Luk 11:29-32
Tanda
mengandung makna yang sangat variatif. Tanda digunakan untuk menunjuk sesuatu
yang lain. Tanda dapat berupa benda, sifat, kejadian, dan lain sebagainya. KTP
atau Kartu Tanda Pengenal misalnya, menempati kedudukan sebagai tanda khusus
bagi orang tertentu sehingga dapat diketahui dan dikenali dengan mudah oleh
orang lain. Mendung yang muncul di atap langit misalnya, dapat menjadi tanda
bahwa akan segera turun hujan. Atau ketika mencium aroma yang tidak sedap di
lingkungan rumah, dapat menjadi tanda ada bangkai hewan atau sampah busuk yang
tercecer di sekitar lingkungan tempat tinggal. Dan masih banyak lain
tanda-tanda lain yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari.
Sesuatu
yang aneh, tidak lazim, dan spektakuler itu seringkali menjadi bahan percakapan
dan pergunjingan banyak orang. Ia bisa menjadi polemik dan mulai
dihubung-hubungkan dengan tanda tertentu. Bisa jadi tanda itu mengarah ke hal
yang positif atau negatif. Ketika melihat banyak hal fenomenal yang ada dalam
dan diperbuat oleh Yesus, banyak orang semakin penasaran. Rasa penasaran inilah
yang mendorong orang untuk datang kepada Yesus dan meminta tanda dari-Nya.
Tanda yang diminta ini menjadi simbol otoritas atau wewenang bagi orang untuk
melakukan sesuatu. Apalagi melakukan sesuatu yang ajaib seperti yang dibuat
oleh Yesus. Banyak orang yang mengerumuni Yesus rupanya masih merasa kabur, bingung,
dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Sehingga tanpa
ragu-ragu, mereka meminta sebuah tanda khusus dari Yesus.
Bukannya
memenuhi rasa penasaran publik dengan memberikan jawaban yang pasti, Yesus
malah balik mengecam mereka. “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka
menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain
tanda nabi Yunus” (Luk 11:29). Yesus membandingkan orang-orang sezaman-Nya,
dengan orang-orang pada masa nabi Yunus. Walaupun orang Niniwe dilabeli sebagai
orang-orang jahat, namun mereka dapat mengenali tanda yang dibawa oleh nabi
Yunus. Nabi Yunus membawa tanda ilahi dari Allah, sehingga mampu menggerakkan
orang Niniwe untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
Lain
orang Niniwe, lain pula orang sezaman Yesus. Walaupun sudah melihat hal-hal
ajaib yang dilakukan oleh Yesus dengan terang benderang, mereka tetap merasa
ragu dan tidak percaya bahwa Yesus adalah yang ilahi. Keragu-raguaan dan
ketidakpercayaan mereka sebenarnya dilandasi oleh sikap ego dan sombong. Mereka
merasa diri lebih hebat dan pintar. Mereka tidak mau kehadiran Yesus dapat
menghilangkan status dan prestise dalam diri mereka. Terutama para elit agama
yang merasa terancam akan kehilangan simpati dan dukungan dari rakyat banyak.
Sikap
ego, angkuh, dan iri hati seringkali membelenggu diri kita sebagai orang
beriman. Acapkali kita merasa diri lebih hebat dan pintar dibandingkan dengan
orang lain. Kita tidak mau ada orang lain yang melampaui diri kita dalam hal
tertentu. Ketika dihadapkan dengan realitas bahwa ada orang lain memiliki
kemampuan atau kompetensi yang mumpuni, timbul penolakan dalam diri. Kita tidak
mau menerima kenyataan demikian. Maka mulai muncul pula sikap-sikap destruktif
lainnya. Kita mulai menaruh sikap sentimen, iri hati dan permusuhan. Dalam
setiap kesempatan berhadapan dengan orang-orang tertentu yang tidak kita sukai,
ada saja pikiran atau argumen sesat yang kita bangun untuk mendiskreditkan atau
menjatuhkan pihak lain.
Sikap
ego dan angkuh menjadi batu sandungan utama bagi kita dalam membangun relasi
yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Sikap ego dan angkuh selalu
memunculkan prasangka, curiga, dan vonis yang tidak benar. Dan pada akhirnya,
suasana kehidupan sosial kita menjadi terluka dan terhempas. Kita lebih peduli
dengan diri sendiri dan keluarga. Tetapi nihil bagi sesama kita yang lain.
ketidakpedulian dengan sesama bisa juga memunculkan sikap ego dan angkuh dalam
diri kita terhadap Tuhan. Kita mulai merasa tidak penting untuk membangun
relasi dengan Tuhan. Kita mulai apatis dengan kehidupan rohani. Karena kita
merasa diri kita adalah titik sentral dalam kehidupan ini. Semua hal apa saja
yang terjadi selalu berada di bawah kendali kemampuan dan kompetensi pribadi.
Dan Tuhan menjadi entitas yang kosong, tanpa makna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar