Senin, 21 Februari 2022

Mengakui Yesus Sebagai Mesias_ Anak Allah Yang Hidup

                                                               Mat 16:13-19

 

Why always me? (mengapa selalu saya). Sebuah kalimat ikonik yang identik dengan Mario Balotelli. Mario Balotelli adalah seorang pesepakbola handal dan ternama dari negara Italia. Ia menggunakan ungkapan Why always me? (mengapa selalu saya) untuk menyindir sekaligus meredam aksi para supporter yang sering merasa tidak puas dengan penampilannya di lapangan hijau. Dengan kata-kata ikonik ini, Mario Balotelli ingin memberi pesan tersirat kepada para supporter bahwa ia hanyalah manusia biasa. Ia bukan superman. Apalagi makhluk supranatural. Sebagai manusia biasa, sangat wajar apabila ada pasang surut dalam pola dan gaya permainan sepakbolanya. Semestinya orang-orang tidak perlu meletakkan parameter yang sempurna pada dirinya. Karena ia bukan manusia yang sempurna.

 

Why always me dari Mario Balotelli tentu berbeda level dan tidak mungkin bisa dibandingkan dengan kata-kata Yesus Who am I? (Siapakah saya) pada hari ini. Yesus adalah makhluk ilahi yang mempresentasikan diri-Nya sebagai manusia biasa. Dan untuk menguji sejauh mana tingkat pengenalan dan pemahaman para murid akan diri-Nya, Yesus menggunakan dua model pertanyaan. Pertama, Yesus menanyakan pendapat orang banyak tentang siapakah diri-Nya kepada para murid. Para murid pun mengatakan bahwa seturut pandangan orang banyak, Yesus disamakan dengan Yohanes Pembaptis. Ada juga pendapat orang lain yang mengatakan bahwa Yesus adalah nabi Elia, nabi Yeremia, atau salah seorang nabi lain yang telah hidup kembali.

 

Kedua, Yesus menanyakan pendapat para murid sendiri tentang siapakah diri-Nya yang sebenarnya. Dengan spontan dan lugas, Petrus menjawab; “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Mesias adalah kata Ibrani yang berarti “Yang Diurapi”. Terjemahan dalam bahasa Yunaninya adalah Christos atau Kristus yang kita kenal sekarang. Namun pengakuan Petrus akan Yesus sebagai Mesias kala itu masih dipahami dalam konsep lama mesianik. Petrus masih memahami bahwa Yesus itu sama dengan Raja Daud yang akan mengembalikan kejayaan bangsa Israel. Setali tiga uang dengan Petrus, para murid yang lain juga memahami hal yang sama. Bahwa Yesus yang berdiri di hadapan mereka adalah seorang raja duniawi yang akan membebaskan bangsa Israel dari tangan penjajah. Maka tidak mengherankan dalam bacaan selanjutnya, Petrus dengan tegas menolak konsep penderitaan atau konsep mesianik baru yang dideklarasikan oleh Yesus.

 

Terlepas dari konsep mesianik lama yang masih dianut oleh Petrus dan kawan-kawannya, hal yang patut diberi apresiasi adalah pengakuan yang jujur dan tulus dari seorang Petrus. Berbekal pengenalan dan pemahaman yang masih terbatas (walaupun memang ada banyak pengalaman tidak terbatas yang telah dialaminya bersama Yesus), Petrus dengan berani menandaskan misteri yang sangat krusial tersebut: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”. Di atas itu, apa yang diproklamirkan oleh Petrus sebenarnya merepresentasikan wahyu Allah sendiri tentang siapa Yesus. Dan kata-kata Yesus mengafirmasi hal ini. “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Mrk 16:17).

 

Sama seperti Petrus, kita pun seharusnya dengan berani, jujur, dan tulus mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Tentu tidak hanya dengan ungkapan di bibir semata. Apa yang kita nyatakan akan lebih bermakna apabila kita nyatakan dalam kehidupan riil kita. Kita harus sungguh-sungguh menjadi seorang murid Tuhan yang sejati dalam hidup. Sejalan dengan nasihat Santo Petrus dalam suratnya (1 Ptr 5:1-4), semestinya sebagai seorang murid yang sejati, kita perlu mengikuti Yesus dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah. Bukan dengan paksaan supaya dilihat dan diakui oleh banyak orang. Yang berikutnya, mengikuti Yesus bukan untuk mencari keuntungan tertentu. Mengikuti Yesus berarti mengikuti-Nya dengan total. Penuh dedikasi. Tidak setengah-setengah Dan terakhir, mengikuti Yesus dengan manjadi teladan bagi orang lain. Terutama dalam sikap kasih dan pelayanan yang prima kepada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

 

Hari ini, Yesus sungguh mencerahkan hati dan pikiran kita tentang siapa sebenarnya diri-Nya. Kita tidak perlu ragu-ragu dan tidak skeptis tentang diri-Nya. Kita seharusnya berbangga karena memiliki Yesus. Karena Ia adalah sungguh Mesias, Anak Allah yang hidup dan menyejarah dalam dunia sebagai manusia biasa. Melalui gereja-Nya pada masa kini, kita pun meyakini bahwa Ia tetap hadir dan menaungi setiap kita yang senantiasa percaya dan memasrahkan hidup kepada-Nya. Gereja-Nya adalah tanda kehadiran diri-Nya yang sungguh nyata dalam hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memuji Dia, Sang Mesias, Anak Allah yang hidup, dengan memberi banyak kebaikan dan memperjuangkan kebenaran-kebenaran dalam hidup, sesuai dengan apa yang telah dikehendaki oleh Tuhan sendiri dalam firman-Nya. Karena sesungguhnya, kita adalah gereja-gereja kecil yang telah diurapi oleh sakramen permandian untuk menyebarkan warta kebaikan Injil di tengah dunia

Menjadi Tanda Yang Baik

 Mrk 8:11-13

 

Hari ini kita memperingati dua orang bersaudara yang menjadi orang kudus dalam gereja Katolik. Mereka berdua adalah Santo Sirilus dan Santo Metodius. Sirilus dan Metodius berasal dari Tesalonika, Yunani. Metodius dilahirkan pada tahun 815 dan Sirilus dilahirkan pada tahun 827. Keduanya menjadi imam dan memiliki keinginan kudus yang sama untuk mewartakan iman kristiani. Mereka menjadi misionaris untuk bangsa-bangsa Slavia seperti Moravia, Bohemia, dan Bulgaria. Pada tahun 862, hanya tujuh tahun sebelum kematian St. Sirilus, pangeran Moravia memohon agar para misionaris diutus ke negaranya untuk mewartakan kabar gembira Yesus dan gereja-Nya. pangeran menambahkan satu permohonan lagi yaitu para misionaris tersebut hendaknya berbicara dalam bahasa setempat.

 

Kedua bersaudara, Sirilus dan Metodius, menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan dan diterima. Mereka tahu bahwa mereka akan diminta untuk meninggalkan negeri, bahasa serta kebudayaan mereka demi cinta kepada Yesus. Mereka melakukannya dengan sukacita. Sirilus dan Metodius menciptakan abjad Slavia. Mereka menerjemahkan Kitab Suci dan liturgi Gereja ke dalam bahasa Slavia. Oleh karena jasa mereka, rakyat dapat menerima ajaran kristiani dalam bahasa mereka sendiri. Pada tanggal 31 Desember 1980, Paus Yohanes Paulus II mengangkat Santo Sirilus dan Santo Metodius sebagai pelindung Eropa bersama dengan Santo Benediktus.

 

Perjuangan dan dedikasi yang mulia dari Santo Sirilus dan Metodius untuk menjadi tanda Kerajaan Allah bagi bangsa Slavia ternyata tidak berjalan mulus. Mereka harus menghadapi pelbagai kritik, kecaman dan perlawanan dari orang-orang Slavia sendiri. Pengalaman nyata yang tidak mengenakan yang dialami oleh Sirilus dan Metodius sejatinya sudah dialami oleh Sang Guru Ilahi mereka yakni Yesus Kristus. Dalam perjalanan sejarahnya di tanah Israel, Yesus sudah memberi banyak tanda yang jelas mengenai siapa Diri-Nya kepada segenap umat Israel. Melalui kata-kata dan perbuatan-Nya yang ajaib, Yesus secara berulangkali menegaskan identitas Diri-Nya kepada mereka (umat Israel). Namun seiring dengan semakin banyak hal menakjubkan yang dibuat-Nya, semakin membuat para lawan-Nya menjadi bingung dan heran. Sikap bingung dan heran ini yang memicu rasa antipati dan sentimen kepada Yesus.

 

Dengan maksud untuk mencobai Yesus dan mencari titik kesalahan-Nya. para lawan Yesus yang kali ini diwakili oleh orang-orang Farisi meminta sebuah tanda dari Sorga. Tanda dari sorga ini sebagai representasi yang menyatakan keilahian Yesus. Penginjil Markus mencatat bahwa Yesus tidak menjawab apa-apa kepada lawan bicara-Nya. Yesus hanya mengeluh dalam hati-Nya. Kemudian Ia berkata kepada para murid-Nya: “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Yesus mengungkapkan kekecewaan yang mendalam atas sikap gagal paham yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi. Ia tidak mengerti mengapa orang-orang meminta tanda dari-Nya tentang kuasa yang Ia miliki. Sementara hampir setiap waktu mereka menyaksikan dengan terang benderang peran keilahian Yesus dalam setiap kata-kata dan perbuatan-Nya.

 

Pada akhirnya, Yesus mengetahui bahwa orang-orang yang meminta tanda dari-Nya, tidak hanya gagal paham namun hati mereka telah menjadi batu alias tidak mau menaruh sikap percaya kepada Diri-Nya. Ketidakpercayaan inilah yang menggiring mereka untuk selalu mencari-cari kesalahan-Nya. Mereka merasa sangat terganggu dan terancam dengan kehadiran Yesus. Karena kehadiran Yesus menciptakan ketidaknyamanan posisi mereka sebagai elit agama. Mereka takut kehilangan simpati publik. Mereka takut pamor atau citra diri mereka menjadi runtuh. Dan segala kemudahan atau kenikmatan yang telah diperoleh selama ini akan lenyap. Oleh karena itu, jalan satu-satunya adalah mencari kesalahan Yesus supaya Ia dapat dijegal.

 

Mungkin sebagai orang beriman, pertama-tama, kita seringkali menampilkan sikap ragu-ragu dan tidak percaya kepada Tuhan. Kita gampang menyerah manakala menghadapi setiap tantangan dan cobaan dalam hidup. Kita gampang menjadi lemah dan putus asa. Dalam situasi demikian, seringkali kita mempertanyakan kemahakuasaan Tuhan. Kita mulai ragu-ragu dan bahkan tidak percaya dengan Tuhan. Kedua, karena tidak percaya dengan Tuhan maka kita juga gagal menunjukkan diri kita sebagai tanda dari-Nya. Kita masih sibuk dan suka melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Sama seperti orang Farisi, kita gampang menaruh sikap curiga, prasangka, sentimen, atau iri hati kepada sesama.

 

Hari ini kita belajar untuk semakin percaya kepada Tuhan. Secara kasat mata kita tidak melihat Diri-Nya. Tetapi kita sungguh yakin bahwa dalam setiap tantangan dan kesulitan yang kita hadapi, Tuhan sementara menyatakan tanda kehadiran Diri-Nya. Dan ini butuh keterbukaan iman untuk menerima dan menjawabi wahyu Tuhan yang hadir dalam pengalaman-pengalaman demikian. Tuhan tidak pernah menyakiti atau membinasakan manusia ciptaan-Nya sendiri. Namun adakalanya Tuhan membutuhkan pengalaman sakit, derita, dan keterpurukan untuk menggembleng manusia menjadi pribadi yang kuat dan matang dalam hidupnya. Semoga dengan menyadari hal demikian, kita semakin memperbaiki diri untuk menjadi tanda yang baik bagi Dia yang kita imani. Menjadi tanda yang baik tidak perlu hal yang muluk-muluk atau luar biasa. Dengan hal-hal sederhana yang membawa kebaikan, penghiburan, kekuatan dan keselamatan bagi orang lain, sebenarnya kita sudah menjadi tanda yang baik Tuhan

Membersihkan Roh Jahat Di Dalam Diri

Mrk 5:1-20

 

Mungkin anda pernah mendengar atau membaca sebuah istilah yang bernama eksorsisme. Eksorsisme adalah sebuah praktik untuk mengusir setan atau makhluk halus (roh) jahat dari seseorang atau suatu tempat yang dipercaya sudah dimasuki atau dirasuki setan. Orang yang melakukan eksorsisme dikenal dengan sebutan eksorsis. Seorang eksorsis bisa berasal dari kalangan apa saja. Entah rohaniwan, biarawan-biarawati atau pun awam. Eksorsis bisa menggunakan media doa dan hal-hal religius lainnnya seperti mantra, gerak-gerik, simbol, gambar atau patung orang suci, jimat, dan lain-lain. Seorang eksorsis seringkali memohon bantuan Tuhan atau beberapa malaikat dan malaikat agung untuk ikut campur di dalam eksorsisme.

 

Praktis eksorsisme ternyata sudah sangat tua dan berlaku di banyak negara. Sejak zaman Yesus, praktek eksorsisme sudah dikenal. Bahkan Yesus sendiri menggunakan eksorsisme sebagai salah satu media untuk menegaskan eksistensi Diri-Nya. Bagi Yesus, eksorsisme tidak sekedar memberi keselamatan bagi si sakit. Ekorsisme adalah sarana pewartaan warta Kerajaan Allah yang dikumandangkan oleh Yesus sendiri. Melalui eksorsisme, Yesus merepresentasikan kekuatan Allah yang sungguh dasyat. Melampaui segala kekuatan dunia dan setan. Oleh karena itu, kita bisa mengatakan bahwa Yesus adalah seorang eksorsis agung. Karena Yesus memiliki kekuatan ilahi untuk mengusir roh jahat atau setan yang merasuki pribadi seseorang.

 

Seperti dalam bacaan Injil pada hari ini (Mrk5:1-20), diperlihatkan kepada kita sebuah kisah penyembuhan seseorang yang kerasukan roh jahat di daerah Gerasa. Roh jahat itu rupanya sudah mengenal siapa Yesus. Ia kelihatan takut ketika melihat kedatangan Yesus. Ia merasa hidup dan kekuasaannya akan segera berakhir di daerah Gerasa. Oleh karena itu, dengan sangat ia meminta bantuan Yesus supaya dipindahkan ke dalam kawanan babi yang ada di sekitar daerah itu. Yesus pun mengabulkan permintaan roh jahat yang bernama Legion. Ia mengeluarkan roh jahat dari si sakit dan memindahkan roh jahat itu ke dalam babi-babi, sehingga menyebabkan kawanan babi itu terjun ke dalam danau.

 

Praktek eksorsisme atau pengusiran roh jahat ternyata masih berlaku hingga saat ini. Kalau kita perhatikan, memang ada segelintir orang yang memiliki karunia atau karisma khusus untuk melakukan praktek eksorsisme. Mereka biasanya menggunakan media doa, dan barang-barang rohani seperti salib, patung, Rosario, gambar-gambar kudus dan sebagainya. Dan banyak orang zaman ini yang masih kuat menggunakan jasa seorang eksorsis untuk menyembuhkan anggota keluarga atau kenalannya yang kerasukan roh jahat. Tidak jarang kita mendengar atau menyaksikan praktek-praktek eksorsisme yang terjadi di sekitar kita. Banyak hal di luar logika yang kita temui di sana. Namun yang pasti bahwa orang dituntut untuk memiliki kepercayaan agar proses eksorsisme itu bisa terlaksana dengan baik dan sukses.

 

Selain roh jahat yang datang dari luar dan menyusup masuk dalam jiwa seseorang, ternyata roh jahat itu juga bisa diciptakan oleh manusia sendiri di dalam dirinya. Ketika mendengar nama Yesus, orang menjadi alergi. Orang tidak mau mendengar dan mempercakapkan sosok yang bernama Yesus. Fatalnya, banyak orang Kristen yang hidupnya sudah mulai menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran Kristen. Seperti orang Gerasa yang menolak kehadiran Yesus di daerahnya, banyak orang Kristen juga memiliki tendensi untuk bertindak demikian. Mereka seringkali menolak kehadiran Yesus baik di dalam hati maupun secara terang benderang lewat kata-kata dan perbuatan. Mereka lebih sibuk mempraktekkan urusan duniawi dan mengabaikan nilai-nilai yang termaktub dalam ajaran kristiani.

 

Fenomena orang-orang Kristen yang tidak tertarik lagi ke gereja pada hari Minggu menjadi pemandangan biasa yang sering kita amati. Dengan getol dan berapi-api mereka mencari pendasaran untuk membela diri. Mereka mengatakan bahwa cukup saja menjadi orang baik. Namun apakah menjadi orang Kristen itu cukup dengan hanya berbuat baik? Saya kira tidak demikian. Spirit akan Tuhan Yesus perlu ditimba dan dikuatkan dalam diri. Salah satunya dengan menghadiri perayaan ekaristi untuk menghormati dan menyambut Tubuh Tuhan dalam rupa roti.

 

Fenomena lain yang kita temui adalah kecenderungan orang Kristen untuk menghabiskan kekayaannya demi perilaku hedonisme yakni pesta pora. Tentu saja orang akan berdalih bahwa uang itu milik pribadi. Dan menjadi wilayah privasi yang tidak bisa diganggu gugat. Kita sepakat dengan hal itu. Namun menjadi hal yang miris adalah ketika orang menjadikan hidup hedonis menjadi fokus dan lokus dalam hidupnya. Imbasnya, orang tidak lagi memiliki kepekaan untuk menunjukkan keprihatinan dan perhatian sosialnya. Orang menjadi apatis (cuek), egois (merasa lebih unggul), dan permisif (tidak mau tahu) dengan ketidakadilan dan kemiskinan yang terjadi di sekitarnya.

 

Dan masih banyak hal lain yang bisa menjadi refleksi bagi diri sendiri. Bahwa roh jahat itu bisa bertransformasi dalam rupa apa pun. Tidak hanya dalam rupa yang jelek dan tidak menarik. Dalam rupa yang paling manis dan mengenakan pun, roh jahat bisa bercokol di dalamnya. Mari kita membersihkan segala jenis roh jahat yang masih bersemayam di dalam diri kita, agar tubuh kita menjadi pantas menjadi Bait Allah, tempat kediaman Allah sendiri. 

Minggu, 13 Februari 2022

Menghidupi Iman Dengan Cara Sederhana

 

Mrk 6:53-56

 

Iman adalah tanggapan manusia atas wahyu Allah. Iman juga merupakan sikap penyerahan diri yang total kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa, melainkan dengan sukarela. Dalam iman, manusia menyadari dan mengakui bahwa Allah yang tak terbatas berkenan memasuki hidup manusia yang serba terbatas. Ia menyapa manusia dan memanggilnya. Iman berarti jawaban atas panggilan Allah. Penyerahan pribadi kepada Allah yang menjumpai manusia secara pribadi pula. Dalam iman manusia menyerahkan diri kepada Sang Pemberi Hidup. Pengalaman religius memang merupakan pengalaman dasar. Di atas pengalaman dasar itulah dibangun iman, penyerahan kepada Allah, pertemuan dengan Allah. Manusia dari dirinya sendiri tidak mungkin mengenal Allah. Umat Kristen mengenal Allah secara pribadi sebagai Bapa, melalui Yesus. Dalam kitab Suci dikatakan, “Tidak seorang pun mengenal Bapa, selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakan-Nya” (Mat 11:27).

 

Sikap iman yang total kepada Yesus ditunjukkan oleh orang-orang ketika melihat Yesus berada di daerah Genesaret. Tidak sekedar datang melihat Yesus. Mereka juga membawa orang-orang sakit ke hadapan Yesus. Mereka percaya, Yesus akan memberi kesembuhan kepada orang-orang sakit. Saking yakinnya, mereka memohon kepada Yesus untuk cukup saja menyentuh jumbai jubah-Nya. Dengan begitu, mereka akan mendapatkan keselamatan. Hal ini memberi inspirasi kepada kita betapa orang-orang itu tidak hanya total menaruh iman mereka kepada Yesus. Orang-orang itu juga menghidupi iman mereka dengan cara yang sederhana. Tidak rumit.

 

Sikap iman yang total dan sederhana dari orang-orang, ternyata kontras (berbanding terbalik) dengan sikap iman yang ditunjukkan oleh para murid. Sekian lama berada dan melihat banyak hal tentang Yesus, ternyata belum mampu mendongkrak kadar iman para murid akan Yesus. Dalam peristiwa sebelumnya, yang mengisahkan Yesus berjalan di atas air (Mrk 6:45-52), para murid sangat ketakutan dan mengira Yesus adalah hantu. Bahkan ketika Yesus sudah memperkenalkan diri dan naik ke perahu bersama-sama dengan mereka, itu belum cukup membuat mereka yakin. Injil mencatat ”Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu (Yesus memberi makan lima ribu orang) mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil” (Mrk 6:51-52).

 

Sikap para murid yang belum mampu menunjukkan sikap percaya dan iman yang total kepada Yesus, sebenarnya mempresentasikan sikap iman kita dewasa ini. Sebagai seorang pengikut Yesus, kita acapkali belum atau tidak mampu menunjukkan iman yang total kepada Yesus dan Bapa-Nya. Kita lebih mengandalkan logika atau rasio dalam setiap pengalaman hidup yang kita alami. Pengalaman yang baik dilihat sebagai hal yang biasa saja. Dalam tiap keberhasilan atau kesuksesan yang diraih, kita lebih membanggakan usaha dan prestasi pribadi. Sebaliknya, dalam pengalaman kegagalan, penderitaan, dan keterpurukan, kadang kita lari dan tidak mau menghadapinya. Malahan, kita melempar tanggung jawab, sibuk mencari kambing hitam dan tidak lupa menegaskan pembenaran diri.

 

Dalam pengalaman sakit, yang mungkin pernah atau pada saat sekarang kita sedang mengalaminya, kita belum mau menunjukkan iman yang total kepada Yesus. Malahan kita mengambil jarak dengan Dia dengan tidak mau berdoa. Anehnya, kita lebih mengandalkan kekuatan-kekuatan luar selain kekuatan Yesus. Kita mencari paranormal atau dukun, orang pintar, dan orang hebat untuk mencari tahu dan menyembuhkan rasa sakit dan penyakit yang kita rasakan. Kita tidak mau pergi ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit, karena kita lebih mempercayai dukun atau paranormal. Nanti tunggu rasa sakit semakin menjadi-jadi dan tidak diatasi oleh dukun barulah tergopoh-gopoh kita pergi ke fasilitas kesehatan.

 

Orang-orang Genesaret telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Sikap iman kepada Tuhan itu harus dihidupi tanpa adanya sikap kompromi, ragu-ragu, apatis dan sombong. Kita perlu belajar dari orang-orang Genesaret untuk menghidupi iman kita kepada Tuhan dengan sikap iman yang sederhana. Sikap iman yang sederhana menunjuk pada sikap iman yang tulus dan total. Kita mau datang kepada Tuhan dengan cara-cara yang sederhana dan tidak rumit. Kita mau mempercakapkan banyak hal tentang kehidupan kita kepada-Nya dengan kata-kata yang sederhana. Tidak dengan kata-kata yang tinggi dan sulit dimengerti. Bahkan Tuhan sendiri juga bingung dengan aneka istilah yang kita gunakan. Kita butuh waktu yang sederhana, singkat, dan tidak bertele-tele. Dalam kesendirian dan kesunyian, kita mau menyerahkan diri secara total agar Ia mau mendengar segala keluh kesah kita. Kita percaya Tuhan akan menindaklanjuti apa yang kita sampaikan dengan cara-Nya yang penuh misteri, rahasia tetapi sungguh memberi kelegaan dan keselamatan.

 

Dan melalui para dokter, para perawat, para bidan, dan semua orang yang bertugas di rumah sakit ini, Tuhan sementara menyingkapkan tindakan-Nya yang penuh misteri agar kita sungguh menyadari kehadiran-Nya di tempat ini. Tuhan sungguh menjawab apa yang kita sampaikan kepada-Nya melalui para tenaga kesehatan yang sementara bertugas di tempat ini. Mereka sebenarnya adalah representasi (perwakilan) dari Tuhan sendiri yang datang untuk memberi kesembuhan dan keselamatan bagi kita yang sementara mengalami sakit. Menghidupi iman yang sederhana berarti pula kita menyadari kehadiran Tuhan yang sungguh misteri, serentak pula menyadari kehadiran-Nya yang sungguh nyata di tempat ini. Kita percaya, Tuhan akan menjawab segala doa yang kita panjatkan kepada-Nya dengan kebijaksanaan ilahi-Nya. Mari kita menyerahkan diri kepada Tuhan dengan menghidupi iman kita secara sederhana.

Kamis, 10 Februari 2022

IA MENJADIKAN SEGALA-GALANYA BAIK

 

Mrk 7:31-37

            Hari ini Gereja Katolik sejagad memperingati hari orang sakit sedunia. Gereja mengajak kita semua untuk berempati dan simpati dengan orang-orang sakit dengan cara mendoakan mereka atau pun memberi dukungan dengan cara kita masing-masing. Semua orang sakit pasti merindukan kesembuhan dan Gereja selalu hadir untuk mereka. Gereja berjuang untuk memberi harapan hidup, Gereja berjuang memberi diri dalam berbagai aspek pelayanan, misalnya. Karena itu, Gereja membangun rumah-rumah sakit dan pusat-pusat pelayanan kesehatan bagi masyarakat agar bisa menampung orang-orang sakit untuk dirawat. Kehadiran Gereja di tengah-tengah umat ini ingin melanjutkan karya pelayanan Yesus untuk memberi harapan bagi yang miskin, lemah, sakit dan putus asa. Gereja mengharapkan agar karya-karya pelayanan kesehatan dan karya karitatif lainnya dapat dikembangkan di seluruh pelosok dunia agar misi pelayanan yang dirintis Yesus dapat terus hidup.

 

            Kisah penyembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus telah mendorong sekian banyak orang mencari Dia. Mereka tidak saja mencari kesembuhan tetapi menyatakan iman kepercayaan kepadanya secara terang-terangan bahkan mereka mengungkapkan kekaguman mereka secara terbuka bahwa “Ia menjadikan segala-galanya baik.” Ungkapan ini mengingatkan kita pada kisah penciptaan alam semesta. Sesudah menciptakan segala sesuatu, Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik (Kej 1:31). Di mata Tuhan, semua ciptaan baik dan bermartabat, namun dosa yang dilakukan manusia mencederai martabat luhur itu. Maka kedatangan Kristus dapat dilihat sebagai karya penciptaan kedua, mengembalikan seluruh ciptaan ke martabat yang sebenarnya yang sesuai dengan kehendak Allah. Orang bisu dan tuli secara sosial dikucilkan dan martabatnya sebagai manusia tidak dihargai. Yesus tampil sebagai Pencipta Baru menyembuhkan si bisu dan tuli agar martabat kemanusiaan orang sakit dipulihkan kembali.

 

            Hari ini Sabda Tuhan mau menantang kita  untuk menjadi penyumbang kebaikan. Orang banyak membawa kepada Yesus seorang yang tuli dan gagap untuk disembuhkan. Tindakan mereka ini menunjukkan bahwa kehidupan ini harus dihargai, diperbaiki dan dipelihara. Ada semacam kepekaan rasa, ada kepedulian, ada perhatian dan kebersamaan yang mereka bangun terutama kepada mereka yang sakit. Kehadiran Yesus memang selalu bertujuan untuk menjadikan segala-galanya baik, karena itu, mereka yang sakit fisik atau pun batin selalu dibuat-Nya sembuh berkat rahmat yang mengalir dalam diri-Nya. Sabda Tuhan hari ini menggugah kesadaran iman kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan agar kita semakin peka melihat dan merasakan penderitaan sesama kita. Secara  pribadi kita dituntut menjadi penyumbang kebaikan agar penderitaan yang dialami sesama kita dapat diakhiri. Hidup ini akan terasa indah apabila masing-masing kita selalu berjuang untuk menyumbang kebaikan dalam kebersamaan terkhusus kepada mereka yang lemah, miskin, sakit dan yang terabaikan.

 

            Sebagai orang beriman, kita memohon rahmat dan uluran tangan Yesus agar membuka telinga kita yang mungkin pura-pura tuli untuk peka mendengarkan jerit tangis sesama kita yang lemah, miskin dan sakit agar kita dapat menolong atau membantu mereka secara spontan/tulus tanpa menunggu diexpose menjadi berita yang viral. Di samping itu, kita juga memohon rahmat kesembuhan dari Tuhan bagi kita yang pura-pura gagap atau seolah-olah bisu, agar kita berani bicara menentang penindasan dan tirani yang menyulitkan hidup masyarakat kecil. Perjuangan kita menyumbangkan kebaikan kepada sesama mengandaikan kerendahan hati dan kepercayaan yang total kepada Tuhan untuk menganugerahkan keberanian agar mulut kita dapat menyuarakan kebenaran dan keadilan serta telinga kita untuk mendengarkan keluh kesah orang-orang kecil. Berkenaan dengan peringatan orang sakit sedunia, refleksi atas Sabda Tuhan hari ini menginspirasi kita untuk menyumbangkan satu kebaikan bagi orang-orang sakit di sekitar kita.

 

 Sumbangan yang kita berikan bersifat spontan karena empati dan simpati kita kepada orang sakit. Kita tidak dituntut untuk menyumbangkan uang untuk membantu biaya pengobatan mereka tetapi moment peringatan orang sakit sedunia ini mewajibkan kita untuk menyumbangkan doa dengan intensi khusus bagi kesembuhan semua orang sakit yang sedang dirawat, dimana pun mereka berada. Memang kita tidak akan mungkin sama dengan Yesus, Ia hanya dengan mengucapkan kata “Efata/terbukalah” maka, Ia menjadikan segala-galanya baik. Bagaimana dengan kita manusia, satu-satunya jalan yang bisa kita sumbangkan adalah dengan doa dengan intensi khusus kepada semua orang sakit, dengan cara itu, doa-doa kita akan menggetarkan hati Allah dan oleh belas kasih-Nya Ia akan menganugerahkan rahmat kesembuhan kepada semua orang sakit sedunia.             Misi utama kedatangan Tuhan Yesus adalah ingin agar semua orang memperoleh belas kasih Allah dan belas kasih Allah tidak diperoleh begitu saja tetapi harus dengan perjuangan yang dilandasai oleh iman dan hati yang ikhlas. Allah ingin menjadikan segala-galanya baik asalkan manusia membuka diri untuk menerima kedatangan-Nya. Tuhan mampu mengembalikan kondisi kelemahan dan keterpurukan manusia dan menjadikan segala-galanya baik asalkan kita selalu membangun relasi atau hubungan yang harmonis dengan-Nya.

 

            Tuhan senantiasa tersentuh hatiNya oleh orang yang sakit, menderita dan berbeban berat. Belas kasih Allah tidak terhalang oleh keraguan dan dangkalnya iman kita dan Dia bertindak menurut kehendak-Nya sendiri. Semoga iman kita tidak pasif  dan parasit terhadap sentuhan hati Allah tetapi hendaknya iman kita adalah iman yang hidup yang terus mewartakan kabar gembira keselamatan Allah bagi segala bangsa. Inspirasi Injil hari ini semoga semakin menguatkan iman semua orang sakit bahwa Allah adalah sumber kesembuhan kita dan kepadaNyalah kita memohon.