Selasa, 28 Desember 2021

Percaya Akan Kehendak Tuhan

 

Luk 2:22-35

 

Teringat dalam benak saya, ada sebuah tradisi unik yang harus dilewati oleh setiap anak laki-laki sulung di kampung saya (Kampung Atawuwur). Tradisi itu semacam proses pentahiran (penyucian) diri. Tetapi tradisi ini hanya berlaku wajib untuk anak laki-laki sulung dalam suku. Bisa juga dilakukan untuk anak-anak nomor dua dan selanjutnya, tetapi tidak bersifat wajib. Seorang anak laki-laki sulung akan dimandikan dengan menggunakan air yang sudah terisi dalam bambu. Air dalam bambu diambil dari mata air yang ada dalam kampung tersebut. Orang yang mengambil air tersebut juga bukan sembarang orang. Tentu dia memiliki pangkat dan kedudukan yang otoritatif dalam struktur adat. Begitu pun juga orang yang akan memandikan sang anak laki-laki sulung. Dia sudah ditentukan sesuai dengan tradisi lisan yang diakui dan telah dihidupi secara turun temurun. Konon, jikalau tradisi ini tidak dilakukan atau dilanggar maka akan mendatangkan tulah bagi keluarga yang bersangkutan.

 

Dalam bacaan Injil hari ini (Luk 2:22-35), Yosef dan Maria juga membawa bayi Yesus ke Bait Allah untuk mengikuti upacara pentahiran anak sesuai dengan tradisi yang berlaku dalam agama Yahudi. Karena berasal dari akar Yahudi yang kuat, Yosef dan Maria harus mengikuti segala aturan yang sudah digariskan dalam agama mereka. Dan yang lebih penting adalah mereka menghendaki Anak Yesus dapat tumbuh dan berkembang secara baik. Baik dalam pelbagai dimensi kehidupan karena mereka sungguh taat pada tradisi atau adat yang berlaku.

 

Menarik bahwa di dalam Bait Allah itu sudah menunggu seseorang yang dikenal benar dan saleh di hadapan Allah. Ketika datang ke Bait Allah, ia sudah “penuh” dengan roh kudus. Roh Kuduslah yang membimbing dirinya untuk datang ke Bait Allah. Dalam nazarnya, ia berkeyakinan bahwa sebelum kematian datang menjemput, ia pasti akan segera bertemu dengan Mesias. Sang penyelamat umat manusia yang sudah dijanjikan oleh Allah. Dan Bait Allah akan menjadi saksi bisu bagi Simeon untuk segera bertemu dengan Yesus.

 

Moment berahmat yang diharapkan oleh Simeon itu pun terjadi. Melalui mata batinnya yang tajam, ia langsung menangkap pancaran ilahi yang keluar dari bayi Yesus; yang datang bersama kedua orang tuanya (Yosef dan Maria). Tanpa ragu, ia menggendong bayi Yesus dan memuji Allah. Simeon merasa terharu dan bangga karena nazarnya telah terpenuhi. Ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Sang Utusan yang dijanjikan oleh Allah. Ia pun berharap segera dipanggil oleh Tuhan, karena janji Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia segera akan terwujud dalam Diri Sang Bayi mungil.

 

Simeon bisa melihat Yesus sebagai bayi yang tidak biasa, bayi yang berbeda dengan bayi-bayi yang lain karena ia memiliki kedekatan yang sangat akrab dengan Tuhan. Ia memiliki kerendahan hati untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Jikalau ia tidak memiliki keutamaan demikian, niscaya ia tidak mampu membaca pesan ilahi yang nampak dalam diri Yesus. Yosef dan Maria pun dibuat bingung dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Simeon kepada bayi Yesus. Namun dalam keheranan yang menyelimuti diri, mereka sangat yakin akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah yang terjadi dalam hidup manusia.

 

Seperti Simeon yang sungguh percaya akan kuasa Allah, demikian juga Yosef dan Maria. Walaupun masih terbungkus misteri tentang sosok Yesus, Yosef dan Maria sangat percaya kepada kehendak Tuhan yang terjadi dalam hidup mereka. Dengan penuh kerendahan hati, mereka menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”, demikian jawaban Maria kepada Allah melalui malaikat Gabriel. Yosef dan Maria pun tidak takut atau cemas ketika ditantang oleh Simeon. Bahwa mereka akan mengalami pengalaman tantangan dan penderitaan yang luar biasa oleh karena anak yang bernama Yesus. “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan. Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35).

 

Sikap percaya dengan penuh kerendahan hati menjadi kunci iman Simeon, Yosef dan Maria kepada Allah. Mereka sangat yakin, Tuhan sementara mendesain hal-hal yang baik melalui diri Yesus. Tidak saja bagi diri mereka, tetapi bagi seluruh umat manusia. Allah sementara bekerja untuk membawa kebaikan dan keselamatan. Tidak peduli seberat apa pun tantangan yang nantinya dihadapi, penyerahan diri yang total kepada kehendak Allah menjadi pilihan hidup yang tidak bisa ditawar atau dikompromikan dalam diri Yosef dan Maria. Melalui diri Yosef dan Maria, proyek keselamatan bagi umat manusia itu sementara dirintis. Dan hanya mereka yang memiliki hati yang bersih dan terbuka terhadap Allah, seperti Simeon, yang mampu membuka tabir misteri keselamatan dari-Nya.

 

Yesus telah datang dan hadir di tengah-tengah kita pada hari Natal. Lebih khusus lagi, Ia telah masuk ke dalam kandang hati kita masing-masing dan bersemayam di dalamnya. Apakah kita sungguh percaya kepada Dia? Atau kah kita merasa biasa-biasa saja. Bisa juga kita hanya mengangggap kedatangan-Nya hanya sebagai sebuah ritus tahunan atau seremonial iman yang formalistik. Apabila kita masih berada dalama tataran ini, maka kita belum sungguh-sungguh mempunyai iman yang kokoh dan total kepada Tuhan. Kita gampang jatuh ke dalam sikap pongah. Kita merasa diri paling hebat dan mengklaim segala kebenaran selalu berada di pihak kita. kita juga gampang mencuci tangan atau mudah mencari kambing manakala menemui jalan buntu atau kesulitan dalam setiap pengalaman hidup yang dialami.

 

Mari kita belajar dari Simeon, Yusuf dan Maria, yang dengan penuh kerendahan hati, sungguh percaya dan mau menyerahkan diri secara total kepada Tuhan. Hanya dengan sikap demikian, iman kita kepada Tuhan sungguh-sungguh dimatangkan. Kita tidak pernah takut dengan setiap tantangan, kegagalan, atau bahkan penderitatan hidup, Karena kita percaya, Tuhan sudah merencanakan kebaikan dan keselamatan dalam hidup kita. Ia yang telah datang dan memenuhi hati kita masing-masing pada hari Natal, akan memberi jaminanan kebaikan dan keselamatan itu. Oleh karena itu marilah kita sungguh percaya dan menyerahkan diri dalam penyelenggaraan ilahi-Nya. Amin. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar