Mat 10:1-7
Menjalani panggilan dalam kehidupan adalah sebuah
keniscayaan. Entah panggilan hidup dalam wujud sebagai apa dan siapa, di
dalamnya manusia memaknai dirinya sebagai makhluk pekerja (homo faber). Manusia juga menjalani panggilan dalam hidupnya
sebagai homo socius atau makhluk
social. Karena ia menyadari eksistensi hidupnya tidak pernah dipisahkan dari
hidup bersama orang lain. Di atas semua itu, menjalani panggilan kehidupan
adalah bentuk perwujudan manusia sebagai makhluk Tuhan. Seluruh perjalanan
panggilan hidupnya mengekspresikan rasa syukurnya kepada Tuhan. Demikianlah
alur utama panggilan manusia sebagai makhluk kodrati yang selalu berkiblat
kepada Tuhan, sang entitas adikodratinya.
Tuhan Yesus sungguh pernah menjalani panggilan
kehidupannya dalam sejarah hidup manusia sebagai seorang utusan Allah. Sebagai
utusan Allah, Ia memainkan peran utama sebagai Sang Penyelamat yang membawa
kabar gembira bagi umat manusia. Banyak sebutan yang bisa disematkan kepada
Yesus, menilik dari sepak terjang-Nya sebagai seorang utusan Allah. Ia disebut
sebagai seorang nabi karena tugasnya memberi warta sukacita kepada manusia. Ia
juga bisa disebut tabib agung karena menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan
orang mati. Dan yang paling penting, Ia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.
Ia datang untuk membawa kebaikan dan keselamatan bagi hidup manusia.
Walaupun dengan kuasa ilahi yang dimilikinya
sebagai Anak Allah, Yesus menyadari bahwa Ia bukanlah one man show. Ia bukan pemain tunggal dalam misi penyelamatan
dunia. Yesus membutuhkan mitra kerja yang akan membantu-Nya mensukseskan proyek
keselamatan yang telah diberikan Sang Bapa kepada-Nya. Dan para rasul adalah
mitra kerja-Nya yang selalu ada dan siap untuk membantu. Oleh karena itu, dalam
bacaan hari ini, kita mendengar bahwa Yesus memanggil para murid-Nya yang
pertama. Dalam kelompok dua belas rasul, mereka akan menjalani panggilan
kehidupan yang baru bersama Yesus. Panggilan kehidupan yang mulia demi membawa sebanyak
mungkin orang menuju Kerajaan Allah. Tidak hanya dipanggil, para murid juga
diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan segala penyakit. Kuasa ilahi ini
sebagai sarana untuk memberi kesaksian dan meyakinkan orang-orang untuk percaya
kepada Allah.
Sama seperti para murid, kita juga telah dipanggil
dengan nama masing-masing untuk menjalani panggilan kehidupan dalam tugas dan
karya yang beragam. Walaupun berbeda dalam tugas dan pengabdian di tengah
dunia, namun satu ciri utama yang menyatukan kita adalah bersatu dalam nama
Yesus Kristus. Panggilan kehidupan kita yang terdistribusi dalam berbagai
bidang, sebenarnya mengandung misi urgen yang satu dan sama yakni membawa
kebaikan dan keselamatan kepada segenap makhluk. Ini selaras dengan cita-cita
awal Yesus, ketika memanggil para murid-Nya yang pertama.
Kalau kita perhatikan pada masa sekarang ini, ada
segelintir orang yang sungguh-sungguh menghayati dan menjalani panggilan
kehidupannya. Mereka bekerja dengan penuh tanggung jawab, disiplin, berkomitmen
tinggi, dedikasi yang total, penuh kesetiaan dan jujur. Mereka juga menolak
dengan tegas dan tidak mau berkompromi dengan cara-cara sesat yang dapat
menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan jahat. Di sisi lain, kita juga
menyaksikan bahwa banyak orang Kristen yang belum mampu menjalani panggilan
kehidupannya secara baik dan benar. Mereka hanya menjadikan pekerjaan sebagai
sarana untuk mendapatkan uang. Tidak lebih dari itu. Karakteristik orang-orang
ini sangat gampang untuk terseret ke dalam perbuatan yang sesat dan tidak
benar. Perbuatan mereka tentu tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga
membawa dampak kerugian bagi banyak orang.
Hari ini, kita dipanggil oleh Yesus untuk
sungguh-sungguh menghayati dan menjalani panggilan kehidupan di tengah dunia.
Memang seorang pekerja patut mendapat upah yang layak. Namun seorang pekerja
harus mampu menjalani panggilan kehidupannya dengan menghidupi spirit Yesus
dalam dirinya. Spirit Yesus adalah spirit untuk bekerja dengan penuh tanggung
jawab, memiliki komitmen yang tangguh, memiliki dedikasi dan semangat pelayanan
yang tinggi, memiliki disiplin yang baik, dan memiliki kesetiaan dan kejujuran.
Di tengah deraan badai covid-19, kita hadir
menjalani panggilan kehidupan yang sejati dengan memberi informasi yang akurat
(bukan hoax) dan kata-kata yang meneguhkan dan menguatkan, dan bukan semakin
menambah luka atau penyakit bagi para korban. Kita juga tidak gampang memberi
vonis atau menaruh sikap curiga terhadap orang lain yang bisa mendatangkan
keretakan dalam hubungan persaudaraan. Mari kita menjalani panggilan kehidupan
dengan menghidupi spirit Yesus untuk membawa kebaikan bagi semua orang. Amin.
***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar