Kamis, 27 Agustus 2020

Persekutuan Iman Dan Berkat Allah

 

1 Kor 1:1-9 & Mat 24:44-51

 

Persekutuan adalah gabungan orang-orang yang memiliki ikatan kepentingan yang sama. Kepentingan itu dapat dilihat dalam banyak hal, seperti kerja atau profesi yang sama, hobi dan minat yang sama, tujuan yang sama. Semangat dan perasaan hati dapat juga membentuk persekutuan, demikian juga dengan hal-hal lain yang memiliki kekuatan yang mempersekutukan.  

Dalam Kitab Suci disebutkan, akar dari persekutuan kristiani adalah kepemilikan yang sama, baik kepemilikan materiil maupun spiritual. Yang meteriil itu selalu disertai dengan yang spiritual (Rm 15:26-27; Fil 4:15-17). Namun dikatakan, persekutuan dalam hal-hal ilahi adalah dasar, sumber dan jiwa dari semua persekutuan yang terbentuk di antara umat kristiani. Ia  terarah kepada persekutuan dengan Tuhan.

St. Paulus memuji umat Korintus oleh karena dalam persekutuan iman Allah telah menganugerahi mereka karunia rohani yang sangat dibutuhkan. Karunia itu sangat berguna bagi mereka untuk saling menolong, meneguhkan dan menguatkan dalam perjalanan hidup, sambil mereka “menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus” (1 Kor 1:7). Saat penyataan Tuhan adalah saat Tuhan datang dalam kemuliaan-Nya dan mengikutsertakan mereka dalam kemuliaan-Nya.

Dalam Injil hari ini Yesus memperingati para pendengar-Nya: “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Mat 24:44). Waktu atau saatnya Tuhan itu adalah misteri dan berhadapan dengan misteri itu tidak ada hal yang dapat diandaikan, kecauli berjaga-jaga atau waspada.  

Agar bisa berjaga-jaga atau waspada, Yesus menunjukkan sikap yang mesti dimiliki, yaitu sikap seorang hamba yang setia dan bijaksana. Setiap waktu harus dihadapi sebagai saatnya Anak Manusia datang. Orang merasa wajib membuat hidupnya didapati dalam keadaan siap. Waktu tidak digunakan untuk melakukan kejahatan dan hidup menurut hawa nafsu (Mat 24: 49), melainkan dengan melakukan hal-hal yang diinginkan oleh Tuhan. Doa, kerja dan perbuatan cinta kasih adalah hal yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan dalam hidup ini.

Dan untuk menjadi seorang hamba Tuhan yang setia dan bijaksana, yang memelihara hidup dalam doa, kerja dan perbuatan cinta kasih sejalan dengan kehendak Tuhan sendiri, orang membutuhkan suatu persekutuan iman. Sebab melalui persekutuan itu, setiap anugerah yang diberikan kepada masing-masing orang digunakan untuk saling membantu dan menolong dalam menantikan saat datangnya Tuhan. Dalam persekutuan itu setiap orang disadarkan dan diingatkan agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan jahat dan hidup dalam kenikmatan yang membinasakan.

Persekutuan iman itu berkat besar yang dianugerahkan Tuhan. Ia adalah kekuatan yang membuat setiap orang beriman mampu menjaga dan memelihara iman dan hidupnya tetap di jalan Tuhan, meski berhadapan dengan godaan kenikmatan hidup menyesatkan dan menjerumuskan ke dalam berbagai tindakan kejahatan.

Baiklah kita memandang bahwa persekutuan iman itu adalah bagian penting dari tugas kita sebagai umat beriman. Ia adalah panggilan kita. Maka hendaknya kita tidak menaggap sepeleh, bersikap apatis dan tidak peduli pada kehidupan bersama sebagai  saudara dalam iman, melainkan merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan memeliharanya sambil kita menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus.  

Tuhan yang melihat kita bersatu dalam persekutuan iman dan saling menolong dalam menantikan kedatangnan-Nya akan mengikutsertakan kita dalam persekutuan persekutuan kekal dengan Dia dalam kemuliaan-Nya.***Apol Wuwur***

Senin, 24 Agustus 2020

TUGAS KITA MENGHADIRKAN KEADILAN DAN BELAS KASIH ALLAH

 

Mat 23:23-26

 

            Dunia jaman modern sekarang sudah sangat berubah, hukum dan peraturan yang dibuat demi tegaknya keadilan dan kedamaian dilanggar begitu saja. Manusia lebih senang hidup dalam ketidakadilan dengan melakukan banyak tindakan penyimpangan yang menekan dan memeras kehidupan sesamanya. Harmonisasi dan hidup damai sepertinya hanya mimpi belaka bahkan menjadi terusik karena manusia suka bermusuhan. Dalam praktek hidup beragama, manusia membutuhkan hukum dan peraturan untuk mengatur kehidupan iman secara baik dan benar, dan esensi dari setiap hukum dan peraturan menurut Yesus adalah keadilan, belas kasih dan kesetiaan. Tugas dan panggilan kita semua sebagai murid-murid Kristus adalah merehabilitasi keadilan dan belas kasih di muka bumi ini agar mendatangkan dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia.

            Kisah Injil yang baru saja kita dengar berisikan kecaman pedas Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena kedua golongan elite Yahudi ini menyimpang dari ajaran iman atau prinsip-prinsip spiritual yang telah ditetapkan Allah dalam Hukum Taurat. Yesus mengecam mereka karena mereka menekankan ketaatan buta terhadap hukum dan peraturan lebih-lebih soal membayar pajak dan membersihkan segala perlengkapan ibadah. Mereka kelihatan sangat munafik, selalu menutup-nutupi dosa dengan berlagak kudus, selalu menutup-nutupi keserakahan dengan berpura-pura kusyuk berdoa dengan formulasi doa yang panjang-panjang tetapi hidup mereka jauh dari nilai-nilai keadilan dan belas kasih. Menurut Yesus, tak ada gunanya mereka membersihkan bagian luar cawan, menapis nyamuk dalam minuman dan membayar persepuluhan tetapi sikap dan tindakan mereka tidak adil bahkan berbagai tindakan kejahatan muncul dalam praktek hidup mereka sehari-hari. Yesus menegaskan bahwa praktek hidup keagamaan harus menampakkan keadilan, belas kasih dan kesetiaa Allah bukan ketaatan buta terhadap hukum dan peraturan yang membelenggu sesama. Hukum dan peraturan sangat dibutuhkan dalam mengatur tatanan hidup bersama tetapi jangan mengorbankan keadilan dan belas kasih. Yesus sangat keras mengkritisi perilaku hidup orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, Ia menunjukkan kerakusan, kemunafikan dan kesombongan mereka. Kritik Yesus ini mau mengatakan bahwa hati, pikiran dan budi kita harus bersih dan bening, kita harus membersihkan hati agar segala kebaikan, kerendahan hati dan kesetiaan dapat muncul untuk membantu sesama kita bertobat dan mengalami perubahan sikap iman. Kita harus berjuang meninggalkan cara hidup lama kita dan rendah hati mengenakan cara hidup baru meskipun dibayang-bayangi resiko karena kesetiaan kita pada Yesus. Konsekuensi dari pilihan kita akan mendatangkan kesengsaraan, namun dalam kaca mata iman kita yakin bahwa kita sedang ikut ambil bagian dalam salib penderitaan Tuhan untuk mencapai keselamatan paripurna. Perubahan sikap itu harus lahir atas dasar kesadaran hati bukan karena kemunafikan. Sudah saatnya kita memerangi sikap hidup orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang merasuki hidup orang modern ini dan meneladani cara hidup baru dari Yesus sebagai Guru kebajikan kita yang datang untuk menyelamatkan yang hilang dan berdosa.

            Tujuan hukum dan aturan agama ditegakkan pada dasarnya untuk menebar kasih dan melayani sesama bukan untuk menindas mereka. Karena itu bagi Yesus,  menghargai orang dengan menegakkan keadilan dan belas kasih jauh lebih penting daripada sebatas menegakkan hukum dan peraturan menurut definisi manusia. Yesus menghendaki agar hidup keagamaan kita memiliki keseimbangan antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan atau...(omong apa yang kita buat dan buat apa yang kita omong). Penghayatan hidup keagamaan harus bersumber dari dalam hati dan memancar keluar dalam tindakan  dan perilaku hidup sehari-hari. Banyak aturan yang kita buat sendiri  dengan mulut manis dan tipu daya, lalu agama menjadi objek bisnis mencari hidup dan meraup keuntungan darinya maka, mereka yang kita layani akan menjadi kering kerontang alias lesu, hidup iman dan ketaatan dalam beragama tidak maksimal bahkan suam-suam kuku. Model penghayatan iman yang demikian akan membuat kita hidup dalam kemunafikan seperti ahli-ahli Taurat dan orang Farisi yang sibuk menekankan secara ketat hal-hal lahiriah sambil mengabaikan aspek fundamental hati dan perkembangan iman. Nafsu untuk dihormati dan dianggap penjaga Hukum Taurat yang benar sungguh-sungguh membawa umat ke ambang kehancuran maut, karena praktis menyesatkan mereka dan menjauhkan mereka dari tawaran keselamatan Allah.

            Kehadiran orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memberi pelajaran berharga bagi kita pengikut-pengikut Kristus agar kita dapat mengubah sikap dan tindakan kita dihadapan Tuhan dan sesama. Tujuan pewartaan dan pelayanan kita mesti jelas dan terukur dan apa yang kita wartakan harus sesuai dengan Kehendak Allah, bukan kebijakan dan peraturan yang kita ciptakan sendiri demi mempertahankan status quo kita. Yesus menghendaki agar perubahan dan orientasi pewartaan kita meluluh untuk membawa lebih banyak orang ke jalan keselamatan bukan jalan kesesatan. Dan perubahan itu pertama-tama datang dari diri kita sendiri yang diperkuat niat yang positif. Hati harus menjadi bingkai kehidupan kita yang memuat gambar dan cuplikan kesetiaan kita mengemban tugas mewartakan kabar suka cita dan keselamatan  Allah. Hati harus dijauhkan dari keinginan dan hasrat tak teratur agar kebaikan dapat muncul dan memancar keluar untuk memberikan terang dan harapan tentang kasih setia Tuhan yang senantiasa menantikan pertobatan sejati dari manusia.

            Hari ini Yesus sebenarnya sedang memanggil kita semua untuk membersihkan hati kita dari berbagai rampasan, kejahatan, kesesatan, penindasan, kemunafikan dan ketidakadilan yang kita lakukan terhadap sesama kita apalagi bila kita adalah agen pewarta keselamatan. Yesus menghendaki agar kita kembali ke jalan yang benar, jalan yang mengarahkan kita kepada keselamatan. Tugas kita sebagai pewarta adalah mewartakan kebenaran Allah dan membantu sesama kita menemukan jalan keselamatan itu. Tuhan tidak boleh ditampakkan sebagai pelaku kejahatan dan ketidakadilan. Agama mestinya hadir dengan suara kenabiannya memperjuangkan keadilan dan belas kasih Allah bagi setiap umat manusia untuk mengalami kehadiran Tuhan. Artinya, agama hadir untuk membebaskan umatnya bukan berjuang untuk membelenggu mereka apalagi menyesatkan, agar kehidupan iman umat semakin bertumbuh dan berkembang. Kiranya kita sebagai murid-murid Kristus terdorong untuk terus mempraktekkan kehidupan agama yang benar dengan menekankan esensi dan hakikat dari hukum dan peraturan demi terwujudnya keadilan dan belas kasih Allah. Untuk itu, kita memerlukan kejujuran dan kemauan yang kuat agar selalu meneladani Kristus yang setia pada salib-Nya untuk membebaskan kita dari belenggu dosa untuk memberi kita hidup yang kekal.

...***Bernad Wadan***

Selasa, 18 Agustus 2020

MELEPASKAN DIRI DARI KETERIKATAN HARTA

 

Mat 19:23-30

            Tujuan hidup manusia di dunia adalah mencari kebahagiaan, namun manusia sering salah menafsirkan kebahagian pada dirinya. Banyak orang berpikir semakin banyak harta yang dimiliki maka ia akan semakin bahagia. Kenyataan menunjukkan lain,  bahwa banyak orang kaya yang sepanjang hidupnya tidak pernah mengalami kebahagiaan yang sesungguhnya. Semakin banyak harta, nyawanya semakin terancam, tidak sehat bahkan susah makan karena seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurusi kekayaannya. Kebahagiaan sesungguhnya tidak dapat dibeli dengan apa pun. Kebahagiaan hanya bisa dirajut dari hati karena dari hati lahir seluruh kebaikan dan kebajikan hidup. Dari hati, kita mengerti tentang kebahagiaan kekal dan upaya untuk menggapainya. Untuk memperoleh keselamatan kekal, hati yang dikuatkan oleh iman mengarahkan kita untuk mengikuti Yesus. Keterikatan pada harta tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi pengikut Yesus yang total. Menjadi orang baik bagi diri sendiri itu mudah, namun menjadi sulit ketika menjadi orang baik bagi orang lain. Hal ini serupa dengan: menjadi kaya bagi diri sendiri itu mudah tetapi menjadi sulit ketika kekayaan didermakan kepada orang-orang yang membutuhkan. Menjadi orang baik tanpa melakukan kebaikan bagi orang lain adalah suatu tindakan yang tidak bijaksana karena menggiring orang kepada sikap egois dan memikirkan diri sendiri. Tindakan ini bertentangan dengan prinsip cinta kasih yang diajarkan oleh Yesus sendiri. Hari ini, Yesus mengajarkan satu prinsip hidup baru yang khas Kristiani untuk memudahkan atau menjamin orang masuk ke dalam kerajaan surga adalah prinsip pengorbanan untuk berbagi dengan sesama. Yesus berkata: “Siapa yang berkorban bagi sesamanya, ia akan mendapat ganjaran seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.”

            Hidup yang terikat menjadikan orang tidak bebas mengekspresikan ajaran imannya secara penuh. Keterikatan ini adalah belengguh yang memasung hidup manusia sehingga harus dilepaskan. Keterikatan terhadap kekayaan duniawi juga menghambat manusia mencapai keselamatan bagi jiwanya. Untuk menjadi manusia lepas bebas, maka kekayaan tidak menjadi tujuan hidup satu-satunya untuk memperoleh kebahagiaan duniawi, tetapi kekayaan harus dimanfaatkan secara bertanggungjawab bagi kebahagiaan bersama. Kekayaan dimanfaatkan sebatas menjadi sarana yang membantu karya kerasulan kita di tengah-tengah sesama. Dengan berbagi kekayaan kita telah melaksanakan prinsip cinta kasih yang diajarkan oleh Yesus. Berbagi adalah salah satu kebajikan dari nilai pengorbanan yang dituntut dari hidup seorang Kristiani.

            Salah satu perkataan Yesus yang membuat para murid gempar adalah mengenai siapa yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Para murid gempar karena mereka merasa bahwa mereka adalah orang baik yang secara otomatis akan masuk surga dan diselamatkan karena telah meninggalkan segala-galanya untuk mengikuti Yesus. Setelah mereka mendengar penjelasan Yesus bahwa tidak gampang untuk masuk surga, mereka menjadi heran, panik dan khawatir. Menurut Yesus, untuk masuk dalam Kerajaan Allah, orang harus melalui satu perjuangan yang tidak mudah, karena itu, tidak cukup mengikuti Yesus hanya bermodalkan menjadi orang baik melainkan harus ada cinta kasih dan pengorbanan yang tulus. Yesus berkata, “Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Ungkapan Yesus ini menggambarkan betapa bahayanya kelekatan pada hal-hal duniawi. Pernyataan Yesus ini muncul karena seorang kaya yang diminta Yesus untuk menjual seluruh harta kekayaannya dan membagi-bagikannya kepada orang miskin untuk bisa masuk Kerajaan Allah. Mendengar pernyataan Yesus, orang itu pergi dengan sedih hati karena ada begitu banyak harta kekayaannya. Inilah yang dimaksudkan Yesus dengan pernyataan bahwa orang kaya sulit masuk Kerajaan Allah. Bukan karena kekayaan itu sendiri tetapi kelekatan pada kekayaan yang menghambat orang untuk mengikuti Yesus dan masuk dalam Kerajaan Allah. Karena itu, Yesus menghimbau agar kita perlu menghindari bahkan secara ekstrim menjauhi kelekatan-kelekatan pada hal-hal duniawi. Ketika kita begitu melekat pada hal-hal duniawi, maka kita tak akan mampu berpikir tentang orang lain selain harta itu sendiri bahkan keselamatan jiwa kita pun tidak kita pikirkan.

            Menaati seluruh hukum dan perintah Allah bukanlah jaminan mutlak memperoleh keselamatan kekal kalau tidak diimbangi dengan semangat memberi. Orang yang demikian adalah tipe orang yang taat beragama tetapi tidak memahami esensi hidup beriman. Menurut Yesus, beriman yang benar tidak hanya sebatas patuh pada perintah atau hukum. Ketaatan mengikuti Yesus harus tampak dalam semangat berbagi kehidupan dengan sesama. Beriman dan mengikuti Yesus di sini perlu melepaskan diri dari cinta diri yang berlebihan dan keterikatan pada harta duniawi. Kesempurnaan hidup menurut Yesus adalah melepaskan ego kita untuk berbagi dengan sesama untuk menggapai keselamatan. Namun serentak harus dikatakan bahwa, keselamatan bukanlah usaha manusia, namun keselamatan merupakan anugerah dan belas kasih Allah semata. Yesus mengatakan sukar sekali orang yang memiliki kelekatan hati pada materi/harta masuk surga. Masuk surga adalah urusan privat dan hak prerogatif Allah dalam menerima manusia. Oleh karena itu dalam mengikuti Yesus, kita hendaknya tidak terikat oleh siapa pun dan apa pun, kita mesti lepas bebas dan merdeka tanpa ikatan apa pun untuk mengikuti Yesus secata total.

            Amanat Yesus dalam Sabda-Nya hari ini mengajak kita sekalian untuk meninggalkan semua hal yang melekat dalam diri dan mengikuti Yesus secara total. Karena itu, kita jangan bertanya mana upahku jika aku mengikuti Tuhan? Upah dari Tuhan akan dengan sendirinya diberikan bagi orang yang sungguh meninggalkan segalanya demi Tuhan. Nilai utama yang harus kita kejar dan miliki adalah kesetiaan pada panggilan hidup kita dan tidak menjadikan diri kita budak atas harta duniawi. Harta kekayaan adalah berkat yang diberikan oleh Tuhan kepada kita untuk mempermudah kita masuk dalam Kerajaan Surga yakni ketika kita mau berbagi rezeki itu dengan sesama kita terutama mereka yang sangat membutuhkan.

            Secara khusus kita semua dipanggil hari ini untuk mengikuti Yesus secara total dan mengambil bagian dalam tugas perutusan-Nya untuk menyadarkan orang-orang yang sangat mendewakan harta duniawinya untuk kepentingan diri sendiri. Prinsipnya harta dan kekayaan sama sekali tidak menjamin dan menolong keselamatan jiwa kita. Mereka hanya sebatas sarana bila digunakan secara baik, tepat dan benar untuk membantu sesama maka darinya ia menjadi jembatan yang menyeberangkan manusia di dunia menuju kehidupan kekal. Untuk mengikuti Yesus secara total, kita juga mesti menaggalkan kelekatan harta duniawi agar kita lebih mudah memberi diri bagi Allah dalam diri sesama kita. Mengikuti Yesus tidak sekedar selogan hampa yang dibumbui dengan kemampuan pengetahuan keagamaan yang memadai, namun yang terpenting adalah pengorbanan dan kepedulian terhadap sesama sebagai wujud cinta kasih murni sebagaimana teladan yang diberikan oleh Yesus sendiri. ***Bernard Wadan***

Senin, 10 Agustus 2020

MARI BELAJAR DARI KEPOLOSAN HATI ANAK KECIL

                                                           Mat 18:1-5,10,12-14

            Menjadi pintar dan menjadi orang baik butuh suatu proses yang dinamakan belajar. Belajar sebagai satu sistem, orang bisa belajar di sekolah yang disebut pendidikan formal dan juga belajar di luar sekolah yang disebut pendidikan non formal. Dalam belajar orang diajar oleh seseorang seperti guru, orang tua, oleh masyarakat dan lingkungan kita. Tujuan orang belajar untuk menggapai hidup yang baik dan benar. Hidup dan pengalaman hidup menjadi sebuah sekolah kehidupan dan sekolah kehidupan itu berlangsung sepanjang orang mau belajar dari hidup orang lain, dari spiritualitas santo santa dan dari pengalaman hidup nyata orang lain sebagai guru kehidupan yang baik. Ajakan Yesus untuk belajar dari anak kecil hari ini bukanlah suatu penghinaan bagi orang dewasa. Mungkin kita serentak berkata: apa sih yang bisa kita dapatkan dari mereka, sedangkan mengurus diri saja mereka tidak mampu. Nilai penting apa yang bisa kita pelajari dan dapatkan dari kepolosan mereka? Sikap dan sifat seorang anak kecil yang tak berdaya dan polos justru dijadikan oleh Yesus sebagai rujukan bagi orang dewasa dalam membangun hidup iman sebagai murid-murid Kristus.

            Pikiran para murid Yesus masih sangat duniawi, dimana Kerajaan Allah dianggap sama dengan kerajaan dalam pandangan manusiawi yang ada rajanya dan masyarakat yang diperintah. Karena itu, mereka berlomba-lomba untuk menjadi penguasa dalam kerajaan manusiawi. Para murid bertanya kepada Yesus: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.” Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan mereka tetapi membuka mata hati mereka untuk memandang seorang anak kecil yang ditempatkan Yesus di tengah-tengah mereka. Yesus berkata: “sesungguhnya jikalau kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Barang siapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini dialah yang terbesar di dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3). Yesus membandingkan anak kecil dengan diriNya, artinya menerima anak kecil berarti menerima Yesus sendiri. Di sini Yesus menghendaki agar para murid dapat menjauhkan diri dari sikap ambisi duniawi yang berlebihan karena sikap itu tidak banyak gunanya dalam hidup bersama. Ambisi berlebihan itu harus diganti dengan sikap rendah hati sebagaimana disimbolkan oleh anak kecil, karena Yesus sendiri adalah lemah lembut dan rendah hati. Agar supaya bisa mengurangi ambisi pribadi di atas dan bersikap rendah hati maka kita harus bertobat. Kita berjuang untuk berbalik kepada Tuhan yang rendah hati dalam diri Yesus Kristus teladan hidup Kristiani. Yesus dalam Injil hari ini menginginkan para murid-Nya memiliki kepolosan hati seperti anak kecil karena dunia orang dewasa sering dinodai oleh keinginan dan napsu untuk menguasai orang lain, ingin menjadi penguasa tunggal yang bisa menundukan orang tanpa perlawanan dan ingin menjadi yang terhebat. Persaingan tidak sehat itu dapat memunculkan keinginan untuk saling menjatuhkan dan meniadakan. Persaingan tidak sehat ini justru bertentangan dengan intisari ajaran Yesus yakni kasih dan pelayanan. Yesus menempatkan anak kecil sebagai model yang mengingatkan para murid-Nya bahwa dalam diri setiap orang selalu ada sosok anak kecil yang polos, jujur, gembira, hidup tanpa beban dan pasrah. Kekhasan anak kecil ini mesti diadopsi oleh setiap murid Yesus untuk membantu kita menemukan jalan menuju keselamatan kekal dalam diri Yesus.

            Yesus menjadikan anak kecil sebagai ukuran bagaimana seorang beriman bisa masuk kedalam Kerajaan Surga. Sering kita membuat kategori-kategori sifat anak kecil yang biasa kita lihat. Anak kecil penuh dengan kepolosan dan ketulusan, jika ya mereka berkata ya, jika tidak mereka katakan tidak. Untuk mengatakan ya atau tidak mereka tidak bisa berdusta dan bersandiwara. Namun demikian, banyak orang dewasa yang memanfaatkan dan mengajari anak-anak untuk bersandiwara demi tujuan terselubung mereka. Mereka tidak lagi sebagai anak yang polos dan jujur tetapi penuh dengan modus palsu dan intrik. Kata-kata yang tadinya tulus dari mulut anak, kini berubah menjadi kebohongan dan ketidaktulusan. Orang dewasa telah membuat anak-anak menjadi kawanan domba yang hilang. Mereka yang seharusnya menjadi contoh ketulusan, kejujuran dan kepolosan, justru sekarang telah diformat untuk menjadi seperti domba liar yang selalu menghilang. Selaras dengan apa yang dikatakan oleh Yesus “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku”. Itu berarti kita menolak Yesus karena tidak mampu menyambut anak kecil seperti jati dirinya.

            Yesus menghendaki agar para murid-Nya melakukan pertobatan dalam dirinya dan bersikap rendah hati bila ingin memikul salib penderitaan bersama-Nya. Dengan begitu, seorang murid Kristus semakin matang dan dewasa dalam hal iman sehingga ia lebih sungguh-sungguh menghayati dan mengemban tugas pewartaan dan pelayanan bagi sesama sesuai dengan Kehendak Allah. Yesus mengundang kita untuk belajar dari sosok anak kecil yang lemah lembut yaitu belajar untuk mencintai, hidup dalam damai, saling mengampuni, menghargai, menghormati, menerima orang lain apa adanya, ramah tamah, sopan santun, mengeluarkan kata-kata yang mendatangkan sukacita dan kegembiraan. Belajar lemah lembut dari Yesus yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, yang rela berkorban, yang mencintai dan mengampuni tanpa batas. Yesus mengajak kita untuk belajar rendah hati, artinya belajar untuk tidak sombong, tidak selalu menganggap rendah orang lain, tidak merasa diri paling hebat, berkuasa dan benar. Kerendahan hati yang dimaksudkan Yesus di sini  artinya kerelaan untuk turun dari sikap ingat diri untuk mau berkorban dan melayani orang lain dengan tulus.

            Yesus mengundang para murid-Nya dan juga kita semua untuk belajar dari anak kecil. Belajar yang ditawarkan Yesus tidak hanya sebatas pengetahuan, tetapi belajar untuk suatu kehidupan yang bermutu dan bernilai. Yesus mengajarkan nilai-nilai universal tentang bagaimana menjadi orang besar, bukan dengan kekuasaan atau karena status hidup, melainkan dengan melayani sesama yang menderita. Sikap-sikap dan kebajikan hidup Kristiani ini harus dihidupkan dan dibiasakan, seperti sikap rendah hati, mau melayani tanpa pamrih, sikap mau mendengarkan orang lain dan menyadari diri sebagai orang berdosa adalah karakter dasar seorang Kristiani yang berjiwa melayani. Kita semua harus memiliki jiwa untuk melayani seperti seorang anak kecil yang rendah hati, yang hatinya terbuka pada kasih dan kebaikan Tuhan dan sesamanya. Orang-orang seperti inilah menurut Yesus, akan memiliki Kerajaan Allah karena hidup mereka berkenan dihadirat Tuhan. Sebaliknya, orang-orang yang sombong, sinis, bermental pejabat, selalu merasa diri hebat karena status kemasyarakatannya membuatnya lalai bahkan tidak menyadari kesalahan dan dosanya. Orang bermental demikian, suka mengungkit-ungkit kelemahan orang lain, suka mencari kambing hitam, suka memberikan keterangan palsu dan mencari-cari kesalahan orang. Tipe dasar orang angkuh seperti ini suka mencari aman bagi dirinya sekarang dan di sini, sedangkan usaha untuk mencapai keselamatan kekal baginya masih ada banyak waktu dan kesempatan. Kesombongan telah menguasai hatinya sehingga tidak ada celah sedikit pun bagi kebaikan yang mengarahkan hidupnya menuju pertobatan sejati.

            Sebagai murid-murid Kristus kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah berniat untuk meninggalkan kita. Ia selalu menunggu dan membuka hati-Nya bagi orang yang mau bertobat dan kembali ke jalan-Nya. Sebagai gembala yang baik, Ia datang ke dunia mencari domba yang tersesat meskipun hanya seekor, Ia meninggalkan 99 ekor domba lainnya dan pergi mencari yang tersesat itu untuk diselamatkan. Artinya, Allah sangat mencintai umat-Nya yang sungguh-sungguh bertobat dan menyerahkan diri untuk diselamatkan. Kebajikan kerendahan hati memungkinkan kita hidup seperti anak kecil yang selalu membutuhkan peran dan bantuan pihak lain.

            Kita tidak bisa berjalan sendirian untuk mewujudkan hidup sebagai orang Kristiani yang baik. Kita butuh bimbingan dan penyertaan Tuhan untuk membantu kita melewati jalan terjal menuju keselamatan paripurna. Untuk menghadirkan Tuhan dalam hati dan hidup kita, kita perlu menjadi seperti anak kecil. Anak kecil selalu bergantung penuh pada orang tuanya dan memegang tangan orang tuanya ketika berjalan. Ketakberdayaan hidup seorang anak kecil memberi inspirasi bagi kita murid-murid Yesus untuk bergantung penuh pada kemurahan hati Allah agar Ia bersedia menuntun kita berjalan bersama-Nya menuju kediaman abadi. Yesus meminta kita untuk meninggalkan ambisi duniawi kita dan fokus pada kebaikan yang menunjang keselamatan jiwa kita. Segala urusan duniawi yang memenjarahkan jiwa kita harus bisa dibebaskan agar kita rendah hati dan terus mencari Allah sebagai sumber keselamatan. Aspek kesaksian hidup sebagai orang Kristiani juga menjadi penting, karena kesaksian hidup adalah guru kehidupan yang bertahan lebih kuat dari pada kata-kata. Dengannya, hidup orang disekitar kita dapat berubah (bertobat) untuk kembali kepada jalan keselamatan yang ditawarkan Allah kepada kita semua.  Mari kita serahkan diri dan hidup kita pada bimbingan dan penyertaan Tuhan, karena tanpa campur tangan dan keterlibatan-Nya, kita bukan siapa-siapa dan berujung pada kehancuran. Kalau kehancuran melanda  hidup kita maka kita akan semakin jauh dan jauh dari Allah bahkan keselamatan kekal menjadi mimpi belaka untuk digapai. ***Bernard Wadan***

SEMANGAT PENGORBANAN

Yoh 12:24-26

Di antara dua pilihan yang dilematis; mau menyelamatkan nyawanya sendiri atau bayi yang sementara dikandung di dalam rahimnya, sang ibu yang saya kenal ini harus mengambil salah satu pilihan yang pasti. Dua pilihan yang serba berisiko. Memilih nyawa sendiri artinya mengorbankan pilihan yang lain yakni harus kehilangan buah hatinya. Dan memelihara janin dalam tubuhnya, itu artinya sang ibu harus siap menghadapi kematiannya sendiri. Vonis dari pihak medis atas penyakit kanker payudara stadium empat (stadium akhir) yang sementara dideritanya mendorong ibu ini harus memilih salah satu dari dua pilihan yang sulit. Bertolak belakang dengan keinginan keluarga besarnya agar ia harus menjaga nyawanya, sang ibu ternyata diam-diam mengambil risiko sebaliknya. Ia harus rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan sang buah hati. Sang buah hati yang sudah sejak lama dinanti-nantikan akhirnya lahir juga di muka bumi. Namun tak lama berselang, sang ibu harus pergi menghadap Sang Khalik ketika sementara menjalani terapi kesehatan di sebuah rumah sakit. Inilah sepenggal kisah nyata tentang pengorbanan seorang ibu yang rela mengorbankan nyawanya demi kehidupan baru sang bayi yang ada dalam kandungannya.

Yesus dalam bacaan Injil (Yoh 12:24-26) yang kita baca pada hari ini (Senin/10/8/2020) secara tidak langsung menjelaskan tujuan dari kehidupan iman bahwa tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan, tidak ada hidup yang berbuah tanpa kematian, tidak ada kemenangan tanpa penyerahan, dan tidak ada buah tanpa korban. Pastinya ada satu keindahan jikalau benih itu mati dan memenuhi tujuannya. Hal ini tampak dari kata-kata Yesus sendiri: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24). Biji gandum tetap tinggal menjadi sebuah biji yang tak bernilai apabila ia tidak ditaru pada tempat yang semestinya. Ia akan menjadi efektif apabila dimasukkan ke dalam tanah. Dengan demikian ia akan mati. Tetapi dari padanya akan tumbuh tunas baru yang menghasilkan sebuah kehidupan baru yang akan memberi kehidupan kepada segenap makhluk yang menikmati buahnya.

Analogi biji gandum yang diperdengarkan Yesus menjelang kematian-Nya, sebenarnya menggambarkan alur kehidupan yang sementara dan nanti dijalani-Nya. Bahwa Yesus adalah anugerah terindah yang telah dihadirkan Allah di tengah dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari kedosaannya. Yesus adalah gambaran Allah yang hadir secara manusia untuk menyampaikan misi pertobatan dan membawa manusia hidup mesra kembali bersama Allah. Namun faktanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak manusia yang percaya kepada Yesus dan hidup dalam terang-Nya. Tetapi lebih banyak manusia yang hidupnya masih jauh dari kata selamat. Entah itu karena sikap tidak percaya, sudah percaya namun jatuh lagi dalam sikap tidak percaya atau bisa juga belum tersentuh sama sekalih oleh warta keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Pada intinya, Yesus menyadari bahwa misi keselamatan bagi dunia tidak hanya sekedar mewartakan sabda dan membuat banyak tanda heran (mukjizat). Misi keselamatan itu harus mencapai puncaknya dengan sebuah tindakan pengorbanan diri.

Selama dalam masa pengembaraan di dunia, sudah begitu banyak aksi pengorbanan yang dilakukan oleh Yesus. Baik lewat sabda yang membawa harapan dan kesejukan hidup bagi segenap orang yang mendengarkan-Nya, maupun lewat tanda heran yang telah membawa keselamatan hidup bagi mereka yang sementara menderita sakit atau bahkan sudah mengalami kematian. Selanjutnya, Yesus hendak membuktikan pengorbanan-Nya yang final sekaligus paling luhur, yakni mati di kayu salib. Dengan mati di kayu salib, misi keselamatan umat manusia yang diemban Yesus telah mencapai garis finis. Berkat darah yang keluar dari bilur-bilur luka-Nya dan tertumpah pada kayu salib, semua umat manusia diselamatkan dari kedosaan. Umat manusia yang sebelumya tenggelam dalam jurang kegelapan, berkat korban Yesus di salib, kini mereka diangkat kembali untuk masuk dalam cahaya Allah Bapa di sorga. Pengorbanan Yesus di salib sungguh membawa kehidupan baru bagi umat manusia. Umat manusia dapat kembali hidup dalam terang Allah. Tidak hanya sampai di situ, pengorbanan Yesus sungguh membawa inspirasi bagi banyak orang kudus yang telah membaktikan seluruh hidup mereka untuk melanjutkan misi penyelamatan Allah di muka dunia.

Salah satu orang kudus yang telah mengorbankan seluruh hidupnya bagi Allah adalah Santo Laurensius yang perayaannya kita peringati pada hari ini. Santo Laurensius adalah salah satu dari tujuh diakon yang menjadi martir bersama Paus Santo Sixtus II pada masa penganiayaan kaisar Valerianus. Ia diperkirakan lahir di kota Huesca Spanyol, sebuah kota di wilayah Aragon dekat kaki pegunungan Pyrenees. Salah satu aksinya yang menantang maut adalah tidak mengindahkan kemauan dari prefek Roma untuk menyerahkan segala harta kekayaan gereja yang disimpannya. Laurensius malah membagi seluruh harta gereja itu kepada orang miskin. Kemudian, ia memimpin para orang miskin, orang cacat, orang buta, dan orang sakit berarak menuju kediaman prefek kota Roma. Kepada penguasa Roma itu, Laurensius berkata: “Tuanku, inilah harta kekayaan gereja yang saya jaga. Terimalah dan peliharalah mereka dengan sebaik-baiknya.” Tindakan dan kata-kata Laurensius ini dianggap sebagai suatu bentuk olokan dan penghinaan terhada penguasa Roma. Karena itu, ia segera ditangkap dan dipanggang hidup-hidup di atas terali besi yang panas membara. Laurensius akhirnya menghembuskan nafasnya di atas pemanggangan itu sebagai seorang laskar Kristus yang militan (Katakombe, Org).

Santo Laurensius telah meneladani semangat pengorbanan yang diwariskan oleh Sang Guru Ilahinya yakni Yesus Kristus. Laurensius tidak hanya mendedikasikan seluruh hidupnya demi melayani semua umat tetapi ia juga mengorbankan nyawanya demi mempertahankan imannya akan Yesus. Darah kemartiran Laurensius tentu saja tetap membakar semangat hidup orang kristiani saat itu untuk tidak mundur setapak pun. Melainkan tetap berjuang mempertahankan imannya dengan tetap menunjukkan identitas kristiani untuk saling memberi dan melayani satu sama lain.

Semangat pengorbanan Santo Laurensius menegasikan sikap ego dan apatisme kita di era ini. Pengalaman empiris membuktikan bahwa kita sebagai pengikut Kristus masih saja terjebak dalam sikap destruktif demikian. Kita lebih sibuk mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok kita namun susah melihat kepentingan orang di luar kita sebagai kepentingan kita juga. Kita lebih banyak mengambil sikap aman untuk menyelamatkan hidup kita dari pada berkorban untuk memberi diri dan menyelamatkan hidup orang lain yang sementara mengalami keterpurukan. Kita juga dihinggapi virus apatisme yang akut. Kita lebih memilih sikap diam, masa bodoh, atau antipati manakala menyaksikan orang lain mengalami penderitaan dan kegagalan dalam hidup. Bahkan kita merasa senang di atas penderitaan yang dialami oleh orang lain. Sikap ego dan apatisme adalah dua sikap negatif yang mengikis rasa kemanusiaan kita untuk mau berkorban demi orang lain.

Hari ini kita belajar dari Yesus dan Santo Laurensius untuk segera meninggalkan sikap ego dan apatisme. Kita harus segera memperbaiki dan mematangkan sikap kita untuk lebih menonjolkan semangat pengorbanan dalam hidup kita. Semangat pengorbanan adalah ciri hidup iman kita. Tanpa pengorbanan, hidup iman kita akan menjadi tawar dan tidak berkembang. Kita sungguh dimatangkan dalam iman apabila kita mau melapisi diri dengan semangat pengorbanan. Semangat yang akan melahirkan sebuah kegembiraan dan kehidupan dalam iman. Pengorbanan Yesus di atas kayu salib telah  mengokohkan kemuliaan nama Allah untuk tetap berjaya di tengah dunia. Santo Laurensius pun demikian. Kemuliaan Allah semakin bersinar dengan semangat pergorbanan yang telah ditunjukkannya. Mari kita semakin berbenah diri untuk mengembangkan semangat pengorbanan dalam hidup kita. Minimal kita mau menunjukkan sikap pengorbanan yang paling sederhana dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 04 Agustus 2020

HATI MEMANCARKAN CINTA ALLAH

Mat 15:1-2, 10-14

Apa pun yang kita ucapkan dan lakukan segalanya bersumber dari hati. Hati adalah tempat dimana Allah bersemayam dalam diri setiap orang. Hati adalah tempat dimana Tuhan membisikan dan menitipkan segala kebaikan cinta-Nya untuk dihidupi. Apabila hati menjadi mahkota dimana Tuhan berdiam di dalamnya, maka apa pun yang kita ucapkan dari mulut merupakan ekspresi hati yang selalu mencerminkan cinta dan kebaikan Tuhan. Sedangkan orang yang berhati batu dan keras menjadikan dirinya sombong dan angkuh sehingga apa pun yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan, semuanya adalah ekspresi kepalsuan dirinya, ia bagaikan mengenakan topeng kemunafikan. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tampaknya tidak mengutamakan hal yang utama yakni hati untuk menjalankan seluruh Kehendak Allah. Bagi mereka, Hukum Taurat adalah hal yang utama karena Allah yang memberikan kepada umat Israel, namun yang paling diutamakan orang Farisi dan ahli Taurat adalah hukum-hukum tambahan yang mereka buat sendiri untuk melengkapi hukum Taurat. Jadi hukum tambahan yang dibuat-buat oleh mereka dianggap lebih sakral dari hukum Taurat yang dinubuatkan Allah.

Dalam Injil Matius yang kita dengar hari ini teks Kitab Suci tidak berbicara tentang higenitas atas kesehatan yang dijadikan alasan oleh beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem, mereka menemui Yesus dan mempertanyakan: Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.” Hal sederhana dipertanyakan,diperdebatkan dan dianggap masalah besar oleh orang Farisi dan ahli Taurat. Kebersihan badan diutamakan, namun kebersihan rohani yang menjanjikan keselamatan jiwa diabaikan begitu saja. Dengan demikian mereka sibuk membasuh kulit luar sesamanya, sedangkan mereka lupa membasuh hati dan pikiran mereka sendiri. Mereka secara tidak langsung menuding bahwa Yesus telah mengajari murid-murid-Nya bertindak melawan tradisi agama Yahudi. Pertanyaan orang Farisi dan ahli Taurat tersebut ditanggapi pedas oleh Yesus: “Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” Tanggapan Yesus dalam bentuk pertanyaan ini menjadi sebuah pukulan berat bagi mereka, bahkan Yesus mengangkat contoh untuk memperlihatkan bagaimana mereka melanggar Hukum Taurat (hukum ke-5: Jangan membunuh) dan mempertahankan tradisi yang bertentangan dengan Taurat itu sendiri (ayat 4-6) “Hormatilah ayahmu dan ibumu; siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk memeliharamu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian Firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.” Melalui contoh itu, Yesus menunjukkan bahwa meskipun orang Farisi menggunakan tradisi mereka sebagai standar kebenaran, namun faktanya tradisi mereka sendiri bertentangan dengan hukum Allah. Menurut Yesus, makan dengan tangan yang tidak dicuci atau dibasuh sama sekali  tidak mempengaruhi kerohanian seseorang, artinya adat istiadat Yahudi ini kalau dilaksanakan sama sekali tidak memberikan nilai apa pun termasuk keselamatan jiwa kepada seseorang. Yang harus dijaga dan dikontrol adalah apa yang keluar dari mulut seseorang karena ia mewakili ekspresi hati kita yang terdalam dan olehnya originalitas diri seseorang dapat dinilai.

Pengetahuan agama yang memadai yang dimiliki oleh orang Farisi dan ahli Taurat sama sekali tidak menunjukkan jati diri dan kualitas keimanan mereka karena yang utama adalah hati. Hati adalah mahkota kemuliaan Tuhan dimana Allah bersemayam di dalamnya. Hati yang bersih selalu memancarkan kebaikan dan cinta Allah bagi sesama. Hati selalu mengungkapkan kebenaran hakiki dan tidak mudah dibohongi karena hati adalah mahkota kemuliaan Allah yang terpancar untuk menyinari ziarah hidup manusia. Orang Farisi dan ahli Taurat adalah pakar pemuka agama yang tahu persis bagaimana menjaga kemurnian hukum Taurat. Adat istiadat nenek moyang yang seharusnya membantu mereka menghayati kemurnian hukum Taurat  gagal dipraktekkan karena mereka telanjur memiliki popularitas tinggi sehingga mereka bersembunyi dibalik aturan nenek moyang untuk memanen kehormatan . Karena itu, Yesus menegur keras orang Farisi dan ahli Taurat yang sangat mengedepankan aspek lahiriah dan mengabaikan hal yang rohani.

Jadi apabila kita mengutamakan tampilan luar dan mencari-cari celah dalam perintah Allah yang sudah jelas, maka sesungguhnya kita sedang melanggar maksud dari hukum yang diberikan Allah. Yesus berkata, “Dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan dan hal-hal buruk lainnya (Mat 15:19). Hanya Allah yang dapat memberi kita hati yang bersih oleh kebenaran Anak-Nya yang tunggal yakni Yesus Kristus. Yesus datang untuk menggenapi dan memurnikan hukum Allah agar keluhuran dan kesucian-Nya menjadi nyata bagi manusia. Kemurnian hati dapat dijaga apabila kita sendiri berjuang untuk menjaganya seraya mengharapkan cinta dan belas kasih Tuhan. Kebajikan kerendahan hati menjadi senjata ampuh yang dapat menghantar orang mengalami perkembangan hidup rohani bersama Allah lewat pendalaman Sabda-Nya.

Seringkali kita mengabaikan keutamaan Sabda Allah dan lebih menghidupi kebiasaan-kebiasaan dan aturan lokal kita yang dianggap lebih tinggi di atas segalanya. Kita lebih sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah secara detail dan mengabaikan aspek rohani hidup kita yang menjamin relasi dan hubungan baik dengan Allah. Kita suka menilai orang dari aspek luarnya tetapi kita tidak pernah berani mengintrospeksi diri dan hati kita bahkan kita cepat tersinggung dan marah kalau dikritik orang. Kita suka mencari kehormatan semu dengan tameng penegakkan aturan sambil menekan sesama yang lemah untuk taat begitu saja, tanpa kita sadari kita sedang menggiring banyak orang masuk dalam perangkap maut  yang jauh dari keselamatan. Karena itu, Sabda Tuhan harus menjadi yang utama dalam hidup kita yang memberi nutrisi bagi kerohanian kita. Sabda Tuhan harus dijadikan patokan bagi perilaku, cara berpikir, cara bersikap, cara bertindak, cara melayani sesama kita. Kita jangan terlalu sibuk mengatur dan menilai orang lain dengan menjadikan diri kita sebagai patokannya. Kita harus berani berperang melawan kepalsuan diri kita yang selalu menganggap diri kita paling suci dan mulia. Hati yang palsu harus dimurnikan dengan cinta dan kebaikan Tuhan agar benih-benih Sabda Allah meresap dan merajai hati kita yang penuh noda dosa, sehingga kehendak Allah menyata dalam hidup kita. Yesus mengharapkan agar kita jangan gegabah menilai orang dari sudut pandang kita, karena patokan yang kita pakai untuk menilai orang belum tentu benar, karena itu, Yesus menegaskan basulah dirimu terlebih dahulu sebelum kamu membasuh orang lain. Artinya bersihkan terlebih dahulu kuman di dalam hatimu sebleum engkau bersemangat membersihkan kuman di hati orang lain.

Kita semua dipanggil untuk memberikan kesaksian hati kita yang mencerminkan cinta Allah melalui tindakan nyata kepada semua orang yang kita jumpai dan layani. Kita semua juga dipanggil untuk bersikap rendah hati mengakui keterbatasan dan kekurangan diri kita sambil berjuang menata hati untuk hidup sesuai kehendak Allah. Kesaksian hati  menjadi penting karena dari sana mengalir sumber kegembiraan dan kekuatan bagi orang lain jika kita benar-benar menghayati Sabda Allah sebagai sumber inspirasi dan pedoman kita. Kita tidak perlu menarik diri dari lingkungan ketika kita berhadapan dengan sekelompok orang yang berperilaku buruk, munafik dan sok suci seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang hanya memperhatikan hal-hal lahiriah dan mengabaikan hidup imannya kepada Allah. Di sini kita ditantang: apakah kita berani menjadi saksi dan terang Kristus yang berdaya guna untuk membawa pembaharuan dan pertobatan menuju Allah atau tidak? Semoga. ***Bernad Wadan***