Mrk 3:22-30
Mungkin sebagian dari kita
mengenal pesepakbola ternama yakni Chistiano Ronaldo. Pernah suatu saat, ketika
menerima penghargaan paling bergengsi sebagai pemain sepakbola terbaik dunia,
ia memberikan pengakuan pribadi yang sangat berkesan. Ia mengatakan bahwa
secara pribadi ia memang mendapat kehormatan sebagai pemain terbaik dunia.
Namun sesungguhnya sang juara sejati adalah rekan-rekan setimnya. Merekalah
yang pantas mendapat kehormatan dan piala. Melalui perjuangan dan kerja keras
rekan-rekan dalam timnya, mereka dapat meraih hasil yang positif dalam setiap
pertandingan. Dan pada akhirnya mereka menjadi juara. Itu berkat kerjasama dan
persatuan dalam tim. Ronaldo menegaskan bahwa ia bukan siapa-siapa tanpa
kehadiran rekan-rekannya. Dan ia bisa menjadi apa-apa karena selalu didukung
dan dimotivasi oleh kawan-kawannya. Pernyataan Chistiano Ronaldo, saya kira
bukan sekedar statement yang mewakili
kerendahan hatinya. Pujian kepada rekan-rekannya adalah ungkapan yang datang
dari ketulusan hatinya. Ia menyadari dengan sungguh bahwa nilai persatuan
menjadi salah satu nilai utama yang paling dibutuhkan untuk mencapai tujuan
bersama dalam sebuah tim sepak bola.
Menyaksikan kepopuleran
Yesus yang semakin tidak terbendung, membuat kaum keluarga Yesus dan para
pemimpin agama merasa cemas dan tidak nyaman. Mereka dengan gopoh-gapah menarik
kesimpulan bahwa Yesus tidak waras lagi. Oleh karena itu Ia harus segera
diamankan agar tidak membuat kehebohan lagi di tengah publik. Bahkan dengan
kesimpulan yang prematur (tidak berdasar dan tidak obyektif), para ahli Taurat
mengatakan bahwa Yesus kerasukan roh penghulu setan atau Beelzebul. Yesus pun
bereaksi dengan keras menanggapi pernyataan pemimpin agama. Ia pun memukul
balik. Bukan dengan kekuatan fisik namun dengan ungkapan kata-katanya. Yesus
menyindir mereka dengan berkata: “Bagaimana iblis dapat mengusir iblis? Kalau
suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika
suatu rumah tangga terpecaha-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan” (Mrk
3:23-25).
Dengan ini secara implisit,
Yesus mau menegaskan bahwa kekuatan fenomenal yang lahir dari dalam diri-Nya
adalah kekuatan yang datang dari Allah sendiri. Tidak mungkin ia memakai kekuatan
setan untuk berkonfrontrasi dengan iblis pula. Jikalau demikian terjadi maka
kerajaan iblis akan berakhir dengan kepunahan karena sudah terpecah-pecah dari
dalam. Iblis harus bersatu dan menyatukan kekuatan untuk bekerja sama melawan
kekuatan yang berada di luar kelompok mereka. Kalau iblis mau eksis, maka
mereka tidak boleh berperang dengan diri atau kelompoknya sendiri. Demikian
pula, Yesus, yang sudah bersatu dengan kekuatan Bapa-Nya di Sorga, telah
menjalin kerjasama yang kompak untuk merealisasikan proyek keselamatan bagi
seluruh umat manusia di dunia. Tanpa persatuan dan kerjasama yang kompak dengan
Bapa-Nya di sorga, sangat mustahil misi keselamatan di tengah dunia akan
tercapai.
Sekali lagi, salah satu
nilai yang paling fundamental dalam merealisasikan tujuan bersama adalah nilai
persatuan. Seringkali kita melihat, mendengar, atau mengalami secara langsung,
ada banyak orang yang mengklaim kesuksesan, keberhasilan dan prestasi sebagai
milik pribadi yang tidak bisa diganggu gugat. Bahkan, keberhasilan dalam sebuah
kelompok, tim, lembaga atau pun organisasi apa pun jenisnya, klaim-klaim yang
bersifat pribadi selalu menonjol. Orang tetap merasa diri paling berjasa,
paling bernilai dan paling berpengaruh. Jarang orang merasa keberhasilan yang
digapai adalah buah dari keberhasilan milik bersama. Orang tidak tersentuh
hatinya bahwa kesuksesan yang dilalui adalah jerih payah dari sebuah perjuangan
dan pengorbanan yang sifatnya kolektif. Atau minimal yang paling dasar, orang
tergugah bahwa keberhasilan yang diperolehnya tidak lepas dari pihak lain.
Entah keluarga, sahabat, kenalan, atau Tuhan. Dengan demikian, kita dapat
mengambil kesimpulan bahwa orang masih menganggap remeh-temeh makna dari nilai
persatuan dalam hidup. Orang lebih sibuk mengagungkan dirinya. Orang lebih
merasa diri lebih penting, lebih berpengaruh, dan lebih bernilai daripada orang
lain.
Inspirasi yang bisa kita
petik dari bacaan Injil hari ini (Mrk 3:22-30) adalah bagaimana kita bisa
menyegel nilai persatuan dalam hidup, perjuangan, kerja dan karya kita di
dunia. Semangat persatuan tidak hanya dibangun sebatas kata-kata atau wacana.
Pertama, yang perlu kita ubah adalah cara pandang atau mindset kita tentang orang lain. Dan cara pandang yang dibutuhkan
adalah cara pandang positif. Tidak selalu berpikir negatif ala pemimpin agama
(ahli Taurat). Kita harus merasa bahwa apa pun yang kita lakukan selalu berada
di dalam pusaran kerja sama dengan orang lain. Dalam urusan yang paling privasi
pun, kita tidak pernah lepas untuk selalu berurusan dengan orang lain. Karena
lingkup dunia kita selalu beririsan dengan pihak lain. Maka, keberhasilan yang
kita raih otomatis bukanlah hasil kerja pribadi. Ada pihak lain yang turut
campur tangan di dalamnya. Kedua, sikap kerja sama menjadi perwujudan nyata dari
cara pandang yang positif. Kita tidak bisa bergerak secara individual atau
sendiri-sendiri. Ada visi misi yang menjadi payung bersama. Ada panduan atau
kompas berupa aturan atau kode etik yang mesti ditaati bersama. Ada loyalitas
dan dedikasi yang mestinya terus digaungkan. Dan ada Tuhan, yang seharusnya
menjadi roh atau spirit dalam kerja nyata bersama kita. ketiga, jangan lupa
mengucap rasa syukur kepada orang-orang yang menjadi rekan kerja sama kita.
Atau juga kepada orang-orang yang telah memberikan kontribusi atas segala hal
yang telah kita raih. Dan yang terakhir, jangan lupa mengucap syukur kepada
Tuhan, Sang Pemberi kehidupan yang telah menghidupi kehidupan kita di atas
dunia ini.
Mari kita bangun nilai
persatuan dengan rekan-rekan kerja dan dengan orang-orang yang ada di sekitar
kita. Dan terutama dengan Tuhan, agar nilai kerja kita semakin bermakna tidak
hanya bagi diri dan keluarga, tetapi bagi semua orang yang kita layani di
tengah dunia. Semoga. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar