Luk 21:12-19
Khatera Hashmi, seorang polisi wanita (polwan) asal
Afganistan menceritakan kisah mirisnya tentang penganiayaan baik fisik dan
psikis yang dia alami dari kelompok Taliban. Salah satu faksi politik yang
sekarang menguasai roda pemerintahan negara Afganistan. “Bagi Taliban, dosa terbesar seorang
perempuan adalah jika ia keluar dari rumahnya untuk bekerja”, ungkap Hashmi
(dilansir dari Makassar.terkini.id).
Khatera Hashmi yang merupakan seorang mantan polisi perempuan itu
mengaku disiksa oleh anggota Taliban tahun lalu (2020). Hashmi mengungkapkan
bahwa ia ditembak beberapa kali, bahkan mata kanannya dirusak oleh anggota
Taliban. Penyiksaan itu terjadi saat ia diculik. Apalagi penyiksaan itu terjadi
ketika ia masih dalam keadaan hamil. Anehnya, ayah kandungnya mendukung
tindakan tak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh Taliban. Memang sejak awal
ayahnya sangat menentang keras cita-citanya menjadi seorang polisi. Hal ini
tidak lepas dari basis ideologi yang membatasai ruang gerak perempuan dalam
segala dimensi kehidupan. Dan ideologi ini yang dipegang oleh ayahnya dan
kelompok Taliban. Sehingga tidak heran, apabila ayahnya bekerja sama dengan
kelompok Taliban menjegal dirinya.
Tidak hanya Khatera Hashmi. Namun semua perempuan
yang bekerja di luar rumah, mendapat tantangan dan hambatan dari kelompok
Taliban untuk mengejar karier mereka. Beruntung bahwa Khatera Hashmi dapat
diselamatkan nyawanya, walaupun matanya mengalami cacat permanen. Sekarang ia
dan suaminya berada di India untuk melanjutkan terapi kesehatannya. Ia juga
tidak tahu apakah anak-anaknya di Afganistan masih hidup atau tidak. “Saya menjadi seperti mayat hidup. Saya
bernapas, tapi tiap hari saya harus berjuang. Melakukan hal mudah, bahkan
seperti tantangan bagi saya,” demikian Khatera Hashmi memberi kesaksian.
Pengalaman hidup Khatera Hashmi yang menyayat hati
sebenarnya mewakili begitu banyak orang yang sementara berjuang bertahan dalam
banyak kesulitan, penderitaan, dan dukacita hidup. Ada yang terekpose oleh
media. Namun lebih banyak yang luput dari perhatian dan pemberitaan. Mereka
bertahan dalam kesulitan dan penderitaan karena mereka percaya akan kebenaran
yang sementara mereka hidupi. Walaupun kebenaran itu sementara dicabik-dicabik
oleh orang atau kelompok orang yang tidak menyukainya, mereka tetap berjuang
sampai titik darah penghabisan.
Memperjuangkan kebenaran itu memang sangat sulit.
Ada risiko tertentu yang harus siap diterima. Siap dicemooh, dihina,
dikhianati, dianiaya, dan bahkan dibunuh. Namun banyak pengalaman membuktikan
bahwa perjuangan akan kebenaran itu tidak pernah sia-sia. Banyak orang memetik
hasil positif dari sekian banyak tantangan, kesulitan dan penderitaan yang
mereka alami. Nelson Mandela, misalnya, berhasil meraih tampuk kepemimpinan
kekuasaan tertinggi di Afrika Selatan, setelah mengalami banyak kesulitan,
hambatan dan keterpurukan dalam hidupnya. Ia menjadi presiden kulit hitam
pertama di negaranya, Afrika Selatan, setelah berhasil menghancurkan tembok
kokoh yang memisahkan warga kulit putih dan hitam. Nelson Mandela berhasil
memperjuangkan nilai kebenaran bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang
mendiskriminasi hidup manusia. Semua manusia memiliki harkat dan martabat yang
sama di mata Tuhan. Entah apa pun warna kulitnya.
Santo Andreas Dung-Lac yang pestanya kita rayakan
pada hari ini adalah salah seorang dari para martir negara Vietnam yang
dikanonisasi menjadi orang kudus oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 19
Juni 1988. Ia adalah seorang imam pribumi yang menumpahkan darahnya sebagai
seorang pengikut Kristus yang setia dan militan. Berkat perjuangannya akan
kebenaran iman Kristus, Santo Andreas Dung-Lac rela mempertaruhkan nyawanya
untuk itu. Darah kemartirannya sungguh menumbuhkan iman Kristus di negara
Vietnam. Iman Kristus pun tumbuh dengan subur di negara Vietnam oleh karena
perjuangan dan pengorbanan para laskar Kristus yang tidak pernah takut untuk
menghadapi pelbagai kesulitan dan penderitaan.
Perjuangan akan kebenaran yang penuh kesulitan dan
tantangan sebenarnya sudah digambarkan oleh Yesus dalam warta Injil-Nya.
“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan
diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan
kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku” (Luk 21:12). Banyak
tantangan, kesulitan, dan penderitaan yang akan dialami oleh seseorang yang mau
menjadi murid Kristus. Karena bersama Kristus, kita sementara memperjuangkan
kebenaran demi terwujudnya Kerajaan Allah di tengah dunia. Perjuangan yang kita
lakukan tentu akan berlawanan dengan arus zaman yang telah mapan. Kita akan
berhadapan dengan orang-orang yang merasa terusik. Perjuangan kita akan
membentur sistem yang kokoh dan angkuh.
Namun kita tidak perlu takut. Karena hikmat Tuhan
akan selalu menyertai. “Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata
hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah oleh lawan-lawanmu”
(Luk 21:15). Hikmat Tuhan berupa kebijaksanaan dalam kata-kata dan perbuatan akan
selalu menguatkan sehingga kita tidak pernah gentar menghadapi setiap tantangan
dan hambatan. Hikmat Tuhan pulahkah yang membentuk kita menjadi pribadi yang
tangguh sehingga kita tidak mudah jatuh dan putus asa manakala diterpa badai
kesulitan dan penderitaan. Mungkin secara manusiawi, kita melihat ini sebagai
sesuatu yang naif. Tidak masuk akal. Namun apabila kita percaya dalam iman,
segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Segala ketidakpastian akan
berbuah kepastian. Dan banyak pengalaman rohani dari orang-orang yang sukses
membangun pribadinya dan dunia selalu berawal dari rasa kepercayaan yang kuat
akan hikmat Tuhan yang menyertai.
Percaya akan hikmat Tuhan akan memantik dimensi
positif dalam diri. Kita akan selalu dikuatkan dan diteguhkan untuk tidak
pernah takut akan setiap tantangan, hambatan atau pun keterpurukan dan
penderitaan dalam hidup. Tantangan, hambatan atau pengalaman penderitaan
sebenarnya adalah jalan kebaikan yang sementara mendidik pribadi kita menjadi
pribadi yang semakin matang dan dewasa. Dan dalam setiap tantangan dan hambatan
demikian ada hikmat Tuhan yang sementara menuntun dan membimbing agar kita
semakin kuat mengarahkan diri ke dalam penyelengaraan ilahi. Kita percaya di
balik setiap tantangan, kesulitan dan penderitaan yang kita alami, ada berkat
terindah yang sudah disiapkan oleh Tuhan.
Mari kita serahkan segala tantangan, hambatan,
kesulitan, dan penderitaan yang kita alami ke dalam penyelenggaraan Tuhan. Kita
percaya hikmat Tuhan akan selalu membantu dan menyertai kita. Semoga kita
sekalian semakin dikuatkan dan diteguhkan dalam iman, berkat hikmat Tuhan yang
selalu mengalir dalam dinamika hidup kita di tengah dunia. Amin. ***AKD***