Minggu, 31 Juli 2022

Setia Dalam Panggilan Tuhan

                                          Mat 10:34-11:1

 

Hari ini (Senin/11/7/2022), kita memperingati Santo Benediktus, Abbas. Benediktus dikenal sebagai pendiri cara hidup monastik di Eropa Barat. Cara hidup monastik adalah sebuah praktek hidup yang meninggalkan hal-hal duniawi untuk lebih fokus membangun aspek spiritual dan rohani. Mereka yang membaktikan dirinya dalam praktek hidup monastik disebut dengan para rahib atau pertapa. Benediktus bukan saja menjalani panggilan hidupnya sebagai seorang imam. Ia juga adalah seorang pertapa atau rahib yang yang terkenal dan disegani oleh semua orang. Salah satu karunia ilahi yang dimilikinya adalah bisa mendeteksi niat jahat orang yang hendak meracuninya. Karena karunia ini maka Benediktus dikenal sebagai pelindung bagi orang yang terkena racun atau bisa. Benediktus lahir di Nursia, Italia sekitar tahun 480 dan meninggal dunia di Monte Casino pada tahun 547. Benediktus terlahir sebagai anak kembar. Saudari kembarnya bernama Skolastika; yang kemudian menjadi Santa Skolastika.

 

Seorang ibu pernah bercerita bahwa semenjak dekat kembali dengan Tuhan, hati dan pikirannya menjadi lebih tenang dan hidupnya lebih damai. Sang ibu ini memiliki masa lalu yang kelam. Ia menghabiskan masa mudanya dengan terjun ke dalam alam pergaulan bebas. Dia jatuh dalam dosa yang menghancurkan hidupnya. Ia merusak masa depan dirinya, anak-anak, dan keluarganya. Namanya sudah terlanjur tenar. Tenar bukan karena hal yang baik, namun sebaliknya. Ia menjadi buah bibir bagi semua orang yang melihatnya. Keluarga, rekan dan kenalan tidak pernah berhenti mencibir dan menghinanya. Mencoba keluar dari lingkaran kegelapan, ia merantau ke daerah yang jauh. Namun itu tidak membawa perubahan yang berarti. Malahan ia semakin terjebak dan tidak bisa keluar dari kemelut hidup yang membelenggu.

 

Sampai pada suatu ketika ia jatuh sakit. Sakit yang cukup parah dan menyiksa. Dalam situasi demikian ia tidak memiliki siapa pun. Semua orang telah menjauhinya. Bahkan sanak keluarga pun tidak mendekat. Kemudian ia mulai memasrahkan seluruh diri dan hidupnya pada Tuhan. Ia terus berdoa dan semakin intens membangun komunikasi dengan Tuhan. Ia tidak pernah melewatkan waktunya dengan berdoa dan terus berdoa. Apa pun kehendak Tuhan atas dirinya, ia sungguh menyerahkannya ke dalam penyelenggaraan Tuhan. Ternyata ia merasa sangat damai dan nyaman bersama Tuhan. Dalam kesendirian dan kesakitannya, ternyata ia tidak merasa kesepian. Tuhan sungguh hadir untuk menjadi seorang sahabat sejati baginya.

 

Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, melainkan orang sakit. Kata-kata dari Tuhan Yesus ini yang sungguh meneguhkan pribadinya. Tuhan Yesus datang untuk membawa pertobatan dan menyelamatkan mereka yang hilang. Hilang bukan dalam arti harafiah. Hilang dalam makna simbolik. Hilang akibat dosa-dosa manusiawi. Sang ibu telah menyadari kesalahan dan dosa-dosanya. Ia merasa sangat yakin bahwa Tuhan telah mengampuninya. Sama seperti wanita pendosa dalam kisah Injil. Tuhan telah berbela rasa dan mengangkat kembali martabatnya sebagai makhluk mulia di hadapan-Nya. Dan sebagai bonus yang didapatkan dari kemurahan Tuhan, ia dinyatakan sembuh dari sakit oleh dokter yang merawatnya.

 

Kisah pelik hidupnya belum mencapai bab akhir. Karena ia harus kembali menghadapi tantangan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Keluarganya belum sepenuhnya menerima dia dalam rumah. Ditambah lagi dengan nyinyiran orang-orang sekitar yang merendahkan dan menghujatnya. Bukannya bersyukur atas perubahan yang terjadi pada sang ibu, mereka malah menaruh prasangka atas perubahannya itu. Segala kebaikan yang beliau lakukan selalu dicurigai dan dianggap tidak benar. Hidup dalam stigma negatif terus menderanya. Hal ini membuat sang ibu sempat putus asa dan kehilangan harapan. Namun ia tetap tegar karena merasa dekat dengan sahabat sejatinya Yesus Kristus. Dalam situasi ini, yang menguatkan dirinya hanyalah sabda Tuhan yang dia baca setiap hari dan yang didengarnya dalam Perayaan Ekaristi. Kata-kata Tuhanlah yang meyakinkan dia. Bahwa dia tidak salah pilih untuk kembali kepada jalan Tuhan.

 

Kepada para murid-Nya, Yesus berkata bahwa Dia datang ke dunia bukan untuk membawa damai melainkan pertentangan. Dengan menerima, mengakui, dan percaya kepada-Nya bukan berarti masalah selesai. Bukan berarti juga segalanya akan berjalan baik dan indah. Malah situasi sebaliknya yang akan dihadapi. Banyak orang akan membenci dan menghujat mereka. Karena nama-Nya, orang akan dihina dan diperlakukan tidak adil. Semuanya itu harus mereka alami, karena Yesus pun telah sebelumnya diperlakukan seperti itu. Tetapi mereka tidak perlu kuatir. Barangsiapa kuat, tahan uji dan setia dalam penderitaan akan dimuliakan bersama Yesus. Dia yang juga telah berhasil mengalahkan semua tantangan dan cobaan dengan kesetiaan yang luar biasa.

 

Hari ini, Tuhan meneguhkan iman kita agar kita tetap setia dalam hidup dan panggilan bersama Dia. Menjadi pengikut Yesus itu tidak sulit. Tetapi yang sulit itu bagaimana menjalani hidup sebagai murid-Nya. Karena ada banyak tantangan, hambatan, dan kesulitan yang kita hadapi dengan pelbagai karakteristiknya. Tuhan menghendaki agar kita bertahan dan tidak kendor dalam menghadapi setiap tantangan atau hambatan. Tiap tantangan dan hambatan itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pertumbuhan pribadi yang semakin matang. Demikian kata-kata Nietscszhe, sang filsuf ateis. Dan dalam terang iman, bertahan dalam tantangan dan hambatan adalah jalan sebuah titik balik untuk menemukan eksistensi pribadi kita sebagai makhluk mulia di hadapan Tuhan. Mari kita tetap setia dalam panggilan Tuhan. 

Rabu, 22 Juni 2022

Mengisi Diri Dengan Hakikat Nabi Sejati

Mat 7:15-20

 

Pohon dan buah menjadi satu paket kehidupan yang tidak dapat dipisahkan. Dari pohonlah kita mengenal buah. Entah buah yang baik atau pun yang tidak baik. Biasanya pohon yang baik menghasilkan buah yang baik. Sebaliknya pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Maka kita mengenal sebuah pameo, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Pameo ini berisi pesan atau nasihat yang menggambarkan kebiasaan, tindak tanduk, perilaku dan sifat anak tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Jika orang tua mengupayakan atau mewariskan kebiasaan, tindak tanduk, perilaku, dan sifat yang baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari maka dapat dipastikan bahwa anak-anaknya dapat mengikuti atau meneladani apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Dan pada sisi yang lain, jika orang tua tidak mampu menunjukkan sifat, kebiasaan, atau perilaku yang baik maka tidak mengherankan apabila kehidupan anak-anak mereka juga jauh dari hal-hal yang baik.

 

Gambaran tentang pohon yang baik dan pohon yang tidak baik menjadi analogi untuk menjelaskan para nabi yang asli dan palsu. Dan dengan cerdas Yesus telah menyatakan itu dalam firman-Nya hari ini (Mat 7:15-20). Lebih khusus sikap waspada terhadap para nabi palsu. Ibarat pohon yang tidak baik, para nabi palsu akan muncul atau kelihatan seperti seorang nabi yang benar. Namun apa yang mereka tampilkan hanya kamuflase. Ada orientasi atau kepentingan terselubung yang hendak diraih. Sudah pasti bahwa tujuan yang hendak digapai itu berseberangan dengan kehendak atau kemauan Tuhan. Para nabi palsu menawarkan hal-hal yang seolah-olah berasal dari Tuhan. Mereka sengaja menebar jebakan untuk menarik simpati orang lain. Apabila jebakannya berhasil, sifat atau karakter asli yang disembunyikan akan muncul.

 

Menurut Yesus, para nabi palsu itu adalah para serigala yang buas. Serigala yang pada awalnya mengenakan bulu domba. Ketika mangsa sudah berada di depan mata, segera ia tidak akan menyia-nyiakan peluang emas tersebut. Dengan sekali tangkapan, ia akan memangsa mangsa yang ada di depan matanya. Para nabi palsu dengan sengaja memanfaatkan kemampuan atau kapabilitas yang dimiliki untuk menarik keuntungan pribadi atau kelompoknya. Tentu keuntungan itu bisa nampak dalam wujud yang berbeda-beda. Misalnya keuntungan secara sosial atau politik. Para nabi palsu sengaja memanfaatkan momentum tertentu untuk mendongkrak pamor atau prestise pribadi. Dengan cara demikian, akan mudah baginya untuk menaikan elektabilitas pribadi atau kelompoknya dalam kontestasi politik. Namun sayang seribu sayang, ketika sudah memegang jabatan atau duduk di kursi yang empuk, ia akan lupa dengan segala janji manisnya.

 

Dari sisi ekonomi, para nabi palsu sangat lihai menebar aneka kebaikan untuk mendapatkan keuntungan itu. Mereka sangat pandai menjual ayat-ayat Tuhan. Dengan memanfaatkan keluguan, kepolosan dan keterbatasan yang dimiliki orang lain, para nabi palsu akan bereaksi untuk memperoleh mammon duniawi atau keuntungan secara ekonomi. Sadar atau tidak, di tengah-tengah kita bertebaran kelompok-kelompok doa yang menawarkan kesembuhan atau keselamatan. Tetapi jangan kaget. Kelompok-kelompok itu adalah kelompok berbayar dengan tarif yang variatif. Ada juga yang sengaja menawarkan bantuan atau pertolongan ketika orang lain sedang ditimpah kesusahan, sakit dan penderitaan. Dan kita sudah bisa menebak bahwa kebaikan yang diberikan tidak gratis. Mereka menginginkan harta duniawi sebagai bayaran dari segala hal baik yang telah dilakukan.

 

Selain mewanti-wanti kehadiran para nabi palsu, secara implisit Yesus mengarahkan kita untuk mampu menjadi seorang nabi sejati. Seorang nabi yang tidak terpapar dengan pelbagai kepentingan atau orientasi yang menyesatkan. Nabi sejati itu ibarat pohon yang baik. Apa yang dipikirkan dan dilakukan selalu memiliki nilai kebaikan bagi banyak orang. Tidak hanya itu saja. Ia tidak pernah mengharapkan imbalan atau reward dari segala hal yang telah dilakukannya. Niatnya selalu tulus. Apa yang dilakukan oleh seorang nabi asli selalu berada dalam kerangka atau desain Tuhan. Ia memiliki tujuan yang sangat mulia untuk membawa warta gembira kerajaan Allah bagi semua orang. Nabi asli adalah mitra Allah di muka bumi. Karena ia mampu menerjemahkan dan mengeksekusi berbagai program kerja Allah secara baik demi membawa kemaslahatan dan keselamatan bagi dunia.

 

Mungkin terbersit dalam pikiran kita masing-masing betapa sulitnya menjadi model seorang nabi sejati. Bayang-bayang nabi besar seperti Yesaya, Elia, Yeremia, Yehezkiel sementara menghantui pikiran dan rasa kita. Mungkinkah kita harus meniru dan mengikuti model  nabi sejati seperti mereka? Saya pikir tidak perlu demikian. Untuk menjadi seorang nabi yang baik tidak perlu harus mengimitasi model nabi Yesaya dan kawan-kawannya. Sekecil apa pun hal baik yang kita lakukan, sesungguhnya kita telah mengambil bagian yang hakiki untuk menjadi seorang nabi yang sejati di era ini. Di tengah kehidupan kita ada banyak realitas sosial yang memprihatikankan. Ada kemiskinan yang mendera. Rasa sakit yang tak kunjung sembuh. Ada ketidakadilan yang terjadi. Penindasan secara fisik dan psikis yang terus berulang. Ada pengalaman duka yang mengiris hati. Inilah fakta-fakta sosial yang menuntut perhatian dan kepedulian kita untuk mau terlibat. Saatnya kita membuktikan diri sebagai seorang nabi. Tetapi tentu bukan sembarang nabi. Kita harus menghindarkan diri dari perangai nabi palsu. Dan saatnya kita mulai mengisi diri dengan pelbagai keutamaan yang dimiliki oleh seorang nabi sejati. Kita harus mengambil bagian dan senantiasa berada di bagian terdalam untuk menjadi saksi sekaligus mitra kerja Allah yang mumpuni di tengah dunia.

Selasa, 21 Juni 2022

Spirit Kasih Melampaui Hukum

Mat 5: 17-19

 

Banyak pengendara sepeda motor tidak memakai helm karena beranggapan tidak ada polisi yang memantau. Sebagian orang terpaksa memakai helm semata-mata karena takut ada polisi yang menilang. Cukup jarang kita menemukan orang memakai helm karena sudah ada kesadaran penuh akan keselamatan diri. Memakai helm tidak sekedar mematuhi aturan dan hukum yang berlaku. Tentunya ada tujuan mulia di balik kepatuhan terhadap aturan dan hukum tersebut. Orang memakai helm, dengan kesadaran penuh dan tanggung jawab akan terciptanya keselamatan diri dan orang lain. Secara umum, kita memerlukan aturan dan hukum agar suasana ketertiban, keamanan, dan kenyaman baik pribadi atau publik dapat terjaga dengan baik. Tanpa aturan dan hukum, kekacauan dalam kehidupan bersama akan menjadi momok yang merusak segala-galanya.

 

Agama-agama pun memerlukan aturan dan hukum yang dapat membantu para pemeluknya menjalankan hidup dengan baik dan benar. Agama Yahudi memiliki seperangkat peraturan dan hukum yang tertulis dalam Kitab Taurat. Hukum-hukum ini berasal dari Allah sendiri yang mengatur kehidupan sosial dan keagamaan orang-orang Israel. Tetapi hukum-hukum ilahi ini seringkali tidak dilakukan secara sempurna. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang mendapat kuasa untuk menjaga keteraturan dalam hidup keagamaan menerapkan aturan dan hukum secara keras dan kaku. Bahkan seringkali mereka memanipulasi hukum Tuhan demi kepentingan pribadi dan golongan mereka. Akibatnya, hukum dan aturan agama malah membebani orang-orang Israel. Mereka melaksanakan hukum Taurat karena takut akan hukuman. Orang-orang Israel tidak dengan bebas dan kesadaran penuh melakukan aturan dan hukum agama. Karena penerapan aturan dan hukum dalam kitab Taurat tidak sesuai dengan roh atau spirit idealnya. Aturan dan hukum yang dilaksanakan lebih banyak mengabdi dan memberi keuntungan sepihak bagi para elit agama.

 

Menghadapi kenyataan yang tidak benar dan tidak adil demikian, Yesus tampil memberikan kritik dan kecaman. Pada hakekatnya, aturan dan hukum yang tertera dalam kitab Taurat sudah memiliki kebenarannya sejak awal. Yang menjadi masalah adalah orang-orang yang menafsirkan dan menerapkannya dalam kehidupan jemaat. Pihak pertama yang merasa tersinggung dan marah tentunya para elit agama. Mereka berpikir bahwa Yesus sedang membawa hukum baru yang berbeda sama sekalih dengan hukum Taurat. Mereka juga merasa terganggu kemapanan dan kenyamanannya dengan kehadiran Yesus. Mereka takut banyak orang Yahudi yang akan menyeberang mengikuti Yesus. Dan sudah pasti mereka akan kehilangan simpati publik. Belum terhitung pula hilangnya pelbagai keuntungan secara ekonomi.

 

 Untuk menghindari fitnah dan penggiringan opini untuk mempersalahkan-Nya, Yesus perlu memberikan klarifikasi. Dalam sebuah kesempatan kotbah di bukit, Yesus berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17). Sangat jelas terbaca bahwa Yesus datang bukan untuk menghilangkan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya. Yesus menggenapi hukum Taurat dengan cara: pertama, mengembalikan semangat atau spirit pelaksanaan hukum Taurat yakni spirit kasih kepada Allah dan kebaikan umum. Kedua, Yesus memberikan teladan dalam menjalankan hukum. Pengajaran hukum Taurat dengan kata-kata hendaknya dilengkapi dengan teladan hidup yang baik.

 

Yesus menyadari bahwa penerapan hukum Taurat telah kehilangan spirit dasarnya yakni spirit kasih. Orang  merasa tidak bebas karena selalu diliputi oleh rasa takut melakukan kesalahan. Karena konsekuensi dari sebuah kesalahan adalah hukuman yang berat. Orang Israel juga dibebani oleh pelbagai aturan yang tidak adil dan menindas. Kebijakan aturan atau hukum yang keras dan kaku selalu berlindung di balik ayat-ayat suci. Ayat-ayat suci selalu dijadikan tameng oleh para elit agama demi pembenaran diri. Demi mendapatkan berbagai keuntungan. Dalam misi penggenapan hukum Taurat, Yesus menegaskan sudah saatnya roh kasih menjadi peletak dasar dari segala pelaksanaan hukum atau aturan agama. Tidak sekedar beretorika. Yesus sendiri yang memberi contoh secara langsung. Misalnya ketika Ia menyembuhkan orang sakit pada hari sabat. Ia bergaul dan makan bersama dengan orang kecil dan kaum pendosa. Tidak sekedar bergaul dan makan bersama mereka. Yesus memberi ruang bagi mereka untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

 

Misi penggenapan hukum Taurat dengan spirit kasih, seyogyanya menyasar juga kehidupan beriman kita. Seringkali kita belum sepenuhnya menjawabi tanggung jawab kita sebagai orang beriman dalam menjalani kehidupan keagamaan kita. Kita masih mengikuti pelbagai ritual keagamaan acapkali hanya sebagai rutinitas. Supaya dilihat orang bahwa kita sungguh terlibat, kita pantas dilabeli sebagai orang beragama, orang suci dan sebagainya. Atau sebaliknya kita tidak mau terlibat dalam ritual keagamaan karena merasa sudah bosan, jenuh, malas, dan tidak ada efek positif dalam kehidupan pribadi. Ini fenomena yang menantang iman karena banyak orang Katolik pada masa kini yang tidak merasa tertarik lagi mengikuti perayaan ekaristi pada hari Minggu di Gereja. Dalam kehidupan sosial, kita jarang berbagi dan menunjukkan kepekaan atau kepedulian bagi orang lain. Sekali pun berbagi, ada kalkulasi tertentu yang kita harapkan. Kita jarang memberi atau menolong tanpa pamrih. Yang sering terjadi adalah membantu dengan mengharapkan pamrih (balasan). Inilah sebagian contoh konkrit bahwa kita belum menstandarisasi kehidupan iman dan sosial keagamaan kita dengan spirit kasih.

 

Semoga dengan spirit kasih yang digaungkan oleh Yesus pada hari ini, mampu menaikan level kehidupan iman dan keagamaan kita. Kita mampu dengan bebas, sukarela, dan kesadaran penuh mengimplementasikan jati diri kita sebagai orang beriman dengan spirit kasih yang diwariskan oleh Yesus sendiri. Kita mampu memenuhi kewajiban kita sebagai orang beragama dengan sungguh-sungguh mengasihi Allah dan sesama. Kita mengikuti ritual keagamaan bukan karena aturan menghendaki demikian melainkan karena kita sungguh mengasihi Allah. Demikian pula kasih terhadap Allah menghantar kita secara bebas dan sukarela untuk mengasihi sesama. ***AKD***

Rabu, 23 Maret 2022

Melekatkan Harta Sorgawi Dalam Hidup

Mat:20:17-28

Mendapatkan status sosial yang baik, kedudukan yang tinggi dalam struktur masyarakat, dan jabatan yang mentereng dalam suatu pekerjaan menjadi harapan dan impian sebagian besar orang di muka bumi. Bahkan orang rela melakukan apa saja dan bisa menghalalkan segala cara demi mendapatkan hal-hal tersebut. Dan kebanyakan orang yang sudah mendapatkannya, cenderung menempatkan diri sebagai BOS. Bos itu boleh omong saja. Apa yang mereka butuhkan, inginkan atau kehendaki tinggal dikeluarkan lewat kata-kata saja. Dan semuanya akan terpenuhi. Orang-orang yang mendapatkan status sosial, kedudukan dan jabatan yang tinggi pada umumnya suka dilayani dan ingin dihormati. Mungkin kita pernah membaca, mendengar atau mengikuti salah satu kasus kekerasan yang sempat trending di media massa dan sosial. Ada salah satu wakil bupati di daerah tertentu yang tega berlaku kasar, tidak hanya secara verbal tetapi juga dengan kekesaran fisik terhadap salah seorang bawahannya. Akar persoalannya cuma hal sepele. Sang wakil bupati tersinggung karena tidak dihargai dan dihormati sebagai seorang pemimpin. Ini hanya salah satu contoh kasus dari sekian banyak kasus yang memperlihatkan sikap pongah dan ego dari orang-orang yang merasa diri paling hebat, paling pintar, dan paling berkuasa.

 

Bagi para murid, Sang Mesias adalah simbol dari sebuah kemuliaan, kemegahan, dan kejayaan. Para murid melihat bahwa Sang Mesias yang termanifestasi dalam diri Yesus adalah seorang raja dunia baru seperti raja Daud. Ia akan datang dan segera mengembalikan kejayaan Israel seperti sedia kala. Memori dan impian para murid (dan sebagian orang Israel) akan kehebatan dan kemuliaan raja Daud, perlahan-perlahan tersingkap dalam diri Yesus. Bagi para rasul, Yesus adalah Mesias, raja Israel baru yang akan membawa Israel keluar dari penindasan dan penjajahan bangsa asing. Bayang-bayang untuk mendapatkan remah-remah dari kekuasaan Mesias sebagai raja duniawi meninabobokan para murid. Yang ada dalam pikiran dan hati mereka hanya terbersit kekuasaan, kenikmatan, dan kejayaan duniawi. Sehingga tidak heran apabila Salome membawa dua puteranya yakni Yohanes dan Yakobus kepada Yesus. Ia membawa pesan khusus agar Yesus dapat memberikan perhatian berupa jabatan atau kedudukan yang tinggi bagi kedua anaknya.

 

Bayang-bayang akan kenikmatan dan kekuasaan duniawi yang dipresentasikan oleh para murid serentak sirna tatkala Yesus mulai membongkar misi mulianya. “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati” (Mat 20:18). Sepenggal pernyataan Yesus ini seakan menjadi bom atom yang meruntuhkan segala harapan dan cita-cita para murid akan bayang-bayang kejayaan hidup bersama Yesus Sang Mesias. Ternyata selama ini, mereka gagal paham akan arti Mesias yang terdeskripsi dalam diri Yesus. Secara terbuka dan jelas, Yesus merubah cara pandang para murid mengenai kata Mesias. Ia bukan seperti raja Daud atau raja duniawi mana pun, yang akan duduk di singgasana kerajaan Duniawi. Yesus memang Mesias. Namun Ia adalah raja ilahi yang datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia bukan dari penjajahan bangsa asing. Tetapi dari penjajahan dosa-dosa duniawi.

 

Dan puncak dari kejayaan dan kemuliaan-Nya sebagai Sang Mesias adalah ketika Ia harus menderita dalam jalan salib, mati di kayu salib, dimakamkan dan kemudian bangkit. Di sinilah letak agung keMesiasan-Nya untuk membawa sebanyak mungkin manusia keluar dari belenggu dosa untuk masuk dalam Kerajaan Sorga. Inilah cita-cita mulia dari Sang Mesias yang ingin mendaratkan kehendak Bapa di sorga yakni seluruh umat manusia dapat mencapai nirwana keselamatan. Para murid entah suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, harus mulai menyadari inilah cita-cita Sang Mesias yang sementara diretas untuk segera mencapai puncaknya. Siapa yang tidak tahan harus segera mengundurkan diri. Namun dalam situasi kebatinan para murid yang lagi dilematis, Yesus tetap memberi arahan, kekuatan dan peneguhan agar mereka tetap bertahan. Karena hanya orang-orang yang mampu bertahanlah yang akan mendapatkan keselamatan dan kenikmatan ilahi.

 

Kejayaan dan kemuliaan hidup yang digaungkan oleh Yesus sebagai Mesias baru, berbanding terbalik dengan konsep mesianik lama, yang melihat Yesus sekedar raja duniawi. Dalam konsep mesiani baru, Yesus adalah raja ilahi yang membawa kemuliaan sorgawi di tengah dunia. Orang harus melepaskan keterikatan akan kesenangan dan kenikmatan duniawinya. Karena mereka harus meminum “cawan” yang Ia berikan. Orang harus bertahan banyak dalam kesulitan, kesusahan dan penderitaan. Inilah jalan hidup setiap orang beriman yang dimaknai sebagai jalan salib menuju keselamatan kekal. Tidak ada keselamatan tanpa usaha yang remeh temeh. Orang harus berjuang dan memiliki komitmen yang kuat. Mengikuti Yesus sebagai Mesias berarti harus rela meninggalkan kemapanan dan kenyamanan duniawi. Orang harus siap melayani, dan bukan siap dilayani. Orang harus rela memberi dan bukan rela diberi.

 

Pertanyaan Yesus kepada Salome dan dua anaknya (Yohanes dan Yakobus): “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum” (Mat 20:22), menembus jauh di kedalaman hidup dan pengalaman kita sebagai para pengikut Yesus di masa kini. Bahwa kadangkala atau seringkali kita belum siap atau menolak meminum cawan yang diberikan oleh Yesus. Kita belum siap menderita bersama Yesus di dalam jalan salib kehidupan ini. Kita masih hidup dan ingin hidup dalam gelimangan harta, jabatan, status sosial, budaya hedonisme, dan pelbagai kenikmatan lain yang membelenggu hidup. Kita masih suka dilayani, gila akan rasa hormat dan pujian, dan suka menindas orang demi mendapatkan keuntungan sesaat.

 

Momen masa prapaskah mengarahkan kita untuk mencari harta sorgawi, dan bukan sebaliknya sibuk mencari harta duniawi. Mari kita mencari harta sorgawi dengan selalu melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup. Kita harus rela menanggalkan kemapanan dan kenyamanan hidup demi menghidupi semangat pelayanan dan kasih kepada orang lain. 

Senin, 21 Maret 2022

Menjadi Tanda Yang Baik

Luk 11:29-32

 

Tanda mengandung makna yang sangat variatif. Tanda digunakan untuk menunjuk sesuatu yang lain. Tanda dapat berupa benda, sifat, kejadian, dan lain sebagainya. KTP atau Kartu Tanda Pengenal misalnya, menempati kedudukan sebagai tanda khusus bagi orang tertentu sehingga dapat diketahui dan dikenali dengan mudah oleh orang lain. Mendung yang muncul di atap langit misalnya, dapat menjadi tanda bahwa akan segera turun hujan. Atau ketika mencium aroma yang tidak sedap di lingkungan rumah, dapat menjadi tanda ada bangkai hewan atau sampah busuk yang tercecer di sekitar lingkungan tempat tinggal. Dan masih banyak lain tanda-tanda lain yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Sesuatu yang aneh, tidak lazim, dan spektakuler itu seringkali menjadi bahan percakapan dan pergunjingan banyak orang. Ia bisa menjadi polemik dan mulai dihubung-hubungkan dengan tanda tertentu. Bisa jadi tanda itu mengarah ke hal yang positif atau negatif. Ketika melihat banyak hal fenomenal yang ada dalam dan diperbuat oleh Yesus, banyak orang semakin penasaran. Rasa penasaran inilah yang mendorong orang untuk datang kepada Yesus dan meminta tanda dari-Nya. Tanda yang diminta ini menjadi simbol otoritas atau wewenang bagi orang untuk melakukan sesuatu. Apalagi melakukan sesuatu yang ajaib seperti yang dibuat oleh Yesus. Banyak orang yang mengerumuni Yesus rupanya masih merasa kabur, bingung, dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Sehingga tanpa ragu-ragu, mereka meminta sebuah tanda khusus dari Yesus.

Bukannya memenuhi rasa penasaran publik dengan memberikan jawaban yang pasti, Yesus malah balik mengecam mereka. “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus” (Luk 11:29). Yesus membandingkan orang-orang sezaman-Nya, dengan orang-orang pada masa nabi Yunus. Walaupun orang Niniwe dilabeli sebagai orang-orang jahat, namun mereka dapat mengenali tanda yang dibawa oleh nabi Yunus. Nabi Yunus membawa tanda ilahi dari Allah, sehingga mampu menggerakkan orang Niniwe untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Lain orang Niniwe, lain pula orang sezaman Yesus. Walaupun sudah melihat hal-hal ajaib yang dilakukan oleh Yesus dengan terang benderang, mereka tetap merasa ragu dan tidak percaya bahwa Yesus adalah yang ilahi. Keragu-raguaan dan ketidakpercayaan mereka sebenarnya dilandasi oleh sikap ego dan sombong. Mereka merasa diri lebih hebat dan pintar. Mereka tidak mau kehadiran Yesus dapat menghilangkan status dan prestise dalam diri mereka. Terutama para elit agama yang merasa terancam akan kehilangan simpati dan dukungan dari rakyat banyak.

Sikap ego, angkuh, dan iri hati seringkali membelenggu diri kita sebagai orang beriman. Acapkali kita merasa diri lebih hebat dan pintar dibandingkan dengan orang lain. Kita tidak mau ada orang lain yang melampaui diri kita dalam hal tertentu. Ketika dihadapkan dengan realitas bahwa ada orang lain memiliki kemampuan atau kompetensi yang mumpuni, timbul penolakan dalam diri. Kita tidak mau menerima kenyataan demikian. Maka mulai muncul pula sikap-sikap destruktif lainnya. Kita mulai menaruh sikap sentimen, iri hati dan permusuhan. Dalam setiap kesempatan berhadapan dengan orang-orang tertentu yang tidak kita sukai, ada saja pikiran atau argumen sesat yang kita bangun untuk mendiskreditkan atau menjatuhkan pihak lain.

Sikap ego dan angkuh menjadi batu sandungan utama bagi kita dalam membangun relasi yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Sikap ego dan angkuh selalu memunculkan prasangka, curiga, dan vonis yang tidak benar. Dan pada akhirnya, suasana kehidupan sosial kita menjadi terluka dan terhempas. Kita lebih peduli dengan diri sendiri dan keluarga. Tetapi nihil bagi sesama kita yang lain. ketidakpedulian dengan sesama bisa juga memunculkan sikap ego dan angkuh dalam diri kita terhadap Tuhan. Kita mulai merasa tidak penting untuk membangun relasi dengan Tuhan. Kita mulai apatis dengan kehidupan rohani. Karena kita merasa diri kita adalah titik sentral dalam kehidupan ini. Semua hal apa saja yang terjadi selalu berada di bawah kendali kemampuan dan kompetensi pribadi. Dan Tuhan menjadi entitas yang kosong, tanpa makna.


Hari ini Tuhan menyadarkan kita untuk mulai berbenah diri dan menjadi lebih baik. Kita harus melepaskan sikap ego dan angkuh di hadapan Tuhan. Kita seyogyanya memasrahkan dan menyerahkan diri ke dalam penyelenggaraan ilahi-Nya. Kita mulai sadar bahwa Yesus tidak sekedar menjadi tanda ilahi. Dia sebenarnya adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Kesadaran inilah yang kemudian membawa kita untuk memoles diri menjadi tanda yang baik. Tanda yang mewartakan kasih dan perdamaian bagi orang lain. Semoga di masa prapaskah ini, kita terus merefleksi diri dan kemudian memompa diri menjadi pribadi yang semakin baik di mata Tuhan. Di tengah situasi hidup yang semakin kompleks dan beragam, semoga kita mampu menjadi tanda yang baik bagi orang lain. Sebuah tanda ilahi yang dapat menciptakan nuansa kehidupan yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan.

Senin, 21 Februari 2022

Mengakui Yesus Sebagai Mesias_ Anak Allah Yang Hidup

                                                               Mat 16:13-19

 

Why always me? (mengapa selalu saya). Sebuah kalimat ikonik yang identik dengan Mario Balotelli. Mario Balotelli adalah seorang pesepakbola handal dan ternama dari negara Italia. Ia menggunakan ungkapan Why always me? (mengapa selalu saya) untuk menyindir sekaligus meredam aksi para supporter yang sering merasa tidak puas dengan penampilannya di lapangan hijau. Dengan kata-kata ikonik ini, Mario Balotelli ingin memberi pesan tersirat kepada para supporter bahwa ia hanyalah manusia biasa. Ia bukan superman. Apalagi makhluk supranatural. Sebagai manusia biasa, sangat wajar apabila ada pasang surut dalam pola dan gaya permainan sepakbolanya. Semestinya orang-orang tidak perlu meletakkan parameter yang sempurna pada dirinya. Karena ia bukan manusia yang sempurna.

 

Why always me dari Mario Balotelli tentu berbeda level dan tidak mungkin bisa dibandingkan dengan kata-kata Yesus Who am I? (Siapakah saya) pada hari ini. Yesus adalah makhluk ilahi yang mempresentasikan diri-Nya sebagai manusia biasa. Dan untuk menguji sejauh mana tingkat pengenalan dan pemahaman para murid akan diri-Nya, Yesus menggunakan dua model pertanyaan. Pertama, Yesus menanyakan pendapat orang banyak tentang siapakah diri-Nya kepada para murid. Para murid pun mengatakan bahwa seturut pandangan orang banyak, Yesus disamakan dengan Yohanes Pembaptis. Ada juga pendapat orang lain yang mengatakan bahwa Yesus adalah nabi Elia, nabi Yeremia, atau salah seorang nabi lain yang telah hidup kembali.

 

Kedua, Yesus menanyakan pendapat para murid sendiri tentang siapakah diri-Nya yang sebenarnya. Dengan spontan dan lugas, Petrus menjawab; “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Mesias adalah kata Ibrani yang berarti “Yang Diurapi”. Terjemahan dalam bahasa Yunaninya adalah Christos atau Kristus yang kita kenal sekarang. Namun pengakuan Petrus akan Yesus sebagai Mesias kala itu masih dipahami dalam konsep lama mesianik. Petrus masih memahami bahwa Yesus itu sama dengan Raja Daud yang akan mengembalikan kejayaan bangsa Israel. Setali tiga uang dengan Petrus, para murid yang lain juga memahami hal yang sama. Bahwa Yesus yang berdiri di hadapan mereka adalah seorang raja duniawi yang akan membebaskan bangsa Israel dari tangan penjajah. Maka tidak mengherankan dalam bacaan selanjutnya, Petrus dengan tegas menolak konsep penderitaan atau konsep mesianik baru yang dideklarasikan oleh Yesus.

 

Terlepas dari konsep mesianik lama yang masih dianut oleh Petrus dan kawan-kawannya, hal yang patut diberi apresiasi adalah pengakuan yang jujur dan tulus dari seorang Petrus. Berbekal pengenalan dan pemahaman yang masih terbatas (walaupun memang ada banyak pengalaman tidak terbatas yang telah dialaminya bersama Yesus), Petrus dengan berani menandaskan misteri yang sangat krusial tersebut: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”. Di atas itu, apa yang diproklamirkan oleh Petrus sebenarnya merepresentasikan wahyu Allah sendiri tentang siapa Yesus. Dan kata-kata Yesus mengafirmasi hal ini. “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Mrk 16:17).

 

Sama seperti Petrus, kita pun seharusnya dengan berani, jujur, dan tulus mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Tentu tidak hanya dengan ungkapan di bibir semata. Apa yang kita nyatakan akan lebih bermakna apabila kita nyatakan dalam kehidupan riil kita. Kita harus sungguh-sungguh menjadi seorang murid Tuhan yang sejati dalam hidup. Sejalan dengan nasihat Santo Petrus dalam suratnya (1 Ptr 5:1-4), semestinya sebagai seorang murid yang sejati, kita perlu mengikuti Yesus dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah. Bukan dengan paksaan supaya dilihat dan diakui oleh banyak orang. Yang berikutnya, mengikuti Yesus bukan untuk mencari keuntungan tertentu. Mengikuti Yesus berarti mengikuti-Nya dengan total. Penuh dedikasi. Tidak setengah-setengah Dan terakhir, mengikuti Yesus dengan manjadi teladan bagi orang lain. Terutama dalam sikap kasih dan pelayanan yang prima kepada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

 

Hari ini, Yesus sungguh mencerahkan hati dan pikiran kita tentang siapa sebenarnya diri-Nya. Kita tidak perlu ragu-ragu dan tidak skeptis tentang diri-Nya. Kita seharusnya berbangga karena memiliki Yesus. Karena Ia adalah sungguh Mesias, Anak Allah yang hidup dan menyejarah dalam dunia sebagai manusia biasa. Melalui gereja-Nya pada masa kini, kita pun meyakini bahwa Ia tetap hadir dan menaungi setiap kita yang senantiasa percaya dan memasrahkan hidup kepada-Nya. Gereja-Nya adalah tanda kehadiran diri-Nya yang sungguh nyata dalam hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memuji Dia, Sang Mesias, Anak Allah yang hidup, dengan memberi banyak kebaikan dan memperjuangkan kebenaran-kebenaran dalam hidup, sesuai dengan apa yang telah dikehendaki oleh Tuhan sendiri dalam firman-Nya. Karena sesungguhnya, kita adalah gereja-gereja kecil yang telah diurapi oleh sakramen permandian untuk menyebarkan warta kebaikan Injil di tengah dunia

Menjadi Tanda Yang Baik

 Mrk 8:11-13

 

Hari ini kita memperingati dua orang bersaudara yang menjadi orang kudus dalam gereja Katolik. Mereka berdua adalah Santo Sirilus dan Santo Metodius. Sirilus dan Metodius berasal dari Tesalonika, Yunani. Metodius dilahirkan pada tahun 815 dan Sirilus dilahirkan pada tahun 827. Keduanya menjadi imam dan memiliki keinginan kudus yang sama untuk mewartakan iman kristiani. Mereka menjadi misionaris untuk bangsa-bangsa Slavia seperti Moravia, Bohemia, dan Bulgaria. Pada tahun 862, hanya tujuh tahun sebelum kematian St. Sirilus, pangeran Moravia memohon agar para misionaris diutus ke negaranya untuk mewartakan kabar gembira Yesus dan gereja-Nya. pangeran menambahkan satu permohonan lagi yaitu para misionaris tersebut hendaknya berbicara dalam bahasa setempat.

 

Kedua bersaudara, Sirilus dan Metodius, menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan dan diterima. Mereka tahu bahwa mereka akan diminta untuk meninggalkan negeri, bahasa serta kebudayaan mereka demi cinta kepada Yesus. Mereka melakukannya dengan sukacita. Sirilus dan Metodius menciptakan abjad Slavia. Mereka menerjemahkan Kitab Suci dan liturgi Gereja ke dalam bahasa Slavia. Oleh karena jasa mereka, rakyat dapat menerima ajaran kristiani dalam bahasa mereka sendiri. Pada tanggal 31 Desember 1980, Paus Yohanes Paulus II mengangkat Santo Sirilus dan Santo Metodius sebagai pelindung Eropa bersama dengan Santo Benediktus.

 

Perjuangan dan dedikasi yang mulia dari Santo Sirilus dan Metodius untuk menjadi tanda Kerajaan Allah bagi bangsa Slavia ternyata tidak berjalan mulus. Mereka harus menghadapi pelbagai kritik, kecaman dan perlawanan dari orang-orang Slavia sendiri. Pengalaman nyata yang tidak mengenakan yang dialami oleh Sirilus dan Metodius sejatinya sudah dialami oleh Sang Guru Ilahi mereka yakni Yesus Kristus. Dalam perjalanan sejarahnya di tanah Israel, Yesus sudah memberi banyak tanda yang jelas mengenai siapa Diri-Nya kepada segenap umat Israel. Melalui kata-kata dan perbuatan-Nya yang ajaib, Yesus secara berulangkali menegaskan identitas Diri-Nya kepada mereka (umat Israel). Namun seiring dengan semakin banyak hal menakjubkan yang dibuat-Nya, semakin membuat para lawan-Nya menjadi bingung dan heran. Sikap bingung dan heran ini yang memicu rasa antipati dan sentimen kepada Yesus.

 

Dengan maksud untuk mencobai Yesus dan mencari titik kesalahan-Nya. para lawan Yesus yang kali ini diwakili oleh orang-orang Farisi meminta sebuah tanda dari Sorga. Tanda dari sorga ini sebagai representasi yang menyatakan keilahian Yesus. Penginjil Markus mencatat bahwa Yesus tidak menjawab apa-apa kepada lawan bicara-Nya. Yesus hanya mengeluh dalam hati-Nya. Kemudian Ia berkata kepada para murid-Nya: “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Yesus mengungkapkan kekecewaan yang mendalam atas sikap gagal paham yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi. Ia tidak mengerti mengapa orang-orang meminta tanda dari-Nya tentang kuasa yang Ia miliki. Sementara hampir setiap waktu mereka menyaksikan dengan terang benderang peran keilahian Yesus dalam setiap kata-kata dan perbuatan-Nya.

 

Pada akhirnya, Yesus mengetahui bahwa orang-orang yang meminta tanda dari-Nya, tidak hanya gagal paham namun hati mereka telah menjadi batu alias tidak mau menaruh sikap percaya kepada Diri-Nya. Ketidakpercayaan inilah yang menggiring mereka untuk selalu mencari-cari kesalahan-Nya. Mereka merasa sangat terganggu dan terancam dengan kehadiran Yesus. Karena kehadiran Yesus menciptakan ketidaknyamanan posisi mereka sebagai elit agama. Mereka takut kehilangan simpati publik. Mereka takut pamor atau citra diri mereka menjadi runtuh. Dan segala kemudahan atau kenikmatan yang telah diperoleh selama ini akan lenyap. Oleh karena itu, jalan satu-satunya adalah mencari kesalahan Yesus supaya Ia dapat dijegal.

 

Mungkin sebagai orang beriman, pertama-tama, kita seringkali menampilkan sikap ragu-ragu dan tidak percaya kepada Tuhan. Kita gampang menyerah manakala menghadapi setiap tantangan dan cobaan dalam hidup. Kita gampang menjadi lemah dan putus asa. Dalam situasi demikian, seringkali kita mempertanyakan kemahakuasaan Tuhan. Kita mulai ragu-ragu dan bahkan tidak percaya dengan Tuhan. Kedua, karena tidak percaya dengan Tuhan maka kita juga gagal menunjukkan diri kita sebagai tanda dari-Nya. Kita masih sibuk dan suka melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Sama seperti orang Farisi, kita gampang menaruh sikap curiga, prasangka, sentimen, atau iri hati kepada sesama.

 

Hari ini kita belajar untuk semakin percaya kepada Tuhan. Secara kasat mata kita tidak melihat Diri-Nya. Tetapi kita sungguh yakin bahwa dalam setiap tantangan dan kesulitan yang kita hadapi, Tuhan sementara menyatakan tanda kehadiran Diri-Nya. Dan ini butuh keterbukaan iman untuk menerima dan menjawabi wahyu Tuhan yang hadir dalam pengalaman-pengalaman demikian. Tuhan tidak pernah menyakiti atau membinasakan manusia ciptaan-Nya sendiri. Namun adakalanya Tuhan membutuhkan pengalaman sakit, derita, dan keterpurukan untuk menggembleng manusia menjadi pribadi yang kuat dan matang dalam hidupnya. Semoga dengan menyadari hal demikian, kita semakin memperbaiki diri untuk menjadi tanda yang baik bagi Dia yang kita imani. Menjadi tanda yang baik tidak perlu hal yang muluk-muluk atau luar biasa. Dengan hal-hal sederhana yang membawa kebaikan, penghiburan, kekuatan dan keselamatan bagi orang lain, sebenarnya kita sudah menjadi tanda yang baik Tuhan

Membersihkan Roh Jahat Di Dalam Diri

Mrk 5:1-20

 

Mungkin anda pernah mendengar atau membaca sebuah istilah yang bernama eksorsisme. Eksorsisme adalah sebuah praktik untuk mengusir setan atau makhluk halus (roh) jahat dari seseorang atau suatu tempat yang dipercaya sudah dimasuki atau dirasuki setan. Orang yang melakukan eksorsisme dikenal dengan sebutan eksorsis. Seorang eksorsis bisa berasal dari kalangan apa saja. Entah rohaniwan, biarawan-biarawati atau pun awam. Eksorsis bisa menggunakan media doa dan hal-hal religius lainnnya seperti mantra, gerak-gerik, simbol, gambar atau patung orang suci, jimat, dan lain-lain. Seorang eksorsis seringkali memohon bantuan Tuhan atau beberapa malaikat dan malaikat agung untuk ikut campur di dalam eksorsisme.

 

Praktis eksorsisme ternyata sudah sangat tua dan berlaku di banyak negara. Sejak zaman Yesus, praktek eksorsisme sudah dikenal. Bahkan Yesus sendiri menggunakan eksorsisme sebagai salah satu media untuk menegaskan eksistensi Diri-Nya. Bagi Yesus, eksorsisme tidak sekedar memberi keselamatan bagi si sakit. Ekorsisme adalah sarana pewartaan warta Kerajaan Allah yang dikumandangkan oleh Yesus sendiri. Melalui eksorsisme, Yesus merepresentasikan kekuatan Allah yang sungguh dasyat. Melampaui segala kekuatan dunia dan setan. Oleh karena itu, kita bisa mengatakan bahwa Yesus adalah seorang eksorsis agung. Karena Yesus memiliki kekuatan ilahi untuk mengusir roh jahat atau setan yang merasuki pribadi seseorang.

 

Seperti dalam bacaan Injil pada hari ini (Mrk5:1-20), diperlihatkan kepada kita sebuah kisah penyembuhan seseorang yang kerasukan roh jahat di daerah Gerasa. Roh jahat itu rupanya sudah mengenal siapa Yesus. Ia kelihatan takut ketika melihat kedatangan Yesus. Ia merasa hidup dan kekuasaannya akan segera berakhir di daerah Gerasa. Oleh karena itu, dengan sangat ia meminta bantuan Yesus supaya dipindahkan ke dalam kawanan babi yang ada di sekitar daerah itu. Yesus pun mengabulkan permintaan roh jahat yang bernama Legion. Ia mengeluarkan roh jahat dari si sakit dan memindahkan roh jahat itu ke dalam babi-babi, sehingga menyebabkan kawanan babi itu terjun ke dalam danau.

 

Praktek eksorsisme atau pengusiran roh jahat ternyata masih berlaku hingga saat ini. Kalau kita perhatikan, memang ada segelintir orang yang memiliki karunia atau karisma khusus untuk melakukan praktek eksorsisme. Mereka biasanya menggunakan media doa, dan barang-barang rohani seperti salib, patung, Rosario, gambar-gambar kudus dan sebagainya. Dan banyak orang zaman ini yang masih kuat menggunakan jasa seorang eksorsis untuk menyembuhkan anggota keluarga atau kenalannya yang kerasukan roh jahat. Tidak jarang kita mendengar atau menyaksikan praktek-praktek eksorsisme yang terjadi di sekitar kita. Banyak hal di luar logika yang kita temui di sana. Namun yang pasti bahwa orang dituntut untuk memiliki kepercayaan agar proses eksorsisme itu bisa terlaksana dengan baik dan sukses.

 

Selain roh jahat yang datang dari luar dan menyusup masuk dalam jiwa seseorang, ternyata roh jahat itu juga bisa diciptakan oleh manusia sendiri di dalam dirinya. Ketika mendengar nama Yesus, orang menjadi alergi. Orang tidak mau mendengar dan mempercakapkan sosok yang bernama Yesus. Fatalnya, banyak orang Kristen yang hidupnya sudah mulai menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran Kristen. Seperti orang Gerasa yang menolak kehadiran Yesus di daerahnya, banyak orang Kristen juga memiliki tendensi untuk bertindak demikian. Mereka seringkali menolak kehadiran Yesus baik di dalam hati maupun secara terang benderang lewat kata-kata dan perbuatan. Mereka lebih sibuk mempraktekkan urusan duniawi dan mengabaikan nilai-nilai yang termaktub dalam ajaran kristiani.

 

Fenomena orang-orang Kristen yang tidak tertarik lagi ke gereja pada hari Minggu menjadi pemandangan biasa yang sering kita amati. Dengan getol dan berapi-api mereka mencari pendasaran untuk membela diri. Mereka mengatakan bahwa cukup saja menjadi orang baik. Namun apakah menjadi orang Kristen itu cukup dengan hanya berbuat baik? Saya kira tidak demikian. Spirit akan Tuhan Yesus perlu ditimba dan dikuatkan dalam diri. Salah satunya dengan menghadiri perayaan ekaristi untuk menghormati dan menyambut Tubuh Tuhan dalam rupa roti.

 

Fenomena lain yang kita temui adalah kecenderungan orang Kristen untuk menghabiskan kekayaannya demi perilaku hedonisme yakni pesta pora. Tentu saja orang akan berdalih bahwa uang itu milik pribadi. Dan menjadi wilayah privasi yang tidak bisa diganggu gugat. Kita sepakat dengan hal itu. Namun menjadi hal yang miris adalah ketika orang menjadikan hidup hedonis menjadi fokus dan lokus dalam hidupnya. Imbasnya, orang tidak lagi memiliki kepekaan untuk menunjukkan keprihatinan dan perhatian sosialnya. Orang menjadi apatis (cuek), egois (merasa lebih unggul), dan permisif (tidak mau tahu) dengan ketidakadilan dan kemiskinan yang terjadi di sekitarnya.

 

Dan masih banyak hal lain yang bisa menjadi refleksi bagi diri sendiri. Bahwa roh jahat itu bisa bertransformasi dalam rupa apa pun. Tidak hanya dalam rupa yang jelek dan tidak menarik. Dalam rupa yang paling manis dan mengenakan pun, roh jahat bisa bercokol di dalamnya. Mari kita membersihkan segala jenis roh jahat yang masih bersemayam di dalam diri kita, agar tubuh kita menjadi pantas menjadi Bait Allah, tempat kediaman Allah sendiri. 

Minggu, 13 Februari 2022

Menghidupi Iman Dengan Cara Sederhana

 

Mrk 6:53-56

 

Iman adalah tanggapan manusia atas wahyu Allah. Iman juga merupakan sikap penyerahan diri yang total kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa, melainkan dengan sukarela. Dalam iman, manusia menyadari dan mengakui bahwa Allah yang tak terbatas berkenan memasuki hidup manusia yang serba terbatas. Ia menyapa manusia dan memanggilnya. Iman berarti jawaban atas panggilan Allah. Penyerahan pribadi kepada Allah yang menjumpai manusia secara pribadi pula. Dalam iman manusia menyerahkan diri kepada Sang Pemberi Hidup. Pengalaman religius memang merupakan pengalaman dasar. Di atas pengalaman dasar itulah dibangun iman, penyerahan kepada Allah, pertemuan dengan Allah. Manusia dari dirinya sendiri tidak mungkin mengenal Allah. Umat Kristen mengenal Allah secara pribadi sebagai Bapa, melalui Yesus. Dalam kitab Suci dikatakan, “Tidak seorang pun mengenal Bapa, selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakan-Nya” (Mat 11:27).

 

Sikap iman yang total kepada Yesus ditunjukkan oleh orang-orang ketika melihat Yesus berada di daerah Genesaret. Tidak sekedar datang melihat Yesus. Mereka juga membawa orang-orang sakit ke hadapan Yesus. Mereka percaya, Yesus akan memberi kesembuhan kepada orang-orang sakit. Saking yakinnya, mereka memohon kepada Yesus untuk cukup saja menyentuh jumbai jubah-Nya. Dengan begitu, mereka akan mendapatkan keselamatan. Hal ini memberi inspirasi kepada kita betapa orang-orang itu tidak hanya total menaruh iman mereka kepada Yesus. Orang-orang itu juga menghidupi iman mereka dengan cara yang sederhana. Tidak rumit.

 

Sikap iman yang total dan sederhana dari orang-orang, ternyata kontras (berbanding terbalik) dengan sikap iman yang ditunjukkan oleh para murid. Sekian lama berada dan melihat banyak hal tentang Yesus, ternyata belum mampu mendongkrak kadar iman para murid akan Yesus. Dalam peristiwa sebelumnya, yang mengisahkan Yesus berjalan di atas air (Mrk 6:45-52), para murid sangat ketakutan dan mengira Yesus adalah hantu. Bahkan ketika Yesus sudah memperkenalkan diri dan naik ke perahu bersama-sama dengan mereka, itu belum cukup membuat mereka yakin. Injil mencatat ”Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu (Yesus memberi makan lima ribu orang) mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil” (Mrk 6:51-52).

 

Sikap para murid yang belum mampu menunjukkan sikap percaya dan iman yang total kepada Yesus, sebenarnya mempresentasikan sikap iman kita dewasa ini. Sebagai seorang pengikut Yesus, kita acapkali belum atau tidak mampu menunjukkan iman yang total kepada Yesus dan Bapa-Nya. Kita lebih mengandalkan logika atau rasio dalam setiap pengalaman hidup yang kita alami. Pengalaman yang baik dilihat sebagai hal yang biasa saja. Dalam tiap keberhasilan atau kesuksesan yang diraih, kita lebih membanggakan usaha dan prestasi pribadi. Sebaliknya, dalam pengalaman kegagalan, penderitaan, dan keterpurukan, kadang kita lari dan tidak mau menghadapinya. Malahan, kita melempar tanggung jawab, sibuk mencari kambing hitam dan tidak lupa menegaskan pembenaran diri.

 

Dalam pengalaman sakit, yang mungkin pernah atau pada saat sekarang kita sedang mengalaminya, kita belum mau menunjukkan iman yang total kepada Yesus. Malahan kita mengambil jarak dengan Dia dengan tidak mau berdoa. Anehnya, kita lebih mengandalkan kekuatan-kekuatan luar selain kekuatan Yesus. Kita mencari paranormal atau dukun, orang pintar, dan orang hebat untuk mencari tahu dan menyembuhkan rasa sakit dan penyakit yang kita rasakan. Kita tidak mau pergi ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit, karena kita lebih mempercayai dukun atau paranormal. Nanti tunggu rasa sakit semakin menjadi-jadi dan tidak diatasi oleh dukun barulah tergopoh-gopoh kita pergi ke fasilitas kesehatan.

 

Orang-orang Genesaret telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Sikap iman kepada Tuhan itu harus dihidupi tanpa adanya sikap kompromi, ragu-ragu, apatis dan sombong. Kita perlu belajar dari orang-orang Genesaret untuk menghidupi iman kita kepada Tuhan dengan sikap iman yang sederhana. Sikap iman yang sederhana menunjuk pada sikap iman yang tulus dan total. Kita mau datang kepada Tuhan dengan cara-cara yang sederhana dan tidak rumit. Kita mau mempercakapkan banyak hal tentang kehidupan kita kepada-Nya dengan kata-kata yang sederhana. Tidak dengan kata-kata yang tinggi dan sulit dimengerti. Bahkan Tuhan sendiri juga bingung dengan aneka istilah yang kita gunakan. Kita butuh waktu yang sederhana, singkat, dan tidak bertele-tele. Dalam kesendirian dan kesunyian, kita mau menyerahkan diri secara total agar Ia mau mendengar segala keluh kesah kita. Kita percaya Tuhan akan menindaklanjuti apa yang kita sampaikan dengan cara-Nya yang penuh misteri, rahasia tetapi sungguh memberi kelegaan dan keselamatan.

 

Dan melalui para dokter, para perawat, para bidan, dan semua orang yang bertugas di rumah sakit ini, Tuhan sementara menyingkapkan tindakan-Nya yang penuh misteri agar kita sungguh menyadari kehadiran-Nya di tempat ini. Tuhan sungguh menjawab apa yang kita sampaikan kepada-Nya melalui para tenaga kesehatan yang sementara bertugas di tempat ini. Mereka sebenarnya adalah representasi (perwakilan) dari Tuhan sendiri yang datang untuk memberi kesembuhan dan keselamatan bagi kita yang sementara mengalami sakit. Menghidupi iman yang sederhana berarti pula kita menyadari kehadiran Tuhan yang sungguh misteri, serentak pula menyadari kehadiran-Nya yang sungguh nyata di tempat ini. Kita percaya, Tuhan akan menjawab segala doa yang kita panjatkan kepada-Nya dengan kebijaksanaan ilahi-Nya. Mari kita menyerahkan diri kepada Tuhan dengan menghidupi iman kita secara sederhana.

Kamis, 10 Februari 2022

IA MENJADIKAN SEGALA-GALANYA BAIK

 

Mrk 7:31-37

            Hari ini Gereja Katolik sejagad memperingati hari orang sakit sedunia. Gereja mengajak kita semua untuk berempati dan simpati dengan orang-orang sakit dengan cara mendoakan mereka atau pun memberi dukungan dengan cara kita masing-masing. Semua orang sakit pasti merindukan kesembuhan dan Gereja selalu hadir untuk mereka. Gereja berjuang untuk memberi harapan hidup, Gereja berjuang memberi diri dalam berbagai aspek pelayanan, misalnya. Karena itu, Gereja membangun rumah-rumah sakit dan pusat-pusat pelayanan kesehatan bagi masyarakat agar bisa menampung orang-orang sakit untuk dirawat. Kehadiran Gereja di tengah-tengah umat ini ingin melanjutkan karya pelayanan Yesus untuk memberi harapan bagi yang miskin, lemah, sakit dan putus asa. Gereja mengharapkan agar karya-karya pelayanan kesehatan dan karya karitatif lainnya dapat dikembangkan di seluruh pelosok dunia agar misi pelayanan yang dirintis Yesus dapat terus hidup.

 

            Kisah penyembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus telah mendorong sekian banyak orang mencari Dia. Mereka tidak saja mencari kesembuhan tetapi menyatakan iman kepercayaan kepadanya secara terang-terangan bahkan mereka mengungkapkan kekaguman mereka secara terbuka bahwa “Ia menjadikan segala-galanya baik.” Ungkapan ini mengingatkan kita pada kisah penciptaan alam semesta. Sesudah menciptakan segala sesuatu, Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik (Kej 1:31). Di mata Tuhan, semua ciptaan baik dan bermartabat, namun dosa yang dilakukan manusia mencederai martabat luhur itu. Maka kedatangan Kristus dapat dilihat sebagai karya penciptaan kedua, mengembalikan seluruh ciptaan ke martabat yang sebenarnya yang sesuai dengan kehendak Allah. Orang bisu dan tuli secara sosial dikucilkan dan martabatnya sebagai manusia tidak dihargai. Yesus tampil sebagai Pencipta Baru menyembuhkan si bisu dan tuli agar martabat kemanusiaan orang sakit dipulihkan kembali.

 

            Hari ini Sabda Tuhan mau menantang kita  untuk menjadi penyumbang kebaikan. Orang banyak membawa kepada Yesus seorang yang tuli dan gagap untuk disembuhkan. Tindakan mereka ini menunjukkan bahwa kehidupan ini harus dihargai, diperbaiki dan dipelihara. Ada semacam kepekaan rasa, ada kepedulian, ada perhatian dan kebersamaan yang mereka bangun terutama kepada mereka yang sakit. Kehadiran Yesus memang selalu bertujuan untuk menjadikan segala-galanya baik, karena itu, mereka yang sakit fisik atau pun batin selalu dibuat-Nya sembuh berkat rahmat yang mengalir dalam diri-Nya. Sabda Tuhan hari ini menggugah kesadaran iman kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan agar kita semakin peka melihat dan merasakan penderitaan sesama kita. Secara  pribadi kita dituntut menjadi penyumbang kebaikan agar penderitaan yang dialami sesama kita dapat diakhiri. Hidup ini akan terasa indah apabila masing-masing kita selalu berjuang untuk menyumbang kebaikan dalam kebersamaan terkhusus kepada mereka yang lemah, miskin, sakit dan yang terabaikan.

 

            Sebagai orang beriman, kita memohon rahmat dan uluran tangan Yesus agar membuka telinga kita yang mungkin pura-pura tuli untuk peka mendengarkan jerit tangis sesama kita yang lemah, miskin dan sakit agar kita dapat menolong atau membantu mereka secara spontan/tulus tanpa menunggu diexpose menjadi berita yang viral. Di samping itu, kita juga memohon rahmat kesembuhan dari Tuhan bagi kita yang pura-pura gagap atau seolah-olah bisu, agar kita berani bicara menentang penindasan dan tirani yang menyulitkan hidup masyarakat kecil. Perjuangan kita menyumbangkan kebaikan kepada sesama mengandaikan kerendahan hati dan kepercayaan yang total kepada Tuhan untuk menganugerahkan keberanian agar mulut kita dapat menyuarakan kebenaran dan keadilan serta telinga kita untuk mendengarkan keluh kesah orang-orang kecil. Berkenaan dengan peringatan orang sakit sedunia, refleksi atas Sabda Tuhan hari ini menginspirasi kita untuk menyumbangkan satu kebaikan bagi orang-orang sakit di sekitar kita.

 

 Sumbangan yang kita berikan bersifat spontan karena empati dan simpati kita kepada orang sakit. Kita tidak dituntut untuk menyumbangkan uang untuk membantu biaya pengobatan mereka tetapi moment peringatan orang sakit sedunia ini mewajibkan kita untuk menyumbangkan doa dengan intensi khusus bagi kesembuhan semua orang sakit yang sedang dirawat, dimana pun mereka berada. Memang kita tidak akan mungkin sama dengan Yesus, Ia hanya dengan mengucapkan kata “Efata/terbukalah” maka, Ia menjadikan segala-galanya baik. Bagaimana dengan kita manusia, satu-satunya jalan yang bisa kita sumbangkan adalah dengan doa dengan intensi khusus kepada semua orang sakit, dengan cara itu, doa-doa kita akan menggetarkan hati Allah dan oleh belas kasih-Nya Ia akan menganugerahkan rahmat kesembuhan kepada semua orang sakit sedunia.             Misi utama kedatangan Tuhan Yesus adalah ingin agar semua orang memperoleh belas kasih Allah dan belas kasih Allah tidak diperoleh begitu saja tetapi harus dengan perjuangan yang dilandasai oleh iman dan hati yang ikhlas. Allah ingin menjadikan segala-galanya baik asalkan manusia membuka diri untuk menerima kedatangan-Nya. Tuhan mampu mengembalikan kondisi kelemahan dan keterpurukan manusia dan menjadikan segala-galanya baik asalkan kita selalu membangun relasi atau hubungan yang harmonis dengan-Nya.

 

            Tuhan senantiasa tersentuh hatiNya oleh orang yang sakit, menderita dan berbeban berat. Belas kasih Allah tidak terhalang oleh keraguan dan dangkalnya iman kita dan Dia bertindak menurut kehendak-Nya sendiri. Semoga iman kita tidak pasif  dan parasit terhadap sentuhan hati Allah tetapi hendaknya iman kita adalah iman yang hidup yang terus mewartakan kabar gembira keselamatan Allah bagi segala bangsa. Inspirasi Injil hari ini semoga semakin menguatkan iman semua orang sakit bahwa Allah adalah sumber kesembuhan kita dan kepadaNyalah kita memohon.