Luk 6:20-26
Pertanyaan eksistensial tentang tujuan dari
kehidupan manusia, acapkali dijawab dengan jawaban yang umum dan normatif. Iya,
manusia hidup tentu saja untuk mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Tidak ada
seorang pun manusia yang tidak mau mencapai kebahagiaan dalam hidup.
Persoalannya adalah kebahagiaan yang memiliki model dan karakteristik seperti
apa. Mulai dari aspek yang bersifat materi, jasmani, atau fisik sampai kepada
aspek yang bersifat non materi, metafisik, atau spiritual terdeskripsi maksud
kebahagiaan masing-masing individu, kelompok dan golongan. Ada orang yang
merasa bahagia kalau memiliki harta dan kekayaan. Ada banyak uang, rumah yang
bagus, motor dan mobil juga tersedia. Saya pernah membaca tulisan di sebuah
mobil yang berbunyi “ada uang masalah selesai”. Uang dianggap sebagai solusi
dari pelbagai dinamika atau kompleksitas kehidupan yang terjadi. Saya pikir
sah-sah saja orang memiliki persepsi seperti ini.
Selain harta dan kekayaan duniawi,
ada segelintir orang yang merasa bahagia karena memiliki harta atau kekayaan
secara rohani atau spiritual. Ia tidak peduli apakah ia memiliki harta kekayaan
duniawi atau tidak. Yang terpenting dalam kehidupannya adalah menjadi baik bagi
diri sendiri dan orang lain. Saya pernah membaca motto seorang sahabat, “be
yourself, jadilah yang terbaik dalam hidupmu”. Menarik sekalih motto ini
sekaligus filosofi kehidupan. Bagi sang sahabat, harta dan kekayaan duniawi
memang penting untuk menunjang kehidupan dunia. Tetapi yang paling penting
adalah mewujudkan kebaikan, tidak saja bagi diri sendiri, tetapi juga bagi
orang lain. Inilah esensi tujuan kebahagiaan menurut sahabat saya. Memang
terdengar sangat ideal. Namun dalam kehidupan hal pokok yang menjadi idealisme
perlu ditanam dan digaungkan. Walaupun dalam kenyataan, sangat sulit kita
mewujdukannya karena terbentur dengan aneka kepentingan, ambisi, dan kesenangan
pribadi.
Sabda bahagia yang diucapkan Yesus dalam bacaan Injil hari
ini (Luk 6:20-26) ditujukan kepada mereka yang masuk dalam kategori miskin,
lapar, menangis, dan dianiaya. Selain itu, Yesus juga mengecam perilaku
orang-orang yang kaya, kenyang, tertawa, dan suka dipuji. Orang miskin yang
disebut dalam bacaan Injil, tidak hanya miskin secara materi tetapi
kehidupannya sangat bergantung kepada orang lain. Mengapa? Karena mereka hidup
dalam suasana penindasan dan direndahkan. Yesus memandang para murid dan
orang-orang yang mengikuti-Nya sebagai orang miskin yang berbahagia karena
mereka orang-orang sederhana dan rendah hati yang memiliki hati yang terbuka
pada sabda dan pengajaran-Nya. Kemudian, siapakah orang lapar yang dimaksudkan oleh
Yesus? Mereka adalah orang-orang yang sedang mendengar-Nya saat itu. Mereka
tidak memiliki apa-apa untuk dimakan. Sekarang mereka memasuki saat Mesianis
dimana mereka akan ikut dalam perjamuan yang memuaskan. Mereka tidak akan
merasa lapar lagi.
Mereka yang menangis. Siapakah
orang-orang yang menangis? Mereka yang mengalami penderitaan karena kemiskinan
akibat situasi sosial. Mereka juga yang menderita karena mengimani Kristus.
Yesus menjanjikan sukacita Mesianis dimana mereka semua akan tertawa. Mereka
yang mengalami penganiayaan karena nama Yesus Kristus. Yesus mengetahui bahwa
di antara mereka yang mendengar-Nya mengalami penderitaan tersendiri. Di
samping mengucapkan Sabda Bahagia kepada kaum miskin, yang lapar, menangis dan
dianiaya, Yesus juga mengecam orang-orang yang mendengar-nya tetapi hati mereka
masih tertutup untuk menerima sesama yang miskin, lapar, menangis, dan
dianiaya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kekayaan, kepuasan, kepemilikan
harta duniawi dan hormat akan membawa orang menutup dirinya terhadap sesama dan
Tuhan sendiri. Orang tidak lagi mengandalkan Tuhan dan membuka diri kepada sesama.
Orang kaya dalam pikiran penginjil Lukas adalah mereka yang puas dengan semua
kebutuhan hidupnya sehingga tidak lagi membutuhkan Tuhan dan sesama.
Sebenarnya Yesus tidak mengkritik
apalagi menyalahkan harta dan kekayaan duniawi yang dipunyai oleh setiap orang.
Karena setiap orang memiliki hak dan tanggung jawab pribadi atas kehidupannya
sendiri untuk menjadi lebih mapan dan kaya. Yang menjadi masalah adalah
perilaku sosial dari orang-orang mapan secara ekonomi yang tidak memiliki
kepekaan dan tanggungjawab sosial dalam hidupnya. Mereka bersikap apatis dan
cenderung tertawa di atas penderitaan orang lain. Begitu juga dengan orang
miskin secara finansial. Tidak otomatis mereka mendapatkan kebahagiaan seperti
yang dinyatakan oleh Yesus. Bisa jadi mereka bersikap berlawanan dengan
kehendak Tuhan. Orang sering mengatakan “sudah miskin, sombong pula”.
Bagi
Yesus, entah itu orang miskin atau pun orang kaya, semuanya memiliki derajat
yang sama di mata-Nya. Kekayaan atau harta duniawi memang penting untuk memberi
jaminan atas kehidupan duniawi. Namun di atasnya, ada kekayaan atau harta
sorgawi yang menjadi aspek pertama dan terutama dalam kehidupan. Setiap orang
beriman, entah orang kaya atau miskin, selalu diajarkan, diarahkan, dan
dibimbing untuk mencari harta atau kekayaan sorgawi. Hendaknya kita selalu
memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan untuk mencari harta sorgawi di dalam
diri-Nya. Baik dalam segala kekurangan atau pun dalam kelebihan yang kita
miliki, senantiasa kita memiliki kepekaan dan tanggung jawab sosial untuk
berbagi dengan sesama. Terutama bagi mereka yang sedang sakit, menderita, dan
tertindas dalam kehidupan.