Mat 23: 27-32
Kubur atau makam secara kasat mata menjadi rumah
terakhir dan abadi bagi mereka yang telah meninggal dunia. Oleh karena itu, rumah
abadi ini harus dibuat secara baik dan layak. Menurut beberapa orang, kubur
atau makam lebih indah dipandang apabila dipoles dengan unsur arsitektur yang
menarik. Ketika masih bertugas di Kabupaten Sikka, saya melihat hampir di
setiap rumah terdapat kubur. Entah di dibuat di depan, di samping, atau di
belakang rumah. Menariknya, kubur itu tidak sekedar dibuat biasa-biasa saja.
Ada model khusus dengan ornamen-ornamen tertentu yang membuat penampilan
fisiknya lebih indah. Mereka berpandangan bahwa orang tercinta yang berpulang
seharusnya mendapat tempat yang tidak saja baik, tetapi indah.
Dalam hati saya bergumam, ini cara pandang
manusiawi yang lebih mengutamakan hal-hal fisik ketimbang isi bagian dalamnya.
Dari luar kelihatan kubur begitu indah dan menarik. Namun tentu tidak dengan
bagian dalamnya karena hanya berisi tengkorak, ngengat dan tanah. Filosofi yang
dipetik dari ilustrasi ini adalah bahwa setiap kebaikan dan keindahan manusia
yang nampak dari sisi luar belum tentu mewakili seluruh pribadinya. Seringkali
kita terjebak pada sisi yang nampak dari bagian luar ini. Kita lebih sibuk
menata fisik agar kelihatan lebih menarik dan indah. Namun tidak dengan sisi
bagian dalam atau hati kita. Kita lebih banyak membiarkan, masa bodoh, dan
merasa tidak penting untuk mendekorasi hati agar bisa nampak seimbang dengan
sisi bagian luar.
Kalau kita perhatikan, bacaan Injil hari ini
(Rabu/25/8/2021) merupakan kelanjutan dari bacaan Injil pada hari Senin
(23/8/2021). Kedua bacaan Injil ini merupakan bagian teks utuh yang menyajikan
kecaman Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Jadi subtansi
kedua bacaan ini sama yakni kecaman Yesus terhadap perilaku munafik yang
ditunjukkan oleh para elit agama. Kecaman Yesus terhadap perilaku para pemimpin
agama adalah sebuah bentuk keprihatinan sekaligus ancaman akan dampak yang
mengikutinya. Kalau mereka berlaku benar maka mereka akan mendapatkan
apresiasi. Demikian pun juga kalau mereka berlaku tidak benar maka hukuman
Tuhan pasti ditegakkan.
Menarik bahwa pada hari ini Yesus menganalogikan
sikap munafik para pemimpin agama seperti kuburan yang dilabur putih. Sebelah
luarnya memang tampak bersih, tetapi tidak dengan bagian dalamnya. Karena pada
bagian dalam penuh dengan tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Yesus
mengecam para pemimpin agama yang nampak suci dan benar dari tampilan fisik dan
kata-kata tetapi tidak memiliki ketulusan hati. “Demikian jugalah kamu, di
sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu
penuh kemunafikan dan kedurjanaan” (Mat 23:28). Ada hal lebih penting yang
sebenarnya ingin ditonjolkan oleh para pemuka agama saat itu. Nafsu, kesenangan
dan kuasa duniawi menjadi hal prioritas yang ingin didapatkan. Situasi miris
inilah yang sangat disesalkan dan menjadi sumber kecaman Yesus.
Gambaran sikap para pemimpin agama yang munafik
menjadi cerminan dari sikap kita di masa kini. Saya seringkali merasa heran
dengan kelakuan seorang sahabat yang kini telah menduduki posisi penting
sebagai pejabat di daerah. Sebelum menjadi orang penting, kelihatan ia sangat
populis, rendah hati, memiliki kepedulian tinggi, sangat menaruh respek pada
orang lain dan kelihatan bijaksana. Namun setelah duduk di kursi empuk, segala
hal yang mempesona dari dirinya menjadi pudar dan hilang begitu saja. Tidak
saja kadar persahabatan kami menjadi tawar. Lebih dari itu, ia sama sekalih
tidak memiliki keprihatinan dan kepedulian untuk memperjuangkan kebaikan dan
kemaslahatan bagi orang banyak. Saya tidak tahu dengan pasti alasan apa
sehingga menyebabkan sang sahabat memutar haluan sedemikian cepat. Saya hanya
menganalisis dan berefleksi, mungkin dia termasuk dalam golongan orang yang
hanya berlaku pura-pura untuk menarik simpati umum. Ada kepentingan atau target
lain yang ingin dicapai. Dan setelah target itu tercapai, segala nilai dan
keutamaan dalam hidup menjadi relatif atau tidak penting.
Saya berkeyakinan, cerita tentang sang sahabat
hanya merupakan salah satu dari sekian banyak cerita dan realitas yang mengulas
perilaku munafik orang-orang beragama di era sekarang. Sikap pragmatis menjadi
hal yang biasa untuk dilakukan demi memperjuangkan intensi tertentu. Bisa
intensi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, sosial, atau pun politik. Orang
rela memoles kebaikan dan keindahan agar tampak sebagai nilai utuh dan ideal
dalam pribadi. Bahkan dalam ranah yang paling privat pun, sikap munafik menjadi
hal yang lumrah. Segala kebaikan, keunggulan, dan bahkan kemesraan yang diumbar
di media sosial terkadang menampilkan wajah ganda. Di satu sisi kita
mempertontonkannya supaya diakui dan diberi apresiasi oleh publik. Kita merasa
senang dan puas. Secara sosial kita merasa tersanjung karena semakin dikenal
dan diakui. Namun, dalam kenyataannya, kita tidak sungguh-sungguh menghidupi
pelbagai nilai kebaikan dan kebenaran itu.
Kecaman Yesus tidak hanya ditujukan kepada para
pemimpin agama saat itu. Kecaman Yesus terasa sangat dekat, tetap aktual dan
kontekstual. Kata-kata Yesus menukik jauh di kedalaman hati kita masing-masing.
Yesus menghendaki agar kita tidak boleh menampilkan wajah ganda atau
kemunafikan dalam hidup. Ada dua hal penting yang bisa ditarik dari pesan
bacaan Injil hari ini. Pertama, segala kebaikan, keindahan dan kebenaran yang
ditampilkan harus datang dari kedalaman dan kepenuhan hati. Tidak sekedar
dibuat-buat demi memuaskan hasrat pribadi dan kelompok. Kita berbuat demikian
karena memiliki tujuan yang paling luhur yakni demi terciptanya kebaikan dan
keselamatan bagi banyak orang. Tidak hanya bagi diri sendiri. Kita menampilkan
hal-hal yang baik karena kita sungguh-sungguh mendalami dan menghidupinya dalam
kehidupan konkrit. Kedua, kita harus bersikap berani dan jiwa besar manakala
kita jatuh dalam kekeliruan dan kesalahan. Kita mengakui bahwa sebagai manusia,
tentu tidak luput dari kekurangan dan kelemahan. Pengakuan secara jujur pasti
membawa sedikit luka dan sakit. Ada stagnasi martabat sebagai seorang manusia.
Namun tidak sedikit pun mengurangi nilai dan martabat kita sebagai manusia di
hadapan Tuhan. Berani mengaku diri sebagai orang bersalah adalah sebuah
kebijaksanaan untuk menata diri lebih baik dan matang. Tuhan menuntut adanya
sikap metanoia atau pertobatan agar kita kembali ke track yang benar. Kita harus menjadi orang yang tulus di hadapan
Tuhan dan sesama.
Menjadi orang yang tidak munafik sama artinya
dengan menjadi orang yang jujur dan apa adanya. Kita menjadi baik atau jahat
bukan ditentukan oleh penampilan secara lahiriah. Bukan juga datang dari
keindahan kata-kata dan perbuatan. Kita menjadi manusia dengan label baik atau
jahat karena datangnya dari ketulusan hati. Tolok ukurnya adalah apakah kita
melakukan sesuatu dengan tulus atau tidak. Dengan ikhlas atau tidak. Hari ini,
kita semua mendapat inspirasi untuk mau menanamkan ketulusan hati dalam
mengelola pikiran, pandangan dan perbuatan. Segala hal baik yang kita rasakan
dan pikirkan, harus selaras dengan perbuatan kita yang baik pula. Mari kita
melakukannya dengan tulus hati, karena ketulusan itu lahir dari sikap iman kita
yang benar kepada Tuhan. Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar