Kamis, 10 Februari 2022

IA MENJADIKAN SEGALA-GALANYA BAIK

 

Mrk 7:31-37

            Hari ini Gereja Katolik sejagad memperingati hari orang sakit sedunia. Gereja mengajak kita semua untuk berempati dan simpati dengan orang-orang sakit dengan cara mendoakan mereka atau pun memberi dukungan dengan cara kita masing-masing. Semua orang sakit pasti merindukan kesembuhan dan Gereja selalu hadir untuk mereka. Gereja berjuang untuk memberi harapan hidup, Gereja berjuang memberi diri dalam berbagai aspek pelayanan, misalnya. Karena itu, Gereja membangun rumah-rumah sakit dan pusat-pusat pelayanan kesehatan bagi masyarakat agar bisa menampung orang-orang sakit untuk dirawat. Kehadiran Gereja di tengah-tengah umat ini ingin melanjutkan karya pelayanan Yesus untuk memberi harapan bagi yang miskin, lemah, sakit dan putus asa. Gereja mengharapkan agar karya-karya pelayanan kesehatan dan karya karitatif lainnya dapat dikembangkan di seluruh pelosok dunia agar misi pelayanan yang dirintis Yesus dapat terus hidup.

 

            Kisah penyembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus telah mendorong sekian banyak orang mencari Dia. Mereka tidak saja mencari kesembuhan tetapi menyatakan iman kepercayaan kepadanya secara terang-terangan bahkan mereka mengungkapkan kekaguman mereka secara terbuka bahwa “Ia menjadikan segala-galanya baik.” Ungkapan ini mengingatkan kita pada kisah penciptaan alam semesta. Sesudah menciptakan segala sesuatu, Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik (Kej 1:31). Di mata Tuhan, semua ciptaan baik dan bermartabat, namun dosa yang dilakukan manusia mencederai martabat luhur itu. Maka kedatangan Kristus dapat dilihat sebagai karya penciptaan kedua, mengembalikan seluruh ciptaan ke martabat yang sebenarnya yang sesuai dengan kehendak Allah. Orang bisu dan tuli secara sosial dikucilkan dan martabatnya sebagai manusia tidak dihargai. Yesus tampil sebagai Pencipta Baru menyembuhkan si bisu dan tuli agar martabat kemanusiaan orang sakit dipulihkan kembali.

 

            Hari ini Sabda Tuhan mau menantang kita  untuk menjadi penyumbang kebaikan. Orang banyak membawa kepada Yesus seorang yang tuli dan gagap untuk disembuhkan. Tindakan mereka ini menunjukkan bahwa kehidupan ini harus dihargai, diperbaiki dan dipelihara. Ada semacam kepekaan rasa, ada kepedulian, ada perhatian dan kebersamaan yang mereka bangun terutama kepada mereka yang sakit. Kehadiran Yesus memang selalu bertujuan untuk menjadikan segala-galanya baik, karena itu, mereka yang sakit fisik atau pun batin selalu dibuat-Nya sembuh berkat rahmat yang mengalir dalam diri-Nya. Sabda Tuhan hari ini menggugah kesadaran iman kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan agar kita semakin peka melihat dan merasakan penderitaan sesama kita. Secara  pribadi kita dituntut menjadi penyumbang kebaikan agar penderitaan yang dialami sesama kita dapat diakhiri. Hidup ini akan terasa indah apabila masing-masing kita selalu berjuang untuk menyumbang kebaikan dalam kebersamaan terkhusus kepada mereka yang lemah, miskin, sakit dan yang terabaikan.

 

            Sebagai orang beriman, kita memohon rahmat dan uluran tangan Yesus agar membuka telinga kita yang mungkin pura-pura tuli untuk peka mendengarkan jerit tangis sesama kita yang lemah, miskin dan sakit agar kita dapat menolong atau membantu mereka secara spontan/tulus tanpa menunggu diexpose menjadi berita yang viral. Di samping itu, kita juga memohon rahmat kesembuhan dari Tuhan bagi kita yang pura-pura gagap atau seolah-olah bisu, agar kita berani bicara menentang penindasan dan tirani yang menyulitkan hidup masyarakat kecil. Perjuangan kita menyumbangkan kebaikan kepada sesama mengandaikan kerendahan hati dan kepercayaan yang total kepada Tuhan untuk menganugerahkan keberanian agar mulut kita dapat menyuarakan kebenaran dan keadilan serta telinga kita untuk mendengarkan keluh kesah orang-orang kecil. Berkenaan dengan peringatan orang sakit sedunia, refleksi atas Sabda Tuhan hari ini menginspirasi kita untuk menyumbangkan satu kebaikan bagi orang-orang sakit di sekitar kita.

 

 Sumbangan yang kita berikan bersifat spontan karena empati dan simpati kita kepada orang sakit. Kita tidak dituntut untuk menyumbangkan uang untuk membantu biaya pengobatan mereka tetapi moment peringatan orang sakit sedunia ini mewajibkan kita untuk menyumbangkan doa dengan intensi khusus bagi kesembuhan semua orang sakit yang sedang dirawat, dimana pun mereka berada. Memang kita tidak akan mungkin sama dengan Yesus, Ia hanya dengan mengucapkan kata “Efata/terbukalah” maka, Ia menjadikan segala-galanya baik. Bagaimana dengan kita manusia, satu-satunya jalan yang bisa kita sumbangkan adalah dengan doa dengan intensi khusus kepada semua orang sakit, dengan cara itu, doa-doa kita akan menggetarkan hati Allah dan oleh belas kasih-Nya Ia akan menganugerahkan rahmat kesembuhan kepada semua orang sakit sedunia.             Misi utama kedatangan Tuhan Yesus adalah ingin agar semua orang memperoleh belas kasih Allah dan belas kasih Allah tidak diperoleh begitu saja tetapi harus dengan perjuangan yang dilandasai oleh iman dan hati yang ikhlas. Allah ingin menjadikan segala-galanya baik asalkan manusia membuka diri untuk menerima kedatangan-Nya. Tuhan mampu mengembalikan kondisi kelemahan dan keterpurukan manusia dan menjadikan segala-galanya baik asalkan kita selalu membangun relasi atau hubungan yang harmonis dengan-Nya.

 

            Tuhan senantiasa tersentuh hatiNya oleh orang yang sakit, menderita dan berbeban berat. Belas kasih Allah tidak terhalang oleh keraguan dan dangkalnya iman kita dan Dia bertindak menurut kehendak-Nya sendiri. Semoga iman kita tidak pasif  dan parasit terhadap sentuhan hati Allah tetapi hendaknya iman kita adalah iman yang hidup yang terus mewartakan kabar gembira keselamatan Allah bagi segala bangsa. Inspirasi Injil hari ini semoga semakin menguatkan iman semua orang sakit bahwa Allah adalah sumber kesembuhan kita dan kepadaNyalah kita memohon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar