Mat 18:1-5,10,12-14
Menjadi
pintar dan menjadi orang baik butuh suatu proses yang dinamakan belajar.
Belajar sebagai satu sistem, orang bisa belajar di sekolah yang disebut
pendidikan formal dan juga belajar di luar sekolah yang disebut pendidikan non
formal. Dalam belajar orang diajar oleh seseorang seperti guru, orang tua, oleh
masyarakat dan lingkungan kita. Tujuan orang belajar untuk menggapai hidup yang
baik dan benar. Hidup dan pengalaman hidup menjadi sebuah sekolah kehidupan dan
sekolah kehidupan itu berlangsung sepanjang orang mau belajar dari hidup orang
lain, dari spiritualitas santo santa dan dari pengalaman hidup nyata orang lain
sebagai guru kehidupan yang baik. Ajakan Yesus untuk belajar dari anak kecil
hari ini bukanlah suatu penghinaan bagi orang dewasa. Mungkin kita serentak
berkata: apa sih yang bisa kita dapatkan dari mereka, sedangkan mengurus diri
saja mereka tidak mampu. Nilai penting apa yang bisa kita pelajari dan dapatkan
dari kepolosan mereka? Sikap dan sifat seorang anak kecil yang tak berdaya dan
polos justru dijadikan oleh Yesus sebagai rujukan bagi orang dewasa dalam
membangun hidup iman sebagai murid-murid Kristus.
Pikiran
para murid Yesus masih sangat duniawi, dimana Kerajaan Allah dianggap sama
dengan kerajaan dalam pandangan manusiawi yang ada rajanya dan masyarakat yang
diperintah. Karena itu, mereka berlomba-lomba untuk menjadi penguasa dalam
kerajaan manusiawi. Para murid bertanya kepada Yesus: “Siapakah yang terbesar
dalam Kerajaan Surga.” Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan mereka tetapi
membuka mata hati mereka untuk memandang seorang anak kecil yang ditempatkan
Yesus di tengah-tengah mereka. Yesus berkata: “sesungguhnya jikalau kamu tidak
bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini kamu tidak akan masuk ke dalam
Kerajaan Surga. Barang siapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil
ini dialah yang terbesar di dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3). Yesus
membandingkan anak kecil dengan diriNya, artinya menerima anak kecil berarti
menerima Yesus sendiri. Di sini Yesus menghendaki agar para murid dapat
menjauhkan diri dari sikap ambisi duniawi yang berlebihan karena sikap itu
tidak banyak gunanya dalam hidup bersama. Ambisi berlebihan itu harus diganti
dengan sikap rendah hati sebagaimana disimbolkan oleh anak kecil, karena Yesus
sendiri adalah lemah lembut dan rendah hati. Agar supaya bisa mengurangi ambisi
pribadi di atas dan bersikap rendah hati maka kita harus bertobat. Kita berjuang
untuk berbalik kepada Tuhan yang rendah hati dalam diri Yesus Kristus teladan
hidup Kristiani. Yesus dalam Injil hari ini menginginkan para murid-Nya
memiliki kepolosan hati seperti anak kecil karena dunia orang dewasa sering
dinodai oleh keinginan dan napsu untuk menguasai orang lain, ingin menjadi
penguasa tunggal yang bisa menundukan orang tanpa perlawanan dan ingin menjadi
yang terhebat. Persaingan tidak sehat itu dapat memunculkan keinginan untuk
saling menjatuhkan dan meniadakan. Persaingan tidak sehat ini justru
bertentangan dengan intisari ajaran Yesus yakni kasih dan pelayanan. Yesus
menempatkan anak kecil sebagai model yang
mengingatkan para murid-Nya bahwa dalam diri setiap orang selalu ada sosok anak
kecil yang polos, jujur, gembira, hidup tanpa beban dan pasrah. Kekhasan anak
kecil ini mesti diadopsi oleh setiap murid Yesus untuk membantu kita menemukan
jalan menuju keselamatan kekal dalam diri Yesus.
Yesus
menjadikan anak kecil sebagai ukuran bagaimana seorang beriman bisa masuk
kedalam Kerajaan Surga. Sering kita membuat kategori-kategori sifat anak kecil
yang biasa kita lihat. Anak kecil penuh dengan kepolosan dan ketulusan, jika ya
mereka berkata ya, jika tidak mereka katakan tidak. Untuk mengatakan ya atau
tidak mereka tidak bisa berdusta dan bersandiwara. Namun demikian, banyak orang
dewasa yang memanfaatkan dan mengajari anak-anak untuk bersandiwara demi tujuan
terselubung mereka. Mereka tidak lagi sebagai anak yang polos dan jujur tetapi
penuh dengan modus palsu dan intrik. Kata-kata yang tadinya tulus dari mulut
anak, kini berubah menjadi kebohongan dan ketidaktulusan. Orang dewasa telah
membuat anak-anak menjadi kawanan domba yang hilang. Mereka yang seharusnya
menjadi contoh ketulusan, kejujuran dan kepolosan, justru sekarang telah
diformat untuk menjadi seperti domba liar yang selalu menghilang. Selaras
dengan apa yang dikatakan oleh Yesus “Barangsiapa menyambut seorang anak
seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku”. Itu berarti kita menolak Yesus
karena tidak mampu menyambut anak kecil seperti jati dirinya.
Yesus
menghendaki agar para murid-Nya melakukan pertobatan dalam dirinya dan bersikap
rendah hati bila ingin memikul salib penderitaan bersama-Nya. Dengan begitu,
seorang murid Kristus semakin matang dan dewasa dalam hal iman sehingga ia lebih
sungguh-sungguh menghayati dan mengemban tugas pewartaan dan pelayanan bagi
sesama sesuai dengan Kehendak Allah. Yesus mengundang kita untuk belajar dari
sosok anak kecil yang lemah lembut yaitu belajar untuk mencintai, hidup dalam damai,
saling mengampuni, menghargai, menghormati, menerima orang lain apa adanya,
ramah tamah, sopan santun, mengeluarkan kata-kata yang mendatangkan sukacita
dan kegembiraan. Belajar lemah lembut dari Yesus yang tidak membalas kejahatan
dengan kejahatan, yang rela berkorban, yang mencintai dan mengampuni tanpa
batas. Yesus mengajak kita untuk belajar rendah hati, artinya belajar untuk
tidak sombong, tidak selalu menganggap rendah orang lain, tidak merasa diri
paling hebat, berkuasa dan benar. Kerendahan hati yang dimaksudkan Yesus di
sini artinya kerelaan untuk turun dari
sikap ingat diri untuk mau berkorban dan melayani orang lain dengan tulus.
Yesus
mengundang para murid-Nya dan juga kita semua untuk belajar dari anak kecil.
Belajar yang ditawarkan Yesus tidak hanya sebatas pengetahuan, tetapi belajar
untuk suatu kehidupan yang bermutu dan bernilai. Yesus mengajarkan nilai-nilai
universal tentang bagaimana menjadi orang besar, bukan dengan kekuasaan atau
karena status hidup, melainkan dengan melayani sesama yang menderita.
Sikap-sikap dan kebajikan hidup Kristiani ini harus dihidupkan dan dibiasakan,
seperti sikap rendah hati, mau melayani tanpa pamrih, sikap mau mendengarkan
orang lain dan menyadari diri sebagai orang berdosa adalah karakter dasar seorang
Kristiani yang berjiwa melayani. Kita semua harus memiliki jiwa untuk melayani
seperti seorang anak kecil yang rendah hati, yang hatinya terbuka pada kasih
dan kebaikan Tuhan dan sesamanya. Orang-orang seperti inilah menurut Yesus,
akan memiliki Kerajaan Allah karena hidup mereka berkenan dihadirat Tuhan.
Sebaliknya, orang-orang yang sombong, sinis, bermental pejabat, selalu merasa
diri hebat karena status kemasyarakatannya membuatnya lalai bahkan tidak
menyadari kesalahan dan dosanya. Orang bermental demikian, suka
mengungkit-ungkit kelemahan orang lain, suka mencari kambing hitam, suka
memberikan keterangan palsu dan mencari-cari kesalahan orang. Tipe dasar orang
angkuh seperti ini suka mencari aman bagi dirinya sekarang dan di sini,
sedangkan usaha untuk mencapai keselamatan kekal baginya masih ada banyak waktu
dan kesempatan. Kesombongan telah menguasai hatinya sehingga tidak ada celah
sedikit pun bagi kebaikan yang mengarahkan hidupnya menuju pertobatan sejati.
Sebagai
murid-murid Kristus kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah berniat untuk
meninggalkan kita. Ia selalu menunggu dan membuka hati-Nya bagi orang yang mau
bertobat dan kembali ke jalan-Nya. Sebagai gembala yang baik, Ia datang ke
dunia mencari domba yang tersesat meskipun hanya seekor, Ia meninggalkan 99
ekor domba lainnya dan pergi mencari yang tersesat itu untuk diselamatkan.
Artinya, Allah sangat mencintai umat-Nya yang sungguh-sungguh bertobat dan
menyerahkan diri untuk diselamatkan. Kebajikan kerendahan hati memungkinkan
kita hidup seperti anak kecil yang selalu membutuhkan peran dan bantuan pihak
lain.
Kita
tidak bisa berjalan sendirian untuk mewujudkan hidup sebagai orang Kristiani
yang baik. Kita butuh bimbingan dan penyertaan Tuhan untuk membantu kita
melewati jalan terjal menuju keselamatan paripurna. Untuk menghadirkan Tuhan
dalam hati dan hidup kita, kita perlu menjadi seperti anak kecil. Anak kecil
selalu bergantung penuh pada orang tuanya dan memegang tangan orang tuanya
ketika berjalan. Ketakberdayaan hidup seorang anak kecil memberi inspirasi bagi
kita murid-murid Yesus untuk bergantung penuh pada kemurahan hati Allah agar Ia
bersedia menuntun kita berjalan bersama-Nya menuju kediaman abadi. Yesus
meminta kita untuk meninggalkan ambisi duniawi kita dan fokus pada kebaikan
yang menunjang keselamatan jiwa kita. Segala urusan duniawi yang memenjarahkan jiwa
kita harus bisa dibebaskan agar kita rendah hati dan terus mencari Allah
sebagai sumber keselamatan. Aspek kesaksian hidup sebagai orang Kristiani juga
menjadi penting, karena kesaksian hidup adalah guru kehidupan yang bertahan
lebih kuat dari pada kata-kata. Dengannya, hidup orang disekitar kita dapat
berubah (bertobat) untuk kembali kepada jalan keselamatan yang ditawarkan Allah
kepada kita semua. Mari kita serahkan
diri dan hidup kita pada bimbingan dan penyertaan Tuhan, karena tanpa campur
tangan dan keterlibatan-Nya, kita bukan siapa-siapa dan berujung pada
kehancuran. Kalau kehancuran melanda
hidup kita maka kita akan semakin jauh dan jauh dari Allah bahkan
keselamatan kekal menjadi mimpi belaka untuk digapai. ***Bernard Wadan***