Senin, 27 Juli 2020

ORANG BENAR AKAN BERCAHAYA SEPERTI MATAHARI


Yer 14:17-22; Mat 13:36-43
            Menjadi orang baik itu sulit untuk diwujudkan, tetapi menjadi orang jahat super mudah, mengapa? Karena menjalani hidup sebagai orang kristiani yang baik, kita harus menekan ogoisme diri kita, napsu-napsu liar kita yang tidak teratur, tutur kata, tindakan dan perbuatan kita berorientasi pada kehendak Allah semata. Apabila kita mampu membangun hidup seperti yang dikehendaki Allah maka kita akan bercahaya seperti matahari di dalam kerajaan sorga. Berbeda dengan orang jahat, kapan dan dimana saja ia dapat berbuat jahat karena ia tidak berkiblat kepada siapa-siapa yang menjadi teladan hidupnya, kecuali pada kekuatan iblis.

             Yesus dalam warta Injil-Nya hari ini mengisahkan sebuah perumpamaan tentang seorang penabur yang keluar untuk menabur benih yang baik. Tetapi pada malam hari datanglah musuh yang menaburkan benih lalang. Pemilik lahan benih yang baik tahu tentang perilaku si jahat tetapi ia membiarkan gandum dan lalang tumbuh bersama-sama sampai musim menuai datang. Pada saat itu gandum akan disimpan di lumbung sedangkan lalang dipotong dan dibakar. Disini kebaikan tumbuh bersamaan dengan kejahatan hingga Tuhan sendiri memisahkan orang baik dari orang jahat. Pengajaran Yesus dengan menggunakan perumpamaan sungguh membawa kesulitan besar bagi para murid-Nya. Tentang perumpamaan benih yang baik (gandum) dan lalang, Yesus menjelaskannya kembali kepada para muridNya: Si penabur benih yang baik adalah Anak Manusia (Yesus Kristus), Dialah utusan Allah untuk bersabda, melayani dan menebus dosa umat manusia. Lahan adalah dunia. Benih yang baik adalah anak-anak kerajaan. Lalang adalah anak-anak si jahat. Musuh yang menabur lalang adalah iblis. Saat menuai adalah akhir zaman dan penuainya adalah malaikat Tuhan.
            Penginjil Matius dalam warta sabda-Nya yang kita renungkan ini mengetengahkan tentang pola kehidupan manusia di dunia. Gandum dianalogikan Yesus sebagai kehidupan yang terarah pada kebaikan yang menjadi salah satu sifat Allah dan memiliki masa depan kerajaan sorga sedangkan ilalang dianalogikan Yesus sebagai kejahatan hidup yang akan mendapat hukuman berat di akhirat. Di dalam ladang tumbuh gandum dan lalang, karena keduanya tumbuh bersama-sama dan sulit dibedakan, maka pada musim menuai, keduanya tidak bisa mendapatkan perlakuan yang sama dan merata lagi. Gandum akan dituai dan disimpan di dalam lumbung sedangkan lalang akan dikumpulkan dan dibakar. Perumpamaan Yesus ini menekankan hal Kerajaan Sorga dalam kaitannya dengan penghakiman terakhir. Gandum atau orang baik yang patuh setia pada kehendak Allah dalam hidupnya memiliki kesempatan besar untuk masuk dalam kerajaan Sorga, sedangkan lalang atau orang jahat dan pendosa akan dikumpulkan dan dicampakan ke dalam api neraka sehingga di sana mereka akan mendapat ganjaran setimpal perbuatan mereka bahkan di sana akan terdengar ratap dan kertak gigi.

            Dua analogi sederhana di atas dipilih Yesus sesuai kehidupan nyata masyarakat Yahudi pada zamannya untuk menjelaskan penghakiman yang akan terjadi pada akhir zaman dan membantu para murid-Nya memahami pesan-Nya. Allah membiarkan orang baik dan orang jahat hidup berdampingan, Ia tidak serta merta memaksa atau menghabisi orang jahat dari hidupnya tetapi Ia memberikan kesempatan kepada orang jahat untuk bertobat. Pertobatan itu datang dari diri sendiri, harus ada kerendahan hati dalam diri untuk mengubah hidup ke jalan yang benar. Pertobatan juga tidak datang begitu saja dari orang lain, tetapi butuh perjuangan dan komitmen kuat untuk dapat berubah. Sedangkan orang baik atau gandum diharapkan tetap tumbuh subur, menghasilkan buah melimpah untuk banyak orang, memancarkan cahaya terang bagi orang lain agar dapat menyadarkan dan mempertobatkan orang-orang jahat untuk hidup dalam belas kasih Allah. Menjadi gandum atau menjadi ilalang adalah pilihan hidup sementara ketika kita masih berziarah di dunia ini, sedangkan kesempatan memperoleh hidup kekal di surga atau di neraka adalah konsekuensi dari pilihan sementara sebelumnya. Pilihan hidup itu erat pengaruhnya dengan pengadilan terakhir, karena Yesus akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya mengelompokan orang baik dari orang jahat dan pada saat itu perlakuan yang diterima juga akan berbeda antara keduanya.

            Analogi dari perumpamaan yang dipakai oleh Yesus tersebut mau mengajarkan kepada kita tentang dua tipe manusia yang berjuang saling mempengaruhi. Orang baik yang mengenal Allah arah hidupnya akan berkiblat pada kehendak Allah semata, mereka akan mengarahkan hidupnya pada hal-hal yang baik agar menjadi panutan bagi mereka yang jauh dari terang Ilahi.

            Hidup baik dan menjadi orang baik itu tidak mudah, sebab kejahatan dan pengaruh iblis akan semakin gencar menghalangi kesetiaan iman kita kepada Allah. Hidup doa membantu kita membangun relasi personal dengan Allah, agar rahmat dan kekuatan-Nya memampukan kita menghalau sejuta aral rintangan yang menjauhkan kita dari-Nya. Sedangkan tipe orang jahat akan selalu berjuang mengganggu, menjauhkan dan merusak kesetiaan iman manusia kepada Allah. Mereka akan menebarkan kejahatan bahkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Pertanyaan sederhana yang bisa kita ajukan adala: Apakah Allah hanya duduk diam sebagai penonton membiarkan orang-orang jahat melakukan aksi jahatnya merebut orang-orang baik? Dalam kasus ini Allah bukan sedang pro pada kejahatan, tetapi Ia memberikan kebebasan penuh kepada manusia untuk menentukan nasibnya kelak. Ia sedang menguji kesetiaan iman dan kedewasaan orang yang sungguh-sungguh mengandalkan-Nya. Kehadiran Yesus ke dunia dalam pewataan-Nya juga terlihat jelas bahwa tidak semua orang mendengar, menerima dan memahami seluruh pengajaran-Nya karena Iblis telah masuk ke dalam dunia dan menaburkan benih kejahatan di dalam hati manusia, agar kita ditarik jauh dari Allah kepada perbuatan dosa yang menawarkan kenikmatan duniawi sesaat tetapi kehilangan keselamatan kekal.
            Gambaran tentang penderitaan orang-orang yang tidak bertobat diungkapkan oleh Nabi Yeremia dalam bacaan pertama. Pada zaman Nabi Yeremia, dosa dan kejahatan tumbuh subur, karena itu Yeremia berdoa memohon ampun kepada Tuhan, “Ya Tuhan, kami insaf akan kejahatan kami dan akan kesalahan leluhur kami. Kami sungguh telah berdosa terhadapMu. Janganlah kiranya menolak kami dan janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaanMu. Ingatlah akan perjanjian-Mu dengan kami dan janganlah membatalkannya”. Yeremia adalah gambaran seorang nabi yang tidak mencari keselamatan bagi dirinya sendiri tetapi ia sungguh pendoa sejati yang melembutkan hati Tuhan dan percaya bahwa Tuhan pasti akan mengampuni orang-orang berdosa sehingga mereka tidak masuk dalam neraka. Ada satu keyakinan kuat dari Yeremia terhadap orang-orang jahat bahwa mereka akan berubah dan menjadi terang yang bercahaya seperti matahari di dalam kerjaan surga, apabila Allah berkenan mengampuni kedosaan mereka.

            Penjelasan Yesus atas perumpamaan lalang yang tumbuh di antara gandum membuat kita sadar bahwa dunia ini merupakan arena di mana kebaikan dan kejahatan saling berinteraksi. Yesus sendiri menabur benih yang baik di dalam hati orang yang bersedia mengikuti  Kehendak Allah, namun iblis pun berjuang merasuki hati manusia untuk membenci dan melawan Yesus. Sepanjang hidupnya manusia akan sulit membedakan siapa yang baik dan siapa yang jahat, namun Yesus akan mengutus malaikat-Nya untuk memisahkan orang benar dan orang jahat pada tempatnya yang berbeda. Orang jahat yang tidak terbuka dan melawan Allah akan dicampakkan ke dalam dapur api, di sana akan terdengar ratap dan kertak gigi, sedangkan orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan sorga.
            Sabda Tuhan hari ini menyadarkan, menginspirasi dan meneguhkan kita untuk membangun sikap tobat yang benar sehingga dapat membagi cahaya dan terang kepada sesama. Artinya, dengan pertobatan sejati, orang dapat mencapai kekudusan di hadirat Tuhan. Kesadaran untuk berubah dan bertobat tidak datang dari orang lain tetapi datang dari niat hati yang tulus dan komitmen pribadi sambil mengharapkan rahmat dan kemurahan hati Allah. Tuhan memanggil, memilih dan menentukan kita sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus dan tanpa cacat celah dihadirat-Nya agar kita tumbuh menjadi gandum yang baik yang menghasilkan buah kebaikan melimpah. Panggilan itu dikuduskan lagi dalam sakramen permandian dimana kita dikukuhkan sebagai anak-anak Allah dan anggota gereja, karena itu, kita seharusnya bukan lalang lagi karena iblis sudah dikalahkan oleh Yesus.

            Perumpamaan ini mengundang kita untuk tetap percaya pada kekuatan Allah yang selalu bekerja di antara kita meskipun kadang tampak tak berarti dan luput dari perhatian kita. Dengan kesadaran dan kepercayaan tersebut kita perlu terbuka dan membiarkan kekuatan Allah menyentuh, memberdayakan dan mengubah dunia serta hidup kita. Kita juga memiliki kewajiban untuk mendoakan sama saudara kita yang hidup dalam kegelapan dosa dan kejahatan, agar Allah mengampuni dan menganugerahkan rahmat pertobatan sehingga mereka dapat kembali ke jalan keselamatan yang dijanjikan-Nya. Sambil melakukan refleksi pribadi, kita masing-masing juga bisa mengintrospeksi diri: saya sebagai pribadi masuk kelompok yang mana: kelompok gandum atau lalang atau kedua-duanya atau seolah-olah...? Kiranya kita semua dapat menjalani hidup sementara ini sebagai orang baik dan benar sehingga kita dapat memancarkan cahaya terang seperti matahari di dalam kerjaan surga. Amin...***Bernad Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar