Rabu, 25 Agustus 2021

Membumikan Ketulusan Hati

 

Mat 23: 27-32

 

Kubur atau makam secara kasat mata menjadi rumah terakhir dan abadi bagi mereka yang telah meninggal dunia. Oleh karena itu, rumah abadi ini harus dibuat secara baik dan layak. Menurut beberapa orang, kubur atau makam lebih indah dipandang apabila dipoles dengan unsur arsitektur yang menarik. Ketika masih bertugas di Kabupaten Sikka, saya melihat hampir di setiap rumah terdapat kubur. Entah di dibuat di depan, di samping, atau di belakang rumah. Menariknya, kubur itu tidak sekedar dibuat biasa-biasa saja. Ada model khusus dengan ornamen-ornamen tertentu yang membuat penampilan fisiknya lebih indah. Mereka berpandangan bahwa orang tercinta yang berpulang seharusnya mendapat tempat yang tidak saja baik, tetapi indah.

 

Dalam hati saya bergumam, ini cara pandang manusiawi yang lebih mengutamakan hal-hal fisik ketimbang isi bagian dalamnya. Dari luar kelihatan kubur begitu indah dan menarik. Namun tentu tidak dengan bagian dalamnya karena hanya berisi tengkorak, ngengat dan tanah. Filosofi yang dipetik dari ilustrasi ini adalah bahwa setiap kebaikan dan keindahan manusia yang nampak dari sisi luar belum tentu mewakili seluruh pribadinya. Seringkali kita terjebak pada sisi yang nampak dari bagian luar ini. Kita lebih sibuk menata fisik agar kelihatan lebih menarik dan indah. Namun tidak dengan sisi bagian dalam atau hati kita. Kita lebih banyak membiarkan, masa bodoh, dan merasa tidak penting untuk mendekorasi hati agar bisa nampak seimbang dengan sisi bagian luar.

 

Kalau kita perhatikan, bacaan Injil hari ini (Rabu/25/8/2021) merupakan kelanjutan dari bacaan Injil pada hari Senin (23/8/2021). Kedua bacaan Injil ini merupakan bagian teks utuh yang menyajikan kecaman Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Jadi subtansi kedua bacaan ini sama yakni kecaman Yesus terhadap perilaku munafik yang ditunjukkan oleh para elit agama. Kecaman Yesus terhadap perilaku para pemimpin agama adalah sebuah bentuk keprihatinan sekaligus ancaman akan dampak yang mengikutinya. Kalau mereka berlaku benar maka mereka akan mendapatkan apresiasi. Demikian pun juga kalau mereka berlaku tidak benar maka hukuman Tuhan pasti ditegakkan.

 

Menarik bahwa pada hari ini Yesus menganalogikan sikap munafik para pemimpin agama seperti kuburan yang dilabur putih. Sebelah luarnya memang tampak bersih, tetapi tidak dengan bagian dalamnya. Karena pada bagian dalam penuh dengan tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Yesus mengecam para pemimpin agama yang nampak suci dan benar dari tampilan fisik dan kata-kata tetapi tidak memiliki ketulusan hati. “Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan” (Mat 23:28). Ada hal lebih penting yang sebenarnya ingin ditonjolkan oleh para pemuka agama saat itu. Nafsu, kesenangan dan kuasa duniawi menjadi hal prioritas yang ingin didapatkan. Situasi miris inilah yang sangat disesalkan dan menjadi sumber kecaman Yesus.

 

Gambaran sikap para pemimpin agama yang munafik menjadi cerminan dari sikap kita di masa kini. Saya seringkali merasa heran dengan kelakuan seorang sahabat yang kini telah menduduki posisi penting sebagai pejabat di daerah. Sebelum menjadi orang penting, kelihatan ia sangat populis, rendah hati, memiliki kepedulian tinggi, sangat menaruh respek pada orang lain dan kelihatan bijaksana. Namun setelah duduk di kursi empuk, segala hal yang mempesona dari dirinya menjadi pudar dan hilang begitu saja. Tidak saja kadar persahabatan kami menjadi tawar. Lebih dari itu, ia sama sekalih tidak memiliki keprihatinan dan kepedulian untuk memperjuangkan kebaikan dan kemaslahatan bagi orang banyak. Saya tidak tahu dengan pasti alasan apa sehingga menyebabkan sang sahabat memutar haluan sedemikian cepat. Saya hanya menganalisis dan berefleksi, mungkin dia termasuk dalam golongan orang yang hanya berlaku pura-pura untuk menarik simpati umum. Ada kepentingan atau target lain yang ingin dicapai. Dan setelah target itu tercapai, segala nilai dan keutamaan dalam hidup menjadi relatif atau tidak penting.

 

Saya berkeyakinan, cerita tentang sang sahabat hanya merupakan salah satu dari sekian banyak cerita dan realitas yang mengulas perilaku munafik orang-orang beragama di era sekarang. Sikap pragmatis menjadi hal yang biasa untuk dilakukan demi memperjuangkan intensi tertentu. Bisa intensi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, sosial, atau pun politik. Orang rela memoles kebaikan dan keindahan agar tampak sebagai nilai utuh dan ideal dalam pribadi. Bahkan dalam ranah yang paling privat pun, sikap munafik menjadi hal yang lumrah. Segala kebaikan, keunggulan, dan bahkan kemesraan yang diumbar di media sosial terkadang menampilkan wajah ganda. Di satu sisi kita mempertontonkannya supaya diakui dan diberi apresiasi oleh publik. Kita merasa senang dan puas. Secara sosial kita merasa tersanjung karena semakin dikenal dan diakui. Namun, dalam kenyataannya, kita tidak sungguh-sungguh menghidupi pelbagai nilai kebaikan dan kebenaran itu.

 

Kecaman Yesus tidak hanya ditujukan kepada para pemimpin agama saat itu. Kecaman Yesus terasa sangat dekat, tetap aktual dan kontekstual. Kata-kata Yesus menukik jauh di kedalaman hati kita masing-masing. Yesus menghendaki agar kita tidak boleh menampilkan wajah ganda atau kemunafikan dalam hidup. Ada dua hal penting yang bisa ditarik dari pesan bacaan Injil hari ini. Pertama, segala kebaikan, keindahan dan kebenaran yang ditampilkan harus datang dari kedalaman dan kepenuhan hati. Tidak sekedar dibuat-buat demi memuaskan hasrat pribadi dan kelompok. Kita berbuat demikian karena memiliki tujuan yang paling luhur yakni demi terciptanya kebaikan dan keselamatan bagi banyak orang. Tidak hanya bagi diri sendiri. Kita menampilkan hal-hal yang baik karena kita sungguh-sungguh mendalami dan menghidupinya dalam kehidupan konkrit. Kedua, kita harus bersikap berani dan jiwa besar manakala kita jatuh dalam kekeliruan dan kesalahan. Kita mengakui bahwa sebagai manusia, tentu tidak luput dari kekurangan dan kelemahan. Pengakuan secara jujur pasti membawa sedikit luka dan sakit. Ada stagnasi martabat sebagai seorang manusia. Namun tidak sedikit pun mengurangi nilai dan martabat kita sebagai manusia di hadapan Tuhan. Berani mengaku diri sebagai orang bersalah adalah sebuah kebijaksanaan untuk menata diri lebih baik dan matang. Tuhan menuntut adanya sikap metanoia atau pertobatan agar kita kembali ke track yang benar. Kita harus menjadi orang yang tulus di hadapan Tuhan dan sesama.  

 

Menjadi orang yang tidak munafik sama artinya dengan menjadi orang yang jujur dan apa adanya. Kita menjadi baik atau jahat bukan ditentukan oleh penampilan secara lahiriah. Bukan juga datang dari keindahan kata-kata dan perbuatan. Kita menjadi manusia dengan label baik atau jahat karena datangnya dari ketulusan hati. Tolok ukurnya adalah apakah kita melakukan sesuatu dengan tulus atau tidak. Dengan ikhlas atau tidak. Hari ini, kita semua mendapat inspirasi untuk mau menanamkan ketulusan hati dalam mengelola pikiran, pandangan dan perbuatan. Segala hal baik yang kita rasakan dan pikirkan, harus selaras dengan perbuatan kita yang baik pula. Mari kita melakukannya dengan tulus hati, karena ketulusan itu lahir dari sikap iman kita yang benar kepada Tuhan. Amin. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar