Minggu, 01 Agustus 2021

Menemukan Harta Yang Paling Berharga

Mat 13: 44-46

 

Ada sebuah keluarga di lingkungan tempat tinggal, yang saya kenal cukup dekat. Dari sisi ekonomi, kehidupan mereka cukup mapan. Mereka memiliki rumah yang bagus, ada mobil pribadi diparkir di ruang garasi, ada jaringan wifi non stop, dan ada berapa sepeda motor dengan merk yang berbeda. Hal yang menarik dari keluarga ini adalah mereka memiliki kehidupan religius dan sosial yang kuat. Sang suami dan istri merupakan pengurus DPP (Dewan Pastoral Paroki) di Gereja paroki. Bersama dengan anak-anak, mereka sangat aktif dalam aktivitas rohani di gereja, basis dan lingkungan. Kehidupan doa menjadi fondasi utama dalam hidup. Mereka juga menjadi donator tetap bagi pembangunan dan pengembangan gereja paroki.

 

Dalam kehidupan masyarakat, mereka terlibat dalam beberapa yayasan atau lembaga sosial yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap orang-orang kecil dan miskin. Tidak terhitung sudah harta pribadi yang dikeluarkan secara pribadi untuk membantu sesama yang berkurangan. Soal kehidupan sosial dengan orang-orang di lingkungan tempat tinggal, jangan tanya lagi. Mereka memiliki perhatian dan kepeduliaan bagi siapa saja dan dalam hal apa saja. Dalam suatu kesempatan syering bersama, saya sempat bertanya kepada sang istri, apa latar utama dari segala kontribusi yang telah mereka berikan kepada gereja dan masyarakat. Dengan tulus ia berkata: “Tuhan sudah memberikan banyak berkat dalam kehidupan keluarga saya. Ini adalah hal-hal kecil yang bisa saya lakukan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada-Nya.” 

 

Hari ini dalam sabda-Nya (Mat 13:44-46), Yesus membentangkan dua perumpamaan yang menarik. Perumpamaan pertama berkisah tentang orang yang menemukan harta terpendam di sebuah ladang. Tidak disebutkan secara jelas harta dalam bentuk seperti apa. Uniknya, ia menaruh kembali harta tersebut dalam tanah. Kemudian, ia pergi menjual segala milik pribadinya. Uang hasil penjualan dipakai untuk membeli ladang yang di dalamya ada harta yang terpendam. Perumpamaan kedua berkisah tentang seorang pedagang yang sedang mencari mutiara yang indah. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, ia pergi menjual segala miliknya. Kemudian, ia datang lagi untuk membeli mutiara idamannya tersebut.

 

Dua perumpamaan ini boleh dkatakan sebagai dua perumpamaan kembar. Dua perumpamaan yang alur ceritanya hampir sama karena menunjuk pada satu substansi yakni penemuan harta yang paling berharga. Ada yang unik dari dua cerita perumpaan di atas. Setelah orang menemukan harta dan mutiara yang berharga, mereka tidak langsung mengambil atau membelinya. Mereka harus kembali ke rumah untuk menjual segala kepunyaan pribadi, kemudian baru datang lagi untuk membeli harta berharga yang telah didapatkan sebelumnya. Kalau menyimak isi perumpamaan ini, kelihatan tidak masuk akal karena begitu berharganya harta yang telah mereka temukan sampai membuat mereka menjual seluruh miliknya. Seluruh milik menunjuk pada segala harta yang dimilki. Kelihatan seperti tidak ada yang tersisa. Rupanya segala harta pribadi dipertaruhkan demi mendapatkan harta berharga yang baru. Harta yang terpendam di ladang dan mutiara yang indah.

 

Jelas sekalih. Dua cerita perumpamaan tersebut adalah sebuah analogi tentang harta Kerajaan Allah. Harta yang terpendam di ladang dan mutiara yang indah adalah profil singkat mengenai wujud Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah harta yang paling bernilai dari semua harta yang ada di atas dunia. Yesus ingin menggambarkan tiga hal dari dua kisah perumpamaan. Pertama, Kerajaan Allah itu sudah hadir dalam diri Yesus dan karya-Nya. Yesus ingin semua orang memahami dan mengalami karya Allah di dalam Diri-Nya. Berkat sabda dan aksi mukjizat-Nya, karya fenomenal Allah itu ditampilkan untuk membangkitkan iman, harapan, dan kasih. Kedua, Yesus menghendaki agar kita menjual segala harta pribadi demi memiliki harta yang baru yakni harta Kerajaan Allah. Menjual harta pribadi tentu tidak bisa ditafsir secara lurus. Kita perlu membebaskan diri dari sikap dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Yesus sendiri bersabda: “Di mana hartamu berada, di situ hatimu juga berada” (Mat 6:21). Perlu ada sikap lepas bebas dari segala keterikatan dengan kebiasaan atau perilaku yang tidak benar di hadapan Allah. Ketiga, sikap metanoia atau pertobatan. Yesus menegaskan bahwa perlu ada perubahan pola pikir yang memantik kita untuk berubah ke arah yang baik dan benar. Arah baik dan benar ini, yang memang sesuai dengan amanat Allah. Inilah harta kerajaan Allah yang paling tinggi nilainya, di mana kita harus hidup dalam semangat saling mengasihi satu sama lain.

 

Sebagai orang beriman, saya dan anda seringkali tidak luput dari sikap hidup dan kebiasaan yang tidak baik dan tidak benar. Ada sikap ego yang masih menonjol sehingga kita kurang atau tidak peduli dengan orang lain di sekitar kita. Sebenarnya kita memiliki banyak kelebihan dalam hal apa saja, namun sikap ego membentengi diri kita untuk pergi “berjumpah” dengan orang lain. Ada sikap angkuh. Kita merasa diri paling hebat dan pintar. Orang lain tidak ada apa-apanya di hadapan diri kita. Kita cenderung menganggap orang lain lemah dan selalu salah di mata kita. Ada sikap tidak jujur. Kita cerdik memanfaatkan pelbagai celah yang membawa keuntungan secara pribadi. Ada sikap iri hati. Kita acapkali merasa susah melhat orang lain senang. Dan merasa senang melihat orang lain susah. Timbul sikap persaingan yang tidak sehat karena kita tidak menghendaki orang lain sukses atau memiliki sesuatu. Ada aneka cara sesat yang bisa kita pakai untuk menjegal orang lain. Ada sikap balas dendam yang menutup nurani kita untuk tidak mau memberi ampun atau memaafkan orang lain yang bersalah. Sebaliknya, kita juga tidak mau menerima maaf atau pengampunan dari orang lain.

 

Sikap-sikap hidup dan kebiasaan tidak benar ini merupakan harta duniawi sekaligus menjadi batu sandungan bagi kita untuk tidak bisa menemukan harta surgawi yang ditawarkan oleh Allah melalui Yesus. Kita gagap dan tersesat di tengah pelbagai tawaran harta duniawi yang lebih memberi kepuasan jasmani. Kita gagal memahami Tuhan sebagai harta paling berharga dalam hidup. Namun kasih Tuhan melampaui seluruh hidup dan jati diri kita. Tawaran keselamatan itu senantiasa datang walaupun seringkali kita tidak menyadari dan memedulikannya. Menjual apa yang kita miliki adalah sebuah sebuah tindakan imperatif agar kita perlu membebaskan diri dari segala sikap dan kebiasaan di luar kehendak Allah. Sikap metanoia menjadi jalan terang agar kita bisa menemukan harta terpendam di ladang dan mutiara yang indah. Kita akan bergembira karena dalam wilayah Kerajaan Tuhan hanya ada sikap kasih dan saling melayani satu sama lain sebagai sesama saudara.

 

Suasana hidup sebuah keluarga yang saya lukiskan pada bagian awal, kiranya menjadi inspirasi sederhana dan konkrit bagaimana kita dapat menemukan harta yang paling berharga dalam hidup. Banyak hal positif yang bisa kita lakukan agar hidup kita semakin membawa kemuliaan bagi nama Yesus dan Allah di sorga. Karena segala harta yang kita kumpulkan di dunia akan menjadi investasi bagi harta kita di akhirat nanti. Amin. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar