Mat 13:47-53
Salah
satu hal yang diangkat Yesus dari dunia nelayan untuk menggabarkan realitas
Kerajaan Allah adalah pukat. Pukat
dilabuh di laut untuk mengumpulkan berbagai jenis ikan.
Entah
baik atau tidak baik, kecil atau besar, semuanya dikumpulkan di dalam pukat.
Meskipun
semua ikan dikumpulkan dalam pukat, akan tetapi tidak semuanya diambil. Ada
pemilahan. Yang baik dikumpulkan ke dalam pasu; yang tidak baik dibuang.
Demikianlah biasanya yang dilakukan oleh seorang nelayan.
Seperti
nelayan yang memisahkan ikan yang baik dari yang tidak baik dan membawa yang
baik dan membuang yang tidak baik, demikian pula halnya pengadilan yang terjadi
pada akhir zaman bagi semua orang.
Akan
tiba saatnya terjadi pemilahan mana orang baik dan mana orang yang tidak baik.
Yang baik dibawa masuk ke dalam Kerajaan Allah dan menikmati hidup dalam
sukacita. Yang tidak baik akan dibuang ke dalam dapur api dan mengalami
penderitaan seperti dikatakan: “di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan
gigi” (ay 50).
Dengan
perumpamaan pukat ini Yesus ingin mengemukakan dua kenyataan: kenyataan
sekarang yang kini sedang berlangsung dan kenyataan yang akan terjadi kemudian
pada akhir zaman. Namun keduanya tidak terpisahkan. Yang sekarang terjadi
menentukan yang akan datang. Baik atau buruk yang akan datang ditentukan
sekarang ini di atas dunia ini (hic et
nunc).
Tentang
kenyataan sekarang di dunia ini, gereja adalah tempat kita semua dikumpulkan. Semua
orang itu berbeda latar belakangnya. Yang kaya dan miskin, yang hitam dan
putih, yang keriting dan lurus, yang berkuasa dan rakyat jelata semuanya
berkumpul di dalam gereja. Akan tetapi tidak semua yang dikumpulkan itu dapat
mengambil bagian yang sama dalam Kerajaan Allah pada akhir zaman. Hanya orang
baiklah yang memiliki garansi untuk masuk ke dalamnya.
Baik
atau buruknya orang tidak ditentukan oleh aspek-aspek formal-legalistis,
melainkan oleh penghayatan hidup yang benar berdasarkan firman Tuhan. Tidak
cukup hanya mengandalkan telah menerima baptisan dan masuk ke dalam persekutuan
gerejani.
Orang
berpikir bahwa baptisan yang telah membawanya masuk ke dalam persekutuan dengan
gereja menjadi garansi baginya untuk masuk Kerajaan Allah. Orang lupa berpikir
bahwa ada janji baptis yang mesti dihidupi agar rahmat baptisan itu dapat
mengubah keadaannya yang lama menjadi baru. Hanya mengandalkan baptisan ritual
seorang tidak akan dapat berubah menjadi orang-orang yang memiliki rahmat
baptisan.
Maka
di dalam gereja juga sesungguhnya kita menemukan kenyataan bahwa ada orang yang
tidak berada dalam keadaan rahmat. Kelihatannya Katolik akan tetapi tidak
sungguh-sungguh Katolik.
Mungkin
mereka itulah yang setiap saat berseru dan terus berseru Tuhan, Tuhan, akan
tetapi tidak pernah melakukan kebaikan (bdk Mat 7:21). Orang-orang yang rajin
ke altar akan tetapi tidak membawa Dia yang dijumpai di antar ke tengah
kehidupan sosial dengan sesamanya di tengah masayarakat. Ada juga orang yang
degil hati. Mereka tetap berkanjang dalam kejahatan meski kepada mereka Tuhan
berulang kali datang dan menawarkan kebaikan.
Intinya
adalah bahwa kita semua yang bergabung di dalam gereja tidak menjadi jaminan
dasar untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah, kecuali kalau kita didapati
Tuhan sebagai orang baik. Orang baik adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa
di sorga.
Setiap
kita tidak selalu hadir sebagai orang baik dalam pukat-gereja. Kita adalah
pendosa yang berjuang untuk menemukan keselamatan di dalam melakukan kehendak Bapa
di surga.
Maka
selagi kita diberi kesempatan Tuhan untuk hidup di dunia ini, baiklah kita
memandang sebagai kesempatan untuk bertobat dan membarui hidup kita. Oleh
karena yang menentukan bagi kita adalah kualitas hidup yang baik, maka
kesempatan sekarang kita bangun hidup yang baik dengan melakukan perintah cinta
kasih dalam hidup kita.*** Apol Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar