Selasa, 21 Juni 2022

Spirit Kasih Melampaui Hukum

Mat 5: 17-19

 

Banyak pengendara sepeda motor tidak memakai helm karena beranggapan tidak ada polisi yang memantau. Sebagian orang terpaksa memakai helm semata-mata karena takut ada polisi yang menilang. Cukup jarang kita menemukan orang memakai helm karena sudah ada kesadaran penuh akan keselamatan diri. Memakai helm tidak sekedar mematuhi aturan dan hukum yang berlaku. Tentunya ada tujuan mulia di balik kepatuhan terhadap aturan dan hukum tersebut. Orang memakai helm, dengan kesadaran penuh dan tanggung jawab akan terciptanya keselamatan diri dan orang lain. Secara umum, kita memerlukan aturan dan hukum agar suasana ketertiban, keamanan, dan kenyaman baik pribadi atau publik dapat terjaga dengan baik. Tanpa aturan dan hukum, kekacauan dalam kehidupan bersama akan menjadi momok yang merusak segala-galanya.

 

Agama-agama pun memerlukan aturan dan hukum yang dapat membantu para pemeluknya menjalankan hidup dengan baik dan benar. Agama Yahudi memiliki seperangkat peraturan dan hukum yang tertulis dalam Kitab Taurat. Hukum-hukum ini berasal dari Allah sendiri yang mengatur kehidupan sosial dan keagamaan orang-orang Israel. Tetapi hukum-hukum ilahi ini seringkali tidak dilakukan secara sempurna. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang mendapat kuasa untuk menjaga keteraturan dalam hidup keagamaan menerapkan aturan dan hukum secara keras dan kaku. Bahkan seringkali mereka memanipulasi hukum Tuhan demi kepentingan pribadi dan golongan mereka. Akibatnya, hukum dan aturan agama malah membebani orang-orang Israel. Mereka melaksanakan hukum Taurat karena takut akan hukuman. Orang-orang Israel tidak dengan bebas dan kesadaran penuh melakukan aturan dan hukum agama. Karena penerapan aturan dan hukum dalam kitab Taurat tidak sesuai dengan roh atau spirit idealnya. Aturan dan hukum yang dilaksanakan lebih banyak mengabdi dan memberi keuntungan sepihak bagi para elit agama.

 

Menghadapi kenyataan yang tidak benar dan tidak adil demikian, Yesus tampil memberikan kritik dan kecaman. Pada hakekatnya, aturan dan hukum yang tertera dalam kitab Taurat sudah memiliki kebenarannya sejak awal. Yang menjadi masalah adalah orang-orang yang menafsirkan dan menerapkannya dalam kehidupan jemaat. Pihak pertama yang merasa tersinggung dan marah tentunya para elit agama. Mereka berpikir bahwa Yesus sedang membawa hukum baru yang berbeda sama sekalih dengan hukum Taurat. Mereka juga merasa terganggu kemapanan dan kenyamanannya dengan kehadiran Yesus. Mereka takut banyak orang Yahudi yang akan menyeberang mengikuti Yesus. Dan sudah pasti mereka akan kehilangan simpati publik. Belum terhitung pula hilangnya pelbagai keuntungan secara ekonomi.

 

 Untuk menghindari fitnah dan penggiringan opini untuk mempersalahkan-Nya, Yesus perlu memberikan klarifikasi. Dalam sebuah kesempatan kotbah di bukit, Yesus berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17). Sangat jelas terbaca bahwa Yesus datang bukan untuk menghilangkan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya. Yesus menggenapi hukum Taurat dengan cara: pertama, mengembalikan semangat atau spirit pelaksanaan hukum Taurat yakni spirit kasih kepada Allah dan kebaikan umum. Kedua, Yesus memberikan teladan dalam menjalankan hukum. Pengajaran hukum Taurat dengan kata-kata hendaknya dilengkapi dengan teladan hidup yang baik.

 

Yesus menyadari bahwa penerapan hukum Taurat telah kehilangan spirit dasarnya yakni spirit kasih. Orang  merasa tidak bebas karena selalu diliputi oleh rasa takut melakukan kesalahan. Karena konsekuensi dari sebuah kesalahan adalah hukuman yang berat. Orang Israel juga dibebani oleh pelbagai aturan yang tidak adil dan menindas. Kebijakan aturan atau hukum yang keras dan kaku selalu berlindung di balik ayat-ayat suci. Ayat-ayat suci selalu dijadikan tameng oleh para elit agama demi pembenaran diri. Demi mendapatkan berbagai keuntungan. Dalam misi penggenapan hukum Taurat, Yesus menegaskan sudah saatnya roh kasih menjadi peletak dasar dari segala pelaksanaan hukum atau aturan agama. Tidak sekedar beretorika. Yesus sendiri yang memberi contoh secara langsung. Misalnya ketika Ia menyembuhkan orang sakit pada hari sabat. Ia bergaul dan makan bersama dengan orang kecil dan kaum pendosa. Tidak sekedar bergaul dan makan bersama mereka. Yesus memberi ruang bagi mereka untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

 

Misi penggenapan hukum Taurat dengan spirit kasih, seyogyanya menyasar juga kehidupan beriman kita. Seringkali kita belum sepenuhnya menjawabi tanggung jawab kita sebagai orang beriman dalam menjalani kehidupan keagamaan kita. Kita masih mengikuti pelbagai ritual keagamaan acapkali hanya sebagai rutinitas. Supaya dilihat orang bahwa kita sungguh terlibat, kita pantas dilabeli sebagai orang beragama, orang suci dan sebagainya. Atau sebaliknya kita tidak mau terlibat dalam ritual keagamaan karena merasa sudah bosan, jenuh, malas, dan tidak ada efek positif dalam kehidupan pribadi. Ini fenomena yang menantang iman karena banyak orang Katolik pada masa kini yang tidak merasa tertarik lagi mengikuti perayaan ekaristi pada hari Minggu di Gereja. Dalam kehidupan sosial, kita jarang berbagi dan menunjukkan kepekaan atau kepedulian bagi orang lain. Sekali pun berbagi, ada kalkulasi tertentu yang kita harapkan. Kita jarang memberi atau menolong tanpa pamrih. Yang sering terjadi adalah membantu dengan mengharapkan pamrih (balasan). Inilah sebagian contoh konkrit bahwa kita belum menstandarisasi kehidupan iman dan sosial keagamaan kita dengan spirit kasih.

 

Semoga dengan spirit kasih yang digaungkan oleh Yesus pada hari ini, mampu menaikan level kehidupan iman dan keagamaan kita. Kita mampu dengan bebas, sukarela, dan kesadaran penuh mengimplementasikan jati diri kita sebagai orang beriman dengan spirit kasih yang diwariskan oleh Yesus sendiri. Kita mampu memenuhi kewajiban kita sebagai orang beragama dengan sungguh-sungguh mengasihi Allah dan sesama. Kita mengikuti ritual keagamaan bukan karena aturan menghendaki demikian melainkan karena kita sungguh mengasihi Allah. Demikian pula kasih terhadap Allah menghantar kita secara bebas dan sukarela untuk mengasihi sesama. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar