Mat 18: 15-20
Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri untuk
mampir di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika menginjakkan kaki di pintu masuk,
saya menyaksikan seorang bapak paruh baya, sedang marah-marah kepada para
pelayan. Suaranya melengking tinggi sambil menunjuk-nunjuk ke arah para
pelayan. Rupanya akar persoalannya sangat sepeleh. Sang bapak merasa
tersinggung karena berpikir nama kampungnya sementara dilecehkan oleh
pramuniaga atau pelayan toko. Sementara menurut para pelayan toko, mereka tidak
sementara memperbincangkan dan melecehkan kampung sang bapak tadi. Ada istilah
tertentu dalam bahasa lokal yang dipakai oleh para pelayan untuk sekedar
bersenda gurau. Dan kebetulan sekalih, pengucapan istilah itu mirip
kedengarannya dengan nama kampung sang bapak. Jadi saya berpikir, persoalan itu
hanya mispersepsi. Bapak itu juga terlalu reaktif menanggapi. Kalau dengan
tenang ia mengkonfrontir kepada para pelayan, tentu tidak akan terjadi kejadian
konyol tersebut.
Saya lalu mendekati beliau dan mencoba meredam
emosinya yang sementara meluap-luap. Bukannya tenang, ia malah semakin
menjadi-jadi. Saya akhirnya menjadi pusat kemarahannya karena telah mencampuri
urusannya. Saya tetap tenang dan tidak terpancing dengan emosinya. Karena tidak
mau mencari persoalan lebih lanjut, akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan
toko. Sepanjang perjalanan saya hanya merasa kasihan dengan sang bapak karena
tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik. Bahkan ketika dilakukan pendekatan
dengan baik, ia tetap bersikeras merasa diri paling hebat dan benar.
Tindakannya tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi mengganggu kenyamanan
semua orang yang sementara berada di pusat perbelanjaan.
Hari ini, Yesus memberi pengajaran tentang
tahap-tahap nasihat atau koreksi persaudaraan terhadap seorang saudara yang
bersalah. Pertama, memberi nasihat di bawah empat mata. Kalau ia menerimanya,
maka persoalan dianggap selesai. Yang menjadi masalah apabila ia tidak mau
menerima evaluasi dari orang lain. Jika yang terjadi demikian maka pada tahap
kedua, saudara yang bersalah itu dipertemukan dengan beberapa orang. Tujuannya
agar mereka dapat memberi kesaksian secara okyektif sehingga saudara yang
bersalah dapat menyadari kesalahannya. Apabila ia tetap konsekuen dengan
argumentasi pembenaran dirinya, maka pada tahap ketiga, ia dihadapkan dengan
anggota jemaat. Tentu saja, bias persoalan pribadinya semakin meluas karena
sudah diintervensi oleh anggota komunitas yang lebih besar. Besar harapan bahwa
saudara yang bersalah segera berjiwa besar untuk mengakui perbuatan salahnya.
Sikap legowo akan membawa nilai positif bagi pribadi dan komunitas. Walaupun
terluka, tetapi martabatnya sebagai manusia tetap dijaga dan dijunjung. Citra
komunitas pun tetap terjaga, karena para angota jemaat berhasil menyelesaikan
persoalan yang terjadi di dalam tubuh komunitasnya sendiri. Kemungkinan paling
buruk pun bisa terjadi apabila saudara yang bersalah tetap tidak mengakui
perbuatannya. Pada tahap yang keempat, ia akan dipandang sebagai seorang yang
tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Atau dalam bahasa lain, ia
tidak dianggap sebagai bagian dari anggota jemaat. Ia akan dikucilkan dari
hidup sosial oleh para anggota jemaatnya.
Nasihat Yesus ini, sungguh keras dan tajam apabila
kita merefleksikan implikasi atau dampak lanjut yang dialami seseorang yang
telah bersalah. Namun bukan dampak lanjut yang ingin ditekankan oleh Yesus.
Yang ingin digarisbawahi Yesus adalah sikap sombong dari orang yang melakukan
kesalahan atau dosa. Karena kesombongannya, ia merasa diri paling hebat dan
pintar dari orang lain. Seribu alasan dan argumentasi ia kemukakan untuk
mempertahankan dirinya. Walaupun sudah jelas atau terang benderang rupa
kesalahannya, ia tetap tidak akan mengakuinya. Dosa kesombongan telah menyeret
orang yang bersalah untuk tidak mendengarkan koreksi atau evaluasi yang baik
dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
Sebuah adagium usang mengatakan no man is an island (Manusia itu bukan
sebuah pulau). Manusia itu tidak hidup sendiri. Manusia selalu ada dan terlibat
bersama-sama dengan orang lain. Manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya.
Termasuk dalam pemenuhan pelbagai kebutuhan, selalu tidak terlepas dari campur
tangan orang lain. Manusia juga bisa bertumbuh dan berkembang dalam kepribadian
karena adanya orang lain. Manusia dapat menjadi orang baik dan bermanfaat dalam
kehidupannya dengan kehadiran orang lain. Salah satunya dengan semangat koreksi
persaudaraan yang dihidupi dalam lingkup relasi sosial. Dalam hidup iman,
semangat koreksi persaudaraan menjadi komponen penting untuk meraih keselamatan
secara kolektif. Setiap orang beriman dituntut untuk tidak saja secara individu
atau pribadi mengejar keselamatan dunia atau akhirat. Ia dituntut juga untuk
secara bersama-sama, memperjuangkan keselamatan bagi orang lain. Terutama bagi
mereka yang sementara berada di zona yang tidak membawa keselamatan. Dosa
kesombongan menjadi salah satu dosa pokok yang dapat menggiring orang kepada
ketidakselamatan. Secara pribadi mungkin orang tidak menyadarinya. Kalau pun
menyadari, ia tetap mengabaikan dan bersikap apatis serta tidak memperbaiki
diri. Di sinilah pentingnya semangat koreksi persaudaraan diterapkan. Setiap
manusia dengan caranya masing-masing harus menjadi mitra yang baik untuk
membawa sesamanya menuju kepada kebaikan dan keselamatan.
Hari ini kita memperingati pesta Santa Klara
(1193-1253), seorang biarawati kudus dari kota Asisi, Italia. Semasa hidupnya,
Santa Klara adalah seorang pribadi yang diliputi oleh semangat kemiskinan dan
kerendahan hati. Dengan kerendahan hati itu pula, mukjizat keselamatan terjadi
dalam komunitas biaranya. Santa Klara berdoa di hadapan sakramen mahakudus agar
seluruh anggota biarawati dapat diselamatkan dari amukan musuh. Pada akhirnya,
para musuh yang hendak menyerang, tiba-tiba lari menyelamatkan diri. Semangat
kerendahan hati inilah yang menjadi sumber keteladanan agar kita tidak
memegahkan dosa kesombongan. Kerendahan hati dapat membimbing kita untuk mau
melakukan instrospeksi diri, mengakui segala kesalahan dan dapat memperbaiki
diri.
Banyak ruang hidup kita yang masih dihinggapi oleh
dosa kesombongan. Kita masih merasa diri paling hebat dan pintar sehingga tidak
mau mendengarkan nasihat, kritik, dan evaluasi yang baik dari orang lain. Kita
masih senang mencari pembenaran diri dengan berbagai alasan. Kita mungkin
merasa menang bagi diri sendiri. Tetapi dalam banyak hal, ada banyak nilai dan
orang yang sementara kita korbankan. Hidup kita menjadi tidak nyaman dan aman
di hadapan sesama dan Tuhan. Yesus telah mewanti-wanti bahwa dosa kesombongan dapat
membawa kita kepada ketidakbaikan dan ketidakselamatan. Oleh karena itu, Dalam
semangat koreksi persaudaraan, mari kita membuang dosa kesombongan sehingga
kita dapat memiliki kerendahan hati untuk saling menerima, menegur, menasihati,
dan membawa diri menuju kepada kebaikan dan keselamatan hidup. Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar