Yoh 10:1-10
Pintu rumah sebagai akses masuk dan keluar bagi para penghuni atau anggota
keluarga memainkan peran sangat sentral. Pintu belum lengkap disebut sebagai pintu
apabila tidak memiliki dua komponen utama yakni daun pintu dan kuncinya. Dua
komponen utama ini harus ada pada sebuah pintu rumah. Kalau pintu tidak
memiliki daun pintu dan kuncinya, pasti tidak memberi rasa aman dan nyaman bagi
para penghuninya. Oleh karena itu pintu yang baik harus memiliki daun pintu
sekaligus kuncinya sehingga dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi para
penghuninya. Dengan adanya pintu rumah yang baik, penghuni rumah tidak perlu
kuatir ketika sedang tidur atau berada di luar rumah. Pintu rumah adalah simbol
keamanan dan kenyamanan bagi setiap anggota keluarga yang mendiami sebuah
rumah.
Dalam bacaan hari ini (Yoh 10:1-10), Yesus memperkenalkan Diri-Nya sebagai
sebuah pintu yang baik. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan
selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput” (Yoh 10:9).
Berkenaan dengan analogi Diri-Nya sebagai sebuah pintu, Yesus menegaskan bahwa
hanya seorang gembala yang dapat masuk melalui pintu untuk menemui kawanan
dombanya dalam kandang. Sekali lagi, Yesus menggunakan dua kata simbolik yakni
gembala dan domba. Dua kata ini dipilih karena gembala merupakan jenis
pekerjaan yang sangat familiar bagi umat Israel pada masa itu. Sedangkan hewan
domba menjadi binatang yang jamak dipelihara oleh umat Israel. Yesus sengaja
memunculkan kata-kata tersebut untuk menarik minat para pendengar untuk
mendengarkan dan memahami dengan mudah apa yang disampaikan-Nya.
Sebagai gembala yang baik, ia harus masuk melalui pintu, menemui para domba
dan memanggil mereka sesuai dengan nama mereka masing-masing. Selanjutnya, ia
menuntun kawanan dombanya keluar melalui pintu yang sama untuk pergi mencari
makan di rumput yang hijau. Di lain pihak, para kawanan domba pasti mengenal
sang gembala dari suara, bau badannya, dan caranya memperlakukan mereka.
Sehingga mereka tidak ragu untuk mengikutinya dari belakang, karena ia akan
menuntun mereka ke tempat yang baik. Bagaimana orang-orang yang masuk tidak
melalui pintu? Tentu saja mereka bukan termasuk gembala yang baik. Mereka
adalah gembala palsu. Mereka memiliki niat dan tujuan yang tidak baik (jahat)
terhadap kawanan domba yang ada di dalam kandang.
Kalau kita memperhatikan dengan cermat, selain sebagai pintu yang baik,
Yesus mengafirmasi Diri-Nya sebagai seorang Gembala yang baik. Dan umat manusia
adalah para kawanan domba yang sementara “dijaga dan dipelihara” oleh Yesus.
Hanya umat manusia yang mau mendengarkan, percaya dan mengikuti jalan-Nya yang
akan mendapatkan keselamatan. Yesus juga mewanti-wanti munculnya para gembala
palsu yang akan merenggut kawanan domba dari tangan-Nya. Para gembala palsu
adalah orang-orang yang licik dan jahat. Mereka akan membelokkan pikiran dan
hati banyak orang agar bersikap tidak setia kepada Allah.
Realitas telah menunjukkan bahwa banyak orang Israel yang bersikap tidak
setia dan tidak percaya kepada Allah. Bahkan dengan kehadiran Yesus, Anak
Allah, yang datang menyatakan diri sebagai gembala yang baik pun tidak diterima
oleh orang Israel sendiri. Dengan tegas mereka menolak Yesus sebagai Gembala.
Mereka hanya mengikuti kemauan dan kehendak para gembala palsu yang semakin
membawa mereka ke jurang kesesatan dan kehancuran. Gembala palsu yang dimaksud
Yesus adalah pihak otoritas bangsa Romawi dan para elit agama bangsa Yahudi.
Seharusnya dalam situasi batin umat yang lagi mengalami tekanan dari bangsa
penjajah Romawi, kehadiran para elit agama dapat menjadi penyeimbang untuk
memberi dukungan dan penguatan. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Umat
semakin merasa tertekan dan tertindas karena mereka hanya dijadikan alat oleh
para pemimpin agama untuk meraih keuntungan secara ekonomi dan sosial.
Situasi tidak adil yang diciptakan oleh para elit agama inilah yang membuat
Yesus melabeli mereka sebagai golongan pencuri dan perampok. “Sesungguhnya
siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi
dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok” (Yoh
10:1). Untuk melawan penindasan dan membawa kembali para kawanan domba (umat
yang telah tersesat), Yesus harus menyatakan Diri-Nya sebagai pintu dan domba
yang membawa orang kepada kebaikan dan keselamatan. Setiap orang harus percaya
dan mengikuti jalan kebaikan dan keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus sebagai
pintu dan gembala yang baik.
Masa kini, di tengah melesatnya kemajuan teknologi informasi yang ditandai
dengan munculnya berbagai platform media sosial (FB, Youtube, twitter, blog,
dan sebagainya), ternyata di lain sisi tidak diimbangi oleh daya kritis,
ketahanan mental dan spiritual yang baik dari orang-orang beragama, terutama
umat Kristen yang bergelut di dalamnya. Kita gampang terpengaruh dan terseret
dengan berita-berita hoax atau berita tidak benar yang mengancam keutuhan rasa
persaudaraan dan solidaritas kita sebagai sesama umat manusia. Tidak hanya itu,
kita juga bahkan menjadi pelaku yang semakin memprovokasi dan membakar suasana
sehingga tidak jarang terjadi konflik yang berseliweran dalam media sosial
online yang kita miliki. Orang gampang memaki, menghina, mengancam dan mengeluarkan
kata-kata tidak pantas dan tidak etis terhadap sesamanya dalam media online.
Media online sudah menjadi medan perang yang tidak bisa dielakkan lagi. Di
dalamnya, orang saling membunuh dan
tidak menghargai orang lain sebagai sesama citra Allah yang kudus.
Kenyataan hidup inilah yang melunturkan jati diri kita sebagai kawanan
domba yang setia kepada Allah. Kita lebih patuh mendengarkan suara gembala yang
palsu daripada suara Allah sebagai Gembala agung. Para gembala palsu telah
berhasil mempengaruhi dan menyeret kita ke dalam permainan yang jahat dan
sesat. Kita pun telah terperangkap menjadi domba-domba sesat yang tidak
mengenali mana gembala yang asli dan palsu.
Allah melalui Yesus yang kita imani, sudah menyata sebagai pintu dan
gembala yang membawa kebaikan dan keselamatan dalam hidup kita. Mari kita
menyadari diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan paling mulia dengan saling
mendukung dan meneguhkan satu sama lewat kata-kata dan perbuatan. Media online
hendaknya menjadi corong kebaikan yang membawa cinta dan perhatian bagi siapa
saja dan dimana saja mereka berada. Dengan meneladan Yesus sebagai pembawa
kebaikan dan keselamatan, kita pun telah mengambil bagian menjadi pintu dan
gembala-gembala kecil bagi sesama manusia. Semoga melalui refleksi sederhana ini
dapat menghantar kita untuk semakin mengenali dan memahami Yesus sebagai Pintu
keselamatan dan Gembala yang menghantar kita kepada segala kebaikan. Amin.
***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar