Selasa, 20 Juli 2021

Menjadi Tanda Yang Baik

Mat 12:38-42

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada lima arti tanda. Pertama, tanda menjadi alamat atau yang menyatakan sesuatu. Kedua, tanda adalah gejala. Ketiga, tanda menyatakan bukti. Keempat, tanda sebagai pengenal. Dan kelima, tanda adalah petunjuk. Menyimak arti tanda di atas, ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan manusia bisa dikategorikan sebagai tanda. Misalnya fenomena alam yang menyatakan tanda tertentu. Bisa juga sebuah kejadian atau peristiwa di luar akal atau logika yang ditafsir sebagai sebuah tanda. Atau orang menafsirkan mimpi tidur sebagai sebuah tanda dalam kehidupan riil manusia.

Sebagai makhluk spiritual, manusia menyukai tanda-tanda yang terjadi dalam kehidupannya. Ketika mengalami sebuah peristiwa atau kejadian yang tidak lazim, mengalami mimpi yang baik atau buruk, manusia cenderung menganalisis dan mengkorelasikannya sebagai tanda dalam kehidupan yang akan terjadi kelak. Entah tanda itu berciri baik atau buruk, ia (tanda) memainkan peran sebagai sebuah keyakinan pribadi atau kolektif yang memotivasi manusia untuk bersikap waspada dan mengambil langkah-langkah antisipatif yang membawa kebaikan dan sedapat mungkin mengurangi keburukan yang mungkin saja terjadi.

Pernyataan para elit agama yang meminta tanda kepada Yesus adalah bagian dari sebuah keyakinan pribadi dan kolektif agar mereka sungguh diyakinkan tentang sosok kharismatik yang bernama Yesus. Mereka sudah lama mendengar, melihat, dan mengikuti setiap aksi fenomenal yang dilakukan oleh Yesus. Baik itu berupa kata-kata, ataupun tindakan mukjizat-Nya. Bagi mereka, apa yang dibuat oleh Yesus menyedot perhatian dan simpati publik. Tidak terkecuali juga apa yang mereka rasakan sendiri. Ada kejadian atau peristiwa di luar kelaziman, di luar logika dan di luar tradisi atau keyakinan yang membentuk pribadi mereka sebagai makhluk beragama. Statement: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu” (Mat 12:38), adalah sebuah bentuk permintaan akan adanya bukti, pengenal, atau petunjuk yang menegaskan siapa sebenarnya figur yang bernama Yesus. Adanya bukti, pengenal dan petunjuk tentu saja berdampak pada sikap trust atau kepercayaan kepada pribadi Yesus.

Namun apa yang menjadi harapan dari para pemuka agama tidak terjawab. Malah Yesus mencap mereka sebagai angkatan yang jahat. Ini terjadi di luar dugaan dan bayangan para pemimpin agama. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Yesus seolah-olah tega memberi cap yang mendiskreditkan pribadi dan status mereka sebagai pemimpin agama. Yesus pasti tidak asal bicara. Ada latar yang menguatkan pernyataan pribadi-Nya tersebut. Yesus tahu seperti apa situasi kebatinan para elit agama saat itu. Pada dasarnya, mereka tidak menyukai kehadiran Diri-Nya. Yesus dianggap sebagai ancaman yang akan menggeser kemapanan keyakinan dan status terhormat mereka sebagai pemimpin agama. Oleh karena itu, permintaan sebuah tanda adalah bentuk arogansi dan kemunafikan diri para elit agama untuk mencari-cari kesalahan pribadi-Nya.

Yesus sungguh menyayangkan sikap dari para elit agama yang meminta sebuah tanda dari Diri-Nya. Sementara kehadiran Diri-Nya adalah tanda itu sendiri. Yesus adalah tanda yang membawa kebaikan dan keselamatan hidup kepada segenap umat manusia. Melalui sabda dan perbuatan ajaib-Nya, Yesus telah memberi tanda agar umat manusia dapat bertobat dan percaya kepada Allah. Percaya kepada Allah melampaui segala jenis hukum dan peraturan yang dibuat oleh manusia. Percaya kepada Allah dilandasi oleh hukum kasih yang melihat diri sesama sebagai wajah Allah. Wajah Allah yang patut dicintai dan dikasihi dengan sepenuh hati. Bukan wajah yang dikasihi karena ada kepentingan ekonomi, sosial dan politik di dalamnya. Dalam hal ini, Yesus sungguh mengapresiasi ketulusan hati dan sikap orang Niniwe. Walaupun orang Niniwe dicap sebagai orang kafir, ternyata mereka mampu membaca tanda keselamatan dari Allah yang dibawa oleh nabi Yunus. Sementara di lain pihak, Yesus menyayangkan sikap atau tindakan orang-orang yang mengaku diri sebagai umat pilihan Allah. Ternyata hati mereka jauh dari Allah. Hal ini dibuktikan dengan ketidakmampuan pribadi untuk melihat, membaca, dan merasakan tanda ilahi yang menyata dalam diri Yesus.

Seringkali kita kurang atau tidak memiliki kemampuan untuk menangkap pelbagai tanda ilahi yang terjadi dalam realitas kehidupan. Ada banyak realitas kehidupan yang sebenarnya sementara berbicara tentang tanda ilahi tertentu. Ketika melihat orang yang sementara menderita sakit, susah, dan tertindas, sebenarnya ada tanda ilahi yang mendorong kita untuk memperlihatkan rasa empati dan kepedulian. Atau ketika menyaksikan banyak sesama saudara yang mengalami krisis dalam kehidupan iman, kita digerakkan untuk menjadi tanda yang bisa menyelamatkan hidup mereka.

Yesus telah menunjukkan diri-Nya sebagai tanda yang membawa kebaikan dan keselamatan kepada kita. Melalui gereja yang tetap berdiri dan hidup hingga saat ini, kita semua juga dipanggil untuk menjadi tanda yang membawa kebaikan dan keselamatan. Gereja secara fisik boleh saja ditutup sebagai imbas dari badai Covid-19. Tetapi jati diri kita adalah gereja Allah dan Yesus yang tetap hidup dan terbuka bagi dunia. Allah dalam Diri Yesus yang menyejarah dalam hidup manusia, telah mewujud dalam diri kita sebagai tanda nyata. Oleh karena itu, mari kita implementasikan jati diri kita sebagai gereja-gereja kecil yang menjadi tanda kebaikan dan keselamatan bagi semua orang. Kita menjadi tanda yang baik mulai dari dalam keluarga, basis, lingkungan, di tempat kerja, dan di mana saja kita berada. Amin. ***AKD***

Selasa, 06 Juli 2021

Menghidupi Panggilan Hidup

 

Mat 10:1-7

 

Menjalani panggilan dalam kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Entah panggilan hidup dalam wujud sebagai apa dan siapa, di dalamnya manusia memaknai dirinya sebagai makhluk pekerja (homo faber). Manusia juga menjalani panggilan dalam hidupnya sebagai homo socius atau makhluk social. Karena ia menyadari eksistensi hidupnya tidak pernah dipisahkan dari hidup bersama orang lain. Di atas semua itu, menjalani panggilan kehidupan adalah bentuk perwujudan manusia sebagai makhluk Tuhan. Seluruh perjalanan panggilan hidupnya mengekspresikan rasa syukurnya kepada Tuhan. Demikianlah alur utama panggilan manusia sebagai makhluk kodrati yang selalu berkiblat kepada Tuhan, sang entitas adikodratinya.

 

Tuhan Yesus sungguh pernah menjalani panggilan kehidupannya dalam sejarah hidup manusia sebagai seorang utusan Allah. Sebagai utusan Allah, Ia memainkan peran utama sebagai Sang Penyelamat yang membawa kabar gembira bagi umat manusia. Banyak sebutan yang bisa disematkan kepada Yesus, menilik dari sepak terjang-Nya sebagai seorang utusan Allah. Ia disebut sebagai seorang nabi karena tugasnya memberi warta sukacita kepada manusia. Ia juga bisa disebut tabib agung karena menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Dan yang paling penting, Ia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Ia datang untuk membawa kebaikan dan keselamatan bagi hidup manusia.

 

Walaupun dengan kuasa ilahi yang dimilikinya sebagai Anak Allah, Yesus menyadari bahwa Ia bukanlah one man show. Ia bukan pemain tunggal dalam misi penyelamatan dunia. Yesus membutuhkan mitra kerja yang akan membantu-Nya mensukseskan proyek keselamatan yang telah diberikan Sang Bapa kepada-Nya. Dan para rasul adalah mitra kerja-Nya yang selalu ada dan siap untuk membantu. Oleh karena itu, dalam bacaan hari ini, kita mendengar bahwa Yesus memanggil para murid-Nya yang pertama. Dalam kelompok dua belas rasul, mereka akan menjalani panggilan kehidupan yang baru bersama Yesus. Panggilan kehidupan yang mulia demi membawa sebanyak mungkin orang menuju Kerajaan Allah. Tidak hanya dipanggil, para murid juga diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan segala penyakit. Kuasa ilahi ini sebagai sarana untuk memberi kesaksian dan meyakinkan orang-orang untuk percaya kepada Allah.

 

Sama seperti para murid, kita juga telah dipanggil dengan nama masing-masing untuk menjalani panggilan kehidupan dalam tugas dan karya yang beragam. Walaupun berbeda dalam tugas dan pengabdian di tengah dunia, namun satu ciri utama yang menyatukan kita adalah bersatu dalam nama Yesus Kristus. Panggilan kehidupan kita yang terdistribusi dalam berbagai bidang, sebenarnya mengandung misi urgen yang satu dan sama yakni membawa kebaikan dan keselamatan kepada segenap makhluk. Ini selaras dengan cita-cita awal Yesus, ketika memanggil para murid-Nya yang pertama.

 

Kalau kita perhatikan pada masa sekarang ini, ada segelintir orang yang sungguh-sungguh menghayati dan menjalani panggilan kehidupannya. Mereka bekerja dengan penuh tanggung jawab, disiplin, berkomitmen tinggi, dedikasi yang total, penuh kesetiaan dan jujur. Mereka juga menolak dengan tegas dan tidak mau berkompromi dengan cara-cara sesat yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan jahat. Di sisi lain, kita juga menyaksikan bahwa banyak orang Kristen yang belum mampu menjalani panggilan kehidupannya secara baik dan benar. Mereka hanya menjadikan pekerjaan sebagai sarana untuk mendapatkan uang. Tidak lebih dari itu. Karakteristik orang-orang ini sangat gampang untuk terseret ke dalam perbuatan yang sesat dan tidak benar. Perbuatan mereka tentu tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga membawa dampak kerugian bagi banyak orang.

 

Hari ini, kita dipanggil oleh Yesus untuk sungguh-sungguh menghayati dan menjalani panggilan kehidupan di tengah dunia. Memang seorang pekerja patut mendapat upah yang layak. Namun seorang pekerja harus mampu menjalani panggilan kehidupannya dengan menghidupi spirit Yesus dalam dirinya. Spirit Yesus adalah spirit untuk bekerja dengan penuh tanggung jawab, memiliki komitmen yang tangguh, memiliki dedikasi dan semangat pelayanan yang tinggi, memiliki disiplin yang baik, dan memiliki kesetiaan dan kejujuran.

 

Di tengah deraan badai covid-19, kita hadir menjalani panggilan kehidupan yang sejati dengan memberi informasi yang akurat (bukan hoax) dan kata-kata yang meneguhkan dan menguatkan, dan bukan semakin menambah luka atau penyakit bagi para korban. Kita juga tidak gampang memberi vonis atau menaruh sikap curiga terhadap orang lain yang bisa mendatangkan keretakan dalam hubungan persaudaraan. Mari kita menjalani panggilan kehidupan dengan menghidupi spirit Yesus untuk membawa kebaikan bagi semua orang. Amin. ***AKD***