Rabu, 24 November 2021

Bersakit-Sakit Dahulu Bersenang - Senang Kemudian

Luk 21:12-19

           

Khatera Hashmi, seorang polisi wanita (polwan) asal Afganistan menceritakan kisah mirisnya tentang penganiayaan baik fisik dan psikis yang dia alami dari kelompok Taliban. Salah satu faksi politik yang sekarang menguasai roda pemerintahan negara Afganistan.  “Bagi Taliban, dosa terbesar seorang perempuan adalah jika ia keluar dari rumahnya untuk bekerja”, ungkap Hashmi (dilansir dari Makassar.terkini.id).  Khatera Hashmi yang merupakan seorang mantan polisi perempuan itu mengaku disiksa oleh anggota Taliban tahun lalu (2020). Hashmi mengungkapkan bahwa ia ditembak beberapa kali, bahkan mata kanannya dirusak oleh anggota Taliban. Penyiksaan itu terjadi saat ia diculik. Apalagi penyiksaan itu terjadi ketika ia masih dalam keadaan hamil. Anehnya, ayah kandungnya mendukung tindakan tak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh Taliban. Memang sejak awal ayahnya sangat menentang keras cita-citanya menjadi seorang polisi. Hal ini tidak lepas dari basis ideologi yang membatasai ruang gerak perempuan dalam segala dimensi kehidupan. Dan ideologi ini yang dipegang oleh ayahnya dan kelompok Taliban. Sehingga tidak heran, apabila ayahnya bekerja sama dengan kelompok Taliban menjegal dirinya.

 

Tidak hanya Khatera Hashmi. Namun semua perempuan yang bekerja di luar rumah, mendapat tantangan dan hambatan dari kelompok Taliban untuk mengejar karier mereka. Beruntung bahwa Khatera Hashmi dapat diselamatkan nyawanya, walaupun matanya mengalami cacat permanen. Sekarang ia dan suaminya berada di India untuk melanjutkan terapi kesehatannya. Ia juga tidak tahu apakah anak-anaknya di Afganistan masih hidup atau tidak.  “Saya menjadi seperti mayat hidup. Saya bernapas, tapi tiap hari saya harus berjuang. Melakukan hal mudah, bahkan seperti tantangan bagi saya,” demikian Khatera Hashmi memberi kesaksian.

 

Pengalaman hidup Khatera Hashmi yang menyayat hati sebenarnya mewakili begitu banyak orang yang sementara berjuang bertahan dalam banyak kesulitan, penderitaan, dan dukacita hidup. Ada yang terekpose oleh media. Namun lebih banyak yang luput dari perhatian dan pemberitaan. Mereka bertahan dalam kesulitan dan penderitaan karena mereka percaya akan kebenaran yang sementara mereka hidupi. Walaupun kebenaran itu sementara dicabik-dicabik oleh orang atau kelompok orang yang tidak menyukainya, mereka tetap berjuang sampai titik darah penghabisan.

 

Memperjuangkan kebenaran itu memang sangat sulit. Ada risiko tertentu yang harus siap diterima. Siap dicemooh, dihina, dikhianati, dianiaya, dan bahkan dibunuh. Namun banyak pengalaman membuktikan bahwa perjuangan akan kebenaran itu tidak pernah sia-sia. Banyak orang memetik hasil positif dari sekian banyak tantangan, kesulitan dan penderitaan yang mereka alami. Nelson Mandela, misalnya, berhasil meraih tampuk kepemimpinan kekuasaan tertinggi di Afrika Selatan, setelah mengalami banyak kesulitan, hambatan dan keterpurukan dalam hidupnya. Ia menjadi presiden kulit hitam pertama di negaranya, Afrika Selatan, setelah berhasil menghancurkan tembok kokoh yang memisahkan warga kulit putih dan hitam. Nelson Mandela berhasil memperjuangkan nilai kebenaran bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendiskriminasi hidup manusia. Semua manusia memiliki harkat dan martabat yang sama di mata Tuhan. Entah apa pun warna kulitnya.

 

Santo Andreas Dung-Lac yang pestanya kita rayakan pada hari ini adalah salah seorang dari para martir negara Vietnam yang dikanonisasi menjadi orang kudus oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 19 Juni 1988. Ia adalah seorang imam pribumi yang menumpahkan darahnya sebagai seorang pengikut Kristus yang setia dan militan. Berkat perjuangannya akan kebenaran iman Kristus, Santo Andreas Dung-Lac rela mempertaruhkan nyawanya untuk itu. Darah kemartirannya sungguh menumbuhkan iman Kristus di negara Vietnam. Iman Kristus pun tumbuh dengan subur di negara Vietnam oleh karena perjuangan dan pengorbanan para laskar Kristus yang tidak pernah takut untuk menghadapi pelbagai kesulitan dan penderitaan.

 

Perjuangan akan kebenaran yang penuh kesulitan dan tantangan sebenarnya sudah digambarkan oleh Yesus dalam warta Injil-Nya. “Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku” (Luk 21:12). Banyak tantangan, kesulitan, dan penderitaan yang akan dialami oleh seseorang yang mau menjadi murid Kristus. Karena bersama Kristus, kita sementara memperjuangkan kebenaran demi terwujudnya Kerajaan Allah di tengah dunia. Perjuangan yang kita lakukan tentu akan berlawanan dengan arus zaman yang telah mapan. Kita akan berhadapan dengan orang-orang yang merasa terusik. Perjuangan kita akan membentur sistem yang kokoh dan angkuh.

 

Namun kita tidak perlu takut. Karena hikmat Tuhan akan selalu menyertai. “Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah oleh lawan-lawanmu” (Luk 21:15). Hikmat Tuhan berupa kebijaksanaan dalam kata-kata dan perbuatan akan selalu menguatkan sehingga kita tidak pernah gentar menghadapi setiap tantangan dan hambatan. Hikmat Tuhan pulahkah yang membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh sehingga kita tidak mudah jatuh dan putus asa manakala diterpa badai kesulitan dan penderitaan. Mungkin secara manusiawi, kita melihat ini sebagai sesuatu yang naif. Tidak masuk akal. Namun apabila kita percaya dalam iman, segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Segala ketidakpastian akan berbuah kepastian. Dan banyak pengalaman rohani dari orang-orang yang sukses membangun pribadinya dan dunia selalu berawal dari rasa kepercayaan yang kuat akan hikmat Tuhan yang menyertai.

Percaya akan hikmat Tuhan akan memantik dimensi positif dalam diri. Kita akan selalu dikuatkan dan diteguhkan untuk tidak pernah takut akan setiap tantangan, hambatan atau pun keterpurukan dan penderitaan dalam hidup. Tantangan, hambatan atau pengalaman penderitaan sebenarnya adalah jalan kebaikan yang sementara mendidik pribadi kita menjadi pribadi yang semakin matang dan dewasa. Dan dalam setiap tantangan dan hambatan demikian ada hikmat Tuhan yang sementara menuntun dan membimbing agar kita semakin kuat mengarahkan diri ke dalam penyelengaraan ilahi. Kita percaya di balik setiap tantangan, kesulitan dan penderitaan yang kita alami, ada berkat terindah yang sudah disiapkan oleh Tuhan.

 

Mari kita serahkan segala tantangan, hambatan, kesulitan, dan penderitaan yang kita alami ke dalam penyelenggaraan Tuhan. Kita percaya hikmat Tuhan akan selalu membantu dan menyertai kita. Semoga kita sekalian semakin dikuatkan dan diteguhkan dalam iman, berkat hikmat Tuhan yang selalu mengalir dalam dinamika hidup kita di tengah dunia. Amin. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar