Mat 10:34-11:1
Hari ini
(Senin/11/7/2022), kita memperingati Santo Benediktus, Abbas. Benediktus
dikenal sebagai pendiri cara hidup monastik di Eropa Barat. Cara hidup monastik
adalah sebuah praktek hidup yang meninggalkan hal-hal duniawi untuk lebih fokus
membangun aspek spiritual dan rohani. Mereka yang membaktikan dirinya dalam
praktek hidup monastik disebut dengan para rahib atau pertapa. Benediktus bukan
saja menjalani panggilan hidupnya sebagai seorang imam. Ia juga adalah seorang
pertapa atau rahib yang yang terkenal dan disegani oleh semua orang. Salah satu
karunia ilahi yang dimilikinya adalah bisa mendeteksi niat jahat orang yang
hendak meracuninya. Karena karunia ini maka Benediktus dikenal sebagai
pelindung bagi orang yang terkena racun atau bisa. Benediktus lahir di Nursia,
Italia sekitar tahun 480 dan meninggal dunia di Monte Casino pada tahun 547.
Benediktus terlahir sebagai anak kembar. Saudari kembarnya bernama Skolastika;
yang kemudian menjadi Santa Skolastika.
Seorang ibu
pernah bercerita bahwa semenjak dekat kembali dengan Tuhan, hati dan pikirannya
menjadi lebih tenang dan hidupnya lebih damai. Sang ibu ini memiliki masa lalu
yang kelam. Ia menghabiskan masa mudanya dengan terjun ke dalam alam pergaulan
bebas. Dia jatuh dalam dosa yang menghancurkan hidupnya. Ia merusak masa depan
dirinya, anak-anak, dan keluarganya. Namanya sudah terlanjur tenar. Tenar bukan
karena hal yang baik, namun sebaliknya. Ia menjadi buah bibir bagi semua orang
yang melihatnya. Keluarga, rekan dan kenalan tidak pernah berhenti mencibir dan
menghinanya. Mencoba keluar dari lingkaran kegelapan, ia merantau ke daerah
yang jauh. Namun itu tidak membawa perubahan yang berarti. Malahan ia semakin
terjebak dan tidak bisa keluar dari kemelut hidup yang membelenggu.
Sampai pada suatu
ketika ia jatuh sakit. Sakit yang cukup parah dan menyiksa. Dalam situasi
demikian ia tidak memiliki siapa pun. Semua orang telah menjauhinya. Bahkan
sanak keluarga pun tidak mendekat. Kemudian ia mulai memasrahkan seluruh diri
dan hidupnya pada Tuhan. Ia terus berdoa dan semakin intens membangun
komunikasi dengan Tuhan. Ia tidak pernah melewatkan waktunya dengan berdoa dan
terus berdoa. Apa pun kehendak Tuhan atas dirinya, ia sungguh menyerahkannya ke
dalam penyelenggaraan Tuhan. Ternyata ia merasa sangat damai dan nyaman bersama
Tuhan. Dalam kesendirian dan kesakitannya, ternyata ia tidak merasa kesepian.
Tuhan sungguh hadir untuk menjadi seorang sahabat sejati baginya.
Bukan orang sehat
yang membutuhkan tabib, melainkan orang sakit. Kata-kata dari Tuhan Yesus ini
yang sungguh meneguhkan pribadinya. Tuhan Yesus datang untuk membawa pertobatan
dan menyelamatkan mereka yang hilang. Hilang bukan dalam arti harafiah. Hilang
dalam makna simbolik. Hilang akibat dosa-dosa manusiawi. Sang ibu telah
menyadari kesalahan dan dosa-dosanya. Ia merasa sangat yakin bahwa Tuhan telah
mengampuninya. Sama seperti wanita pendosa dalam kisah Injil. Tuhan telah
berbela rasa dan mengangkat kembali martabatnya sebagai makhluk mulia di
hadapan-Nya. Dan sebagai bonus yang didapatkan dari kemurahan Tuhan, ia
dinyatakan sembuh dari sakit oleh dokter yang merawatnya.
Kisah pelik
hidupnya belum mencapai bab akhir. Karena ia harus kembali menghadapi tantangan
dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Keluarganya belum sepenuhnya
menerima dia dalam rumah. Ditambah lagi dengan nyinyiran orang-orang sekitar
yang merendahkan dan menghujatnya. Bukannya bersyukur atas perubahan yang
terjadi pada sang ibu, mereka malah menaruh prasangka atas perubahannya itu.
Segala kebaikan yang beliau lakukan selalu dicurigai dan dianggap tidak benar.
Hidup dalam stigma negatif terus menderanya. Hal ini membuat sang ibu sempat
putus asa dan kehilangan harapan. Namun ia tetap tegar karena merasa dekat
dengan sahabat sejatinya Yesus Kristus. Dalam situasi ini, yang menguatkan
dirinya hanyalah sabda Tuhan yang dia baca setiap hari dan yang didengarnya
dalam Perayaan Ekaristi. Kata-kata Tuhanlah yang meyakinkan dia. Bahwa dia
tidak salah pilih untuk kembali kepada jalan Tuhan.
Kepada para
murid-Nya, Yesus berkata bahwa Dia datang ke dunia bukan untuk membawa damai
melainkan pertentangan. Dengan menerima, mengakui, dan percaya kepada-Nya bukan
berarti masalah selesai. Bukan berarti juga segalanya akan berjalan baik dan
indah. Malah situasi sebaliknya yang akan dihadapi. Banyak orang akan membenci
dan menghujat mereka. Karena nama-Nya, orang akan dihina dan diperlakukan tidak
adil. Semuanya itu harus mereka alami, karena Yesus pun telah sebelumnya
diperlakukan seperti itu. Tetapi mereka tidak perlu kuatir. Barangsiapa kuat,
tahan uji dan setia dalam penderitaan akan dimuliakan bersama Yesus. Dia yang
juga telah berhasil mengalahkan semua tantangan dan cobaan dengan kesetiaan
yang luar biasa.
Hari ini, Tuhan meneguhkan iman kita agar kita tetap setia dalam hidup dan panggilan bersama Dia. Menjadi pengikut Yesus itu tidak sulit. Tetapi yang sulit itu bagaimana menjalani hidup sebagai murid-Nya. Karena ada banyak tantangan, hambatan, dan kesulitan yang kita hadapi dengan pelbagai karakteristiknya. Tuhan menghendaki agar kita bertahan dan tidak kendor dalam menghadapi setiap tantangan atau hambatan. Tiap tantangan dan hambatan itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pertumbuhan pribadi yang semakin matang. Demikian kata-kata Nietscszhe, sang filsuf ateis. Dan dalam terang iman, bertahan dalam tantangan dan hambatan adalah jalan sebuah titik balik untuk menemukan eksistensi pribadi kita sebagai makhluk mulia di hadapan Tuhan. Mari kita tetap setia dalam panggilan Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar