Selasa, 09 November 2021

Jangan Lupa Bersyukur

Luk 17:11-19

           

Hari ini kita mengenang pesta Santo Leo Agung. Santo Leo Agung adalah paus kita yang ke-45. Ia merupakan paus pertama dari empat orang paus yang dianugerahi gelar “Agung” (the great). Tiga paus lainnya yang digelari paus “yang agung” adalah Paus Gregorius I, Paus Nikolaus I, dan Paus Yohanes Paulus II. Santo Leo Agung atau Paus Leo I lahir kira-kira pada tahun 400 di Tuscany, Italia. Ia terpilih menjadi paus menggantikan Paus Sixtus III yang wafat pada bulan Agustus 440. Masa-masa itu adalah masa sulit bagi gereja. Di mana-mana pasukan barbar menyerang umat kristiani. Dalam gereja sendiri, beberapa orang menyebarluaskan ajaran sesat. Tetapi Santo Leo Agung adalah seorang paus yang mengagumkan. Ia sama sekalih tidak takut akan apa pun dan siapa pun. Ia mengandalkan devosinya kepada paus pertama, St. Petrus Rasul. Untuk menghentikan pengajaran iman yang sesat, St. Leo menjelaskan ajaran iman yang benar melalui tulisan-tulisannya yang terkenal. Ia mengadakan konsili untuk mengutuk ajaran-ajaran yang sesat. Mereka yang tidak mau berbalik dari ajaran yang sesat dikucilkan dari gereja. Namun Paus Leo menerima kembali mereka ke dalam pelukan gereja. Ia mengajak umatnya untuk berdoa bagi mereka.

 

Satu peristiwa fenomenal yang senantiasa dikenang dalam sejarah adalah tindakan Leo Agung untuk menghentikan ekspansi militer dari bangsa Hun pada tahun 452. Agresi militer bangsa Hun ini dipimpin oleh sang komandan yang terkenal yaitu Attila. Ditengah ketakutan, kecemasan, dan kepanikan bangsa Roma akan dasyatnya serangan bangsa Hun, Leo Agung dengan gagah berani datang menemui sang komandan yang terkenal akan keganasannya untuk membunuh manusia dan membakar kota. Leo Agung tidak membawa senjata. Senjata utamanya adalah berserah diri kepada Tuhan. Ketika melihat Leo Agung, Attila, sang pemimpin bar-bar itu langsung takluk. Ia tak kuasa memandang kelemahlembutan mata sang paus. Ia pun menerima saran dari Leo Agung untuk tidak menyerang kota Roma. Sesudah pertemuan itu, Attila bersaksi bahwa ia melihat dua sosok besar yang mendampingi sang paus. Banyak umat meyakini bahwa dua orang besar itu adalah St. Petrus dan St. Paulus yang diutus Tuhan untuk melindungi paus dan segenap umat Kristiani. Pasca peristiwa itu, umat semakin mengasihi sang paus. Ia menjadi paus selama 21 tahun. Dan akhirnya wafat pada tanggal 10 November 461.

 

Bacaan Injil hari ini membentangkan kisah penyembuhan oleh Yesus terhadap sepuluh orang kusta. Yang menarik bahwa sepuluh orang kusta itu berasal dari dua kelompok yang bertentangan. Satu orang Samaria dan sembilan lainnya dari Galilea. Galilea dan Samaria sebenarnya berasal dari akar yang sama yakni bangsa Yahudi. Namun, oleh orang Galilea dan daerah Yahudi lainnya tidak menganggap orang Samaria sebagai orang Yahudi asli. Hal ini sebagai akibat dari kehidupan orang Samaria yang tidak menjaga keaslian darah mereka sebagai bangsa Yahudi. Orang Samaria dianggap sebagai bangsa kafir karena mereka telah menikah, hidup dan berbaur dengan bangsa-bangsa asing di sekitar mereka. Kesepuluh orang kusta ternyata melampaui sekat budaya dan bangsa  karena hidup dalam pengalaman dan perasaan yang sama dan senasib sebagai orang-orang yang tersingkir dalam masyarakat.

 

Ketika melihat Yesus dari jauh, mereka berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka. Yesus malahan menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri kepada para imam. “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan fakta penyembuhan itu baru dialami di tengah perjalanan. Mereka merasa menjadi tahir oleh karena intervensi Allah melalui Yesus. Yesus sengaja menyuruh orang kusta pergi ke hadapan para imam untuk memberi kesaksian tentang karunia Allah yang telah mereka terima. Saking kaget dan bergembira, membuat mereka lupa akan kata-kata Yesus. Dari kesepuluh orang ini, hanya satu orang Samaria yang datang kepada Yesus untuk mengucap syukur. Sedangkan kesembilan kawannya menghilang entah ke mana. Yesus sungguh menyesalkan perilaku sembilan orang Galilea, dan mengapresiasi sikap orang Samaria. Orang Galilea yang mengklaim diri Yahudi asli sebenarnya harus menunjukkan diri lebih baik dari Samaria. Kelompok yang dianggap sebagai bangsa yang tidak mengenal Allah. Dalam kenyataannya, justru orang Samaria dalam diri si kusta yang lebih menunjukkan kebaikan dan kerendahan hatinya di hadapan Allah. Ia tidak hanya diselamatkan secara fisik, tetapi lebih dari itu, ia telah mendapatkan keselamatan secara penuh menjadi hamba Tuhan yang setia. Seorang hamba Tuhan yang tahu status kodratinya sebagai mahkluk ciptaan Tuhan.

 

Dari bacaan Injil hari ini, ada dua hal pokok yang bisa ditelisik. Pertama, Allah itu Mahakuasa. Ia telah memperlihatkan kemahakuasaan-Nya dengan menyembuhkan kesepuluh orang kusta. Walaupun hanya satu orang yang kembali mengucap syukur, Allah tidak menarik kembali kebaikan dan kemurahan hati-Nya. Hal ini sebagai bukti bahwa kasih Allah itu sungguh dasyat bagi umat manusia. Kasih Allah jauh mengatasi segala keterbatasan dan kekurangan manusia. Kedua, ucapan syukur atas karunia keselamatan yang ditunjukkan oleh orang Samaria. Di tengah keterbatasan, kekurangan, kelemahannya sebagai manusia; dan lebih khusus sebagai orang Samaria yang direndahkan, si kusta yang telah disembuhkan itu mau datang kepada Yesus untuk mengucap syukur atas karunia keselamatan yang diterimanya. Dalam ketidakberdayaannya, ia tidak hanya memasrahkan diri kepada kehendak Tuhan. Ia juga berani menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan Allah dengan mengucap syukur. Berani bukan karena dipaksa atau bersikap munafik. Berani karena ketulusan hati atas kebaikan Allah yang menyapa dirinya.

 

Bacaan Injil hari ini menggugat pribadi kita masing-masing. Apakah saya dan anda selalu mengucap syukur kepada Tuhan atas segala kebaikan dan karunia yang telah kita terima dalam hidup ini. Atau kita merasa biasa saja. Karena meyakini bahwa apa yang telah kita dapatkan menjadi bagian penuh dari usaha pribadi. Seringkali ada dua hal ironi yang sering dilakukan manusia. Ketika mengalami kesuksesan, orang cenderung merasa diri paling hebat. Orang mudah mengklaim itu sebagai usaha pribadi. Dan kurang atau sama sekalih tidak mengakui adanya campur tangan orang lain di dalamnya. Bahkan Tuhan sendiri juga tidak mendapat tempat. Orang lupa mengucap syukur atas segala hal baik yang diterimanya kepada sesama dan Tuhan. Sebaliknya, ketika mendapatkan kegagalan atau penderitaan, orang gampang mencuci tangan. Banyak kambing hitam dijadikan alasan. Orang mulai mempersalahkan sesamanya. Dan Tuhan pun akhirnya divonis bersalah karena bersikap tidak adil atau tidak berpihak.

 

Hari ini kita sungguh dicerahkan bahwa setiap alur kehidupan manusia di tengah dunia merupakan sebuah aksi mukjizat yang mungkin tidak pernah kita sadari. Tuhan sudah menentukan dengan rinci setiap bab dari kehidupan yang mestinya kita jalani dengan penuh rasa syukur. Walaupun ada kehendak bebas sebagai pribadi yang otonom, sejatinya kehendak bebas itu tetap diarahkan untuk mengabdi Tuhan Sang Adikodrati. Rasa syukur kepada Tuhan bukan saja karena mengalami kebaikan dan kesuksesan. Dalam kegagalan, kesulitan, rasa sakit dan penderitaan, seharusnya ungkapan syukur kepada Tuhan senantiasa kita lambungkan. Karena Tuhan memiliki desain tersendiri dibandingkan dengan segala rencana, kemauan, kehendak atau pun kebutuhan manusia. Dalam iman kita percaya, Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang senantiasa berserah diri kepada-Nya. Tuhan sudah menentukan keselamatan bagi setiap orang yang menghidupi kehidupannya dengan rasa syukur. Dalam kaitannya dengan tema kepemimpinan, terutama menjadi pemimpin bagi diri sendiri, kita semua semakin dikuatkan untuk menjadi pemimpin yang tidak lupa untuk bersyukur kepada Tuhan dalam setiap jejak kehidupan di dunia ini. Mari kita selalu bersyukur kepada Tuhan atas karunia hidup yang kita alami. Amin. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar