Selasa, 18 Mei 2021

Doa Sebagai Jalan Pertama Menuju Kebaikan

 

Yoh 17: 11b-19

 

Pernah pada suatu ketika, saya merasa hidup saya berada dalam situasi batas. Beban hidup yang besar, jauh melampau kemampuan saya untuk memikulnya, membuat saya tidak berdaya. Saya juga merasa kurang mendapat dukungan dari keluarga besar. Hal ini yang semakin mengurung diri saya dalam kesendirian. Tetapi apa pun situasinya, saya mencoba menguatkan diri untuk tetap kuat dan tidak putus asa. Dalam situasi pelik demikian, secara tidak disengaja, saya bertemu dengan seorang imam (pastor) di suatu tempat. Kebetulan saya mengenal beliau (imam) cukup dekat. Saya lalu memohon apakah ia bisa memberikan berkat untuk saya. Dengan senang hati, sang imam mau memberikannya. Ia memulai berkatnya dengan untaian doa yang indah dan sangat menyentuh hati. Dan ia mengakhirinya dengan memberi tanda salib di dahi saya. Seolah-olah ia tahu apa yang sementara berkecamuk dalam hati saya. Saya merasa diteguhkan dan dikuatkan dengan doa dan berkat dari sang imam. Saya merasa lebih yakin, bahwa kuasa Tuhan melalui tangan sang imam, sementara mengalirkan berkat-Nya, agar saya dimampukan untuk menghadapi kesulitan hidup yang saya alami.

 

Hari ini Yesus juga mendoakan para murid-Nya agar mereka juga bisa dikuatkan dan diteguhkan dalam mengarungi perjalanan hidup mereka sebagai seorang pewarta kabar gembira. Yesus menyadari ada banyak sekalih tantangan dan kesulitan hidup yang akan dialami para murid sepeninggalan Diri-Nya menuju Rumah Bapa. Tantangan itu pertama-tama datang dari luar kelompok para rasul. Akan ada banyak orang dari berbagai kalangan yang tidak setuju dan tidak menyukai kehadiran mereka. Para murid akan mendapat hinaan, cercaan, fitnah, dan nyawa mereka akan menjadi taruhan. Selain tantangan dari luar, ada juga tantangan dari dalam kelompok mereka. Dan ini menjadi tantangan terdasyat yang menguji kekompakan, kesetiaan, dan militansi mereka sebagai seorang murid Yesus. Akan timbul rasa iri, marah, kecewa, dan dendam kesumat yang menggerogoti kesolidan kelompok para murid. Jika para murid tidak berhati-hati dan bersikap ceroboh, maka misi keselamatan Allah yang diwariskan Yesus kepada mereka, terancam macet dan gagal diwujudkan.

 

Untuk mengantisipasi muculnya segala kemungkinan terburuk yang akan menimpa para murid, Yesus pun berdoa kepada Sang Bapa. Sebuah doa yang sangat istimewa bagi para murid. Ada beberapa point penting dari doa Yesus yang bisa kita tangkap dari bacaan Injil (Yoh17:11b-19). Pertama, supaya Bapa di sorga dapat memelihara para murid dalam nama-Nya yang kudus agar masing-masing pribadi menjadi satu dan bersaudara. Kedua, supaya Bapa di sorga dapat menjaga para murid agar mereka dapat memperoleh keselamatan dan hidup abadi. Ketiga, supaya Bapa dapat melindungi para murid dari maut dan dosa (kejahatan). Keempat, supaya Bapa menguduskan para murid dalam kebenaran. Keempat kata kunci dalam doa Yesus yakni memelihara, menjaga, melindungi dan menguduskan supaya para murid menjadi serupa dengan Diri-Nya.

 

Doa Yesus kepada Bapa bagi para rasul menjadi doa untuk kita juga. Para murid di masa kini. Tuhan menaruh belaskasihan akan terpaan atau badai yang akan dan sedang menimpa diri kita. Tantangan iman itu sungguh dasyat sehingga Tuhan perlu juga berdoa untuk kita. Tantangan itu tidak saja datang dari luar tetapi seringkali datang dari dalam diri dan kelompok. Acapkali muncul rasa iri hati, kecewa, sakit hati, marah berlebihan yang mengikis rasa persatuan dan kekompakan kita. Tidak hanya antara sesama saudara seiman, tetapi juga dengan saudara/i yang berbeda keyakinan iman dengan kita. Rasa persaudaraan dan kekeluargaan kita menjadi rapuh dan goyah. Masing-masing orang semakin menaruh curiga dan prasangka sehingga menciptakan api konflik semakin besar.

 

Mirisnya, para pengikut Yesus tetap berada dalam pusaran kebencian dan balas dendam. Tidak ada lagi setitik kebaikan ketika rasa ego dan gengsi sudah menguasai diri. Masing-masing orang merasa diri paling benar. Tidak ada yang mengaku salah dan meminta maaf. Tidak ada ruang perdamaian untuk dapat duduk dengan kepala dingin demi menyelesaikan segala persoalan. Manusia sudah menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Yang ada hanya saling klaim untuk menegaskan eksistensi pribadi masing-masing. Pintu hati kita bagi sesama sudah tertutup. Apalagi kepada Tuhan. Hati kita menjadi sangat tertutup untuk tidak lagi mendengarkan firman-Nya.

 

Hari ini Tuhan mendoakan agar kita bisa menjadi seorang murid-Nya yang total. Tidak setengah- setengah. Menjadi murid yang total berarti kita mau menjaga rasa persatuan, persaudaraan, dan kekompakan dengan mengikuti jalan kebenaran yang telah diwartakan-Nya. Kita bisa menjadi pribadi yang mampu mengolah emosi kita dengan bijak. Kita bisa meredam rasa iri hati dan marah yang berlebihan kepada orang lain. Kita bisa menjadi pribadi yang pemaaf dan mau meminta maaf apabila bersalah. Kita bisa menjadi seseorang yang bisa melepaskan ego dan gengsi demi sebuah nilai yang lebih tinggi.

 

Dan kuncinya adalah sebuah doa.Tuhan sudah membawa kedamaian dan kekuatan bagi para rasul dan kita semua melalui sebuah doa. Maka, kita juga perlu saling mendoakan satu sama lain agar bisa berjalan dalam kebenaran-Nya. Doa menjadi jalan pertama bagi kita semua untuk mewujudkan kasih Tuhan dalam tindakan konkrit. Sebelum kita berbuat segala hal yang baik kepada sesama, kita perlu berdoa, memohon petunjuk dan kekuatan dari-Nya. Doa menjadi roh dalam setiap kata-kata dan tindakan kita yang positif. Tanpa doa, segala hal baik yang kita lakukan menjadi tawar, “tidak bernyawa”, dan tidak bermakna. Kita tidak akan pernah tulus dan total melakukan segala hal yang baik jikalau tidak mengawalinya dengan menyerahkan diri kepada Tuhan dalam sebuah doa.

Doa adalah jalan pertama menuju kebaikan. Doa tidak hanya memberi kita energi untuk tetap kuat dan bertahan dalam segala ujian dan tantangan. Doa menjadi daya dorong yang kuat agar kita bisa menjadi saluran berkat dari Tuhan yang menciptakan kebaikan dan keselamatan bagi siapa saja. Mari kita saling menguduskan dalam Tuhan dengan cara saling mendoakan satu sama lain. Semoga. ***akdl***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar