Senin, 12 Oktober 2020

Iman Dan Disiplin Batiniah

Gal 4:31b-5:6 & Luk 11:37-41


Menurut St. Paulus, Iman yang bekerja oleh kasih menyatu dengan pengharapan akan Tuhan dan itu dikerjakan oleh Roh Kudus. Karena iman itulah, setiap orang boleh menantikan kebenaran yang diharapkan dari Tuhan, bukan oleh hukum Taurat. Maka menurut Paulus, orang-orang yang mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat hidup di luar kasih karunia Tuhan. Mereka mengharapkan kebenaran karena ketaatan legalistis atas hukum Taurat.

 

Orang-orang Farisi tergolong dalam kelompok orang yang melakukan hukum Taurat dan berharap dibenarkan oleh hukum itu. Seperti penyunatan yang menjadi tekad mereka, demikian juga berbagai peraturan hukum yang lain dan penerapannya dalam berbagai aturan praktis yang tak terhitung jumlahnya.

 

Mencuci tangan sebelum makan adalah salah satu tradisi yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Yahudi. Tentu ini tradisi yang baik karena menyangkut hidup yang sehat dan setiap orang yang melakukannya akan mendukung terciptanya suatu masyarakat yang sehat. Mencuci tangan, oleh karena itu, menjadi salah satu bentuk perwujudan pola hidup masyarakat yang sehat. Namun sikap legalistis meracuni jiwa orang-orang Farisi sehingga mereka terlampau berharap akan dibenarkan karena ketaatan terhadap hukum.


Keheranan orang Farisi atas Yesus yang makan di rumahnya tanpa mencuci tangan terlebih dahulu bertitik tolak pada sikap dasar mereka terhadap hukum Taurat. Maka keheranan itu lebih mengarah kepada sikap mempersalahkan dan mengadili. Bisa dibayangkan isi otaknya orang Farisi itu, mengapa Yesus sebagai seorang Rabi menunjukkan perilaku hidup yang berlawanan dengan tradisi hidup mereka?


Di luar dugaan Yesus memberikan tanggapan yang luar biasa: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”.

Penekanan Yesus di sini adalah bahwa orang boleh memiliki tangan yang bersih, tetapi jauh lebih penting adalah memiliki hati yang bersih. Apalah artinya mencuci tangan, akan tetapi hati penuh dengan kebusukan dan kejahatan? Mencuci tangan itu baik tetapi mesti berorientasi kepada kebersihan hati, dan itu mungkin bagi orang yang membuka diri bagi dan hidup oleh kasih karunia Allah.


Orang demikian memandang bahwa tradisi hidup sehat itu sungguh baik, akan tetapi ia tidak saja berhenti pada aspek lahiriah dan melupakan yang batiniah, mengutamakan tangan dan melupakan hati. Ia sadar bahwa hati yang bersih adalah pusat dari perilaku hidup yang bersih dan sehat.


Tanpa ada hati yang bersih orang terjebak di dalam sikap batin yang legalistis. Hukum dijalankan, bahkan sebegitu ketatnya, akan tetapi demi hukum itu sendiri; orang kehampaan jiwa atau rohnya. Di dalam Injil, Lukas menuliskan, orang-orang Farisi dikatakan Yesus sebagai orang-orang bodoh karena berperilaku demikian.


Yesus tidak mengajak kita untuk melawan tradisi hidup yang baik dan sehat, misalnya kita pada masa covid-19 dianjurkan untuk mencuci tangan, mengenakan masker dan menjaga jarak fisik. Perbuatan-Nya bukan dasar bagi kita untuk melawan protokol kesehatan, namun menjadi ajakan penting bagi kita untuk memenuhi panggilan hidup kita orang beriman.

Iman tidak menuntut kita menjadi pemberontak dan melawan tradisi yang baik dan sehat, sebaliknya dengan iman kita memenuhi panggilan kita untuk menunjukkan disiplin batiniah dari Allah yang jauh lebih utama dan menjadi dasar dari perilaku hidup yang baik dan bersih menurut tradisi hidup kita.


Maka yang perlu kita buat adalah membangun kesadaran untuk mengolah hati kita, membiarkan kasih karunia Tuhan menaungi hati kita dan memberikan diri untuk dibimbing ke dalam kedisiplinan batiniah yang datang dari atas, bukan dari bawah, dari manusia.

Dengan itu kita memiliki jiwa, juga di dalam melakukan apapun yang baik di dalam tradisi hidup kita demi kebersihan dan kesehatan hidup kita, baik secara jasmani maupun secara rohani. ***Apol***

 

Rabu, 07 Oktober 2020

KEKUATAN DOA

Luk 11: 1-4

Hari ini (7/10/2020) Geraja Katolik sejagat merayakan sebuah pesta iman; pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Kenangan akan hari yang sungguh berahmat ini dilatari oleh suatu peristiwa bersejarah yang spektakuler. Pada masa kepemimpinan Paus Pius V (1566 – 1572), gereja Katolik Eropa menghadapi ancaman serius dari armada perang Turki yang dikomandani oleh panglima perang  Halifasha. Untuk menangkal rencana invasi besar-besaran dari para tentara Turki ke negara Eropa, Paus Pius V menunjuk Don Juan (Don Yohanes) dari Austria untuk mengepalai armada perang Eropa. Selain memiliki kompentesi mumpuni untuk memimpin perang, Don Juan dikenal memiliki devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Sebelum para tentara Kristen menaiki kapal di pelabuhan, mereka diberi masing-masing sebuah rosario di tangan kanan. Sambil tangan kiri mereka memegang alat perang.

 

Menyadari bahwa kekuatan musuh jauh lebih banyak dan memiliki perlengkapan perang yang lebih canggih, Paus Pius V meminta semua umat Katolik di Eropa berdoa Rosario dengan intensi khusus penyertaan dan perlindungan kepada armada Kristen yang sementara mengarungi laut untuk menghadang tentara Turki; yang juga sementara berlayar menuju Eropa. Kedua armada perang, Turki dan Eropa, bertemu di laut tengah dekat pantai Yunani. Dan pertempuran besar di Laut Lepanto pada tanggal 7 Oktober itu tidak terhindarkan. Berkat doa rosario yang dipanjatkan oleh umat Eropa kala itu, armada Kristen bisa memenangkan pertempuran dasyat yang terjadi selama dua hari itu. Sebagai tanda syukur atas kemenangan, Paus Pius V (1566 – 1572), menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai hari pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Paus berikutnya, Paus Klemens IX (1667 – 1669), mengukuhkan pesta ini bagi seluruh gereja di dunia. Selanjutnya, Paus Leo XIII (1878 – 1903) meningkatkan nilai pesta iman ini dengan menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario untuk menghormati Bunda Maria.

 

Kekuatan akan dasyatnya sebuah doa juga dicari oleh para rasul melalui bacaan Injil (Luk 11:1-4) yang baru saja diperdengarkan kepada kita. Para murid menyadari bahwa hubungan yang benar kepada Bapa, dan juga kepada Yesus, harus dicari dalam doa. (Tafsir Alkitab PB, hal.136). Para rasul memohon kepada Yesus supaya Dia mengajarkan doa kepada mereka, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yohanes kepada para muridnya (Luk 11:1). Yesus menyadari perutusan-Nya yang mengalir dari Sang Bapa. Oleh karena itu menjadi hal yang pokok bagi-Nya untuk mendekatkan relasi yang intim dari para murid-Nya kepada Sang Bapa. Dengan mengenal Sang Bapa secara lebih dekat, para murid juga otomatis semakin memahami eksistensi Yesus dan segala sepak terjang karya misionernya. Cara yang paling ampuh itu melalui sebuah doa sederhana tetapi sungguh bernilai sakral.

 

Menurut Pater John Laba, SDB, dalam rumusan doa yang diajarkan Yesus kepada murid-Nya terdapat lima kalimat inti. Dari lima kalimat inti dibagi lagi menjadi dua unsur. Unsur yang pertama merupakan dua kalimat doa pengharapan. Sedangkan unsur yang kedua berupa tiga kalimat doa permintaan. Unsur pertama yang berisi kalimat pengharapan terdapat dalam doa, “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu” dan “datanglah kerajaan-Mu”. Menurut Pater John, rumusan “dikuduskanlah nama-Mu”, bukanlah sebuah ungkapan pujian. Namun sebuah harapan. Sebuah harapan mulia agar nama Allah senantiasa dikuduskan, diakui dan dihormati oleh semua orang. Nabi Yehezkiel pernah bernubuat bahwa Allah sendiri akan menguduskan nama-Nya yang sudah dinodai oleh umat Israel (Yeh 36:22-28). Oleh karena itu, menjadi hal yang sangat urgen bahwa nama Allah tidak boleh dipermainkan apalagi dianggap remeh dan dilecehkan. Nama Allah harus tetap menjadi kudus. Rumusan pengharapan yang kedua adalah “datanglah kerajaan-Mu”. Ini juga sebuah harapan agar Allah dapat sukses menegakkan kerajaan-Nya di tengah dunia melalui Yesus dan para murid. Allah tidak mungkin bekerja sendiri menuntaskan karya keselamatan umat manusia. Melalui doa harapan, misi Kerajaan Allah yang sementara diperjuangkan Yesus bersama para mitra kerja-Nya dapat segera terwujud.

 

Unsur yang kedua dari doa yang diajarkan Yesus adalah tiga kalimat permintaan. Kalimat doa permintaan yang pertama adalah “berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya”. Ini adalah sebuah doa permohonan agar Allah memberikan makanan secukupnya. Makanan yang diberikan itu tidak saja berwujud makanan jasmani tetapi juga berupa makanan rohani. Kalimat doa permintaan yang kedua adalah “ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami”. Rumusan permohonan ini tidak saja meminta Allah untuk mengampuni dosa orang yang bersalah. Tetapi juga berisi motivasi agar orang yang sudah dibebaskan dosanya memiliki kemampuan untuk mengampuni segala kesalahan atau kekeliruan dari saudara atau sesamanya yang lain. Kalimat doa permintaan yang terakhir adalah “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”. Dalam iman orang percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi berasal dari Allah termasuk di dalamnya hal-hal pencobaan. Doa ini memohon kepada Allah agar orang tidak dimasukkan ke dalam pencobaan. Kalau pun orang sudah berada dalam pusaran pencobaan, Allah dapat memberikan kekuatan dan perlindungan agar manusia tidak menjadi mati melainkan bisa bangkit lagi.

 

Lima mutiara indah yang terdapat dalam rumusan doa Yesus tidak saja mendekatkan dan merekatkan relasi personal dan kolektif dua belas rasul kepada Allah dan juga kepada Yesus. Namun memberi banyak energi positif bagi para rasul. Para rasul semakin dikuatkan dan diteguhkan untuk tidak takut menjadi seorang agen perutusan Allah. Memang akan banyak sekali tantangan dan cobaan yang akan mereka hadapi sebagai konsekuensi menjadi seorang murid. Berkat kekuatan doa yang sederhana, darah kemartiran mereka akan tetap hidup demi terwujudnya Kerajaan Allah di muka bumi.

 

Sebagai seorang laskar Kristus era ini, kekuatan utama kita adalah doa. Yesus sudah mengajarkan sebuah doa yang sungguh dasyat kepada kita. Sebuah doa yang mempresentasikan keagungan dan kebesaran nama-Nya. Di balik keagungan dan kekudusan nama-Nya, Ia adalah Allah yang imanen, yang datang menegakkan kerajaan-Nya di dunia. Karena itu, Ia pasti akan memberi kita kelimpahan dari berkat-Nya. Ia akan mengampuni dosa kita supaya kita juga mau mengampuni dosa orang lain. Dan Ia selalu memberi kita kekuatan di kala kita sedang ditimpa kemalangan dan kesusahan.    Dengan doa yang sederhana itu, semakin menguatkan simpul-simpul relasi kita dengan Allah dan Yesus. Lebih dari itu, kita tidak malu untuk mengungkapkan dan mewartakan identitas iman kita kepada orang lain. Tidak saja kepada saudara/i seiman, tetapi terutama kepada mereka yang berbeda identitas iman dengan kita.  Mari kita semakin mengencangkan ikat pinggang kekatolikan kita di bulan Rosario ini dengan berdoa kepada Bapa dan Putera, bersama Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Karena dengan kekuatan doa, tanpa meminta pun, Tuhan pasti mengabulkan apa yang menjadi harapan dan keinginan kita. Amin. ***Atanasius KD Labaona***


Senin, 05 Oktober 2020

Kerja dan Kontemplasi

Gal 1:13-24 & Luk 10:38-42

Allah memilih setiap orang dengan peran masing-masing dalam kehidupan ini. St. Paulus menyaksikan dirinya sebagai yang terkemuka dari antara teman-temannya dalam menjaga dan memelihara tradisi nenek moyang, namun dari awal ia sudah ditentukan untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Kehidupannya sebelum pertobatan adalah suatu persiapan penting dan memberi makna pada tugas baru yang telah ditentukan Allah itu.


Di antara sekian banyak banyak orang, ada yang memiliki pengalaman serupa. Pengalaman-pengalaman sebelumnya dialami sebagai suatu persiapan bagi suatu “pekerjaan” baru sesuai kehendak Tuhan yang telah ditentukan sejak awal. Banyak kesaksian pertobatan berawal dari suatu titik pengalaman yang penuh dengan kekerasan dan situasi kaotik. Orang menemukan tempat yang sesungguhnya dan apa pekerjaan yang mesti dilakukan.


Marta dan Maria seperti yang dikisahkan dalam Injil Lukas pada hari ini menampilkan ciri-ciri tentang panggilan hidup dan peran yang unik masing-masing kita sebagai umat beriman. Marta ditampilkan sebagai seorang pelayan yang bekerja di dapur untuk menjamu Yesus dan para murid-Nya. Sedangkan Maria duduk di kaki Yesus dan setia mendengarkan setiap kebenaran yang diajarkan Tuhan.


Dalam tradisi hidup religius,  kehidupan Marta dan Maria ditunjukkan secara lebih spesifik. Kedua tokoh ini dijadikan simbol dari kehidupan aktif dan kontemplatif. Marta mewakili yang aktif dan Maria untuk yang kontemplatif.

 

Menjadikan kedua tokoh ini sebagai simbol yang menandai karakteristik kehidupan religius mengungkapkan fakta bahwa sebenarnya peran Marta tidak kurang berarti daripada peran Maria. Kedudukan Marta tidak lebih rendah. Memasak dan menghidangkan jamuan tidak lebih murahan daripada duduk di bawa kaki Yesus dan mendengarkan-Nya. Keduanya sama-sama berarti.


Kerja aktif juga adalah ekspresi nyata dari kehidupan rohani dan iman Marta. Namun yang dikritisi oleh Yesus adalah “bekerja sambil mengeluh”. Keluhan mengaburkan sasaran dari pelayanan, bahkan menghilangkan nilai rohani dan iman Marta.


Kata-kata Yesus bahwa Marta menyusahkan diri dengan banyak perkara dan melupakan yang terutama, yaitu mendengarkan Dia, tidak dimaksudkan untuk merendahkan pekerjaan unik Marta. Namun karena ia terlalu sibuk bekerja dan lupa mendengarkan Dia maka ia terjebak dalam pekerjaan yang diwarnai dengan keluhan. Kasihnya yang mau ditunjukkan kepada Yesus dan para murid-Nya dalam pelayanan jamuan menjadi kabur.


Dengan itu, kepada Marta Yesus seakan mengatakan bahwa mendengarkan Dia itu penting agar hati menjadi murni dan pelayanan yang diberikan juga menjadi tulus ikhlas. Yesus mengundang Marta untuk memberi nilai pada pelayanannya dengan kontemplasi seperti yang ditunjukkan Maria, bukan menggantikannya. Sehingga  apapun yang dikerjakan selalu akan mencerminkan kerohanian dan keimanannya. Dan itulah yang menentukan nilai dari kesibukannya di dapur.


Pentingnya untuk kita adalah bahwa meskipun masing-masing kita diberi peran tersendiri, namun karena kita membawa dalam diri kita dua dimensi kehidupan yang diwakilkan oleh Marta dan Maria, maka penting sekali menjaga dan merawat keseimbangan antara dimensi aktif dan kontemplatif dari kehidupan kita. Keduanya saling mengandaikan. Kerja mesti mengungkapkan dimensi kerohanian dan keimanan kita. Sebaliknya dimensi kontemplatif menjadi dasar, sumber dan acuan bagi kerja kita.


Kerja atau karya aktif itu penting sebagai pengungkapan iman akan Allah yang aktif bekerja dalam sejarah keselamatan manusia; kerja kita juga menunjukkan partisipasi kita dalam karya Allah itu. Namun agar kerja kita terarah kepada pengungkapan iman dan kerohanian kita maka karya itu membutuhkan asupan energi dari doa dan kontemplasi atas Sabda Allah. Ingat! Kerja dan kontemplasi bukan dua hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan perwujudan diri sebagai orang yang beriman kepada Tuhan.


Pada umumnya, kita sebagai kaum awam mengambil peran sebagai seorang Marta yang bekerja dan berkarya secara aktif dalam bidang tugas kita masing-masing. Namun kita juga tidak bisa melupakan aspek kontemplatif yang mendasari dan menjiwai karya kita. Maka baiklah kita mengikuti nasihat klasik orang Latin: Ora et Labora, berdoalah dan bekerjalah. **Apol***

Minggu, 04 Oktober 2020

SESAMAKU MANUSIA

Luk 10:25-37

Pernah dalam tayangan di sebuah stasiun televisi menampilkan seorang ibu berjilbab dan bercadar, terkena kecelakaan lalu lintas. Ia mengalami kecelakaan yang cukup serius sehingga menyebabkan hampir seluruh anggota tubuhnya mengalami luka. Kepalanya mengeluarkan darah dan terus mengalir membasahi wajahnya. Anehnya, ketika ada orang mendatanginya hendak menolong, sang ibu malang tersebut menolaknya. Ia berteriak dengan keras dan melarang orang yang datang untuk mendekatinya. Rupanya latar ibu ini berasal dari salah satu aliran keagamaan yang keras. Aliran atau kelompok keagamaan yang memandang makna sesama manusia hanya dalam scope aliran agama tersebut. Orang lain di luar aliran agama tersebut, dianggap bukan sebagai sesama manusia. Tidak heran ketika orang lain hendak datang menolongnya, ia dengan tegas menolak karena bukan masuk dalam kategori sesama menurut pandangan atau ajaran agamanya.

 

Hari ini Yesus meladeni seorang ahli taurat yang hendak mencobainya. Term mencobai dalam konteks bacaan Kitab Suci (Luk 10:25) ditafsir memiliki konotasi yang negatif. Sang ahli taurat sudah  paham dan tahu apa yang hendak ditanyakannya. Tetapi karena bermaksud menjebak dan mencari celah untuk menyalahkan Yesus, ahli taurat itu mengajukan pertanyaan kepada Yesus. Intisari pertanyaan dari sang ahli taurat adalah bagaimana bisa mendapatkan hidup yang kekal. Yesus dengan cerdas tidak langsung menjawabnya. Ia membiarkan ahli taurat menemukan sendiri jawaban atas pertanyaannya. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengang segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Luk 10:27)”, kata sang ahli taurat sambil mengutip langsung kutipan yang tertera dalam kitab Taurat. Dan Yesus membenarkan jawabannya itu.

 

Ahli Taurat ternyata belum menunjukkan kepuasannya. Ia kemudian mempertanyakan kepada Yesus, siapa sebenarnya sesama manusia itu. Dalam pandangan agama Yahudi, makna sesama manusia hanya berlaku dalam jangkauan umat Yahudi. Di luar komunitas Yahudi, seseorang tidak dapat dipandang sebagai sesama manusia. Orang di luar agama Yahudi dianggap sebagai orang kafir. Orang kelas rendahan yang tidak pantas bergaul dengan orang Yahudi. Tidak hanya itu, bercengkerama dengan orang non Yahudi bisa mengakibatkan najis bagi orang Yahudi sendiri. Bayangkan saja. Hanya sekedar ngobrol biasa saja sudah dianggap berdosa. Apalagi mengasihi mereka. Ini pelanggaran berat yang tidak bisa diampuni.

 

Yesus sudah menangkap maksud dari pertanyaan ahli kitab suci Yahudi tersebut. Yesus menjawab rasa penasaran orang tersebut dengan membuat sebuah ilustrasi yang menarik. Ilustrasi itu pada intinya menggambarkan seseorang yang menjadi korban perampokan dan penganiayaan. Ia tergeletak tidak berdaya di jalan. Kebetulan berturut-turut lewat seorang imam dan lewi. Mereka hanya menatap sebentar lalu segera berlalu. Dua orang “petinggi” agama Yahudi ini tidak memberikan pertolongan karena dua alasan. Pertama, takut kalau si korban sudah mati. Dalam ajaran Yahudi menyentuh mayat adalah sebuah tindakan najis yang menyebabkan dosa. Dua orang Yahudi itu takut terkena ganjalan peraturan yang menjadikan pribadi mereka tidak layak berdiri melayani Allah di Bait Allah. Kedua, mungkin mereka juga takut kalau si korban hanya dijadikan sebagai umpan oleh para kawanan perampok yang bersembunyi di sekitar tempat itu. Mereka takut menjadi korban pula. Oleh karena itu mereka mengambil tindakan paling aman dengan tidak menolong dan segera pergi dari TKP (Tempat Kejadian Perkara).

 

Orang ketiga yang lewat di tempat itu adalah seorang Samaria. Hal yang logis dan wajar ia lakukan adalah seharusnya tidak menolong. Karena, si korban yang ternyata adalah seorang Yahudi tidak pantas mendapat pertolongan darinya. Orang Yahudi menganggap orang Samaria sebagai bangsa kafir (sama seperti bangsa lain). Walaupun secara kultur mereka berasal dari akar Yahudi yang sama, namun darah mereka sudah tidak pure Yahudi akibat kawin campur dengan bangsa lain. Hal ini yang membuat orang Yahudi asli tidak mengganggap mereka sebagai saudara sendiri. Malahan orang Samaria dicap sebagai orang berdosa. Tetapi kenyataan berbeda ditunjukkan oleh orang Samaria ketika melihat saudaranya dari Yahudi tergeletak tidak berdaya di jalan. Ia segera menolong orang itu dan membalut luka-lukanya. Tidak sampai di situ saja. Ia membawa si korban ke tempat penginapan, membayar biaya penginapan dan merawatnya sampai sembuh.

 

Dari ilustrasi ini, sudah menjadi jelas bagi ahli taurat tentang makna sebenarnya dari sesama manusia. Yesus hendak menunjukkan sekaligus menegaskan bahwa makna sesama manusia sebenarnya tidak seperti yang dipegang dan dipahami oleh orang Yahudi selama ini. Sabda Yesus ini per se mendobrak kepercayaan sempit dan sesat dari orang Yahudi. Sesama manusia jauh melampaui aspek genealogis, bangsa, agama, dan golongan. Sebuah pemikiran bernas dan revolusioner kala itu yang mengangkat derajat bangsa lain agar tidak direndahkan oleh bangsa Yahudi. Lebih dari itu, Yesus sementara menajamkan dan membumikan warta keselamatan dari Bapa-Nya sendiri. Kasih kepada Allah yang total menjadi prasyarat bagi manusia untuk mengasihi sesamanya dengan total dan tanpa batas. Demikian juga, kasih kepada sesama merepresentasikan kasih manusia kepada Sang Pencipta-Nya.

 

Bagi saya secara pribadi, bacaan Injil ini membuka cakrawala berpikir kita tentang siapa sebenarnya sesama manusia itu. Sesama manusia yang tidak sekedar dilandasi oleh unsur kekeluargaan, kesenangan, kesamaan minat dan bakat; ataupun berbagai kepentingan yang bermain di dalamnya. Sesama manusia juga tidak dibatasi oleh kesamaan wilayah, suku, agama dan golongan. Sesamaku manusia adalah siapa saja yang melintasi ruang dan waktu. Siapa saja yang tidak digembok oleh batas-batas manusiawi. Orang Samaria telah mengajarkan sesuatu yang sangat bernilai dalam hidup kita. Tentang mengasihi sesama manusia tanpa batas. Mengasihi sesama manusia dengan total. Dan pada akhirnya kita akan mengenyam kehidupan yang kekal. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***