Mat 19:16-22
Sebagai orang tua yang bertanggung
jawab, kita memiliki kewajiban moral untuk mendidik, membimbing, dan
mengarahkan anak-anak untuk memiliki sikap yang baik. Baik tidak hanya di
hadapan Tuhan, tetapi juga dalam lingkup pergaulan sosialnya bersama orang
lain. Tentu dengan pelbagai pendekatan dan metode yang berbeda. Ada pendekatan
yang lembut, tegas, dan tidak jarang orang tua mendidik anak-anak dengan
kata-kata yang keras dan kasar. Kata-kata kunci seperti jangan, tidak, harus,
wajib, menjadi kata-kata lumrah dan terus menghiasi dinamika hidup harian kita.
Terutama berhadapan dengan anak-anak, kata-kata ini dipakai untuk memberi
batasan agar mereka tidak melenceng dari hidup yang sudah digariskan oleh hukum
moral dan ajaran agama. Kata-kata demikian, menjadi lebih efektif apabila
ditambahkan dengan keterangan yang menjelaskan dampak dari sebuah perbuatan.
Misalnya, jangan mencuri karena Tuhan akan murka. Kamu tidak boleh menghina
sesamamu karena kamu akan mendapat celaka. Anda harus menolong orang lain agar
Tuhan mengasihimu. Anda wajib menolong orang miskin agar kelak masuk sorga. Dan
masih banyak contoh kalimat yang lain.
Nasihat seperti ini merupakan contoh
penerapan metode reward (hadiah) dan punishment (hukuman) untuk memotivasi
seseorang. Metode ini memang terbukti efektif dalam berbagai bidang kehidupan
manusia termasuk dalam urusan rohani. Kebanyakan orang melakukan hal-hal baik
dan benar seturut ajaran moral dan agama dengan motivasi tertentu. Agar ia
mendapat berkat dan keselamatan dari Tuhan. Agar ia bisa diterima dalam
keluarga dan masyarakat. Agar ia bisa disenangi dan mendapat simpati dari
publik. Agar ia bisa diberi apresiasi dan kenaikan jabatan. Penghayatan
nilai-nilai iman dan moral yang berlandaskan pada aspek reward dan punishment
sah-sah saja. Tetapi model penghayatan seperti ini bukanlah sebuah penghayatan
hidup yang sejati. Orang-orang masih dibebani atau diikat dengan pelbagai
konsekuensi yang harus diterimanya. Kenyataannya, orang tidak melakukan sesuatu
berdasarkan kemauan dan kesadaran pribadi.
Hari ini kita berjumpa dengan
seorang muda yang kaya, baik, dan saleh. Dia meminta nasihat Yesus tentang
perbuatan baik yang menjamin masa depannya, yaitu memperoleh hidup yang kekal.
Permintaannya mencerminkan asumsi bahwa hidup kekal itu merupakan ganjaran atas
perbuatan baik manusia. Ia menganggap relasi dengan Tuhan sebagai barter
komersial (bisnis) antara perbuatan baiknya dengan ganjaran hidup kekal.
Kebaikan dilihatnya hanya sebatas ketaatan pada hukum. Oleh Yesus, Dia
ditantang untuk membebaskan diri dari ikatan hartanya. Ia harus rela membagikan
harta itu kepada orang-orang miskin lalu mengikuti Yesus. Ini bukan merupakan
syarat hidup yang kekal, melainkan tujuan utama hidup yang harus dilakukan.
Dalam iman, tujuan hidup demikian selaras dengan maksud mulia Allah menciptakan
manusia. Sayangnya orang muda ini tidak berani menanggapi jalan kesempurnaan
ini. Ia masih lebih mencintai harta duniawi miliknya. Ia belum mampu
membebaskan dirinya dari segala keterikatan hidup duniawi. Ia belum memiliki
kesadaran penuh untuk memperoleh hidup kekal. Ia hanya menjalani secara
rutinitas dan formalitas belaka segala hal yang ditetapkan oleh ajaran agama.
Mungkin sebagai orang beriman kita
masih memperlihatkan hidup seperti orang muda yang kaya ini. Segala hal baik
dan benar yang kita tunjukkan masih berada pada tataran formalitas atau sekedar
rutinitas belaka. Kita melakukan hal yang baik dan benar karena ada kepentingan
atau tujuan yang lebih bersifat pragmatis. Jauh dari kata ideal. Kita
menunjukkan kebaikan kepada orang lain supaya dicap sebagai orang baik. Kita
rajin ke gereja pada hari Minggu supaya dikatakan sebagai orang religius. Kita
disiplin dalam waktu supaya tidak mendapat complain
dari atasan atau pimpinan. Kita menerapkan 3S yakni senyum, sapa, dan salam,
supaya diapresiasi sebagai orang yang ramah. Kita menyumbang atau memberi derma
supaya menaikan gengsi sosial. Kita sering menolong orang miskin dan tertindas
supaya Tuhan berkenan memberi berkat. Saya kira masih banyak litani kehidupan
yang bisa kita catat dan refleksi secara pribadi yang pada intinya
menggambarkan bahwa apa yang kita lakukan masih berada pada tataran formalitas
dan memiliki tujuan pragmatis.
Kita masih belum sungguh-sungguh merdeka
untuk melakukan segala kebaikan dan kebenaran dalam kesadaran sejati. Kesadaran
sebagai makhluk beriman yang diciptakan Tuhan untuk sungguh-sungguh berada
secara total di jalan kebenaran Tuhan. Hari ini Tuhan mengatakan kepada kita:
“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan
berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di
sorga”. Statement Yesus ini bukanlah
sebuah syarat hidup yang pragmatis.
Kata-kata Yesus ini merupakan sebuah idealisme yang harus digapai oleh setiap
kita. Dan menjual harta milik tidak ditafsir secara harafiah semata. Menjual
harta milik bersinonim dengan membebaskan diri dari segala keterikatan duniawi
dan kepentingan pribadi. Kita melakukan segala hal baik dan benar sesuai
anjuran hukum moral dan agama karena dibentuk oleh sebuah kesadaran. Kesadaran
untuk memaknai hidup lebih bermakna. Dan yang pasti kesadaran sebagai makhluk
Tuhan yang sementara berziarah menuju keabadian hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar