Senin, 06 Juli 2020

Jangan Menyembah Berhala


Hos 8:4-7.11-13 & Mat 9:32-38
Berhala adalah dosa yang menjijikan Allah dan karena itu maka Ia berulang kali melarang umat-Nya untuk menyembah berhala (Kel 23:24; Im 19:4; 26:1; Ul 4:16; 16:21;16:22). Dengan larangan itu, Allah menghendaki agar umat-Nya memiliki kemurnian hati kepada-Nya, tetapi juga supaya mereka tidak mengejar dan menemukan kesia-siaan belaka di balik  semua buatan tangan manusia yang tidak memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri. Samuel menyebut berhala itu dewa kesia-siaan (1 Sam 12:21).

Meskipun demikian, ternyata  bahwa inilah dosa yang berulang kali timbul dalam sejarah umat Allah. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Kitab Suci, Israel pertama kali menyembah anak lembuh emas ketika Musa masih berada di gunung Sinai (Kel 32:1-6) dan sepanjang perjalanan kehidupan mereka Israel tidak luput dari dosa yang menjijikan ini. Perpecahan dan kehancuran bangsa Israel tidak terlepas dari sikap umat Israel yang mendua hati (bdk. https://alkitab.sabda.org).

Nabi Hosea menggambarkan kebinasaan sebagai konsekuensi logis dari sikap dan perbuatan berhala pada buatan tangan manusia. “Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan” (Hos 8:4). Sebagai variasi ungkapan yang menyatakan konsekuensi itu, Hosea berkata: “Sebab mereka menabur angin, maka mereka akan menuai puting beliung; gandum yang belum menguning tidak ada pada mereka; tumbuh-tumbuhan itu tidak menghasilkan tepung; dan jika memberi hasil, maka orang-orang lain menelannya” (Hos 8:7).

Seperti dinyatakan dalam sejarah Israel bahwa penyembahan berhala itu berhenti dilakukan Israel pasca pembuangan, tidak serta merta bahwa sikap mendua hati itu putus secara radikal. Ternyata bahwa sikap hati itu bisa saja lahir dalam bentuk dan cara baru yang tidak kurang keburukannya seperti yang dilakukan bangsa Israel sebelumnya.

Berhala sebagai buatan manusia sebenarnya merujuk kepada apa yang manusia produsir sendiri bagi dirinya sendiri dan membayangkan adanya kekuatan yang menguntungkan dirinya sendiri. Maka sebenarnya ada sekian banyak berhala baru yang disembah oleh manusia dan itulah yang menjijikan hati Allah.

Dalam Injil kita menemukan suatu bentuk berhala baru yang sangat dikritik oleh Yesus. Sekalipun Yesus datang sebagai utusan Allah yang meyatakan kebenaran yang menuntun hidup kepada keselamatan akan tetapi jalan kebenaran dan hidup itu sangat ditolak oleh orang-orang Farisi. Seperti yang dikatakan Hosesa, “Sekalipun Kutuliskan baginya banyak pengajaran-Ku, itu akan dianggap mereka sebagai sesuatu yang asing” (Hos 8:12), orang-orang Farisi tidak peduli pada ajaran kebenaran yang menyelamatkan dari Yesus. Mereka mengikuti jalan pikiran dan kehendak mereka sendiri dan itulah berhala yang mereka puja. Mereka menyembah dirinya sendiri dan menolak Allah yang menyelamatkan dalam diri Yesus.

Seperti para raja Israel yang menyembah berhala dan menyebabkan umat Israel berdosa, demikianlah di zaman Yesus orang-orang Farisi yang berhala pada dirinya juga mendatangkan dosa bagi banyak orang yang disesatkan. Ketika mereka menuduh Yesus bahwa Ia mengusir setan yang membisukan dengan kuasa penghulu setan mereka mau membawa orang kepada kesesatan berhala pikiran buruk mereka sendiri. Mereka membalikan apa yang benar yang dilakukan Yesus sebagai sesat dan membenarkan apa yang sesat yang mereka produsir di dalam hati dan pikiran mereka sebagai yang benar.

Sikap yang sama seperti orang-orang Farisi dapat saja menghantui hidup kita sebagai orang-orang beriman. Jika kita memandang diri kita sebagai standar kebenaran dan menutup diri terhadap kebenaran yang mendatangi kita maka kita terjebak dalam pola sikap orang-orang Farisi yang mengagumi diri mereka sebagai standar kebenaran. Seperti orang-orang Farisi, Tuhan pun kita tolak demi pengagungan diri kita sendiri. Dalam kecendrungan yang sama, orang lain pun dapat kita pengaruhi untuk berhala pada pemikiran dan kehendak hati kita dengan keinginan sebagai pusat dari segala-galanya.

Jika hati dan pikiran kita hanya tertambat pada keinginan diri sendiri maka bukan saja hati dan pikiran kita sajalah yang kita sembah, melainkan semakin banyak lagi berhala baru yang kita sembah dalam hidup kita dan kita tidak dapat lagi membebaskan diri dari berhala-berhala itu. Uang, kuasa, seks dan berbagai kenikmatan yang dikerjar secara tidak beraturan adalah berhala-berhala baru hasil produksi pikiran dan kehendak hati kita yang terpenjara oleh keinginan kita.

Melalui sabda-Nya Allah mengingatkan kita bahwa berhala-berhala yang kita sembah itu kesia-siaan belaka; tampak kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan dari keinginan yang terpenuhi kita seakan meandang itulah hidup yang kita cari, akan tetapi apa yang kita cari dan kejar dalam hidup itu tidak mendatangkan suatu yang lebih bernilai daripada keinginan kita semata dan yang pada akhirnya juga kita sesali. Keinginan memang baik sebagai suatu anugerah Allah, akan tetapi ketika menjadi tidak teratur dan mengarahkan kita kepada sikap berhala, maka keingnan itu merusakkan hidup kita. Ia mengarahkan kita kepada kesia-siaan.

Kita hidup dalam situasi dunia di mana kecenderungan kepada berhala itu tidak dapat dihindari seperti juga pada masa Israel yang dikelilingi oleh situasi hidup berhala yang mempengaruhi mereka, akan tetapi Allah melalui Kristus Putra-Nya mengajarkan kita jalan kebenaran dan hidup yang membuat kita dapat membebaskan diri dari berhala-berhala itu. Ketika kita mendengarkan Dia dan mengikuti pengajaran-Nya kita menghadirkan kebenaran dalam diri kita sehingga keinginan-keinginan hati kita selalu dimurnikan untuk hidup setia dan taat kepada Allah.

Oleh kebenaran-Nya  yang kita terima, Tuhan selalu ada dalam hati kita. Bersama Dia, kita mampu merobohkan berhala-berhala yang ada dalam hati dan pikiran kita dan kita pun dibuat-Nya menjadi semakin murni betapapun di sekeliling kita selalu ada berhala-berhala yang mengahantui dan menggoda hidup kita. *** Apol Wuwur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar