Minggu, 31 Juli 2022

Setia Dalam Panggilan Tuhan

                                          Mat 10:34-11:1

 

Hari ini (Senin/11/7/2022), kita memperingati Santo Benediktus, Abbas. Benediktus dikenal sebagai pendiri cara hidup monastik di Eropa Barat. Cara hidup monastik adalah sebuah praktek hidup yang meninggalkan hal-hal duniawi untuk lebih fokus membangun aspek spiritual dan rohani. Mereka yang membaktikan dirinya dalam praktek hidup monastik disebut dengan para rahib atau pertapa. Benediktus bukan saja menjalani panggilan hidupnya sebagai seorang imam. Ia juga adalah seorang pertapa atau rahib yang yang terkenal dan disegani oleh semua orang. Salah satu karunia ilahi yang dimilikinya adalah bisa mendeteksi niat jahat orang yang hendak meracuninya. Karena karunia ini maka Benediktus dikenal sebagai pelindung bagi orang yang terkena racun atau bisa. Benediktus lahir di Nursia, Italia sekitar tahun 480 dan meninggal dunia di Monte Casino pada tahun 547. Benediktus terlahir sebagai anak kembar. Saudari kembarnya bernama Skolastika; yang kemudian menjadi Santa Skolastika.

 

Seorang ibu pernah bercerita bahwa semenjak dekat kembali dengan Tuhan, hati dan pikirannya menjadi lebih tenang dan hidupnya lebih damai. Sang ibu ini memiliki masa lalu yang kelam. Ia menghabiskan masa mudanya dengan terjun ke dalam alam pergaulan bebas. Dia jatuh dalam dosa yang menghancurkan hidupnya. Ia merusak masa depan dirinya, anak-anak, dan keluarganya. Namanya sudah terlanjur tenar. Tenar bukan karena hal yang baik, namun sebaliknya. Ia menjadi buah bibir bagi semua orang yang melihatnya. Keluarga, rekan dan kenalan tidak pernah berhenti mencibir dan menghinanya. Mencoba keluar dari lingkaran kegelapan, ia merantau ke daerah yang jauh. Namun itu tidak membawa perubahan yang berarti. Malahan ia semakin terjebak dan tidak bisa keluar dari kemelut hidup yang membelenggu.

 

Sampai pada suatu ketika ia jatuh sakit. Sakit yang cukup parah dan menyiksa. Dalam situasi demikian ia tidak memiliki siapa pun. Semua orang telah menjauhinya. Bahkan sanak keluarga pun tidak mendekat. Kemudian ia mulai memasrahkan seluruh diri dan hidupnya pada Tuhan. Ia terus berdoa dan semakin intens membangun komunikasi dengan Tuhan. Ia tidak pernah melewatkan waktunya dengan berdoa dan terus berdoa. Apa pun kehendak Tuhan atas dirinya, ia sungguh menyerahkannya ke dalam penyelenggaraan Tuhan. Ternyata ia merasa sangat damai dan nyaman bersama Tuhan. Dalam kesendirian dan kesakitannya, ternyata ia tidak merasa kesepian. Tuhan sungguh hadir untuk menjadi seorang sahabat sejati baginya.

 

Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, melainkan orang sakit. Kata-kata dari Tuhan Yesus ini yang sungguh meneguhkan pribadinya. Tuhan Yesus datang untuk membawa pertobatan dan menyelamatkan mereka yang hilang. Hilang bukan dalam arti harafiah. Hilang dalam makna simbolik. Hilang akibat dosa-dosa manusiawi. Sang ibu telah menyadari kesalahan dan dosa-dosanya. Ia merasa sangat yakin bahwa Tuhan telah mengampuninya. Sama seperti wanita pendosa dalam kisah Injil. Tuhan telah berbela rasa dan mengangkat kembali martabatnya sebagai makhluk mulia di hadapan-Nya. Dan sebagai bonus yang didapatkan dari kemurahan Tuhan, ia dinyatakan sembuh dari sakit oleh dokter yang merawatnya.

 

Kisah pelik hidupnya belum mencapai bab akhir. Karena ia harus kembali menghadapi tantangan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Keluarganya belum sepenuhnya menerima dia dalam rumah. Ditambah lagi dengan nyinyiran orang-orang sekitar yang merendahkan dan menghujatnya. Bukannya bersyukur atas perubahan yang terjadi pada sang ibu, mereka malah menaruh prasangka atas perubahannya itu. Segala kebaikan yang beliau lakukan selalu dicurigai dan dianggap tidak benar. Hidup dalam stigma negatif terus menderanya. Hal ini membuat sang ibu sempat putus asa dan kehilangan harapan. Namun ia tetap tegar karena merasa dekat dengan sahabat sejatinya Yesus Kristus. Dalam situasi ini, yang menguatkan dirinya hanyalah sabda Tuhan yang dia baca setiap hari dan yang didengarnya dalam Perayaan Ekaristi. Kata-kata Tuhanlah yang meyakinkan dia. Bahwa dia tidak salah pilih untuk kembali kepada jalan Tuhan.

 

Kepada para murid-Nya, Yesus berkata bahwa Dia datang ke dunia bukan untuk membawa damai melainkan pertentangan. Dengan menerima, mengakui, dan percaya kepada-Nya bukan berarti masalah selesai. Bukan berarti juga segalanya akan berjalan baik dan indah. Malah situasi sebaliknya yang akan dihadapi. Banyak orang akan membenci dan menghujat mereka. Karena nama-Nya, orang akan dihina dan diperlakukan tidak adil. Semuanya itu harus mereka alami, karena Yesus pun telah sebelumnya diperlakukan seperti itu. Tetapi mereka tidak perlu kuatir. Barangsiapa kuat, tahan uji dan setia dalam penderitaan akan dimuliakan bersama Yesus. Dia yang juga telah berhasil mengalahkan semua tantangan dan cobaan dengan kesetiaan yang luar biasa.

 

Hari ini, Tuhan meneguhkan iman kita agar kita tetap setia dalam hidup dan panggilan bersama Dia. Menjadi pengikut Yesus itu tidak sulit. Tetapi yang sulit itu bagaimana menjalani hidup sebagai murid-Nya. Karena ada banyak tantangan, hambatan, dan kesulitan yang kita hadapi dengan pelbagai karakteristiknya. Tuhan menghendaki agar kita bertahan dan tidak kendor dalam menghadapi setiap tantangan atau hambatan. Tiap tantangan dan hambatan itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pertumbuhan pribadi yang semakin matang. Demikian kata-kata Nietscszhe, sang filsuf ateis. Dan dalam terang iman, bertahan dalam tantangan dan hambatan adalah jalan sebuah titik balik untuk menemukan eksistensi pribadi kita sebagai makhluk mulia di hadapan Tuhan. Mari kita tetap setia dalam panggilan Tuhan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar