Kamis, 30 Juli 2020

Hanya Ikan Yang Baiklah Yang Dikumpulkan

Mat 13:47-53

Salah satu hal yang diangkat Yesus dari dunia nelayan untuk menggabarkan realitas Kerajaan Allah adalah pukat.  Pukat dilabuh di laut untuk mengumpulkan berbagai jenis ikan.

Entah baik atau tidak baik, kecil atau besar, semuanya dikumpulkan di dalam pukat.

 

Meskipun semua ikan dikumpulkan dalam pukat, akan tetapi tidak semuanya diambil. Ada pemilahan. Yang baik dikumpulkan ke dalam pasu; yang tidak baik dibuang. Demikianlah biasanya yang dilakukan oleh seorang nelayan.

 

Seperti nelayan yang memisahkan ikan yang baik dari yang tidak baik dan membawa yang baik dan membuang yang tidak baik, demikian pula halnya pengadilan yang terjadi pada akhir zaman bagi semua orang.

 

Akan tiba saatnya terjadi pemilahan mana orang baik dan mana orang yang tidak baik. Yang baik dibawa masuk ke dalam Kerajaan Allah dan menikmati hidup dalam sukacita. Yang tidak baik akan dibuang ke dalam dapur api dan mengalami penderitaan seperti dikatakan: “di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi” (ay 50).

 

Dengan perumpamaan pukat ini Yesus ingin mengemukakan dua kenyataan: kenyataan sekarang yang kini sedang berlangsung dan kenyataan yang akan terjadi kemudian pada akhir zaman. Namun keduanya tidak terpisahkan. Yang sekarang terjadi menentukan yang akan datang. Baik atau buruk yang akan datang ditentukan sekarang ini di atas dunia ini (hic et nunc).

 

Tentang kenyataan sekarang di dunia ini, gereja adalah tempat kita semua dikumpulkan. Semua orang itu berbeda latar belakangnya. Yang kaya dan miskin, yang hitam dan putih, yang keriting dan lurus, yang berkuasa dan rakyat jelata semuanya berkumpul di dalam gereja. Akan tetapi tidak semua yang dikumpulkan itu dapat mengambil bagian yang sama dalam Kerajaan Allah pada akhir zaman. Hanya orang baiklah yang memiliki garansi untuk masuk ke dalamnya.

 

Baik atau buruknya orang tidak ditentukan oleh aspek-aspek formal-legalistis, melainkan oleh penghayatan hidup yang benar berdasarkan firman Tuhan. Tidak cukup hanya mengandalkan telah menerima baptisan dan masuk ke dalam persekutuan gerejani.

 

Orang berpikir bahwa baptisan yang telah membawanya masuk ke dalam persekutuan dengan gereja menjadi garansi baginya untuk masuk Kerajaan Allah. Orang lupa berpikir bahwa ada janji baptis yang mesti dihidupi agar rahmat baptisan itu dapat mengubah keadaannya yang lama menjadi baru. Hanya mengandalkan baptisan ritual seorang tidak akan dapat berubah menjadi orang-orang yang memiliki rahmat baptisan.

 

Maka di dalam gereja juga sesungguhnya kita menemukan kenyataan bahwa ada orang yang tidak berada dalam keadaan rahmat. Kelihatannya Katolik akan tetapi tidak sungguh-sungguh Katolik.

 

Mungkin mereka itulah yang setiap saat berseru dan terus berseru Tuhan, Tuhan, akan tetapi tidak pernah melakukan kebaikan (bdk Mat 7:21). Orang-orang yang rajin ke altar akan tetapi tidak membawa Dia yang dijumpai di antar ke tengah kehidupan sosial dengan sesamanya di tengah masayarakat. Ada juga orang yang degil hati. Mereka tetap berkanjang dalam kejahatan meski kepada mereka Tuhan berulang kali datang dan menawarkan kebaikan.

 

Intinya adalah bahwa kita semua yang bergabung di dalam gereja tidak menjadi jaminan dasar untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah, kecuali kalau kita didapati Tuhan sebagai orang baik. Orang baik adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa di sorga.

 

Setiap kita tidak selalu hadir sebagai orang baik dalam pukat-gereja. Kita adalah pendosa yang berjuang untuk menemukan keselamatan di dalam melakukan kehendak Bapa di surga.

 

Maka selagi kita diberi kesempatan Tuhan untuk hidup di dunia ini, baiklah kita memandang sebagai kesempatan untuk bertobat dan membarui hidup kita. Oleh karena yang menentukan bagi kita adalah kualitas hidup yang baik, maka kesempatan sekarang kita bangun hidup yang baik dengan melakukan perintah cinta kasih dalam hidup kita.*** Apol Wuwur***


Senin, 27 Juli 2020

ORANG BENAR AKAN BERCAHAYA SEPERTI MATAHARI


Yer 14:17-22; Mat 13:36-43
            Menjadi orang baik itu sulit untuk diwujudkan, tetapi menjadi orang jahat super mudah, mengapa? Karena menjalani hidup sebagai orang kristiani yang baik, kita harus menekan ogoisme diri kita, napsu-napsu liar kita yang tidak teratur, tutur kata, tindakan dan perbuatan kita berorientasi pada kehendak Allah semata. Apabila kita mampu membangun hidup seperti yang dikehendaki Allah maka kita akan bercahaya seperti matahari di dalam kerajaan sorga. Berbeda dengan orang jahat, kapan dan dimana saja ia dapat berbuat jahat karena ia tidak berkiblat kepada siapa-siapa yang menjadi teladan hidupnya, kecuali pada kekuatan iblis.

             Yesus dalam warta Injil-Nya hari ini mengisahkan sebuah perumpamaan tentang seorang penabur yang keluar untuk menabur benih yang baik. Tetapi pada malam hari datanglah musuh yang menaburkan benih lalang. Pemilik lahan benih yang baik tahu tentang perilaku si jahat tetapi ia membiarkan gandum dan lalang tumbuh bersama-sama sampai musim menuai datang. Pada saat itu gandum akan disimpan di lumbung sedangkan lalang dipotong dan dibakar. Disini kebaikan tumbuh bersamaan dengan kejahatan hingga Tuhan sendiri memisahkan orang baik dari orang jahat. Pengajaran Yesus dengan menggunakan perumpamaan sungguh membawa kesulitan besar bagi para murid-Nya. Tentang perumpamaan benih yang baik (gandum) dan lalang, Yesus menjelaskannya kembali kepada para muridNya: Si penabur benih yang baik adalah Anak Manusia (Yesus Kristus), Dialah utusan Allah untuk bersabda, melayani dan menebus dosa umat manusia. Lahan adalah dunia. Benih yang baik adalah anak-anak kerajaan. Lalang adalah anak-anak si jahat. Musuh yang menabur lalang adalah iblis. Saat menuai adalah akhir zaman dan penuainya adalah malaikat Tuhan.
            Penginjil Matius dalam warta sabda-Nya yang kita renungkan ini mengetengahkan tentang pola kehidupan manusia di dunia. Gandum dianalogikan Yesus sebagai kehidupan yang terarah pada kebaikan yang menjadi salah satu sifat Allah dan memiliki masa depan kerajaan sorga sedangkan ilalang dianalogikan Yesus sebagai kejahatan hidup yang akan mendapat hukuman berat di akhirat. Di dalam ladang tumbuh gandum dan lalang, karena keduanya tumbuh bersama-sama dan sulit dibedakan, maka pada musim menuai, keduanya tidak bisa mendapatkan perlakuan yang sama dan merata lagi. Gandum akan dituai dan disimpan di dalam lumbung sedangkan lalang akan dikumpulkan dan dibakar. Perumpamaan Yesus ini menekankan hal Kerajaan Sorga dalam kaitannya dengan penghakiman terakhir. Gandum atau orang baik yang patuh setia pada kehendak Allah dalam hidupnya memiliki kesempatan besar untuk masuk dalam kerajaan Sorga, sedangkan lalang atau orang jahat dan pendosa akan dikumpulkan dan dicampakan ke dalam api neraka sehingga di sana mereka akan mendapat ganjaran setimpal perbuatan mereka bahkan di sana akan terdengar ratap dan kertak gigi.

            Dua analogi sederhana di atas dipilih Yesus sesuai kehidupan nyata masyarakat Yahudi pada zamannya untuk menjelaskan penghakiman yang akan terjadi pada akhir zaman dan membantu para murid-Nya memahami pesan-Nya. Allah membiarkan orang baik dan orang jahat hidup berdampingan, Ia tidak serta merta memaksa atau menghabisi orang jahat dari hidupnya tetapi Ia memberikan kesempatan kepada orang jahat untuk bertobat. Pertobatan itu datang dari diri sendiri, harus ada kerendahan hati dalam diri untuk mengubah hidup ke jalan yang benar. Pertobatan juga tidak datang begitu saja dari orang lain, tetapi butuh perjuangan dan komitmen kuat untuk dapat berubah. Sedangkan orang baik atau gandum diharapkan tetap tumbuh subur, menghasilkan buah melimpah untuk banyak orang, memancarkan cahaya terang bagi orang lain agar dapat menyadarkan dan mempertobatkan orang-orang jahat untuk hidup dalam belas kasih Allah. Menjadi gandum atau menjadi ilalang adalah pilihan hidup sementara ketika kita masih berziarah di dunia ini, sedangkan kesempatan memperoleh hidup kekal di surga atau di neraka adalah konsekuensi dari pilihan sementara sebelumnya. Pilihan hidup itu erat pengaruhnya dengan pengadilan terakhir, karena Yesus akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya mengelompokan orang baik dari orang jahat dan pada saat itu perlakuan yang diterima juga akan berbeda antara keduanya.

            Analogi dari perumpamaan yang dipakai oleh Yesus tersebut mau mengajarkan kepada kita tentang dua tipe manusia yang berjuang saling mempengaruhi. Orang baik yang mengenal Allah arah hidupnya akan berkiblat pada kehendak Allah semata, mereka akan mengarahkan hidupnya pada hal-hal yang baik agar menjadi panutan bagi mereka yang jauh dari terang Ilahi.

            Hidup baik dan menjadi orang baik itu tidak mudah, sebab kejahatan dan pengaruh iblis akan semakin gencar menghalangi kesetiaan iman kita kepada Allah. Hidup doa membantu kita membangun relasi personal dengan Allah, agar rahmat dan kekuatan-Nya memampukan kita menghalau sejuta aral rintangan yang menjauhkan kita dari-Nya. Sedangkan tipe orang jahat akan selalu berjuang mengganggu, menjauhkan dan merusak kesetiaan iman manusia kepada Allah. Mereka akan menebarkan kejahatan bahkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Pertanyaan sederhana yang bisa kita ajukan adala: Apakah Allah hanya duduk diam sebagai penonton membiarkan orang-orang jahat melakukan aksi jahatnya merebut orang-orang baik? Dalam kasus ini Allah bukan sedang pro pada kejahatan, tetapi Ia memberikan kebebasan penuh kepada manusia untuk menentukan nasibnya kelak. Ia sedang menguji kesetiaan iman dan kedewasaan orang yang sungguh-sungguh mengandalkan-Nya. Kehadiran Yesus ke dunia dalam pewataan-Nya juga terlihat jelas bahwa tidak semua orang mendengar, menerima dan memahami seluruh pengajaran-Nya karena Iblis telah masuk ke dalam dunia dan menaburkan benih kejahatan di dalam hati manusia, agar kita ditarik jauh dari Allah kepada perbuatan dosa yang menawarkan kenikmatan duniawi sesaat tetapi kehilangan keselamatan kekal.
            Gambaran tentang penderitaan orang-orang yang tidak bertobat diungkapkan oleh Nabi Yeremia dalam bacaan pertama. Pada zaman Nabi Yeremia, dosa dan kejahatan tumbuh subur, karena itu Yeremia berdoa memohon ampun kepada Tuhan, “Ya Tuhan, kami insaf akan kejahatan kami dan akan kesalahan leluhur kami. Kami sungguh telah berdosa terhadapMu. Janganlah kiranya menolak kami dan janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaanMu. Ingatlah akan perjanjian-Mu dengan kami dan janganlah membatalkannya”. Yeremia adalah gambaran seorang nabi yang tidak mencari keselamatan bagi dirinya sendiri tetapi ia sungguh pendoa sejati yang melembutkan hati Tuhan dan percaya bahwa Tuhan pasti akan mengampuni orang-orang berdosa sehingga mereka tidak masuk dalam neraka. Ada satu keyakinan kuat dari Yeremia terhadap orang-orang jahat bahwa mereka akan berubah dan menjadi terang yang bercahaya seperti matahari di dalam kerjaan surga, apabila Allah berkenan mengampuni kedosaan mereka.

            Penjelasan Yesus atas perumpamaan lalang yang tumbuh di antara gandum membuat kita sadar bahwa dunia ini merupakan arena di mana kebaikan dan kejahatan saling berinteraksi. Yesus sendiri menabur benih yang baik di dalam hati orang yang bersedia mengikuti  Kehendak Allah, namun iblis pun berjuang merasuki hati manusia untuk membenci dan melawan Yesus. Sepanjang hidupnya manusia akan sulit membedakan siapa yang baik dan siapa yang jahat, namun Yesus akan mengutus malaikat-Nya untuk memisahkan orang benar dan orang jahat pada tempatnya yang berbeda. Orang jahat yang tidak terbuka dan melawan Allah akan dicampakkan ke dalam dapur api, di sana akan terdengar ratap dan kertak gigi, sedangkan orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan sorga.
            Sabda Tuhan hari ini menyadarkan, menginspirasi dan meneguhkan kita untuk membangun sikap tobat yang benar sehingga dapat membagi cahaya dan terang kepada sesama. Artinya, dengan pertobatan sejati, orang dapat mencapai kekudusan di hadirat Tuhan. Kesadaran untuk berubah dan bertobat tidak datang dari orang lain tetapi datang dari niat hati yang tulus dan komitmen pribadi sambil mengharapkan rahmat dan kemurahan hati Allah. Tuhan memanggil, memilih dan menentukan kita sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus dan tanpa cacat celah dihadirat-Nya agar kita tumbuh menjadi gandum yang baik yang menghasilkan buah kebaikan melimpah. Panggilan itu dikuduskan lagi dalam sakramen permandian dimana kita dikukuhkan sebagai anak-anak Allah dan anggota gereja, karena itu, kita seharusnya bukan lalang lagi karena iblis sudah dikalahkan oleh Yesus.

            Perumpamaan ini mengundang kita untuk tetap percaya pada kekuatan Allah yang selalu bekerja di antara kita meskipun kadang tampak tak berarti dan luput dari perhatian kita. Dengan kesadaran dan kepercayaan tersebut kita perlu terbuka dan membiarkan kekuatan Allah menyentuh, memberdayakan dan mengubah dunia serta hidup kita. Kita juga memiliki kewajiban untuk mendoakan sama saudara kita yang hidup dalam kegelapan dosa dan kejahatan, agar Allah mengampuni dan menganugerahkan rahmat pertobatan sehingga mereka dapat kembali ke jalan keselamatan yang dijanjikan-Nya. Sambil melakukan refleksi pribadi, kita masing-masing juga bisa mengintrospeksi diri: saya sebagai pribadi masuk kelompok yang mana: kelompok gandum atau lalang atau kedua-duanya atau seolah-olah...? Kiranya kita semua dapat menjalani hidup sementara ini sebagai orang baik dan benar sehingga kita dapat memancarkan cahaya terang seperti matahari di dalam kerjaan surga. Amin...***Bernad Wadan***

Selasa, 21 Juli 2020

AKU TELAH MELIHAT TUHAN


Yoh 20:1-2, 11-18-27
Hari ini kita memperingati seorang perempuan kudus yang menginpirasi karya pelayanan dalam gereja Katolik. Perempuan itu adalah Santa Maria Magdalena, yang perayaannya kita peringati setiap tanggal 22 Juli. Menurut keterangan empat penginjil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) Maria Magdalena  adalah seorang perempuan Yahudi pengikut Yesus yang ikut serta dalam pewartaan-pewartaan Yesus. Dan kemudian hari menjadi saksi mata peristiwa penyaliban, penguburan, dan kebangkitan Yesus. Banyak ahli sejarah berpandangan bahwa nama Magdalena merupakan sebuah julukan; merujuk pada tempat asalnya di Magdala, sebuah kota nelayan di tepi barat Danau Galilea. Nama “Maria” adalah sebuah nama yang sangat familiar atau paling sering ditemui di antara perempuan-perempuan Yahudi yang hidup pada abad pertama tarikh Masehi. Sehingga para penulis Injil merasa perlu menambahkan sebutan Magdalena guna membedakannya dari perempuan-perempuan pengikut Yesus lainnya yang juga bernama Maria (Wikipedia). Maria Magdalena pertama kali bertemu dengan Yesus dalam peristiwa penyembuhan roh-roh jahat.

Penginjil Lukas mencatat bahwa Maria Magdalena termasuk dalam kelompok perempuan yang disembuhkan Yesus. Termasuk di dalamnya Yohana Istri Khuza, Susana dan banyak perempuan lain. Maria Magdalena menurut Injil Lukas, dibebaskan oleh Yesus dari belenggu tujuh roh jahat (Luk 8:2-3). Tujuh roh jahat dalam kaca mata para ahli sejarah bukan merupakan angka dalam arti harafiah. Tetapi merupakan angka simbolik. Merujuk pada kepercayaan Yahudi, angka tujuh merupakan angka sempurna (Wikipedia). Jadi bisa kita tarik kesimpulan bahwa Maria bukan dirasuki oleh tujuh roh jahat dalam arti kuantitatif, tetapi secara kualitatif Maria mengalami sakit yang sangat hebat. Pengalaman penyembuhan yang dialami oleh Maria Magdalena, betul-betul menyentuh pribadinya. Ia sungguh mengagumi Yesus sebagai sosok pahlawan yang menyelamatkan hidupnya. Tidak sebatas itu, Maria akhirnya memberi dirinya secara total untuk membantu karya pelayanan Yesus. Maria Magdalena menunjukkan pribadinya sebagai seorang pengikut Yesus yang setia. Ia menjadi salah satu perempuan yang menjadi saksi mata peristiwa penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus.

Maria Magdalena menjadi orang pertama yang pergi ke kubur dan mendapati kubur dalam keadaan kosong. Serta merta ia berkesimpulan bahwa mayat Yesus telah dicuri orang. Maria mengekspresikan kesedihannya dengan menangis. Sikap Maria ini menggambarkan bahwa Maria masih berada dalam suasana dukacita. Ia belum menemukan Tuhan yang hilang entah ke mana. Maria belum bisa keluar dari pengalaman kegelapan yang dialaminya bersama-sama para murid yang lain akibat kehilangan figur yang mereka kagumi dan andalkan. Bersama-sama dengan para murid yang lailn, Maria belum mengerti akan semua yang pernah dikatakan oleh Yesus semasa hidup-Nya. “Mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit di antara orang mati” (Yoh 20:9). Bahkan pada saat Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepadanya, Maria belum mengenalinya sebagai Yesus. Mata Maria baru terbuka dan mengenal sosok di hadapannya ketika Yesus memanggil namanya. “Rabuni” (Yoh 20:16), kata Maria merespon panggilan Yesus. Kata Rabuni mau mengungkapkan kebahagiaan hati Maria ketika menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Yesus telah bangkit. Ungkapan Rabuni juga mau menghapus sikap keragu-raguan yang dibangun Maria pada saat sebelum mengenal Yesus. Memanggil Yesus dengan “Rabuni”, berarti Maria Magdalena telah menaru kepercayaan yang total kepada-Nya. Bahwa Yesus sungguh telah bangkit dan tidak ada yang perlu ditangisi. Kini dukacita telah berganti dengan sukacita. Sukacita akan kebangkitan Yesus. Selanjutnya, Maria Magdalena tidak mau bersukacita dalam dirinya sendiri. Ia pergi kepada murid-murid untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. “Aku telah melihat Tuhan” (Yoh 20:18). Kabar penampakan Tuhan yang bangkit tidak sekedar menjadi berita informatif. Tetapi sungguh mengedukasi dan menguatkan pribadi Maria untuk tidak larut dalam kegelisaan dan kesedihan. Maria harus segera keluar dari “cangkang ketakutannya” dan kemudian menjadi pribadi yang semakin berani membawa warta Tuhan yang bangkit kepada segenap orang.

Pengalaman Maria melihat Tuhan yang bangkit dalam hidupnya menjadi pengalaman setiap orang beriman pada masa kini. Kita harus mampu dengan jeli melihat wajah Tuhan dalam setiap pengalaman hidup kita. Setiap pengalaman hidup adalah pengalaman rohani yang menyiratkan wajah Tuhan. Wajah Tuhan yang  terwujud dalam diri orang-orang yang sementara mengalami kesakitan, penderitaan, dukacita dan tersingkir dalam hidup. Kita dituntut untuk tidak sekedar berhenti pada tataran compassion atau sekedar menunjukkan keprihatinan. Namun, hanya dengan kepekaan nuranilah, kita bisa masuk dalam lingkaran para wajah Tuhan tersebut untuk memberikan pertolongan, penguatan dan pendampingan kepada mereka. Dengan cara yang paling sederhana, apa pun itu, kehadiran kita adalah cara terbaik untuk menyembuhkan dan menyelamatkan hidup mereka. Kita berbuat demikian karena kita telah melihat Tuhan dalam pengalaman spiritual hidup kita masing-masing. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 19 Juli 2020

RAPAT EVALUASI KEGIATAN IBADAH MASA PENDEMI COVID-19

RAPAT EVALUASI KEGIATAN IBADAH MASA PENDEMI COVID-19


Bertempat di ruang Urusan Agama Katolik, Kantor Kementerian Agama Kab. Lembata, hari Kamis (17/7/2020) diadakan rapat evaluasi. Kegiatan evaluasi kerja ini dihadari oleh Kepala Seksi Urusan Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Lembata, Laurensius Leuweheq, empat orang penyuluh agama Katolik PNS, dua orang pegawai PNS dan satu orang Pegawai PTT.

Rapat evaluasi ini dimoderatori oleh salah seorang penyuluh agama Katolik, Apolonius Ado Atawuwur, S.Fil, M.Th.  “Pertemuan kita kali ini adalah rapat evaluasi berkenaan dengan laporan perjalanan dinas yang telah kita lakukan ke paroki-paroki”, demikian sapaan awal dari moderator, Apol Ado, sapaan akrab dari Apolonius Ado Atawuwur.

Ada tiga poin utama pertemuan, yakni pertama terkait koodinasi layanan ibadat agama Katolik yang dilakukan selama masa pandemi sampai memasuki era new normal. Kedua, konsultasi layanan penyuluh non PNS pada masa pendemik Covid-19. Dan ketiga koordinasi terkait laporan penyuluh agama Katolik non PNS dari setiap paroki.  

Setelah menyampaikan tiga agenda utama pertemuan tersebut, Apol Ado mempersilahkan kepada para peserta untuk memberikan laporan perjalanan dinas dengan merujuk pada tiga poin agenda di atas.

Kepala Seksi Urakat (Urusan Agama Katolik), Laurensius Leuweheq, S.Ag mendapat kesempatan pertama untuk menyampaikan laporan perjalanan dinas. Dalam laporannya, Kepala Seksi Urakat mengatakan bahwa ia melakukan kunjungan ke dua paroki, yakni Paroki St. Wilhelmus Lodoblolong dan Paroki St. Laurensius Hadakewa.

Terkait dengan pelaksanan ibadah selama masa pendemi Covid-19, beliau mengatakan bahwa dua paroki ini tetap melaksanakan ibadah di gereja tanpa kehadiran umat. Yang berada di gereja hanya imam dan petugas liturgi. Umat mengikuti proses kegiatan ibadah dari rumah masing-masing dengan jasa alat pengeras suara (toa).

Khusus untuk  Paroki Laurentius Hadakewa,  ada dua stasi yang menggunakan wahana live streaming yakni stasi pusat St. Laurensius Hadakewa dan Stasi St. Stefanus Martir Tanatreket. Sedangkan beberapa stasi yang lain tetap memakai pengeras suara.

Untuk pelaksanaan ibadah menjelang masa new normal, Pak Lorens menandaskan bahwa pada prinsipnya kedua paroki sudah siap melaksanakannya akan tetapi masih menunggu surat keputusan dari Bapa Uskup Keuskupan Larantuka.

Lorens Leuweheq juga menggambarkan keterlibatan para penyuluh agama Katolik non PNS dalam mendukung pelaksanaan ibadah selama masa pendemi. Mereka bertugas menyusun teks ibadah dan membawakannya pada saat pelaksanaan ibadah. Ada juga penyuluh agama yang proaktif menjadi relawan gugus tugas Covid-19 di stasinya.

Ketika disinggung mengenai bentuk pelaporan kegiatan penyuluhan dan bimbingan selama masa pendemi, Lorens menegaskan bahwa para penyuluh agama Katolik dari kedua paroki sudah siap menyesuaikan bentuk pelaporan mereka dengan format yang diturunkan dari pihak Kementerian Agama Kab. Lembata.

Pada kesempatan kedua, Apol Ado memberikan waktu kepada Claudya Namang untuk menyampaikan laporan perjalanan dinasnya. “Saya mengunjungi dua paroki yakni Paroki St. Bernardus Abas Tokojaeng dan Sta. Maria Bintang Lau Waipukang”, kata Dian, panggilan  Claudia Emilia Gelu Namang. Menurut Dian, selama masa Pandemi Covid-19, pelaksanaan ibadah di dua paroki ini tetap dilaksanakan. Namun ada perbedaan. Untuk Paroki St. Bernardus Abas Tokojaeng, ibadah tetap melibatkan umat dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan seperti jumlah dibatasi, penggunaan masker dan menjaga jarak.  Selain itu, pengeras suara (toa) tetap dipakai agar umat yang lain dapat mengikuti pelaksanaan ibadah dari rumah mereka masing-masing.

Sedangkan di Paroki Sta. Maria Bintang Laut Waipukang, pelaksanaan ibadah dengan menggunakan metode live streaming yang dilaksanakan dari pusat paroki.

Tentang keterlibatan para penyuluh agama non PNS, lanjut Dian, hanya penyuluh dari Paroki St. Bernardus Abas yang terlibat aktif membantu proses persiapan dan pelaksanaan ibadah. Sedangkan para penyuluh agama dari Paroki Sta. Maria Bintang Laut Waipukang hanya membantu kegiatan administrasi di paroki.

Selanjutnya, Apol Ado memberikan kesempatan kepada ASN yang melakukan perjalanan dinas ke paroki Sta. Maria Ratu Damai Mingar dan St. Yosef Boto untuk menyampaikan laporannya. Apol sendiri pada kesempatan pertama menyampaikan laporan perjalanan dinasnya ke Paroki Sta. Maria Ratu Damai Mingar.

Menurut Apol, umat Paroki Sta. Maria Ratu Damai sangat ketat menjalankan aturan protokoler kesehatan. Umat tetap mengikuti pelaksanaan ibadah dari rumah masing-masing. Pengeras suara (toa) masih menjadi andalan utama, walaupun sering macet dan harus diganti dengan alat yang baru.

Untuk persiapan menjelang new normal, Apol menjelaskan bahwa pihak paroki sudah melakukan pertemuan dan mensosialikasikan aturan protokoler yang diturunkan pemerintah daerah, akan tetapi pelaksanaan ibadah masih menunggu surat keputusan dari Bapa Uskup Larantuka.

Tentang aktivitas penyuluh agama Katolik non PNS selama masa pandemi Covid-19, dikatakan,  mereka tetap melakukan kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama kepada kelompok sasaran (Sekami dan Sekar) dengan jumlah yang sangat terbatas.

Mengenai bentuk laporan kegiatan selama masa Pandemi Covid-19, para penyuluh agama Katolik non PNS masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan laporan mereka sesuai dengan format kegiatan selama masa pendemi.

Untuk pelaksanaan kegiatan ibadah selama masa pandemi di Paroki St. Yosef Boto, tidak jauh berbeda dengan Paroki Sta. Maria Ratu Damai Mingar, demikian digambarkan oleh Atanasius Dewantor yang bertugas ke paroki tersebut. Umat tetap mengikuti ibadah dari rumah masing-masing dengan jasa alat pengeras suara yang dipancarkan dari gereja. Hanya kendala yang dialami adalah pengeras suara sering mengalami keonaran.

Wanto, sapaan Atanasius Dewantoro, melanjutkan bahwa tantangan lain yang terjadi adalah ada umat yang tidak merasa fokus selama ibadah karena situasi di sekitarnya tidak kondusif (ada suara bising).

Untuk menyambut pelaksanaan ibadah di masa new normal, Wanto mengatakan bahwa pihak paroki masih menunggu instruksi terbaru dari Bapa Uskup Larantuka.

Wanto kemudian menjelaskan peran penyuluh agama Katolik non PNS yang sangat aktif selama masa pandemi di tempat tugasnya masing-masing.  Ada penyuluh yang menggantikan peran imam membawakan kotbah di stasi-stasi. Ada juga penyuluh yang bisa menyusun naskah sekaligus membawakannya pada saat pelaksanaan ibadah.  Penyuluh yang lain aktif melakukan konsultasi individu dari rumah ke rumah.

Para penyuluh agama Katolik non PNS ini, menurut Wanto, selain sangat aktif di paroki, mereka juga membangun hubungan dan kerjasama yang baik dengan pihak paroki, terutama pastor paroki dan pastor pembantu.

Untuk format laporan kegiatan bimbingan dan penyuluhan selama masa pendemi, Wanto mengatakan bahwa para penyuluh masih sementara bekerja untuk menyelesaikan laporan kegiatan mereka.

Pada kesempatan berikutnya, Apol memberikan waktu kepada dua orang ASN, Yohanes Kia dan Bernardus Wolo untuk menyampaikan laporan kunjungan mereka ke Paroki St. Yohanes Paulus II Wulandoni dan St. Petrus-Paulus Lamalera.

John, sapaan dari Yohanes Kia, menyampaikan bahwa selama masa Pandemi ini, umat mengikuti ibadah dari rumah masing-masing melalui alat pengeras suara.

Mengenai peran penyuluh agama Katolik non PNS, John mengatakan bahwa peran mereka sangat aktif dalam membantu proses pelaksanaan ibadah selama masa pendemi. Selain itu, para penyuluh juga rajin mengunjungi umat dalam rangka melakukan pendampingan dan bimbingan.

Di Paroki St. Petrus-Paulus Lamalera, Bernardus Wolo memaparkan situasi yang tidak jauh berbeda. Memang ada umat yang datang ke gereja untuk beribadah. Tetapi dengan jumlah yang sangat minimalis (5-10 orang)  dan tetap menjaga jarak. Sedangkan umat yang lain mengikuti ibadah dari rumah masing-masing melalui pengeras suara yang dipancarkan dari gereja.

Bernard menegaskan bahwa peran penyuluh agama Katolik non PNS di paroki ini sangat aktif dan militan. Kehadiran mereka sangat membantu gereja paroki. Mereka mendapat kepercayaan penuh dari pastor paroki. “Mereka menjadi garda terdepan dalam membantu pastor paroki untuk melaksanakan kegiatan yang sifatnya konsultatif entah itu dengan pihak DPP (Dewan Pastoral Paroki) maupun dengan berbagai kelompok kategorial”, tandas Bernard. Selain itu menurut Bernard, para penyuluh agama juga mempunyai tugas utama menyusun teks ibadah selama masa pendemi.

Pada kesempatan terakhir, Apol Ado memberikan kesempatan kepada dua ASN, Leonardus Bage dan Daniel Kuma untuk memaparkan laporan perjalanan dinasnya ke dua paroki yang berada di wilayah Kedang.

Leonardus Bage melaporkan bahwa kegiatan ibadah selama masa pandemi Covid-19 di Paroki Salib Suci Holea pada awalnya menggunakan metode live streaming. Tetapi dalam perjalanan karena kekuatan singal kurang bagus maka diganti dengan pengeras suara; seperti yang dilaksanakan di paroki-paroki lain. Leo menambahkan, yang berada di gereja hanya imam dan petugas liturgi. Sedangkan umat yang lain mengikuti kegiatan ibadah dari rumah masing-masing.  Tantangan yang dihadapi seperti yang dialami oleh paroki lain, yakni pengeras suara kadang macet sehingga menggangu jalannya kegiatan ibadah.

 Leo Bage juga mengapresiasi para penyuluh agama Katolik non PNS di paroki ini yang sudah bekerja dengan ulet menggandakan naskah ibadat dan kemudian membawakannya pada saat pelaksanaan ibadah. Para penyuluh agama Katolik juga menggunakan media online untuk menyebarkan Sabda Allah kepada umat paroki. Selain itu, mereka juga giat melakukan kunjungan kepada anak Sekami dan Sekar selama masa pandemi dengan tetap mematuhi protokoler kesehatan (menjaga jarak dan memakai masker).

 Salah satu kendala yang dihadapi para penyuluh agama di paroki ini menurut Leo Bage adalah adanya miskomunikasi dengan pastor paroki. Sehingga membawa dampak ikutan berupa laporan para penyuluh agama Katolik non PNS yang tidak mendapat pengesahan dari pastor paroki.  Solusinya, anggota Dewan Pastoral Paroki setempat yang menandatangani laporan para penyuluh agama Katolik non PNS.

Sedangkan untuk wilayah paroki Sta. Maria Pembantu Abadi Aliuroba, Dan Kuma menjelaskan bahwa pelaksanaan ibadah selama masa pandemi pada awalnya menggunakan metode live streaming. Tetapi kemudian diganti dengan pengeras suara seperti pada paroki-paroki yang lain.

Menyangkut peran penyuluh, Dan Kuma menggarisbawahi peran penyuluh yang amat sentral selama masa pandemi berlangsung. Para penyuluh agama Katolik bertugas menyusun naskah panduan ibadat. Selain itu, mereka melakukan kunjungan keluarga dan memimpin ibadat di gua Maria dengan jumlah umat yang terbatas.

Dalam sesi pendalaman materi evaluasi, Atanasius Dewantoro menjelaskan pentingnya peran para pegawai Urakat dalam melakukan kontrol dan evaluasi terhadap laporan para penyuluh agama Katolik non PNS.  Tidak hanya menyangkut format laporan tetapi yang lebih penting adalah isi dari laporan yang dibuat.

Daniel Kuma mengusulkan supaya para penyuluh agama Katolik non PNS harus memiliki RKO (Rencana Kerja Operasional) dan Jadwal kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama. Bernardus Wolo juga menekankan peran penyuluh agama Katolik non PNS dalam melakukan tugas konsultatif, seperti yang dialaminya di paroki St. Petrus-Paulus Lamalera.

Sebelum menutup rapat evaluasi, Apol Ado mengafirmasi beberapa poin yang menjadi intisari pertemuan. Pertama, pelaksanaan ibadat selama masa Pandemi Covid-19 sudah terjadi sesuai dengan kondisi riil di paroki masing-masing. Kedua, pelaksanaan fungsi penyuluh tidak terbatas pada kegiatan menyampaikan warta sabda Allah. Tetapi melingkupi juga tugas koordinasi, konsultasi, advokasi dan edukasi.  Ketiga, pihak gereja dalam hal ini bertindak sebagai mitra kerja dari Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia, sangat proaktif menjalankan protokol kesehatan selama masa pandemi Covid- 19. ***Atanasius Dewantoro Labaona*** 

Rabu, 15 Juli 2020

Aku Akan Memberi Kelegaan Kepadamu


Mat 11:28-30
Tidak pernah ada kelegaan yang sempurna yang dapat manusia alami sampai ketika ia datang dan menemukannya di dalam Tuhan.

Manusia sejak diciptakan dilengkapi dengan sejumlah kecerdasan yang dapat digunakan untuk kepentingan hidupnya.

Kemampuan budi yang disokong dengan kemampuan yang lain dan yang dikembangkan lebih jauh melalui dunia pendidikan sangatlah membantu manusia mendalami dan menemukan siapa itu dirinya. Dengan memahami secara baik dirinya, orang akan sangat terbantu untuk menjalani hidup secara sehat.

Dalam dunia psikologi, sisi kejiwaan dan kerohanian manusia diteropong untuk menemukan masalah-masalah mendasar yang menghambat pertumbuhan manusia secara sehat. Setidaknya banyak persoalan tentang manusia menemukan jawabannya di dalam analisa dan terapi psikologis. Beban kehidupan yang mengganggu keseimbangan hidup dapat diminimalisir,  jika memang tidak dapat dihilangkan sama sekali.

Intinya kita mengakui bahwa manusia dengan kecerdasan yang dimiliki, juga teknologi yang dihasilkannya, dapat menyelesaikan persoalan yang dialami dalam hidup kita dan membantu kita untuk hidup dengan baik dan bertumbuh secara sehat.  

Meskipun demikian, kita tidak dapat menampik kenyataan bahwa sehebat-hebatnya manusia dan secanggih-canggihnya teknologi yang dihasilkan untuk kepentingan manusia, toh pada akhirnya kita akan sampai juga pada ambang batas; titik di mana kita tidak bisa berbuat lebih jauh lagi. Pada titik inilah kita menengada pada Dia yang menciptakan kita dan menemukan kesempurnaan penyelesaian atas persoalan-persoalan mendasar dalam hidup kita.

Tuhan lebih tahu kebutuhan kita; Ia merasakan kesulitan dan beban kita; Dia lebih peka melebihi kepekaan kita. Sehingga sebelum kita datang kepada Dia, Tuhan telah lebih dahulu mengajak kita: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat”. Bahkan ketika kita kehilangan harapan oleh beratnya beban yang kita pikul, Ia memanggil kita untuk datang kepada-Nya.

Tuhan tidak sekadar memanggil kita datang kepada-Nya. Ia yang tahu kebutuhan dasar hidup kita akan memberikannya kepada kita. Segala beban kehidupan yang mendatangkan penderitaan lahir dan batin akan diambil dari kita dan kepada kita diberikan kuk dan beban yang ringan. Tuhan menggantikan posisi kita untuk memikul beban kita dan kepada kita Ia memberikan kuk dan beban-Nya. Ia mengambil yang berat dari kita dan memberikan kita yang ringan.

Kuk dan beban yang ringan yang diberikan kepada kita itulah yang mendatangkan sukacita dan kegembiraan dalam hidup kita. Itulah kelegaan yang diberikan Tuhan. Dan kelegaan itu sempurna. Yesus mengatakan: “...jiwamu akan mendapat ketenangan”.

Kuk dalam arti sesungguhnya adalah kayu melengkung yang dipasang pada leher lembu untuk menarik bajak. Kayu itu mengekang lembu agar tidak leluasa dan bergerak sesuai keinginan pembajak.

Pada masa Yesus hidup, Ia melihat kenyataan bahwa orang Yahudi hidup dengan menjalankan hukum Taurat yang begitu ketat. Ada sekian banyak hukum dan detailnya wajib dijalankan secara saksama menjadikan hukum itu bak kuk yang mengekang.

Tidak hanya mendatangkan denda yang harus dibayar bila hukum itu diabaikan, tetapi juga menimbulkan beban batin oleh karena rasa bersalah yang mendalam, juga rasa malu oleh karena dilihat dan dibicarakan orang. Beban-beban yang dialami itu dirasakan bagai kuk yang menekan.

Yesus mengundang orang untuk datang kepada-Nya agar Ia membebaskan mereka dari kuk aturan dengan segala detailnya yang mengekang dan menekan, dan menggantikannya dengan kuk dan beban yang ringan yang mendatangkan suacita. Kuk dan beban itu adalah: “lemah lembut dan rendah hati”.

Kita semua diajak dan dipanggil Tuhan untuk menerima kuk dan beban yang diberikan-Nya. Kuk dan beban-Nya itu memang ringan dan memberikan kelegaan yang sempurna, akan tetapi tidak selalu mudah untuk dilaksanakan. Mengingat hal ini, maka Yesus mengajak kita pula untuk belajar dari Dia agar kita menjadi lemah-lembut dan rendah hati seperti Dia.

Dalam hidupnya, Yesus berkeliling sambil berbuat baik. Ia mengajar dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Ia berbelas kasih kepada semua orang, terutama kepada orang-orang kecil. Sikap dan perbuatan yang menunjukkan kemurahan hati inilah yang patut kita teladani dalam menjalankan hidup kita baik di tengah keluarga kita, di tengah lingkungan kerja kita dan di tengah masyarakat.

Marilah kita menjadi murid-murid-Nya yang selalu bermurah hati; kita selalu menunjukkan kelemahlembutan dan kerendahan hati dalam hidup kita. Percayalah kita akan menemukan kelegaan yang sempurna yang tidak pernah diberikan oleh siapapun.*** Apol Wuwur***

Selasa, 14 Juli 2020

RAHMAT TUHAN MENUNTUT TANGGAPAN IMAN YANG BESAR


Mat 11:20-24
Rahmat Tuhan yang dianugerahkan kepada manusia menuntut tanggapan iman yang besar  sebagai wujud kasih manusia kepada Allah. Tanggapan iman ini mengandaikan bahwa manusia sungguh percaya dan memasrahkan hidupnya pada penyelenggaraan Tuhan karena Ia berkuasa atas hidup dan mati manusia. Rahmat tersebut dianugerahkan Tuhan karena Ia sungguh mencintai dan mengasihi manusia, oleh karena Allah ingin agar manusiaA bertobat dan memasrahkan diri untuk diselamatkan. Untuk memperoleh rahmat Allah itu dibutuhkan tanggapan iman dari manusia yakni penyerahan diri secara total pada kehendak Allah. Penyerahan diri manusia tidak dalam arti pasif tetapi selalu ada gerak perubahan menuju pertobatan dan pertobatan itu sendiri membutuhkan usaha keras dari manusia sehingga tanggapan iman mendapat pemenuhannya karena rahmat Tuhan menggerakannya.

Injil hari ini menceritakan tentang kecaman Yesus terhadap kota Khorazim, Kapernaum, dan Betsaida yang terletak di sekitar Danau Galilea. Ketiga kota ini terkenal karena kejahatan yang mereka lakukan meskipun Yesus berulang kali hadir dan mengadakan banyak mukjizat di depan mata mereka. Yesus mengecam ketiga kota ini bukan karena sakit hati atas perlakuan jahat mereka melainkan karena Ia sedih terhadap nasib buruk yang akan menimpah mereka pada pengadilan terakhir. Kejahatan selalu akan menyingkirkan potensi baik yang ada dalam diri mereka. Kehadiran Yesus sebagai tanda keselamatan dari Allah ditolak dan dijauhi karena mereka lebih senang hidup dalam kegelapan dosa. Pertobatan menjadi semakin jauh dari hidup mereka karena tidak ada tanggapan iman yang positip atas rahmat Allah yang disalurkan kepada mereka. Mata iman mereka benar-benar telah tumpul sehingga menghambat pengenalan mereka akan kebaikan dan kasih Allah dalam diri Yesus Sang Penyelamat. Yesus sungguh menyesal melihat gaya hidup mereka yang tidak pernah berubah menuju pertobatan sejati, mereka sangat keras kepala dan mau hidup dalam kebahagiaan semu. Karena itu, Yesus mengecam mereka dan memberikan bayangan akan bahaya dan hukuman berat yang bakal mereka terima pada hari penghakiman terakhir. Mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus di tengah hidup mereka sama sekali tidak mendatangkan perubahan iman, malahan mereka terus melakukan kejahatan meskipun mereka tahu tentang apa yang baik dan benar. Dosa ketegaran hati dan kejahatan telah merasuki dan menguasai hiduAp mereka sehingga tidak ada ruang kebaikan dalam hati mereka bagi Allah untuk berdiam. Situasi yang Achaos (kacau balau) di ketiga kota ini mengharuskan Yesus berbicara agak keras sekaligus memperingAatkan mereka akan bahaya kehancuran yang akan mereka terima pada hari penghakiman terakhir. BerAbeda dengan ketiga kota itu, menurut Yesus, kota Tyrus, Sidon, Sodom dan Gomora, tanggungannya Aakan jauh lebih ringan dibandingkan dengan kota Khorazim, Kapernaum, dan Betsaida, karena meskipun mereka jatuh dalam dosa ketegaran hati dan kejahatan yang sama namun mereka tidak pernah mengalami rahmat Tuhan dan Yesus sendiri tidak pernah melakukan mukjizat dan penyembuhan di sana sehingga kejahatan dan dosa ketegaran hati mereka disebabkan oleh ketidaktahuan belaka.

Tantangan hebat bagi kita murid-murid Yesus, bahwa kadang kita juga sering tidak mau tahu, tidak mau berubah dan bertobat meskipun kita telah menerima sekian banyak rahmat Tuhan dalam hidup kita lewat kebaikan dan kemurahan hati sesama. Kadang kita cepat putus asa, suka mengadili Tuhan dan menganggap Tuhan sangat jauh dari hidup kita ketika doa dan harapan kita tidak cepat dikabulkan. Iman kita layaknya makanan instan cepat saji, kita tidak mau tunggu berlama-lama bahkan kita cepat bosan dan menjauhAi Allah. Fondasi iman semacam ini tinggal menunggu kehancuran ketika badai dan gelombang arus zaman hadir dengan sekian banyak tawaran hidup glamour yang menggiurkan. Sebagai murid-murid Yesus, Tuhan selalu menawarkan rahmat berlimpah dalam hidup kita. Rahmat Tuhan yang besar itu menuntut tanggapan iman yang lebih besar dari pihak manusia agar Ia hidup menetap dalam hati manusia sehingga Ia dapat mengubah dan membaharui hidup kita sesuai kehendak-Nya.

Injil hari ini sesungguhnya juga merupakan kecaman Yesus  terhadap kita yang hidup di zaman modern ini. Kita masing-masing secara pribadi dapat pula mengganti nama-nama kota seperti dalam bacaan Injil hari ini dengan nama kita masing-masing dimana kita sering kali melihat mukjizat besar di hadapan kita namun belum percaya dan beriman pada kebaikan kasih Allah. Setiap hari Allah selalu mengerjakan mukjizat besar di depan mata kita, namun tanpa kita sadari dengan penuh iman. Mukjizat besar sebagai ungkapan kasih Allah selalu kita alami dan rasakan misalnya ketika kita bangun pagi hari ini, tanpa kita sadari kita masih bernapas, masih bisa melayani orang sakit, masih berjumpa dengan keluarga kita dan teman-teman kita bahkan masih berkesempatan mendengarkan dan ikut merefleksikan Sabda Tuhan hari ini. Idealnya, rahmat besar dari Allah ini harus mendapat tanggapan iman yang besar pula dari kita masing-masing. Namun, sayangnya rahmat besar dari Allah tidak kita sadari dan kita sia-siakan bahkan kita sibuk mencari hal-hal yang kurang penting. Harus kita sadari bahwa tidak ada kepastian logis bahwa besok kita masih bisa mengalami hal yang sama dengan hari ini atau mengalami peristiwa kebaikan Tuhan lagi. Hanya Tuhan saja dengan kebesaran mukjizat-Nya, yang membuat semuanya mungkin dan terjadi dalam hidup kita. Namun menjadi pertanyaan bagi kita: apakah kita pernah menyadari bahwa segala sesuatu yang kita alami adalah mukjizat atau tanda keagungan Tuhan bagi kita? Berapa banyak orang yang sudah kita bantu untuk menemukan pertobatan sejati dan berpaling di jalan keselamatan Allah?    Kesempatan baik ini, kita dapat memeriksa dan mengintrospeksi diri  mungkin kita termasuk orang yang belum melek matanya untuk melihat segala mukjizat yang dikerjakan Allah setiap hari, mungkin kita masih mengharapkan mukjizat yang lebih besar atau yang lebih sensasional untuk dapat beriman secara teguh kepada Allah. Kalau itu yang kita harapkan, maka celakalah kita seperti Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum yang sibuk melakukan kejahatan dan mengabaikan rahmat Tuhan yang memberi mereka hidup dan keselamatan kekal. ***Bernad Wadan***

Jumat, 10 Juli 2020

SIKAP CERDIK DAN TULUS

Mat 10:16-23

Suatu saat saya diminta untuk menyelesaikan persoalan dua orang saudara yang sedang bertikai. Konflik yang terjadi di antara mereka berdua sebenarnya sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Saya pikir ini sebuah tantangan yang tidak mudah bagi saya. Apalagi saya orang muda yang belum memiliki “jam terbang” yang cukup dalam mengarungi kerasnya sebuah kehidupan. Namun saya percaya, ini tantangan sekaligus peluang bagi saya untuk meunjukkan bahwa Tuhan sebenarnya sedang memakai saya sebagai alat-Nya untuk mewartakan kasih-Nya. Saya datang ke tempat yang telah mereka sepakati. Dan mulai mendengarkan segala keluh kesah dari mereka berdua. Saling serang dan klaim pembenaran silih berganti mereka pertontokan di hadapan saya. Saya tetap tenang dan mendengarkan apa yang mereka sampaikan. Cukup lama saya menunggu. Akhirnya mereka berdua pun terdiam. Mungkin sudah merasa capek atau jenuh dengan kata-kata mereka sendiri. Saya pun mengambil alih pembicaraan dan berusaha mengendalikan perasaan mereka yang berkecamuk. Saya tetap pada posisi netral untuk memberi penguatan dan dukungan agar mereka bisa melupakan segala persoalan yang terjadi. Saya meminta mereka untuk segera berdamai. Pada awalnya mereka tidak bergeming. Tetapi pada akhirnya, mereka berdua bisa saling membuka diri dan berdamai satu sama lain.

Dalam bacaan hari ini (Mat 10:16-23), di hadapan para murid-Nya Yesus memberi gambaran tentang situasi perutusan yang nanti para murid jalani. Ada dua hal yang disampaikan oleh Yesus. Pertama, Yesus memberi gambaran tentang tantangan yang akan dihadapi para rasul. Tantangan itu diibaratkan seperti serigala yang siap menerkam mangsanya. Dan para murid seperti para domba yang dikirim kepada serigala-serigala tersebut. Para murid laksana “mangsa lezat” bagi para serigala yang lapar. Ada banyak konsekuensi negatif yang akan mereka terima sebagai seorang murid dari orang-orang yang menunjukkan sikap opisisi. Sebenarnya orang-orang yang berseberangan dengan para murid adalah golongan orang-orang yang tidak mengenal Allah (Mat 10:18). Oleh karena itu perjalanan perutusan para murid tidak akan berjalan mulus seperti yang mereka bayangkan. Mereka tidak akan terus mengalami zona nyaman seperti yang dialami saat masih bersama-sama dengan Yesus. Para golongan yang tidak mengenal Allah pasti akan berjuang dengan segala cara untuk melawan dan menghambat perjalanan para murid untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah. Mereka akan dihadapkan kepada para penguasa untuk diadili. Mereka tidak hanya difitnah, dicerca dan dianiaya tetapi nyawa mereka menjadi taruhannya. Demi Injil Kerajaan Allah, para murid siap menghadapi arus tantangan seperti serigala yang siap menerkam mangsanya. Kedua, menghadapi situasi yang frontal demikian, Yesus menguatkan hati para murid-Nya agar tidak boleh takut. “Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu “ (Mat 10:20). Yesus memastikan bahwa Roh Allah akan tetap menaungi sehingga mereka tidak gentar menghadapi segala tantangan yang datang. Roh Allah akan mendampingi sehingga mereka mampu berkata-kata dengan baik dan bijaksana. Para murid akan mampu menjawab dan menjelaskan segala persoalan yang dihadapi dengan argumen-argumen ilahi yang disuntik oleh Roh Allah sendiri. Tentu ada banyak orang yang bertobat dan mengikuti para murid. Tetapi lebih banyak yang akan tetap menantang dan menghalangi pergerakan mereka. Roh Allah sungguh memback up para murid sehingga mereka tidak takut dengan semua tantangan itu.

Ada dua hal yang harus dilakukan oleh para murid ketika sedang berada dalam situasi perutusan. Yesus menegaskan agar para murid “hendaklah cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat 10:16). Menjadi cerdik bukan berlaku licik atau culas. Menjadi cerdik artinya para murid harus mempunyai visi dan misi yang tajam dan mampu membawa efek kejut bagi banyak orang. Para murid harus pandai membajak ladang kegembalaan yang menjadi locus karya mereka. Termasuk soal peluang dan tantangan yang akan mereka peroleh. Ketika ada peluang yang baik tentu akan digunakan dengan semaksimal mungkin untuk menarik orang masuk mengikuti ajaran Tuhan. Dan ketika menghadapi benturan atau gesekan, para murid harus mampu berkelit untuk pergi ke tempat lain. Para murid bukan takut dengan cara demikian, tetapi mereka harus menggunakan strategi yang jitu agar semua tempat bisa disinggahi oleh firman Allah. Agar kecerdikan itu tidak jatuh dalam sikap curang maka Yesus mengharapkan para murid untuk bersikap tulus. Tulus seperti merpati (Mat 10:16). Apa yang dilakukan oleh para rasul harus benar-benar keluar dari komitmen pribadi untuk menjaga marwah atau kedaulatan Injil Tuhan. Para murid dilarang untuk bersikap oportunis. Atau Memanfaatkan situasi demi memuaskan kepentingan pribadi. Ini yang diwanti-wanti oleh Yesus bagi para murid-Nya. Mereka tidak hanya cerdik tetapi harus tulus. Para rasul harus memberi diri secara total dalam karya pelayanan. Tidak setengah-setengah. Pikiran dan hati mereka harus steril dari segala macam kepentingan yang menyesatkan pribadi. Karena mereka hanya memiliki satu kepentingan yang mulia yakni terwujudnya misi Kerajaan Allah di muka bumi.

Demikian para murid, kita juga diharapkan oleh Yesus untuk bersikap cerdik dan tulus dalam memainkan peran kita sebagai seorang murid Kristus di zaman ini. Sikap cerdik menonjolkan kekuatan pikiran kita untuk melihat segala peluang dan tantangan dalam mewartakan kasih Tuhan. Peluang itu berupa adanya harapan yang memungkinkan kita untuk bisa membawa wajah Tuhan bagi mereka yang membutuhkan. Lewat tutur kata yang baik dan tindakan kasih, kita sungguh menunjukkan keberpihakan kasih Allah kepada mereka yang membutuhkan. Dengan sikap cerdik kita juga bisa menyiasati diri untuk menghindar dari segala ancaman yang menghambat pelayanan kita. Kalau sikap cerdik menonjolkan kekuatan pikiran, maka sikap tulus menonjolkan kekuatan hati. Dengan hati yang tulus, kita akan secara lebih total membagi kasih dan pelayanan kita kepada sesama. Sikap tulus menghindarkan diri kita dari sikap curang memanfaatkan sesama demi kepentingan pribadi kita. Sikap cerdik tanpa sikap tulus akan membawa diri kita menjadi pribadi yang culas atau curang. Sebaliknya sikap tulus tanpa sikap cerdik mengarahkan kita menjadi pribadi yang bodoh. Mari kita selalu membawa diri kita menjadi pribadi yang cerdik dan tulus dalam membawa kasih Tuhan kepada sesama. Kita tidak perlu takut karena roh Allah akan selalu mendampingi dan menguatkan kita. Kita tidak berjalan sendirian karena Allah selalu menyertai kita. Amin. ***Atanasius KD Labaona***


Senin, 06 Juli 2020

Jangan Menyembah Berhala


Hos 8:4-7.11-13 & Mat 9:32-38
Berhala adalah dosa yang menjijikan Allah dan karena itu maka Ia berulang kali melarang umat-Nya untuk menyembah berhala (Kel 23:24; Im 19:4; 26:1; Ul 4:16; 16:21;16:22). Dengan larangan itu, Allah menghendaki agar umat-Nya memiliki kemurnian hati kepada-Nya, tetapi juga supaya mereka tidak mengejar dan menemukan kesia-siaan belaka di balik  semua buatan tangan manusia yang tidak memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri. Samuel menyebut berhala itu dewa kesia-siaan (1 Sam 12:21).

Meskipun demikian, ternyata  bahwa inilah dosa yang berulang kali timbul dalam sejarah umat Allah. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Kitab Suci, Israel pertama kali menyembah anak lembuh emas ketika Musa masih berada di gunung Sinai (Kel 32:1-6) dan sepanjang perjalanan kehidupan mereka Israel tidak luput dari dosa yang menjijikan ini. Perpecahan dan kehancuran bangsa Israel tidak terlepas dari sikap umat Israel yang mendua hati (bdk. https://alkitab.sabda.org).

Nabi Hosea menggambarkan kebinasaan sebagai konsekuensi logis dari sikap dan perbuatan berhala pada buatan tangan manusia. “Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan” (Hos 8:4). Sebagai variasi ungkapan yang menyatakan konsekuensi itu, Hosea berkata: “Sebab mereka menabur angin, maka mereka akan menuai puting beliung; gandum yang belum menguning tidak ada pada mereka; tumbuh-tumbuhan itu tidak menghasilkan tepung; dan jika memberi hasil, maka orang-orang lain menelannya” (Hos 8:7).

Seperti dinyatakan dalam sejarah Israel bahwa penyembahan berhala itu berhenti dilakukan Israel pasca pembuangan, tidak serta merta bahwa sikap mendua hati itu putus secara radikal. Ternyata bahwa sikap hati itu bisa saja lahir dalam bentuk dan cara baru yang tidak kurang keburukannya seperti yang dilakukan bangsa Israel sebelumnya.

Berhala sebagai buatan manusia sebenarnya merujuk kepada apa yang manusia produsir sendiri bagi dirinya sendiri dan membayangkan adanya kekuatan yang menguntungkan dirinya sendiri. Maka sebenarnya ada sekian banyak berhala baru yang disembah oleh manusia dan itulah yang menjijikan hati Allah.

Dalam Injil kita menemukan suatu bentuk berhala baru yang sangat dikritik oleh Yesus. Sekalipun Yesus datang sebagai utusan Allah yang meyatakan kebenaran yang menuntun hidup kepada keselamatan akan tetapi jalan kebenaran dan hidup itu sangat ditolak oleh orang-orang Farisi. Seperti yang dikatakan Hosesa, “Sekalipun Kutuliskan baginya banyak pengajaran-Ku, itu akan dianggap mereka sebagai sesuatu yang asing” (Hos 8:12), orang-orang Farisi tidak peduli pada ajaran kebenaran yang menyelamatkan dari Yesus. Mereka mengikuti jalan pikiran dan kehendak mereka sendiri dan itulah berhala yang mereka puja. Mereka menyembah dirinya sendiri dan menolak Allah yang menyelamatkan dalam diri Yesus.

Seperti para raja Israel yang menyembah berhala dan menyebabkan umat Israel berdosa, demikianlah di zaman Yesus orang-orang Farisi yang berhala pada dirinya juga mendatangkan dosa bagi banyak orang yang disesatkan. Ketika mereka menuduh Yesus bahwa Ia mengusir setan yang membisukan dengan kuasa penghulu setan mereka mau membawa orang kepada kesesatan berhala pikiran buruk mereka sendiri. Mereka membalikan apa yang benar yang dilakukan Yesus sebagai sesat dan membenarkan apa yang sesat yang mereka produsir di dalam hati dan pikiran mereka sebagai yang benar.

Sikap yang sama seperti orang-orang Farisi dapat saja menghantui hidup kita sebagai orang-orang beriman. Jika kita memandang diri kita sebagai standar kebenaran dan menutup diri terhadap kebenaran yang mendatangi kita maka kita terjebak dalam pola sikap orang-orang Farisi yang mengagumi diri mereka sebagai standar kebenaran. Seperti orang-orang Farisi, Tuhan pun kita tolak demi pengagungan diri kita sendiri. Dalam kecendrungan yang sama, orang lain pun dapat kita pengaruhi untuk berhala pada pemikiran dan kehendak hati kita dengan keinginan sebagai pusat dari segala-galanya.

Jika hati dan pikiran kita hanya tertambat pada keinginan diri sendiri maka bukan saja hati dan pikiran kita sajalah yang kita sembah, melainkan semakin banyak lagi berhala baru yang kita sembah dalam hidup kita dan kita tidak dapat lagi membebaskan diri dari berhala-berhala itu. Uang, kuasa, seks dan berbagai kenikmatan yang dikerjar secara tidak beraturan adalah berhala-berhala baru hasil produksi pikiran dan kehendak hati kita yang terpenjara oleh keinginan kita.

Melalui sabda-Nya Allah mengingatkan kita bahwa berhala-berhala yang kita sembah itu kesia-siaan belaka; tampak kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan dari keinginan yang terpenuhi kita seakan meandang itulah hidup yang kita cari, akan tetapi apa yang kita cari dan kejar dalam hidup itu tidak mendatangkan suatu yang lebih bernilai daripada keinginan kita semata dan yang pada akhirnya juga kita sesali. Keinginan memang baik sebagai suatu anugerah Allah, akan tetapi ketika menjadi tidak teratur dan mengarahkan kita kepada sikap berhala, maka keingnan itu merusakkan hidup kita. Ia mengarahkan kita kepada kesia-siaan.

Kita hidup dalam situasi dunia di mana kecenderungan kepada berhala itu tidak dapat dihindari seperti juga pada masa Israel yang dikelilingi oleh situasi hidup berhala yang mempengaruhi mereka, akan tetapi Allah melalui Kristus Putra-Nya mengajarkan kita jalan kebenaran dan hidup yang membuat kita dapat membebaskan diri dari berhala-berhala itu. Ketika kita mendengarkan Dia dan mengikuti pengajaran-Nya kita menghadirkan kebenaran dalam diri kita sehingga keinginan-keinginan hati kita selalu dimurnikan untuk hidup setia dan taat kepada Allah.

Oleh kebenaran-Nya  yang kita terima, Tuhan selalu ada dalam hati kita. Bersama Dia, kita mampu merobohkan berhala-berhala yang ada dalam hati dan pikiran kita dan kita pun dibuat-Nya menjadi semakin murni betapapun di sekeliling kita selalu ada berhala-berhala yang mengahantui dan menggoda hidup kita. *** Apol Wuwur***

Rabu, 01 Juli 2020

TERANG SEJATI MENGALAHKAN KEGELAPAN DUNIA


MAT 8:28-34
Pertentangan antara dua sisi kehidupan selalu muncul dalam wilayah kehidupan manusia. Kegelapan dan terang, setan dan Yesus Kristus. Dua kekuatan ini tidaklah berimbang karena yang satu memiliki kuasa penuh atas surga dan dunia yang mampu menghancurkan yang lain. Setan sering diidentikan dengan kegelapan, kejahatan, dosa, dll. Orang yang kerasukan setan sering menjadikan area pekuburan sebagai tempat tinggal mereka, karena pekuburan menjadi tempat yang sunyi senyap, kotor dan bergentayangan makhluk halus. Sedangkan Yesus sering diidentikan sebagai Terang Sejati, kebenaran, Kejujuran, Keadilan, Keselamatan, dll. Kehadiran Yesus ke dunia sebagai Mesias, Terang Sejati dan tanda kehadiran Allah selalu menjadi topik pertentangan khususnya kekuatan setan atau kegelapan karena Yesus datang membawa terang sejati untuk menghalau kegelapan dunia.

Injil hari ini mengisahkan tentang dua orang kerasukan setan yang datang dari pekuburan dan disembuhkan oleh Yesus. Mereka itu sangat berbahaya sehingga tak seorang pun dapat menghampiri mereka. Ketika mereka melihat Yesus, mereka berteriak katanya, “Apakah urusanmu dengan kami, hai Anak Allah?“ Setan mengenal dengan baik kehadiran Terang Sejati dihadapan mereka, karena itu, mereka bertanya: Adakah Engkau datang kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” Sebelum setan-setan itu keluar, mereka memohon kepada Yesus supaya dipindahkan ke dalam kawanan babi dan permintaan mereka dikabulkan Yesus. Permintaan setan yang hendak diusir oleh Yesus menunjukkan pengakuan atas kuasa Terang, tidak ada perlawanan berarti datang dari setan. Setan yang adalah kegelapan itu sendiri mengakui Yesus sebagai Anak Allah, mereka tahu kuasa dan kekuatan Yesus bersumber dari Allah yang tak mungkin dapat dilawan. Kekuatan kegelapan itu sama sekali tidak berdaya di hadapan Yesus, karena kegelapan bukanlah pesaing Terang. Kegelapan hanyalah sekedar sebuah kekuatan pengganggu yang sepenuhnya takhluk pada Terang Sejati.

Peristiwa penyembuhan ini menggemparkan seluruh daerah Gadara, bukan karena dua orang yang kerasukan setan telah disembuhkan dan hidup normal kembali, melainkan pemilik ternak babi mengalami kerugian besar karena Yesus memperbolehkan setan-setan itu berpindah ke kawanan babi dan terjun ke danau hingga mati semuanya. Peristiwa tersebut menimbulkan kemarahan para pemilik babi, mereka mendesak Yesus untuk segera meninggalkan daerah mereka. Kisah ini sungguh tragis karena para pemilik babi itu lebih mementingkan kawanan babi ketimbang orang yang disembuhkan Yesus. Mereka tidak turut bersuka cita karena dua orang yang telah lama menderita itu boleh menikmati hidup normal. Mereka justru marah karena mengalami kerugian material yang tidak sedikit.

Sikap seperti itu memang sering terjadi di dalam hidup manusia, orang tidak lagi mempedulikan sesamanya yang sekian lama menderita, tetapi sibuk membuat kalkulasi ekonomis hidupnya. Padahal kita tahu bahwa pada akhirnya kita akan diadili oleh karena cinta kasih yang tulus terhadap sesama yang kecil dan menderita. Sebagai murid-murid Kristus seharusnya kita berkewajiban menghidupkan cinta kasih Kristus sebagai salah satu kebajikan hidup Kristiani yang menjiwai semangat hidup kita untuk menghargai hidup orang lain sebagai perwujudan diri Allah di dunia. Prinsip hidup Kristiani harus kita junjung tinggi bahwa kehidupan manusia jauh lebih bernilai ketimbang hal-hal duniawi yang sifatnya sementara. Sebenarnya kekayaan dan materi yang kita miliki menjadi sarana pelengkap yang membantu  tujuan pewartaan kita menjadi berhasil. Karena itu, hormat terhadap hidup sesama jauh lebih berharga ketimbang bergelimang harta kekayaan yang menjadikan orang semakin sombong dan egois dan pada akhirnya membawa orang kepada kehancuran.

Injil hari ini memberikan pemahaman yang mendalam kepada kita agar kita selalu berjuang membaharui diri dan membangun kesadaran tentang pentingnya mewujudkan cinta kasih dalam artian memberikan perhatian khusus kepada mereka yang kecil dan sederhana. Kita berkewajiban mengangkat dan memperjuangkan martabat hidup manusia yang secitra dengan Allah. Dimana terjadi pelanggaran hak asasi manusia, diskriminasi, pembiaran atau penelantaran yang disengaja maka suara kenabian kita sebagai murid-murid Kristus harus digaungkan ke permukaan untuk disikapi. Setan atau kegelapan sering merajalela dan merajai hidup manusia karena kita secara sadar membiarkannya menguasai diri kita. Iman tidak lagi dijadikan sebagai benteng pertahanan yang kuat untuk melumpuhkan kekuatan kegelapan. Kita kadang lengah dan santai tanpa kita sadari kuasa setan sedang mengintai bahkan melumpuhkan iman kita kepada Allah sehingga ia mudah menggiring kita masuk dalam persekutuan dan kawanan kegelapan, dengan begitu, orientasi dan misi pewartaan keselamatan kita di tengah-tengah hidup sesama yang kecil dan menderita menjadi gagal. Dengan demikian, kita tidak jauh lebih baik daripada pemilik babi yang ngotot meminta Yesus keluar dari daerahnya karena kawanan babinya mati tenggelam semua. Sikap yang ditujunjukkan oleh pemilik kawanan babi dan orang-orang Gadara kadang tidak jauh berbeda dengan kita, terkadang kita juga berani mengusir Yesus dari hati dan kehidupan kita, karena kita takut jangan sampai kita kehilangan segalanya. Kita juga terkadang malas tahu ketika banyak sama saudara kita yang kecil dan sederhana hidup dalam penderitaan namun kita masah bodoh, padahal Allah sedang mewujudkan diri-Nya dalam kesederhanaan itu. Karenanya, kita perlu membangun kesadaran baru dalam hidup kita, agar Allah senantiasa menjadikan kita alat-Nya untuk mewartakan keselamatan bagi semua orang.

Yesus yang adalah Terang Sejati mengundang kita semua ikut ambil bagian dalam terang-Nya untuk menghadirkan terang bagi mereka yang kecil, menderita, bahkan mereka yang telah dikuasai kegelapan dunia. Kita harus bisa membawa mereka keluar dari  kungkungan penjara kegelapan sehingga mereka dapat menjalani hidup normal sebagai anak-anak Allah.  Dalam iman Kristiani kita yakin bahwa Yesus selalu datang mengisi hidup kita untuk mengusir roh jahat yang adalah ketamakan, egoisme diri, kebencian, cinta diri yang berlebihan dan orientasi artifisial mengumpulkan harta kekayaan yang sia-sia. Kiranya Yesus boleh memurnikan kesadaran iman kita kembali  untuk lebih dekat dan bersandar pada Terang Sejati yang menghantar kita pada keselamatan kekal. Amin ***Bernad Wadan***