Yer
14:17-22; Mat 13:36-43
Menjadi orang baik itu sulit untuk diwujudkan,
tetapi menjadi orang jahat super mudah, mengapa? Karena menjalani hidup sebagai
orang kristiani yang baik, kita harus menekan ogoisme diri kita, napsu-napsu
liar kita yang tidak teratur, tutur kata, tindakan dan perbuatan kita
berorientasi pada kehendak Allah semata. Apabila kita mampu membangun hidup
seperti yang dikehendaki Allah maka kita akan bercahaya seperti matahari di
dalam kerajaan sorga. Berbeda dengan orang jahat, kapan dan dimana saja ia
dapat berbuat jahat karena ia tidak berkiblat kepada siapa-siapa yang menjadi
teladan hidupnya, kecuali pada kekuatan iblis.
Yesus dalam warta Injil-Nya hari ini
mengisahkan sebuah perumpamaan tentang seorang penabur yang keluar untuk
menabur benih yang baik. Tetapi pada malam hari datanglah musuh yang menaburkan
benih lalang. Pemilik lahan benih yang baik tahu tentang perilaku si jahat
tetapi ia membiarkan gandum dan lalang tumbuh bersama-sama sampai musim menuai
datang. Pada saat itu gandum akan disimpan di lumbung sedangkan lalang dipotong
dan dibakar. Disini kebaikan tumbuh bersamaan dengan kejahatan hingga Tuhan
sendiri memisahkan orang baik dari orang jahat. Pengajaran Yesus dengan
menggunakan perumpamaan sungguh membawa kesulitan besar bagi para murid-Nya.
Tentang perumpamaan benih yang baik (gandum) dan lalang, Yesus menjelaskannya
kembali kepada para muridNya: Si penabur benih yang baik adalah Anak Manusia
(Yesus Kristus), Dialah utusan Allah untuk bersabda, melayani dan menebus dosa
umat manusia. Lahan adalah dunia. Benih yang baik adalah anak-anak kerajaan.
Lalang adalah anak-anak si jahat. Musuh yang menabur lalang adalah iblis. Saat
menuai adalah akhir zaman dan penuainya adalah malaikat Tuhan.
Penginjil
Matius dalam warta sabda-Nya yang kita renungkan ini mengetengahkan tentang
pola kehidupan manusia di dunia. Gandum dianalogikan Yesus sebagai kehidupan
yang terarah pada kebaikan yang menjadi salah satu sifat Allah dan memiliki
masa depan kerajaan sorga sedangkan ilalang dianalogikan Yesus sebagai
kejahatan hidup yang akan mendapat hukuman berat di akhirat. Di dalam ladang
tumbuh gandum dan lalang, karena keduanya tumbuh bersama-sama dan sulit dibedakan,
maka pada musim menuai, keduanya tidak bisa mendapatkan perlakuan yang sama dan
merata lagi. Gandum akan dituai dan disimpan di dalam lumbung sedangkan lalang
akan dikumpulkan dan dibakar. Perumpamaan Yesus ini menekankan hal Kerajaan
Sorga dalam kaitannya dengan penghakiman terakhir. Gandum atau orang baik yang
patuh setia pada kehendak Allah dalam hidupnya memiliki kesempatan besar untuk
masuk dalam kerajaan Sorga, sedangkan lalang atau orang jahat dan pendosa akan
dikumpulkan dan dicampakan ke dalam api neraka sehingga di sana mereka akan
mendapat ganjaran setimpal perbuatan mereka bahkan di sana akan terdengar ratap
dan kertak gigi.
Dua
analogi sederhana di atas dipilih Yesus sesuai kehidupan nyata masyarakat
Yahudi pada zamannya untuk menjelaskan penghakiman yang akan terjadi pada akhir
zaman dan membantu para murid-Nya memahami pesan-Nya. Allah membiarkan orang
baik dan orang jahat hidup berdampingan, Ia tidak serta merta memaksa atau
menghabisi orang jahat dari hidupnya tetapi Ia memberikan kesempatan kepada
orang jahat untuk bertobat. Pertobatan itu datang dari diri sendiri, harus ada
kerendahan hati dalam diri untuk mengubah hidup ke jalan yang benar. Pertobatan
juga tidak datang begitu saja dari orang lain, tetapi butuh perjuangan dan komitmen
kuat untuk dapat berubah. Sedangkan orang baik atau gandum diharapkan tetap
tumbuh subur, menghasilkan buah melimpah untuk banyak orang, memancarkan cahaya
terang bagi orang lain agar dapat menyadarkan dan mempertobatkan orang-orang
jahat untuk hidup dalam belas kasih Allah. Menjadi gandum atau menjadi ilalang
adalah pilihan hidup sementara ketika kita masih berziarah di dunia ini,
sedangkan kesempatan memperoleh hidup kekal di surga atau di neraka adalah
konsekuensi dari pilihan sementara sebelumnya. Pilihan hidup itu erat
pengaruhnya dengan pengadilan terakhir, karena Yesus akan menyuruh
malaikat-malaikat-Nya mengelompokan orang baik dari orang jahat dan pada saat
itu perlakuan yang diterima juga akan berbeda antara keduanya.
Analogi
dari perumpamaan yang dipakai oleh Yesus tersebut mau mengajarkan kepada kita
tentang dua tipe manusia yang berjuang saling mempengaruhi. Orang baik yang
mengenal Allah arah hidupnya akan berkiblat pada kehendak Allah semata, mereka
akan mengarahkan hidupnya pada hal-hal yang baik agar menjadi panutan bagi
mereka yang jauh dari terang Ilahi.
Hidup
baik dan menjadi orang baik itu tidak mudah, sebab kejahatan dan pengaruh iblis
akan semakin gencar menghalangi kesetiaan iman kita kepada Allah. Hidup doa
membantu kita membangun relasi personal dengan Allah, agar rahmat dan
kekuatan-Nya memampukan kita menghalau sejuta aral rintangan yang menjauhkan
kita dari-Nya. Sedangkan tipe orang jahat akan selalu berjuang mengganggu,
menjauhkan dan merusak kesetiaan iman manusia kepada Allah. Mereka akan
menebarkan kejahatan bahkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
Pertanyaan sederhana yang bisa kita ajukan adala: Apakah Allah hanya duduk diam
sebagai penonton membiarkan orang-orang jahat melakukan aksi jahatnya merebut orang-orang
baik? Dalam kasus ini Allah bukan sedang pro pada kejahatan, tetapi Ia
memberikan kebebasan penuh kepada manusia untuk menentukan nasibnya kelak. Ia
sedang menguji kesetiaan iman dan kedewasaan orang yang sungguh-sungguh
mengandalkan-Nya. Kehadiran Yesus ke dunia dalam pewataan-Nya juga terlihat
jelas bahwa tidak semua orang mendengar, menerima dan memahami seluruh
pengajaran-Nya karena Iblis telah masuk ke dalam dunia dan menaburkan benih
kejahatan di dalam hati manusia, agar kita ditarik jauh dari Allah kepada
perbuatan dosa yang menawarkan kenikmatan duniawi sesaat tetapi kehilangan
keselamatan kekal.
Gambaran
tentang penderitaan orang-orang yang tidak bertobat diungkapkan oleh Nabi
Yeremia dalam bacaan pertama. Pada zaman Nabi Yeremia, dosa dan kejahatan
tumbuh subur, karena itu Yeremia berdoa memohon ampun kepada Tuhan, “Ya Tuhan, kami insaf akan kejahatan kami dan
akan kesalahan leluhur kami. Kami sungguh telah berdosa terhadapMu. Janganlah
kiranya menolak kami dan janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaanMu.
Ingatlah akan perjanjian-Mu dengan kami dan janganlah membatalkannya”.
Yeremia adalah gambaran seorang nabi yang tidak mencari keselamatan bagi
dirinya sendiri tetapi ia sungguh pendoa sejati yang melembutkan hati Tuhan dan
percaya bahwa Tuhan pasti akan mengampuni orang-orang berdosa sehingga mereka
tidak masuk dalam neraka. Ada satu keyakinan kuat dari Yeremia terhadap
orang-orang jahat bahwa mereka akan berubah dan menjadi terang yang bercahaya
seperti matahari di dalam kerjaan surga, apabila Allah berkenan mengampuni
kedosaan mereka.
Penjelasan
Yesus atas perumpamaan lalang yang tumbuh di antara gandum membuat kita sadar
bahwa dunia ini merupakan arena di mana kebaikan dan kejahatan saling
berinteraksi. Yesus sendiri menabur benih yang baik di dalam hati orang yang
bersedia mengikuti Kehendak Allah, namun
iblis pun berjuang merasuki hati manusia untuk membenci dan melawan Yesus.
Sepanjang hidupnya manusia akan sulit membedakan siapa yang baik dan siapa yang
jahat, namun Yesus akan mengutus malaikat-Nya untuk memisahkan orang benar dan
orang jahat pada tempatnya yang berbeda. Orang jahat yang tidak terbuka dan
melawan Allah akan dicampakkan ke dalam dapur api, di sana akan terdengar ratap
dan kertak gigi, sedangkan orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam
kerajaan sorga.
Sabda
Tuhan hari ini menyadarkan, menginspirasi dan meneguhkan kita untuk membangun
sikap tobat yang benar sehingga dapat membagi cahaya dan terang kepada sesama.
Artinya, dengan pertobatan sejati, orang dapat mencapai kekudusan di hadirat
Tuhan. Kesadaran untuk berubah dan bertobat tidak datang dari orang lain tetapi
datang dari niat hati yang tulus dan komitmen pribadi sambil mengharapkan
rahmat dan kemurahan hati Allah. Tuhan memanggil, memilih dan menentukan kita
sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus dan tanpa cacat celah dihadirat-Nya
agar kita tumbuh menjadi gandum yang baik yang menghasilkan buah kebaikan
melimpah. Panggilan itu dikuduskan lagi dalam sakramen permandian dimana kita
dikukuhkan sebagai anak-anak Allah dan anggota gereja, karena itu, kita
seharusnya bukan lalang lagi karena iblis sudah dikalahkan oleh Yesus.
Perumpamaan
ini mengundang kita untuk tetap percaya pada kekuatan Allah yang selalu bekerja
di antara kita meskipun kadang tampak tak berarti dan luput dari perhatian
kita. Dengan kesadaran dan kepercayaan tersebut kita perlu terbuka dan
membiarkan kekuatan Allah menyentuh, memberdayakan dan mengubah dunia serta
hidup kita. Kita juga memiliki kewajiban untuk mendoakan sama saudara kita yang
hidup dalam kegelapan dosa dan kejahatan, agar Allah mengampuni dan
menganugerahkan rahmat pertobatan sehingga mereka dapat kembali ke jalan
keselamatan yang dijanjikan-Nya. Sambil melakukan refleksi pribadi, kita
masing-masing juga bisa mengintrospeksi diri: saya sebagai pribadi masuk
kelompok yang mana: kelompok gandum atau lalang atau kedua-duanya atau
seolah-olah...? Kiranya kita semua dapat menjalani hidup sementara ini sebagai
orang baik dan benar sehingga kita dapat memancarkan cahaya terang seperti
matahari di dalam kerjaan surga. Amin...***Bernad Wadan***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar