Senin, 10 Agustus 2020

MARI BELAJAR DARI KEPOLOSAN HATI ANAK KECIL

                                                           Mat 18:1-5,10,12-14

            Menjadi pintar dan menjadi orang baik butuh suatu proses yang dinamakan belajar. Belajar sebagai satu sistem, orang bisa belajar di sekolah yang disebut pendidikan formal dan juga belajar di luar sekolah yang disebut pendidikan non formal. Dalam belajar orang diajar oleh seseorang seperti guru, orang tua, oleh masyarakat dan lingkungan kita. Tujuan orang belajar untuk menggapai hidup yang baik dan benar. Hidup dan pengalaman hidup menjadi sebuah sekolah kehidupan dan sekolah kehidupan itu berlangsung sepanjang orang mau belajar dari hidup orang lain, dari spiritualitas santo santa dan dari pengalaman hidup nyata orang lain sebagai guru kehidupan yang baik. Ajakan Yesus untuk belajar dari anak kecil hari ini bukanlah suatu penghinaan bagi orang dewasa. Mungkin kita serentak berkata: apa sih yang bisa kita dapatkan dari mereka, sedangkan mengurus diri saja mereka tidak mampu. Nilai penting apa yang bisa kita pelajari dan dapatkan dari kepolosan mereka? Sikap dan sifat seorang anak kecil yang tak berdaya dan polos justru dijadikan oleh Yesus sebagai rujukan bagi orang dewasa dalam membangun hidup iman sebagai murid-murid Kristus.

            Pikiran para murid Yesus masih sangat duniawi, dimana Kerajaan Allah dianggap sama dengan kerajaan dalam pandangan manusiawi yang ada rajanya dan masyarakat yang diperintah. Karena itu, mereka berlomba-lomba untuk menjadi penguasa dalam kerajaan manusiawi. Para murid bertanya kepada Yesus: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.” Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan mereka tetapi membuka mata hati mereka untuk memandang seorang anak kecil yang ditempatkan Yesus di tengah-tengah mereka. Yesus berkata: “sesungguhnya jikalau kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Barang siapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini dialah yang terbesar di dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3). Yesus membandingkan anak kecil dengan diriNya, artinya menerima anak kecil berarti menerima Yesus sendiri. Di sini Yesus menghendaki agar para murid dapat menjauhkan diri dari sikap ambisi duniawi yang berlebihan karena sikap itu tidak banyak gunanya dalam hidup bersama. Ambisi berlebihan itu harus diganti dengan sikap rendah hati sebagaimana disimbolkan oleh anak kecil, karena Yesus sendiri adalah lemah lembut dan rendah hati. Agar supaya bisa mengurangi ambisi pribadi di atas dan bersikap rendah hati maka kita harus bertobat. Kita berjuang untuk berbalik kepada Tuhan yang rendah hati dalam diri Yesus Kristus teladan hidup Kristiani. Yesus dalam Injil hari ini menginginkan para murid-Nya memiliki kepolosan hati seperti anak kecil karena dunia orang dewasa sering dinodai oleh keinginan dan napsu untuk menguasai orang lain, ingin menjadi penguasa tunggal yang bisa menundukan orang tanpa perlawanan dan ingin menjadi yang terhebat. Persaingan tidak sehat itu dapat memunculkan keinginan untuk saling menjatuhkan dan meniadakan. Persaingan tidak sehat ini justru bertentangan dengan intisari ajaran Yesus yakni kasih dan pelayanan. Yesus menempatkan anak kecil sebagai model yang mengingatkan para murid-Nya bahwa dalam diri setiap orang selalu ada sosok anak kecil yang polos, jujur, gembira, hidup tanpa beban dan pasrah. Kekhasan anak kecil ini mesti diadopsi oleh setiap murid Yesus untuk membantu kita menemukan jalan menuju keselamatan kekal dalam diri Yesus.

            Yesus menjadikan anak kecil sebagai ukuran bagaimana seorang beriman bisa masuk kedalam Kerajaan Surga. Sering kita membuat kategori-kategori sifat anak kecil yang biasa kita lihat. Anak kecil penuh dengan kepolosan dan ketulusan, jika ya mereka berkata ya, jika tidak mereka katakan tidak. Untuk mengatakan ya atau tidak mereka tidak bisa berdusta dan bersandiwara. Namun demikian, banyak orang dewasa yang memanfaatkan dan mengajari anak-anak untuk bersandiwara demi tujuan terselubung mereka. Mereka tidak lagi sebagai anak yang polos dan jujur tetapi penuh dengan modus palsu dan intrik. Kata-kata yang tadinya tulus dari mulut anak, kini berubah menjadi kebohongan dan ketidaktulusan. Orang dewasa telah membuat anak-anak menjadi kawanan domba yang hilang. Mereka yang seharusnya menjadi contoh ketulusan, kejujuran dan kepolosan, justru sekarang telah diformat untuk menjadi seperti domba liar yang selalu menghilang. Selaras dengan apa yang dikatakan oleh Yesus “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku”. Itu berarti kita menolak Yesus karena tidak mampu menyambut anak kecil seperti jati dirinya.

            Yesus menghendaki agar para murid-Nya melakukan pertobatan dalam dirinya dan bersikap rendah hati bila ingin memikul salib penderitaan bersama-Nya. Dengan begitu, seorang murid Kristus semakin matang dan dewasa dalam hal iman sehingga ia lebih sungguh-sungguh menghayati dan mengemban tugas pewartaan dan pelayanan bagi sesama sesuai dengan Kehendak Allah. Yesus mengundang kita untuk belajar dari sosok anak kecil yang lemah lembut yaitu belajar untuk mencintai, hidup dalam damai, saling mengampuni, menghargai, menghormati, menerima orang lain apa adanya, ramah tamah, sopan santun, mengeluarkan kata-kata yang mendatangkan sukacita dan kegembiraan. Belajar lemah lembut dari Yesus yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, yang rela berkorban, yang mencintai dan mengampuni tanpa batas. Yesus mengajak kita untuk belajar rendah hati, artinya belajar untuk tidak sombong, tidak selalu menganggap rendah orang lain, tidak merasa diri paling hebat, berkuasa dan benar. Kerendahan hati yang dimaksudkan Yesus di sini  artinya kerelaan untuk turun dari sikap ingat diri untuk mau berkorban dan melayani orang lain dengan tulus.

            Yesus mengundang para murid-Nya dan juga kita semua untuk belajar dari anak kecil. Belajar yang ditawarkan Yesus tidak hanya sebatas pengetahuan, tetapi belajar untuk suatu kehidupan yang bermutu dan bernilai. Yesus mengajarkan nilai-nilai universal tentang bagaimana menjadi orang besar, bukan dengan kekuasaan atau karena status hidup, melainkan dengan melayani sesama yang menderita. Sikap-sikap dan kebajikan hidup Kristiani ini harus dihidupkan dan dibiasakan, seperti sikap rendah hati, mau melayani tanpa pamrih, sikap mau mendengarkan orang lain dan menyadari diri sebagai orang berdosa adalah karakter dasar seorang Kristiani yang berjiwa melayani. Kita semua harus memiliki jiwa untuk melayani seperti seorang anak kecil yang rendah hati, yang hatinya terbuka pada kasih dan kebaikan Tuhan dan sesamanya. Orang-orang seperti inilah menurut Yesus, akan memiliki Kerajaan Allah karena hidup mereka berkenan dihadirat Tuhan. Sebaliknya, orang-orang yang sombong, sinis, bermental pejabat, selalu merasa diri hebat karena status kemasyarakatannya membuatnya lalai bahkan tidak menyadari kesalahan dan dosanya. Orang bermental demikian, suka mengungkit-ungkit kelemahan orang lain, suka mencari kambing hitam, suka memberikan keterangan palsu dan mencari-cari kesalahan orang. Tipe dasar orang angkuh seperti ini suka mencari aman bagi dirinya sekarang dan di sini, sedangkan usaha untuk mencapai keselamatan kekal baginya masih ada banyak waktu dan kesempatan. Kesombongan telah menguasai hatinya sehingga tidak ada celah sedikit pun bagi kebaikan yang mengarahkan hidupnya menuju pertobatan sejati.

            Sebagai murid-murid Kristus kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah berniat untuk meninggalkan kita. Ia selalu menunggu dan membuka hati-Nya bagi orang yang mau bertobat dan kembali ke jalan-Nya. Sebagai gembala yang baik, Ia datang ke dunia mencari domba yang tersesat meskipun hanya seekor, Ia meninggalkan 99 ekor domba lainnya dan pergi mencari yang tersesat itu untuk diselamatkan. Artinya, Allah sangat mencintai umat-Nya yang sungguh-sungguh bertobat dan menyerahkan diri untuk diselamatkan. Kebajikan kerendahan hati memungkinkan kita hidup seperti anak kecil yang selalu membutuhkan peran dan bantuan pihak lain.

            Kita tidak bisa berjalan sendirian untuk mewujudkan hidup sebagai orang Kristiani yang baik. Kita butuh bimbingan dan penyertaan Tuhan untuk membantu kita melewati jalan terjal menuju keselamatan paripurna. Untuk menghadirkan Tuhan dalam hati dan hidup kita, kita perlu menjadi seperti anak kecil. Anak kecil selalu bergantung penuh pada orang tuanya dan memegang tangan orang tuanya ketika berjalan. Ketakberdayaan hidup seorang anak kecil memberi inspirasi bagi kita murid-murid Yesus untuk bergantung penuh pada kemurahan hati Allah agar Ia bersedia menuntun kita berjalan bersama-Nya menuju kediaman abadi. Yesus meminta kita untuk meninggalkan ambisi duniawi kita dan fokus pada kebaikan yang menunjang keselamatan jiwa kita. Segala urusan duniawi yang memenjarahkan jiwa kita harus bisa dibebaskan agar kita rendah hati dan terus mencari Allah sebagai sumber keselamatan. Aspek kesaksian hidup sebagai orang Kristiani juga menjadi penting, karena kesaksian hidup adalah guru kehidupan yang bertahan lebih kuat dari pada kata-kata. Dengannya, hidup orang disekitar kita dapat berubah (bertobat) untuk kembali kepada jalan keselamatan yang ditawarkan Allah kepada kita semua.  Mari kita serahkan diri dan hidup kita pada bimbingan dan penyertaan Tuhan, karena tanpa campur tangan dan keterlibatan-Nya, kita bukan siapa-siapa dan berujung pada kehancuran. Kalau kehancuran melanda  hidup kita maka kita akan semakin jauh dan jauh dari Allah bahkan keselamatan kekal menjadi mimpi belaka untuk digapai. ***Bernard Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar