Yoh 12:24-26
Di antara dua pilihan yang dilematis; mau menyelamatkan nyawanya sendiri
atau bayi yang sementara dikandung di dalam rahimnya, sang ibu yang saya kenal
ini harus mengambil salah satu pilihan yang pasti. Dua pilihan yang serba
berisiko. Memilih nyawa sendiri artinya mengorbankan pilihan yang lain yakni
harus kehilangan buah hatinya. Dan memelihara janin dalam tubuhnya, itu artinya
sang ibu harus siap menghadapi kematiannya sendiri. Vonis dari pihak medis atas
penyakit kanker payudara stadium empat (stadium akhir) yang sementara
dideritanya mendorong ibu ini harus memilih salah satu dari dua pilihan yang
sulit. Bertolak belakang dengan keinginan keluarga besarnya agar ia harus
menjaga nyawanya, sang ibu ternyata diam-diam mengambil risiko sebaliknya. Ia
harus rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan sang buah hati. Sang buah
hati yang sudah sejak lama dinanti-nantikan akhirnya lahir juga di muka bumi.
Namun tak lama berselang, sang ibu harus pergi menghadap Sang Khalik ketika
sementara menjalani terapi kesehatan di sebuah rumah sakit. Inilah sepenggal
kisah nyata tentang pengorbanan seorang ibu yang rela mengorbankan nyawanya
demi kehidupan baru sang bayi yang ada dalam kandungannya.
Yesus dalam bacaan Injil (Yoh 12:24-26) yang kita baca pada hari ini (Senin/10/8/2020) secara tidak langsung menjelaskan tujuan dari kehidupan iman bahwa tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan, tidak ada hidup yang berbuah tanpa kematian, tidak ada kemenangan tanpa penyerahan, dan tidak ada buah tanpa korban. Pastinya ada satu keindahan jikalau benih itu mati dan memenuhi tujuannya. Hal ini tampak dari kata-kata Yesus sendiri: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24). Biji gandum tetap tinggal menjadi sebuah biji yang tak bernilai apabila ia tidak ditaru pada tempat yang semestinya. Ia akan menjadi efektif apabila dimasukkan ke dalam tanah. Dengan demikian ia akan mati. Tetapi dari padanya akan tumbuh tunas baru yang menghasilkan sebuah kehidupan baru yang akan memberi kehidupan kepada segenap makhluk yang menikmati buahnya.
Analogi biji gandum yang diperdengarkan Yesus menjelang kematian-Nya,
sebenarnya menggambarkan alur kehidupan yang sementara dan nanti dijalani-Nya.
Bahwa Yesus adalah anugerah terindah yang telah dihadirkan Allah di tengah
dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari kedosaannya. Yesus adalah gambaran
Allah yang hadir secara manusia untuk menyampaikan misi pertobatan dan membawa
manusia hidup mesra kembali bersama Allah. Namun faktanya tidak semudah
membalikkan telapak tangan. Ada banyak manusia yang percaya kepada Yesus dan
hidup dalam terang-Nya. Tetapi lebih banyak manusia yang hidupnya masih jauh
dari kata selamat. Entah itu karena sikap tidak percaya, sudah percaya namun
jatuh lagi dalam sikap tidak percaya atau bisa juga belum tersentuh sama
sekalih oleh warta keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Pada intinya, Yesus
menyadari bahwa misi keselamatan bagi dunia tidak hanya sekedar mewartakan
sabda dan membuat banyak tanda heran (mukjizat). Misi keselamatan itu harus
mencapai puncaknya dengan sebuah tindakan pengorbanan diri.
Selama dalam masa pengembaraan di dunia, sudah begitu banyak aksi pengorbanan yang dilakukan oleh Yesus. Baik lewat sabda yang membawa harapan dan kesejukan hidup bagi segenap orang yang mendengarkan-Nya, maupun lewat tanda heran yang telah membawa keselamatan hidup bagi mereka yang sementara menderita sakit atau bahkan sudah mengalami kematian. Selanjutnya, Yesus hendak membuktikan pengorbanan-Nya yang final sekaligus paling luhur, yakni mati di kayu salib. Dengan mati di kayu salib, misi keselamatan umat manusia yang diemban Yesus telah mencapai garis finis. Berkat darah yang keluar dari bilur-bilur luka-Nya dan tertumpah pada kayu salib, semua umat manusia diselamatkan dari kedosaan. Umat manusia yang sebelumya tenggelam dalam jurang kegelapan, berkat korban Yesus di salib, kini mereka diangkat kembali untuk masuk dalam cahaya Allah Bapa di sorga. Pengorbanan Yesus di salib sungguh membawa kehidupan baru bagi umat manusia. Umat manusia dapat kembali hidup dalam terang Allah. Tidak hanya sampai di situ, pengorbanan Yesus sungguh membawa inspirasi bagi banyak orang kudus yang telah membaktikan seluruh hidup mereka untuk melanjutkan misi penyelamatan Allah di muka dunia.
Salah satu orang kudus yang telah mengorbankan seluruh hidupnya bagi Allah adalah Santo Laurensius yang perayaannya kita peringati pada hari ini. Santo Laurensius adalah salah satu dari tujuh diakon yang menjadi martir bersama Paus Santo Sixtus II pada masa penganiayaan kaisar Valerianus. Ia diperkirakan lahir di kota Huesca Spanyol, sebuah kota di wilayah Aragon dekat kaki pegunungan Pyrenees. Salah satu aksinya yang menantang maut adalah tidak mengindahkan kemauan dari prefek Roma untuk menyerahkan segala harta kekayaan gereja yang disimpannya. Laurensius malah membagi seluruh harta gereja itu kepada orang miskin. Kemudian, ia memimpin para orang miskin, orang cacat, orang buta, dan orang sakit berarak menuju kediaman prefek kota Roma. Kepada penguasa Roma itu, Laurensius berkata: “Tuanku, inilah harta kekayaan gereja yang saya jaga. Terimalah dan peliharalah mereka dengan sebaik-baiknya.” Tindakan dan kata-kata Laurensius ini dianggap sebagai suatu bentuk olokan dan penghinaan terhada penguasa Roma. Karena itu, ia segera ditangkap dan dipanggang hidup-hidup di atas terali besi yang panas membara. Laurensius akhirnya menghembuskan nafasnya di atas pemanggangan itu sebagai seorang laskar Kristus yang militan (Katakombe, Org).
Santo Laurensius telah meneladani semangat pengorbanan yang diwariskan oleh Sang Guru Ilahinya yakni Yesus Kristus. Laurensius tidak hanya mendedikasikan seluruh hidupnya demi melayani semua umat tetapi ia juga mengorbankan nyawanya demi mempertahankan imannya akan Yesus. Darah kemartiran Laurensius tentu saja tetap membakar semangat hidup orang kristiani saat itu untuk tidak mundur setapak pun. Melainkan tetap berjuang mempertahankan imannya dengan tetap menunjukkan identitas kristiani untuk saling memberi dan melayani satu sama lain.
Semangat pengorbanan Santo Laurensius menegasikan sikap ego dan apatisme kita di era ini. Pengalaman empiris membuktikan bahwa kita sebagai pengikut Kristus masih saja terjebak dalam sikap destruktif demikian. Kita lebih sibuk mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok kita namun susah melihat kepentingan orang di luar kita sebagai kepentingan kita juga. Kita lebih banyak mengambil sikap aman untuk menyelamatkan hidup kita dari pada berkorban untuk memberi diri dan menyelamatkan hidup orang lain yang sementara mengalami keterpurukan. Kita juga dihinggapi virus apatisme yang akut. Kita lebih memilih sikap diam, masa bodoh, atau antipati manakala menyaksikan orang lain mengalami penderitaan dan kegagalan dalam hidup. Bahkan kita merasa senang di atas penderitaan yang dialami oleh orang lain. Sikap ego dan apatisme adalah dua sikap negatif yang mengikis rasa kemanusiaan kita untuk mau berkorban demi orang lain.
Hari ini kita belajar dari Yesus dan Santo Laurensius untuk segera meninggalkan sikap ego dan apatisme. Kita harus segera memperbaiki dan mematangkan sikap kita untuk lebih menonjolkan semangat pengorbanan dalam hidup kita. Semangat pengorbanan adalah ciri hidup iman kita. Tanpa pengorbanan, hidup iman kita akan menjadi tawar dan tidak berkembang. Kita sungguh dimatangkan dalam iman apabila kita mau melapisi diri dengan semangat pengorbanan. Semangat yang akan melahirkan sebuah kegembiraan dan kehidupan dalam iman. Pengorbanan Yesus di atas kayu salib telah mengokohkan kemuliaan nama Allah untuk tetap berjaya di tengah dunia. Santo Laurensius pun demikian. Kemuliaan Allah semakin bersinar dengan semangat pergorbanan yang telah ditunjukkannya. Mari kita semakin berbenah diri untuk mengembangkan semangat pengorbanan dalam hidup kita. Minimal kita mau menunjukkan sikap pengorbanan yang paling sederhana dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar