Selasa, 30 Maret 2021

TIDAK MELAKUKAN KHIANAT

Mat 26: 14-25

Ada pepatah bahasa Latin yang mengatakan, “Amicitia vitae vinum est”. Persahabatan adalah anggur kehidupan. Karena begitu berharga dan bernilainya arti sebuah persahabatan, sehingga orang Latin sampai menganalogikannya dengan minuman favorit mereka yakni anggur. Tetapi apa jadinya jika seorang sahabat melakukan pengkhianatan terhadap diri kita? Apalagi kita sudah menaruh rasa kasih dan kepercayaan yang tinggi kepadanya. Saya yakin kita pasti tidak akan menerimanya. Tidak hanya merasa kecewa, sakit hati, dan sedih yang mendalam, namun bisa juga kita menuntut balas atas perbuatan jahatnya.

 

Tindakan pengkhianatan seorang sahabat ternyata terjadi juga dalam sejarah hidup Yesus. Yudas Iskariot, seorang murid Yesus dari kelompok dua belas rasul tega melakukan pengkhianatan terhadap Yesus, Sang Guru sekaligus sahabatnya. Hanya demi memuaskan dahaga materialistisnya, Yudas menghancurkan fondasi persahabatan yang telah ia bangun bersama-sama dengan kawan-kawannya terhadap Yesus.

 

Sama seperti para murid yang lain, sebenarnya Yudas Iskariot memiliki sedikitnya tiga berkat dari Yesus. Pertama, dia telah mendapat anugerah Tuhan untuk menjadi murid Yesus. Arti murid merujuk pada istilah pengikut. Pengikut berarti orang yang harus tunduk, taat, patuh pada orang yang diikuti demi memperoleh ilmu atau kebijaksanaan tertentu. Kedua, Yudas mendapat kesempatan untuk belajar secara langsung selama tiga tahun bersama Yesus. Ini adalah pengalaman luar biasa yang tidak semua orang miliki. Yudas tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan secara intensif dari setiap kata yang keluar dari mulut Yesus, tetapi secara aktif mengambil bagian dalam praktek kerja nyata di lapangan.

 

Ketiga, Yudas juga disebut sebagai Rasul. Sebuah gelar atau jabatan kehormatan untuk orang yang diutus Yesus secara langsung. Istilah rasul melekat erat dalam dua belas orang murid Yesus. Mereka adalah saksi hidup yang akan melanjutkan karya penyelamatan sepeninggalan Yesus di atas muka bumi. Tidak saja masuk dalam kelompok dua belas rasul, Yudas juga dipercayakan tugas pelayanan yang sangat strategis dengan menjadi bendahara. Ia yang mengatur arus masuk dan keluar dari uang kelompok. Dan tentu saja mengurus menu makanan dan menyiapkannya untuk Yesus dan murid-murid yang lain.

 

Namun sangat disayangkan bahwa Yudas tidak mampu mengucap syukur atas segala berkat yang telah diterimanya dari Yesus. Ia malah menyia-nyiakan berkat itu hanya karena dibutakan oleh harta atau materi. Beberapa kali Yesus bahkan telah mengingatkan Yudas akan rencana jahatnya. Ini membuktikan bahwa Yesus sangat mengasihi sahabatnya itu. Dan Yesus tidak mau Yudas terjebak oleh nafsu iblisnya. Kalau kita perhatikan dalam teks Injil hari ini, secara eksplisit Yesus telah membuat warning atau peringatan kepada Yudas. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku” (Yoh 26:21). Atau teks lain yang berbunyi: “Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.” (Yoh 26:23. Dengan bahasa sarkasme, Yesus mengutuk Yudas dan mengatakan bahwa ia tidak pantas dilahirkan.

 

Walaupun tidak menyebut nama, namun sudah dengan terang benderang Yesus memberi kesadaran kepada Yudas akan rencana jahatnya. Tetapi semua hal yang dikatakan Yesus tidak mempan. Nafsu akan uang telah menutup rasa kemanusiaannya. Yudas telah dikuasai oleh iblis untuk lebih memilih harta dari pada guru dan sahabatnya, Yesus Kristus.

 

Kita juga seringkali memainkan peran sebagai yudas-yudas baru di masa kini. Sebagai seorang pengikut Yesus, tidak jarang kita melakukan pengkhiatan dari level yang paling kecil sampai paling besar besar terhadap guru dan sahabat agung kita, Yesus Kristus. Kita lebih memilih untuk memihak tindakan atau aksi yang membawa keuntungan atau kenikmatan entah secara pribadi atau kelompok sembari mengorbankan nilai atau aspek yang lebih tinggi. Kita lebih mencintai harta manakala diberi pilihan untuk harus menipu atau berbohong. Kita lebih mencintai jabatan manakala diberi pilihan untuk menjegal kawan atau sahabat sendiri. Kita lebih mencintai kehormatan pribadi manakala diberi pilihan untuk merendahkan pribadi orang lain. Kita lebih mencintai keluarga sendiri manakala diberi pilihan untuk tidak menganggap orang lain, dan sebagainya.

 

Sebagaimana Yesus memperingatkan Yudas, kita juga diberi peringatan oleh Yesus agar segera menyadari kesalahan dan dosa. Kita harus segera berbenah diri dari segala tindakan pengkhianatan yang kita lakukan terhadap Yesus. Mata batin kita harus segera terbuka agar kita mampu melihat berbagai berkat yang Tuhan anugerahkan dalam hidup. Hanya orang sesat yang tidak mau dan tidak mampu menyadari segala berkat Tuhan dalam hidupnya. Dengan menyadari segala berkat Tuhan dalam hidup, kita akan dimampukan untuk lebih mencintai Tuhan dan mengarahkan kiblat hidup pada kebenaran-Nya. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Senin, 29 Maret 2021

PENGKHIANATAN SELALU BERAKHIR DENGAN PENYESALAN

(Yohanes 13:21-33,36-38)

            Sebagai manusia yang hidup dalam komunitas sosial, sering kali kita menjumpai pribadi tertentu yang hidupnya suka menjual orang lain bahkan terhadap sahabat dekatnya pun mereka rela berkhianat demi tujuan pribadinya yang terselubung. Mereka seperti orang yang lupa ingatan meskipun orang yang dijual adalah orang baik yang selalu menolongnya. Lebih lagi, kita suka memberi janji palsu, suka berbohong seolah kita punya komitmen moral yang teruji dan terukur. Semua agama mengajarkan kasih kepada Tuhan dan sesama, meskipun ada kelompok radikal dan fundamentalis tertentu yang melakukan aksi teror bom bunuh diri seperti minggu kemarin yang terjadi di depan Gereja katedral Makassar-Sulawesi Selatan. Semua agama dan lapisan masyarakat mengutuk keras aksi jahanam yang menebarkan teror tak berperikemanusiaan itu. Kelompok teroris ini telah diindoktrinasi dengan ajaran sesat bahwa untuk masuk surga orang harus mampu membunuh sesamanya, seolah surga adalah istana nenek moyang mereka sendiri. Kelompok ini telah dirasuki iblis dan hidup mereka jauh dari terang keselamatan Allah. Mereka hidup dalam kegelapan dosa yang memaksa mereka: membenci sesamanya, anti terhadap kedamaian dan kasih. Injil hari ini  memperlihatkan kepada kita semua drama yang dilakonkan oleh dua murid Yesus yang telah lama tinggal bersama Yesus, namun tega mengkhianati Sang Guru. Keduanya bukan orang luar di luar komunitas persekutuan dengan Yesus tetapi mereka adalah orang kepercayaan Yesus sendiri. Keduanya adalah Yudas dan Petrus. Yudas bersekongkol dan menyerahkan Yesus untuk dibunuh, hatinya telah dirasuki setan sehingga bertindak kesurupan demi mendapatkan 30 keping perak. Sedangkan, Petrus dengan penuh percaya diri berjanji dihadapan Yesus untuk mengikuti-Nya kemana pun Ia pergi. Komitmennya ini pupus ketika ia menyangkal Yesus tiga kali setelah ayam berkokok pada moment penghakiman kepada Yesus. Pertanyaan reflektif bagi kita semua: apakah masih relevan kita yang hidup di zaman modern ini menghidupi perangai Yudas dan Petrus di jamannya dengan cara yang lebih kejih dan kejam lewat drama teror bom untuk menebar ketakutan demi menghilangkan ajaran KASIH kepada sesama?

            Pada hari Selasa Pekan Suci ini bacaan-bacaan liturgi memfokuskan perhatian kita pada drama yang akan mencapai puncaknya pada peristiwa penyaliban Yesus Kristus di hari Jumat Agung nanti. Penginjil Yohanes melukiskan saat-saat mengharukan pada malam perjamuan terakhir. Yesus mengatakan dengan terus terang bahwa salah seorang di antara keduabelas rasul-Nya akan menyerahkan diri-Nya kepada para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Sebelumnya Yesus sudah mengatakan bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Kini Ia lebih memberi perhatian khusus pada salah seorang di antara keduabelas rasul-Nya yang akan menyerahkan Dia. Para rasul-Nya kaget dan bereaksi, sesuatu yang lumrah terjadi pada setiap orang yang mendengar penuturan Yesus. Mereka saling bertanya satu sama lain, siapakah yang akan menyerahkan sang Guru. Simon Petrus meminta Yohanes yang duduk dekat dengan Yesus untuk bertanya kepada-Nya perihal siapa yang dimaksudkan Yesus. Pertanyaannya: “Tuhan siapakah itu?” (Yoh 13:25) dan para murid lain juga bertanya: “Bukan aku, ya Tuhan?”. Pertanyaan para murid pada umumnya ini berbeda dengan pertanyaan Yudas Iskariot. Ia malah bertanya: “Bukan aku, ya Rabbi?”. Lihatlah bahwa para murid lain bertanya kepada Yesus sebagai Tuhan dalam konteks post-paskah, sedangkan Yudas Iskariot tetap memandang Yesus sebagai Guru yang bisa dijualnya dengan harga 30 keping perak.

            Reaksi Yesus lahir dalam perkataan-Nya ini: “Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian, Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” (Yoh 13:26-27). Yesus sungguh luar biasa, Ia sudah mengenal Yudas sebagai pengkhianat tetapi oleh kasih-Nya yang tak mengenal batas, Ia masih melayani Yudas dengan kasih, menyuapnya dengan roti dari tanganNya sendiri. Yesus sedang mengajarkan satu kebajikan utama yakni kasih yang sempurna untuk terus mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Inilah teladan hidup sejati yang diajarkan Yesus kepada kita murid-murid-Nya.

            Setelah Yudas menerima roti itu maka ia meninggalkan komunitasnya di mana ia dibentuk oleh Yesus selama tiga tahun. Teman-temannya berpikir positif tentang dia bahwa sebagai bendahara mungkin ia pergi membeli sesuatu atau memberi sedekah kepada kaum miskin. Ternyata ia pergi untuk menjual Rabbi-nya yaitu Tuhan Yesus, yang baginya adalah Guru yang hidup bersamanya selama tiga tahun. Yohanes menambahkan bahwa pada saat itu hari sudah malam, Yudas meninggalkan Yesus sang Terang dunia dan memasuki dunia baru yang gelap penuh kejahatan dan kebencian. Malam menandakan kesenangan manusia pada dosa dan tawaran duniawi yang menjerumuskan manusia pada hal-hal hedonistis semata tanpa memiliki kemauan kuat untuk bertobat dan mencari keselamatan dari Tuhan.

            Petrus juga ditampilkan untuk menunjukkan sosok manusia yang rapuh di hadapan Tuhan tetapi sepenuhnya akan dikuatkan oleh Tuhan Yesus sendiri (Roh Kudus). Ia bertanya kepada Yesus tentang tempat kepergian-Nya dan ia bersedia mengikuti bahkan menyerahkan nyawanya bagi Yesus. Tuhan Yesus memadang Petrus dengan penuh kasih dan berkata kepadanya bahwa sebelum ayam berkokok, ia sudah menyangkal Yesus tiga kali. Banyak kali kita juga seperti Petrus, mudah berjanji kepada Tuhan dan sesama, tetapi ketika ada penderitaan datang mudah sekali kita meninggalkan Tuhan dan sesama untuk mencari rasa nyaman sendiri. Kita mungkin lebih sadis dari Petrus bahkan bisa jadi menyangkal Yesus tak terhitung jumlahnya.

            Dalam Kitab nabi Yesaya hari ini, kita juga mendengar kisah Hamba Tuhan sebagai terang di tengah-tengah segala bangsa. Hamba Tuhan memperkenalkan dirinya sebagai pribadi yang sudah dikenal Tuhan sejak masih berada di dalam kandungan ibunya. Tuhan membuka mulut hamba-Nya ini di mana mulutnya laksana pedang yang tajam. Dari mulut hamba inilah Sabda Tuhan yang tajam bagai pedang bisa mengubah hidup manusia. Tangan Tuhan juga perkasa sehingga bisa melindungi hamba-Nya. Kepadanya Tuhan berfirman: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” (Yes 49:3). Hamba Tuhan juga merasa bahwa segala pekerjaan yang dilakukannya sia-sia saja. Namun, ia tetap percaya bahwa haknya terjamin pada Tuhan dan upahnya ada pada Tuhan Allah. Pada akhirnya Tuhan berkata: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” ( Yes 49:6). Hamba Tuhan disini adalah terang yang menerangi hidup manusia, Dialah Yesus Tuhan kita, Dialah terang dari segala terang yang mampu menerobos dan mengalahklan kegelapan dunia.

            Dalam kacamata iman Kristiani, Hamba Tuhan adalah Yesus sendiri. Ia adalah terang yang sedang datang ke dunia tetapi manusia tidak mengenalNya karena iblis telah merasuki hati kita hingga selalu bertindak membabi buta. Padahal terangNya itu melampaui segala-galanya. Kegelapan tidak mampu menguasai terang. Yesus berkata: “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan mereka jahat.” (Yoh 3:19). Yudas Iskariot memiliki pilihan bebas untuk meninggalkan Terang dan masuk ke dalam kegelapan kekal, namun dipenghujung drama pengkhianatan yang dilakoninya, ia menyesal dan akhirnya gantung diri. Penyesalan selalu datang terlambat bagaikan nasi sudah menjadi bubur.

            Harus kita akui bahwa banyak kali kita menjadi Yudas Iskariot modern yang suka hidup dalam suasana malam penuh kegelapan. Sikap hidup kita tidak Kristiani karena suka mengadili sesama, membicarakan sesama dan lebih doyan memfitnah, membenci dan sulit untuk mengampuni sesama kita. Kita juga banyak kali berlaku seperti Petrus suka bersumpah sambil meyakinkan orang dengan menyebut nama “Allah”, suka berbicara manis tapi kelakuan dan komitmen kita berbanding terbalik tak sejalan dengan janji dan ucapan kita. Kita juga sering berlaku seperti para teroris yang anti terhadap praktek KASIH dan suka menjauh dari terang. Kita suka menebar kebencian terhadap sesama kita bahkan kepada orang baik sekali pun. Di penghujung masa Prapaskah dan pekan suci ini, kita masih memiliki kesempatan untuk membaharui hidup kita lewat langkah pertobatan, menyadari kedosaan kita dan membiarkan diri kita dibimbing oleh Terang Keselamatan. Yesus adalah Hamba yang membawa terang bagi dunia. Mari kita keluar dari kegelapan hidup dan masuk ke dalam terang sejati yang menyadarkan kita tentang pentingnya pertobatan untuk mencapai keselamatan paripurna dari Allah. Sebagai manusia lemah dan rapuh, kita bisa diselamatkan oleh Yesus kalau kita tekun dalam doa. Doa Daud dalam Mazmur hari ini layak kita ulangi dalam hati kita masing-masing (Mzm 71: 1-2): “Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!” . Semoga kita selalu mengambil hikma dari drama pengkhianatan Yudas dan komitmen palsu dari Petrus serta peristiwa aksi teror bom bunuh diri kelompok radikal di Makassar-Sulawesi Selatan baru-baru ini untuk senantiasa berjalan dalam terang Kasih Tuhan yang membawa kita pada keselamatan sejati dan paripurna. Amin. ***Bernard Wadan***

Selasa, 23 Maret 2021

MERDEKA DARI DOSA

Yoh 8: 31-42

Menurut Kamus Besar Bahas Indonesia, kata merdeka berarti bebas (dari perhambaan, penjajahan), tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak tergantung atau terikat kepada orang atau pihak tertentu. Saya sering mendengar secara langsung kesaksian dari orang-orang yang berada di kampung bahwa mereka belum merasakan arti merdeka yang sesungguhnya. Memang ironis, walau negara Indonesia sudah merdeka dari bangsa penjajah 70-an tahun yang lalu, namun orang-orang di republik ini belum merasakan hakikat sejati dari kata merdeka. Bila ditelisik lebih dalam, ternyata dasar pemikiran orang-orang sederhana ini ada benarnya juga. Kehidupan ekonomi yang sulit, kemiskinan yang mendera, akses informasi dan teknologi yang terbatas, infrastruktur jalan yang rusak berat, adalah sederet fakta dan data yang memperkuat alibi bahwa sebenarnya mereka belum merdeka. Kehidupan mereka masih jauh dari kata layak karena masih terikat dengan berbagai fakta dan data yang memprihatinkan.

 

Hari ini Yesus memberi warning kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya. “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:31). Ada hal membanggakan bahwa ada kelompok orang Yahudi yang mulai menaruh rasa percaya kepada Yesus. Lewat kata-kata dan tindakan mukjizat-Nya, mereka percaya akan kompetensi dan kemampuan ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Peringatan Yesus tersebut mau menegaskan bahwa kehadiran Yesus akan membebaskan mereka dari segala dosa yang telah diperbuat. Jadi mereka tidak sekedar menjadi pengikut-Nya. Di atas semua itu, mereka akan diperbarui menjadi pribadi merdeka atau bebas dari salah dan dosa.

 

Kata merdeka yang dikeluarkan oleh Yesus, menimbulkan salah tafsir di antara kalangan Yahudi yang telah percaya. Dengan segera mereka mengklaim bahwa mereka adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bisa dipahami pikiran mereka bahwa keturunan Abraham yang dimaksud di sini lahir dari istri pertama yang bernama Sara. Dan bukan berasal dari Hagar, seorang hamba atau budak yang memiliki status sosial yang rendah. Karena kebanggaan status ini, mereka tidak menerima kalau dikatakan belum merdeka. Padahal, kata merdeka yang dimaksudkan oleh Yesus bukan seperti itu. Kata merdeka memiliki relevansi makna bebas dari salah dan dosa.

 

Di luar kelompok kecil Yahudi yang telah percaya kepada Yesus, masih banyak lagi orang Yahudi yang tidak menunjukkan sikap percaya kepada Yesus. Orang-orang inilah yang oleh Yesus dikatakan belum merdeka. Mereka belum bebas dari keterikatan kepada dosa. Sifat dan perilaku mereka masih jauh dari kebenaran dan kehendak Allah. Walaupun mereka mengklaim diri sebagai keturunan Abraham, namun sikap hidup mereka tidak seperti yang telah ditunjukkan oleh Abraham, bapa bangsa umat Israel. Seharusnya sebagai seorang keturunan Abraham, mereka melakukan seturut apa yang sudah diwariskan oleh Abraham. “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham” (Yoh 8:39).

 

Abraham adalah seorang abdi Allah yang setia. Ia memiliki dedikasi dan semangat pelayanan yang tinggi untuk melayani Allah. Namun, sungguh terbalik apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang mengaku keturunan Abraham di era Yesus. Puncak perbuatan tercelah mereka adalah tidak mengakui Yesus sebagai Anak Allah. Bahkan mereka berusaha membunuh-Nya. Yesus dan Allah itu tidak memiliki perbedaan. Kedua-Nya adalah satu. Jadi, kalau orang-orang Yahudi percaya kepada Allah, seharusnya mereka juga percaya kepada Yesus. Percaya akan segala kata-kata dan perbuatan-Nya. Karena semua itu tentu saja datang dari kehendak Allah sendiri. Kebenaran Yesus sebagai Anak Allah merupakan fakta yang tidak terbantahkan. Namun, kebanyakan orang Yahudi zaman Yesus, memilih untuk tidak mengakui kebenaran itu. Sebuah sikap yang bertolak belakang dengan eksistensi diri mereka sebagai anak-anak Abraham.

 

Sebagai seorang pengikuti Yesus di zaman ini, kita acapkali memperlihatkan sikap kontradiksi. Di satu sisi, kita seringkali bangga dengan status kita sebagai orang Katolik. Tidak jarang kita merasa diri paling benar dengan dalil ajaran iman. Kita juga bangga dengan berbagai bangunan gereja yang megah dan indah. Namun di sisi lain, kita tidak memperlihatkan sikap yang berpihak kepada kebenaran Allah. Realitas membuktikan bahwa semakin banyak orang Katolik yang tidak tertarik lagi untuk berdoa baik secara pribadi maupun secara berjemaah. Hal ini diperparah lagi dengan sikap hidup yang jauh dari kehendak Allah. Banyak pelaku kejahatan seperti koruptor, pencuri, penipu, penjudi, pezinah dan pembunuh adalah orang-orang beriman yang mengaku sebagai pengikut Kristus.

 

Kenyataan-kenyataan negatif di atas membuktikan bahwa kita belum sungguh-sungguh merdeka. Kita masih hidup dalam kungkungan kuasa dosa. Keterikatan kita kepada kuasa duniawi ternyata telah meninabobokan dan menjauhkan hidup kita dari kuasa ilahi yang memancarkan cahaya kebenaran. Sebenarnya cahaya kebenaran itu senantiasa menawarkan terang-Nya yang menyelamatkan. Tetapi hati kita telah membatu untuk tidak mengindahkan dan terus menolak-Nya.

 

Moment prapaskah adalah saat untuk kembali kepada akar kehidupan kita yang sesungguhnya. Akar kehidupan yang menumbuhkan kebenaran dan keselamatan hidup. Akar kehidupan itu adalah Yesus dan Allah Bapa. Dua entitas ilahi yang menjadi wujud iman kita yang sejati. Mari kita semakin mendekatkan diri kepada akar kehidupan iman kristiani dengan membaca, mendengarkan, meresapi dan melaksanakan segala firman Tuhan dalam realitas kehidupan. Dengan demikian, kita boleh dibebaskan dari kuasa dosa yang membelenggu. Dan tentu saja, kita menjadi orang-orang Katolik yang merdeka. Merdeka dalam nama Tuhan dan dari kuasa dosa yang menyesatkan. Amin. ***Atanasius KD Labaona***


Selasa, 16 Maret 2021

ENGKAU TELAH SEMBUH JANGAN BERBUAT DOSA LAGI

 

Yoh. 5:1-16

Betapa bahagia dan gembiranya hati seseorang bila tiba-tiba mendapatkan berkat atau hadiah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, apalagi berkat ini sungguh berkaitan dengan kondisi nyata kehidupan pribadi manusia. Inilah yang bisa kita namakan “mujizat”, dimana anugerah yang diberikan oleh Tuhan bukan karena jasa seseorang tetapi melulu karena belas kasih Tuhan kepada manusia. Untuk mendapatkan rahmat dan belas kasih dari-Nya, Allah tidak pernah menunggu praktek kebajikan dan kesetiaan dari manusia kepada-Nya namun, Allah selalu mengambil inisiatif pertama untuk membuka dialog dan komunikasi dengan manusia sambil memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan pertobatan dan kembali kepada jalan kebenaran-Nya. Kisah aliran sungai yang memberi kehidupan dan kesuburan dalam Kitab Yehezkiel merupakan gambaran kasih Allah yang tidak pernah putus untuk manusia. Ketika air menerjang bebatuan atau benda-benda lain yang mau menghambatnya, air memanfaatkan celah-celah yang ada untuk tetap mengalir. Demikian pula kasih dan berkat Allah, walaupun dihadang dosa manusia, Ia selalu memanfaatkan celah-celah agar mengalir memberikan kesembuhan baik sakit jasmaniah maupun sakit rohaniah dan keselamatan bagi manusia.

Injil hari ini menggambarkan kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus kepada seorang lumpuh yang terbaring di tepi kolam Betesda adalah satu mujizat. Tergeraklah hati Yesus oleh belaskasihan melihat orang lumpuh, Yesus mengambil inisiatif pertama untuk membuka dialog dengannya: “Maukah engkau sembuh?” Sebuah tawaran yang sangat bernilai  dari Allah dan orang lumpuh tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu, meskipun ia tidak menjawab tawaran Yesus secara to the point melainkan ia berjuang menguraikan tantangan-tantangan yang dihadapinya. Inilah gambaran karakter manusia yang penjelasannya selalu berputar-putar, mencari-cari alasan dan mengkambinghitamkan sesamanya. Orang lumpuh ini tidak harus melewati proses panjang untuk mendapatkan kesembuhan yang paling dinanti-nantikan. Dia tidak perlu berbuat seperti banyak orang sakit lainnya, yang mesti turun ke dalam kolam supaya bisa mengalami goncangan air untuk mendapatkan kesembuhan. Dihadapannya berdiri sosok yang berhati mulia yang menawarkan kesembuhan tanpa banyak persyaratan rumit, meskipun Ia tahu bahwa orang-orang Farisi sedang mengamati-Nya kalau-kalau Ia melakukan mukjizat pada hari Sabat. Si lumpuh tidak membuang-buang waktu mendengar tawaran Yesus. Baginya, iman kepada Tuhan adalah satu-satunya senjata yang ia miliki, ia percaya bahwa hanya kuasa Sabda-Nya yang mampu membebaskan dia. Kata Yesus kepadanya: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Sabda Yesus sungguh-sungguh dahsyat dan ajaib, sebuah mujizat nyata telah terjadi dalam dirinya. Si lumpuh, yang sudah tiga pulu delapan tahun tidak bisa berjalan, kini bisa mengalami kuasa pembebasan Tuhan dalam sukacita yang berkobar-kobar, sekalipun tindakan penyembuhan ini justru melanggar aturan hari Sabat, yang sangat ketat dijaga oleh pemimpin-pemimpin Yahudi. Yesus berani bertindak demikian karena Dia adalah Allah yang berkuasa atas hari Sabat. Yesus mengusung misi utama untuk melayani dengan hati penuh belaskasih, tidak seperti para pemimpin Yahudi yang berani mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan demi memelihara aturan hari Sabat. Allah selalu berinisiatif untuk memberikan kesembuhan kepada mereka yang sakit dan pengampunan kepada mereka yang berdosa. Di sini Allah ingin memperlihatkan kuasa-Nya yang melampaui kuasa manusia, Allah ingin menunjukkan kasih seorang Bapa yang Maha Pengampun, meskipun manusia mengabaikan peran-Nya dan lebih suka jatuh dalam dosa yang sama.

Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan dari kisah Injil hari ini adalah pesan Yesus kepada orang lumpuh yang disembuhkan-Nya: “engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk. Pesan Yesus ini mengingatkan kita bahwa sebagai murid-murid Kristus kita harus selalu mengandalkan kekuatan dari Allah dan hidup dalam naungan kasih-Nya. Allah selalu menunjukkan jalan kekudusan yaitu jalan keselamatan bagi kita asalkan kita beriman kepada-Nya. Allah juga akan melakukan mujizat-mijizat besar bagi kita untuk membebaskan kita dari ikatan dosa asalkan  kita setia padaNya. Orang lumpuh yang tidak pernah mengalami kesembuhan selama 38 tahun, adalah contoh orang yang selalu menghabiskan waktunya untuk menggerutu/mengeluh karena tidak dibantu, diperhatikan dan didahulukan masuk ke dalam kolam untuk mengalami kesembuhan lewat goncangan air. Ia terus mengandalakan kekuatan dirinya untuk mengatasi situasi sulit yang menimpahnya, lalu mengabaikan peran Allah. Kelumpuhan selama 38 tahun tidak membuatnya sadar tentang pentingnya keterlibatan Allah, ia bahkan menyepelekan peran dan rahmat kasih dari Allah. Allah memberikan waktu yang panjang bagi dia untuk bertobat dan kembali mengandalkan Allah. Oleh belas kasih dan kemurahan hati-Nya, Allah berinisiatif menawarkan keselamatan paripurna baginya. Karena itu, kita pun perlu menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh dan terbatas, kita harus mengandalkan kekuatan dan campur tangan Allah untuk menyucikan diri kita agar layak menerima berkat kesembuhan dan keselamatan dari-Nya. Ketika kita diterima kembali sebagai anak-anak-Nya, ingatlah pesan Yesus kepada orang lumpuh yang disembuhkan-Nya:  “engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk. Pesan Yesus ini mesti menjiwai pikiran dan hati kita agar kita selalu waspada jangan sampai kita jatuh dalam dosa yang sama dan walaupun kita jatuh, kita harus memiliki komitmen kuat untuk bangkit, bertobat dan membangun relasi yang baik kembali dengan Allah.

Tuhan senantiasa menawarkan rahmat kesembuhan kepada kita setiap hari. Rahmat-Nya tidak hanya terjadi dalam bentuk peristiwa yang luar biasa, tetapi juga lewat hal-hal sederhana yang selalu kita jumpai dan alami setiap saat dalam perjalanan hidup ini. Namun, terkadang kita lupa mengucapkan syukur atas semua anugerah Tuhan yang kita terima. Kita masih mengandalkan kekuatan, kepintaran dan kemampuan kita sendiri. Kita sering kali mencari-cari alasan untuk menunda-nunda pertobatan, tetapi Tuhan tidak pernah lelah/bosan memberi kesempatan kepada kita untuk sembuh dari dosa. Di masa Prapaskah ini, kita mesti menyadari pentingnya membangun hubungan yang harmonis kembali dengan Tuhan dan sesama lewat sarana keselamatan yang disediakan oleh Gereja yakni Sakramen Pertobatan. Untuk mewujudkan pertobatan, dibutuhkan suatu perjuangan keras, baik lewat pantang, puasa dan bersedekah untuk membantu orang lain dalam kesulitan hidup. Yesus sendiri telah menunjukkan belas kasih dan solidaritas-Nya yang nyata kepada semua orang sakit dan yang lumpuh. Teladan Yesus ini membantu kita untuk hidup solider dengan sesama kita teristimewa mereka yang sakit dan membutuhkan pelayanan dan perhatian kita. Kiranya, setelah kita menerima rahmat  Sakramen Tobat dan disembuhkan Tuhan: baik sakit fisik, mental dan spiritual, kita harus selalu ingat pesan Yesus hari ini, “engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk”. Semoga berkat dan rahmat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin  ***Bernard Wadan***

Selasa, 02 Maret 2021

REVOLUSI MENTAL ALA YESUS

Mat 20: 17-28

Kita semua pasti pernah mendengar istilah revolusi mental. Kata revolusi berarti perubahan dalam waktu singkat. Sedangkan kata mental atau mentalitas merujuk kepada sebuah cara berpikir atau konsep pemikiran manusia untuk dapat belajar dan merespon suatu hal. Jadi revolusi mental dapat dimaknai sebagai perubahan cara berpikir dalam waktu singkat untuk merespon, bertindak, dan bekerja. Istilah revolusi mental dicetuskan pertama kali oleh Presiden Soekarno pada saat pidato kenegaraan mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kemudian istilah ini dipopulerkan kembali oleh Presiden Jokowi pada masa sekarang ini. Presiden Jokowi menyerukan adanya sebuah gerakan nasional revolusi mental untuk mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru untuk mewujudkan negara Indonesia yang berdaulat dan berkarakter.

 

Jauh sebelum era Soekarno, sekitar 2000-an tahun yang lalu, istilah revolusi mental sebenarnya telah didengungkan oleh seorang tokoh besar yang sangat dipuja dan disembah oleh umat Kristen sejagat. Tokoh yang sangat fenomenal itu adalah Yesus yang telah menyejarah dalam sejarah hidup umat manusia. Menilik sosok pribadi, kisah hidup dan sepak terjang-Nya di kala itu, kita dapat memastikan bahwa istilah revolusi mental sudah diperkenalkan, dijiwai, dan dihidupi oleh Yesus Kristus sendiri. Walaupun memang, Yesus tidak menyebut secara eksplisit tentang istilah ini. Namun, setiap sabda dan perbuatan-Nya merupakan pancaran nyata yang menegaskan istilah revolusi mental dalam hidup manusia. Yesus datang membawa perubahan radikal yang menuntut manusia untuk segera keluar dari zona nyaman. Perubahan radikal yang yang membebaskan manusia dari keterikatan duniawi dan menghantar manusia kepada kelekatan dengan Allah Bapa di sorga.

 

Salah satu revolusi mental yang diusung oleh Yesus tampak dalam kata-kata-Nya: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat 20:26-27). Yesus menyatakan bahwa apa yang disampaikan-Nya tidak sekedar pepesan kosong. Ia sendirilah yang datang membuat gebrakan dan terobosan dalam aksi-aksi konkrit agar revolusi mental itu dapat terlaksana dalam hidup manusia. “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Konsekuensi dari gerakan revolusi mental itu harus dibayar dengan mahal. Yesus harus menghadapi halangan dan tantangan dari para penguasa dan pemimpin agama Yahudi yang merasa terganggu dan terancam. Buntutnya, Ia harus “diserahkan kepada imam-imam kepada dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi hukuman mati” (Mat 20:18).

 

Tagline menjadi pelayan, menjadi hamba, dan memberikan nyawa bagi banyak orang menjadi kata-kata magis dan sakral yang disampaikan oleh Yesus agar orang bisa menjadi “besar”, terkemuka dan mendapat keselamatan. Cita-cita atau harapan menjadi orang yang disegani dan terkemuka dapat tercapai apabila orang mau merubah dirinya menjadi seorang hamba dan pelayan. Tidak hanya mendapat pengakuan ilahi, tetapi menyata dalam praksis hidup manusia. Inilah revolusi mental yang dicanangkan oleh Yesus. Sangat berlawanan dengan situasi dunia yang mengagungkan kuasa, status, dan jabatan mentereng. Bahkan keinginan akan jabatan, status, dan prestise mulia mulai merasuki kelompok dua belas murid. Hal ini tampak oleh keinginan ibu anak-anak                                                                                                                                                                                                                                                                                                               Zebedeus yang meminta Yesus supaya memberi tempat istimewa kepada dua anaknya; Yohanes dan Yakobus (Mat 20:21).

 

Nasihat Yesus kepada para murid-Nya dalam bacaan Injil pada hari ini (Mat 20:17-28) secara tidak langsung mengecam sikap hidup orang-orang Israel terutama para pemimpin agama Yahudi yang sangat mementingkan jabatan, kuasa, dan status sosial. Sangat disayangkan karena mereka tidak menggunakan berbagai jabatan dan status sosial untuk melayani kepentingan banyak orang. Justru mereka memanfaatkannya untuk bertindak tidak adil dan benar. Di satu sisi rakyat kecil semakin menjadi miskin dan tertindas. Di lain sisi, para pemimpinnya semakin merasa diri besar, gila hormat dan mabuk akan harta. Mereka merasa paling benar dan suci tetapi perilaku hidup sungguh bertentangan dengan nilai-nilai moral dan kehendak Allah sendiri.

Revolusi mental Yesus untuk menjadi pelayan, hamba dan memberikan nyawa bagi orang lain ternyata tetap aktual dan kontekstual dalam segala zaman. Situasi kekinian yang kita alami memperlihatkan bahwa jabatan, kuasa, dan status sosial mentereng tetap menjadi dambaan, angan-angan, dan ambisi setiap orang. Banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan dan masuk dalam pusaran kenikmatan yang ditawarkan. Segala cara ditempuh, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Fakta juga membuktikan bahwa sangat jarang ditemukan orang-orang yang memiliki jabatan, kuasa dan status sosial yang tinggi mampu menunjukkan semangat hidup yang baik. Bahkan sebagian dari mereka adalah umat Kristen atau Katolik. Gurihnya jabatan, kuasa, dan status sosial yang tinggi membuat orang lupa diri. Malahan bertindak tidak sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.

 

Hari ini Yesus membawa revolusi mental dalam hidup kita sebagai orang Kristen. Dalam panggilan hidup kita sebagai murid Kristus, sikap hidup sebagai seorang pelayan dan hamba harus tetap menjadi prioritas dalam hidup. Semangat seorang hamba dan pelayan tidak akan menurunkan derajat atau martabat kita sebagai seorang manusia. Namun semakin mengangkat kita menjadi pribadi yang besar dan mulia di mata Tuhan. Tuhan tidak pernah melarang orang untuk memiliki jabatan, kuasa dan status sosial yang tinggi di tengah duniawi. Tuhan justru mengarahkan agar kita mampu mendayagunakan segala potensi yang dimiliki demi kebaikan dan kemaslahatan semua makhluk hidup.

 

Semoga di masa prapaskah ini, kita semakin memperbaiki kualitas hidup dengan mau menjadi seorang pelayan dan hamba. Kita mau berjuang, berbagi, dan berkorban tidak hanya demi diri sendiri tetapi bagi semua orang yang ada di sekitar kita. Dengan demikian, semangat revolusi mental ala Yesus  mulai bertumbuh dan berkembang dalam diri kita. Amin. ***Atanasius KD Labaona***