Yoh 17: 11b-19
Pernah
pada suatu ketika, saya merasa hidup saya berada dalam situasi batas.
Beban hidup yang besar, jauh melampau kemampuan saya untuk memikulnya, membuat
saya tidak berdaya. Saya juga merasa kurang mendapat dukungan dari keluarga
besar. Hal ini yang semakin mengurung diri saya dalam kesendirian. Tetapi apa
pun situasinya, saya mencoba menguatkan diri untuk tetap kuat dan tidak putus
asa. Dalam situasi pelik demikian, secara tidak disengaja, saya bertemu dengan
seorang imam (pastor) di suatu tempat. Kebetulan saya mengenal beliau (imam)
cukup dekat. Saya lalu memohon apakah ia bisa memberikan berkat untuk saya.
Dengan senang hati, sang imam mau memberikannya. Ia memulai berkatnya dengan
untaian doa yang indah dan sangat menyentuh hati. Dan ia mengakhirinya dengan memberi
tanda salib di dahi saya. Seolah-olah ia tahu apa yang sementara berkecamuk
dalam hati saya. Saya merasa diteguhkan dan dikuatkan dengan doa dan berkat
dari sang imam. Saya merasa lebih yakin, bahwa kuasa Tuhan melalui tangan sang
imam, sementara mengalirkan berkat-Nya, agar saya dimampukan untuk menghadapi
kesulitan hidup yang saya alami.
Hari ini Yesus juga mendoakan para
murid-Nya agar mereka juga bisa dikuatkan dan diteguhkan dalam mengarungi
perjalanan hidup mereka sebagai seorang pewarta kabar gembira. Yesus menyadari
ada banyak sekalih tantangan dan kesulitan hidup yang akan dialami para murid
sepeninggalan Diri-Nya menuju Rumah Bapa. Tantangan itu pertama-tama datang
dari luar kelompok para rasul. Akan ada banyak orang dari berbagai kalangan
yang tidak setuju dan tidak menyukai kehadiran mereka. Para murid akan mendapat
hinaan, cercaan, fitnah, dan nyawa mereka akan menjadi taruhan. Selain
tantangan dari luar, ada juga tantangan dari dalam kelompok mereka. Dan ini
menjadi tantangan terdasyat yang menguji kekompakan, kesetiaan, dan militansi
mereka sebagai seorang murid Yesus. Akan timbul rasa iri, marah, kecewa, dan
dendam kesumat yang menggerogoti kesolidan kelompok para murid. Jika para murid
tidak berhati-hati dan bersikap ceroboh, maka misi keselamatan Allah yang
diwariskan Yesus kepada mereka, terancam macet dan gagal diwujudkan.
Untuk mengantisipasi muculnya
segala kemungkinan terburuk yang akan menimpa para murid, Yesus pun berdoa
kepada Sang Bapa. Sebuah doa yang sangat istimewa bagi para murid. Ada beberapa
point penting dari doa Yesus yang bisa kita tangkap dari bacaan Injil
(Yoh17:11b-19). Pertama, supaya Bapa di sorga dapat memelihara para murid dalam
nama-Nya yang kudus agar masing-masing pribadi menjadi satu dan bersaudara. Kedua,
supaya Bapa di sorga dapat menjaga para murid agar mereka dapat memperoleh
keselamatan dan hidup abadi. Ketiga, supaya Bapa dapat melindungi para murid
dari maut dan dosa (kejahatan). Keempat, supaya Bapa menguduskan para murid
dalam kebenaran. Keempat kata kunci dalam doa Yesus yakni memelihara, menjaga,
melindungi dan menguduskan supaya para murid menjadi serupa dengan Diri-Nya.
Doa Yesus kepada Bapa bagi para
rasul menjadi doa untuk kita juga. Para murid di masa kini. Tuhan menaruh
belaskasihan akan terpaan atau badai yang akan dan sedang menimpa diri kita.
Tantangan iman itu sungguh dasyat sehingga Tuhan perlu juga berdoa untuk kita.
Tantangan itu tidak saja datang dari luar tetapi seringkali datang dari dalam
diri dan kelompok. Acapkali muncul rasa iri hati, kecewa, sakit hati, marah
berlebihan yang mengikis rasa persatuan dan kekompakan kita. Tidak hanya antara
sesama saudara seiman, tetapi juga dengan saudara/i yang berbeda keyakinan iman
dengan kita. Rasa persaudaraan dan kekeluargaan kita menjadi rapuh dan goyah.
Masing-masing orang semakin menaruh curiga dan prasangka sehingga menciptakan
api konflik semakin besar.
Mirisnya, para pengikut Yesus
tetap berada dalam pusaran kebencian dan balas dendam. Tidak ada lagi setitik
kebaikan ketika rasa ego dan gengsi sudah menguasai diri. Masing-masing orang
merasa diri paling benar. Tidak ada yang mengaku salah dan meminta maaf. Tidak
ada ruang perdamaian untuk dapat duduk dengan kepala dingin demi menyelesaikan
segala persoalan. Manusia sudah menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini
lupus). Yang ada hanya saling klaim untuk menegaskan eksistensi pribadi
masing-masing. Pintu hati kita bagi sesama sudah tertutup. Apalagi kepada
Tuhan. Hati kita menjadi sangat tertutup untuk tidak lagi mendengarkan firman-Nya.
Hari ini Tuhan mendoakan agar kita
bisa menjadi seorang murid-Nya yang total. Tidak setengah- setengah. Menjadi
murid yang total berarti kita mau menjaga rasa persatuan, persaudaraan, dan
kekompakan dengan mengikuti jalan kebenaran yang telah diwartakan-Nya. Kita
bisa menjadi pribadi yang mampu mengolah emosi kita dengan bijak. Kita bisa
meredam rasa iri hati dan marah yang berlebihan kepada orang lain. Kita bisa
menjadi pribadi yang pemaaf dan mau meminta maaf apabila bersalah. Kita bisa
menjadi seseorang yang bisa melepaskan ego dan gengsi demi sebuah nilai yang
lebih tinggi.
Dan kuncinya adalah sebuah
doa.Tuhan sudah membawa kedamaian dan kekuatan bagi para rasul dan kita semua
melalui sebuah doa. Maka, kita juga perlu saling mendoakan satu sama lain agar
bisa berjalan dalam kebenaran-Nya. Doa menjadi jalan pertama bagi kita semua
untuk mewujudkan kasih Tuhan dalam tindakan konkrit. Sebelum kita berbuat
segala hal yang baik kepada sesama, kita perlu berdoa, memohon petunjuk dan
kekuatan dari-Nya. Doa menjadi roh dalam setiap kata-kata dan tindakan kita
yang positif. Tanpa doa, segala hal baik yang kita lakukan menjadi tawar,
“tidak bernyawa”, dan tidak bermakna. Kita tidak akan pernah tulus dan total
melakukan segala hal yang baik jikalau tidak mengawalinya dengan menyerahkan
diri kepada Tuhan dalam sebuah doa.
Doa adalah jalan pertama menuju kebaikan. Doa tidak
hanya memberi kita energi untuk tetap kuat dan bertahan dalam segala ujian dan
tantangan. Doa menjadi daya dorong yang kuat agar kita bisa menjadi saluran
berkat dari Tuhan yang menciptakan kebaikan dan keselamatan bagi siapa saja.
Mari kita saling menguduskan dalam Tuhan dengan cara saling mendoakan satu sama
lain. Semoga. ***akdl***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar