Mat 16:13-19
Why always me? (mengapa selalu saya). Sebuah kalimat ikonik
yang identik dengan Mario Balotelli. Mario Balotelli adalah seorang pesepakbola
handal dan ternama dari negara Italia. Ia menggunakan ungkapan Why always me? (mengapa selalu saya)
untuk menyindir sekaligus meredam aksi para supporter yang sering merasa tidak
puas dengan penampilannya di lapangan hijau. Dengan kata-kata ikonik ini, Mario
Balotelli ingin memberi pesan tersirat kepada para supporter bahwa ia hanyalah
manusia biasa. Ia bukan superman. Apalagi makhluk supranatural. Sebagai manusia
biasa, sangat wajar apabila ada pasang surut dalam pola dan gaya permainan
sepakbolanya. Semestinya orang-orang tidak perlu meletakkan parameter yang
sempurna pada dirinya. Karena ia bukan manusia yang sempurna.
Why always me dari Mario Balotelli tentu berbeda level dan tidak mungkin bisa dibandingkan dengan
kata-kata Yesus Who am I? (Siapakah
saya) pada hari ini. Yesus adalah makhluk ilahi yang mempresentasikan diri-Nya
sebagai manusia biasa. Dan untuk menguji sejauh mana tingkat pengenalan dan
pemahaman para murid akan diri-Nya, Yesus menggunakan dua model pertanyaan.
Pertama, Yesus menanyakan pendapat orang banyak tentang siapakah diri-Nya
kepada para murid. Para murid pun mengatakan bahwa seturut pandangan orang
banyak, Yesus disamakan dengan Yohanes Pembaptis. Ada juga pendapat orang lain
yang mengatakan bahwa Yesus adalah nabi Elia, nabi Yeremia, atau salah seorang
nabi lain yang telah hidup kembali.
Kedua,
Yesus menanyakan pendapat para murid sendiri tentang siapakah diri-Nya yang
sebenarnya. Dengan spontan dan lugas, Petrus menjawab; “Engkau adalah Mesias,
Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Mesias adalah kata Ibrani yang berarti “Yang
Diurapi”. Terjemahan dalam bahasa Yunaninya adalah Christos atau Kristus yang kita kenal sekarang. Namun pengakuan
Petrus akan Yesus sebagai Mesias kala itu masih dipahami dalam konsep lama
mesianik. Petrus masih memahami bahwa Yesus itu sama dengan Raja Daud yang akan
mengembalikan kejayaan bangsa Israel. Setali tiga uang dengan Petrus, para
murid yang lain juga memahami hal yang sama. Bahwa Yesus yang berdiri di
hadapan mereka adalah seorang raja duniawi yang akan membebaskan bangsa Israel
dari tangan penjajah. Maka tidak mengherankan dalam bacaan selanjutnya, Petrus
dengan tegas menolak konsep penderitaan atau konsep mesianik baru yang
dideklarasikan oleh Yesus.
Terlepas
dari konsep mesianik lama yang masih dianut oleh Petrus dan kawan-kawannya, hal
yang patut diberi apresiasi adalah pengakuan yang jujur dan tulus dari seorang
Petrus. Berbekal pengenalan dan pemahaman yang masih terbatas (walaupun memang
ada banyak pengalaman tidak terbatas yang telah dialaminya bersama Yesus),
Petrus dengan berani menandaskan misteri yang sangat krusial tersebut: “Engkau
adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”. Di atas itu, apa yang diproklamirkan
oleh Petrus sebenarnya merepresentasikan wahyu Allah sendiri tentang siapa
Yesus. Dan kata-kata Yesus mengafirmasi hal ini. “Berbahagialah engkau Simon
bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku
yang di sorga” (Mrk 16:17).
Sama
seperti Petrus, kita pun seharusnya dengan berani, jujur, dan tulus mengakui
Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Tentu tidak hanya dengan ungkapan
di bibir semata. Apa yang kita nyatakan akan lebih bermakna apabila kita
nyatakan dalam kehidupan riil kita. Kita harus sungguh-sungguh menjadi seorang
murid Tuhan yang sejati dalam hidup. Sejalan dengan nasihat Santo Petrus dalam
suratnya (1 Ptr 5:1-4), semestinya sebagai seorang murid yang sejati, kita
perlu mengikuti Yesus dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah. Bukan
dengan paksaan supaya dilihat dan diakui oleh banyak orang. Yang berikutnya,
mengikuti Yesus bukan untuk mencari keuntungan tertentu. Mengikuti Yesus
berarti mengikuti-Nya dengan total. Penuh dedikasi. Tidak setengah-setengah Dan
terakhir, mengikuti Yesus dengan manjadi teladan bagi orang lain. Terutama
dalam sikap kasih dan pelayanan yang prima kepada orang-orang yang membutuhkan
uluran tangan kita.
Hari ini, Yesus sungguh mencerahkan hati dan pikiran kita tentang siapa sebenarnya diri-Nya. Kita tidak perlu ragu-ragu dan tidak skeptis tentang diri-Nya. Kita seharusnya berbangga karena memiliki Yesus. Karena Ia adalah sungguh Mesias, Anak Allah yang hidup dan menyejarah dalam dunia sebagai manusia biasa. Melalui gereja-Nya pada masa kini, kita pun meyakini bahwa Ia tetap hadir dan menaungi setiap kita yang senantiasa percaya dan memasrahkan hidup kepada-Nya. Gereja-Nya adalah tanda kehadiran diri-Nya yang sungguh nyata dalam hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memuji Dia, Sang Mesias, Anak Allah yang hidup, dengan memberi banyak kebaikan dan memperjuangkan kebenaran-kebenaran dalam hidup, sesuai dengan apa yang telah dikehendaki oleh Tuhan sendiri dalam firman-Nya. Karena sesungguhnya, kita adalah gereja-gereja kecil yang telah diurapi oleh sakramen permandian untuk menyebarkan warta kebaikan Injil di tengah dunia