Mat 11:28-30
Tidak pernah ada kelegaan yang
sempurna yang dapat manusia alami sampai ketika ia datang dan menemukannya di
dalam Tuhan.
Manusia sejak diciptakan dilengkapi
dengan sejumlah kecerdasan yang dapat digunakan untuk kepentingan hidupnya.
Kemampuan budi yang disokong dengan
kemampuan yang lain dan yang dikembangkan lebih jauh melalui dunia pendidikan sangatlah
membantu manusia mendalami dan menemukan siapa itu dirinya. Dengan memahami
secara baik dirinya, orang akan sangat terbantu untuk menjalani hidup secara
sehat.
Dalam dunia psikologi, sisi kejiwaan
dan kerohanian manusia diteropong untuk menemukan masalah-masalah mendasar yang
menghambat pertumbuhan manusia secara sehat. Setidaknya banyak persoalan
tentang manusia menemukan jawabannya di dalam analisa dan terapi psikologis. Beban
kehidupan yang mengganggu keseimbangan hidup dapat diminimalisir, jika memang tidak dapat dihilangkan sama
sekali.
Intinya kita mengakui bahwa manusia
dengan kecerdasan yang dimiliki, juga teknologi yang dihasilkannya, dapat
menyelesaikan persoalan yang dialami dalam hidup kita dan membantu kita untuk
hidup dengan baik dan bertumbuh secara sehat.
Meskipun demikian, kita tidak dapat
menampik kenyataan bahwa sehebat-hebatnya manusia dan secanggih-canggihnya
teknologi yang dihasilkan untuk kepentingan manusia, toh pada akhirnya kita
akan sampai juga pada ambang batas; titik di mana kita tidak bisa berbuat lebih
jauh lagi. Pada titik inilah kita menengada pada Dia yang menciptakan kita dan
menemukan kesempurnaan penyelesaian atas persoalan-persoalan mendasar dalam
hidup kita.
Tuhan lebih tahu kebutuhan kita; Ia
merasakan kesulitan dan beban kita; Dia lebih peka melebihi kepekaan kita. Sehingga
sebelum kita datang kepada Dia, Tuhan telah lebih dahulu mengajak kita:
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat”. Bahkan ketika
kita kehilangan harapan oleh beratnya beban yang kita pikul, Ia memanggil kita
untuk datang kepada-Nya.
Tuhan tidak sekadar memanggil kita
datang kepada-Nya. Ia yang tahu kebutuhan dasar hidup kita akan memberikannya
kepada kita. Segala beban kehidupan yang mendatangkan penderitaan lahir dan
batin akan diambil dari kita dan kepada kita diberikan kuk dan beban yang
ringan. Tuhan menggantikan posisi kita untuk memikul beban kita dan kepada kita
Ia memberikan kuk dan beban-Nya. Ia mengambil yang berat dari kita dan
memberikan kita yang ringan.
Kuk dan beban yang ringan yang
diberikan kepada kita itulah yang mendatangkan sukacita dan kegembiraan dalam
hidup kita. Itulah kelegaan yang diberikan Tuhan. Dan kelegaan itu sempurna. Yesus
mengatakan: “...jiwamu akan mendapat ketenangan”.
Kuk dalam arti sesungguhnya adalah
kayu melengkung yang dipasang pada leher lembu untuk menarik bajak. Kayu itu
mengekang lembu agar tidak leluasa dan bergerak sesuai keinginan pembajak.
Pada masa Yesus hidup, Ia melihat
kenyataan bahwa orang Yahudi hidup dengan menjalankan hukum Taurat yang begitu
ketat. Ada sekian banyak hukum dan detailnya wajib dijalankan secara saksama
menjadikan hukum itu bak kuk yang mengekang.
Tidak hanya mendatangkan denda yang
harus dibayar bila hukum itu diabaikan, tetapi juga menimbulkan beban batin
oleh karena rasa bersalah yang mendalam, juga rasa malu oleh karena dilihat dan
dibicarakan orang. Beban-beban yang dialami itu dirasakan bagai kuk yang
menekan.
Yesus mengundang orang untuk datang
kepada-Nya agar Ia membebaskan mereka dari kuk aturan dengan segala detailnya
yang mengekang dan menekan, dan menggantikannya dengan kuk dan beban yang
ringan yang mendatangkan suacita. Kuk dan beban itu adalah: “lemah lembut dan
rendah hati”.
Kita semua diajak dan dipanggil Tuhan
untuk menerima kuk dan beban yang diberikan-Nya. Kuk dan beban-Nya itu memang
ringan dan memberikan kelegaan yang sempurna, akan tetapi tidak selalu mudah
untuk dilaksanakan. Mengingat hal ini, maka Yesus mengajak kita pula untuk
belajar dari Dia agar kita menjadi lemah-lembut dan rendah hati seperti Dia.
Dalam hidupnya, Yesus berkeliling
sambil berbuat baik. Ia mengajar dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Ia
berbelas kasih kepada semua orang, terutama kepada orang-orang kecil. Sikap dan
perbuatan yang menunjukkan kemurahan hati inilah yang patut kita teladani dalam
menjalankan hidup kita baik di tengah keluarga kita, di tengah lingkungan kerja
kita dan di tengah masyarakat.
Marilah kita menjadi murid-murid-Nya
yang selalu bermurah hati; kita selalu menunjukkan kelemahlembutan dan
kerendahan hati dalam hidup kita. Percayalah kita akan menemukan kelegaan yang
sempurna yang tidak pernah diberikan oleh siapapun.*** Apol Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar