Selasa, 17 Agustus 2021

Koreksi Persaudaraan Itu Penting

Mat 18: 15-20

 

Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri untuk mampir di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika menginjakkan kaki di pintu masuk, saya menyaksikan seorang bapak paruh baya, sedang marah-marah kepada para pelayan. Suaranya melengking tinggi sambil menunjuk-nunjuk ke arah para pelayan. Rupanya akar persoalannya sangat sepeleh. Sang bapak merasa tersinggung karena berpikir nama kampungnya sementara dilecehkan oleh pramuniaga atau pelayan toko. Sementara menurut para pelayan toko, mereka tidak sementara memperbincangkan dan melecehkan kampung sang bapak tadi. Ada istilah tertentu dalam bahasa lokal yang dipakai oleh para pelayan untuk sekedar bersenda gurau. Dan kebetulan sekalih, pengucapan istilah itu mirip kedengarannya dengan nama kampung sang bapak. Jadi saya berpikir, persoalan itu hanya mispersepsi. Bapak itu juga terlalu reaktif menanggapi. Kalau dengan tenang ia mengkonfrontir kepada para pelayan, tentu tidak akan terjadi kejadian konyol tersebut.

 

Saya lalu mendekati beliau dan mencoba meredam emosinya yang sementara meluap-luap. Bukannya tenang, ia malah semakin menjadi-jadi. Saya akhirnya menjadi pusat kemarahannya karena telah mencampuri urusannya. Saya tetap tenang dan tidak terpancing dengan emosinya. Karena tidak mau mencari persoalan lebih lanjut, akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan toko. Sepanjang perjalanan saya hanya merasa kasihan dengan sang bapak karena tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik. Bahkan ketika dilakukan pendekatan dengan baik, ia tetap bersikeras merasa diri paling hebat dan benar. Tindakannya tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi mengganggu kenyamanan semua orang yang sementara berada di pusat perbelanjaan.

 

Hari ini, Yesus memberi pengajaran tentang tahap-tahap nasihat atau koreksi persaudaraan terhadap seorang saudara yang bersalah. Pertama, memberi nasihat di bawah empat mata. Kalau ia menerimanya, maka persoalan dianggap selesai. Yang menjadi masalah apabila ia tidak mau menerima evaluasi dari orang lain. Jika yang terjadi demikian maka pada tahap kedua, saudara yang bersalah itu dipertemukan dengan beberapa orang. Tujuannya agar mereka dapat memberi kesaksian secara okyektif sehingga saudara yang bersalah dapat menyadari kesalahannya. Apabila ia tetap konsekuen dengan argumentasi pembenaran dirinya, maka pada tahap ketiga, ia dihadapkan dengan anggota jemaat. Tentu saja, bias persoalan pribadinya semakin meluas karena sudah diintervensi oleh anggota komunitas yang lebih besar. Besar harapan bahwa saudara yang bersalah segera berjiwa besar untuk mengakui perbuatan salahnya. Sikap legowo akan membawa nilai positif bagi pribadi dan komunitas. Walaupun terluka, tetapi martabatnya sebagai manusia tetap dijaga dan dijunjung. Citra komunitas pun tetap terjaga, karena para angota jemaat berhasil menyelesaikan persoalan yang terjadi di dalam tubuh komunitasnya sendiri. Kemungkinan paling buruk pun bisa terjadi apabila saudara yang bersalah tetap tidak mengakui perbuatannya. Pada tahap yang keempat, ia akan dipandang sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Atau dalam bahasa lain, ia tidak dianggap sebagai bagian dari anggota jemaat. Ia akan dikucilkan dari hidup sosial oleh para anggota jemaatnya.

 

Nasihat Yesus ini, sungguh keras dan tajam apabila kita merefleksikan implikasi atau dampak lanjut yang dialami seseorang yang telah bersalah. Namun bukan dampak lanjut yang ingin ditekankan oleh Yesus. Yang ingin digarisbawahi Yesus adalah sikap sombong dari orang yang melakukan kesalahan atau dosa. Karena kesombongannya, ia merasa diri paling hebat dan pintar dari orang lain. Seribu alasan dan argumentasi ia kemukakan untuk mempertahankan dirinya. Walaupun sudah jelas atau terang benderang rupa kesalahannya, ia tetap tidak akan mengakuinya. Dosa kesombongan telah menyeret orang yang bersalah untuk tidak mendengarkan koreksi atau evaluasi yang baik dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

 

Sebuah adagium usang mengatakan no man is an island (Manusia itu bukan sebuah pulau). Manusia itu tidak hidup sendiri. Manusia selalu ada dan terlibat bersama-sama dengan orang lain. Manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Termasuk dalam pemenuhan pelbagai kebutuhan, selalu tidak terlepas dari campur tangan orang lain. Manusia juga bisa bertumbuh dan berkembang dalam kepribadian karena adanya orang lain. Manusia dapat menjadi orang baik dan bermanfaat dalam kehidupannya dengan kehadiran orang lain. Salah satunya dengan semangat koreksi persaudaraan yang dihidupi dalam lingkup relasi sosial. Dalam hidup iman, semangat koreksi persaudaraan menjadi komponen penting untuk meraih keselamatan secara kolektif. Setiap orang beriman dituntut untuk tidak saja secara individu atau pribadi mengejar keselamatan dunia atau akhirat. Ia dituntut juga untuk secara bersama-sama, memperjuangkan keselamatan bagi orang lain. Terutama bagi mereka yang sementara berada di zona yang tidak membawa keselamatan. Dosa kesombongan menjadi salah satu dosa pokok yang dapat menggiring orang kepada ketidakselamatan. Secara pribadi mungkin orang tidak menyadarinya. Kalau pun menyadari, ia tetap mengabaikan dan bersikap apatis serta tidak memperbaiki diri. Di sinilah pentingnya semangat koreksi persaudaraan diterapkan. Setiap manusia dengan caranya masing-masing harus menjadi mitra yang baik untuk membawa sesamanya menuju kepada kebaikan dan keselamatan.

 

Hari ini kita memperingati pesta Santa Klara (1193-1253), seorang biarawati kudus dari kota Asisi, Italia. Semasa hidupnya, Santa Klara adalah seorang pribadi yang diliputi oleh semangat kemiskinan dan kerendahan hati. Dengan kerendahan hati itu pula, mukjizat keselamatan terjadi dalam komunitas biaranya. Santa Klara berdoa di hadapan sakramen mahakudus agar seluruh anggota biarawati dapat diselamatkan dari amukan musuh. Pada akhirnya, para musuh yang hendak menyerang, tiba-tiba lari menyelamatkan diri. Semangat kerendahan hati inilah yang menjadi sumber keteladanan agar kita tidak memegahkan dosa kesombongan. Kerendahan hati dapat membimbing kita untuk mau melakukan instrospeksi diri, mengakui segala kesalahan dan dapat memperbaiki diri.

 

Banyak ruang hidup kita yang masih dihinggapi oleh dosa kesombongan. Kita masih merasa diri paling hebat dan pintar sehingga tidak mau mendengarkan nasihat, kritik, dan evaluasi yang baik dari orang lain. Kita masih senang mencari pembenaran diri dengan berbagai alasan. Kita mungkin merasa menang bagi diri sendiri. Tetapi dalam banyak hal, ada banyak nilai dan orang yang sementara kita korbankan. Hidup kita menjadi tidak nyaman dan aman di hadapan sesama dan Tuhan. Yesus telah mewanti-wanti bahwa dosa kesombongan dapat membawa kita kepada ketidakbaikan dan ketidakselamatan. Oleh karena itu, Dalam semangat koreksi persaudaraan, mari kita membuang dosa kesombongan sehingga kita dapat memiliki kerendahan hati untuk saling menerima, menegur, menasihati, dan membawa diri menuju kepada kebaikan dan keselamatan hidup. Amin. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar