Selasa, 09 September 2025

Yesus Menyembuhkan Ibu Mertua Simon Petrus dan orang-orang lain

 

Injil Lukas 4: 38-44. Setelah peristiwa itu orang-orang dengan berbagai macam penyakit mencari-Nya untuk untuk mendapat kesembuhan.  Dihadapan Yesus, setan-setan keluar dari banyak orang sambal berteriak-teriak.  Dengan kehadiran Yesus disatu sisi membawa kebaikan dan kedamaian bagi banyak orang, dilain sisi menyebabkan kemarahan dan keputuasaan bagi si jahat. Ini bukan berarti satu-satunya cara atau tindakan Yesus mengusir setan.  Dalam kisah penyembuhan orang Gerasa, setan yang merasukinya juga meronta dan memohon supaya jangan disiksa. Melihat kehadiran Tuhan Yesus, setan merasa terganggu dan marah karena kehadiran Allah menggangu ketenangannya. Kehadiran Allah membuat suasana ketenangan yang selama ini di dapat membuatnya tidak berkituk dan tidak berdaya.

Dari peristiwa ini kita sendiri juga mengalami dimana kita merasa bahwa perjumpaan dengan Yesus adalah sebuah gangguan. Kita merasa terganggu karena harus menghadiri misa pada hari minggu, waktu dimana kita menikmati liburan. Atau ada kegiatan rohani mendadak yang harus diikuti namun menyita waktu yang sudah direncanakan untuk istirahat. Kita merasa gelisa dan terganggu akan Dia ketika kita sudah dikuasai oleh kecanduan pornografi. Kita merasa terusik dan malu bertemu dengan Dia ketika kita terlibat dalam korupsi, perzinaan, penipuan, dan lain-lain. Kita enggan untuk pergi dan berjumpa dengan Tuhan Yesus, untuk memohon pengampunan. Akhirnya, bukan Tuhan yang harus pergi mendatangi kita ketika kita enggan keluar dari kenyamanan bersama dengan roh jahat.

 

Kenapa kita merasa terganggu ketika Tuhan Yesus datang? Biasanya penyebabnya adalah kekecewaan, kesedihan, kemalasan rohani, keinginan yang tidak teratur, serta nafsu yang tidak terkendali. Semua itu bermuara pada egoisme, diri sendiri. Segala hal ditujukan pada diri sendiri, semua pertimbangan diarahkan pada diri sendiri.

Apa yang dilakukan Yesus hari ini bisa menjadi obat atau penawar dari situasi diatas, situasi yang menggambarkan bahwa kita dikuasai setan. Pertama, kita harus berkomitmen setiap hari untuk menyediakan waktu sejenak guna melihat dan mendengarkan Tuhan Yesus. Ini yang kita sebut berdoa. Yesus melakukannya juga seperti yang dikatakan disini. “Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. “ Kedua, Kita harus berkomitmen setiap hari untuk mengalahkan keegoisan diri kita dengan melakukan hal-hal kecil demi kebaikan orang lain. Ini yang kita sebut mengasihi sesama.  Yesus melakukannya juga karena di sini Ia berkata, “ Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil.

Semoga Bunda Maria Penolong Abadi mendoakan kita selalu.

Rabu, 01 Maret 2023

Mengutamakan Harta Sorgawi

Luk 6:20-26

           

            Pertanyaan eksistensial tentang tujuan dari kehidupan manusia, acapkali dijawab dengan jawaban yang umum dan normatif. Iya, manusia hidup tentu saja untuk mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Tidak ada seorang pun manusia yang tidak mau mencapai kebahagiaan dalam hidup. Persoalannya adalah kebahagiaan yang memiliki model dan karakteristik seperti apa. Mulai dari aspek yang bersifat materi, jasmani, atau fisik sampai kepada aspek yang bersifat non materi, metafisik, atau spiritual terdeskripsi maksud kebahagiaan masing-masing individu, kelompok dan golongan. Ada orang yang merasa bahagia kalau memiliki harta dan kekayaan. Ada banyak uang, rumah yang bagus, motor dan mobil juga tersedia. Saya pernah membaca tulisan di sebuah mobil yang berbunyi “ada uang masalah selesai”. Uang dianggap sebagai solusi dari pelbagai dinamika atau kompleksitas kehidupan yang terjadi. Saya pikir sah-sah saja orang memiliki persepsi seperti ini.

 

            Selain harta dan kekayaan duniawi, ada segelintir orang yang merasa bahagia karena memiliki harta atau kekayaan secara rohani atau spiritual. Ia tidak peduli apakah ia memiliki harta kekayaan duniawi atau tidak. Yang terpenting dalam kehidupannya adalah menjadi baik bagi diri sendiri dan orang lain. Saya pernah membaca motto seorang sahabat, “be yourself, jadilah yang terbaik dalam hidupmu”. Menarik sekalih motto ini sekaligus filosofi kehidupan. Bagi sang sahabat, harta dan kekayaan duniawi memang penting untuk menunjang kehidupan dunia. Tetapi yang paling penting adalah mewujudkan kebaikan, tidak saja bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Inilah esensi tujuan kebahagiaan menurut sahabat saya. Memang terdengar sangat ideal. Namun dalam kehidupan hal pokok yang menjadi idealisme perlu ditanam dan digaungkan. Walaupun dalam kenyataan, sangat sulit kita mewujdukannya karena terbentur dengan aneka kepentingan, ambisi, dan kesenangan pribadi.

 

            Sabda bahagia  yang diucapkan Yesus dalam bacaan Injil hari ini (Luk 6:20-26) ditujukan kepada mereka yang masuk dalam kategori miskin, lapar, menangis, dan dianiaya. Selain itu, Yesus juga mengecam perilaku orang-orang yang kaya, kenyang, tertawa, dan suka dipuji. Orang miskin yang disebut dalam bacaan Injil, tidak hanya miskin secara materi tetapi kehidupannya sangat bergantung kepada orang lain. Mengapa? Karena mereka hidup dalam suasana penindasan dan direndahkan. Yesus memandang para murid dan orang-orang yang mengikuti-Nya sebagai orang miskin yang berbahagia karena mereka orang-orang sederhana dan rendah hati yang memiliki hati yang terbuka pada sabda dan pengajaran-Nya. Kemudian, siapakah orang lapar yang dimaksudkan oleh Yesus? Mereka adalah orang-orang yang sedang mendengar-Nya saat itu. Mereka tidak memiliki apa-apa untuk dimakan. Sekarang mereka memasuki saat Mesianis dimana mereka akan ikut dalam perjamuan yang memuaskan. Mereka tidak akan merasa lapar lagi.

 

            Mereka yang menangis. Siapakah orang-orang yang menangis? Mereka yang mengalami penderitaan karena kemiskinan akibat situasi sosial. Mereka juga yang menderita karena mengimani Kristus. Yesus menjanjikan sukacita Mesianis dimana mereka semua akan tertawa. Mereka yang mengalami penganiayaan karena nama Yesus Kristus. Yesus mengetahui bahwa di antara mereka yang mendengar-Nya mengalami penderitaan tersendiri. Di samping mengucapkan Sabda Bahagia kepada kaum miskin, yang lapar, menangis dan dianiaya, Yesus juga mengecam orang-orang yang mendengar-nya tetapi hati mereka masih tertutup untuk menerima sesama yang miskin, lapar, menangis, dan dianiaya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kekayaan, kepuasan, kepemilikan harta duniawi dan hormat akan membawa orang menutup dirinya terhadap sesama dan Tuhan sendiri. Orang tidak lagi mengandalkan Tuhan dan membuka diri kepada sesama. Orang kaya dalam pikiran penginjil Lukas adalah mereka yang puas dengan semua kebutuhan hidupnya sehingga tidak lagi membutuhkan Tuhan dan sesama.

 

            Sebenarnya Yesus tidak mengkritik apalagi menyalahkan harta dan kekayaan duniawi yang dipunyai oleh setiap orang. Karena setiap orang memiliki hak dan tanggung jawab pribadi atas kehidupannya sendiri untuk menjadi lebih mapan dan kaya. Yang menjadi masalah adalah perilaku sosial dari orang-orang mapan secara ekonomi yang tidak memiliki kepekaan dan tanggungjawab sosial dalam hidupnya. Mereka bersikap apatis dan cenderung tertawa di atas penderitaan orang lain. Begitu juga dengan orang miskin secara finansial. Tidak otomatis mereka mendapatkan kebahagiaan seperti yang dinyatakan oleh Yesus. Bisa jadi mereka bersikap berlawanan dengan kehendak Tuhan. Orang sering mengatakan “sudah miskin, sombong pula”.

           

            Bagi Yesus, entah itu orang miskin atau pun orang kaya, semuanya memiliki derajat yang sama di mata-Nya. Kekayaan atau harta duniawi memang penting untuk memberi jaminan atas kehidupan duniawi. Namun di atasnya, ada kekayaan atau harta sorgawi yang menjadi aspek pertama dan terutama dalam kehidupan. Setiap orang beriman, entah orang kaya atau miskin, selalu diajarkan, diarahkan, dan dibimbing untuk mencari harta atau kekayaan sorgawi. Hendaknya kita selalu memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan untuk mencari harta sorgawi di dalam diri-Nya. Baik dalam segala kekurangan atau pun dalam kelebihan yang kita miliki, senantiasa kita memiliki kepekaan dan tanggung jawab sosial untuk berbagi dengan sesama. Terutama bagi mereka yang sedang sakit, menderita, dan tertindas dalam kehidupan.

Kamis, 23 Februari 2023

Mengandalkan Tuhan Dalam Hidup

 

Yoh 1:45-51

           

            Hari ini kita memperingati pesta Santo Bartolomeus. Santo Bartolomeus adalah salah seorang dari kedua belas rasul. Dalam Alkitab, ia disebut sebagai Natanael. Nama Natanael hanya disebutkan dalam Injil Yohanes. Dalam Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), ia disebut sebagai Bartolomeus dan selalu disebutkan bersama Filipus. Sedangkan nama Natanael tidak pernah disebut. Sebaliknya dalam Injil Yohanes, Filipus dan Natanael disebutkan bersama, tetapi nama Bartolomeus tidak pernah disebut. Bartolomeus berasal dari Kana di daerah Galilea seperti kebanyakan murid Yesus yang lainnya. Ketika diajak oleh temannya, Filipus, untuk menemui Yesus dari Nazaret, Natanael awalnya bersikap skeptis (tidak percaya).

 

            Para pakar meyakini bahwa perkataan Yesus mengenai Natanael “di bawah pohon ara” merupakan istilah yang bermakna mempelajari Taurat. Rupanya Natanael ini seorang intelektual yang saleh. Hal ini ditunjukkan dengan kesukaan dan kebiasaannya untuk membaca dan mempelajari kitab Taurat. Ia tidak menyangka bahwa Yesus bisa mengenalinya sedalam itu. Berkat pengakuan Yesus tentang siapa dirinya, Natanael sangat takjub dan menjadi percaya tentang siapa Yesus sebenarnya. “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel” (Yoh1:49). Sejak peristiwa itu, Bartolomeus mengikuti Yesus hingga Yesus wafat di salib. Dan Bartolomeus menjadi salah satu saksi kunci kebangkitan Yesus.

 

            Nama Natanael disebut kembali di akhir Injil Yohanes yang dicatat bersama-sama sejumlah murid lain di pantai danau Galilea setelah kebangkitan Yesus. Penginjil Yohanes menulis dengan sangat detil peristiwa penampakan Yesus di tempat itu. “Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain” (Yoh 21:1-2).

 

            Eusebius dari Kaisarea (seorang sejarawan gereja), menulis dalam Ecclesiastical History bahwa setelah peristiwa kenaikan Yesus ke Sorga, Bartolomeus pergi sebagai misionaris di negara India. Salinan Injil Matius yang ditemukan menjadi petunjuk atau bukti karya kerasulan Bartolomeus di India. Tradisi lain mencatatnya sebagai misionaris di Etiopia, Mesopotamia (kini negara Irak), Parthia (Iran), dan Lycaonia (daerah kuno di Anatolia Turki). Rasul Bartolomeus bersama rasul Yudas anak Yakobus, dikenal sebagai pembawa ajaran Kristen di negara Armenia pada abad ke-1 M. Dan untuk mengenang sekaligus menghormati karya mereka, keduanya dijadikan santo pelindung bagi Gereja Apostolik Armenia. Dikabarkan bahwa Bartolomeus mati sebagai martir di Albanopolis Armenia. Menurut satu riwayat, ia dipenggal kepalanya. Tetapi tradisi yang lebih popular menyatakan bahwa ia dikuliti hidup-hidup dan disalib dengan kepala ke bawah. Dikatakan bahwa Bartolomeus telah mempengaruhi dan membawa Polymus, raja Armenia, menjadi penganut Kristen. Akibatnya, Astyages, saudara Polymus, menyuruh orang-orang suruhannya untuk menghukum mati Bartolomeus. Pada abad ke-4, jenazah Bartolomeus dipindahkan ke sebuah gereja di Roma.

 

            Yang menjadi pijakan refleksi kita pada kesempatan ini adalah bahwa walaupun Bartolomeus seorang yang religius (rajin berdoa dan membaca kitab suci), namun  ia sangat kritis. Alam intelektual yang membentuknya memungkinkan ia untuk tidak mudah percaya akan sesuatu hal. Ia perlu memverikasinya untuk mendapatkan kebenaran secara okyektif dan akurat. Bahkan Bartolomeus juga sempat meragukan Yesus dari Nazaret. “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret” (Yoh 1:46) merupakan ungkapan skeptis Bartolomeus. Tidak mungkin seseorang yang diramalkan oleh Musa dalam kitab Taurat dan kitab para nabi datang dari Nazaret. Memang Nazaret pantas digugat oleh Bartolomeus karena ia hanya berwujud kampung kecil, lebih tepatnya dusun. Tempatnya terisolir, jauh dari sentuhan perkotaan. Nama Nazaret tidak familiar atau sangat asing kedengarannya kala itu. Rasa penasaran Bartolomeus menghantarnya ke hadapan Yesus. Ia begitu kaget dan terpesona mendengar kata-kata Yesus tentang dirinya. Baru kali ini, ia melihat dan mendengar secara langsung seseorang yang masih asing tetapi sangat dalam memberi kesaksian tentang dirinya. Seketika itu juga ia langsung jatuh cinta kepada Yesus. Rasa egonya tenggelam. Daya kritisnya serentak menjadi daya positif untuk mengenal Yesus lebih dalam. Arogansi intelektualnya remuk redam di hadapan Yesus. Pada akhirnya, Ia sungguh percaya dan menyerahkan diri secara total untuk menjadi pengikut Yesus.

           

Sebagai pengikut Yesus era ini, tentu kita mendapat tantangan yang tidak kecil. Seringkali kita juga bersikap skeptis akan iman kita kepada Tuhan. Kita gampang meragukan Tuhan dalam seluruh peristiwa dan pengalaman hidup. Kita lebih mengandalkan diri sendiri dan kekuatan-kekuatan lain di luar kekuatan Tuhan. Hari ini Tuhan sungguh meneguhkan iman kita lewat pengalaman Bartolomeus. Seperti Bartolomeus, Yesus juga mengatakan kepada kita semua: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya” (Yoh 1:47). Secara fisik kita memang bukan orang Israel. Namun ungkapan simbolik dalam Israel sejati, hendak menegaskan jati diri kita sebagai anak kandung Allah sendiri. Anak-anak yang lahir secitra dengan Diri-Nya. Sebagai anak kandung Allah, sangat tidak elok dan benar kalau kita bertindak di luar kehendak Tuhan. Semoga kita semakin diteguhkan untuk beriman kepada Tuhan dan selalu mengandalkan Dia dalam seluruh hidup dan karya kita. Kita yakin, dalam setiap peristiwa dan pengalamn hidup, Tuhan sungguh mengintervensi dan mendewasakan iman kita kepada-Nya.

Selasa, 14 Februari 2023

Menjadi Manusia Yang Berkesadaran

                                                 Mat 19:16-22

           

            Sebagai orang tua yang bertanggung jawab, kita memiliki kewajiban moral untuk mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak-anak untuk memiliki sikap yang baik. Baik tidak hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga dalam lingkup pergaulan sosialnya bersama orang lain. Tentu dengan pelbagai pendekatan dan metode yang berbeda. Ada pendekatan yang lembut, tegas, dan tidak jarang orang tua mendidik anak-anak dengan kata-kata yang keras dan kasar. Kata-kata kunci seperti jangan, tidak, harus, wajib, menjadi kata-kata lumrah dan terus menghiasi dinamika hidup harian kita. Terutama berhadapan dengan anak-anak, kata-kata ini dipakai untuk memberi batasan agar mereka tidak melenceng dari hidup yang sudah digariskan oleh hukum moral dan ajaran agama. Kata-kata demikian, menjadi lebih efektif apabila ditambahkan dengan keterangan yang menjelaskan dampak dari sebuah perbuatan. Misalnya, jangan mencuri karena Tuhan akan murka. Kamu tidak boleh menghina sesamamu karena kamu akan mendapat celaka. Anda harus menolong orang lain agar Tuhan mengasihimu. Anda wajib menolong orang miskin agar kelak masuk sorga. Dan masih banyak contoh kalimat yang lain.

 

            Nasihat seperti ini merupakan contoh penerapan metode reward (hadiah) dan punishment (hukuman) untuk memotivasi seseorang. Metode ini memang terbukti efektif dalam berbagai bidang kehidupan manusia termasuk dalam urusan rohani. Kebanyakan orang melakukan hal-hal baik dan benar seturut ajaran moral dan agama dengan motivasi tertentu. Agar ia mendapat berkat dan keselamatan dari Tuhan. Agar ia bisa diterima dalam keluarga dan masyarakat. Agar ia bisa disenangi dan mendapat simpati dari publik. Agar ia bisa diberi apresiasi dan kenaikan jabatan. Penghayatan nilai-nilai iman dan moral yang berlandaskan pada aspek reward dan punishment sah-sah saja. Tetapi model penghayatan seperti ini bukanlah sebuah penghayatan hidup yang sejati. Orang-orang masih dibebani atau diikat dengan pelbagai konsekuensi yang harus diterimanya. Kenyataannya, orang tidak melakukan sesuatu berdasarkan kemauan dan kesadaran pribadi.

 

            Hari ini kita berjumpa dengan seorang muda yang kaya, baik, dan saleh. Dia meminta nasihat Yesus tentang perbuatan baik yang menjamin masa depannya, yaitu memperoleh hidup yang kekal. Permintaannya mencerminkan asumsi bahwa hidup kekal itu merupakan ganjaran atas perbuatan baik manusia. Ia menganggap relasi dengan Tuhan sebagai barter komersial (bisnis) antara perbuatan baiknya dengan ganjaran hidup kekal. Kebaikan dilihatnya hanya sebatas ketaatan pada hukum. Oleh Yesus, Dia ditantang untuk membebaskan diri dari ikatan hartanya. Ia harus rela membagikan harta itu kepada orang-orang miskin lalu mengikuti Yesus. Ini bukan merupakan syarat hidup yang kekal, melainkan tujuan utama hidup yang harus dilakukan. Dalam iman, tujuan hidup demikian selaras dengan maksud mulia Allah menciptakan manusia. Sayangnya orang muda ini tidak berani menanggapi jalan kesempurnaan ini. Ia masih lebih mencintai harta duniawi miliknya. Ia belum mampu membebaskan dirinya dari segala keterikatan hidup duniawi. Ia belum memiliki kesadaran penuh untuk memperoleh hidup kekal. Ia hanya menjalani secara rutinitas dan formalitas belaka segala hal yang ditetapkan oleh ajaran agama.

 

            Mungkin sebagai orang beriman kita masih memperlihatkan hidup seperti orang muda yang kaya ini. Segala hal baik dan benar yang kita tunjukkan masih berada pada tataran formalitas atau sekedar rutinitas belaka. Kita melakukan hal yang baik dan benar karena ada kepentingan atau tujuan yang lebih bersifat pragmatis. Jauh dari kata ideal. Kita menunjukkan kebaikan kepada orang lain supaya dicap sebagai orang baik. Kita rajin ke gereja pada hari Minggu supaya dikatakan sebagai orang religius. Kita disiplin dalam waktu supaya tidak mendapat complain dari atasan atau pimpinan. Kita menerapkan 3S yakni senyum, sapa, dan salam, supaya diapresiasi sebagai orang yang ramah. Kita menyumbang atau memberi derma supaya menaikan gengsi sosial. Kita sering menolong orang miskin dan tertindas supaya Tuhan berkenan memberi berkat. Saya kira masih banyak litani kehidupan yang bisa kita catat dan refleksi secara pribadi yang pada intinya menggambarkan bahwa apa yang kita lakukan masih berada pada tataran formalitas dan memiliki tujuan pragmatis.

 

              Kita masih belum sungguh-sungguh merdeka untuk melakukan segala kebaikan dan kebenaran dalam kesadaran sejati. Kesadaran sebagai makhluk beriman yang diciptakan Tuhan untuk sungguh-sungguh berada secara total di jalan kebenaran Tuhan. Hari ini Tuhan mengatakan kepada kita: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga”. Statement Yesus ini bukanlah sebuah syarat  hidup yang pragmatis. Kata-kata Yesus ini merupakan sebuah idealisme yang harus digapai oleh setiap kita. Dan menjual harta milik tidak ditafsir secara harafiah semata. Menjual harta milik bersinonim dengan membebaskan diri dari segala keterikatan duniawi dan kepentingan pribadi. Kita melakukan segala hal baik dan benar sesuai anjuran hukum moral dan agama karena dibentuk oleh sebuah kesadaran. Kesadaran untuk memaknai hidup lebih bermakna. Dan yang pasti kesadaran sebagai makhluk Tuhan yang sementara berziarah menuju keabadian hidup.

Kamis, 09 Februari 2023

Menjadi Pribadi Bijaksana


Mat 17:22-27

           

            Hari ini kita merayakan pesta Santo Dominikus, seorang imam saleh dan pengkotbah ulung. Santo Dominikus merupakan pendiri ordo religius Dominikus. Atau dikenal dengan Ordo Praedicatorium (Ordo para pengkotbah / Ordo Dominikan). Ordo Dominikan adalah sebuah tarekat atau kongregasi yang menggabungkan corak hidup kontemplatif (Cara hidup yang mengutamakan kehidupan penuh ketenangan, mati raga, bertapa, sehingga orang dapat berdoa dan bersemadi dengan lebih mudah) dengan kehidupan aktif seperti mewartakan Injil di luar komunitas, kerja tangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, belajar, dan lain-lain. Santo Dominikus lahir pada tahun 1170 di Calaruega, Spanyol, dan tutup usia di Bologna, Italia, pada tanggal 6 Agustus 1221. Ia menjadi santo pelindung bagi para ibu yang sedang berharap dan para astronom.

 

Merenungkan perikop Injil hari ini, ada satu bagian menarik yang nampaknya jarang direnungkan atau dibahas oleh banyak orang. Berkaitan dengan membayar pajak, apa alasan Yesus supaya Petrus membayar pajak bagi mereka berdua? Satu-satunya alasan yang terungkap dengan jelas dalam teks Injil ini adalah: “Supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka” (Mat 17:27). Batu sandungan berarti menjadi penghambat bagi orang lain, bagi sebuah aturan dan kebijakan tertentu dan bagi sebuah kebaikan bersama (Bonum commune). Maka Yesus meminta Petrus untuk mencari koin dalam ikan di danau supaya mereka tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

 

Menjadi batu sandungan berarti menghambat orang lain atau kelompok tertentu. Yesus mengingatkan Petrus agar karena hal sederhana jangan sampai justru mereka malah menghambat orang lain. Mereka menghalangi orang lain untuk maju dan berkembang. Ketika sebuah kebijakan atau aturan sudah ditetapkan bersama, maka semua orang wajib untuk menghargai dan menjalankan kebijakan atau aturan tersebut. Bahkan mereka yang berkuasa membuat kebijakan dan aturan juga tidak bisa seenaknya untuk mengubah atau dia sendiri tidak melaksanakannya.

 

Dalam kehidupan bersama, misalnya dalam lingkungan Gereja, kita juga berhadapan dengan berbagai kebijakan bersama, Entah di ranah lingkungan atau paroki. Tidak jarang dijumpai ada sekelompok orang yang merasa tidak cocok dengan kebijakan itu. Karena tidak cocok, mereka kemudian membuat gerakan untuk menciptakan kebijakan baru yang tidak sejalan dengan kebijakan lama. Sementara sebagian besar umat masih merasa kebijakan yang lama tetap relevan untuk diterapkan. Yang sering terjadi adalah sekelompok orang ini memaksakan kehendak mereka. Inilah kiranya yang dikatakan oleh Yesus sebagai “batu sandungan” bagi umat yang lain.

 

Contoh lain, dalam lingkup kerja. Kerap kita menemui atau berhadapan dengan orang atau kelompok orang yang mengambil sikap berseberangan dengan aturan yang berlaku atau kebijakan yang telah disepakati bersama. Mungkin mereka merasa ada kepentingan secara pribadi atau kelompok yang tidak terfasilitasi di dalamnya. Tentu aturan dan kebijakan yang diterapkan memiliki tujuan untuk membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi para pegawainya. Lain hal lagi, jikalau aturan atau kebijakan tertentu tidak dapat memberikan rasa keadilan atau asas manfaat bagi kepentingan umum. Pasti akan timbul penolakan dan petisi untuk mengevaluasinya. Akan tetapi, selama kebijakan dan aturan itu memiliki tujuan yang baik dan mulia, walaupun mungkin tidak mengakomodir semua kepentingan pribadi, seyogyanya semua pihak dapat menerima dan menjalankannya.

 

Dalam kehidupan ini kiranya ada banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak kita. Ada banyak aturan dan kebijakan yang mungkin dianggap tidak lagi sesuai. Jika kita mampu untuk memperbaikinya, maka kita bisa melakukannya. Namun jika apa yang kita usulkan justru menjadi perdebatan dan bahkan menimbulkan konflik dan perpecahan, maka sebaiknya kita berpikir kembali. Kita hidup bersama dalam satu kesatuan bersama orang lain. Ada kalanya kita harus bertindak demi kepentingan dan kebaikan bersama. Namun sebaiknya kita tidak boleh bertindak atas nama kepentingan pribadi atau kelompok, supaya jangan menjadi batu sandungan bagi semua orang.

 

Hari ini Yesus telah menginspirasi agar kita menjadi manusia yang bijaksana dalam hidup. Manusia yang tidak hanya memikirkan diri dan kelompoknya semata. Manusia yang tidak hanya memfokuskan hidup demi pribadi dan kelompoknya. Apalagi sampai mengambil sikap oposan atau berlawanan dengan sebuah aturan dan kebijakan yang baik dan mulia demi kepentingan bersama. Jika ini yang terjadi maka sebenarnya kita telah menjadi batu sandungan bagi orang lain dan kepentingan bersama. Kita harus mengasah dan menata diri untuk menjadi manusia yang bijaksana. Pertama, dalam menyikapi pelbagai hal, termasuk aturan dan kebijakan yang bertolak belakang dengan prinsip keadilan dan kebaikan bersama, kita perlu bertindak dengan sikap rasional dan emosi yang matang. Dengan pendekatan yang lebih persuasif, dan bukan sebaliknya dengan intimidasi dan kekerasan. Kedua, kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan kepentingan umum dengan mengutamakan kepentingang pribadi dan kelompok. Mari kita menata sikap dan hidup lebih bijaksana sesuai dengan kehendak Tuhan.

Minggu, 31 Juli 2022

Setia Dalam Panggilan Tuhan

                                          Mat 10:34-11:1

 

Hari ini (Senin/11/7/2022), kita memperingati Santo Benediktus, Abbas. Benediktus dikenal sebagai pendiri cara hidup monastik di Eropa Barat. Cara hidup monastik adalah sebuah praktek hidup yang meninggalkan hal-hal duniawi untuk lebih fokus membangun aspek spiritual dan rohani. Mereka yang membaktikan dirinya dalam praktek hidup monastik disebut dengan para rahib atau pertapa. Benediktus bukan saja menjalani panggilan hidupnya sebagai seorang imam. Ia juga adalah seorang pertapa atau rahib yang yang terkenal dan disegani oleh semua orang. Salah satu karunia ilahi yang dimilikinya adalah bisa mendeteksi niat jahat orang yang hendak meracuninya. Karena karunia ini maka Benediktus dikenal sebagai pelindung bagi orang yang terkena racun atau bisa. Benediktus lahir di Nursia, Italia sekitar tahun 480 dan meninggal dunia di Monte Casino pada tahun 547. Benediktus terlahir sebagai anak kembar. Saudari kembarnya bernama Skolastika; yang kemudian menjadi Santa Skolastika.

 

Seorang ibu pernah bercerita bahwa semenjak dekat kembali dengan Tuhan, hati dan pikirannya menjadi lebih tenang dan hidupnya lebih damai. Sang ibu ini memiliki masa lalu yang kelam. Ia menghabiskan masa mudanya dengan terjun ke dalam alam pergaulan bebas. Dia jatuh dalam dosa yang menghancurkan hidupnya. Ia merusak masa depan dirinya, anak-anak, dan keluarganya. Namanya sudah terlanjur tenar. Tenar bukan karena hal yang baik, namun sebaliknya. Ia menjadi buah bibir bagi semua orang yang melihatnya. Keluarga, rekan dan kenalan tidak pernah berhenti mencibir dan menghinanya. Mencoba keluar dari lingkaran kegelapan, ia merantau ke daerah yang jauh. Namun itu tidak membawa perubahan yang berarti. Malahan ia semakin terjebak dan tidak bisa keluar dari kemelut hidup yang membelenggu.

 

Sampai pada suatu ketika ia jatuh sakit. Sakit yang cukup parah dan menyiksa. Dalam situasi demikian ia tidak memiliki siapa pun. Semua orang telah menjauhinya. Bahkan sanak keluarga pun tidak mendekat. Kemudian ia mulai memasrahkan seluruh diri dan hidupnya pada Tuhan. Ia terus berdoa dan semakin intens membangun komunikasi dengan Tuhan. Ia tidak pernah melewatkan waktunya dengan berdoa dan terus berdoa. Apa pun kehendak Tuhan atas dirinya, ia sungguh menyerahkannya ke dalam penyelenggaraan Tuhan. Ternyata ia merasa sangat damai dan nyaman bersama Tuhan. Dalam kesendirian dan kesakitannya, ternyata ia tidak merasa kesepian. Tuhan sungguh hadir untuk menjadi seorang sahabat sejati baginya.

 

Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, melainkan orang sakit. Kata-kata dari Tuhan Yesus ini yang sungguh meneguhkan pribadinya. Tuhan Yesus datang untuk membawa pertobatan dan menyelamatkan mereka yang hilang. Hilang bukan dalam arti harafiah. Hilang dalam makna simbolik. Hilang akibat dosa-dosa manusiawi. Sang ibu telah menyadari kesalahan dan dosa-dosanya. Ia merasa sangat yakin bahwa Tuhan telah mengampuninya. Sama seperti wanita pendosa dalam kisah Injil. Tuhan telah berbela rasa dan mengangkat kembali martabatnya sebagai makhluk mulia di hadapan-Nya. Dan sebagai bonus yang didapatkan dari kemurahan Tuhan, ia dinyatakan sembuh dari sakit oleh dokter yang merawatnya.

 

Kisah pelik hidupnya belum mencapai bab akhir. Karena ia harus kembali menghadapi tantangan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Keluarganya belum sepenuhnya menerima dia dalam rumah. Ditambah lagi dengan nyinyiran orang-orang sekitar yang merendahkan dan menghujatnya. Bukannya bersyukur atas perubahan yang terjadi pada sang ibu, mereka malah menaruh prasangka atas perubahannya itu. Segala kebaikan yang beliau lakukan selalu dicurigai dan dianggap tidak benar. Hidup dalam stigma negatif terus menderanya. Hal ini membuat sang ibu sempat putus asa dan kehilangan harapan. Namun ia tetap tegar karena merasa dekat dengan sahabat sejatinya Yesus Kristus. Dalam situasi ini, yang menguatkan dirinya hanyalah sabda Tuhan yang dia baca setiap hari dan yang didengarnya dalam Perayaan Ekaristi. Kata-kata Tuhanlah yang meyakinkan dia. Bahwa dia tidak salah pilih untuk kembali kepada jalan Tuhan.

 

Kepada para murid-Nya, Yesus berkata bahwa Dia datang ke dunia bukan untuk membawa damai melainkan pertentangan. Dengan menerima, mengakui, dan percaya kepada-Nya bukan berarti masalah selesai. Bukan berarti juga segalanya akan berjalan baik dan indah. Malah situasi sebaliknya yang akan dihadapi. Banyak orang akan membenci dan menghujat mereka. Karena nama-Nya, orang akan dihina dan diperlakukan tidak adil. Semuanya itu harus mereka alami, karena Yesus pun telah sebelumnya diperlakukan seperti itu. Tetapi mereka tidak perlu kuatir. Barangsiapa kuat, tahan uji dan setia dalam penderitaan akan dimuliakan bersama Yesus. Dia yang juga telah berhasil mengalahkan semua tantangan dan cobaan dengan kesetiaan yang luar biasa.

 

Hari ini, Tuhan meneguhkan iman kita agar kita tetap setia dalam hidup dan panggilan bersama Dia. Menjadi pengikut Yesus itu tidak sulit. Tetapi yang sulit itu bagaimana menjalani hidup sebagai murid-Nya. Karena ada banyak tantangan, hambatan, dan kesulitan yang kita hadapi dengan pelbagai karakteristiknya. Tuhan menghendaki agar kita bertahan dan tidak kendor dalam menghadapi setiap tantangan atau hambatan. Tiap tantangan dan hambatan itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pertumbuhan pribadi yang semakin matang. Demikian kata-kata Nietscszhe, sang filsuf ateis. Dan dalam terang iman, bertahan dalam tantangan dan hambatan adalah jalan sebuah titik balik untuk menemukan eksistensi pribadi kita sebagai makhluk mulia di hadapan Tuhan. Mari kita tetap setia dalam panggilan Tuhan. 

Rabu, 22 Juni 2022

Mengisi Diri Dengan Hakikat Nabi Sejati

Mat 7:15-20

 

Pohon dan buah menjadi satu paket kehidupan yang tidak dapat dipisahkan. Dari pohonlah kita mengenal buah. Entah buah yang baik atau pun yang tidak baik. Biasanya pohon yang baik menghasilkan buah yang baik. Sebaliknya pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Maka kita mengenal sebuah pameo, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Pameo ini berisi pesan atau nasihat yang menggambarkan kebiasaan, tindak tanduk, perilaku dan sifat anak tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Jika orang tua mengupayakan atau mewariskan kebiasaan, tindak tanduk, perilaku, dan sifat yang baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari maka dapat dipastikan bahwa anak-anaknya dapat mengikuti atau meneladani apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Dan pada sisi yang lain, jika orang tua tidak mampu menunjukkan sifat, kebiasaan, atau perilaku yang baik maka tidak mengherankan apabila kehidupan anak-anak mereka juga jauh dari hal-hal yang baik.

 

Gambaran tentang pohon yang baik dan pohon yang tidak baik menjadi analogi untuk menjelaskan para nabi yang asli dan palsu. Dan dengan cerdas Yesus telah menyatakan itu dalam firman-Nya hari ini (Mat 7:15-20). Lebih khusus sikap waspada terhadap para nabi palsu. Ibarat pohon yang tidak baik, para nabi palsu akan muncul atau kelihatan seperti seorang nabi yang benar. Namun apa yang mereka tampilkan hanya kamuflase. Ada orientasi atau kepentingan terselubung yang hendak diraih. Sudah pasti bahwa tujuan yang hendak digapai itu berseberangan dengan kehendak atau kemauan Tuhan. Para nabi palsu menawarkan hal-hal yang seolah-olah berasal dari Tuhan. Mereka sengaja menebar jebakan untuk menarik simpati orang lain. Apabila jebakannya berhasil, sifat atau karakter asli yang disembunyikan akan muncul.

 

Menurut Yesus, para nabi palsu itu adalah para serigala yang buas. Serigala yang pada awalnya mengenakan bulu domba. Ketika mangsa sudah berada di depan mata, segera ia tidak akan menyia-nyiakan peluang emas tersebut. Dengan sekali tangkapan, ia akan memangsa mangsa yang ada di depan matanya. Para nabi palsu dengan sengaja memanfaatkan kemampuan atau kapabilitas yang dimiliki untuk menarik keuntungan pribadi atau kelompoknya. Tentu keuntungan itu bisa nampak dalam wujud yang berbeda-beda. Misalnya keuntungan secara sosial atau politik. Para nabi palsu sengaja memanfaatkan momentum tertentu untuk mendongkrak pamor atau prestise pribadi. Dengan cara demikian, akan mudah baginya untuk menaikan elektabilitas pribadi atau kelompoknya dalam kontestasi politik. Namun sayang seribu sayang, ketika sudah memegang jabatan atau duduk di kursi yang empuk, ia akan lupa dengan segala janji manisnya.

 

Dari sisi ekonomi, para nabi palsu sangat lihai menebar aneka kebaikan untuk mendapatkan keuntungan itu. Mereka sangat pandai menjual ayat-ayat Tuhan. Dengan memanfaatkan keluguan, kepolosan dan keterbatasan yang dimiliki orang lain, para nabi palsu akan bereaksi untuk memperoleh mammon duniawi atau keuntungan secara ekonomi. Sadar atau tidak, di tengah-tengah kita bertebaran kelompok-kelompok doa yang menawarkan kesembuhan atau keselamatan. Tetapi jangan kaget. Kelompok-kelompok itu adalah kelompok berbayar dengan tarif yang variatif. Ada juga yang sengaja menawarkan bantuan atau pertolongan ketika orang lain sedang ditimpah kesusahan, sakit dan penderitaan. Dan kita sudah bisa menebak bahwa kebaikan yang diberikan tidak gratis. Mereka menginginkan harta duniawi sebagai bayaran dari segala hal baik yang telah dilakukan.

 

Selain mewanti-wanti kehadiran para nabi palsu, secara implisit Yesus mengarahkan kita untuk mampu menjadi seorang nabi sejati. Seorang nabi yang tidak terpapar dengan pelbagai kepentingan atau orientasi yang menyesatkan. Nabi sejati itu ibarat pohon yang baik. Apa yang dipikirkan dan dilakukan selalu memiliki nilai kebaikan bagi banyak orang. Tidak hanya itu saja. Ia tidak pernah mengharapkan imbalan atau reward dari segala hal yang telah dilakukannya. Niatnya selalu tulus. Apa yang dilakukan oleh seorang nabi asli selalu berada dalam kerangka atau desain Tuhan. Ia memiliki tujuan yang sangat mulia untuk membawa warta gembira kerajaan Allah bagi semua orang. Nabi asli adalah mitra Allah di muka bumi. Karena ia mampu menerjemahkan dan mengeksekusi berbagai program kerja Allah secara baik demi membawa kemaslahatan dan keselamatan bagi dunia.

 

Mungkin terbersit dalam pikiran kita masing-masing betapa sulitnya menjadi model seorang nabi sejati. Bayang-bayang nabi besar seperti Yesaya, Elia, Yeremia, Yehezkiel sementara menghantui pikiran dan rasa kita. Mungkinkah kita harus meniru dan mengikuti model  nabi sejati seperti mereka? Saya pikir tidak perlu demikian. Untuk menjadi seorang nabi yang baik tidak perlu harus mengimitasi model nabi Yesaya dan kawan-kawannya. Sekecil apa pun hal baik yang kita lakukan, sesungguhnya kita telah mengambil bagian yang hakiki untuk menjadi seorang nabi yang sejati di era ini. Di tengah kehidupan kita ada banyak realitas sosial yang memprihatikankan. Ada kemiskinan yang mendera. Rasa sakit yang tak kunjung sembuh. Ada ketidakadilan yang terjadi. Penindasan secara fisik dan psikis yang terus berulang. Ada pengalaman duka yang mengiris hati. Inilah fakta-fakta sosial yang menuntut perhatian dan kepedulian kita untuk mau terlibat. Saatnya kita membuktikan diri sebagai seorang nabi. Tetapi tentu bukan sembarang nabi. Kita harus menghindarkan diri dari perangai nabi palsu. Dan saatnya kita mulai mengisi diri dengan pelbagai keutamaan yang dimiliki oleh seorang nabi sejati. Kita harus mengambil bagian dan senantiasa berada di bagian terdalam untuk menjadi saksi sekaligus mitra kerja Allah yang mumpuni di tengah dunia.