Kamis, 09 Februari 2023

Menjadi Pribadi Bijaksana


Mat 17:22-27

           

            Hari ini kita merayakan pesta Santo Dominikus, seorang imam saleh dan pengkotbah ulung. Santo Dominikus merupakan pendiri ordo religius Dominikus. Atau dikenal dengan Ordo Praedicatorium (Ordo para pengkotbah / Ordo Dominikan). Ordo Dominikan adalah sebuah tarekat atau kongregasi yang menggabungkan corak hidup kontemplatif (Cara hidup yang mengutamakan kehidupan penuh ketenangan, mati raga, bertapa, sehingga orang dapat berdoa dan bersemadi dengan lebih mudah) dengan kehidupan aktif seperti mewartakan Injil di luar komunitas, kerja tangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, belajar, dan lain-lain. Santo Dominikus lahir pada tahun 1170 di Calaruega, Spanyol, dan tutup usia di Bologna, Italia, pada tanggal 6 Agustus 1221. Ia menjadi santo pelindung bagi para ibu yang sedang berharap dan para astronom.

 

Merenungkan perikop Injil hari ini, ada satu bagian menarik yang nampaknya jarang direnungkan atau dibahas oleh banyak orang. Berkaitan dengan membayar pajak, apa alasan Yesus supaya Petrus membayar pajak bagi mereka berdua? Satu-satunya alasan yang terungkap dengan jelas dalam teks Injil ini adalah: “Supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka” (Mat 17:27). Batu sandungan berarti menjadi penghambat bagi orang lain, bagi sebuah aturan dan kebijakan tertentu dan bagi sebuah kebaikan bersama (Bonum commune). Maka Yesus meminta Petrus untuk mencari koin dalam ikan di danau supaya mereka tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

 

Menjadi batu sandungan berarti menghambat orang lain atau kelompok tertentu. Yesus mengingatkan Petrus agar karena hal sederhana jangan sampai justru mereka malah menghambat orang lain. Mereka menghalangi orang lain untuk maju dan berkembang. Ketika sebuah kebijakan atau aturan sudah ditetapkan bersama, maka semua orang wajib untuk menghargai dan menjalankan kebijakan atau aturan tersebut. Bahkan mereka yang berkuasa membuat kebijakan dan aturan juga tidak bisa seenaknya untuk mengubah atau dia sendiri tidak melaksanakannya.

 

Dalam kehidupan bersama, misalnya dalam lingkungan Gereja, kita juga berhadapan dengan berbagai kebijakan bersama, Entah di ranah lingkungan atau paroki. Tidak jarang dijumpai ada sekelompok orang yang merasa tidak cocok dengan kebijakan itu. Karena tidak cocok, mereka kemudian membuat gerakan untuk menciptakan kebijakan baru yang tidak sejalan dengan kebijakan lama. Sementara sebagian besar umat masih merasa kebijakan yang lama tetap relevan untuk diterapkan. Yang sering terjadi adalah sekelompok orang ini memaksakan kehendak mereka. Inilah kiranya yang dikatakan oleh Yesus sebagai “batu sandungan” bagi umat yang lain.

 

Contoh lain, dalam lingkup kerja. Kerap kita menemui atau berhadapan dengan orang atau kelompok orang yang mengambil sikap berseberangan dengan aturan yang berlaku atau kebijakan yang telah disepakati bersama. Mungkin mereka merasa ada kepentingan secara pribadi atau kelompok yang tidak terfasilitasi di dalamnya. Tentu aturan dan kebijakan yang diterapkan memiliki tujuan untuk membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi para pegawainya. Lain hal lagi, jikalau aturan atau kebijakan tertentu tidak dapat memberikan rasa keadilan atau asas manfaat bagi kepentingan umum. Pasti akan timbul penolakan dan petisi untuk mengevaluasinya. Akan tetapi, selama kebijakan dan aturan itu memiliki tujuan yang baik dan mulia, walaupun mungkin tidak mengakomodir semua kepentingan pribadi, seyogyanya semua pihak dapat menerima dan menjalankannya.

 

Dalam kehidupan ini kiranya ada banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak kita. Ada banyak aturan dan kebijakan yang mungkin dianggap tidak lagi sesuai. Jika kita mampu untuk memperbaikinya, maka kita bisa melakukannya. Namun jika apa yang kita usulkan justru menjadi perdebatan dan bahkan menimbulkan konflik dan perpecahan, maka sebaiknya kita berpikir kembali. Kita hidup bersama dalam satu kesatuan bersama orang lain. Ada kalanya kita harus bertindak demi kepentingan dan kebaikan bersama. Namun sebaiknya kita tidak boleh bertindak atas nama kepentingan pribadi atau kelompok, supaya jangan menjadi batu sandungan bagi semua orang.

 

Hari ini Yesus telah menginspirasi agar kita menjadi manusia yang bijaksana dalam hidup. Manusia yang tidak hanya memikirkan diri dan kelompoknya semata. Manusia yang tidak hanya memfokuskan hidup demi pribadi dan kelompoknya. Apalagi sampai mengambil sikap oposan atau berlawanan dengan sebuah aturan dan kebijakan yang baik dan mulia demi kepentingan bersama. Jika ini yang terjadi maka sebenarnya kita telah menjadi batu sandungan bagi orang lain dan kepentingan bersama. Kita harus mengasah dan menata diri untuk menjadi manusia yang bijaksana. Pertama, dalam menyikapi pelbagai hal, termasuk aturan dan kebijakan yang bertolak belakang dengan prinsip keadilan dan kebaikan bersama, kita perlu bertindak dengan sikap rasional dan emosi yang matang. Dengan pendekatan yang lebih persuasif, dan bukan sebaliknya dengan intimidasi dan kekerasan. Kedua, kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan kepentingan umum dengan mengutamakan kepentingang pribadi dan kelompok. Mari kita menata sikap dan hidup lebih bijaksana sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar