Yoh 20:1-2, 11-18-27
Hari ini kita memperingati seorang perempuan kudus yang menginpirasi karya
pelayanan dalam gereja Katolik. Perempuan itu adalah Santa Maria Magdalena,
yang perayaannya kita peringati setiap tanggal 22 Juli. Menurut keterangan
empat penginjil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) Maria Magdalena adalah seorang perempuan Yahudi pengikut
Yesus yang ikut serta dalam pewartaan-pewartaan Yesus. Dan kemudian hari
menjadi saksi mata peristiwa penyaliban, penguburan, dan kebangkitan Yesus.
Banyak ahli sejarah berpandangan bahwa nama Magdalena merupakan sebuah julukan;
merujuk pada tempat asalnya di Magdala, sebuah kota nelayan di tepi barat Danau
Galilea. Nama “Maria” adalah sebuah nama yang sangat familiar atau paling
sering ditemui di antara perempuan-perempuan Yahudi yang hidup pada abad
pertama tarikh Masehi. Sehingga para penulis Injil merasa perlu menambahkan
sebutan Magdalena guna membedakannya dari perempuan-perempuan pengikut Yesus
lainnya yang juga bernama Maria (Wikipedia). Maria Magdalena pertama kali
bertemu dengan Yesus dalam peristiwa penyembuhan roh-roh jahat.
Penginjil Lukas mencatat bahwa Maria Magdalena termasuk dalam kelompok
perempuan yang disembuhkan Yesus. Termasuk di dalamnya Yohana Istri Khuza,
Susana dan banyak perempuan lain. Maria Magdalena menurut Injil Lukas,
dibebaskan oleh Yesus dari belenggu tujuh roh jahat (Luk 8:2-3). Tujuh roh
jahat dalam kaca mata para ahli sejarah bukan merupakan angka dalam arti
harafiah. Tetapi merupakan angka simbolik. Merujuk pada kepercayaan Yahudi,
angka tujuh merupakan angka sempurna (Wikipedia). Jadi bisa kita tarik
kesimpulan bahwa Maria bukan dirasuki oleh tujuh roh jahat dalam arti
kuantitatif, tetapi secara kualitatif Maria mengalami sakit yang sangat hebat.
Pengalaman penyembuhan yang dialami oleh Maria Magdalena, betul-betul menyentuh
pribadinya. Ia sungguh mengagumi Yesus sebagai sosok pahlawan yang
menyelamatkan hidupnya. Tidak sebatas itu, Maria akhirnya memberi dirinya
secara total untuk membantu karya pelayanan Yesus. Maria Magdalena menunjukkan
pribadinya sebagai seorang pengikut Yesus yang setia. Ia menjadi salah satu
perempuan yang menjadi saksi mata peristiwa penyaliban, kematian dan
kebangkitan Yesus.
Maria Magdalena menjadi orang pertama yang pergi ke kubur dan mendapati
kubur dalam keadaan kosong. Serta merta ia berkesimpulan bahwa mayat Yesus
telah dicuri orang. Maria mengekspresikan kesedihannya dengan menangis. Sikap
Maria ini menggambarkan bahwa Maria masih berada dalam suasana dukacita. Ia
belum menemukan Tuhan yang hilang entah ke mana. Maria belum bisa keluar dari
pengalaman kegelapan yang dialaminya bersama-sama para murid yang lain akibat
kehilangan figur yang mereka kagumi dan andalkan. Bersama-sama dengan para
murid yang lailn, Maria belum mengerti akan semua yang pernah dikatakan oleh
Yesus semasa hidup-Nya. “Mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan
bahwa Ia harus bangkit di antara orang mati” (Yoh 20:9). Bahkan pada saat Yesus
yang telah bangkit menampakkan diri kepadanya, Maria belum mengenalinya sebagai
Yesus. Mata Maria baru terbuka dan mengenal sosok di hadapannya ketika Yesus
memanggil namanya. “Rabuni” (Yoh 20:16), kata Maria merespon panggilan Yesus.
Kata Rabuni mau mengungkapkan kebahagiaan hati Maria ketika menyaksikan dengan
mata kepalanya sendiri bahwa Yesus telah bangkit. Ungkapan Rabuni juga mau
menghapus sikap keragu-raguan yang dibangun Maria pada saat sebelum mengenal
Yesus. Memanggil Yesus dengan “Rabuni”, berarti Maria Magdalena telah menaru
kepercayaan yang total kepada-Nya. Bahwa Yesus sungguh telah bangkit dan tidak
ada yang perlu ditangisi. Kini dukacita telah berganti dengan sukacita.
Sukacita akan kebangkitan Yesus. Selanjutnya, Maria Magdalena tidak mau
bersukacita dalam dirinya sendiri. Ia pergi kepada murid-murid untuk
menyampaikan kabar gembira tersebut. “Aku telah melihat Tuhan” (Yoh 20:18).
Kabar penampakan Tuhan yang bangkit tidak sekedar menjadi berita informatif.
Tetapi sungguh mengedukasi dan menguatkan pribadi Maria untuk tidak larut dalam
kegelisaan dan kesedihan. Maria harus segera keluar dari “cangkang
ketakutannya” dan kemudian menjadi pribadi yang semakin berani membawa warta
Tuhan yang bangkit kepada segenap orang.
Pengalaman Maria melihat Tuhan yang bangkit dalam hidupnya menjadi
pengalaman setiap orang beriman pada masa kini. Kita harus mampu dengan jeli
melihat wajah Tuhan dalam setiap pengalaman hidup kita. Setiap pengalaman hidup
adalah pengalaman rohani yang menyiratkan wajah Tuhan. Wajah Tuhan yang terwujud dalam diri orang-orang yang sementara
mengalami kesakitan, penderitaan, dukacita dan tersingkir dalam hidup. Kita
dituntut untuk tidak sekedar berhenti pada tataran compassion atau sekedar menunjukkan keprihatinan. Namun, hanya
dengan kepekaan nuranilah, kita bisa masuk dalam lingkaran para wajah Tuhan
tersebut untuk memberikan pertolongan, penguatan dan pendampingan kepada
mereka. Dengan cara yang paling sederhana, apa pun itu, kehadiran kita adalah
cara terbaik untuk menyembuhkan dan menyelamatkan hidup mereka. Kita berbuat
demikian karena kita telah melihat Tuhan dalam pengalaman spiritual hidup kita
masing-masing. Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar