Rabu, 15 Juli 2020

Aku Akan Memberi Kelegaan Kepadamu


Mat 11:28-30
Tidak pernah ada kelegaan yang sempurna yang dapat manusia alami sampai ketika ia datang dan menemukannya di dalam Tuhan.

Manusia sejak diciptakan dilengkapi dengan sejumlah kecerdasan yang dapat digunakan untuk kepentingan hidupnya.

Kemampuan budi yang disokong dengan kemampuan yang lain dan yang dikembangkan lebih jauh melalui dunia pendidikan sangatlah membantu manusia mendalami dan menemukan siapa itu dirinya. Dengan memahami secara baik dirinya, orang akan sangat terbantu untuk menjalani hidup secara sehat.

Dalam dunia psikologi, sisi kejiwaan dan kerohanian manusia diteropong untuk menemukan masalah-masalah mendasar yang menghambat pertumbuhan manusia secara sehat. Setidaknya banyak persoalan tentang manusia menemukan jawabannya di dalam analisa dan terapi psikologis. Beban kehidupan yang mengganggu keseimbangan hidup dapat diminimalisir,  jika memang tidak dapat dihilangkan sama sekali.

Intinya kita mengakui bahwa manusia dengan kecerdasan yang dimiliki, juga teknologi yang dihasilkannya, dapat menyelesaikan persoalan yang dialami dalam hidup kita dan membantu kita untuk hidup dengan baik dan bertumbuh secara sehat.  

Meskipun demikian, kita tidak dapat menampik kenyataan bahwa sehebat-hebatnya manusia dan secanggih-canggihnya teknologi yang dihasilkan untuk kepentingan manusia, toh pada akhirnya kita akan sampai juga pada ambang batas; titik di mana kita tidak bisa berbuat lebih jauh lagi. Pada titik inilah kita menengada pada Dia yang menciptakan kita dan menemukan kesempurnaan penyelesaian atas persoalan-persoalan mendasar dalam hidup kita.

Tuhan lebih tahu kebutuhan kita; Ia merasakan kesulitan dan beban kita; Dia lebih peka melebihi kepekaan kita. Sehingga sebelum kita datang kepada Dia, Tuhan telah lebih dahulu mengajak kita: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat”. Bahkan ketika kita kehilangan harapan oleh beratnya beban yang kita pikul, Ia memanggil kita untuk datang kepada-Nya.

Tuhan tidak sekadar memanggil kita datang kepada-Nya. Ia yang tahu kebutuhan dasar hidup kita akan memberikannya kepada kita. Segala beban kehidupan yang mendatangkan penderitaan lahir dan batin akan diambil dari kita dan kepada kita diberikan kuk dan beban yang ringan. Tuhan menggantikan posisi kita untuk memikul beban kita dan kepada kita Ia memberikan kuk dan beban-Nya. Ia mengambil yang berat dari kita dan memberikan kita yang ringan.

Kuk dan beban yang ringan yang diberikan kepada kita itulah yang mendatangkan sukacita dan kegembiraan dalam hidup kita. Itulah kelegaan yang diberikan Tuhan. Dan kelegaan itu sempurna. Yesus mengatakan: “...jiwamu akan mendapat ketenangan”.

Kuk dalam arti sesungguhnya adalah kayu melengkung yang dipasang pada leher lembu untuk menarik bajak. Kayu itu mengekang lembu agar tidak leluasa dan bergerak sesuai keinginan pembajak.

Pada masa Yesus hidup, Ia melihat kenyataan bahwa orang Yahudi hidup dengan menjalankan hukum Taurat yang begitu ketat. Ada sekian banyak hukum dan detailnya wajib dijalankan secara saksama menjadikan hukum itu bak kuk yang mengekang.

Tidak hanya mendatangkan denda yang harus dibayar bila hukum itu diabaikan, tetapi juga menimbulkan beban batin oleh karena rasa bersalah yang mendalam, juga rasa malu oleh karena dilihat dan dibicarakan orang. Beban-beban yang dialami itu dirasakan bagai kuk yang menekan.

Yesus mengundang orang untuk datang kepada-Nya agar Ia membebaskan mereka dari kuk aturan dengan segala detailnya yang mengekang dan menekan, dan menggantikannya dengan kuk dan beban yang ringan yang mendatangkan suacita. Kuk dan beban itu adalah: “lemah lembut dan rendah hati”.

Kita semua diajak dan dipanggil Tuhan untuk menerima kuk dan beban yang diberikan-Nya. Kuk dan beban-Nya itu memang ringan dan memberikan kelegaan yang sempurna, akan tetapi tidak selalu mudah untuk dilaksanakan. Mengingat hal ini, maka Yesus mengajak kita pula untuk belajar dari Dia agar kita menjadi lemah-lembut dan rendah hati seperti Dia.

Dalam hidupnya, Yesus berkeliling sambil berbuat baik. Ia mengajar dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Ia berbelas kasih kepada semua orang, terutama kepada orang-orang kecil. Sikap dan perbuatan yang menunjukkan kemurahan hati inilah yang patut kita teladani dalam menjalankan hidup kita baik di tengah keluarga kita, di tengah lingkungan kerja kita dan di tengah masyarakat.

Marilah kita menjadi murid-murid-Nya yang selalu bermurah hati; kita selalu menunjukkan kelemahlembutan dan kerendahan hati dalam hidup kita. Percayalah kita akan menemukan kelegaan yang sempurna yang tidak pernah diberikan oleh siapapun.*** Apol Wuwur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar