, dan perumahan. Lebih dari itu,
kehadirannya menyembuhkan luka batin bagi masyarakat yang kehilangan anggota
keluarga dan sanak saudaranya. Oleh karena itu, tidak salah kalau kita
mengatakan bahwa Jokowi adalah bapak penuh kasih dan pembawa terang untuk
masyarakat NTT.
Percakapan antara Yesus dan Nikodemus dalam bacaan Injil hari ini (Yoh
3:16-21), mengusung tiga point utama tentang hakikat Allah. Pertama, Allah
adalah kasih. Spirit kasih itu asalnya dari Allah sendiri. Allah bagi manusia
adalah Allah yang agung dan absolut. Allah yang tidak bisa dilihat, tidak bisa
diganggugugat dan tidak bisa diintervensi. Namun hal demikian tidak membatasi
Allah untuk menyatakan keprihatinan dan perhatian-Nya bagi manusia. Bukti
konkrit yang paling agung dari kasih Allah adalah Ia mengutus Putera-Nya yang
Tunggal untuk turun ke bumi membawa misi penyelamatan bagi umat manusia. Karena
semangat kasih Allah itu pula, Putera Allah rela menderita dan wafat di kayu
salib demi memulihkan kembali hubungan luhur antara Allah dan umat manusia.
Kedua, Allah membawa penghakiman. Sekilas kata penghakiman bertentangan
dengan wajah kasih Allah. Tetapi paradoks Allah maha kasih yang membawa
penghakiman tidak serta merta menggambarkan wajah sangar dan beringas Allah
terhadap umat manusia. Justru sebaliknya kehadiran Allah membawa keselamatan
bagi umat manusia yang percaya. Yang belum / tidak percaya akan mendapat
penghakiman oleh karena kekerasan pikiran dan hati mereka. Allah dalam diri
Yesus tidak memainkan peran sebagai hakim yang mengadili umat manusia yang
bersalah. Proses penghakiman itu justru terjadi dalam diri manusia oleh karena
ulah atau perbuatan manusia yang tidak mau mendengarkan dan percaya kepada
Allah.
Ketiga, Allah membawa terang. Terang adalah perwujudan dari kasih Allah
terhadap umat manusia. Karena kasih Allah yang dasyat telah melahirkan terang
bagi seluruh umat manusia. Terang itu menuntun manusia supaya berjalan dalam
kebaikan dan menghindarkan dirinya untuk menyimpang ke jalan kegelapan yang
tidak ada cahaya terangnya. Terang itu sebagai pemandu supaya manusia tetap
memancarkan wajah kasih Allah. Terang itu membawa manusia kepada keselamatan.
Dan tidak menjerumuskan manusia ke dalam penghakiman yang tidak menyelamatkan.
Karena Allah adalah terang maka sudah menjadi pilihan bebas bagi kita untuk
berjalan dalam terang Allah itu.
Nikodemus seorang pemimpin agama Yahudi sekaligus seorang guru besar yang
sangat dihormati telah menemukan tanda yang mempresentasikan spirit kasih dan
terang dalam diri Yesus. Melalui percakapan di malam hari yang begitu alot dan
intensif, secara perlahan namun pasti, Nikodemus semakin paham dan yakin bahwa
Yesus adalah sungguh-sungguh Putera Allah yang hidup. Yesus adalah Allah yang
membawa kebaikan, penghakiman, dan terang yang nyata bagi umat manusia. Tidak
ada harapan yang menjadi harapan kosong di mata Allah. Semuanya terlaksana
dengan baik dan sempurna, walaupun manusia belum sempurna memahami dan mau
mengikutinya. Nikodemus menjadi cerminan bagi orang-orang yang sebelumnya
berjalan dalam kegelapan, telah menemukan sumber terang yang luar biasa dalam
diri Yesus. Terang itu yang kemudian membawa Nikodemus menjadi pewarta Injil di
tengah-tengah komunitas umat Israel.
Pengalaman Nikodemus sesungguhnya menjadi pengalaman kita sebagai orang
Kristen. Acapkali kita memperlihatkan jati diri yang masih berjalan dalam
kegelapan duniawi. Kita belum secara total dan tulus membawa spirit kasih dalam
kehidupan sehari-hari. Kita masih sibuk mementingkan ego, status, wibawa, dan
pamor pribadi. Banyak orang Kristen yang suka membully, menghina, merendahkan
dan bahkan membunuh sesamanya. Coba perhatikan jagat media sosial seperti FB
(Face Book). Banyak sekalih sajian atau konten dimana orang saling mengucapkan
kata-kata yang tidak pantas, kata-kata hinaan dan cemoohan. Secara fisik orang
yang menjadi korban masih hidup, tetapi secara psikis atau mental, ia telah
dibunuh berulang kali. Ini hanya segelintir contoh yang mendemonstrasikan
perendahan nilai-nilai kasih yang justru dilakukan oleh orang Kristen sendiri.
Seperti Nikodemus yang menemukan terang Allah dalam diri Yesus, hendaknya
kita juga mulai meniti jalan untuk menemukan jalan terang yang telah
ditunjukkan oleh sang juru terang Yesus Kristus. Sesungguhnya melalui terang
itu ada nilai kasih yang semestinya kita perjuangkan dan kobarkan dalam
pengalaman hidup sehari-hari. Semangat terang dalam paskah Tuhan tentu tetap
bernyala dalam diri, walaupun dalam situasi pandemi covid-19 yang belum
berakhir dan suasana duka yang menyelimuti saudara/i kita yang terkena dampak
bencana banjir dan longsor.
Inilah moment yang tepat bagi kita untuk memancarkan wajah Allah yang penuh
kasih kepada siapa saja yang membutuhkan uluran tangan kita. Terutama bagi
saudara/i kita yang terkena dampak bencana. Bantuan sekecil apa pun tentu
sangat berarti bagi mereka. Lewat media sosial pun, bantuan itu bisa diberikan
dengan cara menulis kata-kata motivasi, hiburan dan dukungan yang baik. Pada
pokoknya, nilai kasih dan terang itu bisa terlaksana dalam berbagai wujud;
mulai dari yang paling sederhana sampai ke wujud yang paling besar. Semoga kita
mampu berdialog secara lebih intim lagi dengan Tuhan, agar kita bisa menemukan
terang-Nya yang membawa spirit kasih bagi semua orang. ***Atanasius KD
Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar