Minggu, 19 Juli 2020

RAPAT EVALUASI KEGIATAN IBADAH MASA PENDEMI COVID-19

RAPAT EVALUASI KEGIATAN IBADAH MASA PENDEMI COVID-19


Bertempat di ruang Urusan Agama Katolik, Kantor Kementerian Agama Kab. Lembata, hari Kamis (17/7/2020) diadakan rapat evaluasi. Kegiatan evaluasi kerja ini dihadari oleh Kepala Seksi Urusan Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Lembata, Laurensius Leuweheq, empat orang penyuluh agama Katolik PNS, dua orang pegawai PNS dan satu orang Pegawai PTT.

Rapat evaluasi ini dimoderatori oleh salah seorang penyuluh agama Katolik, Apolonius Ado Atawuwur, S.Fil, M.Th.  “Pertemuan kita kali ini adalah rapat evaluasi berkenaan dengan laporan perjalanan dinas yang telah kita lakukan ke paroki-paroki”, demikian sapaan awal dari moderator, Apol Ado, sapaan akrab dari Apolonius Ado Atawuwur.

Ada tiga poin utama pertemuan, yakni pertama terkait koodinasi layanan ibadat agama Katolik yang dilakukan selama masa pandemi sampai memasuki era new normal. Kedua, konsultasi layanan penyuluh non PNS pada masa pendemik Covid-19. Dan ketiga koordinasi terkait laporan penyuluh agama Katolik non PNS dari setiap paroki.  

Setelah menyampaikan tiga agenda utama pertemuan tersebut, Apol Ado mempersilahkan kepada para peserta untuk memberikan laporan perjalanan dinas dengan merujuk pada tiga poin agenda di atas.

Kepala Seksi Urakat (Urusan Agama Katolik), Laurensius Leuweheq, S.Ag mendapat kesempatan pertama untuk menyampaikan laporan perjalanan dinas. Dalam laporannya, Kepala Seksi Urakat mengatakan bahwa ia melakukan kunjungan ke dua paroki, yakni Paroki St. Wilhelmus Lodoblolong dan Paroki St. Laurensius Hadakewa.

Terkait dengan pelaksanan ibadah selama masa pendemi Covid-19, beliau mengatakan bahwa dua paroki ini tetap melaksanakan ibadah di gereja tanpa kehadiran umat. Yang berada di gereja hanya imam dan petugas liturgi. Umat mengikuti proses kegiatan ibadah dari rumah masing-masing dengan jasa alat pengeras suara (toa).

Khusus untuk  Paroki Laurentius Hadakewa,  ada dua stasi yang menggunakan wahana live streaming yakni stasi pusat St. Laurensius Hadakewa dan Stasi St. Stefanus Martir Tanatreket. Sedangkan beberapa stasi yang lain tetap memakai pengeras suara.

Untuk pelaksanaan ibadah menjelang masa new normal, Pak Lorens menandaskan bahwa pada prinsipnya kedua paroki sudah siap melaksanakannya akan tetapi masih menunggu surat keputusan dari Bapa Uskup Keuskupan Larantuka.

Lorens Leuweheq juga menggambarkan keterlibatan para penyuluh agama Katolik non PNS dalam mendukung pelaksanaan ibadah selama masa pendemi. Mereka bertugas menyusun teks ibadah dan membawakannya pada saat pelaksanaan ibadah. Ada juga penyuluh agama yang proaktif menjadi relawan gugus tugas Covid-19 di stasinya.

Ketika disinggung mengenai bentuk pelaporan kegiatan penyuluhan dan bimbingan selama masa pendemi, Lorens menegaskan bahwa para penyuluh agama Katolik dari kedua paroki sudah siap menyesuaikan bentuk pelaporan mereka dengan format yang diturunkan dari pihak Kementerian Agama Kab. Lembata.

Pada kesempatan kedua, Apol Ado memberikan waktu kepada Claudya Namang untuk menyampaikan laporan perjalanan dinasnya. “Saya mengunjungi dua paroki yakni Paroki St. Bernardus Abas Tokojaeng dan Sta. Maria Bintang Lau Waipukang”, kata Dian, panggilan  Claudia Emilia Gelu Namang. Menurut Dian, selama masa Pandemi Covid-19, pelaksanaan ibadah di dua paroki ini tetap dilaksanakan. Namun ada perbedaan. Untuk Paroki St. Bernardus Abas Tokojaeng, ibadah tetap melibatkan umat dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan seperti jumlah dibatasi, penggunaan masker dan menjaga jarak.  Selain itu, pengeras suara (toa) tetap dipakai agar umat yang lain dapat mengikuti pelaksanaan ibadah dari rumah mereka masing-masing.

Sedangkan di Paroki Sta. Maria Bintang Laut Waipukang, pelaksanaan ibadah dengan menggunakan metode live streaming yang dilaksanakan dari pusat paroki.

Tentang keterlibatan para penyuluh agama non PNS, lanjut Dian, hanya penyuluh dari Paroki St. Bernardus Abas yang terlibat aktif membantu proses persiapan dan pelaksanaan ibadah. Sedangkan para penyuluh agama dari Paroki Sta. Maria Bintang Laut Waipukang hanya membantu kegiatan administrasi di paroki.

Selanjutnya, Apol Ado memberikan kesempatan kepada ASN yang melakukan perjalanan dinas ke paroki Sta. Maria Ratu Damai Mingar dan St. Yosef Boto untuk menyampaikan laporannya. Apol sendiri pada kesempatan pertama menyampaikan laporan perjalanan dinasnya ke Paroki Sta. Maria Ratu Damai Mingar.

Menurut Apol, umat Paroki Sta. Maria Ratu Damai sangat ketat menjalankan aturan protokoler kesehatan. Umat tetap mengikuti pelaksanaan ibadah dari rumah masing-masing. Pengeras suara (toa) masih menjadi andalan utama, walaupun sering macet dan harus diganti dengan alat yang baru.

Untuk persiapan menjelang new normal, Apol menjelaskan bahwa pihak paroki sudah melakukan pertemuan dan mensosialikasikan aturan protokoler yang diturunkan pemerintah daerah, akan tetapi pelaksanaan ibadah masih menunggu surat keputusan dari Bapa Uskup Larantuka.

Tentang aktivitas penyuluh agama Katolik non PNS selama masa pandemi Covid-19, dikatakan,  mereka tetap melakukan kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama kepada kelompok sasaran (Sekami dan Sekar) dengan jumlah yang sangat terbatas.

Mengenai bentuk laporan kegiatan selama masa Pandemi Covid-19, para penyuluh agama Katolik non PNS masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan laporan mereka sesuai dengan format kegiatan selama masa pendemi.

Untuk pelaksanaan kegiatan ibadah selama masa pandemi di Paroki St. Yosef Boto, tidak jauh berbeda dengan Paroki Sta. Maria Ratu Damai Mingar, demikian digambarkan oleh Atanasius Dewantor yang bertugas ke paroki tersebut. Umat tetap mengikuti ibadah dari rumah masing-masing dengan jasa alat pengeras suara yang dipancarkan dari gereja. Hanya kendala yang dialami adalah pengeras suara sering mengalami keonaran.

Wanto, sapaan Atanasius Dewantoro, melanjutkan bahwa tantangan lain yang terjadi adalah ada umat yang tidak merasa fokus selama ibadah karena situasi di sekitarnya tidak kondusif (ada suara bising).

Untuk menyambut pelaksanaan ibadah di masa new normal, Wanto mengatakan bahwa pihak paroki masih menunggu instruksi terbaru dari Bapa Uskup Larantuka.

Wanto kemudian menjelaskan peran penyuluh agama Katolik non PNS yang sangat aktif selama masa pandemi di tempat tugasnya masing-masing.  Ada penyuluh yang menggantikan peran imam membawakan kotbah di stasi-stasi. Ada juga penyuluh yang bisa menyusun naskah sekaligus membawakannya pada saat pelaksanaan ibadah.  Penyuluh yang lain aktif melakukan konsultasi individu dari rumah ke rumah.

Para penyuluh agama Katolik non PNS ini, menurut Wanto, selain sangat aktif di paroki, mereka juga membangun hubungan dan kerjasama yang baik dengan pihak paroki, terutama pastor paroki dan pastor pembantu.

Untuk format laporan kegiatan bimbingan dan penyuluhan selama masa pendemi, Wanto mengatakan bahwa para penyuluh masih sementara bekerja untuk menyelesaikan laporan kegiatan mereka.

Pada kesempatan berikutnya, Apol memberikan waktu kepada dua orang ASN, Yohanes Kia dan Bernardus Wolo untuk menyampaikan laporan kunjungan mereka ke Paroki St. Yohanes Paulus II Wulandoni dan St. Petrus-Paulus Lamalera.

John, sapaan dari Yohanes Kia, menyampaikan bahwa selama masa Pandemi ini, umat mengikuti ibadah dari rumah masing-masing melalui alat pengeras suara.

Mengenai peran penyuluh agama Katolik non PNS, John mengatakan bahwa peran mereka sangat aktif dalam membantu proses pelaksanaan ibadah selama masa pendemi. Selain itu, para penyuluh juga rajin mengunjungi umat dalam rangka melakukan pendampingan dan bimbingan.

Di Paroki St. Petrus-Paulus Lamalera, Bernardus Wolo memaparkan situasi yang tidak jauh berbeda. Memang ada umat yang datang ke gereja untuk beribadah. Tetapi dengan jumlah yang sangat minimalis (5-10 orang)  dan tetap menjaga jarak. Sedangkan umat yang lain mengikuti ibadah dari rumah masing-masing melalui pengeras suara yang dipancarkan dari gereja.

Bernard menegaskan bahwa peran penyuluh agama Katolik non PNS di paroki ini sangat aktif dan militan. Kehadiran mereka sangat membantu gereja paroki. Mereka mendapat kepercayaan penuh dari pastor paroki. “Mereka menjadi garda terdepan dalam membantu pastor paroki untuk melaksanakan kegiatan yang sifatnya konsultatif entah itu dengan pihak DPP (Dewan Pastoral Paroki) maupun dengan berbagai kelompok kategorial”, tandas Bernard. Selain itu menurut Bernard, para penyuluh agama juga mempunyai tugas utama menyusun teks ibadah selama masa pendemi.

Pada kesempatan terakhir, Apol Ado memberikan kesempatan kepada dua ASN, Leonardus Bage dan Daniel Kuma untuk memaparkan laporan perjalanan dinasnya ke dua paroki yang berada di wilayah Kedang.

Leonardus Bage melaporkan bahwa kegiatan ibadah selama masa pandemi Covid-19 di Paroki Salib Suci Holea pada awalnya menggunakan metode live streaming. Tetapi dalam perjalanan karena kekuatan singal kurang bagus maka diganti dengan pengeras suara; seperti yang dilaksanakan di paroki-paroki lain. Leo menambahkan, yang berada di gereja hanya imam dan petugas liturgi. Sedangkan umat yang lain mengikuti kegiatan ibadah dari rumah masing-masing.  Tantangan yang dihadapi seperti yang dialami oleh paroki lain, yakni pengeras suara kadang macet sehingga menggangu jalannya kegiatan ibadah.

 Leo Bage juga mengapresiasi para penyuluh agama Katolik non PNS di paroki ini yang sudah bekerja dengan ulet menggandakan naskah ibadat dan kemudian membawakannya pada saat pelaksanaan ibadah. Para penyuluh agama Katolik juga menggunakan media online untuk menyebarkan Sabda Allah kepada umat paroki. Selain itu, mereka juga giat melakukan kunjungan kepada anak Sekami dan Sekar selama masa pandemi dengan tetap mematuhi protokoler kesehatan (menjaga jarak dan memakai masker).

 Salah satu kendala yang dihadapi para penyuluh agama di paroki ini menurut Leo Bage adalah adanya miskomunikasi dengan pastor paroki. Sehingga membawa dampak ikutan berupa laporan para penyuluh agama Katolik non PNS yang tidak mendapat pengesahan dari pastor paroki.  Solusinya, anggota Dewan Pastoral Paroki setempat yang menandatangani laporan para penyuluh agama Katolik non PNS.

Sedangkan untuk wilayah paroki Sta. Maria Pembantu Abadi Aliuroba, Dan Kuma menjelaskan bahwa pelaksanaan ibadah selama masa pandemi pada awalnya menggunakan metode live streaming. Tetapi kemudian diganti dengan pengeras suara seperti pada paroki-paroki yang lain.

Menyangkut peran penyuluh, Dan Kuma menggarisbawahi peran penyuluh yang amat sentral selama masa pandemi berlangsung. Para penyuluh agama Katolik bertugas menyusun naskah panduan ibadat. Selain itu, mereka melakukan kunjungan keluarga dan memimpin ibadat di gua Maria dengan jumlah umat yang terbatas.

Dalam sesi pendalaman materi evaluasi, Atanasius Dewantoro menjelaskan pentingnya peran para pegawai Urakat dalam melakukan kontrol dan evaluasi terhadap laporan para penyuluh agama Katolik non PNS.  Tidak hanya menyangkut format laporan tetapi yang lebih penting adalah isi dari laporan yang dibuat.

Daniel Kuma mengusulkan supaya para penyuluh agama Katolik non PNS harus memiliki RKO (Rencana Kerja Operasional) dan Jadwal kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama. Bernardus Wolo juga menekankan peran penyuluh agama Katolik non PNS dalam melakukan tugas konsultatif, seperti yang dialaminya di paroki St. Petrus-Paulus Lamalera.

Sebelum menutup rapat evaluasi, Apol Ado mengafirmasi beberapa poin yang menjadi intisari pertemuan. Pertama, pelaksanaan ibadat selama masa Pandemi Covid-19 sudah terjadi sesuai dengan kondisi riil di paroki masing-masing. Kedua, pelaksanaan fungsi penyuluh tidak terbatas pada kegiatan menyampaikan warta sabda Allah. Tetapi melingkupi juga tugas koordinasi, konsultasi, advokasi dan edukasi.  Ketiga, pihak gereja dalam hal ini bertindak sebagai mitra kerja dari Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia, sangat proaktif menjalankan protokol kesehatan selama masa pandemi Covid- 19. ***Atanasius Dewantoro Labaona*** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar