Senin, 21 Maret 2022

Menjadi Tanda Yang Baik

Luk 11:29-32

 

Tanda mengandung makna yang sangat variatif. Tanda digunakan untuk menunjuk sesuatu yang lain. Tanda dapat berupa benda, sifat, kejadian, dan lain sebagainya. KTP atau Kartu Tanda Pengenal misalnya, menempati kedudukan sebagai tanda khusus bagi orang tertentu sehingga dapat diketahui dan dikenali dengan mudah oleh orang lain. Mendung yang muncul di atap langit misalnya, dapat menjadi tanda bahwa akan segera turun hujan. Atau ketika mencium aroma yang tidak sedap di lingkungan rumah, dapat menjadi tanda ada bangkai hewan atau sampah busuk yang tercecer di sekitar lingkungan tempat tinggal. Dan masih banyak lain tanda-tanda lain yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Sesuatu yang aneh, tidak lazim, dan spektakuler itu seringkali menjadi bahan percakapan dan pergunjingan banyak orang. Ia bisa menjadi polemik dan mulai dihubung-hubungkan dengan tanda tertentu. Bisa jadi tanda itu mengarah ke hal yang positif atau negatif. Ketika melihat banyak hal fenomenal yang ada dalam dan diperbuat oleh Yesus, banyak orang semakin penasaran. Rasa penasaran inilah yang mendorong orang untuk datang kepada Yesus dan meminta tanda dari-Nya. Tanda yang diminta ini menjadi simbol otoritas atau wewenang bagi orang untuk melakukan sesuatu. Apalagi melakukan sesuatu yang ajaib seperti yang dibuat oleh Yesus. Banyak orang yang mengerumuni Yesus rupanya masih merasa kabur, bingung, dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Sehingga tanpa ragu-ragu, mereka meminta sebuah tanda khusus dari Yesus.

Bukannya memenuhi rasa penasaran publik dengan memberikan jawaban yang pasti, Yesus malah balik mengecam mereka. “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus” (Luk 11:29). Yesus membandingkan orang-orang sezaman-Nya, dengan orang-orang pada masa nabi Yunus. Walaupun orang Niniwe dilabeli sebagai orang-orang jahat, namun mereka dapat mengenali tanda yang dibawa oleh nabi Yunus. Nabi Yunus membawa tanda ilahi dari Allah, sehingga mampu menggerakkan orang Niniwe untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Lain orang Niniwe, lain pula orang sezaman Yesus. Walaupun sudah melihat hal-hal ajaib yang dilakukan oleh Yesus dengan terang benderang, mereka tetap merasa ragu dan tidak percaya bahwa Yesus adalah yang ilahi. Keragu-raguaan dan ketidakpercayaan mereka sebenarnya dilandasi oleh sikap ego dan sombong. Mereka merasa diri lebih hebat dan pintar. Mereka tidak mau kehadiran Yesus dapat menghilangkan status dan prestise dalam diri mereka. Terutama para elit agama yang merasa terancam akan kehilangan simpati dan dukungan dari rakyat banyak.

Sikap ego, angkuh, dan iri hati seringkali membelenggu diri kita sebagai orang beriman. Acapkali kita merasa diri lebih hebat dan pintar dibandingkan dengan orang lain. Kita tidak mau ada orang lain yang melampaui diri kita dalam hal tertentu. Ketika dihadapkan dengan realitas bahwa ada orang lain memiliki kemampuan atau kompetensi yang mumpuni, timbul penolakan dalam diri. Kita tidak mau menerima kenyataan demikian. Maka mulai muncul pula sikap-sikap destruktif lainnya. Kita mulai menaruh sikap sentimen, iri hati dan permusuhan. Dalam setiap kesempatan berhadapan dengan orang-orang tertentu yang tidak kita sukai, ada saja pikiran atau argumen sesat yang kita bangun untuk mendiskreditkan atau menjatuhkan pihak lain.

Sikap ego dan angkuh menjadi batu sandungan utama bagi kita dalam membangun relasi yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Sikap ego dan angkuh selalu memunculkan prasangka, curiga, dan vonis yang tidak benar. Dan pada akhirnya, suasana kehidupan sosial kita menjadi terluka dan terhempas. Kita lebih peduli dengan diri sendiri dan keluarga. Tetapi nihil bagi sesama kita yang lain. ketidakpedulian dengan sesama bisa juga memunculkan sikap ego dan angkuh dalam diri kita terhadap Tuhan. Kita mulai merasa tidak penting untuk membangun relasi dengan Tuhan. Kita mulai apatis dengan kehidupan rohani. Karena kita merasa diri kita adalah titik sentral dalam kehidupan ini. Semua hal apa saja yang terjadi selalu berada di bawah kendali kemampuan dan kompetensi pribadi. Dan Tuhan menjadi entitas yang kosong, tanpa makna.


Hari ini Tuhan menyadarkan kita untuk mulai berbenah diri dan menjadi lebih baik. Kita harus melepaskan sikap ego dan angkuh di hadapan Tuhan. Kita seyogyanya memasrahkan dan menyerahkan diri ke dalam penyelenggaraan ilahi-Nya. Kita mulai sadar bahwa Yesus tidak sekedar menjadi tanda ilahi. Dia sebenarnya adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Kesadaran inilah yang kemudian membawa kita untuk memoles diri menjadi tanda yang baik. Tanda yang mewartakan kasih dan perdamaian bagi orang lain. Semoga di masa prapaskah ini, kita terus merefleksi diri dan kemudian memompa diri menjadi pribadi yang semakin baik di mata Tuhan. Di tengah situasi hidup yang semakin kompleks dan beragam, semoga kita mampu menjadi tanda yang baik bagi orang lain. Sebuah tanda ilahi yang dapat menciptakan nuansa kehidupan yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar