Mat 5: 17-19
Banyak pengendara
sepeda motor tidak memakai helm karena beranggapan tidak ada polisi yang
memantau. Sebagian orang terpaksa memakai helm semata-mata karena takut ada
polisi yang menilang. Cukup jarang kita menemukan orang memakai helm karena
sudah ada kesadaran penuh akan keselamatan diri. Memakai helm tidak sekedar
mematuhi aturan dan hukum yang berlaku. Tentunya ada tujuan mulia di balik
kepatuhan terhadap aturan dan hukum tersebut. Orang memakai helm, dengan
kesadaran penuh dan tanggung jawab akan terciptanya keselamatan diri dan orang
lain. Secara umum, kita memerlukan aturan dan hukum agar suasana ketertiban,
keamanan, dan kenyaman baik pribadi atau publik dapat terjaga dengan baik.
Tanpa aturan dan hukum, kekacauan dalam kehidupan bersama akan menjadi momok
yang merusak segala-galanya.
Agama-agama pun
memerlukan aturan dan hukum yang dapat membantu para pemeluknya menjalankan
hidup dengan baik dan benar. Agama Yahudi memiliki seperangkat peraturan dan
hukum yang tertulis dalam Kitab Taurat. Hukum-hukum ini berasal dari Allah
sendiri yang mengatur kehidupan sosial dan keagamaan orang-orang Israel. Tetapi
hukum-hukum ilahi ini seringkali tidak dilakukan secara sempurna. Ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi yang mendapat kuasa untuk menjaga keteraturan dalam
hidup keagamaan menerapkan aturan dan hukum secara keras dan kaku. Bahkan
seringkali mereka memanipulasi hukum Tuhan demi kepentingan pribadi dan
golongan mereka. Akibatnya, hukum dan aturan agama malah membebani orang-orang
Israel. Mereka melaksanakan hukum Taurat karena takut akan hukuman. Orang-orang
Israel tidak dengan bebas dan kesadaran penuh melakukan aturan dan hukum agama.
Karena penerapan aturan dan hukum dalam kitab Taurat tidak sesuai dengan roh
atau spirit idealnya. Aturan dan hukum yang dilaksanakan lebih banyak mengabdi
dan memberi keuntungan sepihak bagi para elit agama.
Menghadapi
kenyataan yang tidak benar dan tidak adil demikian, Yesus tampil memberikan
kritik dan kecaman. Pada hakekatnya, aturan dan hukum yang tertera dalam kitab
Taurat sudah memiliki kebenarannya sejak awal. Yang menjadi masalah adalah
orang-orang yang menafsirkan dan menerapkannya dalam kehidupan jemaat. Pihak
pertama yang merasa tersinggung dan marah tentunya para elit agama. Mereka
berpikir bahwa Yesus sedang membawa hukum baru yang berbeda sama sekalih dengan
hukum Taurat. Mereka juga merasa terganggu kemapanan dan kenyamanannya dengan
kehadiran Yesus. Mereka takut banyak orang Yahudi yang akan menyeberang
mengikuti Yesus. Dan sudah pasti mereka akan kehilangan simpati publik. Belum
terhitung pula hilangnya pelbagai keuntungan secara ekonomi.
Untuk menghindari fitnah dan penggiringan
opini untuk mempersalahkan-Nya, Yesus perlu memberikan klarifikasi. Dalam
sebuah kesempatan kotbah di bukit, Yesus berkata, “Janganlah kamu menyangka,
bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang
bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17). Sangat
jelas terbaca bahwa Yesus datang bukan untuk menghilangkan hukum Taurat, melainkan
untuk menggenapinya. Yesus menggenapi hukum Taurat dengan cara: pertama,
mengembalikan semangat atau spirit pelaksanaan hukum Taurat yakni spirit kasih
kepada Allah dan kebaikan umum. Kedua, Yesus memberikan teladan dalam
menjalankan hukum. Pengajaran hukum Taurat dengan kata-kata hendaknya
dilengkapi dengan teladan hidup yang baik.
Yesus menyadari
bahwa penerapan hukum Taurat telah kehilangan spirit dasarnya yakni spirit
kasih. Orang merasa tidak bebas karena
selalu diliputi oleh rasa takut melakukan kesalahan. Karena konsekuensi dari
sebuah kesalahan adalah hukuman yang berat. Orang Israel juga dibebani oleh
pelbagai aturan yang tidak adil dan menindas. Kebijakan aturan atau hukum yang
keras dan kaku selalu berlindung di balik ayat-ayat suci. Ayat-ayat suci selalu
dijadikan tameng oleh para elit agama demi pembenaran diri. Demi mendapatkan
berbagai keuntungan. Dalam misi penggenapan hukum Taurat, Yesus menegaskan
sudah saatnya roh kasih menjadi peletak dasar dari segala pelaksanaan hukum
atau aturan agama. Tidak sekedar beretorika. Yesus sendiri yang memberi contoh
secara langsung. Misalnya ketika Ia menyembuhkan orang sakit pada hari sabat.
Ia bergaul dan makan bersama dengan orang kecil dan kaum pendosa. Tidak sekedar
bergaul dan makan bersama mereka. Yesus memberi ruang bagi mereka untuk
bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
Misi penggenapan
hukum Taurat dengan spirit kasih, seyogyanya menyasar juga kehidupan beriman
kita. Seringkali kita belum sepenuhnya menjawabi tanggung jawab kita sebagai
orang beriman dalam menjalani kehidupan keagamaan kita. Kita masih mengikuti
pelbagai ritual keagamaan acapkali hanya sebagai rutinitas. Supaya dilihat
orang bahwa kita sungguh terlibat, kita pantas dilabeli sebagai orang beragama,
orang suci dan sebagainya. Atau sebaliknya kita tidak mau terlibat dalam ritual
keagamaan karena merasa sudah bosan, jenuh, malas, dan tidak ada efek positif
dalam kehidupan pribadi. Ini fenomena yang menantang iman karena banyak orang
Katolik pada masa kini yang tidak merasa tertarik lagi mengikuti perayaan
ekaristi pada hari Minggu di Gereja. Dalam kehidupan sosial, kita jarang
berbagi dan menunjukkan kepekaan atau kepedulian bagi orang lain. Sekali pun
berbagi, ada kalkulasi tertentu yang kita harapkan. Kita jarang memberi atau menolong
tanpa pamrih. Yang sering terjadi adalah membantu dengan mengharapkan pamrih
(balasan). Inilah sebagian contoh konkrit bahwa kita belum menstandarisasi
kehidupan iman dan sosial keagamaan kita dengan spirit kasih.
Semoga dengan
spirit kasih yang digaungkan oleh Yesus pada hari ini, mampu menaikan level
kehidupan iman dan keagamaan kita. Kita mampu dengan bebas, sukarela, dan
kesadaran penuh mengimplementasikan jati diri kita sebagai orang beriman dengan
spirit kasih yang diwariskan oleh Yesus sendiri. Kita mampu memenuhi kewajiban
kita sebagai orang beragama dengan sungguh-sungguh mengasihi Allah dan sesama.
Kita mengikuti ritual keagamaan bukan karena aturan menghendaki demikian
melainkan karena kita sungguh mengasihi Allah. Demikian pula kasih terhadap
Allah menghantar kita secara bebas dan sukarela untuk mengasihi sesama.
***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar