Gal 4:31b-5:6 & Luk 11:37-41
Menurut St. Paulus, Iman yang bekerja oleh kasih menyatu dengan pengharapan
akan Tuhan dan itu dikerjakan oleh Roh Kudus. Karena iman itulah, setiap orang
boleh menantikan kebenaran yang diharapkan dari Tuhan, bukan oleh hukum Taurat.
Maka menurut Paulus, orang-orang yang mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat
hidup di luar kasih karunia Tuhan. Mereka mengharapkan kebenaran karena
ketaatan legalistis atas hukum Taurat.
Orang-orang Farisi tergolong dalam kelompok
orang yang melakukan hukum Taurat dan berharap dibenarkan oleh hukum itu.
Seperti penyunatan yang menjadi tekad mereka, demikian juga berbagai peraturan
hukum yang lain dan penerapannya dalam berbagai aturan praktis yang tak
terhitung jumlahnya.
Mencuci tangan sebelum makan adalah salah satu
tradisi yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Yahudi. Tentu ini tradisi
yang baik karena menyangkut hidup yang sehat dan setiap orang yang melakukannya
akan mendukung terciptanya suatu masyarakat yang sehat. Mencuci tangan, oleh
karena itu, menjadi salah satu bentuk perwujudan pola hidup masyarakat yang
sehat. Namun sikap legalistis meracuni jiwa orang-orang Farisi sehingga mereka
terlampau berharap akan dibenarkan karena ketaatan terhadap hukum.
Keheranan orang Farisi atas Yesus yang makan di rumahnya tanpa mencuci tangan
terlebih dahulu bertitik tolak pada sikap dasar mereka terhadap hukum Taurat.
Maka keheranan itu lebih mengarah kepada sikap mempersalahkan dan mengadili.
Bisa dibayangkan isi otaknya orang Farisi itu, mengapa Yesus sebagai seorang
Rabi menunjukkan perilaku hidup yang berlawanan dengan tradisi hidup mereka?
Di luar dugaan Yesus memberikan tanggapan yang luar biasa: "Kamu
orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan,
tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”.
Penekanan Yesus di sini adalah bahwa orang
boleh memiliki tangan yang bersih, tetapi jauh lebih penting adalah memiliki
hati yang bersih. Apalah artinya mencuci tangan, akan tetapi hati penuh dengan
kebusukan dan kejahatan? Mencuci tangan itu baik tetapi mesti berorientasi
kepada kebersihan hati, dan itu mungkin bagi orang yang membuka diri bagi dan
hidup oleh kasih karunia Allah.
Orang demikian memandang bahwa tradisi hidup sehat itu sungguh baik, akan
tetapi ia tidak saja berhenti pada aspek lahiriah dan melupakan yang batiniah,
mengutamakan tangan dan melupakan hati. Ia sadar bahwa hati yang bersih adalah
pusat dari perilaku hidup yang bersih dan sehat.
Tanpa ada hati yang bersih orang terjebak di dalam sikap batin yang legalistis.
Hukum dijalankan, bahkan sebegitu ketatnya, akan tetapi demi hukum itu sendiri;
orang kehampaan jiwa atau rohnya. Di dalam Injil, Lukas menuliskan, orang-orang
Farisi dikatakan Yesus sebagai orang-orang bodoh karena berperilaku demikian.
Yesus tidak mengajak kita untuk melawan tradisi hidup yang baik dan sehat,
misalnya kita pada masa covid-19 dianjurkan untuk mencuci tangan, mengenakan
masker dan menjaga jarak fisik. Perbuatan-Nya bukan dasar bagi kita untuk
melawan protokol kesehatan, namun menjadi ajakan penting bagi kita untuk
memenuhi panggilan hidup kita orang beriman.
Iman tidak menuntut kita menjadi pemberontak
dan melawan tradisi yang baik dan sehat, sebaliknya dengan iman kita memenuhi
panggilan kita untuk menunjukkan disiplin batiniah dari Allah yang jauh lebih
utama dan menjadi dasar dari perilaku hidup yang baik dan bersih menurut
tradisi hidup kita.
Maka yang perlu kita buat adalah membangun kesadaran untuk mengolah hati kita,
membiarkan kasih karunia Tuhan menaungi hati kita dan memberikan diri untuk
dibimbing ke dalam kedisiplinan batiniah yang datang dari atas, bukan dari
bawah, dari manusia.
Dengan itu kita memiliki jiwa, juga di dalam
melakukan apapun yang baik di dalam tradisi hidup kita demi kebersihan dan
kesehatan hidup kita, baik secara jasmani maupun secara rohani. ***Apol***