RAPAT EVALUASI
KEGIATAN IBADAH MASA PENDEMI COVID-19
Bertempat di ruang Urusan Agama Katolik, Kantor Kementerian Agama Kab.
Lembata, hari Kamis (17/7/2020) diadakan rapat evaluasi. Kegiatan evaluasi
kerja ini dihadari oleh Kepala Seksi Urusan Agama Katolik Kantor Kementerian
Agama Kab. Lembata, Laurensius Leuweheq, empat orang penyuluh agama Katolik
PNS, dua orang pegawai PNS dan satu orang Pegawai PTT.
Rapat evaluasi ini dimoderatori oleh salah seorang penyuluh agama Katolik,
Apolonius Ado Atawuwur, S.Fil, M.Th.
“Pertemuan kita kali ini adalah rapat evaluasi berkenaan dengan laporan
perjalanan dinas yang telah kita lakukan ke paroki-paroki”, demikian sapaan
awal dari moderator, Apol Ado, sapaan akrab dari Apolonius Ado Atawuwur.
Ada tiga poin utama pertemuan, yakni pertama terkait koodinasi layanan
ibadat agama Katolik yang dilakukan selama masa pandemi sampai memasuki era new
normal. Kedua, konsultasi layanan penyuluh non PNS pada masa pendemik Covid-19.
Dan ketiga koordinasi terkait laporan penyuluh agama Katolik non PNS dari
setiap paroki.
Setelah menyampaikan tiga agenda utama pertemuan tersebut, Apol Ado
mempersilahkan kepada para peserta untuk memberikan laporan perjalanan dinas
dengan merujuk pada tiga poin agenda di atas.
Kepala Seksi Urakat (Urusan Agama Katolik), Laurensius Leuweheq, S.Ag mendapat
kesempatan pertama untuk menyampaikan laporan perjalanan dinas. Dalam
laporannya, Kepala Seksi Urakat mengatakan bahwa ia melakukan kunjungan ke dua
paroki, yakni Paroki St. Wilhelmus Lodoblolong dan Paroki St. Laurensius
Hadakewa.
Terkait dengan pelaksanan ibadah selama masa pendemi Covid-19, beliau
mengatakan bahwa dua paroki ini tetap melaksanakan ibadah di gereja tanpa
kehadiran umat. Yang berada di gereja hanya imam dan petugas liturgi. Umat
mengikuti proses kegiatan ibadah dari rumah masing-masing dengan jasa alat
pengeras suara (toa).
Khusus untuk Paroki Laurentius
Hadakewa, ada dua stasi yang menggunakan
wahana live streaming yakni stasi
pusat St. Laurensius Hadakewa dan Stasi St. Stefanus Martir Tanatreket.
Sedangkan beberapa stasi yang lain tetap memakai pengeras suara.
Untuk pelaksanaan ibadah menjelang masa new normal, Pak Lorens menandaskan bahwa pada prinsipnya kedua
paroki sudah siap melaksanakannya akan tetapi masih menunggu surat keputusan
dari Bapa Uskup Keuskupan Larantuka.
Lorens Leuweheq juga menggambarkan keterlibatan para penyuluh agama
Katolik non PNS dalam mendukung pelaksanaan ibadah selama masa pendemi. Mereka
bertugas menyusun teks ibadah dan membawakannya pada saat pelaksanaan ibadah.
Ada juga penyuluh agama yang proaktif menjadi relawan gugus tugas Covid-19 di
stasinya.
Ketika disinggung mengenai bentuk pelaporan kegiatan penyuluhan dan bimbingan
selama masa pendemi, Lorens menegaskan bahwa para penyuluh agama Katolik dari
kedua paroki sudah siap menyesuaikan bentuk pelaporan mereka dengan format yang
diturunkan dari pihak Kementerian Agama Kab. Lembata.
Pada kesempatan kedua, Apol Ado memberikan waktu kepada Claudya Namang
untuk menyampaikan laporan perjalanan dinasnya. “Saya mengunjungi dua paroki
yakni Paroki St. Bernardus Abas Tokojaeng dan Sta. Maria Bintang Lau Waipukang”,
kata Dian, panggilan Claudia Emilia Gelu
Namang. Menurut Dian, selama masa Pandemi Covid-19, pelaksanaan ibadah di dua
paroki ini tetap dilaksanakan. Namun ada perbedaan. Untuk Paroki St. Bernardus
Abas Tokojaeng, ibadah tetap melibatkan umat dengan tetap memperhatikan
protokol kesehatan seperti jumlah dibatasi, penggunaan masker dan menjaga jarak.
Selain itu, pengeras suara (toa) tetap
dipakai agar umat yang lain dapat mengikuti pelaksanaan ibadah dari rumah
mereka masing-masing.
Sedangkan di Paroki Sta. Maria Bintang Laut Waipukang, pelaksanaan ibadah
dengan menggunakan metode live streaming yang
dilaksanakan dari pusat paroki.
Tentang keterlibatan para penyuluh agama non PNS, lanjut Dian, hanya
penyuluh dari Paroki St. Bernardus Abas yang terlibat aktif membantu proses
persiapan dan pelaksanaan ibadah. Sedangkan para penyuluh agama dari Paroki
Sta. Maria Bintang Laut Waipukang hanya membantu kegiatan administrasi di
paroki.
Selanjutnya, Apol Ado memberikan kesempatan kepada ASN yang melakukan
perjalanan dinas ke paroki Sta. Maria Ratu Damai Mingar dan St. Yosef Boto untuk
menyampaikan laporannya. Apol sendiri pada kesempatan pertama menyampaikan
laporan perjalanan dinasnya ke Paroki Sta. Maria Ratu Damai Mingar.
Menurut Apol, umat Paroki Sta. Maria Ratu Damai sangat ketat menjalankan
aturan protokoler kesehatan. Umat tetap mengikuti pelaksanaan ibadah dari rumah
masing-masing. Pengeras suara (toa) masih menjadi andalan utama, walaupun
sering macet dan harus diganti dengan alat yang baru.
Untuk persiapan menjelang new
normal, Apol menjelaskan bahwa pihak paroki sudah melakukan pertemuan dan
mensosialikasikan aturan protokoler yang diturunkan pemerintah daerah, akan
tetapi pelaksanaan ibadah masih menunggu surat keputusan dari Bapa Uskup
Larantuka.
Tentang aktivitas penyuluh agama Katolik non PNS selama masa pandemi
Covid-19, dikatakan, mereka tetap
melakukan kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama kepada kelompok sasaran
(Sekami dan Sekar) dengan jumlah yang sangat terbatas.
Mengenai bentuk laporan kegiatan selama masa Pandemi Covid-19, para
penyuluh agama Katolik non PNS masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan
laporan mereka sesuai dengan format kegiatan selama masa pendemi.
Untuk pelaksanaan kegiatan ibadah selama masa pandemi di Paroki St. Yosef
Boto, tidak jauh berbeda dengan Paroki Sta. Maria Ratu Damai Mingar, demikian
digambarkan oleh Atanasius Dewantor yang bertugas ke paroki tersebut. Umat
tetap mengikuti ibadah dari rumah masing-masing dengan jasa alat pengeras suara
yang dipancarkan dari gereja. Hanya kendala yang dialami adalah pengeras suara
sering mengalami keonaran.
Wanto, sapaan Atanasius Dewantoro, melanjutkan bahwa tantangan lain yang
terjadi adalah ada umat yang tidak merasa fokus selama ibadah karena situasi di
sekitarnya tidak kondusif (ada suara bising).
Untuk menyambut pelaksanaan ibadah di masa new normal, Wanto mengatakan bahwa pihak paroki masih menunggu
instruksi terbaru dari Bapa Uskup Larantuka.
Wanto kemudian menjelaskan peran penyuluh agama Katolik non PNS yang
sangat aktif selama masa pandemi di tempat tugasnya masing-masing. Ada penyuluh yang menggantikan peran imam
membawakan kotbah di stasi-stasi. Ada juga penyuluh yang bisa menyusun naskah
sekaligus membawakannya pada saat pelaksanaan ibadah. Penyuluh yang lain aktif melakukan konsultasi
individu dari rumah ke rumah.
Para penyuluh agama Katolik non PNS ini, menurut Wanto, selain sangat
aktif di paroki, mereka juga membangun hubungan dan kerjasama yang baik dengan
pihak paroki, terutama pastor paroki dan pastor pembantu.
Untuk format laporan kegiatan bimbingan dan penyuluhan selama masa
pendemi, Wanto mengatakan bahwa para penyuluh masih sementara bekerja untuk
menyelesaikan laporan kegiatan mereka.
Pada kesempatan berikutnya, Apol memberikan waktu kepada dua orang ASN, Yohanes
Kia dan Bernardus Wolo untuk menyampaikan laporan kunjungan mereka ke Paroki
St. Yohanes Paulus II Wulandoni dan St. Petrus-Paulus Lamalera.
John, sapaan dari Yohanes Kia, menyampaikan bahwa selama masa Pandemi
ini, umat mengikuti ibadah dari rumah masing-masing melalui alat pengeras
suara.
Mengenai peran penyuluh agama Katolik non PNS, John mengatakan bahwa
peran mereka sangat aktif dalam membantu proses pelaksanaan ibadah selama masa
pendemi. Selain itu, para penyuluh juga rajin mengunjungi umat dalam rangka
melakukan pendampingan dan bimbingan.
Di Paroki St. Petrus-Paulus Lamalera, Bernardus Wolo memaparkan situasi
yang tidak jauh berbeda. Memang ada umat yang datang ke gereja untuk beribadah.
Tetapi dengan jumlah yang sangat minimalis (5-10 orang) dan tetap menjaga jarak. Sedangkan umat yang
lain mengikuti ibadah dari rumah masing-masing melalui pengeras suara yang
dipancarkan dari gereja.
Bernard menegaskan bahwa peran penyuluh agama Katolik non PNS di paroki
ini sangat aktif dan militan. Kehadiran mereka sangat membantu gereja paroki. Mereka
mendapat kepercayaan penuh dari pastor paroki. “Mereka menjadi garda terdepan
dalam membantu pastor paroki untuk melaksanakan kegiatan yang sifatnya
konsultatif entah itu dengan pihak DPP (Dewan Pastoral Paroki) maupun dengan
berbagai kelompok kategorial”, tandas Bernard. Selain itu menurut Bernard, para
penyuluh agama juga mempunyai tugas utama menyusun teks ibadah selama masa
pendemi.
Pada kesempatan terakhir, Apol Ado memberikan kesempatan kepada dua ASN,
Leonardus Bage dan Daniel Kuma untuk memaparkan laporan perjalanan dinasnya ke
dua paroki yang berada di wilayah Kedang.
Leonardus Bage melaporkan bahwa kegiatan ibadah selama masa pandemi
Covid-19 di Paroki Salib Suci Holea pada awalnya menggunakan metode live streaming. Tetapi dalam perjalanan
karena kekuatan singal kurang bagus maka diganti dengan pengeras suara; seperti
yang dilaksanakan di paroki-paroki lain. Leo menambahkan, yang berada di gereja
hanya imam dan petugas liturgi. Sedangkan umat yang lain mengikuti kegiatan
ibadah dari rumah masing-masing. Tantangan yang dihadapi seperti yang dialami
oleh paroki lain, yakni pengeras suara kadang macet sehingga menggangu jalannya
kegiatan ibadah.
Leo Bage juga mengapresiasi para
penyuluh agama Katolik non PNS di paroki ini yang sudah bekerja dengan ulet
menggandakan naskah ibadat dan kemudian membawakannya pada saat pelaksanaan
ibadah. Para penyuluh agama Katolik juga menggunakan media online untuk
menyebarkan Sabda Allah kepada umat paroki. Selain itu, mereka juga giat
melakukan kunjungan kepada anak Sekami dan Sekar selama masa pandemi dengan
tetap mematuhi protokoler kesehatan (menjaga jarak dan memakai masker).
Salah satu kendala yang dihadapi
para penyuluh agama di paroki ini menurut Leo Bage adalah adanya miskomunikasi
dengan pastor paroki. Sehingga membawa dampak ikutan berupa laporan para
penyuluh agama Katolik non PNS yang tidak mendapat pengesahan dari pastor
paroki. Solusinya, anggota Dewan
Pastoral Paroki setempat yang menandatangani laporan para penyuluh agama
Katolik non PNS.
Sedangkan untuk wilayah paroki Sta. Maria Pembantu Abadi Aliuroba, Dan
Kuma menjelaskan bahwa pelaksanaan ibadah selama masa pandemi pada awalnya
menggunakan metode live streaming.
Tetapi kemudian diganti dengan pengeras suara seperti pada paroki-paroki yang
lain.
Menyangkut peran penyuluh, Dan Kuma menggarisbawahi peran penyuluh yang
amat sentral selama masa pandemi berlangsung. Para penyuluh agama Katolik
bertugas menyusun naskah panduan ibadat. Selain itu, mereka melakukan kunjungan
keluarga dan memimpin ibadat di gua Maria dengan jumlah umat yang terbatas.
Dalam sesi pendalaman materi evaluasi, Atanasius Dewantoro menjelaskan
pentingnya peran para pegawai Urakat dalam melakukan kontrol dan evaluasi
terhadap laporan para penyuluh agama Katolik non PNS. Tidak hanya menyangkut format laporan tetapi
yang lebih penting adalah isi dari laporan yang dibuat.
Daniel Kuma mengusulkan supaya para penyuluh agama Katolik non PNS harus memiliki
RKO (Rencana Kerja Operasional) dan Jadwal kegiatan bimbingan dan penyuluhan
agama. Bernardus Wolo juga menekankan peran penyuluh agama Katolik non PNS
dalam melakukan tugas konsultatif, seperti yang dialaminya di paroki St.
Petrus-Paulus Lamalera.
Sebelum menutup rapat evaluasi, Apol Ado mengafirmasi beberapa poin yang
menjadi intisari pertemuan. Pertama, pelaksanaan ibadat selama masa Pandemi
Covid-19 sudah terjadi sesuai dengan kondisi riil di paroki masing-masing.
Kedua, pelaksanaan fungsi penyuluh tidak terbatas pada kegiatan menyampaikan
warta sabda Allah. Tetapi melingkupi juga tugas koordinasi, konsultasi,
advokasi dan edukasi. Ketiga, pihak
gereja dalam hal ini bertindak sebagai mitra kerja dari Kantor Kementerian
Agama Republik Indonesia, sangat proaktif menjalankan protokol kesehatan selama
masa pandemi Covid- 19. ***Atanasius Dewantoro Labaona***