Kamis, 23 Februari 2023

Mengandalkan Tuhan Dalam Hidup

 

Yoh 1:45-51

           

            Hari ini kita memperingati pesta Santo Bartolomeus. Santo Bartolomeus adalah salah seorang dari kedua belas rasul. Dalam Alkitab, ia disebut sebagai Natanael. Nama Natanael hanya disebutkan dalam Injil Yohanes. Dalam Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), ia disebut sebagai Bartolomeus dan selalu disebutkan bersama Filipus. Sedangkan nama Natanael tidak pernah disebut. Sebaliknya dalam Injil Yohanes, Filipus dan Natanael disebutkan bersama, tetapi nama Bartolomeus tidak pernah disebut. Bartolomeus berasal dari Kana di daerah Galilea seperti kebanyakan murid Yesus yang lainnya. Ketika diajak oleh temannya, Filipus, untuk menemui Yesus dari Nazaret, Natanael awalnya bersikap skeptis (tidak percaya).

 

            Para pakar meyakini bahwa perkataan Yesus mengenai Natanael “di bawah pohon ara” merupakan istilah yang bermakna mempelajari Taurat. Rupanya Natanael ini seorang intelektual yang saleh. Hal ini ditunjukkan dengan kesukaan dan kebiasaannya untuk membaca dan mempelajari kitab Taurat. Ia tidak menyangka bahwa Yesus bisa mengenalinya sedalam itu. Berkat pengakuan Yesus tentang siapa dirinya, Natanael sangat takjub dan menjadi percaya tentang siapa Yesus sebenarnya. “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel” (Yoh1:49). Sejak peristiwa itu, Bartolomeus mengikuti Yesus hingga Yesus wafat di salib. Dan Bartolomeus menjadi salah satu saksi kunci kebangkitan Yesus.

 

            Nama Natanael disebut kembali di akhir Injil Yohanes yang dicatat bersama-sama sejumlah murid lain di pantai danau Galilea setelah kebangkitan Yesus. Penginjil Yohanes menulis dengan sangat detil peristiwa penampakan Yesus di tempat itu. “Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain” (Yoh 21:1-2).

 

            Eusebius dari Kaisarea (seorang sejarawan gereja), menulis dalam Ecclesiastical History bahwa setelah peristiwa kenaikan Yesus ke Sorga, Bartolomeus pergi sebagai misionaris di negara India. Salinan Injil Matius yang ditemukan menjadi petunjuk atau bukti karya kerasulan Bartolomeus di India. Tradisi lain mencatatnya sebagai misionaris di Etiopia, Mesopotamia (kini negara Irak), Parthia (Iran), dan Lycaonia (daerah kuno di Anatolia Turki). Rasul Bartolomeus bersama rasul Yudas anak Yakobus, dikenal sebagai pembawa ajaran Kristen di negara Armenia pada abad ke-1 M. Dan untuk mengenang sekaligus menghormati karya mereka, keduanya dijadikan santo pelindung bagi Gereja Apostolik Armenia. Dikabarkan bahwa Bartolomeus mati sebagai martir di Albanopolis Armenia. Menurut satu riwayat, ia dipenggal kepalanya. Tetapi tradisi yang lebih popular menyatakan bahwa ia dikuliti hidup-hidup dan disalib dengan kepala ke bawah. Dikatakan bahwa Bartolomeus telah mempengaruhi dan membawa Polymus, raja Armenia, menjadi penganut Kristen. Akibatnya, Astyages, saudara Polymus, menyuruh orang-orang suruhannya untuk menghukum mati Bartolomeus. Pada abad ke-4, jenazah Bartolomeus dipindahkan ke sebuah gereja di Roma.

 

            Yang menjadi pijakan refleksi kita pada kesempatan ini adalah bahwa walaupun Bartolomeus seorang yang religius (rajin berdoa dan membaca kitab suci), namun  ia sangat kritis. Alam intelektual yang membentuknya memungkinkan ia untuk tidak mudah percaya akan sesuatu hal. Ia perlu memverikasinya untuk mendapatkan kebenaran secara okyektif dan akurat. Bahkan Bartolomeus juga sempat meragukan Yesus dari Nazaret. “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret” (Yoh 1:46) merupakan ungkapan skeptis Bartolomeus. Tidak mungkin seseorang yang diramalkan oleh Musa dalam kitab Taurat dan kitab para nabi datang dari Nazaret. Memang Nazaret pantas digugat oleh Bartolomeus karena ia hanya berwujud kampung kecil, lebih tepatnya dusun. Tempatnya terisolir, jauh dari sentuhan perkotaan. Nama Nazaret tidak familiar atau sangat asing kedengarannya kala itu. Rasa penasaran Bartolomeus menghantarnya ke hadapan Yesus. Ia begitu kaget dan terpesona mendengar kata-kata Yesus tentang dirinya. Baru kali ini, ia melihat dan mendengar secara langsung seseorang yang masih asing tetapi sangat dalam memberi kesaksian tentang dirinya. Seketika itu juga ia langsung jatuh cinta kepada Yesus. Rasa egonya tenggelam. Daya kritisnya serentak menjadi daya positif untuk mengenal Yesus lebih dalam. Arogansi intelektualnya remuk redam di hadapan Yesus. Pada akhirnya, Ia sungguh percaya dan menyerahkan diri secara total untuk menjadi pengikut Yesus.

           

Sebagai pengikut Yesus era ini, tentu kita mendapat tantangan yang tidak kecil. Seringkali kita juga bersikap skeptis akan iman kita kepada Tuhan. Kita gampang meragukan Tuhan dalam seluruh peristiwa dan pengalaman hidup. Kita lebih mengandalkan diri sendiri dan kekuatan-kekuatan lain di luar kekuatan Tuhan. Hari ini Tuhan sungguh meneguhkan iman kita lewat pengalaman Bartolomeus. Seperti Bartolomeus, Yesus juga mengatakan kepada kita semua: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya” (Yoh 1:47). Secara fisik kita memang bukan orang Israel. Namun ungkapan simbolik dalam Israel sejati, hendak menegaskan jati diri kita sebagai anak kandung Allah sendiri. Anak-anak yang lahir secitra dengan Diri-Nya. Sebagai anak kandung Allah, sangat tidak elok dan benar kalau kita bertindak di luar kehendak Tuhan. Semoga kita semakin diteguhkan untuk beriman kepada Tuhan dan selalu mengandalkan Dia dalam seluruh hidup dan karya kita. Kita yakin, dalam setiap peristiwa dan pengalamn hidup, Tuhan sungguh mengintervensi dan mendewasakan iman kita kepada-Nya.

Selasa, 14 Februari 2023

Menjadi Manusia Yang Berkesadaran

                                                 Mat 19:16-22

           

            Sebagai orang tua yang bertanggung jawab, kita memiliki kewajiban moral untuk mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak-anak untuk memiliki sikap yang baik. Baik tidak hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga dalam lingkup pergaulan sosialnya bersama orang lain. Tentu dengan pelbagai pendekatan dan metode yang berbeda. Ada pendekatan yang lembut, tegas, dan tidak jarang orang tua mendidik anak-anak dengan kata-kata yang keras dan kasar. Kata-kata kunci seperti jangan, tidak, harus, wajib, menjadi kata-kata lumrah dan terus menghiasi dinamika hidup harian kita. Terutama berhadapan dengan anak-anak, kata-kata ini dipakai untuk memberi batasan agar mereka tidak melenceng dari hidup yang sudah digariskan oleh hukum moral dan ajaran agama. Kata-kata demikian, menjadi lebih efektif apabila ditambahkan dengan keterangan yang menjelaskan dampak dari sebuah perbuatan. Misalnya, jangan mencuri karena Tuhan akan murka. Kamu tidak boleh menghina sesamamu karena kamu akan mendapat celaka. Anda harus menolong orang lain agar Tuhan mengasihimu. Anda wajib menolong orang miskin agar kelak masuk sorga. Dan masih banyak contoh kalimat yang lain.

 

            Nasihat seperti ini merupakan contoh penerapan metode reward (hadiah) dan punishment (hukuman) untuk memotivasi seseorang. Metode ini memang terbukti efektif dalam berbagai bidang kehidupan manusia termasuk dalam urusan rohani. Kebanyakan orang melakukan hal-hal baik dan benar seturut ajaran moral dan agama dengan motivasi tertentu. Agar ia mendapat berkat dan keselamatan dari Tuhan. Agar ia bisa diterima dalam keluarga dan masyarakat. Agar ia bisa disenangi dan mendapat simpati dari publik. Agar ia bisa diberi apresiasi dan kenaikan jabatan. Penghayatan nilai-nilai iman dan moral yang berlandaskan pada aspek reward dan punishment sah-sah saja. Tetapi model penghayatan seperti ini bukanlah sebuah penghayatan hidup yang sejati. Orang-orang masih dibebani atau diikat dengan pelbagai konsekuensi yang harus diterimanya. Kenyataannya, orang tidak melakukan sesuatu berdasarkan kemauan dan kesadaran pribadi.

 

            Hari ini kita berjumpa dengan seorang muda yang kaya, baik, dan saleh. Dia meminta nasihat Yesus tentang perbuatan baik yang menjamin masa depannya, yaitu memperoleh hidup yang kekal. Permintaannya mencerminkan asumsi bahwa hidup kekal itu merupakan ganjaran atas perbuatan baik manusia. Ia menganggap relasi dengan Tuhan sebagai barter komersial (bisnis) antara perbuatan baiknya dengan ganjaran hidup kekal. Kebaikan dilihatnya hanya sebatas ketaatan pada hukum. Oleh Yesus, Dia ditantang untuk membebaskan diri dari ikatan hartanya. Ia harus rela membagikan harta itu kepada orang-orang miskin lalu mengikuti Yesus. Ini bukan merupakan syarat hidup yang kekal, melainkan tujuan utama hidup yang harus dilakukan. Dalam iman, tujuan hidup demikian selaras dengan maksud mulia Allah menciptakan manusia. Sayangnya orang muda ini tidak berani menanggapi jalan kesempurnaan ini. Ia masih lebih mencintai harta duniawi miliknya. Ia belum mampu membebaskan dirinya dari segala keterikatan hidup duniawi. Ia belum memiliki kesadaran penuh untuk memperoleh hidup kekal. Ia hanya menjalani secara rutinitas dan formalitas belaka segala hal yang ditetapkan oleh ajaran agama.

 

            Mungkin sebagai orang beriman kita masih memperlihatkan hidup seperti orang muda yang kaya ini. Segala hal baik dan benar yang kita tunjukkan masih berada pada tataran formalitas atau sekedar rutinitas belaka. Kita melakukan hal yang baik dan benar karena ada kepentingan atau tujuan yang lebih bersifat pragmatis. Jauh dari kata ideal. Kita menunjukkan kebaikan kepada orang lain supaya dicap sebagai orang baik. Kita rajin ke gereja pada hari Minggu supaya dikatakan sebagai orang religius. Kita disiplin dalam waktu supaya tidak mendapat complain dari atasan atau pimpinan. Kita menerapkan 3S yakni senyum, sapa, dan salam, supaya diapresiasi sebagai orang yang ramah. Kita menyumbang atau memberi derma supaya menaikan gengsi sosial. Kita sering menolong orang miskin dan tertindas supaya Tuhan berkenan memberi berkat. Saya kira masih banyak litani kehidupan yang bisa kita catat dan refleksi secara pribadi yang pada intinya menggambarkan bahwa apa yang kita lakukan masih berada pada tataran formalitas dan memiliki tujuan pragmatis.

 

              Kita masih belum sungguh-sungguh merdeka untuk melakukan segala kebaikan dan kebenaran dalam kesadaran sejati. Kesadaran sebagai makhluk beriman yang diciptakan Tuhan untuk sungguh-sungguh berada secara total di jalan kebenaran Tuhan. Hari ini Tuhan mengatakan kepada kita: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga”. Statement Yesus ini bukanlah sebuah syarat  hidup yang pragmatis. Kata-kata Yesus ini merupakan sebuah idealisme yang harus digapai oleh setiap kita. Dan menjual harta milik tidak ditafsir secara harafiah semata. Menjual harta milik bersinonim dengan membebaskan diri dari segala keterikatan duniawi dan kepentingan pribadi. Kita melakukan segala hal baik dan benar sesuai anjuran hukum moral dan agama karena dibentuk oleh sebuah kesadaran. Kesadaran untuk memaknai hidup lebih bermakna. Dan yang pasti kesadaran sebagai makhluk Tuhan yang sementara berziarah menuju keabadian hidup.

Kamis, 09 Februari 2023

Menjadi Pribadi Bijaksana


Mat 17:22-27

           

            Hari ini kita merayakan pesta Santo Dominikus, seorang imam saleh dan pengkotbah ulung. Santo Dominikus merupakan pendiri ordo religius Dominikus. Atau dikenal dengan Ordo Praedicatorium (Ordo para pengkotbah / Ordo Dominikan). Ordo Dominikan adalah sebuah tarekat atau kongregasi yang menggabungkan corak hidup kontemplatif (Cara hidup yang mengutamakan kehidupan penuh ketenangan, mati raga, bertapa, sehingga orang dapat berdoa dan bersemadi dengan lebih mudah) dengan kehidupan aktif seperti mewartakan Injil di luar komunitas, kerja tangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, belajar, dan lain-lain. Santo Dominikus lahir pada tahun 1170 di Calaruega, Spanyol, dan tutup usia di Bologna, Italia, pada tanggal 6 Agustus 1221. Ia menjadi santo pelindung bagi para ibu yang sedang berharap dan para astronom.

 

Merenungkan perikop Injil hari ini, ada satu bagian menarik yang nampaknya jarang direnungkan atau dibahas oleh banyak orang. Berkaitan dengan membayar pajak, apa alasan Yesus supaya Petrus membayar pajak bagi mereka berdua? Satu-satunya alasan yang terungkap dengan jelas dalam teks Injil ini adalah: “Supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka” (Mat 17:27). Batu sandungan berarti menjadi penghambat bagi orang lain, bagi sebuah aturan dan kebijakan tertentu dan bagi sebuah kebaikan bersama (Bonum commune). Maka Yesus meminta Petrus untuk mencari koin dalam ikan di danau supaya mereka tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

 

Menjadi batu sandungan berarti menghambat orang lain atau kelompok tertentu. Yesus mengingatkan Petrus agar karena hal sederhana jangan sampai justru mereka malah menghambat orang lain. Mereka menghalangi orang lain untuk maju dan berkembang. Ketika sebuah kebijakan atau aturan sudah ditetapkan bersama, maka semua orang wajib untuk menghargai dan menjalankan kebijakan atau aturan tersebut. Bahkan mereka yang berkuasa membuat kebijakan dan aturan juga tidak bisa seenaknya untuk mengubah atau dia sendiri tidak melaksanakannya.

 

Dalam kehidupan bersama, misalnya dalam lingkungan Gereja, kita juga berhadapan dengan berbagai kebijakan bersama, Entah di ranah lingkungan atau paroki. Tidak jarang dijumpai ada sekelompok orang yang merasa tidak cocok dengan kebijakan itu. Karena tidak cocok, mereka kemudian membuat gerakan untuk menciptakan kebijakan baru yang tidak sejalan dengan kebijakan lama. Sementara sebagian besar umat masih merasa kebijakan yang lama tetap relevan untuk diterapkan. Yang sering terjadi adalah sekelompok orang ini memaksakan kehendak mereka. Inilah kiranya yang dikatakan oleh Yesus sebagai “batu sandungan” bagi umat yang lain.

 

Contoh lain, dalam lingkup kerja. Kerap kita menemui atau berhadapan dengan orang atau kelompok orang yang mengambil sikap berseberangan dengan aturan yang berlaku atau kebijakan yang telah disepakati bersama. Mungkin mereka merasa ada kepentingan secara pribadi atau kelompok yang tidak terfasilitasi di dalamnya. Tentu aturan dan kebijakan yang diterapkan memiliki tujuan untuk membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi para pegawainya. Lain hal lagi, jikalau aturan atau kebijakan tertentu tidak dapat memberikan rasa keadilan atau asas manfaat bagi kepentingan umum. Pasti akan timbul penolakan dan petisi untuk mengevaluasinya. Akan tetapi, selama kebijakan dan aturan itu memiliki tujuan yang baik dan mulia, walaupun mungkin tidak mengakomodir semua kepentingan pribadi, seyogyanya semua pihak dapat menerima dan menjalankannya.

 

Dalam kehidupan ini kiranya ada banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak kita. Ada banyak aturan dan kebijakan yang mungkin dianggap tidak lagi sesuai. Jika kita mampu untuk memperbaikinya, maka kita bisa melakukannya. Namun jika apa yang kita usulkan justru menjadi perdebatan dan bahkan menimbulkan konflik dan perpecahan, maka sebaiknya kita berpikir kembali. Kita hidup bersama dalam satu kesatuan bersama orang lain. Ada kalanya kita harus bertindak demi kepentingan dan kebaikan bersama. Namun sebaiknya kita tidak boleh bertindak atas nama kepentingan pribadi atau kelompok, supaya jangan menjadi batu sandungan bagi semua orang.

 

Hari ini Yesus telah menginspirasi agar kita menjadi manusia yang bijaksana dalam hidup. Manusia yang tidak hanya memikirkan diri dan kelompoknya semata. Manusia yang tidak hanya memfokuskan hidup demi pribadi dan kelompoknya. Apalagi sampai mengambil sikap oposan atau berlawanan dengan sebuah aturan dan kebijakan yang baik dan mulia demi kepentingan bersama. Jika ini yang terjadi maka sebenarnya kita telah menjadi batu sandungan bagi orang lain dan kepentingan bersama. Kita harus mengasah dan menata diri untuk menjadi manusia yang bijaksana. Pertama, dalam menyikapi pelbagai hal, termasuk aturan dan kebijakan yang bertolak belakang dengan prinsip keadilan dan kebaikan bersama, kita perlu bertindak dengan sikap rasional dan emosi yang matang. Dengan pendekatan yang lebih persuasif, dan bukan sebaliknya dengan intimidasi dan kekerasan. Kedua, kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan kepentingan umum dengan mengutamakan kepentingang pribadi dan kelompok. Mari kita menata sikap dan hidup lebih bijaksana sesuai dengan kehendak Tuhan.