Mat 26: 14-25
Ada pepatah bahasa Latin yang mengatakan, “Amicitia vitae vinum est”. Persahabatan
adalah anggur kehidupan. Karena begitu berharga dan bernilainya arti sebuah
persahabatan, sehingga orang Latin sampai menganalogikannya dengan minuman
favorit mereka yakni anggur. Tetapi apa jadinya jika seorang sahabat melakukan
pengkhianatan terhadap diri kita? Apalagi kita sudah menaruh rasa kasih dan
kepercayaan yang tinggi kepadanya. Saya yakin kita pasti tidak akan
menerimanya. Tidak hanya merasa kecewa, sakit hati, dan sedih yang mendalam,
namun bisa juga kita menuntut balas atas perbuatan jahatnya.
Tindakan pengkhianatan seorang sahabat ternyata terjadi juga dalam sejarah
hidup Yesus. Yudas Iskariot, seorang murid Yesus dari kelompok dua belas rasul
tega melakukan pengkhianatan terhadap Yesus, Sang Guru sekaligus sahabatnya.
Hanya demi memuaskan dahaga materialistisnya, Yudas menghancurkan fondasi
persahabatan yang telah ia bangun bersama-sama dengan kawan-kawannya terhadap
Yesus.
Sama seperti para murid yang lain, sebenarnya Yudas Iskariot memiliki
sedikitnya tiga berkat dari Yesus. Pertama, dia telah mendapat anugerah Tuhan
untuk menjadi murid Yesus. Arti murid merujuk pada istilah pengikut. Pengikut
berarti orang yang harus tunduk, taat, patuh pada orang yang diikuti demi
memperoleh ilmu atau kebijaksanaan tertentu. Kedua, Yudas mendapat kesempatan
untuk belajar secara langsung selama tiga tahun bersama Yesus. Ini adalah
pengalaman luar biasa yang tidak semua orang miliki. Yudas tidak hanya
mempelajari ilmu pengetahuan secara intensif dari setiap kata yang keluar dari
mulut Yesus, tetapi secara aktif mengambil bagian dalam praktek kerja nyata di
lapangan.
Ketiga, Yudas juga disebut sebagai Rasul. Sebuah gelar atau jabatan
kehormatan untuk orang yang diutus Yesus secara langsung. Istilah rasul melekat
erat dalam dua belas orang murid Yesus. Mereka adalah saksi hidup yang akan
melanjutkan karya penyelamatan sepeninggalan Yesus di atas muka bumi. Tidak
saja masuk dalam kelompok dua belas rasul, Yudas juga dipercayakan tugas
pelayanan yang sangat strategis dengan menjadi bendahara. Ia yang mengatur arus
masuk dan keluar dari uang kelompok. Dan tentu saja mengurus menu makanan dan
menyiapkannya untuk Yesus dan murid-murid yang lain.
Namun sangat disayangkan bahwa Yudas tidak mampu mengucap syukur atas
segala berkat yang telah diterimanya dari Yesus. Ia malah menyia-nyiakan berkat
itu hanya karena dibutakan oleh harta atau materi. Beberapa kali Yesus bahkan
telah mengingatkan Yudas akan rencana jahatnya. Ini membuktikan bahwa Yesus
sangat mengasihi sahabatnya itu. Dan Yesus tidak mau Yudas terjebak oleh nafsu
iblisnya. Kalau kita perhatikan dalam teks Injil hari ini, secara eksplisit
Yesus telah membuat warning atau
peringatan kepada Yudas. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara
kamu akan menyerahkan Aku” (Yoh 26:21). Atau teks lain yang berbunyi: “Dia yang
bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang
akan menyerahkan Aku.” (Yoh 26:23. Dengan bahasa sarkasme, Yesus mengutuk Yudas
dan mengatakan bahwa ia tidak pantas dilahirkan.
Walaupun tidak menyebut nama, namun sudah dengan terang benderang Yesus
memberi kesadaran kepada Yudas akan rencana jahatnya. Tetapi semua hal yang
dikatakan Yesus tidak mempan. Nafsu akan uang telah menutup rasa
kemanusiaannya. Yudas telah dikuasai oleh iblis untuk lebih memilih harta dari
pada guru dan sahabatnya, Yesus Kristus.
Kita juga seringkali memainkan peran sebagai yudas-yudas baru di masa kini.
Sebagai seorang pengikut Yesus, tidak jarang kita melakukan pengkhiatan dari
level yang paling kecil sampai paling besar besar terhadap guru dan sahabat
agung kita, Yesus Kristus. Kita lebih memilih untuk memihak tindakan atau aksi
yang membawa keuntungan atau kenikmatan entah secara pribadi atau kelompok
sembari mengorbankan nilai atau aspek yang lebih tinggi. Kita lebih mencintai harta
manakala diberi pilihan untuk harus menipu atau berbohong. Kita lebih mencintai
jabatan manakala diberi pilihan untuk menjegal kawan atau sahabat sendiri. Kita
lebih mencintai kehormatan pribadi manakala diberi pilihan untuk merendahkan
pribadi orang lain. Kita lebih mencintai keluarga sendiri manakala diberi
pilihan untuk tidak menganggap orang lain, dan sebagainya.
Sebagaimana Yesus memperingatkan Yudas, kita juga diberi peringatan oleh
Yesus agar segera menyadari kesalahan dan dosa. Kita harus segera berbenah diri
dari segala tindakan pengkhianatan yang kita lakukan terhadap Yesus. Mata batin
kita harus segera terbuka agar kita mampu melihat berbagai berkat yang Tuhan
anugerahkan dalam hidup. Hanya orang sesat yang tidak mau dan tidak mampu
menyadari segala berkat Tuhan dalam hidupnya. Dengan menyadari segala berkat
Tuhan dalam hidup, kita akan dimampukan untuk lebih mencintai Tuhan dan
mengarahkan kiblat hidup pada kebenaran-Nya. Amin. ***Atanasius KD Labaona***