Selasa, 21 Juli 2020

AKU TELAH MELIHAT TUHAN


Yoh 20:1-2, 11-18-27
Hari ini kita memperingati seorang perempuan kudus yang menginpirasi karya pelayanan dalam gereja Katolik. Perempuan itu adalah Santa Maria Magdalena, yang perayaannya kita peringati setiap tanggal 22 Juli. Menurut keterangan empat penginjil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) Maria Magdalena  adalah seorang perempuan Yahudi pengikut Yesus yang ikut serta dalam pewartaan-pewartaan Yesus. Dan kemudian hari menjadi saksi mata peristiwa penyaliban, penguburan, dan kebangkitan Yesus. Banyak ahli sejarah berpandangan bahwa nama Magdalena merupakan sebuah julukan; merujuk pada tempat asalnya di Magdala, sebuah kota nelayan di tepi barat Danau Galilea. Nama “Maria” adalah sebuah nama yang sangat familiar atau paling sering ditemui di antara perempuan-perempuan Yahudi yang hidup pada abad pertama tarikh Masehi. Sehingga para penulis Injil merasa perlu menambahkan sebutan Magdalena guna membedakannya dari perempuan-perempuan pengikut Yesus lainnya yang juga bernama Maria (Wikipedia). Maria Magdalena pertama kali bertemu dengan Yesus dalam peristiwa penyembuhan roh-roh jahat.

Penginjil Lukas mencatat bahwa Maria Magdalena termasuk dalam kelompok perempuan yang disembuhkan Yesus. Termasuk di dalamnya Yohana Istri Khuza, Susana dan banyak perempuan lain. Maria Magdalena menurut Injil Lukas, dibebaskan oleh Yesus dari belenggu tujuh roh jahat (Luk 8:2-3). Tujuh roh jahat dalam kaca mata para ahli sejarah bukan merupakan angka dalam arti harafiah. Tetapi merupakan angka simbolik. Merujuk pada kepercayaan Yahudi, angka tujuh merupakan angka sempurna (Wikipedia). Jadi bisa kita tarik kesimpulan bahwa Maria bukan dirasuki oleh tujuh roh jahat dalam arti kuantitatif, tetapi secara kualitatif Maria mengalami sakit yang sangat hebat. Pengalaman penyembuhan yang dialami oleh Maria Magdalena, betul-betul menyentuh pribadinya. Ia sungguh mengagumi Yesus sebagai sosok pahlawan yang menyelamatkan hidupnya. Tidak sebatas itu, Maria akhirnya memberi dirinya secara total untuk membantu karya pelayanan Yesus. Maria Magdalena menunjukkan pribadinya sebagai seorang pengikut Yesus yang setia. Ia menjadi salah satu perempuan yang menjadi saksi mata peristiwa penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus.

Maria Magdalena menjadi orang pertama yang pergi ke kubur dan mendapati kubur dalam keadaan kosong. Serta merta ia berkesimpulan bahwa mayat Yesus telah dicuri orang. Maria mengekspresikan kesedihannya dengan menangis. Sikap Maria ini menggambarkan bahwa Maria masih berada dalam suasana dukacita. Ia belum menemukan Tuhan yang hilang entah ke mana. Maria belum bisa keluar dari pengalaman kegelapan yang dialaminya bersama-sama para murid yang lain akibat kehilangan figur yang mereka kagumi dan andalkan. Bersama-sama dengan para murid yang lailn, Maria belum mengerti akan semua yang pernah dikatakan oleh Yesus semasa hidup-Nya. “Mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit di antara orang mati” (Yoh 20:9). Bahkan pada saat Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepadanya, Maria belum mengenalinya sebagai Yesus. Mata Maria baru terbuka dan mengenal sosok di hadapannya ketika Yesus memanggil namanya. “Rabuni” (Yoh 20:16), kata Maria merespon panggilan Yesus. Kata Rabuni mau mengungkapkan kebahagiaan hati Maria ketika menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Yesus telah bangkit. Ungkapan Rabuni juga mau menghapus sikap keragu-raguan yang dibangun Maria pada saat sebelum mengenal Yesus. Memanggil Yesus dengan “Rabuni”, berarti Maria Magdalena telah menaru kepercayaan yang total kepada-Nya. Bahwa Yesus sungguh telah bangkit dan tidak ada yang perlu ditangisi. Kini dukacita telah berganti dengan sukacita. Sukacita akan kebangkitan Yesus. Selanjutnya, Maria Magdalena tidak mau bersukacita dalam dirinya sendiri. Ia pergi kepada murid-murid untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. “Aku telah melihat Tuhan” (Yoh 20:18). Kabar penampakan Tuhan yang bangkit tidak sekedar menjadi berita informatif. Tetapi sungguh mengedukasi dan menguatkan pribadi Maria untuk tidak larut dalam kegelisaan dan kesedihan. Maria harus segera keluar dari “cangkang ketakutannya” dan kemudian menjadi pribadi yang semakin berani membawa warta Tuhan yang bangkit kepada segenap orang.

Pengalaman Maria melihat Tuhan yang bangkit dalam hidupnya menjadi pengalaman setiap orang beriman pada masa kini. Kita harus mampu dengan jeli melihat wajah Tuhan dalam setiap pengalaman hidup kita. Setiap pengalaman hidup adalah pengalaman rohani yang menyiratkan wajah Tuhan. Wajah Tuhan yang  terwujud dalam diri orang-orang yang sementara mengalami kesakitan, penderitaan, dukacita dan tersingkir dalam hidup. Kita dituntut untuk tidak sekedar berhenti pada tataran compassion atau sekedar menunjukkan keprihatinan. Namun, hanya dengan kepekaan nuranilah, kita bisa masuk dalam lingkaran para wajah Tuhan tersebut untuk memberikan pertolongan, penguatan dan pendampingan kepada mereka. Dengan cara yang paling sederhana, apa pun itu, kehadiran kita adalah cara terbaik untuk menyembuhkan dan menyelamatkan hidup mereka. Kita berbuat demikian karena kita telah melihat Tuhan dalam pengalaman spiritual hidup kita masing-masing. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar