Senin, 24 Agustus 2020

TUGAS KITA MENGHADIRKAN KEADILAN DAN BELAS KASIH ALLAH

 

Mat 23:23-26

 

            Dunia jaman modern sekarang sudah sangat berubah, hukum dan peraturan yang dibuat demi tegaknya keadilan dan kedamaian dilanggar begitu saja. Manusia lebih senang hidup dalam ketidakadilan dengan melakukan banyak tindakan penyimpangan yang menekan dan memeras kehidupan sesamanya. Harmonisasi dan hidup damai sepertinya hanya mimpi belaka bahkan menjadi terusik karena manusia suka bermusuhan. Dalam praktek hidup beragama, manusia membutuhkan hukum dan peraturan untuk mengatur kehidupan iman secara baik dan benar, dan esensi dari setiap hukum dan peraturan menurut Yesus adalah keadilan, belas kasih dan kesetiaan. Tugas dan panggilan kita semua sebagai murid-murid Kristus adalah merehabilitasi keadilan dan belas kasih di muka bumi ini agar mendatangkan dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia.

            Kisah Injil yang baru saja kita dengar berisikan kecaman pedas Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena kedua golongan elite Yahudi ini menyimpang dari ajaran iman atau prinsip-prinsip spiritual yang telah ditetapkan Allah dalam Hukum Taurat. Yesus mengecam mereka karena mereka menekankan ketaatan buta terhadap hukum dan peraturan lebih-lebih soal membayar pajak dan membersihkan segala perlengkapan ibadah. Mereka kelihatan sangat munafik, selalu menutup-nutupi dosa dengan berlagak kudus, selalu menutup-nutupi keserakahan dengan berpura-pura kusyuk berdoa dengan formulasi doa yang panjang-panjang tetapi hidup mereka jauh dari nilai-nilai keadilan dan belas kasih. Menurut Yesus, tak ada gunanya mereka membersihkan bagian luar cawan, menapis nyamuk dalam minuman dan membayar persepuluhan tetapi sikap dan tindakan mereka tidak adil bahkan berbagai tindakan kejahatan muncul dalam praktek hidup mereka sehari-hari. Yesus menegaskan bahwa praktek hidup keagamaan harus menampakkan keadilan, belas kasih dan kesetiaa Allah bukan ketaatan buta terhadap hukum dan peraturan yang membelenggu sesama. Hukum dan peraturan sangat dibutuhkan dalam mengatur tatanan hidup bersama tetapi jangan mengorbankan keadilan dan belas kasih. Yesus sangat keras mengkritisi perilaku hidup orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, Ia menunjukkan kerakusan, kemunafikan dan kesombongan mereka. Kritik Yesus ini mau mengatakan bahwa hati, pikiran dan budi kita harus bersih dan bening, kita harus membersihkan hati agar segala kebaikan, kerendahan hati dan kesetiaan dapat muncul untuk membantu sesama kita bertobat dan mengalami perubahan sikap iman. Kita harus berjuang meninggalkan cara hidup lama kita dan rendah hati mengenakan cara hidup baru meskipun dibayang-bayangi resiko karena kesetiaan kita pada Yesus. Konsekuensi dari pilihan kita akan mendatangkan kesengsaraan, namun dalam kaca mata iman kita yakin bahwa kita sedang ikut ambil bagian dalam salib penderitaan Tuhan untuk mencapai keselamatan paripurna. Perubahan sikap itu harus lahir atas dasar kesadaran hati bukan karena kemunafikan. Sudah saatnya kita memerangi sikap hidup orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang merasuki hidup orang modern ini dan meneladani cara hidup baru dari Yesus sebagai Guru kebajikan kita yang datang untuk menyelamatkan yang hilang dan berdosa.

            Tujuan hukum dan aturan agama ditegakkan pada dasarnya untuk menebar kasih dan melayani sesama bukan untuk menindas mereka. Karena itu bagi Yesus,  menghargai orang dengan menegakkan keadilan dan belas kasih jauh lebih penting daripada sebatas menegakkan hukum dan peraturan menurut definisi manusia. Yesus menghendaki agar hidup keagamaan kita memiliki keseimbangan antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan atau...(omong apa yang kita buat dan buat apa yang kita omong). Penghayatan hidup keagamaan harus bersumber dari dalam hati dan memancar keluar dalam tindakan  dan perilaku hidup sehari-hari. Banyak aturan yang kita buat sendiri  dengan mulut manis dan tipu daya, lalu agama menjadi objek bisnis mencari hidup dan meraup keuntungan darinya maka, mereka yang kita layani akan menjadi kering kerontang alias lesu, hidup iman dan ketaatan dalam beragama tidak maksimal bahkan suam-suam kuku. Model penghayatan iman yang demikian akan membuat kita hidup dalam kemunafikan seperti ahli-ahli Taurat dan orang Farisi yang sibuk menekankan secara ketat hal-hal lahiriah sambil mengabaikan aspek fundamental hati dan perkembangan iman. Nafsu untuk dihormati dan dianggap penjaga Hukum Taurat yang benar sungguh-sungguh membawa umat ke ambang kehancuran maut, karena praktis menyesatkan mereka dan menjauhkan mereka dari tawaran keselamatan Allah.

            Kehadiran orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memberi pelajaran berharga bagi kita pengikut-pengikut Kristus agar kita dapat mengubah sikap dan tindakan kita dihadapan Tuhan dan sesama. Tujuan pewartaan dan pelayanan kita mesti jelas dan terukur dan apa yang kita wartakan harus sesuai dengan Kehendak Allah, bukan kebijakan dan peraturan yang kita ciptakan sendiri demi mempertahankan status quo kita. Yesus menghendaki agar perubahan dan orientasi pewartaan kita meluluh untuk membawa lebih banyak orang ke jalan keselamatan bukan jalan kesesatan. Dan perubahan itu pertama-tama datang dari diri kita sendiri yang diperkuat niat yang positif. Hati harus menjadi bingkai kehidupan kita yang memuat gambar dan cuplikan kesetiaan kita mengemban tugas mewartakan kabar suka cita dan keselamatan  Allah. Hati harus dijauhkan dari keinginan dan hasrat tak teratur agar kebaikan dapat muncul dan memancar keluar untuk memberikan terang dan harapan tentang kasih setia Tuhan yang senantiasa menantikan pertobatan sejati dari manusia.

            Hari ini Yesus sebenarnya sedang memanggil kita semua untuk membersihkan hati kita dari berbagai rampasan, kejahatan, kesesatan, penindasan, kemunafikan dan ketidakadilan yang kita lakukan terhadap sesama kita apalagi bila kita adalah agen pewarta keselamatan. Yesus menghendaki agar kita kembali ke jalan yang benar, jalan yang mengarahkan kita kepada keselamatan. Tugas kita sebagai pewarta adalah mewartakan kebenaran Allah dan membantu sesama kita menemukan jalan keselamatan itu. Tuhan tidak boleh ditampakkan sebagai pelaku kejahatan dan ketidakadilan. Agama mestinya hadir dengan suara kenabiannya memperjuangkan keadilan dan belas kasih Allah bagi setiap umat manusia untuk mengalami kehadiran Tuhan. Artinya, agama hadir untuk membebaskan umatnya bukan berjuang untuk membelenggu mereka apalagi menyesatkan, agar kehidupan iman umat semakin bertumbuh dan berkembang. Kiranya kita sebagai murid-murid Kristus terdorong untuk terus mempraktekkan kehidupan agama yang benar dengan menekankan esensi dan hakikat dari hukum dan peraturan demi terwujudnya keadilan dan belas kasih Allah. Untuk itu, kita memerlukan kejujuran dan kemauan yang kuat agar selalu meneladani Kristus yang setia pada salib-Nya untuk membebaskan kita dari belenggu dosa untuk memberi kita hidup yang kekal.

...***Bernad Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar