Selasa, 28 Desember 2021

Percaya Akan Kehendak Tuhan

 

Luk 2:22-35

 

Teringat dalam benak saya, ada sebuah tradisi unik yang harus dilewati oleh setiap anak laki-laki sulung di kampung saya (Kampung Atawuwur). Tradisi itu semacam proses pentahiran (penyucian) diri. Tetapi tradisi ini hanya berlaku wajib untuk anak laki-laki sulung dalam suku. Bisa juga dilakukan untuk anak-anak nomor dua dan selanjutnya, tetapi tidak bersifat wajib. Seorang anak laki-laki sulung akan dimandikan dengan menggunakan air yang sudah terisi dalam bambu. Air dalam bambu diambil dari mata air yang ada dalam kampung tersebut. Orang yang mengambil air tersebut juga bukan sembarang orang. Tentu dia memiliki pangkat dan kedudukan yang otoritatif dalam struktur adat. Begitu pun juga orang yang akan memandikan sang anak laki-laki sulung. Dia sudah ditentukan sesuai dengan tradisi lisan yang diakui dan telah dihidupi secara turun temurun. Konon, jikalau tradisi ini tidak dilakukan atau dilanggar maka akan mendatangkan tulah bagi keluarga yang bersangkutan.

 

Dalam bacaan Injil hari ini (Luk 2:22-35), Yosef dan Maria juga membawa bayi Yesus ke Bait Allah untuk mengikuti upacara pentahiran anak sesuai dengan tradisi yang berlaku dalam agama Yahudi. Karena berasal dari akar Yahudi yang kuat, Yosef dan Maria harus mengikuti segala aturan yang sudah digariskan dalam agama mereka. Dan yang lebih penting adalah mereka menghendaki Anak Yesus dapat tumbuh dan berkembang secara baik. Baik dalam pelbagai dimensi kehidupan karena mereka sungguh taat pada tradisi atau adat yang berlaku.

 

Menarik bahwa di dalam Bait Allah itu sudah menunggu seseorang yang dikenal benar dan saleh di hadapan Allah. Ketika datang ke Bait Allah, ia sudah “penuh” dengan roh kudus. Roh Kuduslah yang membimbing dirinya untuk datang ke Bait Allah. Dalam nazarnya, ia berkeyakinan bahwa sebelum kematian datang menjemput, ia pasti akan segera bertemu dengan Mesias. Sang penyelamat umat manusia yang sudah dijanjikan oleh Allah. Dan Bait Allah akan menjadi saksi bisu bagi Simeon untuk segera bertemu dengan Yesus.

 

Moment berahmat yang diharapkan oleh Simeon itu pun terjadi. Melalui mata batinnya yang tajam, ia langsung menangkap pancaran ilahi yang keluar dari bayi Yesus; yang datang bersama kedua orang tuanya (Yosef dan Maria). Tanpa ragu, ia menggendong bayi Yesus dan memuji Allah. Simeon merasa terharu dan bangga karena nazarnya telah terpenuhi. Ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Sang Utusan yang dijanjikan oleh Allah. Ia pun berharap segera dipanggil oleh Tuhan, karena janji Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia segera akan terwujud dalam Diri Sang Bayi mungil.

 

Simeon bisa melihat Yesus sebagai bayi yang tidak biasa, bayi yang berbeda dengan bayi-bayi yang lain karena ia memiliki kedekatan yang sangat akrab dengan Tuhan. Ia memiliki kerendahan hati untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Jikalau ia tidak memiliki keutamaan demikian, niscaya ia tidak mampu membaca pesan ilahi yang nampak dalam diri Yesus. Yosef dan Maria pun dibuat bingung dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Simeon kepada bayi Yesus. Namun dalam keheranan yang menyelimuti diri, mereka sangat yakin akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah yang terjadi dalam hidup manusia.

 

Seperti Simeon yang sungguh percaya akan kuasa Allah, demikian juga Yosef dan Maria. Walaupun masih terbungkus misteri tentang sosok Yesus, Yosef dan Maria sangat percaya kepada kehendak Tuhan yang terjadi dalam hidup mereka. Dengan penuh kerendahan hati, mereka menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”, demikian jawaban Maria kepada Allah melalui malaikat Gabriel. Yosef dan Maria pun tidak takut atau cemas ketika ditantang oleh Simeon. Bahwa mereka akan mengalami pengalaman tantangan dan penderitaan yang luar biasa oleh karena anak yang bernama Yesus. “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan. Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35).

 

Sikap percaya dengan penuh kerendahan hati menjadi kunci iman Simeon, Yosef dan Maria kepada Allah. Mereka sangat yakin, Tuhan sementara mendesain hal-hal yang baik melalui diri Yesus. Tidak saja bagi diri mereka, tetapi bagi seluruh umat manusia. Allah sementara bekerja untuk membawa kebaikan dan keselamatan. Tidak peduli seberat apa pun tantangan yang nantinya dihadapi, penyerahan diri yang total kepada kehendak Allah menjadi pilihan hidup yang tidak bisa ditawar atau dikompromikan dalam diri Yosef dan Maria. Melalui diri Yosef dan Maria, proyek keselamatan bagi umat manusia itu sementara dirintis. Dan hanya mereka yang memiliki hati yang bersih dan terbuka terhadap Allah, seperti Simeon, yang mampu membuka tabir misteri keselamatan dari-Nya.

 

Yesus telah datang dan hadir di tengah-tengah kita pada hari Natal. Lebih khusus lagi, Ia telah masuk ke dalam kandang hati kita masing-masing dan bersemayam di dalamnya. Apakah kita sungguh percaya kepada Dia? Atau kah kita merasa biasa-biasa saja. Bisa juga kita hanya mengangggap kedatangan-Nya hanya sebagai sebuah ritus tahunan atau seremonial iman yang formalistik. Apabila kita masih berada dalama tataran ini, maka kita belum sungguh-sungguh mempunyai iman yang kokoh dan total kepada Tuhan. Kita gampang jatuh ke dalam sikap pongah. Kita merasa diri paling hebat dan mengklaim segala kebenaran selalu berada di pihak kita. kita juga gampang mencuci tangan atau mudah mencari kambing manakala menemui jalan buntu atau kesulitan dalam setiap pengalaman hidup yang dialami.

 

Mari kita belajar dari Simeon, Yusuf dan Maria, yang dengan penuh kerendahan hati, sungguh percaya dan mau menyerahkan diri secara total kepada Tuhan. Hanya dengan sikap demikian, iman kita kepada Tuhan sungguh-sungguh dimatangkan. Kita tidak pernah takut dengan setiap tantangan, kegagalan, atau bahkan penderitatan hidup, Karena kita percaya, Tuhan sudah merencanakan kebaikan dan keselamatan dalam hidup kita. Ia yang telah datang dan memenuhi hati kita masing-masing pada hari Natal, akan memberi jaminanan kebaikan dan keselamatan itu. Oleh karena itu marilah kita sungguh percaya dan menyerahkan diri dalam penyelenggaraan ilahi-Nya. Amin. ***AKD***

Kamis, 09 Desember 2021

Spirit Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda

 

Luk 1:26-38

 

Hari ini kita merayakan Pesta Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Pesta Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda yang dirayakan setiap tanggal 8 Desember, ditetapkan menjadi sebuah perayaan umum gereja oleh Paus Sixtus IV pada tahun 1476. Dan pada tanggal 8 Desember 1854, perayaan iman ini dikuatkan oleh Paus Pius IX melalui dogmanya dalam konstitusi apostolik Inefabilis Deus. Dogma ini menegaskan Santa Perawan Maria telah dikandung tanpa noda asal. Apa pun jenis dan bentuknya. Sejak awal mula keberadaannya, kekudusan Maria begitu dijaga oleh Tuhan sehingga tidak terpapar dengan segala dosa manusia. Ia juga dianugerahi rahmat ilahi oleh Allah. Dalam Mystici corporis, Paus Pius XII menegaskan identitas Maria dengan kalimat yang sungguh agung. Sesungguhnya “Ia terbebas dari segala dosa pribadi dan turunan.”

 

Mungkin ada yang mempertanyakan, siapakan sosok Maria ini. Seberapa pentingkah figur Maria sehingga ia bisa dianugerahi gelar Dikandung Tanpa Noda. Bukankah ia sama seperti kita. Manusia biasa yang dilahirkan dari seorang ayah dan ibu. Alasan pertama Bunda Maria dikandung tanpa noda ini berhubungan dengan peran istimewanya sebagai Ibu Tuhan Yesus. Jadi, walaupun benar Maria manusia biasa, ia bukan manusia ‘kebanyakan’ seperti kita. Sebab, memang rencana keselamatan itu terbuka untuk semua orang (Yoh 3:16). Tetapi Ia hanya memilih satu orang untuk menjadi ibu-Nya, yaitu Maria. Kita tahu bahwa Allah adalah Kudus, sempurna dan tak ada dosa di dalam Dia. Maka sudah sangat layaklah bahwa ketika memutuskan untuk dilahirkan di dunia, Yesus menguduskan terlebih dahulu seseorang yang melaluinya Ia akan dilahirkan. Mungkin hal ini tidak terbayangkan oleh kita, karena kita manusia tidak bisa melakukannya. Kita tidak bisa memilih ibu kita sendiri, apalagi membuat dia kudus dan sempurna sebelum kita lahir. Tetapi, Allah bisa, dan itulah yang dilakukan-Nya. Mengapa Tuhan melakukan ini? Karena Ia tidak dapat mengingkari jati Diri-Nya sebagai Allah yang Kudus. Mari kita lihat kebesaran Allah melalui apa yang dilakukan-Nya terhadap Bunda Maria seperti yang ditulis dalam Alkitab.

 

Pertama, kesaksian Kitab Suci yang menandaskan bahwa Yesus terpisah dari orang-orang berdosa.Yesus sebagai Imam Besar Pengantara kita kepada Allah adalah “seorang yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat sorga” (Ibr 7:26). Artinya, tidak mungkin Yesus dilahirkan dari seorang yang berdosa, sebab jika demikian Ia tidak benar-benar terpisah dari orang-orang berdosa. Karena itu dapat dipahami, bahwa Bunda Maria yang dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan Kristus, haruslah seorang yang tidak berdosa. Pemahaman ini juga akan menjelaskan mengapa St. Anna (ibunda dari St. Perawan Maria) tidak disebut juga sebagai “tanpa noda”, sama seperti Bunda Maria. Sebab St. Anna tidak melahirkan Kristus. Kedua, Bunda Maria pada awal mula disebut sebagai “perempuan” yang keturunannya akan mengalahkan ular (iblis). “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu…” (Kej 3:15). Di sini, perempuan yang dimaksud bukanlah Hawa, tetapi Hawa yang baru (‘New Eve’). Para Bapa Gereja membaca ayat ini sebagai nubuat akan kelahiran Yesus (Adam yang baru) melalui Bunda Maria (Hawa yang baru).

 

Ketiga, Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian Yang Baru. Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6), semua ditunjuk oleh Tuhan. Hanya imam (Harun) yang boleh memasuki tempat Maha Kudus itu dan ia pun harus disucikan sebelum mempersembahkan korban di Kemah suci (Kel 40:12-15). Jika ia berdosa, maka ia akan meninggal seketika pada saat ia menjalankan tugasnya di Kemah itu (Im 22:9). Hal ini menunjukkan bagaimana Allah sangat mementingkan kekudusan Tabut suci itu. Yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4). Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1). Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran itu. Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.

 

Keempat, Bunda Maria disebut penuh rahmat saat menerima kabar gembira. Pada saat malaikat Gabriel memberitakan Kabar Gembira, ia memanggil Maria sebagai, ‘…hai engkau yang dikaruniai’, Tuhan menyertai engkau.’ (Luk 1:28). Hail, full of grace ini tidak pernah ditujukan kepada siapapun di dalam Alkitab, kecuali kepada Maria. Kepada Maria, Allah bukan saja hanya memberi salam, tetapi juga memenuhinya dengan rahmat (grace), yang adalah lawan dari dosa (sin). Dan karena dikatakan ‘full of grace’, maka para Bapa Gereja mengartikannya bahwa seluruh keberadaan Maria dipenuhi dengan rahmat Allah dan semua karunia Roh Kudus. Sehingga dengan demikian tidak ada tempat lagi bagi dosa, yang terkecil sekalipun, sebab hadirat Allah tidak berkompromi dengan dosa. Artinya, Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa asal. Kelima, dasar dari kitab Wahyu. Kita mengetahui dari Kitab Wahyu, bahwa Bunda Marialah yang disebut sebagai perempuan yang melahirkan seorang Anak laki-laki, Ia yang menggembalakan semua bangsa. Dan pada akhirnya mengalahkan naga yang adalah Iblis (Why 12: 1-6). Kemenangan atas Iblis ini dimungkinkan karena dalam diri Maria tidak pernah ada setitik dosa pun yang menjadi “daerah kekuasaan Iblis”.

Tidak hanya dari teks Kitab Suci, tetapi juga berdasarkan tradisi suci gereja, kita mendapatkan banyak informasi dan pengetahuan dari para bapa gereja. Seperti santo Agustinus, santo Irenius, Santo Atanasius, santo Germanus, Santo Ambrosius, Santo Hipolitus, dan masih banyak lagi. Pada intinya mereka sungguh mengakui Santa Maria sebagai seorang perempuan yang dikandung tanpa noda. Bahkan jauh sebelum Paus Sixtus IV dan Paus Pius IX hidup. Empat tahun setelah pengajaran yang diberikan oleh Paus Pius IX, Bunda Maria menampakkan diri di Lourdes, Perancis (1858). Penampakan Bunda Maria di Lourdes (di grotto Massabielle) terjadi selama 18 kali kepada Bernadette Soubirous. Seorang gadis desa yang pada waktu itu berumur 14 tahun. Penampakan Bunda Maria di Lourdes ini sudah diakui oleh Gereja Katolik sebagai penampakan yang otentik. Dalam penampakan itu (penampakan ke- 16), Bunda Maria menyatakan dirinya sebagai “Perawan yang dikandung tanpa noda dosa, ”the Immaculate Conception kepada Bernadette yang pada waktu itu tidak memahami makna “the Immaculate Conception“. Karena ia adalah gadis desa yang buta huruf. Pernyataan dari Bunda Maria ini mengkonfirmasi ajaran dari Bapa Paus Pius IX. Dan dengan demikian juga membuktikan infalibilitas (tidak pernah salah) ajaran Bapa Paus tersebut.

 

Pada peringatan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, kita semua juga mendapat inspirasi dan pencerahan untuk mewujudkan diri menjadi makhluk Tuhan yang baik. Tentu kita tidak bisa menggapai level sempurna seperti Maria yang bersih dan suci. Minimal kita bisa menjaga diri agar tidak tercemar dengan pikiran, kata-kata, dan tindakan yang mengandung dosa. Kalau pun sudah tercemar, baiklah kita memiliki kemauan untuk bertobat dan terus memompa diri untuk menjadi orang yang baik. Tidak hanya bagi diri sendiri. Tetapi bagi orang lain di sekitar kita. Mari kita memperbaiki dan memoles diri di masa Adven ini dengan menjadi orang yang baik di mata Tuhan dan sesama. Amin. ***AKD***

Rabu, 24 November 2021

Bersakit-Sakit Dahulu Bersenang - Senang Kemudian

Luk 21:12-19

           

Khatera Hashmi, seorang polisi wanita (polwan) asal Afganistan menceritakan kisah mirisnya tentang penganiayaan baik fisik dan psikis yang dia alami dari kelompok Taliban. Salah satu faksi politik yang sekarang menguasai roda pemerintahan negara Afganistan.  “Bagi Taliban, dosa terbesar seorang perempuan adalah jika ia keluar dari rumahnya untuk bekerja”, ungkap Hashmi (dilansir dari Makassar.terkini.id).  Khatera Hashmi yang merupakan seorang mantan polisi perempuan itu mengaku disiksa oleh anggota Taliban tahun lalu (2020). Hashmi mengungkapkan bahwa ia ditembak beberapa kali, bahkan mata kanannya dirusak oleh anggota Taliban. Penyiksaan itu terjadi saat ia diculik. Apalagi penyiksaan itu terjadi ketika ia masih dalam keadaan hamil. Anehnya, ayah kandungnya mendukung tindakan tak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh Taliban. Memang sejak awal ayahnya sangat menentang keras cita-citanya menjadi seorang polisi. Hal ini tidak lepas dari basis ideologi yang membatasai ruang gerak perempuan dalam segala dimensi kehidupan. Dan ideologi ini yang dipegang oleh ayahnya dan kelompok Taliban. Sehingga tidak heran, apabila ayahnya bekerja sama dengan kelompok Taliban menjegal dirinya.

 

Tidak hanya Khatera Hashmi. Namun semua perempuan yang bekerja di luar rumah, mendapat tantangan dan hambatan dari kelompok Taliban untuk mengejar karier mereka. Beruntung bahwa Khatera Hashmi dapat diselamatkan nyawanya, walaupun matanya mengalami cacat permanen. Sekarang ia dan suaminya berada di India untuk melanjutkan terapi kesehatannya. Ia juga tidak tahu apakah anak-anaknya di Afganistan masih hidup atau tidak.  “Saya menjadi seperti mayat hidup. Saya bernapas, tapi tiap hari saya harus berjuang. Melakukan hal mudah, bahkan seperti tantangan bagi saya,” demikian Khatera Hashmi memberi kesaksian.

 

Pengalaman hidup Khatera Hashmi yang menyayat hati sebenarnya mewakili begitu banyak orang yang sementara berjuang bertahan dalam banyak kesulitan, penderitaan, dan dukacita hidup. Ada yang terekpose oleh media. Namun lebih banyak yang luput dari perhatian dan pemberitaan. Mereka bertahan dalam kesulitan dan penderitaan karena mereka percaya akan kebenaran yang sementara mereka hidupi. Walaupun kebenaran itu sementara dicabik-dicabik oleh orang atau kelompok orang yang tidak menyukainya, mereka tetap berjuang sampai titik darah penghabisan.

 

Memperjuangkan kebenaran itu memang sangat sulit. Ada risiko tertentu yang harus siap diterima. Siap dicemooh, dihina, dikhianati, dianiaya, dan bahkan dibunuh. Namun banyak pengalaman membuktikan bahwa perjuangan akan kebenaran itu tidak pernah sia-sia. Banyak orang memetik hasil positif dari sekian banyak tantangan, kesulitan dan penderitaan yang mereka alami. Nelson Mandela, misalnya, berhasil meraih tampuk kepemimpinan kekuasaan tertinggi di Afrika Selatan, setelah mengalami banyak kesulitan, hambatan dan keterpurukan dalam hidupnya. Ia menjadi presiden kulit hitam pertama di negaranya, Afrika Selatan, setelah berhasil menghancurkan tembok kokoh yang memisahkan warga kulit putih dan hitam. Nelson Mandela berhasil memperjuangkan nilai kebenaran bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendiskriminasi hidup manusia. Semua manusia memiliki harkat dan martabat yang sama di mata Tuhan. Entah apa pun warna kulitnya.

 

Santo Andreas Dung-Lac yang pestanya kita rayakan pada hari ini adalah salah seorang dari para martir negara Vietnam yang dikanonisasi menjadi orang kudus oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 19 Juni 1988. Ia adalah seorang imam pribumi yang menumpahkan darahnya sebagai seorang pengikut Kristus yang setia dan militan. Berkat perjuangannya akan kebenaran iman Kristus, Santo Andreas Dung-Lac rela mempertaruhkan nyawanya untuk itu. Darah kemartirannya sungguh menumbuhkan iman Kristus di negara Vietnam. Iman Kristus pun tumbuh dengan subur di negara Vietnam oleh karena perjuangan dan pengorbanan para laskar Kristus yang tidak pernah takut untuk menghadapi pelbagai kesulitan dan penderitaan.

 

Perjuangan akan kebenaran yang penuh kesulitan dan tantangan sebenarnya sudah digambarkan oleh Yesus dalam warta Injil-Nya. “Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku” (Luk 21:12). Banyak tantangan, kesulitan, dan penderitaan yang akan dialami oleh seseorang yang mau menjadi murid Kristus. Karena bersama Kristus, kita sementara memperjuangkan kebenaran demi terwujudnya Kerajaan Allah di tengah dunia. Perjuangan yang kita lakukan tentu akan berlawanan dengan arus zaman yang telah mapan. Kita akan berhadapan dengan orang-orang yang merasa terusik. Perjuangan kita akan membentur sistem yang kokoh dan angkuh.

 

Namun kita tidak perlu takut. Karena hikmat Tuhan akan selalu menyertai. “Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah oleh lawan-lawanmu” (Luk 21:15). Hikmat Tuhan berupa kebijaksanaan dalam kata-kata dan perbuatan akan selalu menguatkan sehingga kita tidak pernah gentar menghadapi setiap tantangan dan hambatan. Hikmat Tuhan pulahkah yang membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh sehingga kita tidak mudah jatuh dan putus asa manakala diterpa badai kesulitan dan penderitaan. Mungkin secara manusiawi, kita melihat ini sebagai sesuatu yang naif. Tidak masuk akal. Namun apabila kita percaya dalam iman, segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Segala ketidakpastian akan berbuah kepastian. Dan banyak pengalaman rohani dari orang-orang yang sukses membangun pribadinya dan dunia selalu berawal dari rasa kepercayaan yang kuat akan hikmat Tuhan yang menyertai.

Percaya akan hikmat Tuhan akan memantik dimensi positif dalam diri. Kita akan selalu dikuatkan dan diteguhkan untuk tidak pernah takut akan setiap tantangan, hambatan atau pun keterpurukan dan penderitaan dalam hidup. Tantangan, hambatan atau pengalaman penderitaan sebenarnya adalah jalan kebaikan yang sementara mendidik pribadi kita menjadi pribadi yang semakin matang dan dewasa. Dan dalam setiap tantangan dan hambatan demikian ada hikmat Tuhan yang sementara menuntun dan membimbing agar kita semakin kuat mengarahkan diri ke dalam penyelengaraan ilahi. Kita percaya di balik setiap tantangan, kesulitan dan penderitaan yang kita alami, ada berkat terindah yang sudah disiapkan oleh Tuhan.

 

Mari kita serahkan segala tantangan, hambatan, kesulitan, dan penderitaan yang kita alami ke dalam penyelenggaraan Tuhan. Kita percaya hikmat Tuhan akan selalu membantu dan menyertai kita. Semoga kita sekalian semakin dikuatkan dan diteguhkan dalam iman, berkat hikmat Tuhan yang selalu mengalir dalam dinamika hidup kita di tengah dunia. Amin. ***AKD***

Selasa, 09 November 2021

Jangan Lupa Bersyukur

Luk 17:11-19

           

Hari ini kita mengenang pesta Santo Leo Agung. Santo Leo Agung adalah paus kita yang ke-45. Ia merupakan paus pertama dari empat orang paus yang dianugerahi gelar “Agung” (the great). Tiga paus lainnya yang digelari paus “yang agung” adalah Paus Gregorius I, Paus Nikolaus I, dan Paus Yohanes Paulus II. Santo Leo Agung atau Paus Leo I lahir kira-kira pada tahun 400 di Tuscany, Italia. Ia terpilih menjadi paus menggantikan Paus Sixtus III yang wafat pada bulan Agustus 440. Masa-masa itu adalah masa sulit bagi gereja. Di mana-mana pasukan barbar menyerang umat kristiani. Dalam gereja sendiri, beberapa orang menyebarluaskan ajaran sesat. Tetapi Santo Leo Agung adalah seorang paus yang mengagumkan. Ia sama sekalih tidak takut akan apa pun dan siapa pun. Ia mengandalkan devosinya kepada paus pertama, St. Petrus Rasul. Untuk menghentikan pengajaran iman yang sesat, St. Leo menjelaskan ajaran iman yang benar melalui tulisan-tulisannya yang terkenal. Ia mengadakan konsili untuk mengutuk ajaran-ajaran yang sesat. Mereka yang tidak mau berbalik dari ajaran yang sesat dikucilkan dari gereja. Namun Paus Leo menerima kembali mereka ke dalam pelukan gereja. Ia mengajak umatnya untuk berdoa bagi mereka.

 

Satu peristiwa fenomenal yang senantiasa dikenang dalam sejarah adalah tindakan Leo Agung untuk menghentikan ekspansi militer dari bangsa Hun pada tahun 452. Agresi militer bangsa Hun ini dipimpin oleh sang komandan yang terkenal yaitu Attila. Ditengah ketakutan, kecemasan, dan kepanikan bangsa Roma akan dasyatnya serangan bangsa Hun, Leo Agung dengan gagah berani datang menemui sang komandan yang terkenal akan keganasannya untuk membunuh manusia dan membakar kota. Leo Agung tidak membawa senjata. Senjata utamanya adalah berserah diri kepada Tuhan. Ketika melihat Leo Agung, Attila, sang pemimpin bar-bar itu langsung takluk. Ia tak kuasa memandang kelemahlembutan mata sang paus. Ia pun menerima saran dari Leo Agung untuk tidak menyerang kota Roma. Sesudah pertemuan itu, Attila bersaksi bahwa ia melihat dua sosok besar yang mendampingi sang paus. Banyak umat meyakini bahwa dua orang besar itu adalah St. Petrus dan St. Paulus yang diutus Tuhan untuk melindungi paus dan segenap umat Kristiani. Pasca peristiwa itu, umat semakin mengasihi sang paus. Ia menjadi paus selama 21 tahun. Dan akhirnya wafat pada tanggal 10 November 461.

 

Bacaan Injil hari ini membentangkan kisah penyembuhan oleh Yesus terhadap sepuluh orang kusta. Yang menarik bahwa sepuluh orang kusta itu berasal dari dua kelompok yang bertentangan. Satu orang Samaria dan sembilan lainnya dari Galilea. Galilea dan Samaria sebenarnya berasal dari akar yang sama yakni bangsa Yahudi. Namun, oleh orang Galilea dan daerah Yahudi lainnya tidak menganggap orang Samaria sebagai orang Yahudi asli. Hal ini sebagai akibat dari kehidupan orang Samaria yang tidak menjaga keaslian darah mereka sebagai bangsa Yahudi. Orang Samaria dianggap sebagai bangsa kafir karena mereka telah menikah, hidup dan berbaur dengan bangsa-bangsa asing di sekitar mereka. Kesepuluh orang kusta ternyata melampaui sekat budaya dan bangsa  karena hidup dalam pengalaman dan perasaan yang sama dan senasib sebagai orang-orang yang tersingkir dalam masyarakat.

 

Ketika melihat Yesus dari jauh, mereka berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka. Yesus malahan menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri kepada para imam. “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan fakta penyembuhan itu baru dialami di tengah perjalanan. Mereka merasa menjadi tahir oleh karena intervensi Allah melalui Yesus. Yesus sengaja menyuruh orang kusta pergi ke hadapan para imam untuk memberi kesaksian tentang karunia Allah yang telah mereka terima. Saking kaget dan bergembira, membuat mereka lupa akan kata-kata Yesus. Dari kesepuluh orang ini, hanya satu orang Samaria yang datang kepada Yesus untuk mengucap syukur. Sedangkan kesembilan kawannya menghilang entah ke mana. Yesus sungguh menyesalkan perilaku sembilan orang Galilea, dan mengapresiasi sikap orang Samaria. Orang Galilea yang mengklaim diri Yahudi asli sebenarnya harus menunjukkan diri lebih baik dari Samaria. Kelompok yang dianggap sebagai bangsa yang tidak mengenal Allah. Dalam kenyataannya, justru orang Samaria dalam diri si kusta yang lebih menunjukkan kebaikan dan kerendahan hatinya di hadapan Allah. Ia tidak hanya diselamatkan secara fisik, tetapi lebih dari itu, ia telah mendapatkan keselamatan secara penuh menjadi hamba Tuhan yang setia. Seorang hamba Tuhan yang tahu status kodratinya sebagai mahkluk ciptaan Tuhan.

 

Dari bacaan Injil hari ini, ada dua hal pokok yang bisa ditelisik. Pertama, Allah itu Mahakuasa. Ia telah memperlihatkan kemahakuasaan-Nya dengan menyembuhkan kesepuluh orang kusta. Walaupun hanya satu orang yang kembali mengucap syukur, Allah tidak menarik kembali kebaikan dan kemurahan hati-Nya. Hal ini sebagai bukti bahwa kasih Allah itu sungguh dasyat bagi umat manusia. Kasih Allah jauh mengatasi segala keterbatasan dan kekurangan manusia. Kedua, ucapan syukur atas karunia keselamatan yang ditunjukkan oleh orang Samaria. Di tengah keterbatasan, kekurangan, kelemahannya sebagai manusia; dan lebih khusus sebagai orang Samaria yang direndahkan, si kusta yang telah disembuhkan itu mau datang kepada Yesus untuk mengucap syukur atas karunia keselamatan yang diterimanya. Dalam ketidakberdayaannya, ia tidak hanya memasrahkan diri kepada kehendak Tuhan. Ia juga berani menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan Allah dengan mengucap syukur. Berani bukan karena dipaksa atau bersikap munafik. Berani karena ketulusan hati atas kebaikan Allah yang menyapa dirinya.

 

Bacaan Injil hari ini menggugat pribadi kita masing-masing. Apakah saya dan anda selalu mengucap syukur kepada Tuhan atas segala kebaikan dan karunia yang telah kita terima dalam hidup ini. Atau kita merasa biasa saja. Karena meyakini bahwa apa yang telah kita dapatkan menjadi bagian penuh dari usaha pribadi. Seringkali ada dua hal ironi yang sering dilakukan manusia. Ketika mengalami kesuksesan, orang cenderung merasa diri paling hebat. Orang mudah mengklaim itu sebagai usaha pribadi. Dan kurang atau sama sekalih tidak mengakui adanya campur tangan orang lain di dalamnya. Bahkan Tuhan sendiri juga tidak mendapat tempat. Orang lupa mengucap syukur atas segala hal baik yang diterimanya kepada sesama dan Tuhan. Sebaliknya, ketika mendapatkan kegagalan atau penderitaan, orang gampang mencuci tangan. Banyak kambing hitam dijadikan alasan. Orang mulai mempersalahkan sesamanya. Dan Tuhan pun akhirnya divonis bersalah karena bersikap tidak adil atau tidak berpihak.

 

Hari ini kita sungguh dicerahkan bahwa setiap alur kehidupan manusia di tengah dunia merupakan sebuah aksi mukjizat yang mungkin tidak pernah kita sadari. Tuhan sudah menentukan dengan rinci setiap bab dari kehidupan yang mestinya kita jalani dengan penuh rasa syukur. Walaupun ada kehendak bebas sebagai pribadi yang otonom, sejatinya kehendak bebas itu tetap diarahkan untuk mengabdi Tuhan Sang Adikodrati. Rasa syukur kepada Tuhan bukan saja karena mengalami kebaikan dan kesuksesan. Dalam kegagalan, kesulitan, rasa sakit dan penderitaan, seharusnya ungkapan syukur kepada Tuhan senantiasa kita lambungkan. Karena Tuhan memiliki desain tersendiri dibandingkan dengan segala rencana, kemauan, kehendak atau pun kebutuhan manusia. Dalam iman kita percaya, Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang senantiasa berserah diri kepada-Nya. Tuhan sudah menentukan keselamatan bagi setiap orang yang menghidupi kehidupannya dengan rasa syukur. Dalam kaitannya dengan tema kepemimpinan, terutama menjadi pemimpin bagi diri sendiri, kita semua semakin dikuatkan untuk menjadi pemimpin yang tidak lupa untuk bersyukur kepada Tuhan dalam setiap jejak kehidupan di dunia ini. Mari kita selalu bersyukur kepada Tuhan atas karunia hidup yang kita alami. Amin. ***AKD***

Senin, 25 Oktober 2021

Menghidupi Sikap Waspada

Luk 12:39-48

           

Secara pribadi saya menyukai dan cukup intens melakukan kegiatan olahraga di tempat gym. Bagi saya, jenis olahraga di tempat gym tidak hanya mengolah bentuk tubuh menjadi menarik dan menjaga kebugaran atau ketahanan fisik. Secara psikis atau mental, olahraga di tempat gym membentuk pribadi saya menjadi pribadi yang matang dan tangguh. Karena di tempat gym, kita tidak memiliki lawan bertanding seperti kebanyakan jenis olahraga lainnya. Lawan kita sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Kita harus mampu mengangkat beban yang berat dan menahan rasa sakit yang ditimbulkan. Di sinilah letak inti pembelajarannya. Saya mau berolahraga demi menjaga kesehatan fisik dan mental. Secara fisik tentu saya memiliki imun tubuh yang semakin baik. Namun pula secara mental, saya sebenarnya sementara mendidik diri untuk lebih bijak dan matang mengelola pelbagai konflik hidup yang saya hadapi. Saya lebih bersikap sabar, tidak cepat reaktif secara emosional, dan mau menjadi seorang fighter (pejuang, petarung), tidak cepat putus asa, tahan uji dalam menghadapi berbagai situasi hidup yang sulit. Kemauan untuk berolahraga menjadi niat dan komitmen pribadi bagi saya untuk bersikap waspada atau berjaga-jaga dalam kehidupan. Sehingga minimal saya memiliki ketahanan fisik dan psikis yang baik manakala diterpa penyakit.

 

Sikap waspada atau berjaga-jaga juga dapat dilakukan dalam banyak hal. Seorang pelajar tentu tidak perlu menunggu saat test atau ujian baru belajar. Setiap hari pasti ada waktu khusus yang disiapkan untuk belajar. Belajar tidak hanya menyiapkan diri untuk baik secara akademik atau ilmu pengetahuan di sekolah namun belajar untuk menjalani kehidupan sekarang dan ke depannya secara lebih baik pula (non scholae sed vitae discimus). Seorang petani juga harus mengorientasi diri untuk bersikap waspada. Ia harus segera menyiapkan ladang dan bibit yang baik untuk menyambut musim tanam pada saat hujan nanti. Seorang pegawai di lingkup instansi, lembaga, atau organisasi apa pun, pasti menempa diri untuk bersikap waspada. Dunia kerja yang ia miliki tidak saja menjadi ladang profesi untuk menafkahi kebutuhan hidup, tetapi menjadi bentuk aktualisasi diri. Ia akan terus belajar untuk mengasah diri. Mengasah kemampuan intelektual, kemampuan emosi dan spiritual agar bisa memberikan kontribusi yang positif bagi lembaga dan orang-orang yang dilayani.

 

Sikap waspada ternyata sungguh menjadi elemen penting dalam sejarah manusia. Sejak dahulu, pada masa Yesus pun, sikap waspada sudah digaungkan. Kepada para murid dan orang-orang yang hadir dalam pengajaran-Nya, Yesus berkata: “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan” (Luk 12:40). Yesus hendak mengingatkan setiap orang agar mereka perlu bersikap waspada dalam kehidupan. Bersikap waspada dengan model seperti apa? Bersikap waspada dengan selalu hidup dalam kehendak Allah. Bersikap waspada untuk tidak jatuh dalam kesesatan. Entah itu kesesatan berpikir, atau pun kesesatan dalam tindakan.

Kehadiran Yesus di muka bumi memiliki tujuan untuk mengingatkan manusia agar menempa diri dalam sikap waspada. Yang telah jatuh dalam kesalahan, kekeliruan dan dosa diarahkan untuk segera memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar. Jatuh itu pengalaman yang biasa. Tetapi menjadi luar biasa apabila manusia dapat bangkit dan menempa diri menjadi lebih baik. Yesus sungguh sadar betapa banyak kejahatan dan kesesatan hidup yang terjadi pada masa-Nya. Banyak orang tidak lagi memperlakukan sesama sebagai saudaranya. Masing-masing orang hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Bahkan kejahatan dan kesesatan itu sudah masuk dalam ruang yang paling religus yakni ruang agama. Banyak pemuka agama yang memanfaatkan status dan dan jabatannya untuk mengambil keuntungang pribadi.

 

Peringatan Yesus untuk hidup dalam sikap waspada memiliki alasan-alasan mendasar. Pertama, manusia dapat memenuhi hukum kasih untuk mengasihi Allah dan sesamanya. Kedua, alasan keselamatan di hari penghakiman. Secara implisit Yesus menandaskan bahwa kedatangan Sang Hakim itu seperti pencuri. Tidak pernah diketahui kapan ia akan datang dan bereaksi. Tetapi yang jelas bahwa Ia akan datang pada hari yang telah ditentukan. Konsekuensi yang terjadi hanya ada dua. Manusia yang bersikap waspada pasti mendapat keselamatan. Dan sebaliknya, yang bersikap tidak waspada akan mendapat ketidakselamatan. Manusia tetap diberi tawaran untuk mendapat keselamatan selama ia masih berada di atas dunia. Hal yang berbeda akan terjadi apabila manusia sudah meninggalkan dunia fana. Karena yang terjadi adalah tidak ada tawaran atau toleransi di kehidupan selanjutnya. Hanya ada satu pilihan yang dijalani. Mendapat keselamatan atau ketidakselamatan.

 

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi, kita telah dianugerahi dengan banyak kemampuan atau talenta. Kemampuan atau talenta itu pada gilirannya akan menghantar kita untuk hidup sebagai manusia yang baik dan benar. Kita dapat bersumbangsih dalam segala dimensi kehidupan melalui talenta atau kemampuan yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Dalam tugas dan pelayanan yang kita lakukan, sebenarnya ada titipan ilahi yang sementara diberikan Tuhan kepada kita. Tuhan menghendaki agar melalui bakat, kemampuan atau talenta yang dimiliki, kita dapat mengarahkan diri untuk berpartisipasi mewujudkan karya agung Allah di tengah dunia. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa seringkali kita lalai menjaga amanat agung yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Acapkali kita bersikap ceroboh, masa bodoh dan tidak mau tahu. Kita bertindak atas nama kebaikan dan kebenaran yang berpusat pada diri dan kelompok. Kita mengabaikan jalan kebaikan dan kebenaran yang telah ditentukan oleh Tuhan sendiri.

 

Sikap waspada menjadi jalan kebijaksanaan bagi kita untuk melakukan sikap mawas diri. Kita perlu bertanya dalam hati kita masing-masing. Sejauh mana kita menghidupi jalan kebaikan dan kebenaran yang diwartakan oleh Tuhan. Dengan menyadari diri yang sebenarnya, kita boleh menata diri kembali untuk menjadi lebih baik dan benar. Kita tidak menyia-menyiakan segala potensi dan kemampuan pribadi. Karena Tuhan telah memberinya sebagai sarana bagi kita untuk membawa kebaikan dan keselamatan bagi banyak orang. Sikap waspada menuntun kita untuk dapat memberi diri dalam hidup, tugas, karya dan pelayanan. Mari kita senantiasa menghidupi sikap waspada dalam hidup dengan tetap selalu berada dalam jalan panggilan Tuhan. Amin. ***AKD***

 

Selasa, 28 September 2021

Fokus Dalam Jalan Tuhan

Luk 9:1-6

           

Sewaktu melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah tinggi di Jakarta (Periode tahun 2003-2007), ada seorang dosen yang menjadi idola banyak mahasiswa, termasuk saya. Ia seorang imam dari ordo fransiskan (OFM). Ia diidolakan bukan karena memiliki wajah dan penampilan yang menarik. Ada tiga alasan mengapa ia begitu familiar dan disukai di kalangan mahasiswa. Pertama, gaya komunikasinya yang menarik ketika membawakan materi di dalam kelas. Ia sangat pandai menggunakan ilustrasi-ilustrasi untuk menyederhanakan materi atau bahan kuliahnya yang tergolong berat. Selain itu, ia juga tidak pelit memberikan nilai. Minimal mendapat nilai B, jikalau mengikuti proses pembelajaran mata kuliahnya sampai tuntas. Kedua, gaya bicaranya sangat santun ketika berhadapan dengan mahasiswa di luar kelas. Hampir setiap mahasiswa dari berbagai tingkat, ia tahu namanya. Ketiga, pola hidupnya sangat sederhana. Model pakaiannya biasa-biasa saja. Tampak jadul karena tidak mengikuti arus zaman. Tidak jarang ia cukup memakai sandal ke kampus. Ia juga tidak memiliki mobil. Tentu sangat kontras dengan kebanyakan dosen lain yang datang ke kampus dengan mobil-mobil yang bagus.

 

Sepuluh tahun kemudian, rentang waktu dari tahun 2007 – 2017, saya membaca dari sebuah berita online bahwa beliau telah ditunjuk oleh otoritas tahta suci Roma menjadi uskup Pangkal Pinang pada tanggal 28 Juni 2017. Beliau adalah Mgr. Adrianus Sunarko, OFM, yang menggantikan uskup sebelumya, Mgr. Hilarius Moa Nurak, OFM. Dan pada tanggal, 23 September 2017 (Besok genap 14 tahun mengabdikan diri sebagai uskup), Romo Sunarko, resmi ditahbiskan menjadi uskup Pangkal Pinang yang baru. Saya tidak terkejut mendengar berita ini. Saya berkeyakinan bahwa beliau sangat pantas menyandang jabatan mulia tersebut. Bukan karena kepintaran intelektual atau kehebatan gaya komunikasinya. Yang paling utama karena beliau telah dan akan selalu menampilkan pribadi sebagai hamba Tuhan yang populis, sederhana dan rendah hati. Ia rela menanggalkan segala keterikatannya dengan dunia untuk mengabdi Tuhan dengan setia dan total.

 

Hari ini, melalui bacaan Injil (Luk 9:1-6), Yesus memanggil kedua belas murid dan mengutus mereka untuk pergi mewartakan Injil ke berbagai daerah. Yesus juga membekali mereka dengan kemampuan ilahi untuk mengusir setan-setan dan menyembuhkan penyakit-penyakit. Kemampuan teknis ini sangat urgen untuk meyakinkan orang-orang yang mendengar warta Allah melalui para murid. Jadi, dalam diri para rasul melekat dua kemampuan. Kemampuan komunikasi untuk menyampaikan sabda Allah dan kemampuan teknis untuk melakukan tindakan mukjizat.

 

Yang menarik dan menjadi titik fokus kita adalah pesan Yesus kepada para murid untuk tidak boleh membawa apa-apa dalam misi mulia itu. “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju” (Luk 9:3). Secara akal sehat, pesan Yesus ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin warta Kerajaan Allah dapat tuntas dan sukses dikerjakan oleh para murid tanpa faktor-faktor yang mendukungnya. Sepertinya, Yesus sengaja membiarkan para murid untuk hidup miskin dan penuh kesulitan di daerah misi. Mereka harus berjuang sendiri untuk tetap eksis. Di samping harus mengerjakan misi mulia untuk membawa sebanyak mungkin orang untuk percaya kepada Allah. Ini misson impossible (misi tidak masuk akal).

 

Namun tidak dinyatakan secara tekstual apabila para murid melakukan penolakan atau mengeluh soal syarat yang diajukan oleh Yesus. Mungkin dalam hati mereka juga bingung, mengeluh, dan protes. Kita hanya membaca dan mendengar kalau para murid pergi dan melakukan apa yang dikatakan oleh Yesus. Ini berarti, dalam situasi yang serba terbatas para murid tetap menyatakan kesiapannya untuk pergi mewartakan Injil. Yesus mengharapkan agar para murid tetap fokus pada tugas utamanya dan tidak memikirkan hal-hal lain yang bisa mengganggu dan membelokkan tujuan utama mereka. Di atas semua itu, Yesus menghendaki agar para murid hanya mengandalkan kekuatan Tuhan dalam berkarya. Mereka tidak boleh mengandalkan kekuatan diri mereka sendiri. Karena jika demikian, keterbatasan manusiawi akan mematahkan semangat juang dan mematikan benih sabda yang telah ditanam dalam diri mereka. Para murid sepenuhnya harus bergantung pada kekuatan yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus. Dalam segala kekurangan, mereka akan mendapatkan kelebihan. Dan inilah yang terjadi. Walaupun mendapatkan banyak tantangan dan hambatan, para murid dapat menuntaskan warta keselamatan yang diberikan oleh Yesus. Berkat kehadiran mereka, banyak orang menjadi percaya dan disembuhkan dari berbagai penyakit.

 

Sebagai seorang murid Kristus di masa kini, kita juga menghadapi pelbagai tantangan yang acapkali menggoyahkan semangat untuk mewartakan Injil Kristus di tengah dunia. Tantangan yang paling besar sebenarnya datang dari dalam diri. Kita masih memiliki keterikatan yang kuat dengan hal-hal duniawi. Orientasi mencari kekayaan, jabatan, dan prestise diri kadang masih membelenggu sehingga menutup mata hati dan pikiran kita untuk berbagi kasih dan kebaikan untuk orang lain. Kita masih dituntun oleh sikap ego untuk lebih mementingkan diri sendiri dibandingkan dengan orang lain. Bahkan kepentingan umum juga diabaikan demi memuaskan kepentingan pribadi. Kita juga dikendalikan oleh arogansi pribadi yang menganggap sesama dan Tuhan tidak begitu penting dalam hidup. Kita lebih sibuk mengandalkan diri untuk mengejar aneka prioritas seperti kekayaan, kemewahan dan kenikmatan sehingga kita melupakan Tuhan dan sesama dalam hidup.

 

Tuhan Yesus telah menggugah kita semua pada hari ini untuk meninggalkan segala keterikatan duniawi agar kita lebih fokus berjalan dalam nama-Nya. Meninggalkan bukan berarti melepaskan diri secara total. Meninggalkan menunjuk pada pesan agar kita tidak menjadikan barang duniawi sebagai orientasi atau tujuan utama dalam hidup. Tentu saja kita boleh mencari, mengejar dan mendapatkan kekayaan, jabatan dan status hidup yang lebih baik. Semua itu kita lakukan tanpa melupakan aktualisasi diri sebagai seorang murid Kristus yang sejati. Kekayaan, jabatan, dan status hidup yang mentereng dapat menjadi sarana yang baik bagi kita untuk mewujudkan semangat kasih bersama orang lain.

 

Mari kita selalu mengandalkan kekuatan Tuhan dalam tugas dan pengabdian kita di tengah dunia. Kita dapat menggunakan segala potensi, kekuatan, kehebatan, dan keunggulan yang dimiliki untuk menjadi corong Tuhan dengan berbagi kebaikan di tengah dunia. Sehingga nama-Nya yang agung tetap harum dan abadi sepanjang segala zaman. Amin. ***AKD***

Minggu, 12 September 2021

Iman Tanpa Perbuatan Adalah Mati

Luk 7 :1-10

 

Hari ini kita merayakan pesta Santo Yohanes Krisostomus dari Antiokhia. Seorang hamba Tuhan yang terlahir dari keluarga bangsawan yang saleh. Ia adalah seorang imam yang sangat populer di kalangan umat yang dilayaninya. Ia sangat dikenal dan disukai karena kepandaiannya dalam berbicara dan berkotbah. Karena memiliki bakat dalam  ilmu retorika inilah, ia diberi gelar Krisostomus yang berarti “Si mulut emas”. Tidak hanya pandai berbicara, Krisostomus juga memiliki keprihatinan dan keberpihakan kepada orang-orang kecil dan miskin. Sang imam Tuhan ini, tidak hanya menampilkan sisi cerdas dan religius. Ia juga berani tampil mengkritik para penguasa dan bangsawan yang tidak memiliki standar hidup yang baik dan benar. Dengan integritas diri dan keteladanan yang dimiliki, Krisostomus sangat dicintai dan dipuji oleh umatnya. Setiap perkataannya pasti diikuti. Santo Yohanes Krisostomus tidak hanya memiliki iman yang kokoh. Ia sungguh menghidupi imannya dalam perbuatan-perbuatan nyata di tengah dunia.

 

Bacaan Injil hari ini mengetengahkan sebuah kisah yang sangat menarik. Ada seorang perwira baik hati yang meminta pertolongan kepada Yesus untuk menyembuhkan hambanya yang sedang sakit. Kita dapat memastikan bahwa perwira ini sangat peduli dan mengasihi hambanya. Tidak hanya kepada sang hamba, perwira ini juga memiliki perhatian dan kepedulian terhadap bangsa Yahudi. Walaupun ia sendiri bukan berasal dari kalangan bangsa Yahudi. Berdasarkan kesaksian beberapa tua-tua Yahudi, sangat jelas diketahui bahwa sang perwira adalah seorang pribadi yang baik hati. Sehingga sangat tepat apabila Yesus yang berasal dari golongan Yahudi harus menolong sang perwira yang sementara mengalami kesusahan. Dengan kata lain, sang perwira non Yahudi sangat pantas memperoleh keselamatan sebagai konsekuensi logis dari perbuatan baik dan dedikasinya terhadap bangsa Yahudi.

 

Yesus tentu memberi apresiasi atas segala tindakan baik yang dilakukan oleh sang perwira. Namun hal ini bukan menjadi titik fokus Yesus. Ada aspek lain yang lebih mendalam dan menyentuh hati-Nya. Aspek itu adalah iman yang teguh. Sang perwira tidak mengenal Yesus sebelumnya. Mungkin ia hanya mendengar cerita dari orang lain. Latarnya yang bukan dari Yahudi juga sebenarnya dapat mempengaruhi pribadinya untuk lebih bersikap ego dan apatis. Tetapi ternyata tidak demikian. Sang perwira yang mungkin berasal dari bangsa kafir, mampu menunjukkan iman yang teguh kepada Yesus. Ia sangat percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan hambanya yang sedang sakit. Imannya yang kokoh ternyata mempengaruhi disposisi batinnya. Ia merasa tidak pantas menerima Yesus di rumahnya. Sebaliknya, ia juga merasa tidak layak untuk datang menemui Yesus. Sebuah bentuk perwujudan iman yang ditunjukkan dengan sikap kerendahan hati. Kepolosan dan kerendahan hati sang perwira ini memantik rasa kagum dalam diri Yesus. Yesus memuji iman sang perwira dengan berkata: “Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel” (Luk 7:9). Sang perwira  itu pantas mendapat buah yang baik dari imannya yang teguh. Hamba yang dikasihinya mendapat kesembuhan.

 

Sang perwira telah memberi pelajaran yang sangat berharga dalam hidup iman kita sebagai orang Katolik. Bahwa yang pertama, iman itu harus dimiliki. Karena dimiliki maka harus ada proses mengenal, memahami dan menginternalisasikannya dalam hati. Kedua, iman itu akan menjadi hidup apabila diwujudnyatakan dalam tindakan-tindakan konkrit. Sang perwira tidak hanya memiliki iman yang teguh. Ia mampu mengimplementasikan buah-buah iman itu melalui sikap kerendahan hati, keprihatinan, perhatian, kepedulian dan belas kasih kepada orang lain yang ada di sekitarnya.

 

Dalam pengalaman hidup, ketika ditanya mengenai identitas iman, mungkin kita dengan bangga menegaskan diri sebagai orang Katolik. Kita juga menyatakan bahwa kita sungguh percaya kepada Yesus, sang guru ilahi. Akan tetapi, dalam banyak hal, kita belum mampu menghidupi iman itu dalam perbuatan-perbuatan konkrit. Kita masih merasa iman itu hanya dalam tataran warisan dan belum mampu  memilikinya secara total dalam hidup. Iman yang kita miliki hanya sebatas dalam bingkai identitas pribadi. Atau hanya sekedar memenuhi catatan dan syarat administratif semata.

 

Santo Yohanes Krisostomus telah memberi inspirasi yang berharga bahwa iman yang teguh itu bukanlah ditaruh dalam kata-kata yang indah dan menghipnotis banyak orang. Iman yang teguh haruslah diletakkan dalam sikap keberanian untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Orang harus disiap dibenci, dimusuhi dan dibuang manakala berani membela hak-hak orang kecil dan tidak takut melawan kemapanan yang sementara berkuasa.

 

Spirit hidup Santo Krisostomus dan kisah hidup sang perwira dalam bacaan Injil telah membuka pikiran dan hati tentang bagaimana memaknai esensi hidup iman kita. Iman yang kokoh tidak semestinya tinggal dalam menara gading yang indah. Iman itu tidak egois dan apatis. Iman itu harus mengalir dan terurai dalam ragam perbuatan atau tindakan yang baik dan benar. Mari kita menghidupi iman lewat perbuatan-perbuatan yang konkrit untuk membawa keselamatan dan kemaslahatan bagi banyak orang. Amin. ***AKD***

Rabu, 25 Agustus 2021

Membumikan Ketulusan Hati

 

Mat 23: 27-32

 

Kubur atau makam secara kasat mata menjadi rumah terakhir dan abadi bagi mereka yang telah meninggal dunia. Oleh karena itu, rumah abadi ini harus dibuat secara baik dan layak. Menurut beberapa orang, kubur atau makam lebih indah dipandang apabila dipoles dengan unsur arsitektur yang menarik. Ketika masih bertugas di Kabupaten Sikka, saya melihat hampir di setiap rumah terdapat kubur. Entah di dibuat di depan, di samping, atau di belakang rumah. Menariknya, kubur itu tidak sekedar dibuat biasa-biasa saja. Ada model khusus dengan ornamen-ornamen tertentu yang membuat penampilan fisiknya lebih indah. Mereka berpandangan bahwa orang tercinta yang berpulang seharusnya mendapat tempat yang tidak saja baik, tetapi indah.

 

Dalam hati saya bergumam, ini cara pandang manusiawi yang lebih mengutamakan hal-hal fisik ketimbang isi bagian dalamnya. Dari luar kelihatan kubur begitu indah dan menarik. Namun tentu tidak dengan bagian dalamnya karena hanya berisi tengkorak, ngengat dan tanah. Filosofi yang dipetik dari ilustrasi ini adalah bahwa setiap kebaikan dan keindahan manusia yang nampak dari sisi luar belum tentu mewakili seluruh pribadinya. Seringkali kita terjebak pada sisi yang nampak dari bagian luar ini. Kita lebih sibuk menata fisik agar kelihatan lebih menarik dan indah. Namun tidak dengan sisi bagian dalam atau hati kita. Kita lebih banyak membiarkan, masa bodoh, dan merasa tidak penting untuk mendekorasi hati agar bisa nampak seimbang dengan sisi bagian luar.

 

Kalau kita perhatikan, bacaan Injil hari ini (Rabu/25/8/2021) merupakan kelanjutan dari bacaan Injil pada hari Senin (23/8/2021). Kedua bacaan Injil ini merupakan bagian teks utuh yang menyajikan kecaman Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Jadi subtansi kedua bacaan ini sama yakni kecaman Yesus terhadap perilaku munafik yang ditunjukkan oleh para elit agama. Kecaman Yesus terhadap perilaku para pemimpin agama adalah sebuah bentuk keprihatinan sekaligus ancaman akan dampak yang mengikutinya. Kalau mereka berlaku benar maka mereka akan mendapatkan apresiasi. Demikian pun juga kalau mereka berlaku tidak benar maka hukuman Tuhan pasti ditegakkan.

 

Menarik bahwa pada hari ini Yesus menganalogikan sikap munafik para pemimpin agama seperti kuburan yang dilabur putih. Sebelah luarnya memang tampak bersih, tetapi tidak dengan bagian dalamnya. Karena pada bagian dalam penuh dengan tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Yesus mengecam para pemimpin agama yang nampak suci dan benar dari tampilan fisik dan kata-kata tetapi tidak memiliki ketulusan hati. “Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan” (Mat 23:28). Ada hal lebih penting yang sebenarnya ingin ditonjolkan oleh para pemuka agama saat itu. Nafsu, kesenangan dan kuasa duniawi menjadi hal prioritas yang ingin didapatkan. Situasi miris inilah yang sangat disesalkan dan menjadi sumber kecaman Yesus.

 

Gambaran sikap para pemimpin agama yang munafik menjadi cerminan dari sikap kita di masa kini. Saya seringkali merasa heran dengan kelakuan seorang sahabat yang kini telah menduduki posisi penting sebagai pejabat di daerah. Sebelum menjadi orang penting, kelihatan ia sangat populis, rendah hati, memiliki kepedulian tinggi, sangat menaruh respek pada orang lain dan kelihatan bijaksana. Namun setelah duduk di kursi empuk, segala hal yang mempesona dari dirinya menjadi pudar dan hilang begitu saja. Tidak saja kadar persahabatan kami menjadi tawar. Lebih dari itu, ia sama sekalih tidak memiliki keprihatinan dan kepedulian untuk memperjuangkan kebaikan dan kemaslahatan bagi orang banyak. Saya tidak tahu dengan pasti alasan apa sehingga menyebabkan sang sahabat memutar haluan sedemikian cepat. Saya hanya menganalisis dan berefleksi, mungkin dia termasuk dalam golongan orang yang hanya berlaku pura-pura untuk menarik simpati umum. Ada kepentingan atau target lain yang ingin dicapai. Dan setelah target itu tercapai, segala nilai dan keutamaan dalam hidup menjadi relatif atau tidak penting.

 

Saya berkeyakinan, cerita tentang sang sahabat hanya merupakan salah satu dari sekian banyak cerita dan realitas yang mengulas perilaku munafik orang-orang beragama di era sekarang. Sikap pragmatis menjadi hal yang biasa untuk dilakukan demi memperjuangkan intensi tertentu. Bisa intensi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, sosial, atau pun politik. Orang rela memoles kebaikan dan keindahan agar tampak sebagai nilai utuh dan ideal dalam pribadi. Bahkan dalam ranah yang paling privat pun, sikap munafik menjadi hal yang lumrah. Segala kebaikan, keunggulan, dan bahkan kemesraan yang diumbar di media sosial terkadang menampilkan wajah ganda. Di satu sisi kita mempertontonkannya supaya diakui dan diberi apresiasi oleh publik. Kita merasa senang dan puas. Secara sosial kita merasa tersanjung karena semakin dikenal dan diakui. Namun, dalam kenyataannya, kita tidak sungguh-sungguh menghidupi pelbagai nilai kebaikan dan kebenaran itu.

 

Kecaman Yesus tidak hanya ditujukan kepada para pemimpin agama saat itu. Kecaman Yesus terasa sangat dekat, tetap aktual dan kontekstual. Kata-kata Yesus menukik jauh di kedalaman hati kita masing-masing. Yesus menghendaki agar kita tidak boleh menampilkan wajah ganda atau kemunafikan dalam hidup. Ada dua hal penting yang bisa ditarik dari pesan bacaan Injil hari ini. Pertama, segala kebaikan, keindahan dan kebenaran yang ditampilkan harus datang dari kedalaman dan kepenuhan hati. Tidak sekedar dibuat-buat demi memuaskan hasrat pribadi dan kelompok. Kita berbuat demikian karena memiliki tujuan yang paling luhur yakni demi terciptanya kebaikan dan keselamatan bagi banyak orang. Tidak hanya bagi diri sendiri. Kita menampilkan hal-hal yang baik karena kita sungguh-sungguh mendalami dan menghidupinya dalam kehidupan konkrit. Kedua, kita harus bersikap berani dan jiwa besar manakala kita jatuh dalam kekeliruan dan kesalahan. Kita mengakui bahwa sebagai manusia, tentu tidak luput dari kekurangan dan kelemahan. Pengakuan secara jujur pasti membawa sedikit luka dan sakit. Ada stagnasi martabat sebagai seorang manusia. Namun tidak sedikit pun mengurangi nilai dan martabat kita sebagai manusia di hadapan Tuhan. Berani mengaku diri sebagai orang bersalah adalah sebuah kebijaksanaan untuk menata diri lebih baik dan matang. Tuhan menuntut adanya sikap metanoia atau pertobatan agar kita kembali ke track yang benar. Kita harus menjadi orang yang tulus di hadapan Tuhan dan sesama.  

 

Menjadi orang yang tidak munafik sama artinya dengan menjadi orang yang jujur dan apa adanya. Kita menjadi baik atau jahat bukan ditentukan oleh penampilan secara lahiriah. Bukan juga datang dari keindahan kata-kata dan perbuatan. Kita menjadi manusia dengan label baik atau jahat karena datangnya dari ketulusan hati. Tolok ukurnya adalah apakah kita melakukan sesuatu dengan tulus atau tidak. Dengan ikhlas atau tidak. Hari ini, kita semua mendapat inspirasi untuk mau menanamkan ketulusan hati dalam mengelola pikiran, pandangan dan perbuatan. Segala hal baik yang kita rasakan dan pikirkan, harus selaras dengan perbuatan kita yang baik pula. Mari kita melakukannya dengan tulus hati, karena ketulusan itu lahir dari sikap iman kita yang benar kepada Tuhan. Amin. ***AKD***

Selasa, 17 Agustus 2021

Koreksi Persaudaraan Itu Penting

Mat 18: 15-20

 

Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri untuk mampir di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika menginjakkan kaki di pintu masuk, saya menyaksikan seorang bapak paruh baya, sedang marah-marah kepada para pelayan. Suaranya melengking tinggi sambil menunjuk-nunjuk ke arah para pelayan. Rupanya akar persoalannya sangat sepeleh. Sang bapak merasa tersinggung karena berpikir nama kampungnya sementara dilecehkan oleh pramuniaga atau pelayan toko. Sementara menurut para pelayan toko, mereka tidak sementara memperbincangkan dan melecehkan kampung sang bapak tadi. Ada istilah tertentu dalam bahasa lokal yang dipakai oleh para pelayan untuk sekedar bersenda gurau. Dan kebetulan sekalih, pengucapan istilah itu mirip kedengarannya dengan nama kampung sang bapak. Jadi saya berpikir, persoalan itu hanya mispersepsi. Bapak itu juga terlalu reaktif menanggapi. Kalau dengan tenang ia mengkonfrontir kepada para pelayan, tentu tidak akan terjadi kejadian konyol tersebut.

 

Saya lalu mendekati beliau dan mencoba meredam emosinya yang sementara meluap-luap. Bukannya tenang, ia malah semakin menjadi-jadi. Saya akhirnya menjadi pusat kemarahannya karena telah mencampuri urusannya. Saya tetap tenang dan tidak terpancing dengan emosinya. Karena tidak mau mencari persoalan lebih lanjut, akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan toko. Sepanjang perjalanan saya hanya merasa kasihan dengan sang bapak karena tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik. Bahkan ketika dilakukan pendekatan dengan baik, ia tetap bersikeras merasa diri paling hebat dan benar. Tindakannya tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi mengganggu kenyamanan semua orang yang sementara berada di pusat perbelanjaan.

 

Hari ini, Yesus memberi pengajaran tentang tahap-tahap nasihat atau koreksi persaudaraan terhadap seorang saudara yang bersalah. Pertama, memberi nasihat di bawah empat mata. Kalau ia menerimanya, maka persoalan dianggap selesai. Yang menjadi masalah apabila ia tidak mau menerima evaluasi dari orang lain. Jika yang terjadi demikian maka pada tahap kedua, saudara yang bersalah itu dipertemukan dengan beberapa orang. Tujuannya agar mereka dapat memberi kesaksian secara okyektif sehingga saudara yang bersalah dapat menyadari kesalahannya. Apabila ia tetap konsekuen dengan argumentasi pembenaran dirinya, maka pada tahap ketiga, ia dihadapkan dengan anggota jemaat. Tentu saja, bias persoalan pribadinya semakin meluas karena sudah diintervensi oleh anggota komunitas yang lebih besar. Besar harapan bahwa saudara yang bersalah segera berjiwa besar untuk mengakui perbuatan salahnya. Sikap legowo akan membawa nilai positif bagi pribadi dan komunitas. Walaupun terluka, tetapi martabatnya sebagai manusia tetap dijaga dan dijunjung. Citra komunitas pun tetap terjaga, karena para angota jemaat berhasil menyelesaikan persoalan yang terjadi di dalam tubuh komunitasnya sendiri. Kemungkinan paling buruk pun bisa terjadi apabila saudara yang bersalah tetap tidak mengakui perbuatannya. Pada tahap yang keempat, ia akan dipandang sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Atau dalam bahasa lain, ia tidak dianggap sebagai bagian dari anggota jemaat. Ia akan dikucilkan dari hidup sosial oleh para anggota jemaatnya.

 

Nasihat Yesus ini, sungguh keras dan tajam apabila kita merefleksikan implikasi atau dampak lanjut yang dialami seseorang yang telah bersalah. Namun bukan dampak lanjut yang ingin ditekankan oleh Yesus. Yang ingin digarisbawahi Yesus adalah sikap sombong dari orang yang melakukan kesalahan atau dosa. Karena kesombongannya, ia merasa diri paling hebat dan pintar dari orang lain. Seribu alasan dan argumentasi ia kemukakan untuk mempertahankan dirinya. Walaupun sudah jelas atau terang benderang rupa kesalahannya, ia tetap tidak akan mengakuinya. Dosa kesombongan telah menyeret orang yang bersalah untuk tidak mendengarkan koreksi atau evaluasi yang baik dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

 

Sebuah adagium usang mengatakan no man is an island (Manusia itu bukan sebuah pulau). Manusia itu tidak hidup sendiri. Manusia selalu ada dan terlibat bersama-sama dengan orang lain. Manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Termasuk dalam pemenuhan pelbagai kebutuhan, selalu tidak terlepas dari campur tangan orang lain. Manusia juga bisa bertumbuh dan berkembang dalam kepribadian karena adanya orang lain. Manusia dapat menjadi orang baik dan bermanfaat dalam kehidupannya dengan kehadiran orang lain. Salah satunya dengan semangat koreksi persaudaraan yang dihidupi dalam lingkup relasi sosial. Dalam hidup iman, semangat koreksi persaudaraan menjadi komponen penting untuk meraih keselamatan secara kolektif. Setiap orang beriman dituntut untuk tidak saja secara individu atau pribadi mengejar keselamatan dunia atau akhirat. Ia dituntut juga untuk secara bersama-sama, memperjuangkan keselamatan bagi orang lain. Terutama bagi mereka yang sementara berada di zona yang tidak membawa keselamatan. Dosa kesombongan menjadi salah satu dosa pokok yang dapat menggiring orang kepada ketidakselamatan. Secara pribadi mungkin orang tidak menyadarinya. Kalau pun menyadari, ia tetap mengabaikan dan bersikap apatis serta tidak memperbaiki diri. Di sinilah pentingnya semangat koreksi persaudaraan diterapkan. Setiap manusia dengan caranya masing-masing harus menjadi mitra yang baik untuk membawa sesamanya menuju kepada kebaikan dan keselamatan.

 

Hari ini kita memperingati pesta Santa Klara (1193-1253), seorang biarawati kudus dari kota Asisi, Italia. Semasa hidupnya, Santa Klara adalah seorang pribadi yang diliputi oleh semangat kemiskinan dan kerendahan hati. Dengan kerendahan hati itu pula, mukjizat keselamatan terjadi dalam komunitas biaranya. Santa Klara berdoa di hadapan sakramen mahakudus agar seluruh anggota biarawati dapat diselamatkan dari amukan musuh. Pada akhirnya, para musuh yang hendak menyerang, tiba-tiba lari menyelamatkan diri. Semangat kerendahan hati inilah yang menjadi sumber keteladanan agar kita tidak memegahkan dosa kesombongan. Kerendahan hati dapat membimbing kita untuk mau melakukan instrospeksi diri, mengakui segala kesalahan dan dapat memperbaiki diri.

 

Banyak ruang hidup kita yang masih dihinggapi oleh dosa kesombongan. Kita masih merasa diri paling hebat dan pintar sehingga tidak mau mendengarkan nasihat, kritik, dan evaluasi yang baik dari orang lain. Kita masih senang mencari pembenaran diri dengan berbagai alasan. Kita mungkin merasa menang bagi diri sendiri. Tetapi dalam banyak hal, ada banyak nilai dan orang yang sementara kita korbankan. Hidup kita menjadi tidak nyaman dan aman di hadapan sesama dan Tuhan. Yesus telah mewanti-wanti bahwa dosa kesombongan dapat membawa kita kepada ketidakbaikan dan ketidakselamatan. Oleh karena itu, Dalam semangat koreksi persaudaraan, mari kita membuang dosa kesombongan sehingga kita dapat memiliki kerendahan hati untuk saling menerima, menegur, menasihati, dan membawa diri menuju kepada kebaikan dan keselamatan hidup. Amin. ***AKD***