Luk 17:11-19
Hari ini kita mengenang pesta Santo Leo Agung.
Santo Leo Agung adalah paus kita yang ke-45. Ia merupakan paus pertama dari
empat orang paus yang dianugerahi gelar “Agung” (the great). Tiga paus lainnya
yang digelari paus “yang agung” adalah Paus Gregorius I, Paus Nikolaus I, dan
Paus Yohanes Paulus II. Santo Leo Agung atau Paus Leo I lahir kira-kira pada
tahun 400 di Tuscany, Italia. Ia terpilih menjadi paus menggantikan Paus Sixtus
III yang wafat pada bulan Agustus 440. Masa-masa itu adalah masa sulit bagi
gereja. Di mana-mana pasukan barbar menyerang umat kristiani. Dalam gereja
sendiri, beberapa orang menyebarluaskan ajaran sesat. Tetapi Santo Leo Agung
adalah seorang paus yang mengagumkan. Ia sama sekalih tidak takut akan apa pun
dan siapa pun. Ia mengandalkan devosinya kepada paus pertama, St. Petrus Rasul.
Untuk menghentikan pengajaran iman yang sesat, St. Leo menjelaskan ajaran iman
yang benar melalui tulisan-tulisannya yang terkenal. Ia mengadakan konsili untuk
mengutuk ajaran-ajaran yang sesat. Mereka yang tidak mau berbalik dari ajaran
yang sesat dikucilkan dari gereja. Namun Paus Leo menerima kembali mereka ke
dalam pelukan gereja. Ia mengajak umatnya untuk berdoa bagi mereka.
Satu peristiwa fenomenal yang senantiasa dikenang
dalam sejarah adalah tindakan Leo Agung untuk menghentikan ekspansi militer
dari bangsa Hun pada tahun 452. Agresi militer bangsa Hun ini dipimpin oleh
sang komandan yang terkenal yaitu Attila. Ditengah ketakutan, kecemasan, dan
kepanikan bangsa Roma akan dasyatnya serangan bangsa Hun, Leo Agung dengan
gagah berani datang menemui sang komandan yang terkenal akan keganasannya untuk
membunuh manusia dan membakar kota. Leo Agung tidak membawa senjata. Senjata
utamanya adalah berserah diri kepada Tuhan. Ketika melihat Leo Agung, Attila,
sang pemimpin bar-bar itu langsung takluk. Ia tak kuasa memandang
kelemahlembutan mata sang paus. Ia pun menerima saran dari Leo Agung untuk
tidak menyerang kota Roma. Sesudah pertemuan itu, Attila bersaksi bahwa ia
melihat dua sosok besar yang mendampingi sang paus. Banyak umat meyakini bahwa
dua orang besar itu adalah St. Petrus dan St. Paulus yang diutus Tuhan untuk
melindungi paus dan segenap umat Kristiani. Pasca peristiwa itu, umat semakin
mengasihi sang paus. Ia menjadi paus selama 21 tahun. Dan akhirnya wafat pada
tanggal 10 November 461.
Bacaan Injil hari ini membentangkan kisah
penyembuhan oleh Yesus terhadap sepuluh orang kusta. Yang menarik bahwa sepuluh
orang kusta itu berasal dari dua kelompok yang bertentangan. Satu orang Samaria
dan sembilan lainnya dari Galilea. Galilea dan Samaria sebenarnya berasal dari
akar yang sama yakni bangsa Yahudi. Namun, oleh orang Galilea dan daerah Yahudi
lainnya tidak menganggap orang Samaria sebagai orang Yahudi asli. Hal ini
sebagai akibat dari kehidupan orang Samaria yang tidak menjaga keaslian darah
mereka sebagai bangsa Yahudi. Orang Samaria dianggap sebagai bangsa kafir
karena mereka telah menikah, hidup dan berbaur dengan bangsa-bangsa asing di
sekitar mereka. Kesepuluh orang kusta ternyata melampaui sekat budaya dan
bangsa karena hidup dalam pengalaman dan
perasaan yang sama dan senasib sebagai orang-orang yang tersingkir dalam
masyarakat.
Ketika melihat Yesus dari jauh, mereka berteriak:
“Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka.
Yesus malahan menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri kepada para imam.
“Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan fakta penyembuhan itu
baru dialami di tengah perjalanan. Mereka merasa menjadi tahir oleh karena
intervensi Allah melalui Yesus. Yesus sengaja menyuruh orang kusta pergi ke
hadapan para imam untuk memberi kesaksian tentang karunia Allah yang telah
mereka terima. Saking kaget dan bergembira, membuat mereka lupa akan kata-kata
Yesus. Dari kesepuluh orang ini, hanya satu orang Samaria yang datang kepada
Yesus untuk mengucap syukur. Sedangkan kesembilan kawannya menghilang entah ke
mana. Yesus sungguh menyesalkan perilaku sembilan orang Galilea, dan
mengapresiasi sikap orang Samaria. Orang Galilea yang mengklaim diri Yahudi
asli sebenarnya harus menunjukkan diri lebih baik dari Samaria. Kelompok yang
dianggap sebagai bangsa yang tidak mengenal Allah. Dalam kenyataannya, justru
orang Samaria dalam diri si kusta yang lebih menunjukkan kebaikan dan
kerendahan hatinya di hadapan Allah. Ia tidak hanya diselamatkan secara fisik,
tetapi lebih dari itu, ia telah mendapatkan keselamatan secara penuh menjadi
hamba Tuhan yang setia. Seorang hamba Tuhan yang tahu status kodratinya sebagai
mahkluk ciptaan Tuhan.
Dari bacaan Injil hari ini, ada dua hal pokok yang
bisa ditelisik. Pertama, Allah itu Mahakuasa. Ia telah memperlihatkan
kemahakuasaan-Nya dengan menyembuhkan kesepuluh orang kusta. Walaupun hanya
satu orang yang kembali mengucap syukur, Allah tidak menarik kembali kebaikan
dan kemurahan hati-Nya. Hal ini sebagai bukti bahwa kasih Allah itu sungguh
dasyat bagi umat manusia. Kasih Allah jauh mengatasi segala keterbatasan dan
kekurangan manusia. Kedua, ucapan syukur atas karunia keselamatan yang
ditunjukkan oleh orang Samaria. Di tengah keterbatasan, kekurangan,
kelemahannya sebagai manusia; dan lebih khusus sebagai orang Samaria yang
direndahkan, si kusta yang telah disembuhkan itu mau datang kepada Yesus untuk
mengucap syukur atas karunia keselamatan yang diterimanya. Dalam
ketidakberdayaannya, ia tidak hanya memasrahkan diri kepada kehendak Tuhan. Ia
juga berani menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan Allah dengan mengucap
syukur. Berani bukan karena dipaksa atau bersikap munafik. Berani karena
ketulusan hati atas kebaikan Allah yang menyapa dirinya.
Bacaan Injil hari ini menggugat pribadi kita
masing-masing. Apakah saya dan anda selalu mengucap syukur kepada Tuhan atas
segala kebaikan dan karunia yang telah kita terima dalam hidup ini. Atau kita
merasa biasa saja. Karena meyakini bahwa apa yang telah kita dapatkan menjadi
bagian penuh dari usaha pribadi. Seringkali ada dua hal ironi yang sering
dilakukan manusia. Ketika mengalami kesuksesan, orang cenderung merasa diri
paling hebat. Orang mudah mengklaim itu sebagai usaha pribadi. Dan kurang atau
sama sekalih tidak mengakui adanya campur tangan orang lain di dalamnya. Bahkan
Tuhan sendiri juga tidak mendapat tempat. Orang lupa mengucap syukur atas
segala hal baik yang diterimanya kepada sesama dan Tuhan. Sebaliknya, ketika
mendapatkan kegagalan atau penderitaan, orang gampang mencuci tangan. Banyak
kambing hitam dijadikan alasan. Orang mulai mempersalahkan sesamanya. Dan Tuhan
pun akhirnya divonis bersalah karena bersikap tidak adil atau tidak berpihak.
Hari ini kita sungguh dicerahkan bahwa setiap alur
kehidupan manusia di tengah dunia merupakan sebuah aksi mukjizat yang mungkin
tidak pernah kita sadari. Tuhan sudah menentukan dengan rinci setiap bab dari
kehidupan yang mestinya kita jalani dengan penuh rasa syukur. Walaupun ada
kehendak bebas sebagai pribadi yang otonom, sejatinya kehendak bebas itu tetap
diarahkan untuk mengabdi Tuhan Sang Adikodrati. Rasa syukur kepada Tuhan bukan
saja karena mengalami kebaikan dan kesuksesan. Dalam kegagalan, kesulitan, rasa
sakit dan penderitaan, seharusnya ungkapan syukur kepada Tuhan senantiasa kita
lambungkan. Karena Tuhan memiliki desain tersendiri dibandingkan dengan segala
rencana, kemauan, kehendak atau pun kebutuhan manusia. Dalam iman kita percaya,
Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang senantiasa berserah diri
kepada-Nya. Tuhan sudah menentukan keselamatan bagi setiap orang yang
menghidupi kehidupannya dengan rasa syukur. Dalam kaitannya dengan tema
kepemimpinan, terutama menjadi pemimpin bagi diri sendiri, kita semua semakin
dikuatkan untuk menjadi pemimpin yang tidak lupa untuk bersyukur kepada Tuhan
dalam setiap jejak kehidupan di dunia ini. Mari kita selalu bersyukur kepada
Tuhan atas karunia hidup yang kita alami. Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar