Senin, 24 Januari 2022

Hidup Dalam Nuansa Persatuan

Mrk 3:22-30

 

Mungkin sebagian dari kita mengenal pesepakbola ternama yakni Chistiano Ronaldo. Pernah suatu saat, ketika menerima penghargaan paling bergengsi sebagai pemain sepakbola terbaik dunia, ia memberikan pengakuan pribadi yang sangat berkesan. Ia mengatakan bahwa secara pribadi ia memang mendapat kehormatan sebagai pemain terbaik dunia. Namun sesungguhnya sang juara sejati adalah rekan-rekan setimnya. Merekalah yang pantas mendapat kehormatan dan piala. Melalui perjuangan dan kerja keras rekan-rekan dalam timnya, mereka dapat meraih hasil yang positif dalam setiap pertandingan. Dan pada akhirnya mereka menjadi juara. Itu berkat kerjasama dan persatuan dalam tim. Ronaldo menegaskan bahwa ia bukan siapa-siapa tanpa kehadiran rekan-rekannya. Dan ia bisa menjadi apa-apa karena selalu didukung dan dimotivasi oleh kawan-kawannya. Pernyataan Chistiano Ronaldo, saya kira bukan sekedar statement yang mewakili kerendahan hatinya. Pujian kepada rekan-rekannya adalah ungkapan yang datang dari ketulusan hatinya. Ia menyadari dengan sungguh bahwa nilai persatuan menjadi salah satu nilai utama yang paling dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama dalam sebuah tim sepak bola.

 

Menyaksikan kepopuleran Yesus yang semakin tidak terbendung, membuat kaum keluarga Yesus dan para pemimpin agama merasa cemas dan tidak nyaman. Mereka dengan gopoh-gapah menarik kesimpulan bahwa Yesus tidak waras lagi. Oleh karena itu Ia harus segera diamankan agar tidak membuat kehebohan lagi di tengah publik. Bahkan dengan kesimpulan yang prematur (tidak berdasar dan tidak obyektif), para ahli Taurat mengatakan bahwa Yesus kerasukan roh penghulu setan atau Beelzebul. Yesus pun bereaksi dengan keras menanggapi pernyataan pemimpin agama. Ia pun memukul balik. Bukan dengan kekuatan fisik namun dengan ungkapan kata-katanya. Yesus menyindir mereka dengan berkata: “Bagaimana iblis dapat mengusir iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecaha-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan” (Mrk 3:23-25).

Dengan ini secara implisit, Yesus mau menegaskan bahwa kekuatan fenomenal yang lahir dari dalam diri-Nya adalah kekuatan yang datang dari Allah sendiri. Tidak mungkin ia memakai kekuatan setan untuk berkonfrontrasi dengan iblis pula. Jikalau demikian terjadi maka kerajaan iblis akan berakhir dengan kepunahan karena sudah terpecah-pecah dari dalam. Iblis harus bersatu dan menyatukan kekuatan untuk bekerja sama melawan kekuatan yang berada di luar kelompok mereka. Kalau iblis mau eksis, maka mereka tidak boleh berperang dengan diri atau kelompoknya sendiri. Demikian pula, Yesus, yang sudah bersatu dengan kekuatan Bapa-Nya di Sorga, telah menjalin kerjasama yang kompak untuk merealisasikan proyek keselamatan bagi seluruh umat manusia di dunia. Tanpa persatuan dan kerjasama yang kompak dengan Bapa-Nya di sorga, sangat mustahil misi keselamatan di tengah dunia akan tercapai.

Sekali lagi, salah satu nilai yang paling fundamental dalam merealisasikan tujuan bersama adalah nilai persatuan. Seringkali kita melihat, mendengar, atau mengalami secara langsung, ada banyak orang yang mengklaim kesuksesan, keberhasilan dan prestasi sebagai milik pribadi yang tidak bisa diganggu gugat. Bahkan, keberhasilan dalam sebuah kelompok, tim, lembaga atau pun organisasi apa pun jenisnya, klaim-klaim yang bersifat pribadi selalu menonjol. Orang tetap merasa diri paling berjasa, paling bernilai dan paling berpengaruh. Jarang orang merasa keberhasilan yang digapai adalah buah dari keberhasilan milik bersama. Orang tidak tersentuh hatinya bahwa kesuksesan yang dilalui adalah jerih payah dari sebuah perjuangan dan pengorbanan yang sifatnya kolektif. Atau minimal yang paling dasar, orang tergugah bahwa keberhasilan yang diperolehnya tidak lepas dari pihak lain. Entah keluarga, sahabat, kenalan, atau Tuhan. Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa orang masih menganggap remeh-temeh makna dari nilai persatuan dalam hidup. Orang lebih sibuk mengagungkan dirinya. Orang lebih merasa diri lebih penting, lebih berpengaruh, dan lebih bernilai daripada orang lain.

 

Inspirasi yang bisa kita petik dari bacaan Injil hari ini (Mrk 3:22-30) adalah bagaimana kita bisa menyegel nilai persatuan dalam hidup, perjuangan, kerja dan karya kita di dunia. Semangat persatuan tidak hanya dibangun sebatas kata-kata atau wacana. Pertama, yang perlu kita ubah adalah cara pandang atau mindset kita tentang orang lain. Dan cara pandang yang dibutuhkan adalah cara pandang positif. Tidak selalu berpikir negatif ala pemimpin agama (ahli Taurat). Kita harus merasa bahwa apa pun yang kita lakukan selalu berada di dalam pusaran kerja sama dengan orang lain. Dalam urusan yang paling privasi pun, kita tidak pernah lepas untuk selalu berurusan dengan orang lain. Karena lingkup dunia kita selalu beririsan dengan pihak lain. Maka, keberhasilan yang kita raih otomatis bukanlah hasil kerja pribadi. Ada pihak lain yang turut campur tangan di dalamnya. Kedua, sikap kerja sama menjadi perwujudan nyata dari cara pandang yang positif. Kita tidak bisa bergerak secara individual atau sendiri-sendiri. Ada visi misi yang menjadi payung bersama. Ada panduan atau kompas berupa aturan atau kode etik yang mesti ditaati bersama. Ada loyalitas dan dedikasi yang mestinya terus digaungkan. Dan ada Tuhan, yang seharusnya menjadi roh atau spirit dalam kerja nyata bersama kita. ketiga, jangan lupa mengucap rasa syukur kepada orang-orang yang menjadi rekan kerja sama kita. Atau juga kepada orang-orang yang telah memberikan kontribusi atas segala hal yang telah kita raih. Dan yang terakhir, jangan lupa mengucap syukur kepada Tuhan, Sang Pemberi kehidupan yang telah menghidupi kehidupan kita di atas dunia ini.

 

Mari kita bangun nilai persatuan dengan rekan-rekan kerja dan dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Dan terutama dengan Tuhan, agar nilai kerja kita semakin bermakna tidak hanya bagi diri dan keluarga, tetapi bagi semua orang yang kita layani di tengah dunia. Semoga. ***AKD***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar