Senin, 21 Februari 2022

Mengakui Yesus Sebagai Mesias_ Anak Allah Yang Hidup

                                                               Mat 16:13-19

 

Why always me? (mengapa selalu saya). Sebuah kalimat ikonik yang identik dengan Mario Balotelli. Mario Balotelli adalah seorang pesepakbola handal dan ternama dari negara Italia. Ia menggunakan ungkapan Why always me? (mengapa selalu saya) untuk menyindir sekaligus meredam aksi para supporter yang sering merasa tidak puas dengan penampilannya di lapangan hijau. Dengan kata-kata ikonik ini, Mario Balotelli ingin memberi pesan tersirat kepada para supporter bahwa ia hanyalah manusia biasa. Ia bukan superman. Apalagi makhluk supranatural. Sebagai manusia biasa, sangat wajar apabila ada pasang surut dalam pola dan gaya permainan sepakbolanya. Semestinya orang-orang tidak perlu meletakkan parameter yang sempurna pada dirinya. Karena ia bukan manusia yang sempurna.

 

Why always me dari Mario Balotelli tentu berbeda level dan tidak mungkin bisa dibandingkan dengan kata-kata Yesus Who am I? (Siapakah saya) pada hari ini. Yesus adalah makhluk ilahi yang mempresentasikan diri-Nya sebagai manusia biasa. Dan untuk menguji sejauh mana tingkat pengenalan dan pemahaman para murid akan diri-Nya, Yesus menggunakan dua model pertanyaan. Pertama, Yesus menanyakan pendapat orang banyak tentang siapakah diri-Nya kepada para murid. Para murid pun mengatakan bahwa seturut pandangan orang banyak, Yesus disamakan dengan Yohanes Pembaptis. Ada juga pendapat orang lain yang mengatakan bahwa Yesus adalah nabi Elia, nabi Yeremia, atau salah seorang nabi lain yang telah hidup kembali.

 

Kedua, Yesus menanyakan pendapat para murid sendiri tentang siapakah diri-Nya yang sebenarnya. Dengan spontan dan lugas, Petrus menjawab; “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Mesias adalah kata Ibrani yang berarti “Yang Diurapi”. Terjemahan dalam bahasa Yunaninya adalah Christos atau Kristus yang kita kenal sekarang. Namun pengakuan Petrus akan Yesus sebagai Mesias kala itu masih dipahami dalam konsep lama mesianik. Petrus masih memahami bahwa Yesus itu sama dengan Raja Daud yang akan mengembalikan kejayaan bangsa Israel. Setali tiga uang dengan Petrus, para murid yang lain juga memahami hal yang sama. Bahwa Yesus yang berdiri di hadapan mereka adalah seorang raja duniawi yang akan membebaskan bangsa Israel dari tangan penjajah. Maka tidak mengherankan dalam bacaan selanjutnya, Petrus dengan tegas menolak konsep penderitaan atau konsep mesianik baru yang dideklarasikan oleh Yesus.

 

Terlepas dari konsep mesianik lama yang masih dianut oleh Petrus dan kawan-kawannya, hal yang patut diberi apresiasi adalah pengakuan yang jujur dan tulus dari seorang Petrus. Berbekal pengenalan dan pemahaman yang masih terbatas (walaupun memang ada banyak pengalaman tidak terbatas yang telah dialaminya bersama Yesus), Petrus dengan berani menandaskan misteri yang sangat krusial tersebut: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”. Di atas itu, apa yang diproklamirkan oleh Petrus sebenarnya merepresentasikan wahyu Allah sendiri tentang siapa Yesus. Dan kata-kata Yesus mengafirmasi hal ini. “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Mrk 16:17).

 

Sama seperti Petrus, kita pun seharusnya dengan berani, jujur, dan tulus mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Tentu tidak hanya dengan ungkapan di bibir semata. Apa yang kita nyatakan akan lebih bermakna apabila kita nyatakan dalam kehidupan riil kita. Kita harus sungguh-sungguh menjadi seorang murid Tuhan yang sejati dalam hidup. Sejalan dengan nasihat Santo Petrus dalam suratnya (1 Ptr 5:1-4), semestinya sebagai seorang murid yang sejati, kita perlu mengikuti Yesus dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah. Bukan dengan paksaan supaya dilihat dan diakui oleh banyak orang. Yang berikutnya, mengikuti Yesus bukan untuk mencari keuntungan tertentu. Mengikuti Yesus berarti mengikuti-Nya dengan total. Penuh dedikasi. Tidak setengah-setengah Dan terakhir, mengikuti Yesus dengan manjadi teladan bagi orang lain. Terutama dalam sikap kasih dan pelayanan yang prima kepada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

 

Hari ini, Yesus sungguh mencerahkan hati dan pikiran kita tentang siapa sebenarnya diri-Nya. Kita tidak perlu ragu-ragu dan tidak skeptis tentang diri-Nya. Kita seharusnya berbangga karena memiliki Yesus. Karena Ia adalah sungguh Mesias, Anak Allah yang hidup dan menyejarah dalam dunia sebagai manusia biasa. Melalui gereja-Nya pada masa kini, kita pun meyakini bahwa Ia tetap hadir dan menaungi setiap kita yang senantiasa percaya dan memasrahkan hidup kepada-Nya. Gereja-Nya adalah tanda kehadiran diri-Nya yang sungguh nyata dalam hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memuji Dia, Sang Mesias, Anak Allah yang hidup, dengan memberi banyak kebaikan dan memperjuangkan kebenaran-kebenaran dalam hidup, sesuai dengan apa yang telah dikehendaki oleh Tuhan sendiri dalam firman-Nya. Karena sesungguhnya, kita adalah gereja-gereja kecil yang telah diurapi oleh sakramen permandian untuk menyebarkan warta kebaikan Injil di tengah dunia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar