Mrk 2:18-22
Esensi puasa dipahami dari dua sisi. Pertama, dari
sisi lahiriah, puasa berarti orang bisa menahan rasa lapar dan haus. Kedua,
dari sisi batiniah, puasa menunjuk pada kemauan pribadi untuk tidak terpengaruh
segala hal destruktif dalam hidup. Misalnya, orang tidak terpancing emosinya
untuk menjadi seorang pemarah. Contoh lain, orang tidak terpengaruh untuk
merasa diri paling hebat dan mau merendahkan sesamanya. Atau bisa juga orang
dapat mengendalikan sikap sabar dalam dirinya ketika mendapat tantangan atau
cobaan dalam hidupnya.
Semua agama dan aliran kepercayaan tertentu di
Indonesia mengajarkan, menghayati dan menghidupi esensi puasa yang terdapat
dalam ajaran agama atau aliran kepercayaannya. Ajakan atau imbauan untuk
melakukan puasa seringkali dikumandangkan oleh para pemuka agama dari agama
atau aliran kepercayaan. Hal ini menjadi kewajiban moral-etis yang melekat
dalam diri pemuka agama yang bersangkutan. Bahkan kadangkala, dengan nada yang
cukup keras, para pemuka agama akan merasa murka apabila ada penganut agama
yang tidak mengindahkan aturan untuk berpuasa. Menjadi suatu hal yang aneh atau
tidak lazim apabila pelaksanaan momentum puasa yang telah ditetapkan oleh
ajaran agama tidak dieksekusi secara serempak oleh para penganut agama yang
sedang menjalaninya.
Pemandangan yang aneh dan tidak lazim tersebut
dialami oleh orang Israel ketika melihat para murid Yesus tidak sedang
berpuasa. Padahal, momentum saat itu adalah waktu untuk berpuasa dalam tradisi
agama Yahudi. Di satu pihak, murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi dengan
khusyuk berpuasa, Sementara di lain pihak, tampak para murid Yesus tidak
berpuasa. Pemandangan tidak biasa ini yang menimbulkan pertanyaan dan gugatan
dari orang-orang Israel kepada Yesus.
Bukannya memberikan jawaban yang jelas dan rasional,
Yesus malah membeberkan alasan yang semakin membingungkan. “Dapatkah
sahabat—sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka?
Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa” (Mrk 2:19).
Ini jawaban metafor yang tidak dapat dijelaskan secara hurufiah semata. Dalam
perjanjian Lama, gambaran intim hubungan antara Allah dan umat Israel
dimetaforkan dengan kata mempelai. Allah sebagai mempelai laki-laki, dan umat
Israel sebagai mempelai perempuan. Walaupun seringkali diselimuti oleh
ketidaksetiaan umat Israel sebagai mempelai perempuan, Allah (sebagai mempelai
pria) tetap memegang janji suci-Nya untuk menaru kesetiaan kepada umat Israel.
Dalam suasana sukacita dan dukacita, kedua mempelai ini ibarat dua sisi mata
uang. Tidak akan pernah terpisahkan.
Dan Yesus dengan sengaja menggunakan kata mempelai
itu untuk menunjuk pada Diri-Nya sendiri. Allah sebagai mempelai laki-laki
memang telah mewujud dalam Diri Yesus. Allah yang ilahi, nun jauh di Sorga,
hadir secara nyata dan dekat di muka bumi, dalam sosok seorang manusia. Memang
dalam keilahian-Nya, Ia harus tampak secara manusiawi agar umat-Nya tidak
merasa segan dan lari dari pada-Nya. Karena Allah melalui diri Yesus sudah
hadir di muka bumi, maka sebenarnya umat manusia harus bersukacita. Sukacita
itu harus ditampakkan karena Kerajaan Allah telah menyata dengan kehadiran
Yesus. Bukan berdukacita dan larut dalam puasa. Puasa itu baru dilaksanakan
apabila Ia telah pergi dari dunia ini. Puasa demikian adalah sebentuk puasa penuh
pengharapan yang menantikan keselamatan ketika Tuhan datang untuk kedua
kalinya.
Tidak hanya menegaskan esensi puasa yang sebenarnya
harus dijalani, Yesus juga menjelaskan makna puasa yang sejati. “Tidak seorang
pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika
demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu
makin besarnya koyaknya” (Mrk 2:21). Puasa itu harus dilakukan dalam suasana
hati dan batin yang bersih. Karena puasa akan menjadi sebuah kesia-siaan
apabila hati dan batin seseorang masih dikuasai oleh energi negatif. Puasa
seseorang akan gagal apabila hati dan pikirannya masih dipenuhi oleh kemarahan,
iri hati, dengki, sikap sombong, dan sebagainya. Demikian juga “anggur anggur
yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula” (Mrk 2:22). Puasa
yang sejati akan berjalan dengan mulus dan mencapai kesempurnaannya, apabila
orang sungguh-sungguh menyiapkan hati dan pikirannya untuk menjalaninya. Harus
ada kesadaran pribadi dan kolektif. Bukan karena keterpaksaan, apalagi
dibungkus oleh kemunafikan untuk melakukan puasa.
Dalam ajaran iman Katolik, kita mengenal ada dua
puasa yang wajib dilakukan yakni puasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung.
Namun, kita semua tetap diarahkan dan diimbau untuk melakukan puasa selama 40
hari, yang dimulai pada pembukaan masa prapaskah pada hari Rabu Abu. Dan
kemudian berpuncak pada kematian Yesus di hari Jumat Agung. Dari sisi aturan
dan ajaran gereja, tentu kita sudah mengetahui dan memahami dengan baik. Yang
menjadi persoalan, apakah kita sungguh menjalaninya dengan penuh kesadaran atau
tidak. Jangan sampai kita mau melakukannya demi sebuah rutinitas belaka. Atau
kita menjalaninya karena dipaksa oleh suatu keadaan. Atau bisa juga, kita tidak
mau melakukannya karena sikap apatis dan ego pribadi. Memang ada fenomena yang
terjadi dalam hidup iman kekatolikan bahwa orang tidak merasa penting dan
tertarik untuk melakukan puasa.
Ada dua pesan yang ingin disampaikan oleh bacaan
Injil hari ini (Mrk 2:18-22). Pertama, sang mempelai yakni Tuhan Yesus yang
kita imani, telah hilang dari panggung dunia. Oleh karena itu, entitas puasa
menjadi penting agar kita sungguh menyiapkan hati dengan layak untuk menantikan
kehadiran-Nya yang kedua kalinya. Kedua, esensi puasa itu tidak berhenti pada
soal materi atau lahiriah semata. Yang lebih utama adalah bagaimana kita menaru
segala hal yang baik dalam pikiran dan laku (tindakan). Dan di lain pihak, ada
keberanian untuk menolak segala godaan atau tawaran yang dapat menggiring kita
kepada kesesatan atau kejahatan. Semoga kita sungguh memaknai puasa yang paling
benar dalam hidup iman kita. Dan tidak semestinya, kita mengikat diri dengan
waktu puasa yang ditetapkan oleh gereja. Tentunya, ada niat dan intensi khusus
untuk kita nyatakan dalam puasa secara pribadi atau bersama-sama di waktu kapan
saja dan di mana saja sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing. Amin.
***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar