Minggu, 25 April 2021

YESUS SEBAGAI PINTU DAN GEMBALA KESELAMATAN

Yoh 10:1-10

Pintu rumah sebagai akses masuk dan keluar bagi para penghuni atau anggota keluarga memainkan peran sangat sentral. Pintu belum lengkap disebut sebagai pintu apabila tidak memiliki dua komponen utama yakni daun pintu dan kuncinya. Dua komponen utama ini harus ada pada sebuah pintu rumah. Kalau pintu tidak memiliki daun pintu dan kuncinya, pasti tidak memberi rasa aman dan nyaman bagi para penghuninya. Oleh karena itu pintu yang baik harus memiliki daun pintu sekaligus kuncinya sehingga dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi para penghuninya. Dengan adanya pintu rumah yang baik, penghuni rumah tidak perlu kuatir ketika sedang tidur atau berada di luar rumah. Pintu rumah adalah simbol keamanan dan kenyamanan bagi setiap anggota keluarga yang mendiami sebuah rumah.

 

Dalam bacaan hari ini (Yoh 10:1-10), Yesus memperkenalkan Diri-Nya sebagai sebuah pintu yang baik. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput” (Yoh 10:9). Berkenaan dengan analogi Diri-Nya sebagai sebuah pintu, Yesus menegaskan bahwa hanya seorang gembala yang dapat masuk melalui pintu untuk menemui kawanan dombanya dalam kandang. Sekali lagi, Yesus menggunakan dua kata simbolik yakni gembala dan domba. Dua kata ini dipilih karena gembala merupakan jenis pekerjaan yang sangat familiar bagi umat Israel pada masa itu. Sedangkan hewan domba menjadi binatang yang jamak dipelihara oleh umat Israel. Yesus sengaja memunculkan kata-kata tersebut untuk menarik minat para pendengar untuk mendengarkan dan memahami dengan mudah apa yang disampaikan-Nya.

 

Sebagai gembala yang baik, ia harus masuk melalui pintu, menemui para domba dan memanggil mereka sesuai dengan nama mereka masing-masing. Selanjutnya, ia menuntun kawanan dombanya keluar melalui pintu yang sama untuk pergi mencari makan di rumput yang hijau. Di lain pihak, para kawanan domba pasti mengenal sang gembala dari suara, bau badannya, dan caranya memperlakukan mereka. Sehingga mereka tidak ragu untuk mengikutinya dari belakang, karena ia akan menuntun mereka ke tempat yang baik. Bagaimana orang-orang yang masuk tidak melalui pintu? Tentu saja mereka bukan termasuk gembala yang baik. Mereka adalah gembala palsu. Mereka memiliki niat dan tujuan yang tidak baik (jahat) terhadap kawanan domba yang ada di dalam kandang.

 

Kalau kita memperhatikan dengan cermat, selain sebagai pintu yang baik, Yesus mengafirmasi Diri-Nya sebagai seorang Gembala yang baik. Dan umat manusia adalah para kawanan domba yang sementara “dijaga dan dipelihara” oleh Yesus. Hanya umat manusia yang mau mendengarkan, percaya dan mengikuti jalan-Nya yang akan mendapatkan keselamatan. Yesus juga mewanti-wanti munculnya para gembala palsu yang akan merenggut kawanan domba dari tangan-Nya. Para gembala palsu adalah orang-orang yang licik dan jahat. Mereka akan membelokkan pikiran dan hati banyak orang agar bersikap tidak setia kepada Allah.

 

Realitas telah menunjukkan bahwa banyak orang Israel yang bersikap tidak setia dan tidak percaya kepada Allah. Bahkan dengan kehadiran Yesus, Anak Allah, yang datang menyatakan diri sebagai gembala yang baik pun tidak diterima oleh orang Israel sendiri. Dengan tegas mereka menolak Yesus sebagai Gembala. Mereka hanya mengikuti kemauan dan kehendak para gembala palsu yang semakin membawa mereka ke jurang kesesatan dan kehancuran. Gembala palsu yang dimaksud Yesus adalah pihak otoritas bangsa Romawi dan para elit agama bangsa Yahudi. Seharusnya dalam situasi batin umat yang lagi mengalami tekanan dari bangsa penjajah Romawi, kehadiran para elit agama dapat menjadi penyeimbang untuk memberi dukungan dan penguatan. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Umat semakin merasa tertekan dan tertindas karena mereka hanya dijadikan alat oleh para pemimpin agama untuk meraih keuntungan secara ekonomi dan sosial.

 

Situasi tidak adil yang diciptakan oleh para elit agama inilah yang membuat Yesus melabeli mereka sebagai golongan pencuri dan perampok. “Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok” (Yoh 10:1). Untuk melawan penindasan dan membawa kembali para kawanan domba (umat yang telah tersesat), Yesus harus menyatakan Diri-Nya sebagai pintu dan domba yang membawa orang kepada kebaikan dan keselamatan. Setiap orang harus percaya dan mengikuti jalan kebaikan dan keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus sebagai pintu dan gembala yang baik.

 

Masa kini, di tengah melesatnya kemajuan teknologi informasi yang ditandai dengan munculnya berbagai platform media sosial (FB, Youtube, twitter, blog, dan sebagainya), ternyata di lain sisi tidak diimbangi oleh daya kritis, ketahanan mental dan spiritual yang baik dari orang-orang beragama, terutama umat Kristen yang bergelut di dalamnya. Kita gampang terpengaruh dan terseret dengan berita-berita hoax atau berita tidak benar yang mengancam keutuhan rasa persaudaraan dan solidaritas kita sebagai sesama umat manusia. Tidak hanya itu, kita juga bahkan menjadi pelaku yang semakin memprovokasi dan membakar suasana sehingga tidak jarang terjadi konflik yang berseliweran dalam media sosial online yang kita miliki. Orang gampang memaki, menghina, mengancam dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas dan tidak etis terhadap sesamanya dalam media online. Media online sudah menjadi medan perang yang tidak bisa dielakkan lagi. Di dalamnya, orang saling membunuh dan  tidak menghargai orang lain sebagai sesama citra Allah yang kudus.

 

Kenyataan hidup inilah yang melunturkan jati diri kita sebagai kawanan domba yang setia kepada Allah. Kita lebih patuh mendengarkan suara gembala yang palsu daripada suara Allah sebagai Gembala agung. Para gembala palsu telah berhasil mempengaruhi dan menyeret kita ke dalam permainan yang jahat dan sesat. Kita pun telah terperangkap menjadi domba-domba sesat yang tidak mengenali mana gembala yang asli dan palsu.

 

Allah melalui Yesus yang kita imani, sudah menyata sebagai pintu dan gembala yang membawa kebaikan dan keselamatan dalam hidup kita. Mari kita menyadari diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan paling mulia dengan saling mendukung dan meneguhkan satu sama lewat kata-kata dan perbuatan. Media online hendaknya menjadi corong kebaikan yang membawa cinta dan perhatian bagi siapa saja dan dimana saja mereka berada. Dengan meneladan Yesus sebagai pembawa kebaikan dan keselamatan, kita pun telah mengambil bagian menjadi pintu dan gembala-gembala kecil bagi sesama manusia. Semoga melalui refleksi sederhana ini dapat menghantar kita untuk semakin mengenali dan memahami Yesus sebagai Pintu keselamatan dan Gembala yang menghantar kita kepada segala kebaikan. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar