Mat 12:38-42
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, ada lima arti tanda. Pertama, tanda menjadi alamat atau yang
menyatakan sesuatu. Kedua, tanda adalah gejala. Ketiga, tanda menyatakan bukti.
Keempat, tanda sebagai pengenal. Dan kelima, tanda adalah petunjuk. Menyimak
arti tanda di atas, ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan manusia bisa
dikategorikan sebagai tanda. Misalnya fenomena alam yang menyatakan tanda
tertentu. Bisa juga sebuah kejadian atau peristiwa di luar akal atau logika
yang ditafsir sebagai sebuah tanda. Atau orang menafsirkan mimpi tidur sebagai
sebuah tanda dalam kehidupan riil manusia.
Sebagai makhluk spiritual, manusia
menyukai tanda-tanda yang terjadi dalam kehidupannya. Ketika mengalami sebuah
peristiwa atau kejadian yang tidak lazim, mengalami mimpi yang baik atau buruk,
manusia cenderung menganalisis dan mengkorelasikannya sebagai tanda dalam
kehidupan yang akan terjadi kelak. Entah tanda itu berciri baik atau buruk, ia
(tanda) memainkan peran sebagai sebuah keyakinan pribadi atau kolektif yang
memotivasi manusia untuk bersikap waspada dan mengambil langkah-langkah
antisipatif yang membawa kebaikan dan sedapat mungkin mengurangi keburukan yang
mungkin saja terjadi.
Pernyataan para elit agama yang
meminta tanda kepada Yesus adalah bagian dari sebuah keyakinan pribadi dan
kolektif agar mereka sungguh diyakinkan tentang sosok kharismatik yang bernama
Yesus. Mereka sudah lama mendengar, melihat, dan mengikuti setiap aksi
fenomenal yang dilakukan oleh Yesus. Baik itu berupa kata-kata, ataupun
tindakan mukjizat-Nya. Bagi mereka, apa yang dibuat oleh Yesus menyedot
perhatian dan simpati publik. Tidak terkecuali juga apa yang mereka rasakan
sendiri. Ada kejadian atau peristiwa di luar kelaziman, di luar logika dan di
luar tradisi atau keyakinan yang membentuk pribadi mereka sebagai makhluk beragama.
Statement: “Guru, kami ingin melihat
suatu tanda dari pada-Mu” (Mat 12:38), adalah sebuah bentuk permintaan akan
adanya bukti, pengenal, atau petunjuk yang menegaskan siapa sebenarnya figur
yang bernama Yesus. Adanya bukti, pengenal dan petunjuk tentu saja berdampak
pada sikap trust atau kepercayaan
kepada pribadi Yesus.
Namun apa yang menjadi harapan
dari para pemuka agama tidak terjawab. Malah Yesus mencap mereka sebagai
angkatan yang jahat. Ini terjadi di luar dugaan dan bayangan para pemimpin
agama. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Yesus seolah-olah tega memberi cap
yang mendiskreditkan pribadi dan status mereka sebagai pemimpin agama. Yesus
pasti tidak asal bicara. Ada latar yang menguatkan pernyataan pribadi-Nya
tersebut. Yesus tahu seperti apa situasi kebatinan para elit agama saat itu.
Pada dasarnya, mereka tidak menyukai kehadiran Diri-Nya. Yesus dianggap sebagai
ancaman yang akan menggeser kemapanan keyakinan dan status terhormat mereka
sebagai pemimpin agama. Oleh karena itu, permintaan sebuah tanda adalah bentuk
arogansi dan kemunafikan diri para elit agama untuk mencari-cari kesalahan
pribadi-Nya.
Yesus sungguh menyayangkan sikap
dari para elit agama yang meminta sebuah tanda dari Diri-Nya. Sementara
kehadiran Diri-Nya adalah tanda itu sendiri. Yesus adalah tanda yang membawa
kebaikan dan keselamatan hidup kepada segenap umat manusia. Melalui sabda dan
perbuatan ajaib-Nya, Yesus telah memberi tanda agar umat manusia dapat bertobat
dan percaya kepada Allah. Percaya kepada Allah melampaui segala jenis hukum dan
peraturan yang dibuat oleh manusia. Percaya kepada Allah dilandasi oleh hukum
kasih yang melihat diri sesama sebagai wajah Allah. Wajah Allah yang patut
dicintai dan dikasihi dengan sepenuh hati. Bukan wajah yang dikasihi karena ada
kepentingan ekonomi, sosial dan politik di dalamnya. Dalam hal ini, Yesus
sungguh mengapresiasi ketulusan hati dan sikap orang Niniwe. Walaupun orang
Niniwe dicap sebagai orang kafir, ternyata mereka mampu membaca tanda
keselamatan dari Allah yang dibawa oleh nabi Yunus. Sementara di lain pihak,
Yesus menyayangkan sikap atau tindakan orang-orang yang mengaku diri sebagai
umat pilihan Allah. Ternyata hati mereka jauh dari Allah. Hal ini dibuktikan
dengan ketidakmampuan pribadi untuk melihat, membaca, dan merasakan tanda ilahi
yang menyata dalam diri Yesus.
Seringkali kita kurang atau tidak
memiliki kemampuan untuk menangkap pelbagai tanda ilahi yang terjadi dalam
realitas kehidupan. Ada banyak realitas kehidupan yang sebenarnya sementara
berbicara tentang tanda ilahi tertentu. Ketika melihat orang yang sementara
menderita sakit, susah, dan tertindas, sebenarnya ada tanda ilahi yang
mendorong kita untuk memperlihatkan rasa empati dan kepedulian. Atau ketika
menyaksikan banyak sesama saudara yang mengalami krisis dalam kehidupan iman,
kita digerakkan untuk menjadi tanda yang bisa menyelamatkan hidup mereka.
Yesus telah menunjukkan diri-Nya
sebagai tanda yang membawa kebaikan dan keselamatan kepada kita. Melalui gereja
yang tetap berdiri dan hidup hingga saat ini, kita semua juga dipanggil untuk
menjadi tanda yang membawa kebaikan dan keselamatan. Gereja secara fisik boleh
saja ditutup sebagai imbas dari badai Covid-19. Tetapi jati diri kita adalah
gereja Allah dan Yesus yang tetap hidup dan terbuka bagi dunia. Allah dalam
Diri Yesus yang menyejarah dalam hidup manusia, telah mewujud dalam diri kita
sebagai tanda nyata. Oleh karena itu, mari kita implementasikan jati diri kita
sebagai gereja-gereja kecil yang menjadi tanda kebaikan dan keselamatan bagi
semua orang. Kita menjadi tanda yang baik mulai dari dalam keluarga, basis,
lingkungan, di tempat kerja, dan di mana saja kita berada. Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar