Minggu, 16 Januari 2022

Sungguh Memaknai Puasa

                                                                     Mrk 2:18-22

Esensi puasa dipahami dari dua sisi. Pertama, dari sisi lahiriah, puasa berarti orang bisa menahan rasa lapar dan haus. Kedua, dari sisi batiniah, puasa menunjuk pada kemauan pribadi untuk tidak terpengaruh segala hal destruktif dalam hidup. Misalnya, orang tidak terpancing emosinya untuk menjadi seorang pemarah. Contoh lain, orang tidak terpengaruh untuk merasa diri paling hebat dan mau merendahkan sesamanya. Atau bisa juga orang dapat mengendalikan sikap sabar dalam dirinya ketika mendapat tantangan atau cobaan dalam hidupnya.

 

Semua agama dan aliran kepercayaan tertentu di Indonesia mengajarkan, menghayati dan menghidupi esensi puasa yang terdapat dalam ajaran agama atau aliran kepercayaannya. Ajakan atau imbauan untuk melakukan puasa seringkali dikumandangkan oleh para pemuka agama dari agama atau aliran kepercayaan. Hal ini menjadi kewajiban moral-etis yang melekat dalam diri pemuka agama yang bersangkutan. Bahkan kadangkala, dengan nada yang cukup keras, para pemuka agama akan merasa murka apabila ada penganut agama yang tidak mengindahkan aturan untuk berpuasa. Menjadi suatu hal yang aneh atau tidak lazim apabila pelaksanaan momentum puasa yang telah ditetapkan oleh ajaran agama tidak dieksekusi secara serempak oleh para penganut agama yang sedang menjalaninya.

 

Pemandangan yang aneh dan tidak lazim tersebut dialami oleh orang Israel ketika melihat para murid Yesus tidak sedang berpuasa. Padahal, momentum saat itu adalah waktu untuk berpuasa dalam tradisi agama Yahudi. Di satu pihak, murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi dengan khusyuk berpuasa, Sementara di lain pihak, tampak para murid Yesus tidak berpuasa. Pemandangan tidak biasa ini yang menimbulkan pertanyaan dan gugatan dari orang-orang Israel kepada Yesus.

 

Bukannya memberikan jawaban yang jelas dan rasional, Yesus malah membeberkan alasan yang semakin membingungkan. “Dapatkah sahabat—sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa” (Mrk 2:19). Ini jawaban metafor yang tidak dapat dijelaskan secara hurufiah semata. Dalam perjanjian Lama, gambaran intim hubungan antara Allah dan umat Israel dimetaforkan dengan kata mempelai. Allah sebagai mempelai laki-laki, dan umat Israel sebagai mempelai perempuan. Walaupun seringkali diselimuti oleh ketidaksetiaan umat Israel sebagai mempelai perempuan, Allah (sebagai mempelai pria) tetap memegang janji suci-Nya untuk menaru kesetiaan kepada umat Israel. Dalam suasana sukacita dan dukacita, kedua mempelai ini ibarat dua sisi mata uang. Tidak akan pernah terpisahkan.

 

Dan Yesus dengan sengaja menggunakan kata mempelai itu untuk menunjuk pada Diri-Nya sendiri. Allah sebagai mempelai laki-laki memang telah mewujud dalam Diri Yesus. Allah yang ilahi, nun jauh di Sorga, hadir secara nyata dan dekat di muka bumi, dalam sosok seorang manusia. Memang dalam keilahian-Nya, Ia harus tampak secara manusiawi agar umat-Nya tidak merasa segan dan lari dari pada-Nya. Karena Allah melalui diri Yesus sudah hadir di muka bumi, maka sebenarnya umat manusia harus bersukacita. Sukacita itu harus ditampakkan karena Kerajaan Allah telah menyata dengan kehadiran Yesus. Bukan berdukacita dan larut dalam puasa. Puasa itu baru dilaksanakan apabila Ia telah pergi dari dunia ini. Puasa demikian adalah sebentuk puasa penuh pengharapan yang menantikan keselamatan ketika Tuhan datang untuk kedua kalinya.

 

Tidak hanya menegaskan esensi puasa yang sebenarnya harus dijalani, Yesus juga menjelaskan makna puasa yang sejati. “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarnya koyaknya” (Mrk 2:21). Puasa itu harus dilakukan dalam suasana hati dan batin yang bersih. Karena puasa akan menjadi sebuah kesia-siaan apabila hati dan batin seseorang masih dikuasai oleh energi negatif. Puasa seseorang akan gagal apabila hati dan pikirannya masih dipenuhi oleh kemarahan, iri hati, dengki, sikap sombong, dan sebagainya. Demikian juga “anggur anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula” (Mrk 2:22). Puasa yang sejati akan berjalan dengan mulus dan mencapai kesempurnaannya, apabila orang sungguh-sungguh menyiapkan hati dan pikirannya untuk menjalaninya. Harus ada kesadaran pribadi dan kolektif. Bukan karena keterpaksaan, apalagi dibungkus oleh kemunafikan untuk melakukan puasa.

 

Dalam ajaran iman Katolik, kita mengenal ada dua puasa yang wajib dilakukan yakni puasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Namun, kita semua tetap diarahkan dan diimbau untuk melakukan puasa selama 40 hari, yang dimulai pada pembukaan masa prapaskah pada hari Rabu Abu. Dan kemudian berpuncak pada kematian Yesus di hari Jumat Agung. Dari sisi aturan dan ajaran gereja, tentu kita sudah mengetahui dan memahami dengan baik. Yang menjadi persoalan, apakah kita sungguh menjalaninya dengan penuh kesadaran atau tidak. Jangan sampai kita mau melakukannya demi sebuah rutinitas belaka. Atau kita menjalaninya karena dipaksa oleh suatu keadaan. Atau bisa juga, kita tidak mau melakukannya karena sikap apatis dan ego pribadi. Memang ada fenomena yang terjadi dalam hidup iman kekatolikan bahwa orang tidak merasa penting dan tertarik untuk melakukan puasa.

 

Ada dua pesan yang ingin disampaikan oleh bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22). Pertama, sang mempelai yakni Tuhan Yesus yang kita imani, telah hilang dari panggung dunia. Oleh karena itu, entitas puasa menjadi penting agar kita sungguh menyiapkan hati dengan layak untuk menantikan kehadiran-Nya yang kedua kalinya. Kedua, esensi puasa itu tidak berhenti pada soal materi atau lahiriah semata. Yang lebih utama adalah bagaimana kita menaru segala hal yang baik dalam pikiran dan laku (tindakan). Dan di lain pihak, ada keberanian untuk menolak segala godaan atau tawaran yang dapat menggiring kita kepada kesesatan atau kejahatan. Semoga kita sungguh memaknai puasa yang paling benar dalam hidup iman kita. Dan tidak semestinya, kita mengikat diri dengan waktu puasa yang ditetapkan oleh gereja. Tentunya, ada niat dan intensi khusus untuk kita nyatakan dalam puasa secara pribadi atau bersama-sama di waktu kapan saja dan di mana saja sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing. Amin. ***AKD***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar