Luk 2:22-35
Semua orang Kristiani memiliki pengharapan besar akan
keselamatan kekal. Visi keselamatan itu mendorong semua orang untuk mengarahkan
hidupnya kepada Allah dengan setia melakukan seluruh kehendak-Nya. Untuk
mewujudkan kehendak Allah di dunia dibutuhkan keteguhan iman dan iman itu
hendaknya menyata dalam sikap hidup penuh pengharapan. Simeon adalah teladan
sempurna bagi kita orang kristen yang setia menanti kedatangan Mesias penghibur
bagi Israel (dunia).
Injil hari ini memperlihatkan sosok
Simeon sebagai salah satu dari sedikit orang beriman yang sederhana, tulus,
saleh, setia dan jujur yang menantikan kedatangan Mesias penuh iman. Kesetiaan
dan keteguhan hati Simeon membuat ia sanggup mengetahui siapa Yesus yang
dihantar kedua orang tua-Nya untuk dipersembahkan di Kenisah Yerusalem,
sebagaimana perintah Taurat Musa. Simeon mendapatkan karunia ini bukan karena
ia pribadi yang istimewa dan memiliki kepandaian khusus, namun ia istimewa
dihadapan Tuhan karena ia pribadi yang sederhana, jujur, tulus, setia dan saleh
dalam menantikan Sang Mesias tanpa memiliki intensi apa pun bagi dirinya.
Berkat karunia Roh Kudus, maka Roh Kudus itu pula yang menggerakan hati Simeon
untuk datang ke Bait Allah melihat dan bertemu dengan Sang Mesias sebagai pemenuhan janji keselamatan Allah.
Hukum Taurat mengharuskan: “Semua anak laki-laki sulung harus dibawa ke
Yerusalem untuk ditahirkan dan dipersembahkan kepada Allah”. Yusuf dan Maria
adalah orang tua yang memiliki ketaatan tinggi dalam beragama maka mereka
menghantar kanak-kanak Yesus ke Yerusalem untuk dikuduskan bagi Allah. Ia
disunat dan diberi nama Yesus sesuai dengan nama yang ditetapkan oleh malaikat
Tuhan pada usia delapan hari. Yusuf dan Maria menjalankan tugas dan tanggung
jawabnya sebagai orang tua yang baik dan saleh di hadapan Tuhan (21-24).
Tanggung jawab ini mengungkapkan makna iman serta kepatuhan orang tua atas apa
yang telah difirmankan dan ditetapkan Tuhan.
Sosok yang menyambut dan menerima Yesus bukanlah orang kaya atau
berkuasa. Allah justru memanggil mereka yang miskin dan tidak memiliki
kekuasaan duniawi tetapi total memasrahkan hidup mereka sepenuhnya pada belas
kasih dan kemurahan hati Allah. Berkat dorongan Roh Kudus dan ketaatan Simeon,
ia mampu melihat Sang Mesias sebagai pemenuhan janji keselamatan Allah.
Kegembiraan dan sukacita besar yang disaksikan langsung oleh Simeon membuatnya
sujud memuji Allah katanya: “Sekarang
Tuhan, biarkanlah hambamu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan
firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu, yang telah
Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi pernyataan
bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu Israel.” Terang
benderang di sini bahwa Simeon adalah
tipe hamba yang setia pada tuannya. Ia senantiasa berjaga-jaga sehingga ketika
tuannya datang ia ditemukan siap siaga. Ia ibarat hamba yang setia yang patut
menerima penghargaan dari tuannya. Simeon dihargai oleh Tuhan dan diberi
kesempatan melihat Sang Mesias sebagai pemenuhan janji keselamatan Allah.
Rahmat yang mengalir dalam dirinya mampu menghapus segala kepedihan dan
kegalauan yang dialami pada masa lalu. Inilah mahkota terbesar bagi kesetiaan
seorang hamba Allah yang tidak pernah menyibukan diri mencari kenikmatan
duniawi. Ia sungguh sederhana dan rendah
hati yang mengenal dan menyambut kedatangan Yesus di Bait Allah dengan penuh
sukacita.
Simeon yang dipenuhi kuasa Roh Kudus memberkati keluarga kudus
Nazaret sambil berkata kepada Bunda Maria: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan
untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi
suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu
sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk
2:34-35). Ini adalah kata-kata yang tidak hanya membawa sukacita tetapi
sekaligus duka cita bagi Maria, namun ia menyimpan segala perkara di dalam
hatinya. Yesus Kristus diutus Allah ke dunia untuk menyelamatkan manusia
berdosa dan menghantar mereka kembali ke jalan keselamatan Allah.
Mempersembahkan anak-anak kita kepada Tuhan, berarti sekaligus
kita mengakui bahwa Tuhan itu pemilik kehidupan, Ia memiliki kemampuan supra
natural untuk mengubah dunia. Yesus dipersembahkan di Kenisah menyadarkan kita
semua akan anugerah kehidupan yang lebih besar lagi, yakni panggilan kita
menjadi orang Kristen yang sejati dengan tetap setia melaksanakan tugas dan
pekerjaan harian kita secara baik dan bertanggungjawab, itulah persembahan kita
sebagai murid Kristus yang setia kepadaNya.
Hari ini kita semua diundang untuk membuka mata dan melihat
keselamatan dalam diri Yesus Kristus yang sungguh-sungguh Allah dan
sungguh-sungguh manusia. Kita belajar dari kesetiaan dan ketaatan keluarga
kudus yang mempersembahkan kanak-kanak Yesus kepada Allah di bait Suci
Yerusalem. Kita mendoakan keluarga-keluarga kristen zaman ini supaya
mempersembahkan anak-anak mereka kepada Tuhan untuk dibimbing dan diubah ke
jalan keselamatan. Iman anak-anak harus diteguhkan agar mereka tidak mudah
dipengaruhi oleh arus jaman dan tangguh menghadapi salib hidup mereka sendiri.
Militansi iman Maria menjadi teladan bagi anak-anak kita agar mereka dapat
belajar menderita seperti Maria yang memiliki duka tertentu karena mengasihi
Yesus Putranya.
Sabda Tuhan hari ini menginspirasi dan mendorong kita untuk
mempersembahkan anak-anak kita kepada Tuhan dan belajar dari ketaatan keluarga
Nazaret yang mempersembahkan kanak-kanak Yesus kepada Tuhan. Kita belajar
banyak hal tentang kebajikan-kebajikan hidup kristiani yang secara konsisten
dipraktekkan oleh Simeon yang membaktikan hidupnya secara total di Bait Suci
Allah. Tokoh-tokoh ini menjadi contoh hidup yang memiliki komitmen besar dalam
pelayanan. Karena itu, kita harus sungguh-sungguh mempersembahkan diri untuk
mengabdi dan melayani Tuhan dan sesama tanpa membuat kalkulasi ekonomis
dibaliknya. Kita harus membuka mata rohani dan jasmani untuk melihat
keselamatan yang datang dari Allah. Kita juga diundang untuk senantiasa
mempersembahkan diri, keluarga dan seluruh karya pengabdian kita kepada Allah
untuk dikuduskan. Belajar dari Simeon, kita terinspirasi untuk memiliki
keinginan besar dan komitmen yang kuat untuk mendedikasikan diri bagi kemajuan
gereja sambil tetap berusaha untuk berjumpa, menyambut dan mengakui Yesus Sang
Mesias sebagai pemenuhan janji keselamatan Allah. Semoga. ***Bernard Wadan***