Mrk 7:31-37
Hari ini Gereja Katolik sejagad
memperingati hari orang sakit sedunia. Gereja mengajak kita semua untuk
berempati dan simpati dengan orang-orang sakit dengan cara mendoakan mereka
atau pun memberi dukungan dengan cara kita masing-masing. Semua orang sakit
pasti merindukan kesembuhan dan Gereja selalu hadir untuk mereka. Gereja
berjuang untuk memberi harapan hidup, Gereja berjuang memberi diri dalam
berbagai aspek pelayanan, misalnya. Karena itu, Gereja membangun rumah-rumah
sakit dan pusat-pusat pelayanan kesehatan bagi masyarakat agar bisa menampung
orang-orang sakit untuk dirawat. Kehadiran Gereja di tengah-tengah umat ini
ingin melanjutkan karya pelayanan Yesus untuk memberi harapan bagi yang miskin,
lemah, sakit dan putus asa. Gereja mengharapkan agar karya-karya pelayanan
kesehatan dan karya karitatif lainnya dapat dikembangkan di seluruh pelosok
dunia agar misi pelayanan yang dirintis Yesus dapat terus hidup.
Kisah penyembuhan yang dilakukan
Tuhan Yesus telah mendorong sekian banyak orang mencari Dia. Mereka tidak saja
mencari kesembuhan tetapi menyatakan iman kepercayaan kepadanya secara
terang-terangan bahkan mereka mengungkapkan kekaguman mereka secara terbuka
bahwa “Ia menjadikan segala-galanya baik.” Ungkapan ini mengingatkan kita pada
kisah penciptaan alam semesta. Sesudah menciptakan segala sesuatu, Allah
melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik (Kej 1:31). Di mata
Tuhan, semua ciptaan baik dan bermartabat, namun dosa yang dilakukan manusia
mencederai martabat luhur itu. Maka kedatangan Kristus dapat dilihat sebagai
karya penciptaan kedua, mengembalikan seluruh ciptaan ke martabat yang
sebenarnya yang sesuai dengan kehendak Allah. Orang bisu dan tuli secara sosial
dikucilkan dan martabatnya sebagai manusia tidak dihargai. Yesus tampil sebagai
Pencipta Baru menyembuhkan si bisu dan tuli agar martabat kemanusiaan orang
sakit dipulihkan kembali.
Hari ini Sabda Tuhan mau menantang
kita untuk menjadi penyumbang kebaikan.
Orang banyak membawa kepada Yesus seorang yang tuli dan gagap untuk
disembuhkan. Tindakan mereka ini menunjukkan bahwa kehidupan ini harus
dihargai, diperbaiki dan dipelihara. Ada semacam kepekaan rasa, ada kepedulian,
ada perhatian dan kebersamaan yang mereka bangun terutama kepada mereka yang
sakit. Kehadiran Yesus memang selalu bertujuan untuk menjadikan segala-galanya
baik, karena itu, mereka yang sakit fisik atau pun batin selalu dibuat-Nya
sembuh berkat rahmat yang mengalir dalam diri-Nya. Sabda Tuhan hari ini
menggugah kesadaran iman kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan agar
kita semakin peka melihat dan merasakan penderitaan sesama kita. Secara pribadi kita dituntut menjadi penyumbang kebaikan
agar penderitaan yang dialami sesama kita dapat diakhiri. Hidup ini akan terasa
indah apabila masing-masing kita selalu berjuang untuk menyumbang kebaikan
dalam kebersamaan terkhusus kepada mereka yang lemah, miskin, sakit dan yang
terabaikan.
Sebagai orang beriman, kita memohon
rahmat dan uluran tangan Yesus agar membuka telinga kita yang mungkin pura-pura
tuli untuk peka mendengarkan jerit tangis sesama kita yang lemah, miskin dan
sakit agar kita dapat menolong atau membantu mereka secara spontan/tulus tanpa
menunggu diexpose menjadi berita yang viral. Di samping itu, kita juga memohon
rahmat kesembuhan dari Tuhan bagi kita yang pura-pura gagap atau seolah-olah
bisu, agar kita berani bicara menentang penindasan dan tirani yang menyulitkan
hidup masyarakat kecil. Perjuangan kita menyumbangkan kebaikan kepada sesama
mengandaikan kerendahan hati dan kepercayaan yang total kepada Tuhan untuk
menganugerahkan keberanian agar mulut kita dapat menyuarakan kebenaran dan
keadilan serta telinga kita untuk mendengarkan keluh kesah orang-orang kecil.
Berkenaan dengan peringatan orang sakit sedunia, refleksi atas Sabda Tuhan hari
ini menginspirasi kita untuk menyumbangkan satu kebaikan bagi orang-orang sakit
di sekitar kita.
Sumbangan yang kita berikan bersifat spontan
karena empati dan simpati kita kepada orang sakit. Kita tidak dituntut untuk
menyumbangkan uang untuk membantu biaya pengobatan mereka tetapi moment
peringatan orang sakit sedunia ini mewajibkan kita untuk menyumbangkan doa
dengan intensi khusus bagi kesembuhan semua orang sakit yang sedang dirawat,
dimana pun mereka berada. Memang kita tidak akan mungkin sama dengan Yesus, Ia
hanya dengan mengucapkan kata “Efata/terbukalah” maka, Ia menjadikan
segala-galanya baik. Bagaimana dengan kita manusia, satu-satunya jalan yang
bisa kita sumbangkan adalah dengan doa dengan intensi khusus kepada semua orang
sakit, dengan cara itu, doa-doa kita akan menggetarkan hati Allah dan oleh
belas kasih-Nya Ia akan menganugerahkan rahmat kesembuhan kepada semua orang sakit
sedunia. Misi utama kedatangan
Tuhan Yesus adalah ingin agar semua orang memperoleh belas kasih Allah dan
belas kasih Allah tidak diperoleh begitu saja tetapi harus dengan perjuangan
yang dilandasai oleh iman dan hati yang ikhlas. Allah ingin menjadikan
segala-galanya baik asalkan manusia membuka diri untuk menerima kedatangan-Nya.
Tuhan mampu mengembalikan kondisi kelemahan dan keterpurukan manusia dan
menjadikan segala-galanya baik asalkan kita selalu membangun relasi atau
hubungan yang harmonis dengan-Nya.
Tuhan senantiasa tersentuh hatiNya
oleh orang yang sakit, menderita dan berbeban berat. Belas kasih Allah tidak
terhalang oleh keraguan dan dangkalnya iman kita dan Dia bertindak menurut
kehendak-Nya sendiri. Semoga iman kita tidak pasif dan parasit terhadap sentuhan hati Allah
tetapi hendaknya iman kita adalah iman yang hidup yang terus mewartakan kabar
gembira keselamatan Allah bagi segala bangsa. Inspirasi Injil hari ini semoga
semakin menguatkan iman semua orang sakit bahwa Allah adalah sumber kesembuhan
kita dan kepadaNyalah kita memohon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar