Hos 8:4-7.11-13 & Mat 9:32-38
Berhala adalah
dosa yang menjijikan Allah dan karena itu maka Ia berulang kali melarang
umat-Nya untuk menyembah berhala (Kel 23:24; Im 19:4; 26:1; Ul 4:16;
16:21;16:22). Dengan larangan itu, Allah menghendaki agar umat-Nya memiliki
kemurnian hati kepada-Nya, tetapi juga supaya mereka tidak mengejar dan
menemukan kesia-siaan belaka di balik
semua buatan tangan manusia yang tidak memiliki kekuatan dalam dirinya
sendiri. Samuel menyebut berhala itu dewa kesia-siaan (1 Sam 12:21).
Meskipun
demikian, ternyata bahwa inilah dosa
yang berulang kali timbul dalam sejarah umat Allah. Sebagaimana yang dikisahkan
dalam Kitab Suci, Israel pertama kali menyembah anak lembuh emas ketika Musa
masih berada di gunung Sinai (Kel 32:1-6) dan sepanjang perjalanan kehidupan
mereka Israel tidak luput dari dosa yang menjijikan ini. Perpecahan dan
kehancuran bangsa Israel tidak terlepas dari sikap umat Israel yang mendua hati
(bdk. https://alkitab.sabda.org).
Nabi Hosea
menggambarkan kebinasaan sebagai konsekuensi logis dari sikap dan perbuatan
berhala pada buatan tangan manusia. “Dari emas dan peraknya mereka membuat
berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan” (Hos 8:4). Sebagai
variasi ungkapan yang menyatakan konsekuensi itu, Hosea berkata: “Sebab mereka
menabur angin, maka mereka akan menuai puting beliung; gandum yang belum
menguning tidak ada pada mereka; tumbuh-tumbuhan itu tidak menghasilkan tepung;
dan jika memberi hasil, maka orang-orang lain menelannya” (Hos 8:7).
Seperti
dinyatakan dalam sejarah Israel bahwa penyembahan berhala itu berhenti
dilakukan Israel pasca pembuangan, tidak serta merta bahwa sikap mendua hati
itu putus secara radikal. Ternyata bahwa sikap hati itu bisa saja lahir dalam
bentuk dan cara baru yang tidak kurang keburukannya seperti yang dilakukan
bangsa Israel sebelumnya.
Berhala sebagai
buatan manusia sebenarnya merujuk kepada apa yang manusia produsir sendiri bagi
dirinya sendiri dan membayangkan adanya kekuatan yang menguntungkan dirinya
sendiri. Maka sebenarnya ada sekian banyak berhala baru yang disembah oleh
manusia dan itulah yang menjijikan hati Allah.
Dalam Injil kita
menemukan suatu bentuk berhala baru yang sangat dikritik oleh Yesus. Sekalipun
Yesus datang sebagai utusan Allah yang meyatakan kebenaran yang menuntun hidup
kepada keselamatan akan tetapi jalan kebenaran dan hidup itu sangat ditolak
oleh orang-orang Farisi. Seperti yang dikatakan Hosesa, “Sekalipun Kutuliskan
baginya banyak pengajaran-Ku, itu akan dianggap mereka sebagai sesuatu yang
asing” (Hos 8:12), orang-orang Farisi tidak peduli pada ajaran kebenaran yang
menyelamatkan dari Yesus. Mereka mengikuti jalan pikiran dan kehendak mereka
sendiri dan itulah berhala yang mereka puja. Mereka menyembah dirinya sendiri
dan menolak Allah yang menyelamatkan dalam diri Yesus.
Seperti para raja
Israel yang menyembah berhala dan menyebabkan umat Israel berdosa, demikianlah
di zaman Yesus orang-orang Farisi yang berhala pada dirinya juga mendatangkan
dosa bagi banyak orang yang disesatkan. Ketika mereka menuduh Yesus bahwa Ia
mengusir setan yang membisukan dengan kuasa penghulu setan mereka mau membawa
orang kepada kesesatan berhala pikiran buruk mereka sendiri. Mereka membalikan
apa yang benar yang dilakukan Yesus sebagai sesat dan membenarkan apa yang
sesat yang mereka produsir di dalam hati dan pikiran mereka sebagai yang benar.
Sikap yang sama
seperti orang-orang Farisi dapat saja menghantui hidup kita sebagai orang-orang
beriman. Jika kita memandang diri kita sebagai standar kebenaran dan menutup
diri terhadap kebenaran yang mendatangi kita maka kita terjebak dalam pola
sikap orang-orang Farisi yang mengagumi diri mereka sebagai standar kebenaran. Seperti
orang-orang Farisi, Tuhan pun kita tolak demi pengagungan diri kita sendiri.
Dalam kecendrungan yang sama, orang lain pun dapat kita pengaruhi untuk berhala
pada pemikiran dan kehendak hati kita dengan keinginan sebagai pusat dari
segala-galanya.
Jika hati dan
pikiran kita hanya tertambat pada keinginan diri sendiri maka bukan saja hati
dan pikiran kita sajalah yang kita sembah, melainkan semakin banyak lagi
berhala baru yang kita sembah dalam hidup kita dan kita tidak dapat lagi
membebaskan diri dari berhala-berhala itu. Uang, kuasa, seks dan berbagai
kenikmatan yang dikerjar secara tidak beraturan adalah berhala-berhala baru
hasil produksi pikiran dan kehendak hati kita yang terpenjara oleh keinginan
kita.
Melalui sabda-Nya
Allah mengingatkan kita bahwa berhala-berhala yang kita sembah itu kesia-siaan
belaka; tampak kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan dari keinginan yang
terpenuhi kita seakan meandang itulah hidup yang kita cari, akan tetapi apa
yang kita cari dan kejar dalam hidup itu tidak mendatangkan suatu yang lebih
bernilai daripada keinginan kita semata dan yang pada akhirnya juga kita
sesali. Keinginan memang baik sebagai suatu anugerah Allah, akan tetapi ketika
menjadi tidak teratur dan mengarahkan kita kepada sikap berhala, maka keingnan
itu merusakkan hidup kita. Ia mengarahkan kita kepada kesia-siaan.
Kita hidup dalam
situasi dunia di mana kecenderungan kepada berhala itu tidak dapat dihindari
seperti juga pada masa Israel yang dikelilingi oleh situasi hidup berhala yang
mempengaruhi mereka, akan tetapi Allah melalui Kristus Putra-Nya mengajarkan
kita jalan kebenaran dan hidup yang membuat kita dapat membebaskan diri dari
berhala-berhala itu. Ketika kita mendengarkan Dia dan mengikuti pengajaran-Nya
kita menghadirkan kebenaran dalam diri kita sehingga keinginan-keinginan hati
kita selalu dimurnikan untuk hidup setia dan taat kepada Allah.
Oleh
kebenaran-Nya yang kita terima, Tuhan
selalu ada dalam hati kita. Bersama Dia, kita mampu merobohkan berhala-berhala
yang ada dalam hati dan pikiran kita dan kita pun dibuat-Nya menjadi semakin
murni betapapun di sekeliling kita selalu ada berhala-berhala yang mengahantui
dan menggoda hidup kita. *** Apol Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar