Mat 13: 44-46
Ada sebuah keluarga di lingkungan tempat tinggal,
yang saya kenal cukup dekat. Dari sisi ekonomi, kehidupan mereka cukup mapan.
Mereka memiliki rumah yang bagus, ada mobil pribadi diparkir di ruang garasi,
ada jaringan wifi non stop, dan ada berapa sepeda motor dengan merk yang
berbeda. Hal yang menarik dari keluarga ini adalah mereka memiliki kehidupan
religius dan sosial yang kuat. Sang suami dan istri merupakan pengurus DPP
(Dewan Pastoral Paroki) di Gereja paroki. Bersama dengan anak-anak, mereka sangat
aktif dalam aktivitas rohani di gereja, basis dan lingkungan. Kehidupan doa
menjadi fondasi utama dalam hidup. Mereka juga menjadi donator tetap bagi
pembangunan dan pengembangan gereja paroki.
Dalam kehidupan masyarakat, mereka terlibat dalam
beberapa yayasan atau lembaga sosial yang memiliki perhatian dan kepedulian
terhadap orang-orang kecil dan miskin. Tidak terhitung sudah harta pribadi yang
dikeluarkan secara pribadi untuk membantu sesama yang berkurangan. Soal
kehidupan sosial dengan orang-orang di lingkungan tempat tinggal, jangan tanya
lagi. Mereka memiliki perhatian dan kepeduliaan bagi siapa saja dan dalam hal
apa saja. Dalam suatu kesempatan syering bersama, saya sempat bertanya kepada
sang istri, apa latar utama dari segala kontribusi yang telah mereka berikan
kepada gereja dan masyarakat. Dengan tulus ia berkata: “Tuhan sudah memberikan
banyak berkat dalam kehidupan keluarga saya. Ini adalah hal-hal kecil yang bisa
saya lakukan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada-Nya.”
Hari ini dalam sabda-Nya (Mat 13:44-46), Yesus
membentangkan dua perumpamaan yang menarik. Perumpamaan pertama berkisah
tentang orang yang menemukan harta terpendam di sebuah ladang. Tidak disebutkan
secara jelas harta dalam bentuk seperti apa. Uniknya, ia menaruh kembali harta
tersebut dalam tanah. Kemudian, ia pergi menjual segala milik pribadinya. Uang
hasil penjualan dipakai untuk membeli ladang yang di dalamya ada harta yang
terpendam. Perumpamaan kedua berkisah tentang seorang pedagang yang sedang
mencari mutiara yang indah. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, ia
pergi menjual segala miliknya. Kemudian, ia datang lagi untuk membeli mutiara
idamannya tersebut.
Dua perumpamaan ini boleh dkatakan sebagai dua
perumpamaan kembar. Dua perumpamaan yang alur ceritanya hampir sama karena
menunjuk pada satu substansi yakni penemuan harta yang paling berharga. Ada
yang unik dari dua cerita perumpaan di atas. Setelah orang menemukan harta dan
mutiara yang berharga, mereka tidak langsung mengambil atau membelinya. Mereka harus
kembali ke rumah untuk menjual segala kepunyaan pribadi, kemudian baru datang
lagi untuk membeli harta berharga yang telah didapatkan sebelumnya. Kalau
menyimak isi perumpamaan ini, kelihatan tidak masuk akal karena begitu
berharganya harta yang telah mereka temukan sampai membuat mereka menjual
seluruh miliknya. Seluruh milik menunjuk pada segala harta yang dimilki.
Kelihatan seperti tidak ada yang tersisa. Rupanya segala harta pribadi
dipertaruhkan demi mendapatkan harta berharga yang baru. Harta yang terpendam
di ladang dan mutiara yang indah.
Jelas sekalih. Dua cerita perumpamaan tersebut
adalah sebuah analogi tentang harta Kerajaan Allah. Harta yang terpendam di
ladang dan mutiara yang indah adalah profil singkat mengenai wujud Kerajaan
Allah. Kerajaan Allah adalah harta yang paling bernilai dari semua harta yang
ada di atas dunia. Yesus ingin menggambarkan tiga hal dari dua kisah
perumpamaan. Pertama, Kerajaan Allah itu sudah hadir dalam diri Yesus dan
karya-Nya. Yesus ingin semua orang memahami dan mengalami karya Allah di dalam
Diri-Nya. Berkat sabda dan aksi mukjizat-Nya, karya fenomenal Allah itu
ditampilkan untuk membangkitkan iman, harapan, dan kasih. Kedua, Yesus
menghendaki agar kita menjual segala harta pribadi demi memiliki harta yang baru
yakni harta Kerajaan Allah. Menjual harta pribadi tentu tidak bisa ditafsir
secara lurus. Kita perlu membebaskan diri dari sikap dan kebiasaan yang tidak
sesuai dengan kehendak Allah. Yesus sendiri bersabda: “Di mana hartamu berada,
di situ hatimu juga berada” (Mat 6:21). Perlu ada sikap lepas bebas dari segala
keterikatan dengan kebiasaan atau perilaku yang tidak benar di hadapan Allah.
Ketiga, sikap metanoia atau pertobatan. Yesus menegaskan bahwa perlu ada
perubahan pola pikir yang memantik kita untuk berubah ke arah yang baik dan
benar. Arah baik dan benar ini, yang memang sesuai dengan amanat Allah. Inilah
harta kerajaan Allah yang paling tinggi nilainya, di mana kita harus hidup
dalam semangat saling mengasihi satu sama lain.
Sebagai orang beriman, saya dan anda seringkali
tidak luput dari sikap hidup dan kebiasaan yang tidak baik dan tidak benar. Ada
sikap ego yang masih menonjol sehingga kita kurang atau tidak peduli dengan
orang lain di sekitar kita. Sebenarnya kita memiliki banyak kelebihan dalam hal
apa saja, namun sikap ego membentengi diri kita untuk pergi “berjumpah” dengan
orang lain. Ada sikap angkuh. Kita merasa diri paling hebat dan pintar. Orang
lain tidak ada apa-apanya di hadapan diri kita. Kita cenderung menganggap orang
lain lemah dan selalu salah di mata kita. Ada sikap tidak jujur. Kita cerdik
memanfaatkan pelbagai celah yang membawa keuntungan secara pribadi. Ada sikap
iri hati. Kita acapkali merasa susah melhat orang lain senang. Dan merasa
senang melihat orang lain susah. Timbul sikap persaingan yang tidak sehat
karena kita tidak menghendaki orang lain sukses atau memiliki sesuatu. Ada
aneka cara sesat yang bisa kita pakai untuk menjegal orang lain. Ada sikap
balas dendam yang menutup nurani kita untuk tidak mau memberi ampun atau memaafkan
orang lain yang bersalah. Sebaliknya, kita juga tidak mau menerima maaf atau
pengampunan dari orang lain.
Sikap-sikap hidup dan kebiasaan tidak benar ini
merupakan harta duniawi sekaligus menjadi batu sandungan bagi kita untuk tidak
bisa menemukan harta surgawi yang ditawarkan oleh Allah melalui Yesus. Kita
gagap dan tersesat di tengah pelbagai tawaran harta duniawi yang lebih memberi
kepuasan jasmani. Kita gagal memahami Tuhan sebagai harta paling berharga dalam
hidup. Namun kasih Tuhan melampaui seluruh hidup dan jati diri kita. Tawaran
keselamatan itu senantiasa datang walaupun seringkali kita tidak menyadari dan
memedulikannya. Menjual apa yang kita miliki adalah sebuah sebuah tindakan
imperatif agar kita perlu membebaskan diri dari segala sikap dan kebiasaan di
luar kehendak Allah. Sikap metanoia menjadi jalan terang agar kita bisa
menemukan harta terpendam di ladang dan mutiara yang indah. Kita akan
bergembira karena dalam wilayah Kerajaan Tuhan hanya ada sikap kasih dan saling
melayani satu sama lain sebagai sesama saudara.
Suasana hidup sebuah keluarga yang saya lukiskan
pada bagian awal, kiranya menjadi inspirasi sederhana dan konkrit bagaimana
kita dapat menemukan harta yang paling berharga dalam hidup. Banyak hal positif
yang bisa kita lakukan agar hidup kita semakin membawa kemuliaan bagi nama
Yesus dan Allah di sorga. Karena segala harta yang kita kumpulkan di dunia akan
menjadi investasi bagi harta kita di akhirat nanti. Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar